02 Maret 2014
Teman Baru :)
13 Februari 2014
Salju (lagi) dan Dompet Kucing
Pagi ini badan dibikin males sama dinginnya udara musin dingin, lebih males dibanding hari hari lain. Pas nengok keluar jendela, ternyata ada lapisan salju lagi diluar. Sepertinya dari sejak semalam sudah turun, pantas aja pagi-pagi tadi udah dibikin susah bergerak. Kedua kalinya salju turun dalam seminggu terakhir ini.
Rupanya bukan salju yang turun aja yang bikin saya kaget tadi pagi, juga ada sms dari Nda, adik ipar, bilang kalau Gunung Kelud meletus semalam. Awalnya saya ga begitu tertarik, lalu kemudian saya teringat dengan postingan si adik ipar di media fb tentang potensi ledakan Gunung Kelud (Jawa Timur) yang lebih besar dibanding Gunung Merapi (Jawa Tengah), yang dia taaut dari sebuah media online. Akhirnya saya baca-baca tentang berita kejadian erupsi tersebut, dan melihat banyak orang juga yang posting tentang keadaan di daerah sekitar Gunung Kelud, juga kutipan Al-Quran, serta doa-doa yang mereka sampaikan bagi para penduduk yang menjadi "korban".
Bagi saya, apa yang datang dari langit dan dari dalam bumi, adalah nikmat sekaligus ujian bagi manusia. Jadi bagi yang menikmati salju, semoga tidak terlena dengan euforianya saja, tapi harus juga bersikap waspada karena salju juga salah satu bentuk ujian buat kita yang mencari alesan buat males-malesan, heu. Pun dengan para penduduk yang sedang merasakan gonjang ganjing si Gunung Kelud,mudah mudahan selalu ada harapan dan hikmah kenikmatan yang bisa diambil dari kejadian tersebut, Insya Allah, Allah akan bersama dengan orang yang sabar.
Terus, tadi pagi tuh jadi pengen nge tweet trus mention Ridwan Kamil, "Pak, Bandung juga deket sama Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif, juga deket sama patahan lembang yang sewaktu-waktu bisa ngegoyang Bandung dan sekitarnya , mohon untuk mulai disosialisasikan dan dibudayakan pendidikan mitigasi bencana buat warga Bandung", tapi entah kenapa ga jadi..heu heu,,geje.
Dan untuk mengalihkan perhatian dengan keresahan di dada saya ini, sekaligus memindahkan fokus biar badan ga terlalu ngerasain hembusan udara dingin yang ngedeketin saya terus, maka tadi saya menyelesaikan target saya buat bikin dompet.
Aduh ini sungguh random gini tema postingannya..gapapa lah...
Iya, saya udah rencana untuk bikin dompet dari bahan yang sama dengan tas sling bag yang beberapa waktu lalu dibikin. Setelah beberapa hari dikerjakan, akhirnya kelar juga tadi.Ya walaupun pas udah jadi malah disangka tempat pensil karena ketebalannya yang tebal akibat pemakaian kain yang berlapis lapis. Saya teh ga pernah ngasih link cara bikinnya ya? padahal saya juga dapet ilmu dari blog orang lain, terus ditambah dan di modif sendiri sama bentuk yang dipengen. Untuk kali ini saya nyoba untuk bikin tambahan wadah koin di dalam dompet. (heu,,jadi nanti cari aja caranya pake kata kunci DIY coin purse sama DIY wallet, dijamin bingung). Masih dikerjakan dengan jahitan tangan (yang membuat jari ini semakin kapalan), dan bahan-bahan yang dibeli juga sebagian besar dari toko 100 yen di deket rumah. Nanti kalo udah pede, kalo udah punya mesin jahit, mau deh buka lapak sendiri...aamiin.
08 Februari 2014
Tote bag diantara salju
05 Februari 2014
Little sling bag
31 Januari 2014
Pameran Quilt Tokyo 2014
Pameran quilt sendiri hanya dilaksanakan 7 hari dan kami datang tepat di hari terakhir, tanggal 29 Januari 2014. Tidak kami berdua (+ dua bocah yang lucu), ditambah juga seorang teman, ibu dari 5 orang anak, yang juga bergabung bersama kami. Yesss, makin banyakan makin rame deh.
Kami janjian pukul 10 di depan Tokyo Dome. Dari mulai keluar stasiun, saya sungguh yakin bahwa ibu ibu dan nenek nenek yang keluar dari stasiun barengan sama saya itu punya satu tujuan : pameran quilt. Keyakinan saya terbukti dengan antrian panjang yang rapi saat memasuki gerbang pameran. Tiba tiba rasa senang saya makin membludak, padahal baru liat orang orang nya ajah. Kami beli tiket masuk, 2000 yen, yang menurut saya mahal (tapi mungkin standar untuk tiket masuk pameran besar). Tapi saya udah niat, walau tiket mahal, pengen dateng. Alesan saya pengen dateng cukup simpel sebenernya : pengen meningkatkan motivasi. Hahahaha,, motivasi apapun lah, kayanya kalau liat hasil karya yang spekta tuh bisi bikin motivasi meningkat.Pertama kali masuk ke Tokyo Dome. Sebelumnya di tahun 2010 saya cuma numpang jalan jalan di luar arena Tokyo Dome, tapi kemaren saya masuk kesana. Stadium baseball milik kebanggaan club Giants Tokyo itu dirubah jadi ruangan super besar dan beratap. Dari atas balkon, saya bisa lihat lapangan yang besar dan terisi penuh sama stand pameran. Hwwwoooooo.. Bakalan seru ini.
Menginjakkan kaki di tempat pameran, kami langsung disuguhin karya quilt yang besar, yang pada saat itu juga kami takjub dan penasaran untuk lihat lebih dekat. Bahkan teman teman saya lngsung sigap ngeluarin ponsel kemudian ambil foto setiap keindahan yang terlihat. Sayang saya ga bawa kamera poket, saya hanya bawa ipad. Walaupun resolusinyan lebih bagus kamera ipad, tapi pas awal saya masih merasa ribet buat ngeluarinnya. Berpindah dari satu karya ke karya quilt yang lain,, yang ada makin membuat kami takjub, hanya bisa bilang "keren, cantik, sugoii, subarashii, kirei" dan kata kata positif lainnya. Bayangkan saja, quilt yang kira-kira punya ukuran 3x3 meter itu, dijahit pake tangan semua. Dengan segala kerapihan, keteraturan, keharmonisan paduan warna dan pola, maka memang pujian yang kami keluarkan untuk karya quilt yang kami lihat. Ga kebayang bikinnya makk! Saya pernah bikin quilt, judulnya pengen nyoba ala amatir yang sok sok an, dan ternyata saya ga sanggup untuk ngerjain pake tangan, saya kerjain pake mesin dimana pada akhirnya hasilnya sungguh.....tidak seperti karya quilt. Hehehehehe.
Disana terdapat juga stand stand yang memanerkan karya quilt dari artisan quilt ternama. Saya juga ga hapal, karena pada dasarnya saya belum termasuk orang yang tergila gila dengan quilt ini. Tapi melihat para artis quilt tersebut saya jadi sedikit memuji orang Jepang. Bayangkan saja, quilt ini bukanlah kebudayaan asli orang Jepang, ini kebudayaan dari Amerika / Eropa. Pada tahun 70 an, salah satu quilter ternama Jepang saat ini, menginjakkan kaki di Amerika dan dia mulai tertarik dengan Quilt sampai akhirnya dia belajar disana. Memang segala sesuatu butuh kerja keras, hampir 40 tahun ia menekuni quilt hingga akhirnya dia bisa membuat warga Jepang yang lain untuk jatuh cinta pada quilt. Tidak tanggung tanggung, budaya yang asalnya dari luar, mereka padukan dengan budaya lokal sehingga terciptalah Japanese Quilt yang pastinya punya gaya berbeda dari quilt Amerika, serta diterima dan diakui oleh pecinta quilt di dunia. Oke, big applause buat Jepang!!!!
Arena pamerannya guedeeee banget, capenya itu seperti lari pemanasan di lapangan baseball 10 kali. Hahaha, lebay, pernah juga cuma sampe 5 doang, itu juga jaman muda lucu dan imut. Stop! Iya arena display karyanya banyak, dan untuk liat satu karya ga bisa cuma 5 detik. Buat saya bisa menikmati karya karya itu adalah harga yang pantas dengan tiket masuk yang saya anggap mahal tadi. Hehehehe. Setiap ngeliat karya orang, pertanyaan yang ada di kepala saya adalah "ni orang kepikiran apa sih bisa sanggup bikin beginian?". Memang pekerjaan seni itu kadang susah untuk memahami kepala si senimannya.Selain display karya quilt, banyak juga stand dari toko-toko kerajinan yang bikin saya cape buat liat liatnya, cape hate, karena ingin hati membeli, tapi apa daya dompet belum mencukupi. Ada juga acara talkshow oleh artis-artis quilt maupun artis lain yang tertarik dengn dunia quilt. Tapi berhubung kami mah ga ngerti apa yang disampaikam, jadi skiiipp aja tanteeee.
Dan setelah puas kelalang keliling, maka kami pun pulang dan berpisan dengn rasa suka cita.
The end.
(Tanya om wiki tentang quilt)
23 Januari 2014
Baito yang Inspiratif
Saya tuh, selalu deh,,mau urusan besar, mau urusan kecil, kalau itu adalah yang pertama, pasti bisa kebawa mimpi..gonggg! di mimpinya pasti ada kaitannya dengan urusan itu, ya entah itu terlambat lah, entah itu tiba tiba udah kenalan sama rekan kerja lah,pokonya selalu kebawa tidur. parah pisan. Termasuk si makhluk baito ini. Mungkin lebih karena saya punya ekspektasi yang rendah terhadap diri juga kali ya, takut ga bisa ikutin aturan mainnya lah, takut ada kegagalan komunikasi lah,,ya yang semacam begitu,yang sepertinya untuk orang seusia saya itu udah bisa diatasi dengan bijak. Tapi Alhamdulillah,,emang saya aja yang terlalu mikir berlebihan.
Ternyata pas ketemu sama orang yang punya risetnya, dan riset dia lah yang akan saya bantu, ternyata Alhamdulillah saya bisa belajar cepet. Kerjanya emang ga pake mikir deng, cuman tenaga aja yang dibuthkan untuk duduk berjam-jam dan mata yang
Saya pikir orang orang Jepang ini sudah taat sepenuhnya sama aturan ya,,ternyata pas ngeliat berjam jam rekaman video itu, banyak juga orang orang Jepang yang tidak melulu patuh sama aturan. Memang kalau menurut saya yang hanya menghitung sampel dari beberapa jam video saja, statistik orang antara yang konsisten dan tidak konsisten pada jalur sepeda berbeda-beda, tergantung lokasinya. Kalau di lokasi trotoar yang besar, cenderung sepeda akan konsisten melewati jalur. Tapi kalo untuk trotoar yang kecil,mereka cenderung untuk ambil jalan pintas dan yang penting lancar perjalanannya, alias mereka lebih milih lewat jalan raya, walaupun terlihat dari video, ini lebih bahaya. Kenapa bahaya,,karena jadinya jika ada di jalan raya,mereka lebih meningkatkan kelajuan sepedanya. Saya sendiri belum sempet tanya-tanya kepada yang empunya riset tentang tujuan dari riset ini, tapi kalo saya meraba-raba (kade ah bisi ada yang kepegang yang bukan muhrim), eittss,,ini mah meraba pake otak,,(akhirnya dipake juga),, iya kalau saya meraba mah, jigana si riset teh diperuntukan untuk melihat keefektifan infrastuktur untuk pengguna sepeda (bycyle lane, sidewalk) demi meningkatkan keamanaan pengguna sepeda (safety riding). Dan sepertinya riset ini adalah kerjasama universitas sama pemerintah kota, jadi hasilnya nanti di ajukan untuk perbaikan kota.
ngomong ngomong tentang bicycle lane, jalur sepeda yang warnanya biru (atau bisa juga hanya berupa garis), itu ada juga ya di Bandung. Dulu rasanya pernah posting gambarnya juga di sini..hihihihhi... Jalur sepeda yang instant banget dibuat sama pemerintah kota saat itu (tahun 2010), gara gara adanya komunitas sepeda yang pengen juga dikasih ruang di jalan raya. Jadilah si pemerintah kota rela mengeluarkan uang untuk ngecat jalan dan trotoar. Yang setelah beberapa minggu pun catnya hilang. Dan sebagai orang yang pernah melewati jalur tersebut, saya rasa jalur sepeda saat itu belum terlalu banyak manfaatnya. Pertama karena pengguna jalan masih didominasi sama kendaraan bermotor yang nyaris melupakan keberadaan sepeda yang dianggap ngagokkin, sehingga tetep aja di klakson. Kedua karena penempatan jalurnya kurang tepat yang ditempatkan di trotar yang gerinjulan,,apa atuh bahasa gerinjulan teh? Ah iya! tidak rata. Mana sayang pula itu paving block trotoar jadi berwarna.. oke stop curhatnya.
Terlepas bagaimana kondisi di Bandung, tapi saya salut pisan sama kampus kampus Jepang yang selalu mengeluarkan research-based product. Tidak hanya produk semacam teknologi (itu mah jelas), tapi juga untuk produk fasilitas publik maupun kebijakan publik. Oiya biar paragraf terakhir tidak menyanjung Jepang saja, saya juga mengapreasisi program Walikota Bandung untuk bike to work tiap hari Jumat, sehingga keberadaan jalur sepeda bukan sekedar program ngiring bingah warga bandung, tapi memang untuk mendungkung Bandung untuk jadi kota yang ramah sepeda, mudah mudahan suatu saat akan ada riset yang menjadi dasar untuk setiap kebijakan publik di kota Bandung,,mmuuahh..
11 Januari 2014
Menyambut diri
Sudah juga melewati masa adaptasi dengan berbatuk batuk ria
Katanya,,
"Santai aja, gausah buru buru untuk cari kegiatan"
Dan memang itu juga yang saya encamkan pada diri ketika meninggalkan Indonesia. Ga jadi soal kalau berstatus sebagai pendamping, tapi tetap harus pandai menyerap potensi potensi yang hanya tersedia di Jepang.
Jadi ceritanya, saya mulai corat coret buku, seolah olah menumpahkan apa yang ada dipikiran, tentang hal hal yang ingin dicapai selama 3 taun ini. Ada poin bahasa, pendidikan, dan hobi.
Untuk bahasa sendiri, saya akui saya tidak pandai menyerap ilmu bahasa. Bahasa inggris yang seadanya, Bahasa jepang yang sebisanya, bahkan bahasa Sunda aja udah pada menguap. Intinya kemampuan linguistik saya tidak bagus, sehingga dalam menyerap dan menyampaikan ide/pendapat (dalam bahasa apapun) bisa dibilang tidak bagus, heu. Tapi untuk saat ini, saya bertekad untuk tekun belajar bahasa Jepang. Semakin bulat setelah saya berbincang bincang sama sepupu yang mendorong sambil mengajak membayangkan betapa ruginya kalo udah jauh jauh tinggal di negara orang tapi untuk bisa bahasanya saja ga bisa. Selama dua tahun setengah yang lalu tinggal disini, jujur saya ga serius. Hanya sekedar bisa untuk kebutuhan sehari hari, belajar untuk bisa lulus tes doang, lulus sih, tapi karena ga dipake dan ga dihayati proses belajarnya, jadi ga nempel lama. Makanya untuk sekarang saya mau lebih membuka pikiran dan meluangkan waktu untuk urusan bahasa ini. Mengetahui lembaga bahasa itu mahal, jadi kembali saya pilih belajar from environment. Akan kembali ikut kelas volunteer di beberapa tempat, membaca baca buku grammar dan kanji, membuka / membaca situs, bacaan jepang biar terbiasa dengan kanji, berteman dengan orang jepang, dan menonton drama juga jadi media buat belajar.
Poin kedua, pendidikan. Ini berkaitan dengan profesi saya sebagai tim pengajar dulu, dari itu saya sadar saya tertarik dengan dunia tersebut. Juga dengan keinginan untuk punya sebuah komunitas di lingkungan tempat tinggal nanti yang bersinggungan sama anak-anak. Saya belum punya penjelasan khusus tentang pendidikan yang ingin didaptkan disini. Bisa jadi sekolah kembali, bisa jadi memahami tentang sistem pedagogik di jepang, bisa jadi menjadi bagian dari pendidikan yang ada dijepang. Semua kemungkinan akan dianalisis lagi berdasarkan kebutuhan dan kesempatan. Kembali saya membuka hati dan pikiran untuk hal ini, mulai sekarang akan bersikap positif untuk setiap tantangan yang akan dihadapi..#doengggggg
Poin ketiga adalah tentang hobi. Menilik bahwa jepang ada lah gudangnya keterampilan, jadi ingin sekali mengenal dan terjun ke dunia per hand made crafts an. Saya seneng barang pakai yang berbahn dasar kain dan kulit (selain pakaian maksudnya), entah itu tas, aksesoris, perlengkapam alat tulis, hiasan rumah, apapun itu yang bisa diproduksi sendiri dan lucu -lucu itu relatif-, dan mudah mudahan saya punya selera yng bisa jadi ciri khas "gue banget". Tapi untuk hal ini, sepertinya butuh modal yang mesti dukumpulkan dulu sebelum mencoba untuk mengeksekusinya. Yosh, nantonak suru!!
Oiya,masih ada poin lain lain selama disini : naik haji. Yes, insha Allah ingin bisa menunaikan haji jika diizinkan. Kan katanya ketika ada jalan yang mudah (yakni ketika tinggal d jepang), maka udah ada kewajiban buat memenuhi perintah naik haji, tinggal dikembalikan kepada kencangnya niatan diri untuk memperjuangkan itu. Mari berdoa. Hal lain lagi yakni : program anak. Sebenernya saya juga ga terlalu terburu-buru untuk urusan ini. Cuman kan ya gada salahnya untuk kembali mengikhtiarkan, setelah denger denger biaya untuk program ini lebih miring dibanding di indonesia. Tapi mudah mudahn ga perlu sampe ke dokter infertilitas lagi ya,,, hehehe.
