21 Juli 2012

My husband is my leader, my partner, my father, my brother

My husband is my leader, my partner, my father, my brother

kamu yakin kan kalau setiap seorang manusia akan diberi pasangan yang sesuai dengan kualitas si orang tersebut?

Saya memang bukan orang se soleh Fatimah Az Zahra sehingga saya pun tidak mengharap dirimu bagai seorang Ali, tidak juga se soleh Khadijah atau Aisya. Dan kamu pun bukan Rasulullah Muhammad SAW. Saya tidak salah memilih pasangan hidup. Karena Allah sudah mengatur itu, mengatur dirimu untuk jadi bantal tempat saya menangis, menjadi tempat penampungan dan wikipedia saat saya bertanya banyak hal tentang agama kita dan dunia ini, mengatur dirimu untuk tetap ikhlas memakan makanan yang dibikin dari tangan amatir ini. Betapa lelah namun menyenangkan berdiskusi denganmu, ya walau kadang mata ini sambil merem melek menunggu kata-kata terurai dari mulutmu yang keluarnya lama banget. Tapi itulah dirimu, sangat berhati-hati dalam berkata-kata. Memilih kata yang sesuai, yang baik, dan yang mudah dipahami. Dirimu yang sangat hati-hati itu pada awalnya mengusik diri saya yang sangat sembrono. Tapi alhamdulillah, saya pun sedikit tertular tabiat mu itu.

Baik saya dan kamu tak pernah berkata langsung kalau Allah lah dasar mengapa kita bersama. Tapi saya tau itu, kamu pun tau itu. Saya mungkin sempat iri dengan beberapa teman yang dengan ringannya mengucapkan “mencintai pasangan karena Allah”. Saya memang tak bisa ngungkapin langsung, tapi Insya Allah saya juga punya perasaan ke kamu seperti itu. Kita ini bagai anak-anak yang sedang berpetualang. Bersama-sama belajar kembali apa yang hendak kita cari. Bersama belajar kembali mana yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Tak apa kamu tak se soleh itu sekarang, namun yang paling penting semangat untuk terus belajar mengalir terus di diri kamu dan saya.
Sebuah kalimat di malam kita bersama “Jika sesuatu hal terjadi pada kita, ingat kita kembalikan semuanya pada Allah, pada surga yang akan kita tuju”. Yah saya masih ingat itu. Dulu saya selalu ingin kamu yang seperti ini, kamu yang seperti itu. Saya berusaha untuk membuatmu seperti apa yang saya mau. Ternyata tak ada gunanya. Biarlah kamu jadi kamu yang seperti itu, dan saya yang seperti ini. Bukankah kita punya hati yang bisa terus dilapangkan. Si kaka pernah bilang sesaat sebelum dia menikah “gue kan nikahin kekurangannya dia, bukan kelebihannya”. Yup, now i agree with her. Maaf ya saya suka masak keasinan. Maaf ya saya suka ngajak bercanda di saat kamu udah siap mau shalat. 

Semalem kita ngomong “si ini ibunnya punya ini, bapanya punya itu, anaknya punya semuanya. Kita, anak kita nanti punya apa?” dan dengan ringannya saya menjawab “punya semangat buat hidup”, dan kita tertawa bersama. Punya semangat buat hidup yang sesuai dengan aturan Allah, itu terusannya. Allah mah Maha Mengetahui.

1 komentar: