22 Desember 2011
random #2
Apakah yang saya tulis lalu itu sebuah mimpi abal-abal? tentu tidak. Tidak mudah menuliskan sebuah cita-cita, pun dengan mewujudkannya. Bukan berarti saya menyerah juga dengan apa yang pernah saya encamkan dengan diri saya. Namun perjalanan yang saya tempuh ternyata menemukan diri saya dengan dunia yang lebih ingin saya tempati. Sedikit merasa malu juga, tapi setelah didalami lagi, harus malu sama siapa? toh saya tidak menjanjikan itu dengan siapapun? dan dengan diri saya pun, saya sudah lama berdiskusi dan mempertimbangkannya. Itu adalah sesuatu yang tidak boleh disesali. That is the point.
Betapa saya rela menjalani sesungguhnya apa yang tidak saya pahami, namun saya tau saya suka dengannya. Itu saja cukup untuk membuat saya terus optimis.
random
karena apa?
Karena berharap makan kue coklat di sore yang dingin ini, tapi kue yang resep aslinya harus dikukus dengan tingkat kepedean yang tinggi saya ubah dengan dibakar. Butuh waktu dari sejam untuk menunggunya matang, setidaknya matang menurut versi mata dan tusukan lidi yang dimasukkan ke dalam kue. Tapi ternyata hasilnya tidak memuaskan. Malah tidak jadi kue. Bentuknya aneh. Syukur masih bisa dimakan, dan harus dimakan. "Bukannya resep itu disesuaikan juga sama metode masaknya?",hal yang sempet ditanyain aa. Tapi daku cuekin aja. Ternyata bener apa kata dia T_T
Harapan kedua adalah menanti datangnya kiriman sepatu yang dipesan online sejak 2 minggu lalu. Hahahaha..Inilah kebiasaan malas bepergian, semuanya dibeli secara online. Eh tapi jangan salah, ini adalah pembelian online kedua di toko yang sama. Karena setelah puas dengan barang yang dulu pernah dibeli, jadilah ga ragu lagi buat beli barang di tempat yang sama. Maklum, sepatu buat saya adalah barang yang susah dicari. Susah pas dihati dan dikaki. Jadi sekalinya nemu yang enakeun, selalu ada kepingin kedua dan ketiga dan seterusnya untuk membeli *impulsif detected*. Dan saya bisa menyimpulkan bahwa sepatu buatan Jepang adalah hal yang saya sukai dari negara ini.
18 Desember 2011
cita-cita
Ide ini sudah terlintas sejak masih kuliah dulu: bikin tempat belajar/bermain di lingkungan sekitar rumah buat anak2 SD. Bahkan saya menuliskan cita-cita ini di lembar ujian mata kuliah kewirausahaan. Hahaha, sungguh ga nyambung. Idenya sih berangkat dari banyaknya anak2 di sekitar rumah saya yang berasal dari golongan menengah kebawah yang terlihat bebas. Bebas disini maksudnya kurang dibimbing sama orang tua mereka, karena kesibukan para orang tua mereka untuk mencari nafkah. Sering saya lihat anak-anak itu bergerombol jalan-jalan keliling komplek/perumahan dan dengan usilnya mengganggu rumah-rumah yang ada disana. Dengan mencet bel trus kaburlah, dengan ngambil buah dari pohon orang lah, ngebel rumah terus minta-minta duit lah, bahkan dulu ada yang kerjaannya minta beras karena disuruh orang tuanya. Juga terlihat dari bahasa yang mereka gunakan. Isi kebun binatang pada berhamburan. Cerita lain adalah ketika saya mendengar anak tukang jahit langganan si mamah harus pindah ke sekolah ke SD B yang jaraknya lebih jauh, yang kualitasnya lebih rendah dari sekolah A, tempat ia sekolah sebelumnya. Alasannya karena, "Di sekolah A mah terlalu tinggi". Terlalu tinggi apanya? saya aga bingung.. Terlalu tinggi tekanan dari guru-gurunya yang meminta kepada orang tua untuk membimbing anak-anaknya, padaha si orang tua yang berprofesi sebagai tukang jahit dengan pendapatan yang tidak seberapa, harus kerja siang malem buat menyelesaikan pesanan pelanggan. Juga terlalu tinggi gaya hidup teman-temannya. Maklum sekolah A memang berada ditengah-tengah perumahan orang berada. Walaupun biaya sekolah gratis karena ada program BOS, namun pengeluaran tektek bengek tetap saja ada. Hasilnya anak tukang jahit itu harus rela menempuh perjalanan sekolah lebih jauh. Tidak hanya dia ternyata, anak assisten rumah tangga di rumah sebelah juga harus menghadapi hal seperti itu, pindah sekolah.
Saya sedikit gelisah melihat kenyataan dan mendengar cerita kaya gitu. Ingin rasanya berbuat sesuatu. Ya minimal saya melakukan hal untuk orang-orang terdekat saya. 10 tahun saya sekolah, menghabiskan lebih banyak waktu di sekolah dan tidak pernah turun membantu mereka yang dekat yang butuh bantuan. Lalu munculah keinginan untuk membuat sebuah kegiatan sepulang sekolah. Belum puguh juga konsepnya seperti apa. Yang jelas kepingin saya sih mengajak anak-anak tersebut berkegiatan, mengenalkan pengetahuan, menggali potensi mereka, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan buat mereka. Tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan dari saya. Saya belum secara langsung mensurvey keadaan lapangan sesungguhnya, belum mengidentifikasi kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi. Banyak hal yang masih harus dilakukan. Saya ga akan sendirian. Saya tau banyak teman-teman yang akan membantu saya :). Hehehehe..