Ok sekian dulu caprukan hari ini
Salam,
Indah
21 Juli 2012
Yang Sempat Ditulis
#edisi kangen Toumeisou#Hari itu cuaca sedikit gerimis. Mata kami masih ingin sekali tertutup, kami baru tidur jam dua dini hari dan tiga jam seolah cepat sekali berlalu. Jam lima pagi kami sudah bersiap shalat shubuh, mandi, dan mengecek untuk terakhir kalinya memastikan tidak ada barang yang terlupa serta membereskan semua benda untuk kemudian mengamanahinya kepada penghuni berikutnya. Sungguh ingin aku menatap lebih lama lagi rumah yang berada di belakang balkon tempat kami. Ingin rasanya menyimpan seluruh memori yang sudah kuhabiskan di tempat ini. Suara anak tetangga yang selalu ramai ketika jam sekolah, suara para penghuni rumah membuka pintu jendela mereka, suara burung gagak di pagi hari. Hari itu hari sabtu, sehingga tak ada anak yang pergi ke sekolah. Jendela pun masih tertutup rapat, karena kami terlalu dini terbangun.
Kupanaskan air diatas kompor. Membuka tutup terakhir dari semangkok mie instan yang baru dibeli di hari kemarinnya. Kami pikir, ini adalah makanan terakhir dari kisah hidup kami di tempat ini, makanan yang memang hanya dijual disana. Semangkok untuk berdua saja. Cukup untuk santapan mengganjal perut dipagi hari. Seorang teman juga telah merelakan tidurnya terpotong demi untuk datang ke tempat kami. Teman yang akan mengisi rumah yang sebelumnya kami tempati selama setahun. Dia datang dan membantu menyelesaikan sesuatu yang sedang kami bereskan. Tak lama dari itu juga, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sebuah keluarga manis yang selalu senantiasa membantu kami selama setahun ini pun merelakan paginya dihabiskan untuk datang ke tempat kami. Dengan mata yang masih kantuk, anak-anak dari keluarga itu masih sempat berusaha tersenyum. Aku pun terharu, hampir seperti langit di luar sana yang menurunkan rintik hujan, tapi ku tahan. Sebungkus nasi goreng juga kami dapatkan dari keluarga nan baik hati itu. Tak terkira bahagiaku. Bukan karena makanannya, tapi sebegitu ingatnya mereka pada kami. Membayangkan akan lamanya menunggu, sehingga memberikan kami makanan untuk disantap selama menunggu itu. Malu aku rasakan pada mereka, karena aku tidak banyak memberi apa-apa kepada mereka. Aku tak luput memberikan senyumanku pada mereka semua. Kami akan baik-baik saja, begitupun dengan kalian. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Tempat ini, sekali lagi ku tuliskan. Ingin aku merekam semua memori ini. Sudah pukul enam lewat sepuluh. Kami turun ke bawah menuju tempat dimana kami di jemput. Ketika barang-barang sedang dimasukkan kedalam mobil, tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari rumahnya. “sudah akan pulang ya?”, begitu yang ia katakan. Dan tiba-tiba saja dia menangis serta mengatakan bahwa walaupun kami dan beliau jarang bertemu, tapi ia sangat sedih dengan kepergian kami. Dan aku pun berusaha untuk tetap tersenyum. Beliau adalah wanita yang tinggal di bawah kamar kami, memiliki usaha cukur rambut, dan juga penanggung jawab untuk sampah di lingkungan kami. Masih sempat kami memberikan sebuah hiasana bergambar wayang kepada beliau, dan beliau terlihat semakin hanyut dalam keharuan. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain berpamitan. Kupeluk beliau, kupeluk keluarga itu, kupegang kepala anak-anak mereka. Dengan sebuah doa: sehat-sehat kalian disana dan semoga kita dipertemukan kembali.
Tak ada yang bisa memberhentikan waktu, kami pun naik ke mobil. Tempat tinggal kami semakin jauh dan kecil, aku sudah tidak lagi melihat teman-teman kami berdiri disana lagi. Bukan mereka yang pergi, tapi kami yang meninggalkan tempat itu.
11 Desember 2011
illumination dan rayuan
dingin + malam + lampu-lampu = romantis (???)
nyatanya, di malam yang dingin seperti saat ini, dan ditemani hiasan ratusan lampu yang digantung di pohon, kenapa orang2 lebih banyak yang berdua-duaan?(laki2 dan perempuan pastinya). buat kami tidak begitu romantis. setidaknya begitu yang saya rasakan waktu jalan-jalan di illumination area di dekat Stasiun Saitama Shintosin. karena kedinginan dan lapar, kesan romantis itu hilang. hahahahahha
di penghujung tahun, entah kenapa orang Jepang yang (mayoritas) tidak memiliki agama ini seakan-akan ngiring bingah ketika akan natal. Hemm, padahal di tanggal yang katanya jatuh pada hari natal itu, mereka bukannya mengingat Tuhan tapi menjadikan momen dengan pasangan. Tanya kenapa? saya juga gak tau. Biar kesannya tambah romantis, maka perangkat pendukung lampu-lampu hias dipasang di tiap pohon. Mungkin biar terlihat seperti bintang di langit, terus pasangan yang sedang berduaan itu bisa lihat bintang barengan,,oh so sweet, sampai-sampai terjadi percakapan:
laki-laki : " kayanya bintang dilangit kurang satu deh?"gubrak...
perempuan : "loh kok kamu tau?"
laki-laki : "karena satu bintang udah ada di hati saya".
laki-laki : "kayanya bintangnya hilang dua deh.."gubrak kedubrak...
perempuan : " kok kamu tau?"
laki-laki : "soalnya bintangnya ada di mata kamu.."
ya percakapan-percakapan semacam itu yang mungkin terjadi ketika sepasang manusia sedang melihat bintang bersama. Karena menunggu bintang itu harus menunggu saat langit cerah, maka orang Jepang dengan idenya membuat hiasan lampu sedemikian rupa sehingga para lelaki bisa merayu perempuan dimana saja.
laki-laki : "kamu tahu ga persamaan kamu dan lampu-lampu itu?"atau
perempuan : "apa?"
laki-laki : "kalau lampu ini menerangi dan menghiasi jalan, kalau kamu menerangi dan menghiasi hatiku"
perempuan : "huaaaaaa.. bagus banget lampu-lampunya,,,cantik!!"Hahahhahahaha,,andaikan ada orang Jepang se-garink itu!!di pelem-in deh.
