28 November 2012
Ikhtiar lain
Selintas pernah saya berpikir "kok sampe segininya sih saya mau punya anak ajah?", trus ada yang menjawab "lah, kan ikhtiar mah harus maksimal". Toh dipikir-pikir, wajar dong pasangan udah hmpir 3 taun nikah meriksain diri ke dokter, yang ternyata ditemukan kejanggalan dan harus diperiksa lebih dalam lagi. Ya urusan mendapatkan anak atau engga itu mah perkaranya Allah SWT. Yakinkan itu, manusia hanya berusaha.
Tanggal 27 nov kemaren laparoskopi itu dilakukan. Pertama kali dalam hidup saya masuk ruang operasi, menegangkan, titik. Bahkan saking tegangnya, para dokter koas itu sulit menemukan pembuluh darah di tangan saya. Hehehehe.. Masuk ruang operasi, dan gak lama saya tidur. Ga inget apa2 tentang operasinya. Dibius itu melelahkan. Setidaknya itu yang saya rasakan, karena pada saat dibius tuh rasanya seperti mimpi yang bikin fisik ngos2an.
Saya mulai mendengar kalimat "operasinya sudah selsai dan ibu ada d ruang pemulihan". Oke saya sudah sadar, dan mulai menyadari rasa sakit di sekitar perut ini. Mencoba mencari orang yang dikenal, tapi tak ada seorang pun. Berusaha untuk ngomong, tp belum mampu bersuara keras. Tak lama seorang ibu yang sedang menunggu suaminya siuman di kasur sbelah melihat saya dan berusaha memanggil keluarga saya. Mamah pun datang bersama mamah mertua. Mereka langsung antusias cerita tentang proses operasi yang baru saja mereka tonton di ruang dokter.
Ya laparoskopi ini operasi yang menggunakan kamera yang dimasukkan ke dalam perut. Selain kamera ada juga beberapa alat operasi seperti tang (apa atuh ya bahasanya), alat penjepit, ada pemanasnya, dan saya jg ga tau lagi apa aja alatnya. Jadi apa saja yang dilakukan dokter melalui alat-alatnya di dalam perut saya, bisa disaksikan dalam sebuah video. Si mamah hanya cerita bahwa ujung tuba falopi sebelah kiri saya tertutup rapat, kuncup, ada perlengketan. Normalnya itu merekah, seperti bunga. Kalau yang kanan alhamdulillah masih baik. Lanjutnya, si mamah bercerita bagaimana si dokter melalui perkakasnya mencapit organ2 dalam, mengoreh-ngoreh, mengikis hal2 yang mengganggu, dan berusaha membuka kembali si kuncup yang lengket itu. Kemudian isi rahim ini disiram air, semacam dibersihkan. Subhanallah, teknologi dan ilmu pengetahuan sudah secanggih itu ya. Dan Allah lah Sang Maha Canggih yang menciptakan sistem pada manusia yang begitu rumit.
Perlengketan yang terjadi di ujung tuba falopi kiri, katanya terjadi akibat bekas infeksi oleh bakteri. Dan tidak ada gejala sama sekali yang bisa bikin kita tahu bahwa kita terinfeksi. Kalau saja lebih lama lagi baru dilakukan tindakan, mungkin ada cerita lain lagi, karena hal itu bisa berakibat pada infertilitas.
Ya.. Satu langkah sudah dilakukan. Apakah akan ada cerita berikutnya? Mari kita berserah diri saja pada Allah SWT.
21 Oktober 2012
Sabtu Sore #2
Belum juga selesai shalat, suara anak2 dari luar sudah terdengar. Saya bahkan nyaris lupa kalau saya pernah bikin janji buat belajar bareng mereka tiap sabtu sore. Karena sudah beberapakali Sabtu agenda belajar ini terhenti akibat lebaran dan kesibukan saya. Selesai salam, saya bergegas buka pintu dengan mukena masih menempel. Sudah ada lima anak yang cengengesan di depan pager. "Sekarang berlima teteh indah!", salah satu dari mereka teriak. Alhamdulillah... Bertambah dua orang yang baru. Walaupun bingung dengan materi apa yang akan dilakukan hari itu, melihat wajah mereka otak ini dipaksa untuk tidak boleh berhenti berpikir. Hari itu mereka saya kasih kertas untuk menggambar dan mereka akan bercerita tentang apa yang sudah mereka gambar.
Sabtu, 20 Oktober
Sebenernya saya berencana untuk bilang ke anak-anak yang akan datang ke rumah bahwa kelas hari Sabtu akan diubah jadi hari Minggu karena saya pikir akan agenda bersama keluarga yang waktunya sampai sore. Di samping itu, saya merasa belum menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan ini. Tapi di pagi harinya saya lupa menyampaikan perihal ubah jadwal itu, alhasil mereka datang ke rumah. Saya yang kali itu baru sampai depan rumah, menemukan mereka sedang memanggil nama saya berulang2. Wajah mereka kembali senang ketika tahu saya datang. Kali ini bertujuh. Bertambah satu orang yang baru. Total ada 8 anak yang ikut, namun seorang tidak hadir. Mengingat awalnya saya akan membatalkan jadwal, saya pun sedikit panik harus ngapain dulu karena bahan2 belum ada. Sebenarnya saya udah punya rencana, namun rencana ini melibatkan adik ipar, dan sang adik masih ada di rumahnya. Mendadak si adik di telpon dan dijemput sama si aa di depan komplek dan agenda hari itupun tertolong. Hehehehe.. Kami membuat finger puppet dari bahan flanel yang bisa juga untuk ditaro di pensil mereka. Mereka memilih sendiri warna dan bentuk yang mereka inginkan, kami membantu menggambar pola dan mereka yang menyelesaikan sisanya. Semua yang sudah dimulai harus diselesaikan, itu yang menjadi salah satu aturan di kelompok ini. Alhamdulillah, biarpun overtime sampe magrib, mereka pulang dengan ceria dan membawa apa yang sudah mereka bikin. :)
Thanks to : Bi Nda dan A Rangga.
nb: butuh masukkan dan saran tentang kegiatan kreatif buat anak2 ;)
14 Agustus 2012
Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawan
Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawanbaru tiga kali memang, namun tiap kali bertemu mereka berasa sudah kenal sejak bertahun-tahun. Semoga ini bukan hanya kondisi sesaat.