Mungkin ini salah satu cita-cita saya sekarang. Insya Allah, semoga Allah tetap memberikan keteguhan di hati saya ini.
16 Desember 2011
Kue Hulk
14 Desember 2011
Mamah
Pernahkah saya menulis sesuatu tentang wanita yang pernah melahirkan saya? Yang sampai saat ini saya memanggilnya, mamah. Memang pasaran kata-kata itu untuk digunakan, tapi kepemilikan dari kata itu tentu tidaklah pasaran. Mamah adalah panggilan unik untuk seorang wanita yang sudah melahirkan. Pernah suatu hari di waktu kecil saya bertanya, “Kenapa tetangga depan dipanggilnya mamih sih? Ko orang bule manggilnya mom?”. Tetangga saya kebanyakan orang keturunan. Saat itu saya bertanya entah pada siapa, tapi saya ingat kala itu yang menjawab adalah paman saya yang memang hobi bercanda, “Mamah itu dari Belanda, Mamih itu dari Belandi”. Saya hanya tertawa tapi tidak puas juga. Dan saya selalu berkesimpulan kalau Mamah itu digunakan oleh orang muslim, dan Mamih itu digunakan oleh orang keturunan. Pemikiran yang sempit! Namun, apalah arti sebuah nama, baik mamah, mamih, ibu, umi, bunda, mom, ambu, adalah panggilan kehormatan dari manusia yang berstatus anak dan juga penghargaan bagi seorang wanita yang pernah melahirkan.
Mamah saya yang berbadan pendek adalah wanita yang sekarang sudah tidak muda lagi, usianya terpaut 39 tahun dengan saya. Walau begitu hobinya yang jalan pagi dan beredar ke pengajian sekitar rumah masih terus dilakoninya. Belum lagi kegiatan santunan di rumah sakit demi memberikan semangat kepada orang yang sakit serta sebagai pengingat untuk dirinya sendiri bahwa nikmat sehat adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Mamah yang berbadan kecil itu beruntung bisa menikahi seorang pemuda berperawakan tinggi sehingga bisa menghasilkan keturunan satu-satunya berbadan tinggi seperti saya. Banyak cerita yang pernah ia ceritakan ketika masa mudanya. Salah satunya ketika bagaimana ia disekolahkan ke Bandung hanya karena bapaknya, mbah saya, mengira bahwa dua kata di depan sebuah nama sekolah menengag bernama “St Angela”, adalah diperuntukan untuk kata SITI. Yang berarti jika saya bisa menyelami pikiran mbah saya, maka mbah memilih untuk menyekolahkan putrinya itu ke sekolah bernama “Siti Angela”. Saat itu, sekolah tersebut hanya diperuntukkan untuk wanita saja, jadinya mbah pun merasa aman mengirim anaknya ke Bandung tanpa mengetahui bahwa sekolah tersebut adalah sekolah yang mengajarkan ajaran agama lain. Tapi dengan bermigrasinya Mamah ke kota Bandung, maka gadis yang berasal dari Kota Banjar, Ciamis itu sedikit mulai menemui pencerahan. Memang seperti itulah yang diharapkan kedua orang tua Mamah. Selepas SMA, mamah diterima di Fakultas Ekonomi UNPAD. Kampus yang cukup bergengsi pada jamannya, juga pada saat ini tentunya. Kalau kebanyakan laki-laki saat itu bersarang di kampus Ganesa, nah yang gadis ini bersarang di UNPAD. Jadi tidak aneh jika banyak dara UNPAD atau dara dari kampus lain pun mondar-mandir ga jelas di kampus Ganesa demi mendapatkan lelaki yang di jidatnya bertuliskan “ANAK ITB”. Si Mamah pun, hemmmm...saya lupa melakukannya atau tidak, namun saya tau mamah punya usaha kearah sana. Pertemuan mamah dan papah sih seinget saya di kereta. Saat itu mamah dengan seseorang temannya hendak pergi ke Jakarta, sedangkan si papah adalah saudara dari temennya mamah itu yang saat itu hendak bertolak ke Jakarta juga untuk pulang. Pendek cerita, romantisme mereka berdua pun dimulai, dan mereka memutuskan menikah di tahun 1977. Pada saat itu papah dan mamah masih sama-sama berstatus mahasiswa tahun ke....jangan sebut tahun keberapa, yang pasti mereka masuk kuliah itu tahun 1969. Baru pada tahun 1978 papah lulus kuliah dan sudah memboyong seorang isteri dan dua orang anak pada hari wisudanya. Kuliah mamah sayang sekali harus terputus karena tuntutannya sebagai isteri. Kalau mendengar tuntutan tuh kesannya sesuatu yang dipaksa ya, ya sudah saya ganti. Kuliah mamah sayang sekali harus terputus karena sangat menikmati perannya sebagai seorang isteri. Padahal saat itu, hanya tinggal beberapa langkah saja menuju kelulusan. “Allah memang sudah berencana”, begitu yang selalu mamah bilang. Dan mamah sangat tidak ingin anaknya sampai ada yang putus sekolah.
