Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pribadi. Tampilkan semua postingan

20 September 2016

Skenario


“Tante indah mah palsu nikahnya, buktinya belum punya anak”

Sekitar 5 tahun lalu, keponakan saya bilang begitu. Sampai hari ini pun, keponakan saya yang lain menyatakan hal yang sama namun dengan kalimat yang berbeda.

Saya cuma bisa senyum, tertawa dalam arti sesungguhnya tertawa. Lucu sekali anak-anak itu, polos tanpa perlu berpikir efek apa yang akan timbul kalau mereka memang menyatakan hal itu pada orang yang lebih sensitive daripada saya.

Tepatnya 6 tahun 6 bulan sejak hari itu, Alhamdulillah sampai hari ini Allah masih sayang sama saya dengan belum memberikan salah satu rezekinya: memberikan keturunan. Dari satu ujian yang Allah kasih ke kami, ternyata terlalu banyak hikmah dan nikmat yang baru kami sadari akibat ujian itu. Dari satu jari yang diperuntukan untuk ujian itu, ternyata masih perlu berpuluh-puluh jari untuk menghitung apa yang sudah Allah kasih ke kami.

Saya jadi teringat tentang seorang kawan muslimah sekitar 2,5 tahun silam. Kami sedang hadir di dalam suatu majelis di sebuah masjid, teteh yang punya logat khas sunda itu tampak selalu sigap mengejar anak balitanya yang berbadan cukup kuat, dan memiliki syndrome down. Saya hanya bisa memperhatikan teteh itu dari kejauhan, namun ketika teteh itu mendekat saya bilang “Masya Allah Teh, hebat ya!”. Dia dengan cerianya merespon, “Alhamdulillah kalau bukan saya mungkin gakan bisa”. Maksudnya ialah hanya dia yang bisa setegar itu menghadapi anaknya, maksudnya yang lain adalah “Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya”.

Rezeki dan ujian tidak akan pernah salah sasaran. Kita hanya ga pernah tau level mana yang ditargetkan pada kita agar kita bisa mencapai level itu.

Ada lagi salah seorang yang begitu berpengaruh dalam hidup saya. Seorang guru, yang kisah penantian keturunannya begitu menyemangati, yang kisah perjuangan dengan ujian sakitnya nya membuat hati terenyuh, yang semangat dakwah nya membuat diri ini terhanyut, yang selalu mengajarkan ilmu lewat perbuatannya. Apa yang dia yakini sudah sangat jelas terpancar dari akhlaknya sehari-hari. Sungguh rezeki dari Allah yang luar biasa bagi saya bisa didekatkan dengannya. Seolah Allah mempersiapkan saya untuk menghadapi ketidakjelasan apa yang akan saya hadapi di kemudian hari dengan penuh rasa percaya dan rasa harap yang utuh terhadapNya.
--

Pasca belum berhasilnya IVF yang pertama, kami seperti tertampar. Bukan karena sedihnya belum berhasil , namun karena betapa lemahnya manusia dan betapa Maha Besarnya Sang Khalik. Secanggih apapun teknologi manusia, teknologi dari Pencipta Manusia beribu-ribu kali lipat lebih canggih.


Kami bersyukur, kami sudah diberi kesempatan untuk mencoba hal ini. Suatu hal yang tidak pernah ada dalam bayangan kami sebelumnya. Kami bersyukur atas seluruh keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan. Kami bersyukur atas lingkungan yang dikasih ke kami, lingkungan dengan manusia-manusia shalih yang selalu mengingatkan kami. kami bersyukur atas skenario yang indah dan sempurna ini. Alhamdulillah :).

sugi no koto mo otanoshimi shiteimasu. 

Kota Saitama, September 2016




19 November 2014

Bahagia yang menular

Bahagia yang menular itu ya, datengnya bisa dari mana aja. Dari senyuman orang lewat, dari ucapan terimakasih dari orang yang ga disangka-sangka, atau bahagia karna ada temen yang baagi bagi undangan nikah. 

Barakallah untuk, 
Ririd dan calonnya
Temen tidur dua malam di kasur sempit dan dingin pula
Temen kukulintingan ke taman atau tempat gahul d Jepang
Temen yang aneh, asik, asoy, solehah, tegas, cerdas, berani
Temen yang klop walau pertemuan kita cuman sebentar-sebentar

Barakallah untuk, 
Ditmen dan calonnya
Teteh Kharisma (unit di Masjid Salman) yang benar-benar kharismatik
Temen galak sama siapapun yang heurey sama dia
Yang suka tidur di kelas
Yang kalem tapi bohong
Yang terlihat pintar tapi emang iyah
Temen berbagi dorama rileks
Yang tegar, selalu positif, dan banyak mikir daripada ngomong

Sungguh andaikan benar pintu doraemon itu ada, saya bakal buka pintu ke Bandung atau ke Jogja. Sayang, adanya pintu oshire yang penuh sama tumpukan baju didalemnya. 

Doa saya, semoga kalian, dengan pasangan masing-masing akan menjadi keluarga yang selalu dapat berkah dari ALLAH SWT, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Apapun yang ada dihadapi setelah menikah, yakinlah selain ada pasangan akan ada Allah SWT yang selalu bersama. 


25 Agustus 2014

Menyapa di liburan musim panas

Liburan musim panas segera berakhir. Tapi nampaknya bagi saya sih everyday is holiday, dan buatnya there is no holiday, walaupun seantero Jepang bilang ini adalah libur musim panas. Yah beginilah bulan Agustus kami lalui. Saya yang dengan (pura-pura) serius baca tiga buku berbarengan, tanpa ada yang beres satupun, kadang diselingi bikin baju musim panas buat diri sendiri sebagai bentuk pemuasan diri, kadang juga diselingi tuntutan untuk menuntaskan amanah : bikin pesenan tas dan tunik batik. Sedangkan doi, di minggu kedua bulan Agustus ini sudah punya agenda untuk presentasi tahun pertama risetnya dimana sampai sebelum hari presentasi tiba, ga ada waktu berdua buat jalan-jalan. Tapi yang paling penting Alhamdulillah presentasi risetnya berjalan baik, dan semoga terus dimudahkan. Saya udah pernah cerita belum ya, kalau sudah dua bulan ini, Alhamdulillah si doi dapet rejeki buat kerja part time sebagai komentator pertandingan bola, yang membuat doi enjoy banget ngejalaninnya diantara pahitnya riset yang doi pikirin. Yah kita sih sebagai barisan para isteri pasti mendukung 1000% kegiatan suami yang memang positif, terlebih bisa menghasilkan sesuatu untuk membeli segenggam sushi. hehehehe.

Jadi berhubung kesempatan waktu yang tidak banyak karena kesibukan doi, juga karena cuaca yang kadang tidak begitu oke buat jalan-jalan, mangkanya di liburan musim panas ini kami gak berlibur sebagaimana orang-orang berlibur. Satu-satunya perjalanan berdua yang kami lakukan adalah : menonton Doraemon di bioskop. Hahay. Jadi pendek cerita, di hari itu kami berniat untuk pergi hiking ke daerah Nagatoro. Namun ramalan cuaca bilang, kalau hari itu akan ada hujan turun, jadilah kami menyerah gegara ramalan cuaca. Batal buat hiking dan memutuskan nonton ke bioskop. Eh taunya setelah hari itu terlalui, ternyata gada hujan sodara-sodara! yeah, ga nyesel juga sih, toh nonton juga pada akhirnya. Nonton ke bioskop di Jepang cukup sesekali aja ya. Mahameru soalnya (mahal).  Iya sih kami nontonnya di hari Minggu, gak ada diskonan buat perempuan. Nonton hemat ala Jepang pun sepertinya masih bisa dipake buat ngebiayain 4 orang nonton bioskop Indonesia. :)

Selain masih berusaha menamatkan ketiga buku yang lagi dibaca, lalu ada pesenan baju dan tas yang harus dikerjain, sekarang-sekarang kami berdua (berdua? gue aja kali) lagi nyicil masukin barang-barang ke kardus karna harus keluar dari asrama minggu depan. Kemaren, hari Minggu, seharian kami beresin apato yang nanti bakal ditempatin. Harap dimaklumi, karena kalau pake jasa pembersih kena harga 30000 yen, jadi karena kami anak rantau mending duit segitu dipake buat beliin Mamak baju lebaran di kampung (macem punya kampung kau Ndah). Omong-omong tentang tempat tinggal baru nanti, Alhamdulillah kami dapet harga bulanan apato (2DK - 2 room and dining kitchen) yang cukup murah 40ribu yen. Hmmmm, murah ga ya? kayanya murah ya dibanding sama temen-temen yang tinggal di daerah Tokyo. Walau agak tua bangunannya, namun strategis tempatnya.


 Ya begitulah cerita musim panas nya. Tetap harus dinikmati dengan penuh rasa syukur.

07 April 2014

bukan kampanye

Alhamdulillah, edisi pemilunya luar nagrek udah selesai dari 3 hari yang lalu. Eits, tapi katanya sih perhitungan suara tetep dilakukan di tanggal 9 April. Alhamdulillah yang kedua adalah Bapak Rangga akhirnya mencoblos juga. Mungkin akan beda kondisinya kalau kita masih di Bandung, dimana nama Rangga A.S itu ga ada dalam daftar pemilih tetap. Jadi bersyukur ada satu suara yang ga sia-sia. Saya sih, tipikal yang selalu ikut Pemilu sejak 2009. Dari mulai walkot, gubernur, legislatif, sampai presiden. Awalnya memang saya bingung ya untuk milih langsung calon pemimpin itu. Pertama karena ga kenal, kedua karena fokus waktu itu lebih ke aktifitas kampus, dan juga karena media media kadang malah membuat kita semakin sulit unutk memilih, dengan adanya kecondongan satu pihak sehingga berita pun dibuat jadi ga netral. Belum lagi, usia-usia awal memilih 17-20 an juga masih sepi untuk tertarik sama politik. Yang penting yang dikenal siapa, baik itu orang dekat lah, tetangga lah, tokoh masyarakat lah, atau sekedar menurut kata pemimpin kelompoknya siapa, itulah yang dipilih. Tinggal berdoa aja yang dijadikan sumber suaranya adalah orang yang memang mampu untuk mempublikasikan calon-calonnya (yang memang baik). Tapi kalau promotor nya aja promosi pake cara ga cerdas (baca: bagi-bagi duit atau ancaman dsb), yowess,wassalam.

Saya suka banget bukunya Pandji yang nasional.is.me. Di buku itu pikiran kita berasa diacak-acak. Berasa dibawa masuk sama kata-katanya dia, disadarkan bahwa kita ini hidup ga mungkin ga berkaitan sama politik. Karena pemilu menjadi corong untuk munculnya kebijakan-kebijakan yang akan menjadikan kita nyaman atau tidak nyaman dalam menjalani kehidupan. Cukup menurut saya alasan tersebut untuk orang yang baru ketemu sama politik dan ga mau terlibat penuh didalamnya. Intinya pengen nyaman kan? nah tinggal buat parameter nyaman seperti apa yang diinginkan, dan kaitkan lah dengan sepak terjang si calon-calon yang ada.

Saya sungguh kaget ketika tahun lalu di Bandung, ketika itu selepas pemilu gubernur Jawa Barat, saya bertemu dengan kawan-kawan SMA. Dan ketika saya tanya tentang masalah pemilu itu, jawaban mayoritas dari mereka sangat simpel "Hahahaha, aku sih taunya cuma si A, si B dan si C siapa ya? itu juga milih A baru kepikiran karena familiar mukanya". "aku sih coblos asal-asalan", "aku sih coblos ketiga mukanya"..Hmmmm.. iya sih, saya juga ga begitu kenal banget sama semua calonnya saat itu, ya minimal saya pernah tanya ke orang lain tentang calon-calon tersebut ke seseorang yang membuat referensi pengetahuan tentang si calon jadi nambah. Yang saya sayangkan itu sebenernya, kenapa orang seperti kita, yang sudah merasakan manisnya pendidikan, manisnya internet, manisnya media sosial, dan segala bentuk manisan lainnya, masih juga asal-asalan dalam pemilu. Ada yang bilang bahwa karena tidak ada calon yang baik jadi lebih baik golongan putih lah, padahal alasan sebenernya karena kita malas cari tau. Malas untuk sekedar nyoblos seseorang yang ga dikenal. Baru deh nanti pas udah makin semrawut negeri kita ini, ocehan, keluhan terhadap orang-orang yang ga mampu tapi duduk dipemerintahan. Janganlah say...

Bukan jamannya lagi kita kebawa iklannya kedai kopi mahil yang ngasih minum kopi gratis kalau kita nunjukkin jari kita ada tinta ungunya pertanda kita udah berperan dalam pemilu, atau segala macam bentuk hadiah lainnya. Engga lah. Pengunjung yang datang ke kedai itu pasti orang yang berada di kelas menengah ke atas, yang rata-rata berpendidikan, mestinya kesadaran untuk menjadi rakyat yang baik  lebih berharga dibandingkan segelas kopi gratis. Kesadaran bahwa pemimpin itu tergantung rakyatnya, adalah kesadaran yang harus dimiliki setiap rakyat.

18 Februari 2014

Mencukupkan Diri

“kok, saya heran ya,, apa saya aja yang salah program, atau ga memaksakan diri buat cari uang banyak biar bisa liburan kemana gitu,,Ngeliat foto temen-temen kok rasanya gampang banget ya pergi. Ya padahal kita tau, gajinya ga seberapa, ya gatau juga sih dibalik itu”

Kalimat-kalimat diatas keluar dari  mulut suami saya, dan saya cuma bisa ketawa geli aja. Iya ketawa karena lucu. Pasalnya dia sampai saat kemarin itu, ga pernah mempertanyakan dirinya sendiri kenapa dia menjadi tidak berambisi terhadap materi, maksudnya materi yang buat digunakan bersenang-senang. Yaentah itu keluar negeri, atau keluar kota untuk nyicip nyicip hal baru, atau bahkan di dalam kota yang sifatnya “baru”. Lagipula saya juga bukan tipe yang suka jalan-jalan yang datang kesuatu tempat , ambil foto sama tempat yang didatengin, kemudian merasa senang seolah olah ga ada beban yang dipikir saat liburan, dan kembali plong setelah itu. Bukan jalan-jalan dalam arti begitu yang saya suka. Jalan-jalan/bepergian, selalu saya artikan sebagai sarana refleksi diri dan refleksi keagungan Tuhan.  Tujuan satu dari jalan-jalan adalah: bisa kembali dengan selamat. 

Yah terlepas apa itu jalan-jalan, kembali ke kalimat awal yang suami saya bilang. Iya bisa dibilang kami jarang menyengajakan diri buat mengosongkan waktu untuk pergi ke tempat wisata –sebut saja begitu. Pun dengan uang untuk kegiatan semacam itu. Dia sempet bilang, “kemana aja ya uang kita selama ini?kok kayanya ga ngehasilin apa-apa?ga pernah kemana-mana juga”. Tapi sesaat itu juga saya bantah kalimat dia dengan bilang bahwa kita berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat ini, itu merupakan hasil.  

Oke, sebut saja ketika pulang dari Jepang dua tahun lalu. Dengan sejumlah uang hasil menabung, maka kami punya daftar rencana akan digunakan untuk apa saja uang itu. Saat itu, rangga belum dapat gaji berkala dari kerjaan, saya juga dapat penghasilan yang cukup untuk operasional saya sendiri selama sebulan. Namun, siapa diduga,di akhir tahun kepulangan ke Indonesia itu, saya harus menjalankan operasi juga pengobatan pasca operasi yang makan sejumlah uang dari tabungan itu, yang cukup lah buat bayar DP mobil kalo kami mau.  Habis tabungan kami. Kami saat itu, sama sekali tidak merasa kekurangan sedikit apapun, kami bersyukur karena Allah SWT selalu punya rencana lebih baik.Karena ga lama setelah itu, Allah SWT kasih rezeki lewat jalan lain dan dalam bentuk lain.

Juga untuk laptop saya yang waktu itu kena musibah, laptop yang selalu digunakan buat kerja sehari-hari terkena air akibat ulah kecerobohan saya. Ya salahkan manusia, tapi mesti pandai juga ambil  hikmah.  HIkmahnya adalah saya jadi kembali ngobrol sama si mamah tanpa harus pegang laptop, karena sebelum laptop saya itu mati, hampir setiap diajak ngobrol sama mamah, pasti saya juga sedang melakukan aktivitas lain dengan laptop. Bahkan saya sempet berpikir bahwa di hati kecil si mamah ada rasa syukur ketika laptop saya bermasalah dan pada akhirnya dia bisa ngobrol focus sama saya. Awalnya saya dongkol dengan ulah saya dan mikir lagi untuk ngumpulin uang beli laptop baru. Lalu saya ditegur, “baru juga kehilangan benda, bukan nyawa!”. Yes, tertohok. Akhirnya saya lupakan kejadian laptop itu tanpa ada rasa sesal.  Dan beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah doi dapet bonus dari kantornya yang ga pernah diduga, dan akhirnya laptop baru dibeli juga (laptop baru buat dia, yang doi diwarisi ke aye). Karena  Allah ingin melihat bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian yang menimpa kita.