Adalah Ulpi, Putri, dan Saulla yang kemarin sore memanggil nama saya dengan sebutan “Teh Indah” begitu kerasnya dari luar pagar. Saat itu memang jadwal Kelas Bahasa Inggris, dan sebelumnya saya berniat akan membatalkannya karena harus melancong ke rumah mertua, tapi teriakan mereka yang keras dan cempreng malah membuat saya tidak tega kalau harus membatalkannya. Dan yang terjadi adalah saya malah jadi semangat sore itu.
Ini adalah ketiga kalinya mereka datang. Di pertemuan pertama, hanya ada dua orang saja, di pertemuan kedua, juga dua orang tapi dengan personel yang berbeda, dan yang ketiga ada tiga orang yang datang dengan satu personel new comer, jadi kalo di total sudah ada empat anak. Bahkan minggu lalu saat saya tidak mengadakan kelas, Ulpi membawa delapan orang temannya. Mereka sempat teriak-teriak di depan rumah, tapi sayang saya sedang ga ada di rumah. Gimana ga semakin berapi-api si saya ini buat main sambil belajar sama mereka.
Usianya mereka antara 5-8 tahun, rumahnya rata-rata di wilayah bekas rel kereta ga jauh dari rumah saya tinggal, latar belakang keluarga mereka macem-macem, ada yang ortunya penjahit, buka warung, jual-beli domba/sapi, yang ortunya lebih sibuk ngurusin kerjaan mereka dibanding ngajarin anaknya, karena kalau ga gitu keluarga mereka ga makan. Latar pendidikan anak juga macem-macem,bahkan ada yang harus pindah dari sekolah negeri yang agak elit ke sekolah negeri yang kurang elit (katanya) gara-gara ketidakmampuan “sosial” si anak. Tantangan buat si saya. Satu sisi saya berada di lingkuangn pendidikan anak-anak yang sudah mapan dari berbagai aspek (sistem, finansial, penerapan akhlak), dan satu sisi saya berada di antara anak-anak yang situasinya kebalikan dari itu semua.
21 Juli 2012
My husband is my leader, my partner, my father, my brother
Yang Sempat Ditulis
#edisi kangen Toumeisou#Hari itu cuaca sedikit gerimis. Mata kami masih ingin sekali tertutup, kami baru tidur jam dua dini hari dan tiga jam seolah cepat sekali berlalu. Jam lima pagi kami sudah bersiap shalat shubuh, mandi, dan mengecek untuk terakhir kalinya memastikan tidak ada barang yang terlupa serta membereskan semua benda untuk kemudian mengamanahinya kepada penghuni berikutnya. Sungguh ingin aku menatap lebih lama lagi rumah yang berada di belakang balkon tempat kami. Ingin rasanya menyimpan seluruh memori yang sudah kuhabiskan di tempat ini. Suara anak tetangga yang selalu ramai ketika jam sekolah, suara para penghuni rumah membuka pintu jendela mereka, suara burung gagak di pagi hari. Hari itu hari sabtu, sehingga tak ada anak yang pergi ke sekolah. Jendela pun masih tertutup rapat, karena kami terlalu dini terbangun.
Kupanaskan air diatas kompor. Membuka tutup terakhir dari semangkok mie instan yang baru dibeli di hari kemarinnya. Kami pikir, ini adalah makanan terakhir dari kisah hidup kami di tempat ini, makanan yang memang hanya dijual disana. Semangkok untuk berdua saja. Cukup untuk santapan mengganjal perut dipagi hari. Seorang teman juga telah merelakan tidurnya terpotong demi untuk datang ke tempat kami. Teman yang akan mengisi rumah yang sebelumnya kami tempati selama setahun. Dia datang dan membantu menyelesaikan sesuatu yang sedang kami bereskan. Tak lama dari itu juga, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sebuah keluarga manis yang selalu senantiasa membantu kami selama setahun ini pun merelakan paginya dihabiskan untuk datang ke tempat kami. Dengan mata yang masih kantuk, anak-anak dari keluarga itu masih sempat berusaha tersenyum. Aku pun terharu, hampir seperti langit di luar sana yang menurunkan rintik hujan, tapi ku tahan. Sebungkus nasi goreng juga kami dapatkan dari keluarga nan baik hati itu. Tak terkira bahagiaku. Bukan karena makanannya, tapi sebegitu ingatnya mereka pada kami. Membayangkan akan lamanya menunggu, sehingga memberikan kami makanan untuk disantap selama menunggu itu. Malu aku rasakan pada mereka, karena aku tidak banyak memberi apa-apa kepada mereka. Aku tak luput memberikan senyumanku pada mereka semua. Kami akan baik-baik saja, begitupun dengan kalian. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Tempat ini, sekali lagi ku tuliskan. Ingin aku merekam semua memori ini. Sudah pukul enam lewat sepuluh. Kami turun ke bawah menuju tempat dimana kami di jemput. Ketika barang-barang sedang dimasukkan kedalam mobil, tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari rumahnya. “sudah akan pulang ya?”, begitu yang ia katakan. Dan tiba-tiba saja dia menangis serta mengatakan bahwa walaupun kami dan beliau jarang bertemu, tapi ia sangat sedih dengan kepergian kami. Dan aku pun berusaha untuk tetap tersenyum. Beliau adalah wanita yang tinggal di bawah kamar kami, memiliki usaha cukur rambut, dan juga penanggung jawab untuk sampah di lingkungan kami. Masih sempat kami memberikan sebuah hiasana bergambar wayang kepada beliau, dan beliau terlihat semakin hanyut dalam keharuan. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain berpamitan. Kupeluk beliau, kupeluk keluarga itu, kupegang kepala anak-anak mereka. Dengan sebuah doa: sehat-sehat kalian disana dan semoga kita dipertemukan kembali.
Tak ada yang bisa memberhentikan waktu, kami pun naik ke mobil. Tempat tinggal kami semakin jauh dan kecil, aku sudah tidak lagi melihat teman-teman kami berdiri disana lagi. Bukan mereka yang pergi, tapi kami yang meninggalkan tempat itu.
26 Juni 2012
4D City Scape Time Puzzle: Tokyo #2
30 Mei 2012
random #6
Sejauh ini sih, masih merasa penasaran dengan tempat baru ini, sungguh penasaran. Penasaran dengen teman kerja, dengam sistem kerja, dengan ilmu-ilmu yang tersedia disana, dengan kejadian-kejadian yang akan terjadi disana. Yang pasti perasaan ingin terus meningkatkan kapasitas diri itu selalu ada tiap hari.