Mamah yang sekarang saya kenal adalah mamah yang kuat. Tentunya semua itu tak lepas dari pengalaman hidup yang pernah dia alami. Kemandirian yang ditanamkan Emak, ibunya Mamah, sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi wanita yang serba bisa. Mbah yang cukup tegas kepada dirinya, yang selalu melarang ketika mamah ingin pergi ke musola untuk belajar ngaji, membuat dirinya semakin penasaran tentang ilmu agama islam. Hidup terpisah dari orang tua dan tinggal dengan sanak saudara yang ada di Bandung juga pernah mamah ceritakan, ada pahitnya dan ada senangnya. Dan karena pengalaman pahit yang pernah ia terima juga, makanya mamah selalu ingin bersikap baik terhadap semua saudara yang tinggal di rumah. Beberapa sepupu saya pernah tinggal di rumah, dan mamah selalu menganggap mereka sama seperti anak sendiri. Kekuatan mamah memang mengalami peningkatan pesat ketika di tahun 1987 anak ketiganya diambil Sang Pencipta. Di tahun yang sama pula Emak harus kembali ke Sang Khalik. Ternyata setelah itu juga, tepatnya setahun setelah kejadian itu, pria yang selama 11 tahun menjadi suaminya dan menjadi bapak bagi keempat anaknya harus juga berpulang pada Yang Maha Pencipta. Allah SWT memang menyayangi orang-orang terdekat mamah sehingga Ia memanggil mereka duluan, namun Allah SWT pun lebih sayang berjta-juta kali lipat pada mamah saya. Saya teringat ketika kesedihan melanda Rasulullah di tahun dimana isterinya Khadijah dan pamannya wafat. Itu adalah menjadi tahun tersedih bagi beliau. Begitu pun yang saya bayangi ketika mengingat wajah mamah di tahun-tahun itu. Betapa banyak air mata yang sudah ia tumpahkan, saya tidak pernah tahu. Betapa banyak doa yang sudah ia lantunkan, saya tidak pernah tahu. Yang saya tahu bahwa Allah masih mendengar doa-doanya dan mengganti air matanya dengan nikmat keimanan yang ia rasakan sekarang ini. Wajah kami, saya dan ketiga kakak perempuan saya yang pada saat hari-hari duka itu masih sangat imut nan lucu, mungkin menjadi kekuatan buat mamah untuk tetap bangkit, berdiri, dan berjalan.
Single fighter, begitu orang menyebutnya. Pagi-pagi sehabis shalat shubuh, mamah langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk kami yang akan pergi ke sekolah. Setelah semuanya berangkat, mamah akan menyetir Daihatsu Hijet biru tuanya dengan gagah menuju ke kantornya. Kantor, tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Namun atasan tempat papah bekerja sebelumnya, memberikan tempat untuk mamah bekerja disana. Bukan pegawai negeri sipil memang, hanya tenaga honorer yang gajinya cukup untuk menyambung hidup. Untuk menambah pendapatan keluarga juga, pernah ada drum minyak di garasi rumah saya dan beberapa karung beras. Bukan tujuan penimbunan, walau saat itu harga sembako sedang ada di puncak jaya. Namun drum dan karung-karung itu dibelinya dari seorang penjual, yang kemudian mamah menjualnya kembali ke kenalan sekitar rumah dalam bentuk kiloan. Bisnis katering pun pernah menjadi tambalan dalam kehidupan finansial keluarga kami. Bisnis pakaian anak-anak, kerudung eceran, baju muslim, apa saja agar bisa tutup gali lubang keuangan kami. Saya memang tidak pernah diminta juga untuk membawa makanan, baju, minyak, atau beras untuk didagangkan di sekolah. Selain mamah yang tidak menyuruh, saya juga tidak inisiatif untuk melakukannya. Dibilang sudah kaya, tidak. Dibilang miskin tidak juga. Dibilang tidak susah, tidak juga. Ya kehidupan saat itu saya kira mengalir-ngalir saja, kerumitan yang ada di benak mamah, tidak pernah diperlihatkannya kepada kami. Mungkin teteh, kakak pertama, yang cukup mengetahuinya. Kerumitannya itu baru saya ketahui ketika saya sudah kuliah.
Jam 2 siang adalah waktu yang membahagiakan buat saya. Kenapa? Karena akan ada suara klakson mobil khas Hijet yang bunyi di depan rumah, dan saya akan berlari dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu rumah, serta masuk ke dalam mobil. Jarak yang pendek saja untuk menikmati mobil. Tapi setiap hari saya lakukan karena kepulangan mamah ke rumah adalah hal yang membahagiakan. “Bawa oleh-oleh apa hari ini?”, tanya saya pada mamah ketika kami turun dari mobil. “Dari kantor kok, ya ga bawa apa-apa”, jawab mamah. Ada kekecewaan datang, tapi tak setiap hari juga. Karena sering juga mamah pulang membawa macam-macam, buah-buahan, ayam goreng bekas makan siang, coklat yang dikasih dari atasan sebagai oleh-oleh perjalanan dinas, dan banyal jenis lainnya yang saya lupa. Tidur siang adalah kebiasaan mamah setelah pulang kantor, dan sampai sekarang pun masih dilakukannya. Aktifitas dari sebelum shubuh hingga jam 2 siang cukup membuat badan ia kelelahan. Maka satu jam hingga 2 jam berbaring di kasur depan televisi atau sofa menjadi pilihannya melepas kelelahan. Demi keseimbangan kehidupan, pemenuhan kebutuhan rohani tidak lupa mamah cari. Semenjak sepeninggalan papah, Allah membimbing mamah untuk lebih dekat dengan Nya. Mulai menutup aurat sempurna (kala itu menutup aurat sempurna masih dilarang oleh pemerintah, bahkan dianggap kampungan bagi sebagian orang), mendatangi majelis-majelis ilmu, berkegiatan sosial di hari sabtu dan minggu. Waktu sore di hari-hari kerja adalah waktu untuk mamah mencari ilmu. Pergi ke masjid terdekat atau ke masjid jauh pun dijabanin. Kami pun menjadi lebih sering diceramahi oleh ustadzah pribadi kami, mamah. Pendidikan formal di pagi hari dan pendidikan non-formal a.k.a taman pendidikan Al-Quran di sore hari diberikan oleh mamah. Mamah tidak pernah mengajarkan asal muasal kenapa saya harus shalat, kenapa harus puasa, dan kenapa-kenapa lainnya. Semuanya saya telen bulat-bulat layaknya tahu bulat yang enak itu, tidak tahu apakah si bulat itu baik untuk saya atau tidak,. Seiring waktu berjalan, usia yang bertambah, badan yang semakin tumbuh, otak yang semakin jalan, saya pun belajar memahami apa arti semua suruhan mamah. Mamah memang tidak pandai mengajari, kalaupun memberi nasihat hanya sepotong-sepotong. Namun bagaimana dia menjalankan kesehariannya, membuat saya memahami ajaran yang diajarkan.