laki-laki : "iya cantik, kaya kamu"
perempuan : (diam tersipu malu, denyut nadi berdetak 100 kali lebih cepat)
28 November 2011
NIkmatnya Sushi
Dalam sebulan ini, kampus saitama kedatangan 3 orang mahasiswa exchange. Mereka datangnya dari bandung, anak-anak unpad. Karna kami (saya, Aa, dan Bang Frengki - temen lab nya Rangga), sedikit kegirangan ada temen indonesia lagi, maka kami pengen ngajak mereka yang baru datang itu untuk sekedar ngobrol dan makan diluar. Setelah berunding (walaupun ada intervensi dari saya yang emang pengen makan sushi), maka diputuskan lah malam sabtu kemarin untuk makan sushi di restoran sunda, ya enggalah, ya di restoran sushi. Biasanya saya makan di restoran yang aga jauh, naek sepeda sih, tapi tetep jauh ditambah kali ini jumlah orang lebih banyak daripada jumlah sepeda. Maka kami memutuskan untuk makan di restoran sushi yang bisa dijangkau dengan bis. selama ini tiap kali saya pergi ke restoran sushi, saya percaya apa yang dikatakan orang, "ini boleh kok", "itu boleh kok", ya ya macem begitulah. Namun sebelum keberangkatan kami ke restoran saya telpon ke seorang teman lagi dan dia menjawab "oh, biasanya saya liat websitenya dulu baru berangkat kesana". Ah iya juga ya pikir saya, lihat website. Akhirnya saya buka website restoran sushi yang bersangkutan.
Saya cari halaman untuk alergen. Karena biasanya dari halaman itulah kita tau bahan makanan yang terkandung dalam suatu makanan. Namun, ternyata saya juga temukan halaman bahan dasar makanan di restoran itu yang lebih lengkap. kalo biasanya di halaman alergen hanya tertulis kandungan umum seperti : tepung, ikan daging ikan, gelatin, daging babi, daging sapi, apel, jeruk, kedelai, dll, di halaman yang lebih lengkap ini di tulis satu-satu bumbu2nya. Misalkan ada sushi udang, disana tertulis asal udangnya darimana, trus bahan bahan buat bikin sushinya pun ditulis satu-satu seperti garem, cuka, kandungan mirin, sake, shoyu, mayones dll. Dan lebih detail lagi dibagian bawahnya juga tertulis kandungan yang terdapat dalam shoyu, mayonese, tersebut. Wewww.. kaget sekali menemukuan ternyata ada kandungan di mayones yang membuat si sushi jadi ga bisa dimakan, atau ikan yang dikasih mirin sehingga sushi nya ga bisa dimakan. Kebanyakan sih menjadi tidak bisa dimakan karena ada alkoholnya. Baru tau dan percaya karena liatnya pake mata kepala sendiri. Kalo kita ke restoran kan ga bisa lihat bumbu yang digunakan apa saja, tapi dari internet bisa kita lihat semua. Setidaknya tindakan pencegahan udah kita lakukan. Sabtu kemarin adalah makan sushi paling riweuh, karena saya bawa2 13 lembar menu sushi lengkap dari website plus bahan bahan dasar sushinya. Karena ga sempet mengingat mana yang boleh dan tidak, jadi dibawa semua deh hasil print-an nya. Yang boleh yang mana? cek sendiri aja ya. riweuh memang, tapi insya Allah ada manfaatnya.
link sumber
26 Oktober 2011
klasifikasi rumah sakit
Jadi sempet nyeletuk, "kalo di Jepang mungkin rumah sakit dibagi berdasarkan tingkat keparahan si penyakit, tapi kalo di negeri impian sana, rumah sakit diklasifikasi berdasarkan kemampuan ekonomi pasien", hehehehe.. Stop membandingkan! Tapi ini hanya mengungkapkan fakta kok :)
19 Oktober 2011
sistem cacat tak mengapa asalkan...
Saya bersyukur, masih disadarkan kalau saya beli tiket, bersyukur masih ada keinginan untuk balik lagi ke tempat tiket dan membayar kekurangannya. Kalau pun mau nakal, saya bisa aja cuek bebek ninggalin stasiun dengan beban hutang 90 yen. Ga dikejar dan ga ditangkep juga.
Buat orang2 dari negara berkembang seperti saya, kesan pertama terhadap Jepang adalah disiplin, bersih, rapi, aturan ditegakkan dimana-mana. Memang tak dipungkiri, bahwa semuanya sudah tersistem dengan baik. Yang membuat sistem maupun pelaku sistem. Mau tak mau, saya sebagai pendatang pun harus dong ikutin aturan yang ada, toh memang aturan yang berlaku juga baik. Hebatnya lagi, jangan anggap sistem ini sempurna. Buktinya ketika saya di stasiun tadi, walaupun tiket tak ditelan, pintu gerbang bisa terbuka. Artinya masih ada kecacatan dalam sistem yang dibuat, masih ada saja peluang untuk berbuat curang. Namun hal itu sudah diantisipasi dengan tingkat kesadaran orang Jepang yang sangat tinggi. Dengan itu, tingkat kegagalan dari sebuah sistem pun bisa diminimalisir, walaupun ada juga orang yang kadang-kadang tidak sadar akan aturan disekitarnya.
Korupsi jarang terdengar. Seorang menteri yang menerima uang pun bisa mengundurkan diri karena malu. Ketakutan terhadap "mata orang lain" yang membuat orang Jepang sangat sadar diri. Karena saking "baiknya" orang Jepang ini, kadang disalah artikan oleh orang asing. Hal-hal yang sepatutnya dijadikan amanah, malah diselewengkan menjadi kesempatan bagi mereka "yang tidak mengerti orang Jepang" untuk memenuhi kesenangan pribadi tanpa melihat kepercayaan yang diberikan oleh si orang Jepang. Seolah-olah mereka cerdik telah membodohi si Jepang. Kesal sekali melihatnya, namun tak ada yang bisa diperbuat juga selain menjadikan itu sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Bagaimanapun akhlak/moral/perilaku lah yang menentukan keberhasilan sebuah sistem.