Juga kejadian kemarin, dimana handphone yang baru dipakai empat bulan saja, harus bernasib mandi di mesin cuci. Tidak biasanya rangga nyimpen hape dia di saku celana,biasanya sudah dia keluarkan seluruh isi di saku sebelum ganti pakaian. Tapi memang sudah harus terjadi, jadi ya terjadilah. Tinggal pinter-pinternya kita ngambil hikmah. (salah satu hikmah adalah si doi ga perlu sering sering cek hape lagi buat maen game Battle Camp,,hohoho *evilsmirk* eh, tobat ah. Sama perlu mempersiapkan diri , hati, dan kocek kalo ternyata si hape rusak dan mesti batalin kontrak dan bayar sejumlah uang untuk pemutusan kontrak dan sisa cicilan). Ya mungkin Allah lagi menguji kita dengan kejadian ini.

Juga termasuk masalah keturunan. Pernah suatu malam saya tanya sama doi tentang “gimana jika memang Allah tidak menitipkan anak lewat saya?”. Jawabannya sih ga usah di bahas lah ya, privasi itu mah. Buat saya, untuk bisa berani bertanya tentang itu butuh kekuatan besar (lebay kan!). Eh beneran loh! Bukannya setiap perempuan ingin merasakan melahirkan? bukannya setiap perempuan ingin merasakan jadi seorang ibu kandung? Saya juga begitu, tidak dipungkiri. Bukannya setiap pasangan menginginkan keturunan? Tapi kenyataannya, kami belum dititipkan Allah. Lalu apa yang saya lakukan? Stres pasti ada masanya, terutama pada perempuan. Namun kami berusaha untuk menguatkan diri kami, bahwa Allah ga pernah salah kasih keputusan. That’s all.  Akan ada hikmah dibalik semuanya.

Kemudian dari beberapa kejadian saya merenungi. Saya yakin, bahwa harta melimpah itu bukan parameter kebahagiaan. Dalam islam jelas sudah disebutkan bahwa yang namanya harta: materi, anak, isteri, kerjaan, adalah kesenangan dunia yang jangan sampai kita terlena dengan itu. Dimana kesenangannya dunia itu cuma sepanjang jari doang *ngutip dari Ust. Salim Filah*. Kami sekarang memang tak punya  tabungan banyak, belum ada yang namanya investasi (rumah, mobil, dan harta lainnya), belum ada keturunan. Tapi apa yang kami punya sampai saat ini, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan harta sebanyak apapun. Allah selalu kasih rizki yang cukup. Karena itu doa kami, dicukupkan dan diberkahkan. Bukannya kata Ust. Aam itu rezeki adalah yang kita pakai saat ini, yang kita gunakan saat ini, yang kita makan saat ini. Itu rezeki. Yang belum kita sentuh, bisa jadi itu bukan rezeki kita. Jika kami sedang butuh dan Allah menyetuji maka dengan jalan cara apapun dan dalam bentuk apapun Allah akan ngasih. Jika kami kelebihan,  Allah menjaga kami dari kegelisahan memiliki harta dengan mengambilnya dengan cara yang ga bisa kita kira. Jadi ya, cukup. Itu sih kuncinya. Merasa cukup, merasa bahagia, bersyukur dengan yang ada dan yakin akan Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah tertukar dalam menghidupi ciptaanNya.

Oiya, disini, bukan berarti kami menjadi orang yang pasrah dalam artian menerima keputusan Tuhan gitu aja. Jelas engga. Allah juga menuntut usaha dari kita, kita harus sadar itu. Perencanaan dari manusia tetap perlu ada, agar segala sesuatu nya tetap selalu ada dalam trek yang benar . Kita berencana, kita juga yang mempersiapkan diri untuk akhirnya,  karena Allah yang akan memutuskan apakah perkara yang kita rencanakan itu baik atau tidak baik untuk kita. Kita cuma butuh syukur dan sabar.

Oiya satu lagi, hindarkan diri dari membandingkan dengan orang lain, heu. Penyakit bahaya itu. Karena jelas kebutuhan setiap individu pasti beda, jadi jelas tak ada yang pantas dibandingkan. Kecuali jika memang orang yang dibandingkan akan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah. *saya juga masih harus berjuang keras melawan sikap kaya gini*

13 Februari 2014

Salju (lagi) dan Dompet Kucing

14 Februari 2014
Pagi ini badan dibikin males sama dinginnya udara musin dingin, lebih males dibanding hari hari lain. Pas nengok keluar jendela, ternyata ada lapisan salju lagi diluar. Sepertinya dari sejak semalam sudah turun, pantas aja pagi-pagi tadi udah dibikin susah bergerak. Kedua kalinya salju turun dalam seminggu terakhir ini.

Rupanya bukan salju yang turun aja yang bikin saya kaget tadi pagi, juga ada sms dari Nda, adik ipar, bilang kalau Gunung Kelud meletus semalam. Awalnya saya ga begitu tertarik, lalu kemudian saya teringat dengan postingan si adik ipar di media fb tentang potensi ledakan Gunung Kelud (Jawa Timur) yang lebih besar dibanding Gunung Merapi (Jawa Tengah), yang dia taaut dari sebuah media online. Akhirnya saya baca-baca tentang berita kejadian erupsi tersebut, dan melihat banyak orang juga yang posting tentang keadaan di daerah sekitar Gunung Kelud, juga kutipan Al-Quran,  serta doa-doa yang mereka sampaikan bagi para penduduk yang menjadi "korban".

Bagi saya, apa yang datang dari langit dan dari dalam bumi, adalah nikmat sekaligus ujian bagi manusia. Jadi bagi yang menikmati salju, semoga tidak terlena dengan euforianya saja, tapi harus juga bersikap waspada karena salju juga salah satu bentuk ujian buat kita yang mencari alesan buat males-malesan, heu. Pun dengan para penduduk yang sedang merasakan gonjang ganjing si Gunung Kelud,mudah mudahan selalu ada harapan dan hikmah kenikmatan yang bisa diambil dari kejadian tersebut, Insya Allah, Allah akan bersama dengan orang yang sabar.

Terus, tadi pagi tuh jadi pengen nge tweet trus mention Ridwan Kamil, "Pak, Bandung juga deket sama Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif, juga deket sama patahan lembang yang sewaktu-waktu bisa ngegoyang Bandung dan sekitarnya , mohon untuk mulai disosialisasikan dan dibudayakan pendidikan mitigasi bencana buat warga Bandung", tapi entah kenapa ga jadi..heu heu,,geje.

Dan untuk mengalihkan perhatian dengan keresahan di dada saya ini, sekaligus memindahkan fokus biar badan ga terlalu ngerasain hembusan udara dingin yang ngedeketin saya terus, maka tadi saya menyelesaikan target saya buat bikin dompet.

Aduh ini sungguh random gini tema postingannya..gapapa lah...

Iya, saya udah rencana untuk bikin dompet dari bahan yang sama dengan tas sling bag yang beberapa waktu lalu dibikin. Setelah beberapa hari dikerjakan, akhirnya kelar juga tadi.Ya walaupun pas udah jadi malah disangka tempat pensil karena ketebalannya yang tebal akibat pemakaian kain yang berlapis lapis. Saya teh ga pernah ngasih link cara bikinnya ya? padahal saya juga dapet ilmu dari blog orang lain, terus ditambah dan di modif sendiri sama bentuk yang dipengen. Untuk kali ini saya nyoba untuk bikin tambahan wadah koin di dalam dompet. (heu,,jadi nanti cari aja caranya pake kata kunci DIY coin purse sama DIY wallet, dijamin bingung). Masih dikerjakan dengan jahitan tangan (yang membuat jari ini semakin kapalan), dan bahan-bahan yang dibeli juga sebagian besar dari toko 100 yen di deket rumah. Nanti kalo udah pede, kalo udah punya mesin jahit, mau deh buka lapak sendiri...aamiin.




23 Januari 2014

Baito yang Inspiratif

Baito atau arubaito adalah semacam istilah buat kerja paruh waktu yang diambil dari kosakata asing, Jerman, arbeit. Jadi ceritanya saya mengambil tawaran baito yang ditawarkan lewat milis komunitas muslim di Saitama Daigaku, dikasih tau sama my partner my hero (hushh,, kade bisi syirik,, Hasbunallah wa ni'mal wakil). Karena gada kegiatan juga, ya saya coba aja ambil (daripada menunggu kabar dari sebuah institusi pemerintah yang ada di Tokyo yang tak kunjung ada kabar - gak ngarep juga deng). Baito yang katanya bisa dilakukan sama semua orang. Baito yang tempatnya di kampus. Hihihihi,,asik kan, ga perlu keluar tenaga banyak buat gowes sepedah. Ya namanya juga baito, memang bukan untuk jangka waktu panjang. Tapi setau Rangga,bahwa lab tersebut memang sering tawaran baito. Emangnya lab apa sih?criiiiingggg... lab nya adalah lab transportasi, cabangnya dari jurusan teknik sipil.