Ketemu sama anak ABG tiap hari tuh rasanya lucu ya...hehehehe...asa mengingat-ngingat jaman waktu ABG dulu. Kalo dulu tuh jaman akeu tergila-gila dengan boyband westlife, backstreets boys, moffats. Ngeceng kaka kelas yang digilai juga oleh jutaan wanita, dan berharap kisah pada komik terjadi pada diriku, wkwkwkwk. (ini sekolah untuk belajar atau untuk seneng-seneng sih?). Ya emang daku mengakui kalau jaman SMP dulu, daku mah ga mikir banyak tentang belajar dari buku, banyakan maennya. Apalagi pas jaman-jaman punya geng bertajuk "Barzoot", hanya karena kami ber8 memakai sepatu dari merk Kazoot, pleus geng itu adalah temen satu tim di lapangan softball. hihihihihi...waduh jadi nostalgia gini..tapi emang kalo berada di antara adik-adik smp itu, memang jadi kangen masa-masa seumuran itu.
mungkin nanti-nanti akan lebih seriusan lagi kalo nulis, ini mah edisi ngacapruk sajah. :)
22 Mei 2012
Episode baru
asa udah bertahun-tahun ga ngecapruk disini,,,hehehehehehe..
udah ada di rumah sendiri mah, jadi aga lupa gini punya rumah maya, hadah,,,
Mungkin ini episode baru dari cerita hidup saya di dunia. Bukan episode tinggal di bandung ataw di indonesia, da kalo episode itu mah berarti kali ini season 2 nya (apa sih kamu ndahe..). yang dimaksud episode baru ialah, Insya Allah mulai besok tertanggal 23 Mei 2012 akan mencoba mengais rezeki dan mengamalkan ilmu di sebuah sekolah menengah pertama islam di daerah arcamanik. Ini juga merupakan jawaban atas doa saya sama Allah, karena memang saya berniat untuk mengajar selepas kembali ke Indonesia ini. Alhamdulillah dipertemukan dengan sebuah sekolah yang bisa dibilang cocok dihati. Iya harus cocok di hati ya, walaupun itu baru kesan awal saya saja. Tapi mudah-mudahan saya bisa belajar banyak dari episode kehidupan kali ini. Tanoshimi shitteimasu...
05 Maret 2012
random #5
Hujan hari ini membuat saya memaksa diri untuk melawan nikmatnya berada di rumah sambil menyumput dibalik futon serta menikmati coklat hangat. Hari ini hari Senin. Sudah lima kali hari Senin saya dihabiskan di sebuah masjid di Otsuka untuk belajar tahsin Al-Quran selama dua jam saja, dari pukul 13.00 - 15.00. Alhamdulillah sekali karena cita-cita untuk belajar tahsin terealisasikan juga. Sejak jaman kuliah selalu ingin mengikuti pelajaran ini, tapi entah kenapa saya tidak mengikutinya kala itu. Mamah yang selalu hadir dalam kelas tahsin bersama teman-temannya di hari Rabu selalu membuat saya iri, karena saya pun ingin belajar seperti beliau. Dan barulah kesempatan itu datang di Jepang di saat hanya tinggal 2 bulan lagi saya tinggal di Jepang. Hidayah dan kesempatan kadang memang tidak terduga datangnya. Hidayah? ya saya akui bahwa mengikuti kelas tahsin atau belajar agama pun perlu hidayah yang hanya datang dari Allah SWT. Hidayah yang datang melalui apa dan siapa saja.
Kelas tahsin hari Senin ini saya terjangi dengan jarak tempuh satu jam setengah dari rumah. Begitu semangtnya saya setiap akan berangkat, dan tidak mau sekalipun tertinggal pelajarannya. Alhamdulillah sampai di kelas selalu sudah ada beberapa teman yang datang tepat waktu, saya sih selalu terlambat sepuluh menit karena harus shalat dzuhur di rumah lalu berangkat. Kala hujan, kala dingin, semangat terlihat dari teman-teman yang ingin belajar. Bagi saya, semangat terbesar saya adalah ketika saya ingat Ustadzah yang mengajarnya. Beliau dengan kedua anaknya lebih rela datang pagi-pagi ke masjid dan harus mengajar dari pagi hingga sore hari. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk berleha-leha, kecuali urusan sakit seperti pekan lalu.
Awal mengikuti kelas saya sedikit minder, karena saya tidak pernah belajar benar untuk tahsin sebelumnya. Saya hanya mengingat memori jaman SD ketika masih belajar di TPA tentang tajwid. Juga menggali kembali memori pendek yang pernah diberikan oleh ustadz ketika memberikan ceramah singkat di masjid dekat rumah. Hanya sekedar "pernah dengar" tapi tidak begitu paham. Namun rasa minder itu hilang sirna. Tak ada alasan minder untuk belajar, karena semua orang yang berada di dalam ruangan kayu itu pun sama: belajar. Ustadzah pengajar yang baik hati, ramah, membuat materi yang disampaikan mudah diterima. Jika memang ada yang sulit dicerna, kesalahan ada pada otak saya yang sudah lama tidak pernah dipake. Hehehehehe. Juga teman-teman serumpun dari Indonesia, teman orang Jepang, juga Uzbekistan yang hadir selalu menambah semangat saya karena mereka semua pada rajin membawa kue-kue sebagai penghibur dan penambah energi setelah dua jam belajar.
Ahhhh,,,,maka nikmat mana lagi yang akan saya dustakan? Tidak ada. Sungguh bersyukur dapat dipertemukan dengan orang-orang shalehah yang membuat diri ini merasa malu dan selalu ingin meningkatkan kapasitas diri sebagai muslim.
random #4
Hehehhehe..
Kami berdua tepatnya memang sedang berada dalam posisi persimpangan. Kami sedang berpikir untuk memilih jalan yang sebaiknya kami ambil. Hemmm,,,entahlah jika dibilang sulit, mungkin tidak juga. Jika dibilang mudah, juga tidak demikian adanya. Saya pernah berpikir untuk duduk manis dalam sebuah instansi. Seperti dambaan wanita pada umumnya, menjadi pegawai yang punya banyak waktu luang untuk keluarga merupakan cita-cita wanita. Engga juga sih, tergantung wanitanya macem apa. Saya pernah punya pikiran macem begitu. Sepertinya enak, kerjaan tidak begitu susah (katanya loh!), juga punya banyak waktu buat keluarga. Tapi nampaknya terlihat enak saja ga cukup. Semakin kesini, makin kerasa bahwa saya tuh bukan tipe yang gitu banget. Ditambah pula pendapat aa bahwa saya ini termasuk orang yang lebih seneng independen. Hahahahaha, syukur-syukur memang bisa mandiri dan membuka kesempatan kerja buat orang lain ya. Tidak ada figur wanita karir dalam kehidupan saya selama ini sehingga itu juga yang tidak memotivasi saya untuk bekerja di kantoran :).