12 Oktober 2011
Pengalaman (bukan pertama) di SD jepang
Sebagian wajah dari mereka sudah familiar di ingatan saya karna kadang ketemu di supermarket. Apa yang saya siapkan juga tidak begitu heboh. Kalo sebelumnya tiap disuruh mengenalkan tentang Indonesia, saya mikir tentang budaya lah, kesenian lah, baju adat lah, alat musik tradisional lah, dan semacamnya yang saya sendiri pun tidak begitu memahami :p (fake indonesian). Kali ini saya menyiapkan tentang sekolah di Indonesia, terutama sekolah dasar. Oiya sebelum memutuskan memilih topik ini saya sempet konsultasi sama neng Firda, adiknya Ihsan, yang sekarang jadi anak yang saya dampingi di sekolah jarak jauh (panjang betul keterangannya). Kata Firda yang saat ini bersekolah di SD Jepang, "Kalau mau ngenalin Indonesia, kenalin aja permainan anak-anaknya, terus sekolah di Indonesia itu bagaimana". Ya berdasarkan sudut pandangn murid kelas 5 SD itulah saya mengambil keputusan. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari memang lebih mudah diingat.
Pertama-tama dateng ke kelas, saya masih nunggu siapa tau ada sensei yang akan dateng, tapi semua itu hanya ada dalam cita cita saya yang tidak terwujud (deziiig). Dimulailah kelas kami. Dimulai dengan pertanyaan pertama dari mereka "Di Indonesia makanan apakah yang terkenal?", "Nasi goreng atau sate ayam", jawab saya. Karena nasi goreng dengan spelling orang jepang yang menjadi nashi gor(l)eng, adalah makanan yang cukup terkenal datang dari Indonesia, dan sate ayam karena biar mudah menganalogikan dengan barbeque atau yakitori. Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan mereka datang bergantian. Nah terus kapan saya presentasinya? ternyata ga perlu presentasi. Pertanyaan yang mereka kasih saya jawab dengan materi presentasi yang sudah saya siapkan, seputar sekolah Indonesia. "Sekolah disana segede apaan?", "Aturan disana kaya gimana?", "Pelajarannya apa aja?", "Anak anak disana suka maen apa aja?", ya seperti itu. Jangan bayangkan saya bisa jawab tanpa hambatan dengan bahasanya Matsumoto Jun. Ba bi bu be bo,,,endut-endutan, seperti itu. tapi yang penting mah saya hepi. (egois pisan!).
Pas waktu makan siang, kebetulan hari ini adalah hari makan siang di luar kelas. Saya lebih milih makan bareng mereka diluar dibanding makan bareng senseitachi di dalam ruang kepala sekolah. hehehehe.. Tanpa undangan, saya pun bergabung dengan murid2 tadi makan di lapangan sekolah. Saat makan, ga banyak yang diobrolin, hanya sepatah duapatah kata doang. Saya asyik ngeliatin mereka makan, juga ada anak kelas 1 yang makan bareng kita. Sepertinya anak kelas 6 ini harus punya saudara yang duduk di kelas 1, maksudnya semacam kakak-adik angkat di sekolah. lucu banget deh.
Pengalaman datang ke SD jepang merupakan pengalaman yang selalu menarik (mau nyontek apa yang mereka lakukan di sekolah soalnya, hehehehehhe).
nb : sayang hari ini ga banyak ambil foto :(
05 Oktober 2011
Undokai
Kembali ke undokai. Undokai sendiri biasanya dilaksanakan oleh sekolah-sekolah, dari tingkat TK maupun Universitas, bahkan sepertinya di perusahaan-perusahaan pun ada hanya saja saya tidak tahu. hehehehe.
Apa sih yang dilakukan di undokai? tahun ini adalah pengalaman pertama saya melihat undokai sebuah SD secara langsung, dari awal sampai akhir. Sebelumnya saya hanya tahu dari cerita orang2 dan foto saja. Aa yang sudah pernah melihat undokai di SD yang sama tahun lalu, mewanti-wanti saya untuk tidak luput menyaksikan undokai, tentunya dengan peringatan "jangan lupa bawa kamera!". Saya kan makin penasaran tentang apa yang dilakukan anak2 SD itu di undokai.
Pada hari Sabtu lalu, tanggal 1 Oktober, putra2nya Teh Dewi, Azis dan Eka yang masing-masing duduk di kelas 2 dan 3, melaksanakan undokai disekolahnya. Saya pun dengan senang hati menonton mereka. Pagi2 sekitar jam 8.20 saya sudah sampai di sekolah mereka. Saat itu sedang dilakukan prosesi upacara pembukaan. Anak-anak yang dibagi menjadi 4 grup besar masuk kedalam lapangan dan berbaris berdiri di tempat yang sudah diatur sambil diiringi musik dari kelompok marching band yang ada di depan lapangan. Setiap kali mendengar suara terompet kaya gitu, pasti saya langsung merinding. Apalagi ditambah suara derap kaki, dan aura semangat berkompetisi dari anak-anak yang sangat terasa,, makinlah merinding. Tak lupa saya keluarkan kamera dan merekamnya. Anak-anak dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada warna merah, kuning, hijau, dan biru. Masing-masing kelompok terdiri dari murid-murid kelas satu hingga kelas enam, digabung. Mereka akan melakukan lomba-lomba seperti balap lari, tarik tambang, lari estafet, memasukkan bola, mengambil tongkat. Untuk setiap lomba/permainan ada kategorinya, misalkan balap lari untuk kelas 4, kelas 2, kelas 1. Di masing-masing kategori itu sudah pasti ada peserta dari 4 kelompok warna yang berbeda. Nah warna yang menang dalam kategorinya akan menambah poin untuk kelompok besarnya (yakni kelompok warna). Ada juga kategori yang dicampur semisal lomba estafet untuk kelas 4 dan 5, atas lomba mentransfer bola yang dimainkan dari seluruh siswa (kelas1 s/d kelas 6). Tapi pada intinya mereka yang bermain pasti mewakili kelompok besarnya. Dan diakhir acara, poin yang di dapat dari masing-masing permainan dan kategori akan dikumpulkan, sehingga kelompok warna yang mengumpulkan poin terbanyak, itulah juaranya. Oiya, sekolah juga tidak lupa mengikutsertakan orang tua. Ada satu permainan yang hanya dimainkan oleh orang tua (juga dibagi kelompok warna), dan si anak dari kelompok yang sama akan memberikan dukungannya.(berasa ribet gini ya nulisnya, maafkan).