“Mamah percaya sama kalian”, adalah kalimat yang terucap waktu saya masih SMP. Saat itu saya yang seperti ABG lainnya pernah nonton ke bazar sekolah tetangga, bilangnya sih akan bermalam di tempat teman, namun sang kakak dari teman saya itu membawa saya dan tiga teman lainnya bermalam di mobil. Saya sih tidur, tapi mobilnya dipake balapan di jalan Supratman. Wah nyesel banget deh sejak saat itu. Awalnya saya tidak cerita ke mamah, tapi lama-kelamaan cerita juga. Dan kalimat yang tadi saya tulis itulah yang keluar dari mulut mamah. Rasanya bener-bener ditampar. Kata maaf yang terlontar dari mulut ini pun tidak ingin berhenti diucapkan. Menyesal. Mamah juga bukan tipe orang tua yang berkata, “Sana belajar dulu!”. Tidak, tidak seperti itu. Mungkin akibat terlalu lelahnya berkegiatan dikantor, mamah tidak punya kekuatan untuk menyuruh dengan cara seperti itu. Saya juga jarang melihat ketiga kaka saya diperlakukan seperti itu. Paling-paling mamah hanya bilang,”Gapapa ga belajar, yang penting hasilnya bagus”. Seperti yang tidak mau tahu tentang bagaimana kondisi akademik anak-anaknya, tapi diam-diam beliau juga mengawasi kami. Refleknya kami pun malah menjadi belajar lebih tepatnya duduk di meja belajar selama beberapa jam dengan perbandingan waktu antara belajar sungguhan dan melamun serta ngoprek-ngoprek ga jelas adalah 20% : 80%. Dari pengalaman mengambil rapot keempat anaknya, ada kalanya mamah dipanggil duluan dan ada kalanya mamah dipanggil belakangan, yang arti pemanggilan urutan orang tua itu merepresentasikan peringkat di kelas. Tapi mamah juga tidak sampai memarahi jika urutan kami ada di bawah, juga tidak memberi hadiah khusus ketika peringkat kami diatas. Hanya pujian dan nasihat-nasihat saja yang ia berikan.
Sampai usia kuliah, saya jarang sekali mencurahkan isi hati, pengalaman di luar rumah kepada mamah. Saya pikir saya tidak bisa terbuka dengan mamah, dan mamah juga jarang mendekatkan diri kepada anak-anaknya hanya untuk sekedar bertanya “Bagaimana hari ini di sekolah? Menyenangkan tidak di sekolah?”. Saya juga tidak menuntut seperti itu. Sepertinya diri ini sudah paham tentang situasi yang dihadapi mamah, dan saya tidak akan membuat urusan saya menjadi beban buatnya. Makan malam dan meja makan merupakan tempat paling nyaman untuk saya. Dari sana betapa kehangatan keluarga saya rasakan. Kami bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan di luar rumah hingga kadang sampai larut malam. Tidak ada cerita sedih dari mulut ini keluar. Baru kuliah tingkat akhir, ketika kedua kakak saya sudah menikah dan tidak lagi tinggal di rumah, saya dan mamah bisa berbicara banyak hal. Saya mulai memberanikan diri untuk menceritakan kesulitan-kesulitan, ketidaknyamanan, menanyakan perasaan mamah, bahkan pernah saya berani untuk membantah pendapat mamah. Pernah suatu hari ketika saya berada di kampus, saya mendapatkan telepon masuk dari mamah. Awalnya mamah menanyakan jam berapa saya akan pulang, namun tak lama kemudian ia menangis karena ada pertikaian dengan kakak saya. Tanpa sepengetahuannya, saya pun ikut nangis. Siapa yang tega membuah mamah saya nangis?pikir saya tanpa mau tahu bahwa seseorang itu mengacu pada orang terdekat. Dia sakit, saya juga sakit. Itu yang saya alami. Saya merasa, usia mamah yang tidak muda, yang sudah tidak bekerja, kehadiran orang lain untuk sekedar mendengar ceritanya menjadi sangat penting. Penting untuk psikologisnya juga kesehatan fisiknya, setidaknya begitu yang saya dengar dari orang juga dari artikel yang saya baca. Mamah akan sangat khawatir jika anaknya yang tinggal berjauhan tidak meneleponnya. Orang tua mana sih yang tidak khawatir jika dibegitukan. Jika sudah terlalu amat lama, maka mamah akan menghubungi kami duluan. Dan pelajaran yang saya dapet, jangan pernah tanya “Kok tumben mamah nelpon?”. Apa sayang itu butuh waktu khusus? Engga kan. Melihat anak-anak yang dilahirkannya sudah besar dan punya kehidupan sendiri tentu membuat mamah merindukan masa-masa mengasuh kami. Dengan senyumnya selalu ia mengukirkan rasa syukur bahwa dia telah berhasil melewati masa-masa sulit dulu. Bahwa pertolongan Allah akan selalu datang jika kita beriman, bukanlah suatu omongan belaka. Saya percaya itu karena mamah sudah membuktikannya.