Apa yang sebenarnya saya inginkan? jika sekedar membayangkan, saya sering berimajinasi dengan pikiran saya. Bisa mendapat penghasilan dari hasil hobi saya, uangnya digunakan untuk kepentingan bersama, hidup sederhana namun selalu bisa berbagi, ya seperti itulah kira-kira. Namun, berimajinasi saja tidak cukup. Semuanya kan mesti diimplementasikan dalam bentuk perbuatan. Hem...saya harus berani bertindak! semoga kekuatan itu ada..
29 Februari 2012
Hadiah
Bicara tentang sakitnya, awalnya saya pikir ini cuma gejala panas dalam biasa, hari Kamis bibir yang kegigit dan berubah jadi sariawan yang diikuti dengan sakit tengggorokan, gusi bengkak, badan demam di hari Jumat, dan sariawannya ga ilang-ilang walau udah minum vitamin, air putih, sayuran, dan buah. Bukannya membaik si sariawan teh, malah makin banyak dan jadi gede. Bibir udah jadi pulau sariawan. Sudah tau kan gimana rasanya di mulut atau bibir penuh sariawan? ditambah tenggorokan sakit dan gusi bengkak? aktivitas yang paling terganggu itu adalah makan. Sesuap bubur itu sama seperti perjuangan menghabiskan sepiring nasi padang. Bedanya yang satu mah ga bikin kenyang yang satu lagi bikin kenyang. Di hari Minggu berhubung ada undangan ke rumah Mba Mia, dan merasa suhu tubuh sudah menurun, maka berangkatlah kesana walau mulut sebenernya belum bisa diajak makan enak. Eh pas sampe sana, ngiler lah ini mulut. Sajiannya ada gule kambing, telur balado, yakisoba, ayam rujak, pie apel. Euuughhh,,sabar sabar. Tapi tetep aja bukan Indah kalo ga badung, akhirnya saya ngambil itu gule kambing sepotong dan nasi dua sendok saja, dengan pikiran kalo makannya dibarengin dengan nasi berkuah maka proses makan akan lebih mudah melewati tenggorokan. Ternyata... hanya makanannya saja yang nikmat, makannya mah ga nikmat sama sekali. Hiks hiks hiks.
Betapa nafsu itu memang menyesatkan. Akhirnya pulang lagi ke rumah, langsung ambruk lagi. Kondisi di bibir semakin parah, dan si aa meyakini kalau ini bukanlah kasus sariawan seperti biasanya. Tidur malam pun sedikit terganggu karena rasa sakit baik di bibir, mulut, dan tenggorokan disertai kepala yang nyut-nyutan terus. Alhamdulillah masih bisa tidur walau begitu juga. Di tengah-tengah malam pun suka terbangun. Karena bibir yang perih dan kering membuat bibir atas dan bawah rapat sempurna. dan ketika berusaha melepaskan bibir tersebut, tiba-tiba darah ngalir keluar. Cukup banyak untuk ukuran darah yang keluar dari bibir. Sambil bersihin bibir, saya pun nangis bawang malem-malem. Hahahahhahahaha. Baru pada hari Seninnya saya ke dokter. Sama dokter dikatain tenggorokannya ada kuman, akhirnya dikasihlah saya antobiotik dan obat pereda nyeri. Meminum antibiotik membuat tenggorokan sakit semakin berkurang dan mulai bisa menelan makanan dengan mudah. Tapi tetap masih ada masalah pada bibir dan mulut. Gusi yang membengkak membuat kelenjar yang ada di leher ikutan bengkak dan sakit, bikin ga bisa makan juga. Selasa malem si aa browsing lagi tentang gejala yang saya alami selama ini. Ternyata menemukan sebuah penyakit dengan gejala yang sama dimana di penyakit itu disebabkan karena virus herpes. Weleh-weleh. Ada-ada saja. Semoga bukan deh, pikir saya dalem hati. Tapi setelah membaca dan melihat gambar-gambarnya makin yakin deh kalau sakitnya sama. Hari Rabu saya ke dokter lagi dengan sudah menyiapkan lembar artikel tentang virus herpes yang saya baca di internet. Dokternya berbeda dengan dokter di hari sebelumnya. Si Dokter yang ini mau menggunakan bahasa Inggris tanpa kita minta pun. Akhirnya si dokter pun menyatakan bahwa memang sepertinya saya kena virus tersebut. Dari dokter, saya dikasih salep untuk bibir dan obat hisap untuk menghilangkan sakit tenggorokan.
Untuk sakitnya sendiri karena disebabkan oleh virus, sebenarnya tidak ada obat untuk mematikan virusnya. Sakitnya akan sembuh alami selama kurang lebih 2 mingguan, dan virusnya akan nempel di tubuh saya terus. Jika sewaktu-waktu ada luka pada bibir saya dikemudian hari dan kondisi imun tubuh sedang tidak baik, bisa-bisa si virus aktif lagi. Naudzubillah.
Ketika dalam keadaan seperti ini, jujur saya sendiri banyak merenung. Berusaha untuk berprasangka baik bahwa ini semua adalah obat penggugur dosa, insya Allah. Kembali diingatkan bagaimana harus bersabar dan bersabar. Juga bersyukur untuk semua yang telah saya dimiliki. Walaupun ga bisa makan banyak karena sakit, mesti bersyukur karena masih banyak orang yang sudah sakit juga tidak bisa makan sama sekali. Rapatnya bibir saya ketika malam, membuat saya inget sama orang-orang yang suka aksi unjuk rasa dengan jahit bibir, Subhanallah itu kan sakit sekali pastinya. Bersyukur juga ketika sakit, masih ada tetangga, teman2 yang mendoakan, juga tentunya masih ada suami tercintah yang selalu mengingatkan untuk selalu bersabar. HIks hiks hiks. *makasih udah nyuci 2 ronde baju, nyuci piring, belanja makanan, bikin sayur tanpa rasa, dan lainlain*.
