17 Juni 2014

Re Usaha


Dua tahun lalu, di tahun 2012, di tahun ke dua pernikahan kami, baru kami memutuskan untuk periksa ke dokter kandungan, untuk memeriksa tentang kondisi tubuh dari masing-masing kami. Di tahun yang sama pula saya menjalani beberapa pemeriksaan seperti HSG, laparoskopi, dan perawatan setelah tindakan laparoskopi dilakukan selama kurang lebih 8 bulan. Sampai akhirnya kami harus pindah ke Jepang dan berhenti konsultasi dengan dokter Indonesia. Awalnya saya ragu buat datang ke dokter Jepang, tapi setelah membulatkan kembali niat ikhtiar kami, kami memutuskan untuk memulai kembali ikhtiar ini.

Awalnya saya pergi ke dokter kandungan biasa, namun setelah si dokter kandungan ini lihat surat rekam medis yang saya bawa dari Indonesia, dia pun menyuruh saya untuk pergi ke dokter spesialis lagi. Nama rumah sakitnya Keiai Hospital. Di sana terdapat dua pelayanan: yang pertama untuk layanan kandungan plus kesehatan anak, yang kedua layanan untuk masalah reproduksi. Saya masuk ke layanan kedua. Dokter pertama yang saya datangi sebelumnya bilang, bahwa di rumah sakit Keiai ini banyak dokter ahli untuk masalah bayi tabung di daerah Saitama tempat kami tinggal (karena sedari awal saya dirujuk untuk melakukan bayi tabung -saran yang sama juga dikasih oleh dokter Indonesia). Saya sih benar-benar mengosongkan perasaan dan berharap untuk dilakukan pemeriksaan ulang terhadap diri saya dari awal, belum tahu tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. 

Pertama kali datang ke rumah sakit, saya takjub dengan bangunan rumah sakitnya, hahahahahha. Beda banget soalnya sama rumah sakit di Jepang yang pernah saya datangi. Penampakannya lebih kaya hotel dengan lantai marmer, sofa sofa besar, jendela besar, tirai jendela yang mewah, kamar mandi yang mewah bahkan tutup toiletnya bisa ngebuka sendiri. Berasa ada di hotel da! Hihihi, katrok nya keluar. Oke, pertama kali datang ke rumah sakit, seperti biasa mengisi formulir ini itu dalam bahasa Jepang yang artinya dikira-kira sendiri berdasarkan kanji yang pernah dipelajari, bohong deng! Ngisi formulirnya dibantu sama teteh resepsionis yang gagap juga kalau harus nerangin pake bahasa Inggris, yah pada akhirnya saya berhasil lah ketemu pak dokter di hari itu. 

Dokternya bisa bahasa Inggris (satu poin buat si rumah sakit), jadi bisa dimengerti kalau dia bilang istilah medis yang kayanya kalau diucapin pake bahasa Jepang, saya bakal sibuk buka kamus ditambah nanya "dok, kanji nya yang ini bukan ya?". Karena saya tidak berekspektasi apa-apa ketika pertama kali dateng, dan pak dokter juga kayanya bingung mau jelasin darimana, akhirnya dia cuma nyodorin prosedur untuk pemeriksaan awal sampai tahap inseminasi. Karena emang saya pengen diperiksa jadilah saya minta prosedur yang paling awal banget dilakukan, dan sisanya terserah dokter. 

Rumah sakit ternyata sudah punya standar prosedur plus biaya yang harus kita keluarin kalau kita mau ambil prosedur itu. Ini salah satu tahapan awal pemeriksaan yang diambil dari website rumah sakit (dan di translate sama google translate). 

Untuk gambar diatas, itu hanya keterangan biaya sampai tahap inseminasi buatan. Jika belum berhasil  setelah inseminasi buatan, ada pilihan mau bayi tabung atau engga. Karena jelas sekali biayanya, jadi sedari awal kita bisa menimbang sampe mana treatment yang akan kita ambil. Di website aslinya tertulis lengkap tentang biaya untuk proses bayi tabung dari kesemua tahapannya. 

Keterbukaan masalah biaya dan tahapan menjadi  poin kedua buat rumah sakit (di setiap rumah sakit Jepang pasti lengkap juga sih). Gara-gara ke dokter itu, saya jadi cari-cari informasi tentang biaya bantuan dari pemerintah Jepang untuk orang yang berencana punya anak melalui proses bayi tabung. Ada dong ternyata. Mungkin ini salah satu usaha pemerintah juga untuk mendukung pasangan yang menikah ingin punya anak tapi mempunyai masalah reproduksi. 