11 Desember 2011
illumination dan rayuan
dingin + malam + lampu-lampu = romantis (???)
nyatanya, di malam yang dingin seperti saat ini, dan ditemani hiasan ratusan lampu yang digantung di pohon, kenapa orang2 lebih banyak yang berdua-duaan?(laki2 dan perempuan pastinya). buat kami tidak begitu romantis. setidaknya begitu yang saya rasakan waktu jalan-jalan di illumination area di dekat Stasiun Saitama Shintosin. karena kedinginan dan lapar, kesan romantis itu hilang. hahahahahha
di penghujung tahun, entah kenapa orang Jepang yang (mayoritas) tidak memiliki agama ini seakan-akan ngiring bingah ketika akan natal. Hemm, padahal di tanggal yang katanya jatuh pada hari natal itu, mereka bukannya mengingat Tuhan tapi menjadikan momen dengan pasangan. Tanya kenapa? saya juga gak tau. Biar kesannya tambah romantis, maka perangkat pendukung lampu-lampu hias dipasang di tiap pohon. Mungkin biar terlihat seperti bintang di langit, terus pasangan yang sedang berduaan itu bisa lihat bintang barengan,,oh so sweet, sampai-sampai terjadi percakapan:
laki-laki : " kayanya bintang dilangit kurang satu deh?"gubrak...
perempuan : "loh kok kamu tau?"
laki-laki : "karena satu bintang udah ada di hati saya".
laki-laki : "kayanya bintangnya hilang dua deh.."gubrak kedubrak...
perempuan : " kok kamu tau?"
laki-laki : "soalnya bintangnya ada di mata kamu.."
ya percakapan-percakapan semacam itu yang mungkin terjadi ketika sepasang manusia sedang melihat bintang bersama. Karena menunggu bintang itu harus menunggu saat langit cerah, maka orang Jepang dengan idenya membuat hiasan lampu sedemikian rupa sehingga para lelaki bisa merayu perempuan dimana saja.
laki-laki : "kamu tahu ga persamaan kamu dan lampu-lampu itu?"atau
perempuan : "apa?"
laki-laki : "kalau lampu ini menerangi dan menghiasi jalan, kalau kamu menerangi dan menghiasi hatiku"
perempuan : "huaaaaaa.. bagus banget lampu-lampunya,,,cantik!!"Hahahhahahaha,,andaikan ada orang Jepang se-garink itu!!di pelem-in deh.
laki-laki : "iya cantik, kaya kamu"
perempuan : (diam tersipu malu, denyut nadi berdetak 100 kali lebih cepat)
08 Desember 2011
serba-serbi musim dingin
dari pada ga dingin padahal musim dingin..
namanya juga musim dingin ya wajar kalo dingin terus setiap hari
sayangnya tubuh turunan Banjar,Ciamis ini masih aga kurang bersahabat dengan musim dingin
memang tidak ada penyakit signifikan, tapi tetep produksi gas dalam tubuh meningkat terus
musim dingin memang enak, karena cucian bisa sedikit karena satu baju bisa untuk 2-3 hari (tidak berlaku untuk pakaian dalem).
musim dingin juga enak karena siangnya pendek. bonus dari Allah buat gantiin puasa Ramadhan yang waktu itu ada di musim panas. Hehehehe
pake baju mesti numpuk-numpuk, ga bisa pura-pura keliatan kurus. sepertinya fashion to death cuma berlaku buat orang-orang jepang, secara mereka tetep bercelana pendek di suhu yang sedingin itu,,ga habis pikir betis dan paha mereka terbuat dari apa.
musim dingin juga pengeluaran membengkak. apato yang terbuat dari kayu ini membuat kita harus menggunakan heater listrik (AC), yang bikin harga listrik membengkak. belum lagi pengeluaran akibat kebutuhan perut,, ini penting ini. selain penghangatan dari luar, penghangatan dari dalam tubuh juga perlu. :D, sejenis coklat hangat atau sup hangat adalah obat paling mujarab. ^_~
dingin disini tidak terlalu seru juga. hanya kebagian dinginnya tapi salljunya enggak. tapi ga berharap juga banyak salju nya deng. kebayang berarti dinginnya. biarlah salju datang sesekali untuk memuaskan kerinduan ini.
oiya biasanya yang saya dapatkan pas musim dingin adalah kaki-kaki yang membengkak karena dingin. atau kulit yang gatal-gatal karena perih, juga perut-perut yang bergelambir karena malas olahraga (kayanya yang point terakhir ini mau kapanpun juga gitu deh). hehehehe
well. mari kita nikmati musim dingin ini dengan ber-nabe ria, ber-salmon ria, ber-dingin ria, dan berrrrr berrrrrrr karena kedinginan.
ini akan menjadi musim dingin ketiga dan terakhir di Jepang. akankah saya mengalami musim dingin lagi??? ya mudah2an saja..
05 Desember 2011
28 November 2011
NIkmatnya Sushi
Dalam sebulan ini, kampus saitama kedatangan 3 orang mahasiswa exchange. Mereka datangnya dari bandung, anak-anak unpad. Karna kami (saya, Aa, dan Bang Frengki - temen lab nya Rangga), sedikit kegirangan ada temen indonesia lagi, maka kami pengen ngajak mereka yang baru datang itu untuk sekedar ngobrol dan makan diluar. Setelah berunding (walaupun ada intervensi dari saya yang emang pengen makan sushi), maka diputuskan lah malam sabtu kemarin untuk makan sushi di restoran sunda, ya enggalah, ya di restoran sushi. Biasanya saya makan di restoran yang aga jauh, naek sepeda sih, tapi tetep jauh ditambah kali ini jumlah orang lebih banyak daripada jumlah sepeda. Maka kami memutuskan untuk makan di restoran sushi yang bisa dijangkau dengan bis. selama ini tiap kali saya pergi ke restoran sushi, saya percaya apa yang dikatakan orang, "ini boleh kok", "itu boleh kok", ya ya macem begitulah. Namun sebelum keberangkatan kami ke restoran saya telpon ke seorang teman lagi dan dia menjawab "oh, biasanya saya liat websitenya dulu baru berangkat kesana". Ah iya juga ya pikir saya, lihat website. Akhirnya saya buka website restoran sushi yang bersangkutan.
Saya cari halaman untuk alergen. Karena biasanya dari halaman itulah kita tau bahan makanan yang terkandung dalam suatu makanan. Namun, ternyata saya juga temukan halaman bahan dasar makanan di restoran itu yang lebih lengkap. kalo biasanya di halaman alergen hanya tertulis kandungan umum seperti : tepung, ikan daging ikan, gelatin, daging babi, daging sapi, apel, jeruk, kedelai, dll, di halaman yang lebih lengkap ini di tulis satu-satu bumbu2nya. Misalkan ada sushi udang, disana tertulis asal udangnya darimana, trus bahan bahan buat bikin sushinya pun ditulis satu-satu seperti garem, cuka, kandungan mirin, sake, shoyu, mayones dll. Dan lebih detail lagi dibagian bawahnya juga tertulis kandungan yang terdapat dalam shoyu, mayonese, tersebut. Wewww.. kaget sekali menemukuan ternyata ada kandungan di mayones yang membuat si sushi jadi ga bisa dimakan, atau ikan yang dikasih mirin sehingga sushi nya ga bisa dimakan. Kebanyakan sih menjadi tidak bisa dimakan karena ada alkoholnya. Baru tau dan percaya karena liatnya pake mata kepala sendiri. Kalo kita ke restoran kan ga bisa lihat bumbu yang digunakan apa saja, tapi dari internet bisa kita lihat semua. Setidaknya tindakan pencegahan udah kita lakukan. Sabtu kemarin adalah makan sushi paling riweuh, karena saya bawa2 13 lembar menu sushi lengkap dari website plus bahan bahan dasar sushinya. Karena ga sempet mengingat mana yang boleh dan tidak, jadi dibawa semua deh hasil print-an nya. Yang boleh yang mana? cek sendiri aja ya. riweuh memang, tapi insya Allah ada manfaatnya.
link sumber
27 November 2011
23 November 2011
coba ngerajut
21 November 2011
breaking news
kabar pertama, minggu lalu tepatnya hari kamis lalu, kami berdua baru saja selesai menyelesaikan amanah dititipi anak. tiba-tiba saja dalam dua minggu kami jadi orang tua dua orang anak usia kelas 2 dan 3 sd. gimana pengalamannya? alhamdulillah terlewati. ya bukan tantangan kalo ga banyak cobaannya. lumayan jadi tambah ilmu :). ilmu benerannya mah ga bisa di share, karena emang belum bener2 punya.
kebar kedua, alhamdulillah kondisi kesehatan juga semakin baik, sangat baik malahan. beda banget rasanya sama kondisi sebelumnya (selama 3 bulan terakhir). sekarang udah bisa jalan kaki dengan hentakan kaki yang kuat, ayunan tangan dengan amplitudo maksimum, bersepeda juga udah bisa lewat nanjak lagi. bisa tidur ngadep kanan, kiri, balik kanan kiri. aaaahhhhh,, bener bener nikmat rasanya. bisa ambil nafas panjang dan dalem lagi. Alhamdulillah. ya memang, kita ni mesti siap di sentil sama Allah kapan aja. mesti siap ya. sekarang juga walaupun kondisi fisik sudah membaik, tetapi tetep ga boleh lupa sama waktu2 sakit dulu, ga boleh lupa sama Sang Pemberi Kesehatan, bersyukur tiap saat. sabar adalah kunci segalanya.
kabar ketiga adalah dua minggu lagi saya ikutan JLPT N3. Hehehehe,,dua taun di jepang cuma ikutan N3? hehehe,,sadar diri euy. ga belajar intensif juga, ga latihan sering juga, jarang dipake juga, jadi intinya ikutan tes juga sekedar iseng. (tapi tetep ngarep lulus *amiiin). dan saya baru sadar, kalau saya sudah lupa bagaimana caranya belajar yang baik. hemmmm,,rasanya sudah lama ga belajar buat ujian tertentu. kalo inget-inget, dari dulu juga tiap belajar pasti sambil nundutan, dan ujung2nya tertidur dengan buku terbuka, dan pas paginya pasang muka santai padahal mah hati teh udah rock and roll. yah, dua minggu harus dihadapi! yoshhh
kabar keempat, kemaren ulang taun bulan perkawinan, 20 bulan. yuhuuuuuu,,,swit suiiiittttt...gada yang spesial juga sih. hanya karena saya inget aja kemaren tanggal 20. kebetulan saya yang lagi geje ini nemenin si bos eksperimen di labnya kemaren. *parah pisan, masa isteri diajak ngelab?*. ini sebenernya karena permintaan saya yang bosen di rumah, dan saya yang cukup mengerti bahwa eksperimen di hari minggu dan sendirian adalah hal yang sebaiknya dihindari karena menyebabkan gangguan konsentrasi, indikasi kejenuhan tingkat tinggi, juga adalanya dilatasi waktu yang entah kenapa kalau sendirian di hari libur ada di lab itu waktu akan terasa lebih lama. *ah naon sih*. intinya mah saya ada disana saat si doi nge lab. kabar gembiranya yang didapat adalah kata-kata doi, "dari sekian banyak eksperimen yang saya lakuin, kok kali ini datanya asa araraneh ya pas ada kamu". gubrak!!! *keluar rumah, banting pintu, beli es krim,pundung!*
kabar kelima, saya mau bilang kalau nulisnya segini aja dulu ya.
ciawwwww. ^_~
31 Oktober 2011
mengumpulkan semangat
kore kara ganbarimashoo
sabar dan ikhlas
juga doa tetap diucapkan buat orang yang direpotkan
air mata jatuh bukan karena apa yang didapat,
tapi karena sedih dan haru telah membuat sekeliling khawatir.
kalo kata pingkan mambo mah "a'ku ba'ik ba'ik saja..",
dengan suara ngirung yang khas tentunya.
saya seneng kok, karena mungkin ini adalah jawaban atas apa yang saya gelisahkan.
Allah memang Maha Tahu kebutuhan makhlukNya.
yosh! kore kara ganbaru!
26 Oktober 2011
klasifikasi rumah sakit
Jadi sempet nyeletuk, "kalo di Jepang mungkin rumah sakit dibagi berdasarkan tingkat keparahan si penyakit, tapi kalo di negeri impian sana, rumah sakit diklasifikasi berdasarkan kemampuan ekonomi pasien", hehehehe.. Stop membandingkan! Tapi ini hanya mengungkapkan fakta kok :)
cita-cita
reporter : cita-cita kamu jadi apa?
anak : (senyum mesem-mesem malu..)
reporter : jadi polisi, tentara, dokter?
anak : jadi pemerintah
begitulah sekilas wajah anak bangsa Indonesia. wawancara singkat antara murid sd di daerah Lombok Utara dan reporter Metro TV yang sedang menyoroti kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan, tembok kelas dibatasi oleh bilik bambu dan didalamnya terdapat beberapa meja belajar tapi tanpa bangku. Anak-anak belajar dengan berdiri. namun dengan begitu, semangat belajarnya masih ada, begitu kata pembawa berita.
setelah denger cita-cita si anak yang pengen jadi pemerintah, saya langsung ngakak. bukan buat ngetawain mimpinya dia. tapi saya jadi mikir, apa si anak tau ya kondisi sekarang, bahwa mau jadi insinyur jalan, insinyur bangunan, peneliti energi, insinyur listrik, pokoknya profesi dengan segala tingkat ilmu yang dimiliki, semuanya adalah bukan apa-apa kalau pemerintah "tidak sejalan". sebanyak-banyaknya alumni institut gajah duduk, dan sepinter-pinternya anak-anak UI, UGM, ITS, ndak akan ada ngaruhnya buat negara kalau pemerintahnya cuma tau penguasaan kekuasaan dan memperkaya diri sendiri. yosh semoga kalo kamu jadi pemerintah, jadi pemerintah yang amanah, adil, cerdas, dan kritis ya nak!
19 Oktober 2011
sistem cacat tak mengapa asalkan...
Saya bersyukur, masih disadarkan kalau saya beli tiket, bersyukur masih ada keinginan untuk balik lagi ke tempat tiket dan membayar kekurangannya. Kalau pun mau nakal, saya bisa aja cuek bebek ninggalin stasiun dengan beban hutang 90 yen. Ga dikejar dan ga ditangkep juga.
Buat orang2 dari negara berkembang seperti saya, kesan pertama terhadap Jepang adalah disiplin, bersih, rapi, aturan ditegakkan dimana-mana. Memang tak dipungkiri, bahwa semuanya sudah tersistem dengan baik. Yang membuat sistem maupun pelaku sistem. Mau tak mau, saya sebagai pendatang pun harus dong ikutin aturan yang ada, toh memang aturan yang berlaku juga baik. Hebatnya lagi, jangan anggap sistem ini sempurna. Buktinya ketika saya di stasiun tadi, walaupun tiket tak ditelan, pintu gerbang bisa terbuka. Artinya masih ada kecacatan dalam sistem yang dibuat, masih ada saja peluang untuk berbuat curang. Namun hal itu sudah diantisipasi dengan tingkat kesadaran orang Jepang yang sangat tinggi. Dengan itu, tingkat kegagalan dari sebuah sistem pun bisa diminimalisir, walaupun ada juga orang yang kadang-kadang tidak sadar akan aturan disekitarnya.
Korupsi jarang terdengar. Seorang menteri yang menerima uang pun bisa mengundurkan diri karena malu. Ketakutan terhadap "mata orang lain" yang membuat orang Jepang sangat sadar diri. Karena saking "baiknya" orang Jepang ini, kadang disalah artikan oleh orang asing. Hal-hal yang sepatutnya dijadikan amanah, malah diselewengkan menjadi kesempatan bagi mereka "yang tidak mengerti orang Jepang" untuk memenuhi kesenangan pribadi tanpa melihat kepercayaan yang diberikan oleh si orang Jepang. Seolah-olah mereka cerdik telah membodohi si Jepang. Kesal sekali melihatnya, namun tak ada yang bisa diperbuat juga selain menjadikan itu sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Bagaimanapun akhlak/moral/perilaku lah yang menentukan keberhasilan sebuah sistem.
sakit dengan senyum
kapok. iya kapok. karena ternyata pas saya tidak berdaya, banyak hak hak sang su yang tidak bisa dipenuhi. tidak bisa membuatkan makanan enak, ga bisa mempersiapkan bento, cucian baju numpuk, ga bisa pasang tampang manis, mau senyum aja susah, banyak minta dibeliin ini dan itu. ga enak ga enak! beneran deh!
tapi, kekuatan keyakinan itu pasti ada, keyakinan terhadap Allah SWT yang akan menyembuhkan. keyakinan bahwa dibalik sakit yang dirasakan, ada dosa-dosa yang tergugurkan. Insya Allah.