Kenapa menjadi sangat menarik? Acaranya memang menarik. Undokai ini, bagi anak-anak adalah ajang "memamerkan" kemampuannya di hadapan orang tua. Di undokai ini, selain permainannya itu sendiri, tentu harus ada panitia yang menyiapkan semua kebutuhan dalam setiap permainan. Panitia yang menyiapkan ini pun datang dari anak-anak. Biasanya anak2 kelas 4,5, dan 6 yang menyiapkan ini. Tidak melulu itu-itu saja orangnya, namun bergantian. Ketika anak kelas 3 yang bermain maka anak kelas 6 yang menyiapkan segalanya, dan ketika anak kelas 6 yang bermain, anak kelas 4/5 yang menyiapkan. Pokonya masing-masing orang punya tugasnya sendiri. Oiya di upacara pembukaan pun, musik dilakukan oleh anak-anak kelas 4/5/6, konduktornya pun dari anak2. MC juga dari para siswa, ada pula sambutan dari perwakilan murid yang membuka acara undokai. Di masing-masing kelompok besar yang saya sebutkan sebelumnya, juga ada pemimpin nya. Si pemimpin ini sebagai pemandu sorak bagi teman-temannya, dia membawa bendera, dia meneriakkan kata-kata semangat, dan katanya sih suatu kebanggaan bisa ada di posisi itu. Ahhhhh,,terharu. Selain segala sesuatunya dikerjakan oleh para siswa, yang bikin paling saya ternganga adalah ketika mereka bisa sangat cekatan, disiplin dalam masalah waktu. Sepertinya tidak ada waktu yang terbuang. Tidak ada jeda dari satu permainan ke permainan lain. Sebelum satu permainan selesai, peserta permainan berikutnya sudah ada di pintu masuk lapangan, dan mereka akan masuk seiring peserta permainan lama keluar lapangan. Oh no! saya aja mikir, kalo mahasiswa aja belum tentu bisa mau diatur kaya gitu!
Lalu, kalau semua yang melakukan siswanya, gurunya ngapain dong? guru juga turut serta membantu. Setiap kelompok besar ada guru pendampingnya, dan mereka memakai warna baju yang sama dengan warna kelompoknya, memakai celana olahraga, sepatu dan ikat kepala. Guru ikut membantu mengarahkan, tapi seolah-olah arahan dari guru itu bagaikan menyuruh kepada robot. Setiap anak sudah tahu tugas dan tanggung jawab masing-masing. Guru ikut memberi apresiasi, memberi semangat, ikut riweuh lari-lari juga. Ya semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kekacauan, kesemrawutan, kechaosan. Baik yang mengatur maupun yang diatur sama-sama tau akan tugasnya.
Sudah disediakan tempat khusus bagi orang tua/siapapun yang ingin menonton. Bagian dalam lapangan terdapat kursi-kursi untuk para siswa duduk (kursi mereka yang mereka bawa sendiri dari kelas, dan disusun berdasarkan kelompok), dan lapangan kosong untuk tempat dilakukannya lomba. Sedangkan di pinggir lapangan suda ada tali panjang di sekelilingnya agar orang tua tidak memasuki bagian dalam lapang. Orang tua tidak boleh ikut duduk manis disamping anaknya, orang tua hanya menonton. Sudah itu saja. Selebihnya anak akan sangat mengikuti apa perintah dari gurunya, bukan dari ortunya. Makan siang pun, para siswa akan makan bersama dengan temannya, tidak dengan orang tua. Aduh kok saya jadi ga berurutan gini ya nulisnya! ini saking senengnya pengen cerita.
Yang saya dapat ambil dari undokai ini, tentunya acara ini memang dikhususkan untuk kebutuhan jasmani, fisik, meningkatkan vitalitas tubuh dimana permainan yang dilakukan sangat sederhana tetapi menguras keringat. Setiap anak mesti berpartisipasi dalam undokai, dan karena permainannya pun permainan umum jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Namun selain itu, hal paling penting juga banyak sekali nilai-nilai yang dapat dijadikan bahan pelajaran. Tidak ada pemenang individu, tidak ada arogansi individu, tidak ada seorang bernama yang menjadi pemenang. Masing-masing anak berjuang untuk kelompoknya. Kekalahan pribadi ya kekalahan kelompok, kemenangan pribadi ya kemenangan kelompok, begitu sebaliknya. Kalaupun ingin menunjukkan kemampuannya, si anak tidak mempersembahkan untuk teman, tapi untuk orang tua yang melihatnya. Pembagian tugas secara umum membuat si anak harus benar-benar melakukan perannya dengan baik, jika tidak orang lain akan dirugikan olehnya. Itu lah yang orang Jepang tanamkan sejak kecil. Aaaaahhhhh..... keren keren lah. Harus nonton sendiri pokonya. Juga salut buat para guru/pendidik yang telah kerja keras untuk membuat sistem berjalan dengan baik, yakni dengan memberikan contoh kepada anak didiknya serta ikut terjun langsung dalam setiap kegiatan. Itu baru namanya contoh. (tidak seperti pembagian jadwal piket kelas dulu, belum pernah liat guru juga ikut serta bersihin kelas, mereka piketnya di ruang guru, si anak mana bisa lihat ya)
Yosh itulah undokai. Kembali ke masa sekolah dulu, di sekolah saya juga ada yang namanya pekan olahraga dan seni (poseni) yang biasanya dilaksanakan sehabis masa ulangan umum. Namun olahraga yang diadakan adalah olah raga kelompok kecil seperti basket, bola, voli, dan hanya orang yang tertarik saya yang akan ikut berpartisipasi dalam porseni, betul kan? Jika tidak ada anak yang tidak ikutan ya tidak apa-apa, toh masih ada orang lain yang mewakilkan. :D
nb: karena azis dan eka berada di kelompok kuning, jadi kebanyakan foto adalah kelompok kuning :)
07 September 2011
decorated soap
05 September 2011
kartu balasan
oiya sebetulnya sehabis saya kirim kartu dan sebelum lebaran, saya kan sempet mampir ke tempat Firda di Kobe. Alhamdulillah masih bisa menyambung ukhuwah islamiyah (kata teh risma kan silaturahim hanya untuk kerabat). kami juga sempet foto bareng! hihihihihi
03 Agustus 2011
the nanny
selama 3 minggu saya diamanahi untuk menjaga anak-anak dari para sensei di acara Otsuka Summer School, memang tugas yang menyenangkan. Mungkin mereka itu agak asing dengan muka saya, kok tiba tiba saya harus bareng dia,,pikir mereka. Ada 9 anak kalo dalam listnya, tapi paling tiap kali jaga hanya ada 6-7 orang. Ga saya sendiri sih, ada para ibu yang sedang nunggu anaknya selesai sekolah juga ikut membantu, juga ada pengurus masjid yang ga lupa membantu (lebih tepatnya saya membantu mereka). Di hari pertama itu, semua anak yang ada disitu nangis..huwaaaaaa,,udah jadi orang stress, cuma suara tangisan aja sih, tapi dari 5 anak secara bersamaan. Heu heu... saya megang satu anak, yang pada hari itu sebagai bujukan agar dia tidak menangis, saya ajak ke taman terdekat, tapi jadinya ga mau pulang-pulang :).
Jam makan siang adalah saatnya mengeluarkan bekal masing-masing anak yang sudah disiapkan oleh para ibu. tidak seperti anak TK/SD yang jika diminta duduk dan makan dengan baik, mereka akan tunduk. Untuk anak-anak berumur 1-3 tahun, masih belum ngerti dong, eh kecuali kalo udah biasa sama ibunya ya. Ya alhasil yang mau makan ya makan, yang engga ya engga makan. Nyuapin beberapa anak dalam sekali waktu memang bukan hal mudah :).
Saya sih cuek bebek aja walaupun ga bisa bahasa jepang dengan mereka, pake Bahasa Indonesia we tuluy. Hehehehe,,kadang ga nyambung sih. tapi disambung-sambungin aja deh.
Sekali pintu terbuka, buyar semua itu anak anak berlarian keluar. Mana depan masjid itu banyak mobil lalu lalang,,ngelus dada ngelus dada.
Saya belum berpengalaman juga ya ngasuh anak, jadi pendidikan untuk anak umur segitu pun saya kurang paham. Ya, saya sih biasa ajak main dengan mainan yang ada disitu, atau sedikit-sedikit melafalkan kalimat kalimat dzikir. Katanya sih, anak umur segituan memang tidak akan mau untuk duduk manis menghafalkan sebuah surat, tapi telinga mereka tetap awas dan otak mereka merekam ketika ada yang mengaji/bernyanyi di sekitarnya walaupun mereka sedang asik bermain. Jadi ya peran orang besar untuk mengumandangkan Quran surat-surat pendek jika ingin sang anak menghafalnya. Ya mau lagu juga boleh, tapi....hehehehehe.
2,5 minggu sudah berlalu, hanya ada satu suara tangisan saja yang terdengar kalau anak-anak itu sudah datang, itupun bersumber dari bayi berumur 1,5 tahun. Ngeliat mereka ketawa,,iiihhhh iri deh, kayanya tanpa beban aja gitu. Mana seneng pula lihat mereka tumbuh dengan nilai-nilai islami yang sudah tertanam sejak kecil. :)
25 Juli 2011
ibu kost kami
oyasan saya tinggal di bangunan sebelah tempat kami tinggal.
oyasan punya halaman rumah yang cukup besar.
oyasan suka menyiram tanaman di sore hari atau nyabutin rumput dipagi hari.
oyasan suka bilang "itterashai" kalau kami kebetulan ketemu pas mau pergi.
oyasan pernah kasih beras 5kg waktu saya kasih beliau teh celup sariwangi.
oyasan suka bawa jalan-jalan anjingnya di sore hari.
oyasan punya anjing yang suka menggonggong kepada saya tiap saya bayar uang bulanan.
oyasan tinggal cuma berdua aja sama anak laki-lakinya.
oyasan bilang makasih ke saya udah bantuin kalau dia harus ngomong sama orang asing yang tinggal disebelah kamar saya.
oyasan bilang dia ga benci sama orang asing, cuma ga tau harus ngomong apaan.
oyasan pernah khawatir waktu orang srilanka sebelah rumah saya ga pulang selama seminggu, yang setelah diketahui dia pergi ke belanda buat konferensi.
oyasan pengen juga sekali-kali ngasih ke kami makanan, tapi karna kami orang asing khawatirnya ada yang ga cocok.
oyasan juga ngasih es batu ke anak tetangga yang orang nepal waktu si anak sakit.
oyasan terlihat sehat sekali walaupun katanya mesti minum obat buat nurunin tekanan darahnya.
oyasan umurnya berapa ya? sudah 70 lebih sih kelihatannya, mungkin bisa jadi 80an.
oyasan belum pernah keluar negeri. katanya kalau naik kendaraan suka mabok.
oyasan dan kami mesti foto bareng nanti.
oyasan itu baik ya, semoga sampai akhir kami tinggal disini, kami bisa akhiri dengan akhir yang indah.
16 Juli 2011
10 Juli 2011
ファンモン
Saya pertama kali suka itu sama lagu yang judulnya ヒーロー (Hero), pahlawan. Soundtracknya acara berita TV di pagi hari (gile bo,,,berita aja ada soundtracknya!). Lagunya pas di denger enakeun, eh dan pas liat video klipnya,,jesss, ada yang menyentuh euy,,makin suka aja. Dan liat video klip lagu lagu mereka yang lain pun bikin makin suka aja. Ngedenger lagu tapi berasa nonton film. Lagu yang bercerita. Lagu mereka itu punya spirit.
Belakangan ini saya ngikutin dorama yang judulnya Asuko March. Eh ternyata soundtrack di dorama ini, lagu-lagunya Fanmon semua. Karena soundtracknya itu lagu2 fanmon, jadilah nambah poin plus plus untuk dorama satu itu. Hehehe.
latest songs of Fanmon
Sore Demo Shinjiteru
Love Letter
lagu Fanmon dalam sebuah acara buat korban bencana jepang 3/11
Ato Hitotsu








