kamu yakin kan kalau setiap seorang
manusia akan diberi pasangan yang sesuai dengan kualitas si orang
tersebut?
Saya memang bukan orang se soleh
Fatimah Az Zahra sehingga saya pun tidak mengharap dirimu bagai
seorang Ali, tidak juga se soleh Khadijah atau Aisya. Dan kamu pun
bukan Rasulullah Muhammad SAW. Saya tidak salah memilih pasangan
hidup. Karena Allah sudah mengatur itu, mengatur dirimu untuk jadi
bantal tempat saya menangis, menjadi tempat penampungan dan wikipedia
saat saya bertanya banyak hal tentang agama kita dan dunia ini,
mengatur dirimu untuk tetap ikhlas memakan makanan yang dibikin dari
tangan amatir ini. Betapa lelah namun menyenangkan berdiskusi
denganmu, ya walau kadang mata ini sambil merem melek menunggu
kata-kata terurai dari mulutmu yang keluarnya lama banget. Tapi
itulah dirimu, sangat berhati-hati dalam berkata-kata. Memilih kata
yang sesuai, yang baik, dan yang mudah dipahami. Dirimu yang sangat
hati-hati itu pada awalnya mengusik diri saya yang sangat sembrono.
Tapi alhamdulillah, saya pun sedikit tertular tabiat mu itu.
Baik saya dan kamu tak pernah berkata
langsung kalau Allah lah dasar mengapa kita bersama. Tapi saya tau
itu, kamu pun tau itu. Saya mungkin sempat iri dengan beberapa teman
yang dengan ringannya mengucapkan “mencintai pasangan karena
Allah”. Saya memang tak bisa ngungkapin langsung, tapi Insya Allah
saya juga punya perasaan ke kamu seperti itu. Kita ini bagai
anak-anak yang sedang berpetualang. Bersama-sama belajar kembali apa
yang hendak kita cari. Bersama belajar kembali mana yang sebaiknya
dilakukan dan tidak. Tak apa kamu tak se soleh itu sekarang, namun
yang paling penting semangat untuk terus belajar mengalir terus di
diri kamu dan saya.
Sebuah kalimat di malam kita bersama
“Jika sesuatu hal terjadi pada kita, ingat kita kembalikan semuanya
pada Allah, pada surga yang akan kita tuju”. Yah saya masih ingat
itu. Dulu saya selalu ingin kamu yang seperti ini, kamu yang seperti
itu. Saya berusaha untuk membuatmu seperti apa yang saya mau.
Ternyata tak ada gunanya. Biarlah kamu jadi kamu yang seperti itu,
dan saya yang seperti ini. Bukankah kita punya hati yang bisa terus
dilapangkan. Si kaka pernah bilang sesaat sebelum dia menikah “gue
kan nikahin kekurangannya dia, bukan kelebihannya”. Yup, now i
agree with her. Maaf ya saya suka masak keasinan. Maaf ya saya suka
ngajak bercanda di saat kamu udah siap mau shalat.
Semalem kita ngomong “si ini ibunnya
punya ini, bapanya punya itu, anaknya punya semuanya. Kita, anak kita
nanti punya apa?” dan dengan ringannya saya menjawab “punya
semangat buat hidup”, dan kita tertawa bersama. Punya semangat buat
hidup yang sesuai dengan aturan Allah, itu terusannya. Allah mah Maha
Mengetahui.
co cwiiit:)
BalasHapus