Tidak pernah terlintas di benak saya waktu saya masih pakai seragam putih abu tentang masa depan untuk berdiri di dekat papan tulis, mendengar celoteh keluhan, tawa, sindiran, atau menikmati pemandangan resah murid murid yang sedang mengerjakan soal, wajah tegang yang takut namanya disebut, sikap selow siswa yang lebih memilih memandangi pohon pohon diluar, keseriusan karena takut dengan orang tua, bahkan wajah yang terus menerus tersenyum karena tidak tahu harus berbuat apa terhadap berderet angka atau kalimat yang dia dengar.
Dikelas, seorang siswa bilang "saya tuh bingung, manggil kaka atau Ibu". Kesimpulan saya berarti efek terlihat muda itu hanya satu kuncinya : gapake make up. Atau seorang wali siswa yang bilang,"Dek, adek di kelas berapa?" Hanya karena saya pakai baju yang mirip seragam siswa. Ya bodi mah gausah dibilangin lah ya. Kan saya termasuk anak masa kini yang kebutuhan gizinya Alhamdulillah mencukupi sehingga bisa bersaing sama anak-anak era One Direction ini.
Sebulan diamanahi mengajar di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, 35 jam seminggu. Alhamdulillah, nikmat lain yang Allah SWT kasih ke saya hingga saya bisa menikmati ganasnya wanita karir Jepang ketika rush hour, nano nano nya bau pengguna Yamanote line di pagi hari dan nikmat yang membuat saya tersadar bahwa untuk naik Yamanote line itu kita harus punya ilmu dasar pencak silat. Posisi kuda kuda saat masuk ke dalam kereta itu menentukan seberapa energi yang akan kita berikan untuk mendorong penumpang ke dalam kereta lebih dalam. Tentunya harus dilakukan dengan wajah tanpa dosa.
Turun dari kereta pun masih harus berjalan menyusuri lembah Meguro yang diiringi pemandangan macam macam: si teteh anu dan si aa anu yang selalu ketemu di jam yang sama, si bapa anu yang setelan jas tapi bonceng dua anaknya ke tempat penitipan, si nini anu yang teriak teriak buat ngurus antrian masuk bis, dan semua rutinitas yang hampir konsisten setiap harinya. Hingga kekonsistenan saya selama sebulan ini menghasilkan bertambah kencangnya otot betis dan otot perut sebelum makan gorengan.
Pengalaman belajar bersama anak yang lebih muda selama sebulan ini, Alhamdulillah saya nikmati. Saya masih meraba-raba juga pola yang enak seperti apa. Di hari pertama, grogi tingkat menara Tokyo Sky Tree. Hari kedua, entahlah sudah lupa, cuma yang jelas level grogi semakin menurun, level muka serius makin terlihat, level gempor kaki tingkat maksimal, level bercanda sudah bisa kelihatan namun hanya sampai level 5 saja, karena kalau sampai level 15 takut bersaing dengan kerupuk Mak Icih.
"Ih, si Bu Indah, matanya itu looh!", celetuk seorang manusia dewasa muda yang setia dengan celana ketat dan jaket jins nya. Atau, "Bu, besok mau ada badai jadi katanya gada ulangan Ibu", teriak lagi anak yang ngakunya suka melakukan sikap lilin selama 30 menit tapi sungguh diragukan karena lingkar perutnya tidak menggambarkan keadaan seharusnya. "Silahkan Ibu lewat duluan, saya bawaannya deg deg an kalau sebelah ibu", kata seorang anak yang ga mungkin ga deg deg an kalaupun saya gada. "Adinda adinda, ini harus bagaimana?", tanya seorang siswa yang sedang ngerjain soal dan minta di teke teu eureun eureun tapi saya urungkan karena selain dia bukan muhrim, juga takut saya jadi pembahasan di rapat komite sekolah, dan akhirnya saya semprot dengan ceramah ala mamah dedeh.
Hehehe, jadi pengen ketawa sendiri. Apalagi membayangkan betapa engga nya diriku selama masa SMA dulu.
Sekarang, visi dan misi itu di kuatkan dalam hati dan berusaha ditunjukkan lewat perbuatan. Menjadi siapapun, haruslah bisa menjadi contoh. Sungguh saya sadari, buat saya menjadi guru itu sungguh berat sekali. Pelajaran mental dan sikap yang harus disampaikan sungguh pelajaran yang lebih berat dari pelajaran apapun. Reward nya pun bukan semata-mata dereta angka di kertas, tapi reward dari Allah SWT, amal jariyah, yang jika seseorang bisa berubah menjadi baik karena perilaku kita maka kebaikan orang tersebut akan mengalir pada kita. Sungguh berat, ketika orang tua bilang "Soalnya omongan guru lebih didengar dari omongan kita", sungguh berat karena kita pun manusia yang punya kelalaian dan kesalahan.
Jadi guru harus mau belajar. Belajar memperbaiki diri, belajar tentang perkembangan zaman, belajar mendengarkan, belajar saling menyayangi, dan tetiba daftar mata pelajaran seorang guru lebih banyak dibandingkan siswanya.
Ya Allah SWT semoga ridho Mu senantiasa bersama kami.