Saya tuh, selalu deh,,mau urusan besar, mau urusan kecil, kalau itu adalah yang pertama, pasti bisa kebawa mimpi..gonggg! di mimpinya pasti ada kaitannya dengan urusan itu, ya entah itu terlambat lah, entah itu tiba tiba udah kenalan sama rekan kerja lah,pokonya selalu kebawa tidur. parah pisan. Termasuk si makhluk baito ini. Mungkin lebih karena saya punya ekspektasi yang rendah terhadap diri juga kali ya, takut ga bisa ikutin aturan mainnya lah, takut ada kegagalan komunikasi lah,,ya yang semacam begitu,yang sepertinya untuk orang seusia saya itu udah bisa diatasi dengan bijak. Tapi Alhamdulillah,,emang saya aja yang terlalu mikir berlebihan.

Ternyata pas ketemu sama orang yang punya risetnya, dan riset dia lah yang akan saya bantu, ternyata Alhamdulillah saya bisa belajar cepet. Kerjanya emang ga pake mikir deng, cuman tenaga aja yang dibuthkan untuk duduk berjam-jam dan mata yang ga belekan kuat buat nongkrongin video yang isinya gambar jalan raya. Karena ini di lab transportasi, otomatis apa yang dijadikan riset adalah yang berhubungan dengan transportasi. Jadi untuk kerjaan yang saya dapet adalah,,,jreng jreng...biasa aja kali ya..kami (karena ga cuma saya sendiri, plus pria2 bangsa asia tengah juga ada) diminta untuk menghitung jumlah sepeda yang berlalu lalang disebuah perempatan jalan raya. Lebih tepatnya menghitung jumlah sepeda yang menggunakan infrastruktur di jalan raya. Apakah sepeda sepeda itu secara konsisten menggunakan jalur sepeda di trotoar hingga ketika dia sudah melewati perempatan tetap menggunakan jalur sepeda, atau dia berubah jalur dari jalur sepeda ke jalan raya atau sebaliknya.

Saya pikir orang orang Jepang ini sudah taat sepenuhnya sama aturan ya,,ternyata pas ngeliat berjam jam rekaman video itu, banyak juga orang orang Jepang yang tidak melulu patuh sama aturan. Memang kalau menurut saya yang hanya menghitung sampel dari beberapa jam video saja, statistik orang antara yang konsisten dan tidak konsisten pada jalur sepeda berbeda-beda, tergantung lokasinya. Kalau di lokasi trotoar yang besar, cenderung sepeda akan konsisten melewati jalur. Tapi kalo untuk trotoar yang kecil,mereka cenderung untuk ambil jalan pintas dan yang penting lancar perjalanannya, alias mereka lebih milih lewat jalan raya, walaupun terlihat dari video, ini lebih bahaya. Kenapa bahaya,,karena jadinya jika ada di jalan raya,mereka lebih meningkatkan kelajuan sepedanya. Saya sendiri belum sempet tanya-tanya kepada yang empunya riset tentang tujuan dari riset ini, tapi kalo saya meraba-raba (kade ah bisi ada yang kepegang yang bukan muhrim), eittss,,ini mah meraba pake otak,,(akhirnya dipake juga),, iya kalau saya meraba mah, jigana si riset teh diperuntukan untuk melihat keefektifan infrastuktur untuk pengguna sepeda (bycyle lane, sidewalk) demi meningkatkan keamanaan pengguna sepeda (safety riding). Dan sepertinya riset ini adalah kerjasama universitas sama pemerintah kota, jadi hasilnya nanti di ajukan untuk perbaikan kota.

ngomong ngomong tentang bicycle lane, jalur sepeda yang warnanya biru (atau bisa juga hanya berupa garis), itu ada juga ya di Bandung. Dulu rasanya pernah posting gambarnya juga di sini..hihihihhi... Jalur sepeda yang instant banget dibuat sama pemerintah kota saat itu (tahun 2010), gara gara adanya komunitas sepeda yang pengen juga dikasih ruang di jalan raya. Jadilah si pemerintah kota rela mengeluarkan uang untuk ngecat jalan dan trotoar. Yang setelah beberapa minggu pun catnya hilang. Dan sebagai orang yang pernah melewati jalur tersebut, saya rasa jalur sepeda saat itu belum terlalu banyak manfaatnya. Pertama karena pengguna jalan masih didominasi sama kendaraan bermotor yang nyaris melupakan keberadaan sepeda yang dianggap ngagokkin, sehingga tetep aja di klakson. Kedua karena penempatan jalurnya kurang tepat yang ditempatkan di trotar yang gerinjulan,,apa atuh bahasa gerinjulan teh? Ah iya! tidak rata. Mana sayang pula itu paving block trotoar jadi berwarna.. oke stop curhatnya.

Terlepas bagaimana kondisi di Bandung, tapi saya salut pisan sama kampus kampus Jepang yang selalu mengeluarkan research-based product. Tidak hanya produk semacam teknologi (itu mah jelas), tapi juga untuk produk fasilitas publik maupun kebijakan publik. Oiya biar paragraf terakhir tidak menyanjung Jepang saja, saya juga mengapreasisi program Walikota Bandung untuk bike to work tiap hari Jumat, sehingga keberadaan jalur sepeda bukan sekedar program ngiring bingah warga bandung, tapi memang untuk mendungkung Bandung untuk jadi kota yang ramah sepeda, mudah mudahan suatu saat akan ada riset yang menjadi dasar untuk setiap kebijakan publik di kota Bandung,,mmuuahh..

30 Desember 2013

Saitama, 31 Desember 2013
Bismillahirrahmanirrahiim
Kalau liat titimangsa mungkin udah pada ga aneh kalau sekarang saya udah pindah negara lagi. Kembali ke Jepang. Rasanya tidak se menyenangkan seperti pertama kali menginjakkan kaki di negara ini. Namun tetap saja menyenangkan karena mau ketemua bapak rangga yang sudah terpisah tiga bulan.


Jujur aja, kembali ke negeri ini bukan membuat saya lebih antusias,tapi malahan suasana yang ragu, anxious, takut, dan entahlah rasa apa itu yang menyelimuti. Entah apa yang saya pikirkan. Atau karena saya terlalu ingin menjadi “sesuatu” makanya saya jadi ketakutan untuk kembali memulainya? Apakah ada trauma, kenangan pahit, atau malah kegagalan yang pernah didapat yang ngebuat saya jadi sepenakut ini? Entahlah. Dan bukan maksud saya untuk tidak mencari tahu, tapi sampai hari ini saya ingin menenangkan pikiran untuk mencari target dan membuat strategi untuk sesuatu yang absurd di benak saya. 

Dan berhadapan dengan apa yang disebut ketakutan dalam diri sejatinya lebih horror daripada seorang Farhat A**as jadi presiden. Tapi kalo ga mau keluar dari zona nyaman, kalau ga menantang diri untuk ngelawan rasa takut, ya jangan harap bisa bangga dengan apa yang sudah dilalui. Hidup harus penuh ambisi, ambisi mencari ilmu, ambisi membuat sejuta manfaat buat diri sendiri dan orang sekitar. Ganbaruzooo..

kartu ucapan oleh Sofie (kelas 6 SD)


dan semoga tahun depan, dan tahun tahun yang akan datang selalu dilimpahi keberkahan :)

21 Oktober 2012

Sabtu Sore #2

Sabtu, 13 Oktober

Belum juga selesai shalat, suara anak2 dari luar sudah terdengar. Saya bahkan nyaris lupa kalau saya pernah bikin janji buat belajar bareng mereka tiap sabtu sore. Karena sudah beberapakali Sabtu agenda belajar ini terhenti akibat lebaran dan kesibukan saya. Selesai salam, saya bergegas buka pintu dengan mukena masih menempel. Sudah ada lima anak yang cengengesan di depan pager. "Sekarang berlima teteh indah!", salah satu dari mereka teriak. Alhamdulillah... Bertambah dua orang yang baru. Walaupun bingung dengan materi apa yang akan dilakukan hari itu, melihat wajah mereka otak ini dipaksa untuk tidak boleh berhenti berpikir. Hari itu mereka saya kasih kertas untuk menggambar dan mereka akan bercerita tentang apa yang sudah mereka gambar.

Sabtu, 20 Oktober

Sebenernya saya berencana untuk bilang ke anak-anak yang akan datang ke rumah bahwa kelas hari Sabtu akan diubah jadi hari Minggu karena saya pikir akan agenda bersama keluarga yang waktunya sampai sore. Di samping itu, saya merasa belum menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan ini. Tapi di pagi harinya saya lupa menyampaikan perihal ubah jadwal itu, alhasil mereka datang ke rumah. Saya yang kali itu baru sampai depan rumah, menemukan mereka sedang memanggil nama saya berulang2. Wajah mereka kembali senang ketika tahu saya datang. Kali ini bertujuh. Bertambah satu orang yang baru. Total ada 8 anak yang ikut, namun seorang tidak hadir. Mengingat awalnya saya akan membatalkan jadwal, saya pun sedikit panik harus ngapain dulu karena bahan2 belum ada. Sebenarnya saya udah punya rencana, namun rencana ini melibatkan adik ipar, dan sang adik masih ada di rumahnya. Mendadak si adik di telpon dan dijemput sama si aa di depan komplek dan agenda hari itupun tertolong. Hehehehe.. Kami membuat finger puppet dari bahan flanel yang bisa juga untuk ditaro di pensil mereka. Mereka memilih sendiri warna dan bentuk yang mereka inginkan, kami membantu menggambar pola dan mereka yang menyelesaikan sisanya. Semua yang sudah dimulai harus diselesaikan, itu yang menjadi salah satu aturan di kelompok ini. Alhamdulillah, biarpun overtime sampe magrib, mereka pulang dengan ceria dan membawa apa yang sudah mereka bikin. :)

Thanks to : Bi Nda dan A Rangga.

nb: butuh masukkan dan saran tentang kegiatan kreatif buat anak2 ;)

30 Mei 2012

random #6

Ritme yang baru ini belum bisa beradaptasi dengan baik dengan kondisi fisik ini..eh atau fisik yang belum beradaptasi ya? ya pokonya mah karena ini adalah hal yang baru, jadinya semuanya mesti disesuaikan dengan frekuensi hidup sebelumnya. Berangkat pagi-pagi pulang sore, dan di rumah pun pengennya beres-beres terus karena liat rumah yang debunya terus menebal dari hari kehari karena ditinggal yang empunya pergi terus. Alhasil hari pertama aja langsung tepar. Tapi akhirnya saya menyerah juga, nyerah dengan ga beberes rumah setiap hari, dengan ga nyuci dan nyterika setiap hari, dan tentunya ga masak tiap hari :p.

Sejauh ini sih, masih merasa penasaran dengan tempat baru ini, sungguh penasaran. Penasaran dengen teman kerja, dengam sistem kerja, dengan ilmu-ilmu yang tersedia disana, dengan kejadian-kejadian yang akan terjadi disana. Yang pasti perasaan ingin terus meningkatkan kapasitas diri itu selalu ada tiap hari.

Ketemu sama anak ABG tiap hari tuh rasanya lucu ya...hehehehe...asa mengingat-ngingat jaman waktu ABG dulu. Kalo dulu tuh jaman akeu tergila-gila dengan boyband westlife, backstreets boys, moffats. Ngeceng kaka kelas yang digilai juga oleh jutaan wanita, dan berharap kisah pada komik terjadi pada diriku, wkwkwkwk. (ini sekolah untuk belajar atau untuk seneng-seneng sih?). Ya emang daku mengakui kalau jaman SMP dulu, daku mah ga mikir banyak tentang belajar dari buku, banyakan maennya. Apalagi pas jaman-jaman punya geng bertajuk "Barzoot", hanya karena kami ber8 memakai sepatu dari merk Kazoot, pleus geng itu adalah temen satu tim di lapangan softball. hihihihihi...waduh jadi nostalgia gini..tapi emang kalo berada di antara adik-adik smp itu, memang jadi kangen masa-masa seumuran itu.

mungkin nanti-nanti akan lebih seriusan lagi kalo nulis, ini mah edisi ngacapruk sajah. :)

22 Mei 2012

Episode baru

tahun berapa ini?
asa udah bertahun-tahun ga ngecapruk disini,,,hehehehehehe..
udah ada di rumah sendiri mah, jadi aga lupa gini punya rumah maya, hadah,,,

Mungkin ini episode baru dari cerita hidup saya di dunia. Bukan episode tinggal di bandung ataw di indonesia, da kalo episode itu mah berarti kali ini season 2 nya (apa sih kamu ndahe..). yang dimaksud episode baru ialah, Insya Allah mulai besok tertanggal 23 Mei 2012 akan mencoba mengais rezeki dan mengamalkan ilmu di sebuah sekolah menengah pertama islam di daerah arcamanik. Ini juga merupakan jawaban atas doa saya sama Allah, karena memang saya berniat untuk mengajar selepas kembali ke Indonesia ini. Alhamdulillah dipertemukan dengan sebuah sekolah yang bisa dibilang cocok dihati. Iya harus cocok di hati ya, walaupun itu baru kesan awal saya saja. Tapi mudah-mudahan saya bisa belajar banyak dari episode kehidupan kali ini. Tanoshimi shitteimasu...

05 Maret 2012

random #5

Jika niat ikhlas maka langkah kita akan dimudahkan oleh Allah SWT

Hujan hari ini membuat saya memaksa diri untuk melawan nikmatnya berada di rumah sambil menyumput dibalik futon serta menikmati coklat hangat. Hari ini hari Senin. Sudah lima kali hari Senin saya dihabiskan di sebuah masjid di Otsuka untuk belajar tahsin Al-Quran selama dua jam saja, dari pukul 13.00 - 15.00. Alhamdulillah sekali karena cita-cita untuk belajar tahsin terealisasikan juga. Sejak jaman kuliah selalu ingin mengikuti pelajaran ini, tapi entah kenapa saya tidak mengikutinya kala itu. Mamah yang selalu hadir dalam kelas tahsin bersama teman-temannya di hari Rabu selalu membuat saya iri, karena saya pun ingin belajar seperti beliau. Dan barulah kesempatan itu datang di Jepang di saat hanya tinggal 2 bulan lagi saya tinggal di Jepang. Hidayah dan kesempatan kadang memang tidak terduga datangnya. Hidayah? ya saya akui bahwa mengikuti kelas tahsin atau belajar agama pun perlu hidayah yang hanya datang dari Allah SWT. Hidayah yang datang melalui apa dan siapa saja.

Kelas tahsin hari Senin ini saya terjangi dengan jarak tempuh satu jam setengah dari rumah. Begitu semangtnya saya setiap akan berangkat, dan tidak mau sekalipun tertinggal pelajarannya. Alhamdulillah sampai di kelas selalu sudah ada beberapa teman yang datang tepat waktu, saya sih selalu terlambat sepuluh menit karena harus shalat dzuhur di rumah lalu berangkat. Kala hujan, kala dingin, semangat terlihat dari teman-teman yang ingin belajar. Bagi saya, semangat terbesar saya adalah ketika saya ingat Ustadzah yang mengajarnya. Beliau dengan kedua anaknya lebih rela datang pagi-pagi ke masjid dan harus mengajar dari pagi hingga sore hari. Tidak ada alasan lagi bagi saya untuk berleha-leha, kecuali urusan sakit seperti pekan lalu.

Awal mengikuti kelas saya sedikit minder, karena saya tidak pernah belajar benar untuk tahsin sebelumnya. Saya hanya mengingat memori jaman SD ketika masih belajar di TPA tentang tajwid. Juga menggali kembali memori pendek yang pernah diberikan oleh ustadz ketika memberikan ceramah singkat di masjid dekat rumah. Hanya sekedar "pernah dengar" tapi tidak begitu paham. Namun rasa minder itu hilang sirna. Tak ada alasan minder untuk belajar, karena semua orang yang berada di dalam ruangan kayu itu pun sama: belajar. Ustadzah pengajar yang baik hati, ramah, membuat materi yang disampaikan mudah diterima. Jika memang ada yang sulit dicerna, kesalahan ada pada otak saya yang sudah lama tidak pernah dipake. Hehehehehe. Juga teman-teman serumpun dari Indonesia, teman orang Jepang, juga Uzbekistan yang hadir selalu menambah semangat saya karena mereka semua pada rajin membawa kue-kue sebagai penghibur dan penambah energi setelah dua jam belajar.

Ahhhh,,,,maka nikmat mana lagi yang akan saya dustakan? Tidak ada. Sungguh bersyukur dapat dipertemukan dengan orang-orang shalehah yang membuat diri ini merasa malu dan selalu ingin meningkatkan kapasitas diri sebagai muslim.

random #4

menarik juga membicarakan masa depan, menarik karena bisa bikin badan sakit-sakit.

Hehehhehe..

Kami berdua tepatnya memang sedang berada dalam posisi persimpangan. Kami sedang berpikir untuk memilih jalan yang sebaiknya kami ambil. Hemmm,,,entahlah jika dibilang sulit, mungkin tidak juga. Jika dibilang mudah, juga tidak demikian adanya. Saya pernah berpikir untuk duduk manis dalam sebuah instansi. Seperti dambaan wanita pada umumnya, menjadi pegawai yang punya banyak waktu luang untuk keluarga merupakan cita-cita wanita. Engga juga sih, tergantung wanitanya macem apa. Saya pernah punya pikiran macem begitu. Sepertinya enak, kerjaan tidak begitu susah (katanya loh!), juga punya banyak waktu buat keluarga. Tapi nampaknya terlihat enak saja ga cukup. Semakin kesini, makin kerasa bahwa saya tuh bukan tipe yang gitu banget. Ditambah pula pendapat aa bahwa saya ini termasuk orang yang lebih seneng independen. Hahahahaha, syukur-syukur memang bisa mandiri dan membuka kesempatan kerja buat orang lain ya. Tidak ada figur wanita karir dalam kehidupan saya selama ini sehingga itu juga yang tidak memotivasi saya untuk bekerja di kantoran :).

Apa yang sebenarnya saya inginkan? jika sekedar membayangkan, saya sering berimajinasi dengan pikiran saya. Bisa mendapat penghasilan dari hasil hobi saya, uangnya digunakan untuk kepentingan bersama, hidup sederhana namun selalu bisa berbagi, ya seperti itulah kira-kira. Namun, berimajinasi saja tidak cukup. Semuanya kan mesti diimplementasikan dalam bentuk perbuatan. Hem...saya harus berani bertindak! semoga kekuatan itu ada..

29 Februari 2012

Hadiah

Adeuuh ada yang udah ganti umur euy.. Tapi rasanya masih seperti anak SMA gini, mencari arah terusss. Ups! Kado yang istimewa sekali di hari ulang tahun kemaren. Istimewa yang datangnya dari Allah SWT. Sekali lagi saya ditegur. Ditegur dengan kembali dikuranginya nikmat kesehatan. Sungguh membuat saya kembali merenung. Dosa apa yang telah saya lakukan? Dosa apa yang telah saya ucapkan? Dosa apa yang udah saya pikirkan? Banyak pastinya. Makanya Allah kasih lagi obat untuk menggugurkan dosa-dosa yang saya ga sadar telah saya perbuat.

Bicara tentang sakitnya, awalnya saya pikir ini cuma gejala panas dalam biasa, hari Kamis bibir yang kegigit dan berubah jadi sariawan yang diikuti dengan sakit tengggorokan, gusi bengkak, badan demam di hari Jumat, dan sariawannya ga ilang-ilang walau udah minum vitamin, air putih, sayuran, dan buah. Bukannya membaik si sariawan teh, malah makin banyak dan jadi gede. Bibir udah jadi pulau sariawan. Sudah tau kan gimana rasanya di mulut atau bibir penuh sariawan? ditambah tenggorokan sakit dan gusi bengkak? aktivitas yang paling terganggu itu adalah makan. Sesuap bubur itu sama seperti perjuangan menghabiskan sepiring nasi padang. Bedanya yang satu mah ga bikin kenyang yang satu lagi bikin kenyang. Di hari Minggu berhubung ada undangan ke rumah Mba Mia, dan merasa suhu tubuh sudah menurun, maka berangkatlah kesana walau mulut sebenernya belum bisa diajak makan enak. Eh pas sampe sana, ngiler lah ini mulut. Sajiannya ada gule kambing, telur balado, yakisoba, ayam rujak, pie apel. Euuughhh,,sabar sabar. Tapi tetep aja bukan Indah kalo ga badung, akhirnya saya ngambil itu gule kambing sepotong dan nasi dua sendok saja, dengan pikiran kalo makannya dibarengin dengan nasi berkuah maka proses makan akan lebih mudah melewati tenggorokan. Ternyata... hanya makanannya saja yang nikmat, makannya mah ga nikmat sama sekali. Hiks hiks hiks.

Betapa nafsu itu memang menyesatkan. Akhirnya pulang lagi ke rumah, langsung ambruk lagi. Kondisi di bibir semakin parah, dan si aa meyakini kalau ini bukanlah kasus sariawan seperti biasanya. Tidur malam pun sedikit terganggu karena rasa sakit baik di bibir, mulut, dan tenggorokan disertai kepala yang nyut-nyutan terus. Alhamdulillah masih bisa tidur walau begitu juga. Di tengah-tengah malam pun suka terbangun. Karena bibir yang perih dan kering membuat bibir atas dan bawah rapat sempurna. dan ketika berusaha melepaskan bibir tersebut, tiba-tiba darah ngalir keluar. Cukup banyak untuk ukuran darah yang keluar dari bibir. Sambil bersihin bibir, saya pun nangis bawang malem-malem. Hahahahhahahaha. Baru pada hari Seninnya saya ke dokter. Sama dokter dikatain tenggorokannya ada kuman, akhirnya dikasihlah saya antobiotik dan obat pereda nyeri. Meminum antibiotik membuat tenggorokan sakit semakin berkurang dan mulai bisa menelan makanan dengan mudah. Tapi tetap masih ada masalah pada bibir dan mulut. Gusi yang membengkak membuat kelenjar yang ada di leher ikutan bengkak dan sakit, bikin ga bisa makan juga. Selasa malem si aa browsing lagi tentang gejala yang saya alami selama ini. Ternyata menemukan sebuah penyakit dengan gejala yang sama dimana di penyakit itu disebabkan karena virus herpes. Weleh-weleh. Ada-ada saja. Semoga bukan deh, pikir saya dalem hati. Tapi setelah membaca dan melihat gambar-gambarnya makin yakin deh kalau sakitnya sama. Hari Rabu saya ke dokter lagi dengan sudah menyiapkan lembar artikel tentang virus herpes yang saya baca di internet. Dokternya berbeda dengan dokter di hari sebelumnya. Si Dokter yang ini mau menggunakan bahasa Inggris tanpa kita minta pun. Akhirnya si dokter pun menyatakan bahwa memang sepertinya saya kena virus tersebut. Dari dokter, saya dikasih salep untuk bibir dan obat hisap untuk menghilangkan sakit tenggorokan.

Untuk sakitnya sendiri karena disebabkan oleh virus, sebenarnya tidak ada obat untuk mematikan virusnya. Sakitnya akan sembuh alami selama kurang lebih 2 mingguan, dan virusnya akan nempel di tubuh saya terus. Jika sewaktu-waktu ada luka pada bibir saya dikemudian hari dan kondisi imun tubuh sedang tidak baik, bisa-bisa si virus aktif lagi. Naudzubillah.

Ketika dalam keadaan seperti ini, jujur saya sendiri banyak merenung. Berusaha untuk berprasangka baik bahwa ini semua adalah obat penggugur dosa, insya Allah. Kembali diingatkan bagaimana harus bersabar dan bersabar. Juga bersyukur untuk semua yang telah saya dimiliki. Walaupun ga bisa makan banyak karena sakit, mesti bersyukur karena masih banyak orang yang sudah sakit juga tidak bisa makan sama sekali. Rapatnya bibir saya ketika malam, membuat saya inget sama orang-orang yang suka aksi unjuk rasa dengan jahit bibir, Subhanallah itu kan sakit sekali pastinya. Bersyukur juga ketika sakit, masih ada tetangga, teman2 yang mendoakan, juga tentunya masih ada suami tercintah yang selalu mengingatkan untuk selalu bersabar. HIks hiks hiks. *makasih udah nyuci 2 ronde baju, nyuci piring, belanja makanan, bikin sayur tanpa rasa, dan lainlain*.

15 Februari 2012

random #3

Pernah dengar penyakit 'ain?
Jujur saja saya baru dengar kemarin, ketika menengok seorang teman yang baru melahirkan. Penyakit ain adalah penyakit karena pandangan mata. Berdasarkan beberapa artikel yang saya cari maka penyakit ini disebabkan oleh pandangan mata seseorang terhadap sesuatu yang disertai rasa dengki/ disertai kekaguman semata yang menimbulkan efek mudharat kepada objek yang dipujinya. (mungkin untuk lebih lengkapnya cari sendiri saja ya, ref). Bentuknya seperti apa? masih belum ngerti juga.

Secara ilmiah saya pun tidak tahu mekanisme nya seperti apa tentang terjadinya penyakit ini, di beberapa artikal hal ini dikategorikan sebagai penyakit syar'i yang penyembuhannya pun dengan pendekatan agama sesuai yang dicontohkan Rasullualah SAW.

Saya bingung kenapa kemudarathan bisa terjadi pada seseorang/sesuatu yang dipuji. Mungkin ada yang lebih mengerti?

Dari yang saya baca juga, salah satu hal untuk menghindari tertimpanya penyakit ain adalah dengan tidak membuat situasi dimana orang menjadi iri terhadap situasi tersebut. Heu,,serem juga ya. Karena tindakan kita sehingga bisa membuat orang lain iri merupakan sesuatu yang sulit dikontrol. Kalau kita iri dengan orang lain, yang dikontrol kan hati kita ya, namun jika kita melakukan sesuatu yang biasa saja tapi ternyata hal itu menimbulkan rasa iri di orang lain (walaupun tidak tampak), hal itu bisa menjadi penyebab penyakit ain datang ke kita. (cara mencegah penyakit ini datang ke kita)

Mungkin ini adalah ungkapan "dari mata turun ke hati" ya..?

Manusia itu makhluk sosial, butuh eksistensi, butuh pengakuan, dan tentunya juga butuh pujian, hal itu lumrah dan manusiawi sekali. Hanya saja, saya cukup menyadari bahwa pujian itu kadang membawa efek negatif. Hal tersebut besar kemungkinan dapat membuat seorang yang dipuji memiliki sifat sombong. Terlepas niatan dari seorang yang memuji itu sendiri, apakah disertai muatan atau memang ikhlas. Namun yang saya rasakan dan tidak saya pungkiri, ketika mendapatkan pujian sedikitpun rasanya ada keinginan mendapatkan pujian itu untuk kedua kalinya. Namun islam mengajarkan kita untuk selalu mengingat bahwa sesuatu yang baik dan indah hanyalah milik Allah SWT, tidak ada yang pantas pujian selain untuk Nya, makanya ketika kita mendapat pujian hendaknya mengucapkan Alhamdulillah (segala puji hanya milik Allah) dan ketika melihat sesuatu yang baik hendaklah mengucapkan Masya Allah (Allah SWT berkehendak akan hal itu). Pujian sesekali diharuskan tentunya untuk mengapresiasi sesuatu, namun yang perlu diingat kembali memang semuanya dikembalikan pada niat masing-masing hati. Jangan sampai memuji karena ada rasa terpaksa harus memuji, memuji karena ingin diberi pandangan baik oleh orang lain, pujilah seseorang karena memang kebaikan yang ia miliki itu karena kuasa Allah SWT.

Jujur saja, berat dan takut rasanya menuliskan ini.. :) namanya juga belajar kan.
Wallahualam bissawab

05 Februari 2012

Beberapa waktu lalu saya pernah sekilas mendengar tentang seorang petugas sampah di Indonesia yang diliput stasiun tv BBC dan liputannya disaksikan oleh masyarakat di UK sana. Begitu pula dengan kenaikan gaji yang saya dengar yang didapatkan oleh si petugas sampah akibat "naik daun" ia. Naiknya seratus ribu saja.

Semalam saya baru menonton filmnya di youtube, dan setelah selesai menonton saya sempet diam sejenak, merasakan ada bagian yang sakit dalam diri saya. Tidak tahu apa.

Sewaktu tingkat satu dulu, saya dengan beberapa teman pernah mendapatkan tugas untuk mengunjungi tempat pembuangan akhir sampah di daerah Leuwi Gajah, Cimahi, Bandung. Terus terang saja, dari jarak sekian ratus meter, hidung ini udah ga kuat sama bau sampah. Pun ketika menginjakkan kaki di dekat gunung sampah raksasa, nyaris mau muntah. Tidak sampai muntah pada akhirnya, hidung langsung bisa berkompromi dan beradaptasi sama bau. Miris rasanya. Beratus-ratus pemulung hidup disana, dengan sistem sanitasi yang tak pernah sama sekali mereka kenal, tak peduli bakteri, kuman, atau penyakit apa saja yang sudah mereka dapatkan dan belum lagi ledakan sampah yang mungkin akan dihadapi nantinya. Hiks hiks. Pulang dari sana, bau dari TPA masih melekat pada badan saya, berapakalipun mandi, bau itu sepertinya tetep nempel di hidung. Suatu kenyataan yang membuat saya sedih namun ga bisa berbuat apa-apa.

Tinggal di Jepang dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah matang, membuat saya sebagai penduduk dari negara berkembang mau tidak mau dipaksa beradaptasi dengan sistem tersebut. Sekalinya pulang ke Indonesia saya pun tetap berusaha untuk memilah sampah-sampah yang saya hasilkan, mengajak penghuni rumah untuk sama-sama memilah sampah. Tanggapannya sama: "nagapain di pilah, di TPS nya aja dicampur". Iya memang masih begitu, setidaknya kita membantu meringkan kerja mereka untuk tidak ngacak-ngacak sampah campur demi mencari botol atau plastik. Tapi tetap saja tidak ada perubahan terjadi, bahkan tulisan yang pernah saya buat mengenai penjelasan klasifikasi sampah dan ditaruh di dekat tempat sampah, sudah ada di ranjang sampah beberapa hari kemudian.

Seperti berdakwah, tidak ada yang berubah secara instan, semua perlu waktu dan konsistensi, juga hidayah mungkin. Begitupun dengan menanamkan kesadaran tentang sampah pada rumah-rumah, minimal untuk lingkungan terdekat. Bagi sebagian orang mungkin sudah melakukan, dan saya akan menjadi salah satu seperti mereka, insya Allah.

19 Januari 2012

Cece

Pas lihat-lihat tanggal kadaluarsa SIM A, alhamdulillah pas nanti pulang masih berlaku, namun mobil nya yang masih belum punya :). Hemmmm...mobil ya...

Belajar menyetir mobil memang pengalaman yang lucu. Pertama kali itu megang setir pas kelas 2 SMA. Pake mobil mamah tentunya. Awalnya pengen minta diajarin sama kakak kedua, tapi pertama pegang setir tanpa ada instruksi dan pemahaman teori terlebih dahulu, sang kakak membiarkan saya menginjak gas dan nyaris masuk got besar. Alhamdulillah saat itu si kakak masih sempet ngangkat rem tangan. Kapok belajar dengan si kakak, akhirnya meminta seorang teman yang sudah lancar berkendara untuk ngajarin saya. Kami rutin bawa kabur mobil mamah buat keliling komplek. Lumayan buat pemula. Cuma rasanya kurang menantang kalo ga bawa ke jalan, maka setelah beberapa lama latihan ilegal saya membawa mobil ke jalan raya pun masih tetap ilegal. Ya mungkin karena ilegal dan kurang diridhoi pada saat membawa mobil, akhirnya sebuah mobil lain menjadi korban kelalaian saya. Kaget banget setengah mati. Dimarahin di tengah jalan, suruh ganti rugi kerusakan mobil orang, juga mobil sendiri (yang mana mobil sendiri mah ga dibenerin juga). Kapok pok pok deh. Sekali-kali boleh dong jadi anak nakal :p

Bukan apa-apa, alasan kenapa ingin bisa menyetir adalah ingin bisa bantu si mamah buat nganter-nganter kalau dia ada perlu, itu alasan utamanya. Namun pada kenyataanya banyak alasan sekunder yang turun dari alasan primer itu :). Sim A baru saya dapatkan ketika sudah kuliah tingkat 1 akhir. Sudah lancar menyetir juga. Umur sudah mencukupi, tapi tetep dapetnya dengan cara licik: pake calo. Hahahahahhaha..

Pas udah punya SIM, bisa lebih pede nyetir. Nyetirnya juga ga kemana-mana kok, paling cuma pake ke kampus kalo si mamah ga pake buat keperluannya. Lagian dengan Si Cece (nama mobil), saya ga bisa pergi jauh apalagi ke tempat tinggi. Si Cece keluaran tahun '87, dibeli di tahun '93 ketika si teteh pertama masuk kuliah atau bisa disebut ketika saya masih kelas 1 SD. Dengan kemampuan finansial secukupnya, maka Si Cece pun dirawat secukupnya saja, bahkan mungkin kurang. Kasian dia.

Dengan kondisi Si Cece yang masih konvensional, kadang menyetirnya membuat saya kelelahan. Steering by power nya itu loh, bikin panik kalo mau parkir di tempat sempit. Namun si mamah ga pernah ngeluh dengan hal itu (salut dah!).

Intensitas yang paling sering ketika membawa mobil adalah saat-saat terakhir kuliah, sekitar tingkat 4an. Kenapa ya? karena mobil jarang dipake, karena berangkat ke kampusnya siang dan pulang agak malem, karena jemput si kaka di tempat kerja, karena ongkos naik angkot di konvert jadi ongkos bensin. Jangan harap isi bensin di mobil itu mencapai full tank kalau dibawa saya, karena paling saya hanya mengisi 20ribu, dan itu akan habis dalam 3 hari kurang.
Ya mungkin karena mobil lama, jadi pembakaran bensinnya juga boros.

Setelah sekian lama membawa mobil ke kampus, ternyata saya sadari bahwa badan saya lebih cepat lelah. Membawa mobil pribadi memang bisa lebih cepat sampai ke tempat tujuan jika tidak ada kemacetan, bisa lebih fleksibel jika ada keperluan mendadak. Namun, kondisi Bandung saat itu (atau mungkin saat ini), buat saya tidak begitu kondusif. Macetnya itu loh. Bikin bensin habis ga jelas, bikin nafsu amarah meningkat karena macet, belum lagi tarif parkir yang ga kira-kira. Untuk mahasiswi pas-pasan macam saya ini naik angkot memang lebih pantas :).

Sehabis seharian di kampus, rasanya ketika pulang itu pengennya bersantai. Nah kalau bawa mobil pulang, yang ada tensi darah makin naik tuh. Namun kalo milih naik angkot, gemuruh dalam darah bisa reda sejenak, karena di dalam angkot bisa tidur, bisa baca buku, bisa ngeliat refreshing dengan ngeliat orang bertingkah macem-macem.

Si Cece tidak ditinggalkan, hanya dipergunakan seperlunya saja saat itu.
Kenapa tiba-tiba cerita tentang ini ya? Gara-gara nonton berita peralihan BBM ke BBG. Jadi inget Si Cece. Juga karena Si Cece udah ga ada sekarang, udah dipensiunkan. Entah siapa yang empunya saat ini. Kalau Si Cece masih ada, mungkinkah dia akan dipakaikan converter BBG? kalau bisa seperti itu mungkin kamu akan seperti titik puspa dengan umur serina. Ah,,saya sampe belum minta maaf udah bikin banyak luka di badan kamu Ce. Banyak cerita dengan kamu, kamu bikin saya lebih kuat karena kamu sering mogok tiba-tiba, bikin saya lebih pede, dan kamu mengajarkan saya kalau peran dan fungsi lebih penting daripada penampilan. :)

09 Januari 2012

DIlema

Ternyata tiap hari selasa sekitar jam 7.30 WIB atau jeam 9.30 JST ada kajian tentang anak di radio MQ fm. Saya sudah beberapa kali dengar, cuman kadang inget harinya kadang engga. Menarik sekali topik-topik yang diangkat. Kebanyakan memang seputar pendidikan anak usia dini ya.

Topik tadi pagi itu tentang "Dilema Pendidikan". Khususnya pendidikan formal seperti kebanyakan sekolah di Indonesia. Berbicara tentang pendidikan, saya memang bukan ahlinya, selama ini saya hanya penikmat saja (benarkah menikmati?), karena belum mampu menjadi pelaku teknis pendidikan. Ya berbicara pendidikan Indonesia, banyak sekali masalah yang sering muncul ke media. Baik masalah sistem, materi, maupun fasilitas. Belum ada titik temunya. Dan terlalu pelik masalahnya, mengingat bangsa kita adalah bangsa yang heterogen.

Berdasarkan apa yang saya dengar tadi di radio, paham pendidikan bisa dibagi menjadi tiga: yakni pendidikan realis, pendidikan superorganis, dan pendidikan konseptual. Saya bukan pakarnya, kalo salah harap maklum ya. Pendidikan realis lebih ke pemenuhan kebutuhan (industri), contohnya anak-anak disiapkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan realis cenderung diarahkan untuk menjawab kebutuhan lingkungan. Contoh sekolah yang seperti ini adalah: sekolah kejuruan. Yang kedua adalah pendidikan superorganis yaitu pendidikan yang menanamkan nilai-nilai leluhur. Misalkan sekolah yang menanamkan nilai-nilai agama, atau pada masa kini bisa disebut juga pendidikan karakter. Mungkin untuk sekolah-sekolah formal berbasis kurikulum pemerintah pun termasuk dalam golongan kedua, karena pada akhirnya penerapan kurikulum pada sekolah-sekolah adalah untuk menurunkan nilai kebangsaan. (nah karena kurikulum pun berubah-ubah terus, berarti nilai kebangsaan juga berubah terus :p). Yang terakhir itu pendidikan konseptualis, yakni pendidikan yang berdasarkan minat dan keinginan anak didik. Program-program dibuat sedemikian rupa sehingga potensi anak didik tergali dan dapat dikembangkan.

Lalu manakah yang paling baik? itu juga pertanyaan yang susah saya jawab. Kalau dari sekilas saja, saya melihat bahwa masing-masing dari ketiga jenis tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Ketiganya harus berintegrasi menjadi satu tubuh. Saya percaya bahwa salah satu karakter anak itu hadir dari contoh yang ia ketahui, yang ia lihat. Pada awalnya seperti itu, dan lama kelamaan hal tersebut akan melebur dengan dirinya dan menjadi perilaku pada dirinya yang dalam bahasa lain disebut akhlak/karakter. Maka memilih role model yang seperti apa pun menjadi poin penting dalam hal ini. Memahami dan menggali minat potensi anak juga hal penting lainnya, karena setiap anak adalah berbeda dan dilahirkan dengan sebuah kelebihan. Menghadapi orang dewasa saja tidak bisa sama, apalagi anak kecil yang masih awam terhadap dunia ini. Kemudian mempersiapkan mereka untuk kebutuhan masyarakat juga penting. Dengan modal akhlak yang dia miliki dan dengan ilmu dari hasil minatnya maka secara bersamaan itu memampukan mereka bisa beradaptasi dengan kebutuhan lingkungan luar. Ya jadi untuk sementara jawaban saya saat ini, dengan meleburkan ketiga jenis pendidikan tersebut. Ini hanya kondisi ideal dalam benak saya.

Ya kalau boleh bilang, sekolah formal negeri jaman sekarang sangat sedikit menanamkan nilai moral, apalagi peduli terhadap minat si anak. Apa ya,,dan lebih ke arah pencapaian materi (ini masuk mana? apa ke arah realis?). Banyak para ibu dan pelaku pendidikan pun tidak sreg dengan sistem yang ada sekarang (pada sekolah formal negeri), mengambil jalan sendiri demi perbaikan keluarga dan masyarakat di sekelilingnya. Ada yang berhasil dan ada juga yang pada akhirnya bertubrukan dengan kenyataan. Sungguh kenyataan yang membuat dilema.

05 Januari 2012

tahun baru


postingan pertama di tahun 2012
padahal ga tau akan nulis apaan

saya merasa perjalanan di tahun 2011, saya lewati tanpa tujuan pasti
lebih banyak berjalan meraba, mencoba lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara
lebih banyak berdiskusi dan merubah cara pandang
tidak banyak pencapaian-pencapaian fisik yang didapat
waktu saya lewati dengan berusaha menguatkan landasan untuk berjalan esok hari
keimanan, teman, keluarga, kesehatan, materi, kemampuan...
tidak akan pernah berhenti belajar

sangat deg-degan menyambut hari kedepan
untuk sesuatu yang sangat absurd

22 Desember 2011

random #2

tampilan halaman blog yang baru saya pilih ini membuat saya nyaman menikmati postingan terdahulu. kemarin saya iseng buka-buka lagi dari awal. ternyata memang dari awal tiap saya nulis selalu geje..hehehe. di salah satu postingan itu, khususnya yang berkaitan dengan jaman TA, ternyata saya pernah menuliskan untuk menjadi seorang ahli sel surya..dan lihatlah apa yang terjadi dengan saya sekarang? tidak menjadi ahli, bahkan berada di jalan nya pun tidak.
Apakah yang saya tulis lalu itu sebuah mimpi abal-abal? tentu tidak. Tidak mudah menuliskan sebuah cita-cita, pun dengan mewujudkannya. Bukan berarti saya menyerah juga dengan apa yang pernah saya encamkan dengan diri saya. Namun perjalanan yang saya tempuh ternyata menemukan diri saya dengan dunia yang lebih ingin saya tempati. Sedikit merasa malu juga, tapi setelah didalami lagi, harus malu sama siapa? toh saya tidak menjanjikan itu dengan siapapun? dan dengan diri saya pun, saya sudah lama berdiskusi dan mempertimbangkannya. Itu adalah sesuatu yang tidak boleh disesali. That is the point.

Betapa saya rela menjalani sesungguhnya apa yang tidak saya pahami, namun saya tau saya suka dengannya. Itu saja cukup untuk membuat saya terus optimis.