Sampai saat ini, sudah tiga kali saya datang ke rumah sakit. Pelayanannya sejauh ini baik (sasuga Nihon). Oiya jadi ingat dulu waktu di Indonesia saat disuruh HSG sama dokter. Saya dikasih surat rujukan ke lab. Di lab juga langsung dibawa ke ruang periksa tanpa dijelasin macem-macem, udah mah pertama kali, diabur deui. Sedangkan disini, si dokter kasih kertas penjelasan tentang HSG, dikasih tau kalau nanti itu sakit dan nawarin painkiller, juga dikasih kalau ga pake obat berarti tim dokter harus berhati-hati biar pasien tetep ngerasa nyaman, nanti bakal ada obat ini itu buat ini itu, ada juga surat yang tentang persetujuan untuk dilakukannya HSG ini. Heu, beda banget ya! Padahal harganya mirip-mirip. 

Yosh! Saya pengen nulis aja sih tentang pengalaman ini. Mengingat mungkin ada teman-teman juga entah dimana, yang punya perasaan yang sama. Saya sendiri, Alhamdulillah dikelilingi sama orang orang soleh dan sabar, yang selalu kasih semangat, doa, motivasi. Apapun hasilnya, daijoubu, selama masih punya Allah SWT, kami akan tetap bersyukur. 










 

16 Juni 2014

Kok Bisa?

Saya punya kenalan orang Jepang, usia sekitar 65 tahun. Dia cerita kalau setiap hari Sabtu adalah jadwal dia untuk pergi ke tempat orang tuanya (usia 80 tahun keatas) untuk memandikan mereka karena usia yang tua membuat mereka (orang tuanya) sulit untuk melakukan aktifitas mandi. Saya takjub sekali mendengarnya, walau kadang dia sesekali keceplosan bahwa dia pun cape, namun selalu diakhiri dengan kalimat "shoganai yo ne" (arti kasarnya: mau gimana lagi ya). Bayangkan dia usia 65 tahun, seusia mamah saya, masih mengurus mamahnya yang usia 80 tahunan. Andaikan saja dia mengenal islam, dan mempercayainya, dia pasti seneng banget karena Allah SWT menjanjikan surga buat siapapun yang mengurus orang tuanya yang sudah lanjut usia. 

Tapi kadang saya mikir juga sih, orang Jepang ini, kalau sudah tidak serumah lagi sama orang tua kayaknya susah buat bersatu kembali. Atau mungkin si orang tuanya yang enggan untuk tinggal bersama anak. Kok bisa tinggal di rumah berbeda, padahal masih satu kota, padahal orang tuanya sudah sangat lanjut, padahal orang tuanya sudah sendirian. Kalau saya sebagai anak kayanya udah ga bisa, ga tahan, ga tega. Ngeliat ada aki-aki atau nini-nini jalannya sendirian, jalannya udah bungkuk banget, saya selalu bergumam "ini keluarganya kemana sih?" 

Saking mandirinya, biasanya di usia masuk kuliah, seorang anak memutuskan untuk memisahkan hidup sendiri (masih satu prefektur), berusaha juga untuk cari uang saku sendiri. Ada bagusnya memang. Tapi kalau lihat dari drama drama Jepang, biasanya hal ini berlanjut hingga kondisi si anak lupa untuk memperhatikan orang tuanya. (Kayanya asik juga nih dibikin riset biar ketemua data data nyata). Perilaku orang jepang terhadap orang tuanya yang saya lihat dari drama adalah : berbicara kasar baik nada suara atau kontennya, menolak telepon masuk dari orang tua karena dianggap mengganggu, memutuskan telepon jika dirasa orang tuanya sudah tidak nyambung obrolannya sama dia karena ada beda keinginan, bahkan sampe ga pulang kampung belasan tahun dll. Saya subjektif sih, jadi jangan sepenuhnya percaya. 

Ini mungkin emosi saya yang lagi bergejolak. Gara gara inget si mamah yang sendirian di Bandung, yang ngurus ini itu sendirian di saat birokrasi di Indonesia begitu ribet (bahkan tidak adil). Saya hanya bisa nitip doa ke Allah SWT semoga mamah selalu dilindungi dan dikasih kekuatan, semoga tangan-tangan Allah SWT selalu ada melalui orang orang dekat yang bisa membantu beliau. 



13 Juni 2014

"Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan dan mendahulukannya sedetikpun,”[QS. An-Nahl: 61].


Baru saja menerima kabar duka dari keluarga di Indonesia. Setelah dua hari lalu dikabarkan bahwa kakak sepupu meninggal, pagi ini,  Ua saya di Jakarta, kakak ketiga dari mamah, meninggal dunia. 


Memori ini lansung terbang ke terakhir kali saya bertemu beliau. Kakak-kakak laki-laki dari mamah, dan beliau salah satunya, selalu saya anggap sebagai panutan seorang ayah. Usapan tangannya di kepala, kecupan nya dikening, rasanya baru kemarin usapan hangat sarat doa itu saya rasakan. 


Ya Allah berilah ampunan dan rahmat kepada beliau, ringankanlah siksa kuburnya, dan pertemukanlah kami semua di surgaMu kelak.