waktu lalu, saya minta tolong ke aa untuk nge print di lab nya dia. yang saya minta itu adalah tulisan dekorasi untuk bazar Otsuka. karena tulisan itu berwarna, maka saya minta tolong aa untuk ng print di tempat dia dimana printernya berwarna (baca; printer di lab saya hitam putih).
ketika malam, saya tanya apakah sudah di print atau belu, dan dia jawab sudah. tetapi malam itu, ternyata ada kesalahan pada tulisan2 yang saya bikin, dan saya minta aa buat nge print in lagi. tapi saat itu dia sedikit keberatan, tidak sepeerti biasanya. ternyata dia baru saja membaca sebuah artikel dari milis yang ia ikuti, dan artikel tersebut berkisah tentang
Umar bin Abdul Aziz. ada apakah dengan beliau?
beliau adalah salah satu pemimpin umat islam setelah jaman ke khalifah an 4 sahabat nabi, dimana saat umat islam tidak dipimpin lagi oleh 4 sahabat nabi, kekacauan mulai terjadi dan berlangsung berpuluh tahun lamanya. hingga akhirnya tokoh Umar bin Abdul Azis ini muncul. beliau merupakan turunan dari Umar bin Khatab, dia dibesarkan dalam lingkungan berkecukupan bahkan bisa dibilang kaya. singkat cerita, ketika krisis kepemimpinan saat itu, maka ia terpilih menjadi pemimpin kaum Bani Umayyah. berasal dari keuarga berada, dan menjadi pemimpin, membuat ia sangat ketakutan akan neraka. akhirnya ia meninggalkan semua hartanya, hidup sederhana, dan mulai mengelola negara yang saat itu carut marut. korupsi dimana2, akhlak pagawai yang kurang cakap pun menjadi ladang yang harus dibasmi olehnya. ia takut sekali akan sesuatu yang bukan haknya tetapi ia pergunakan (disinilah intinya). ia meminta isteri dan anak2nya untuk tidak menuntut kemewahan darinya, berusaha hidup dalam kesederhanaan.
saya juga belum bisa cerita panjang2, intinya seperti itu. hak orang lain. jadi dalam kasus saya kenapa si aa menjadi sedikit berat karena pada kondisi saat itu, ngeprint kebutuhan saya bukanlah wewenang dia (baca: aa), dia ga berhak menggunakan komputer dan printer untuk kepentingan diluar dia dan akademis. hal semacam itulah yang kadang luput dari kehidupan sehari2 kita. contohnya, meminjam sendal jepit punya orang ketika kita sedang terburu2 harus keluar sejenak tanpa seizin pemilik sendal. atau tukang parkir yang pura2 ga liat ketika kita nagih kembalian, dll.
memang saya merindukan pemimpin seperti Umar bin Abdul Azis, tapi sebagai rakyat pun sudah sepatutnya saya harus berhati-hati lagi. bukankah setiap manusia adalah pemimpin??