15 Februari 2012
random #3
Jujur saja saya baru dengar kemarin, ketika menengok seorang teman yang baru melahirkan. Penyakit ain adalah penyakit karena pandangan mata. Berdasarkan beberapa artikel yang saya cari maka penyakit ini disebabkan oleh pandangan mata seseorang terhadap sesuatu yang disertai rasa dengki/ disertai kekaguman semata yang menimbulkan efek mudharat kepada objek yang dipujinya. (mungkin untuk lebih lengkapnya cari sendiri saja ya, ref). Bentuknya seperti apa? masih belum ngerti juga.
Secara ilmiah saya pun tidak tahu mekanisme nya seperti apa tentang terjadinya penyakit ini, di beberapa artikal hal ini dikategorikan sebagai penyakit syar'i yang penyembuhannya pun dengan pendekatan agama sesuai yang dicontohkan Rasullualah SAW.
Saya bingung kenapa kemudarathan bisa terjadi pada seseorang/sesuatu yang dipuji. Mungkin ada yang lebih mengerti?
Dari yang saya baca juga, salah satu hal untuk menghindari tertimpanya penyakit ain adalah dengan tidak membuat situasi dimana orang menjadi iri terhadap situasi tersebut. Heu,,serem juga ya. Karena tindakan kita sehingga bisa membuat orang lain iri merupakan sesuatu yang sulit dikontrol. Kalau kita iri dengan orang lain, yang dikontrol kan hati kita ya, namun jika kita melakukan sesuatu yang biasa saja tapi ternyata hal itu menimbulkan rasa iri di orang lain (walaupun tidak tampak), hal itu bisa menjadi penyebab penyakit ain datang ke kita. (cara mencegah penyakit ini datang ke kita)
Mungkin ini adalah ungkapan "dari mata turun ke hati" ya..?
Manusia itu makhluk sosial, butuh eksistensi, butuh pengakuan, dan tentunya juga butuh pujian, hal itu lumrah dan manusiawi sekali. Hanya saja, saya cukup menyadari bahwa pujian itu kadang membawa efek negatif. Hal tersebut besar kemungkinan dapat membuat seorang yang dipuji memiliki sifat sombong. Terlepas niatan dari seorang yang memuji itu sendiri, apakah disertai muatan atau memang ikhlas. Namun yang saya rasakan dan tidak saya pungkiri, ketika mendapatkan pujian sedikitpun rasanya ada keinginan mendapatkan pujian itu untuk kedua kalinya. Namun islam mengajarkan kita untuk selalu mengingat bahwa sesuatu yang baik dan indah hanyalah milik Allah SWT, tidak ada yang pantas pujian selain untuk Nya, makanya ketika kita mendapat pujian hendaknya mengucapkan Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah) dan ketika melihat sesuatu yang baik hendaklah mengucapkan Masya Allah (Allah SWT berkehendak akan hal itu). Pujian sesekali diharuskan tentunya untuk mengapresiasi sesuatu, namun yang perlu diingat kembali memang semuanya dikembalikan pada niat masing-masing hati. Jangan sampai memuji karena ada rasa terpaksa harus memuji, memuji karena ingin diberi pandangan baik oleh orang lain, pujilah seseorang karena memang kebaikan yang ia miliki itu karena kuasa Allah SWT.
Jujur saja, berat dan takut rasanya menuliskan ini.. :) namanya juga belajar kan.
Wallahualam bissawab
07 Februari 2012
Saat-saat terakhir
Sensasi mau pulang kampung itu sama kaya mau pergi ke tempat baru. Rasa sedih yang dirasakan ketika akan ninggalin Jepang, sama ketika akan meninggalkan Indonesia. Rasa senang yang dirasakan ketika mau pulang ke Indonesia juga sama kaya rasa senang ketika pertama kali mendaratkan kaki di Jepang. Semuanya memang sudah hukum alam, akan ada perpisahan jika ada pertemuan.
Menjelang 40 sekian hari menuju kepulangan, barang-barang sudah mulai dicicil rapi untuk dibuang, dikirimkan ke Indonesia, bahkan dimasukkan ke koper. Percaya tidak percaya, kekhawatiran sang suami kalau-kalau barang bawaan pas pulang melebihi beban bagasi maksimum, maka hari minggu lalu dia ngajak buat simulasiin barang-barang yang akan dibawa ke pesawat nanti -.-! Tapi ada gunanya memang, kita jadi tau beban bawaan yang sudah pasti akan kita bawa, dan syukurnya masih ada space kosong :) (masih bisa belanja kainnn,,yuuuhuuuu!).
Sambil beres-beres yang kecil-kecil, saya jadi kebingungan sendiri nih. Banyak kain-kain perca, yang ngebuntel. Ga tau mau diapain. Bahannya udah pada ga puguh soalnya udah banyak digunting disana-sini buat jadi bahan eksperimen sebelumnya, belum lagi benang benang rajut yang dibeli beberapa waktu lalu. Kacau nih si saya, kerjaannya ngehambur-hamburin uang aja. *getok kepala sendiri*.
Sisa-sia kain yang ada sempet saya bikin wadah kamera untuk kamera saku yang baru dibeli dengan harga murah saja *plis deh*. Niatnya sih mau berkreasi, tapi malah jadi keliatan maksa si wadah nya. Heu.
Kemudian di antara tumpukan kain perca saya menemukan gambar yang dibuat dari benang yang pernah dikerjakan sejuta tahun lalu. Ini aslinya gambar punya Ririd yang ada di FB nya dia, terus saya jiplak di kain dan sudah dapet izin dari yang buat gambarnya. Trus diisengin deh diisi busa dalemnya. Mestinya ini bisa dijadiin sebuah gantungan tas kalau digantung di tas, bisa jadi tempat jarum pentul kalau ditusukin jarum pentul, bisa jadi spons cuci piring kalau dipake cuci piring, bisa dijadiin alas duduk juga kalo mau dipake alas, atau bisa juga dijadiin hiasan kerudung kalau mau ditempel di kerudung (kamana atuh gaya?!)
Satu karya (kamana ateuh karya!) yang terakhir dibikin adalah penghangat leher, ini pun dipaksakan harus selesai agar bisa dipakai di musim dingin ini yang sebentar lagi akan berakhir. Dan penyelesaiannya pun penuh paksaan, karena seharusnya ini adalah sebuah syal yang digunakan untuk melilit leher, tapi berhubung yang membuatnya ini sudah males karena ga panjang-panjang, jadinya diselesaikan hanya satu kali puteran leher saja, dan ditambah kancing biar rapih pas dipake :). Bener-bener setengah niat ya!
