Jika niat ikhlas maka langkah kita akan dimudahkan oleh Allah SWT
Hujan hari ini membuat saya memaksa diri untuk melawan nikmatnya berada di rumah sambil menyumput dibalik futon serta menikmati coklat hangat. Hari ini hari Senin. Sudah lima kali hari Senin saya dihabiskan di sebuah masjid di Otsuka untuk belajar tahsin Al-Quran selama dua jam saja, dari pukul 13.00 - 15.00. Alhamdulillah sekali karena cita-cita untuk belajar tahsin terealisasikan juga. Sejak jaman kuliah selalu ingin mengikuti pelajaran ini, tapi entah kenapa saya tidak mengikutinya kala itu. Mamah yang selalu hadir dalam kelas tahsin bersama teman-temannya di hari Rabu selalu membuat saya iri, karena saya pun ingin belajar seperti beliau. Dan barulah kesempatan itu datang di Jepang di saat hanya tinggal 2 bulan lagi saya tinggal di Jepang. Hidayah dan kesempatan kadang memang tidak terduga datangnya. Hidayah? ya saya akui bahwa mengikuti kelas tahsin atau belajar agama pun perlu hidayah yang hanya datang dari Allah SWT. Hidayah yang datang melalui apa dan siapa saja.
Kelas tahsin hari Senin ini saya terjangi dengan jarak tempuh satu jam setengah dari rumah. Begitu semangtnya saya setiap akan berangkat, dan tidak mau sekalipun tertinggal pelajarannya. Alhamdulillah sampai di kelas selalu sudah ada beberapa teman yang datang tepat waktu, saya sih selalu terlambat sepuluh menit karena harus shalat dzuhur di rumah lalu berangkat. Kala hujan, kala dingin, semangat terlihat dari teman-teman yang ingin belajar. Bagi saya, semangat terbesar saya adalah ketika saya ingat Ustadzah yang mengajarnya. Beliau dengan kedua anaknya lebih rela datang pagi-pagi ke masjid dan harus mengajar dari pagi hingga sore hari. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk berleha-leha, kecuali urusan sakit seperti pekan lalu.
Awal mengikuti kelas saya sedikit minder, karena saya tidak pernah belajar benar untuk tahsin sebelumnya. Saya hanya mengingat memori jaman SD ketika masih belajar di TPA tentang tajwid. Juga menggali kembali memori pendek yang pernah diberikan oleh ustadz ketika memberikan ceramah singkat di masjid dekat rumah. Hanya sekedar "pernah dengar" tapi tidak begitu paham. Namun rasa minder itu hilang sirna. Tak ada alasan minder untuk belajar, karena semua orang yang berada di dalam ruangan kayu itu pun sama: belajar. Ustadzah pengajar yang baik hati, ramah, membuat materi yang disampaikan mudah diterima. Jika memang ada yang sulit dicerna, kesalahan ada pada otak saya yang sudah lama tidak pernah dipake. Hehehehehe. Juga teman-teman serumpun dari Indonesia, teman orang Jepang, juga Uzbekistan yang hadir selalu menambah semangat saya karena mereka semua pada rajin membawa kue-kue sebagai penghibur dan penambah energi setelah dua jam belajar.
Ahhhh,,,,maka nikmat mana lagi yang akan saya dustakan? Tidak ada. Sungguh bersyukur dapat dipertemukan dengan orang-orang shalehah yang membuat diri ini merasa malu dan selalu ingin meningkatkan kapasitas diri sebagai muslim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar