Setelah kebimbangan hampir 3 bulan, kami pun putuskan untuk melakukan tes laparoskopi. Laparoskopi ini dianjurkan oleh dokter karena melihat hasil rontgen HSG saya yang kurang begitu ok. Kami sendiri tidak begitu kaget, karena riwayat kesehatan saya yang mungkin berpengaruh thd hasil HSG yang kurang baik itu. Namun pilihan untuk laparoskopi menjadi kebimbangan tersendiri. Dari segi biaya yang tidak murah, dan ketakutan dalam diri saya sendiri. Namun, kemudian saya diingatkan oleh si partner, bahwa mungkin ini yang memang seharusnya dilakukan. Ya, saya lupa kalau saya pernah berdoa untuk ditunjukkan jalan terbaik, memohon untuk dibukakan pintu agar semuanya menjadi terang, seterang2nya, dan inilah jalan yang sudah terbuka itu.
Selintas pernah saya berpikir "kok sampe segininya sih saya mau punya anak ajah?", trus ada yang menjawab "lah, kan ikhtiar mah harus maksimal". Toh dipikir-pikir, wajar dong pasangan udah hmpir 3 taun nikah meriksain diri ke dokter, yang ternyata ditemukan kejanggalan dan harus diperiksa lebih dalam lagi. Ya urusan mendapatkan anak atau engga itu mah perkaranya Allah SWT. Yakinkan itu, manusia hanya berusaha.
Tanggal 27 nov kemaren laparoskopi itu dilakukan. Pertama kali dalam hidup saya masuk ruang operasi, menegangkan, titik. Bahkan saking tegangnya, para dokter koas itu sulit menemukan pembuluh darah di tangan saya. Hehehehe.. Masuk ruang operasi, dan gak lama saya tidur. Ga inget apa2 tentang operasinya. Dibius itu melelahkan. Setidaknya itu yang saya rasakan, karena pada saat dibius tuh rasanya seperti mimpi yang bikin fisik ngos2an.
Saya mulai mendengar kalimat "operasinya sudah selsai dan ibu ada d ruang pemulihan". Oke saya sudah sadar, dan mulai menyadari rasa sakit di sekitar perut ini. Mencoba mencari orang yang dikenal, tapi tak ada seorang pun. Berusaha untuk ngomong, tp belum mampu bersuara keras. Tak lama seorang ibu yang sedang menunggu suaminya siuman di kasur sbelah melihat saya dan berusaha memanggil keluarga saya. Mamah pun datang bersama mamah mertua. Mereka langsung antusias cerita tentang proses operasi yang baru saja mereka tonton di ruang dokter.
Ya laparoskopi ini operasi yang menggunakan kamera yang dimasukkan ke dalam perut. Selain kamera ada juga beberapa alat operasi seperti tang (apa atuh ya bahasanya), alat penjepit, ada pemanasnya, dan saya jg ga tau lagi apa aja alatnya. Jadi apa saja yang dilakukan dokter melalui alat-alatnya di dalam perut saya, bisa disaksikan dalam sebuah video. Si mamah hanya cerita bahwa ujung tuba falopi sebelah kiri saya tertutup rapat, kuncup, ada perlengketan. Normalnya itu merekah, seperti bunga. Kalau yang kanan alhamdulillah masih baik. Lanjutnya, si mamah bercerita bagaimana si dokter melalui perkakasnya mencapit organ2 dalam, mengoreh-ngoreh, mengikis hal2 yang mengganggu, dan berusaha membuka kembali si kuncup yang lengket itu. Kemudian isi rahim ini disiram air, semacam dibersihkan. Subhanallah, teknologi dan ilmu pengetahuan sudah secanggih itu ya. Dan Allah lah Sang Maha Canggih yang menciptakan sistem pada manusia yang begitu rumit.
Perlengketan yang terjadi di ujung tuba falopi kiri, katanya terjadi akibat bekas infeksi oleh bakteri. Dan tidak ada gejala sama sekali yang bisa bikin kita tahu bahwa kita terinfeksi. Kalau saja lebih lama lagi baru dilakukan tindakan, mungkin ada cerita lain lagi, karena hal itu bisa berakibat pada infertilitas.
Ya.. Satu langkah sudah dilakukan. Apakah akan ada cerita berikutnya? Mari kita berserah diri saja pada Allah SWT.