Jaka Sembung makan kue.
Kalo ga Nyambung jangan salahin gue.
05 Februari 2012
Semalam saya baru menonton filmnya di youtube, dan setelah selesai menonton saya sempet diam sejenak, merasakan ada bagian yang sakit dalam diri saya. Tidak tahu apa.
Sewaktu tingkat satu dulu, saya dengan beberapa teman pernah mendapatkan tugas untuk mengunjungi tempat pembuangan akhir sampah di daerah Leuwi Gajah, Cimahi, Bandung. Terus terang saja, dari jarak sekian ratus meter, hidung ini udah ga kuat sama bau sampah. Pun ketika menginjakkan kaki di dekat gunung sampah raksasa, nyaris mau muntah. Tidak sampai muntah pada akhirnya, hidung langsung bisa berkompromi dan beradaptasi sama bau. Miris rasanya. Beratus-ratus pemulung hidup disana, dengan sistem sanitasi yang tak pernah sama sekali mereka kenal, tak peduli bakteri, kuman, atau penyakit apa saja yang sudah mereka dapatkan dan belum lagi ledakan sampah yang mungkin akan dihadapi nantinya. Hiks hiks. Pulang dari sana, bau dari TPA masih melekat pada badan saya, berapakalipun mandi, bau itu sepertinya tetep nempel di hidung. Suatu kenyataan yang membuat saya sedih namun ga bisa berbuat apa-apa.
Tinggal di Jepang dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah matang, membuat saya sebagai penduduk dari negara berkembang mau tidak mau dipaksa beradaptasi dengan sistem tersebut. Sekalinya pulang ke Indonesia saya pun tetap berusaha untuk memilah sampah-sampah yang saya hasilkan, mengajak penghuni rumah untuk sama-sama memilah sampah. Tanggapannya sama: "nagapain di pilah, di TPS nya aja dicampur". Iya memang masih begitu, setidaknya kita membantu meringkan kerja mereka untuk tidak ngacak-ngacak sampah campur demi mencari botol atau plastik. Tapi tetap saja tidak ada perubahan terjadi, bahkan tulisan yang pernah saya buat mengenai penjelasan klasifikasi sampah dan ditaruh di dekat tempat sampah, sudah ada di ranjang sampah beberapa hari kemudian.
Seperti berdakwah, tidak ada yang berubah secara instan, semua perlu waktu dan konsistensi, juga hidayah mungkin. Begitupun dengan menanamkan kesadaran tentang sampah pada rumah-rumah, minimal untuk lingkungan terdekat. Bagi sebagian orang mungkin sudah melakukan, dan saya akan menjadi salah satu seperti mereka, insya Allah.
26 Januari 2012
tas bekal
karena waktu memberikan tesage tidak ada tas bekalnya, nah sekarang saya udah buat tas buat kotak bekalnya. Sayang motif bahannya tidak sama dengan tas jinjing dan yang lainnya :(. Alhamdulillah selesai juga. Mudah sebenarnya, hanya saja buat amatiran macem saya, memasang retseleting dan lapisan alumunium di dalam tas nya itu agak susah. Bersyukur bisa jadi juga, walaupun ga begitu rapi :p
19 Januari 2012
Cece
Belajar menyetir mobil memang pengalaman yang lucu. Pertama kali itu megang setir pas kelas 2 SMA. Pake mobil mamah tentunya. Awalnya pengen minta diajarin sama kakak kedua, tapi pertama pegang setir tanpa ada instruksi dan pemahaman teori terlebih dahulu, sang kakak membiarkan saya menginjak gas dan nyaris masuk got besar. Alhamdulillah saat itu si kakak masih sempet ngangkat rem tangan. Kapok belajar dengan si kakak, akhirnya meminta seorang teman yang sudah lancar berkendara untuk ngajarin saya. Kami rutin bawa kabur mobil mamah buat keliling komplek. Lumayan buat pemula. Cuma rasanya kurang menantang kalo ga bawa ke jalan, maka setelah beberapa lama latihan ilegal saya membawa mobil ke jalan raya pun masih tetap ilegal. Ya mungkin karena ilegal dan kurang diridhoi pada saat membawa mobil, akhirnya sebuah mobil lain menjadi korban kelalaian saya. Kaget banget setengah mati. Dimarahin di tengah jalan, suruh ganti rugi kerusakan mobil orang, juga mobil sendiri (yang mana mobil sendiri mah ga dibenerin juga). Kapok pok pok deh. Sekali-kali boleh dong jadi anak nakal :p
Bukan apa-apa, alasan kenapa ingin bisa menyetir adalah ingin bisa bantu si mamah buat nganter-nganter kalau dia ada perlu, itu alasan utamanya. Namun pada kenyataanya banyak alasan sekunder yang turun dari alasan primer itu :). Sim A baru saya dapatkan ketika sudah kuliah tingkat 1 akhir. Sudah lancar menyetir juga. Umur sudah mencukupi, tapi tetep dapetnya dengan cara licik: pake calo. Hahahahahhaha..
Pas udah punya SIM, bisa lebih pede nyetir. Nyetirnya juga ga kemana-mana kok, paling cuma pake ke kampus kalo si mamah ga pake buat keperluannya. Lagian dengan Si Cece (nama mobil), saya ga bisa pergi jauh apalagi ke tempat tinggi. Si Cece keluaran tahun '87, dibeli di tahun '93 ketika si teteh pertama masuk kuliah atau bisa disebut ketika saya masih kelas 1 SD. Dengan kemampuan finansial secukupnya, maka Si Cece pun dirawat secukupnya saja, bahkan mungkin kurang. Kasian dia.
Dengan kondisi Si Cece yang masih konvensional, kadang menyetirnya membuat saya kelelahan. Steering by power nya itu loh, bikin panik kalo mau parkir di tempat sempit. Namun si mamah ga pernah ngeluh dengan hal itu (salut dah!).
Intensitas yang paling sering ketika membawa mobil adalah saat-saat terakhir kuliah, sekitar tingkat 4an. Kenapa ya? karena mobil jarang dipake, karena berangkat ke kampusnya siang dan pulang agak malem, karena jemput si kaka di tempat kerja, karena ongkos naik angkot di konvert jadi ongkos bensin. Jangan harap isi bensin di mobil itu mencapai full tank kalau dibawa saya, karena paling saya hanya mengisi 20ribu, dan itu akan habis dalam 3 hari kurang.
Ya mungkin karena mobil lama, jadi pembakaran bensinnya juga boros.
Setelah sekian lama membawa mobil ke kampus, ternyata saya sadari bahwa badan saya lebih cepat lelah. Membawa mobil pribadi memang bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan jika tidak ada kemacetan, bisa lebih fleksibel jika ada keperluan mendadak. Namun, kondisi Bandung saat itu (atau mungkin saat ini), buat saya tidak begitu kondusif. Macetnya itu loh. Bikin bensin habis ga jelas, bikin nafsu amarah meningkat karena macet, belum lagi tarif parkir yang ga kira-kira. Untuk mahasiswi pas-pasan macam saya ini naik angkot memang lebih pantas :).
Sehabis seharian di kampus, rasanya ketika pulang itu pengennya bersantai. Nah kalau bawa mobil pulang, yang ada tensi darah makin naik tuh. Namun kalo milih naik angkot, gemuruh dalam darah bisa reda sejenak, karena di dalam angkot bisa tidur, bisa baca buku, bisa ngeliat refreshing dengan ngeliat orang bertingkah macem-macem.
Si Cece tidak ditinggalkan, hanya dipergunakan seperlunya saja saat itu.
Kenapa tiba-tiba cerita tentang ini ya? Gara-gara nonton berita peralihan BBM ke BBG. Jadi inget Si Cece. Juga karena Si Cece udah ga ada sekarang, udah dipensiunkan. Entah siapa yang empunya saat ini. Kalau Si Cece masih ada, mungkinkah dia akan dipakaikan converter BBG? kalau bisa seperti itu mungkin kamu akan seperti titik puspa dengan umur serina. Ah,,saya sampe belum minta maaf udah bikin banyak luka di badan kamu Ce. Banyak cerita dengan kamu, kamu bikin saya lebih kuat karena kamu sering mogok tiba-tiba, bikin saya lebih pede, dan kamu mengajarkan saya kalau peran dan fungsi lebih penting daripada penampilan. :)
17 Januari 2012
11 Januari 2012
Mbayar utang
Sudah lama sekali ketika Teh Dewi (tetangga tea) minta saya membuatkan tas sekolah buat anak2nya. Teh Dewi sih mintanya dibuatkan dari bahan-bahan yang dibeli dari toko bekas aja, biar jatuhnya murah. Bukan karena apa-apa Teh Dewi meminta saya membuatkan tas-tas itu, melainkan agar saya berlatih terus buat menjahit. Terharuu....
Anak-anak di Jepang terbiasa membawa tas jinjingan ke sekolahnya selain tas ransel yang kotak seperti punya Nobita (randoseru). Tas jinjingan (tesage -bener ga ya?-) itu dibawa buat nyimpen iwabaki (sepatu dalam ruangan), baju olahraga, perlengkapan kebersihan (sikat gigi, saputangan, sumpit), dan terkadang juga ada yang isinya bekal. Setidaknya itu yang saya ketahui dari pengalaman pernah menyiapkan itu semua :p. Banyak memang yang harus dibawa setiap harinya, dan so pasti sepertinya ketika anak-anak belum cukup hideng buat ngerjain sendiri, emaknya bakal ikutan rariweuh buat mempersiapkan itu semua. Menariknya kebanyakan tesage dibuat oleh para ibu mereka, sudah jelas sebagai bentuk kasih sayang sama anak, apalagi kalau di anak baru pertama kali menginjakkan kaki di sekolah. Banyak juga sih yang sudah tinggal pakai, tapi tetep saja mom handmade itu terasa beda. Kelebihan lain lagi kalo bikin sendiri, corak kain tesage untuk anak bisa dipilih sesuai karakter kesukaan anak. Jepang gitu, surganya kain...*lebay*.
Saya belum punya anak memang, tapi saya ingat janji saya ke Teh Dewi waktu itu: membuat tesage. Baru deh setelah sekian bulan terlupakan, hari ini saya berhasil menggenapkan kerjaan saya. Yosh! Alhamdulillah. Walaupun kain yang dipakai (mungkin) tidak menarik buat anak kecil, tapi saya puas. Hehehehhe,,,karena (mau pede dikit), sedikit agak rapi loh! tiga jenis yang saya bikin: tas jinjing, tempat sepatu, dan wadah perlengkapan kebersihannya. Sayang sekali karena menggunakan bahan "seadanya", tas untuk baju olahraganya tidak cukup untuk dibuat.
First Chicken Biryani
Harga berasnya lebih mahal dari harga beras Jepang yang biasa kami beli. Ukurannya lebih panjang dari nasi Jepang dan Indonesia, lebih ramping2, lebih kaya cacing, dan tentunya tidak lengket sehingga cocok banget buat dimakan pake tangan. Beras merek Basmati ini lakunya sama orang-orang timur tengah dan Asia Selatan. Dan biasa disajikan di masjid-masjid sebagai menu berbuka puasa atau di restoran-restoran halal India/Pakistan. Rela banget beli beras ini, gara-gara saya ga pernah kebagian makan nasi biryani (nasi campur nya orang2 Asia Selatan/Pakistan). Si aa mah, tiap ada kumpul di masjid, suka bawa cerita doang kalau di masjid ada acara makan-makan nasi biryani. Juga ga setiap saat saya pergi ke restoran halal buat beli nasi biryani.
Karena sudah beli beras yang spesial ini, maka menu makan hari ini juga spesial: Nasi ayam biryani. Dengan bumbu ajaib yang sudah dikemas praktis, ternyata membuat nasi biryani ini tidak susah seperti yang dibayangkan. Hanya tinggal ditambah beberapa bahan seperti bawang bombay, jahe, lemon, yogurt, tomat, bawang putih, dan cabe hijau maka nasi yang awalnya tidak berasa apapun, jadi punya rasa yang wuajipp manteb. Masaknya seperti bikin nasi liwet gitu. Hihihihihihi,,,rasanya seperti apa ya, seperti kare india,,hemmm, engga juga sih, rempah-rempahnya lebih terasa, rasa ada rasa asem, asin, pedas yang bikin jadi panas perut. Pas makan nasi biryani ini cocoknya ditemenin sama salad, biar seger-seger gitu dan ga terlalu puyeng sama rasa rempah-rempahnya. Alhamdulillah nikmat pisan euy..*btw gambar di foto itu terlihat nasinya lembek, dan emang iya lembek gara-gara ngasih airnya kebanyakan,maklum perdana..
09 Januari 2012
DIlema
Topik tadi pagi itu tentang "Dilema Pendidikan". Khususnya pendidikan formal seperti kebanyakan sekolah di Indonesia. Berbicara tentang pendidikan, saya memang bukan ahlinya, selama ini saya hanya penikmat saja (benarkah menikmati?), karena belum mampu menjadi pelaku teknis pendidikan. Ya berbicara pendidikan Indonesia, banyak sekali masalah yang sering muncul ke media. Baik masalah sistem, materi, maupun fasilitas. Belum ada titik temunya. Dan terlalu pelik masalahnya, mengingat bangsa kita adalah bangsa yang heterogen.
Berdasarkan apa yang saya dengar tadi di radio, paham pendidikan bisa dibagi menjadi tiga: yakni pendidikan realis, pendidikan superorganis, dan pendidikan konseptual. Saya bukan pakarnya, kalo salah harap maklum ya. Pendidikan realis lebih ke pemenuhan kebutuhan (industri), contohnya anak-anak disiapkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan realis cenderung diarahkan untuk menjawab kebutuhan lingkungan. Contoh sekolah yang seperti ini adalah: sekolah kejuruan. Yang kedua adalah pendidikan superorganis yaitu pendidikan yang menanamkan nilai-nilai leluhur. Misalkan sekolah yang menanamkan nilai-nilai agama, atau pada masa kini bisa disebut juga pendidikan karakter. Mungkin untuk sekolah-sekolah formal berbasis kurikulum pemerintah pun termasuk dalam golongan kedua, karena pada akhirnya penerapan kurikulum pada sekolah-sekolah adalah untuk menurunkan nilai kebangsaan. (nah karena kurikulum pun berubah-ubah terus, berarti nilai kebangsaan juga berubah terus :p). Yang terakhir itu pendidikan konseptualis, yakni pendidikan yang berdasarkan minat dan keinginan anak didik. Program-program dibuat sedemikian rupa sehingga potensi anak didik tergali dan dapat dikembangkan.
Lalu manakah yang paling baik? itu juga pertanyaan yang susah saya jawab. Kalau dari sekilas saja, saya melihat bahwa masing-masing dari ketiga jenis tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Ketiganya harus berintegrasi menjadi satu tubuh. Saya percaya bahwa salah satu karakter anak itu hadir dari contoh yang ia ketahui, yang ia lihat. Pada awalnya seperti itu, dan lama kelamaan hal tersebut akan melebur dengan dirinya dan menjadi perilaku pada dirinya yang dalam bahasa lain disebut akhlak/karakter. Maka memilih role model yang seperti apa pun menjadi poin penting dalam hal ini. Memahami dan menggali minat potensi anak juga hal penting lainnya, karena setiap anak adalah berbeda dan dilahirkan dengan sebuah kelebihan. Menghadapi orang dewasa saja tidak bisa sama, apalagi anak kecil yang masih awam terhadap dunia ini. Kemudian mempersiapkan mereka untuk kebutuhan masyarakat juga penting. Dengan modal akhlak yang dia miliki dan dengan ilmu dari hasil minatnya maka secara bersamaan itu memampukan mereka bisa beradaptasi dengan kebutuhan lingkungan luar. Ya jadi untuk sementara jawaban saya saat ini, dengan meleburkan ketiga jenis pendidikan tersebut. Ini hanya kondisi ideal dalam benak saya.
Ya kalau boleh bilang, sekolah formal negeri jaman sekarang sangat sedikit menanamkan nilai moral, apalagi peduli terhadap minat si anak. Apa ya,,dan lebih ke arah pencapaian materi (ini masuk mana? apa ke arah realis?). Banyak para ibu dan pelaku pendidikan pun tidak sreg dengan sistem yang ada sekarang (pada sekolah formal negeri), mengambil jalan sendiri demi perbaikan keluarga dan masyarakat di sekelilingnya. Ada yang berhasil dan ada juga yang pada akhirnya bertubrukan dengan kenyataan. Sungguh kenyataan yang membuat dilema.
4D City Scape Time Puzzle: Tokyo
hmmmm.....
lupa,,mungkin pernah tapi ukurannya juga kecil, itu juga jaman kecil dulu (maaf lebih tepatnya saat umur masih kecil - karena walau umur kecil tapi badan tetap besar sedari dulu).
Kemarin-kemarin saat jalan ke sebuah toko, kami liat sebuah kotak puzzle yang menarik. Kenapa menarik, karena dikotak depannya bertuliskan puzzle 4D. Tidak hanya tiga dimensi saja sodara-sodara, dan juga tidak mengharuskan kami pake kacamata film. Puzzlenya itu bergambar kota Tokyo. Menjadi 4 dimensi karena, selain 3 dimensi ruang, si pembuat juga memasukkan unsur waktu dalam si puzzle.
Pendek cerita kami benar-benar tertarik, tetapi setelah menanyakan harganya di toko tersebut kami benar-benar langsung loyo. Muahal, dan rasanya ga rela banget tiba-tiba harus ngocek kantong tiba-tiba. Jadi yang kami lakukan adalah pulang ke rumah, cari internet siapa tahu ada harga yang lebih murah, dan pada akhirnya kami pun rela membeli puzzle dengan harga sedikit lebih murah dari harga aslinya. (mencoba membesarkan hati dengan bilang: ini kenang-kenangan selama tinggal di Jepang, hahaha)
Libur akhir pekan kemarin, kami kerjain bareng-bareng. Hanya sampai tahap/lapisan pertama aja. Setelah itu jadi juga di bongkar lagi, yaaa... namanya juga penasaran. Nanti kalo udah pulang ke Bandung baru di susun lagi deh.
05 Januari 2012
tahun baru
postingan pertama di tahun 2012
padahal ga tau akan nulis apaan
saya merasa perjalanan di tahun 2011, saya lewati tanpa tujuan pasti
lebih banyak berjalan meraba, mencoba lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara
lebih banyak berdiskusi dan merubah cara pandang
tidak banyak pencapaian-pencapaian fisik yang didapat
waktu saya lewati dengan berusaha menguatkan landasan untuk berjalan esok hari
keimanan, teman, keluarga, kesehatan, materi, kemampuan...
tidak akan pernah berhenti belajar
sangat deg-degan menyambut hari kedepan
untuk sesuatu yang sangat absurd