:)
13 Oktober 2011
dan kalau ucapan itu diucapkan di tahun-tahun yang lalu, dan pada saat ini kita pun lupa apa-apa saja yang diucapkan dan dijanjikan, bahkan dengan siapa nya pun kita lupa, itu bagaimana ya? rasanya banyak banget yang saya janjikan atau yang diucap, tapi sampe saat ini belum dipenuhi. dengan siapanya saja lupa, apalagi yang diucapkannya,,huaaaaa,,mau minta maaf, tapi ke siapa??????
12 Oktober 2011
Pengalaman (bukan pertama) di SD jepang
Sebagian wajah dari mereka sudah familiar di ingatan saya karna kadang ketemu di supermarket. Apa yang saya siapkan juga tidak begitu heboh. Kalo sebelumnya tiap disuruh mengenalkan tentang Indonesia, saya mikir tentang budaya lah, kesenian lah, baju adat lah, alat musik tradisional lah, dan semacamnya yang saya sendiri pun tidak begitu memahami :p (fake indonesian). Kali ini saya menyiapkan tentang sekolah di Indonesia, terutama sekolah dasar. Oiya sebelum memutuskan memilih topik ini saya sempet konsultasi sama neng Firda, adiknya Ihsan, yang sekarang jadi anak yang saya dampingi di sekolah jarak jauh (panjang betul keterangannya). Kata Firda yang saat ini bersekolah di SD Jepang, "Kalau mau ngenalin Indonesia, kenalin aja permainan anak-anaknya, terus sekolah di Indonesia itu bagaimana". Ya berdasarkan sudut pandangn murid kelas 5 SD itulah saya mengambil keputusan. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari memang lebih mudah diingat.
Pertama-tama dateng ke kelas, saya masih nunggu siapa tau ada sensei yang akan dateng, tapi semua itu hanya ada dalam cita cita saya yang tidak terwujud (deziiig). Dimulailah kelas kami. Dimulai dengan pertanyaan pertama dari mereka "Di Indonesia makanan apakah yang terkenal?", "Nasi goreng atau sate ayam", jawab saya. Karena nasi goreng dengan spelling orang jepang yang menjadi nashi gor(l)eng, adalah makanan yang cukup terkenal datang dari Indonesia, dan sate ayam karena biar mudah menganalogikan dengan barbeque atau yakitori. Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan mereka datang bergantian. Nah terus kapan saya presentasinya? ternyata ga perlu presentasi. Pertanyaan yang mereka kasih saya jawab dengan materi presentasi yang sudah saya siapkan, seputar sekolah Indonesia. "Sekolah disana segede apaan?", "Aturan disana kaya gimana?", "Pelajarannya apa aja?", "Anak anak disana suka maen apa aja?", ya seperti itu. Jangan bayangkan saya bisa jawab tanpa hambatan dengan bahasanya Matsumoto Jun. Ba bi bu be bo,,,endut-endutan, seperti itu. tapi yang penting mah saya hepi. (egois pisan!).
Pas waktu makan siang, kebetulan hari ini adalah hari makan siang di luar kelas. Saya lebih milih makan bareng mereka diluar dibanding makan bareng senseitachi di dalam ruang kepala sekolah. hehehehe.. Tanpa undangan, saya pun bergabung dengan murid2 tadi makan di lapangan sekolah. Saat makan, ga banyak yang diobrolin, hanya sepatah duapatah kata doang. Saya asyik ngeliatin mereka makan, juga ada anak kelas 1 yang makan bareng kita. Sepertinya anak kelas 6 ini harus punya saudara yang duduk di kelas 1, maksudnya semacam kakak-adik angkat di sekolah. lucu banget deh.
Pengalaman datang ke SD jepang merupakan pengalaman yang selalu menarik (mau nyontek apa yang mereka lakukan di sekolah soalnya, hehehehehhe).
nb : sayang hari ini ga banyak ambil foto :(
06 Oktober 2011
lupa password
05 Oktober 2011
Undokai
Kembali ke undokai. Undokai sendiri biasanya dilaksanakan oleh sekolah-sekolah, dari tingkat TK maupun Universitas, bahkan sepertinya di perusahaan-perusahaan pun ada hanya saja saya tidak tahu. hehehehe.
Apa sih yang dilakukan di undokai? tahun ini adalah pengalaman pertama saya melihat undokai sebuah SD secara langsung, dari awal sampai akhir. Sebelumnya saya hanya tahu dari cerita orang2 dan foto saja. Aa yang sudah pernah melihat undokai di SD yang sama tahun lalu, mewanti-wanti saya untuk tidak luput menyaksikan undokai, tentunya dengan peringatan "jangan lupa bawa kamera!". Saya kan makin penasaran tentang apa yang dilakukan anak2 SD itu di undokai.
Pada hari Sabtu lalu, tanggal 1 Oktober, putra2nya Teh Dewi, Azis dan Eka yang masing-masing duduk di kelas 2 dan 3, melaksanakan undokai disekolahnya. Saya pun dengan senang hati menonton mereka. Pagi2 sekitar jam 8.20 saya sudah sampai di sekolah mereka. Saat itu sedang dilakukan prosesi upacara pembukaan. Anak-anak yang dibagi menjadi 4 grup besar masuk kedalam lapangan dan berbaris berdiri di tempat yang sudah diatur sambil diiringi musik dari kelompok marching band yang ada di depan lapangan. Setiap kali mendengar suara terompet kaya gitu, pasti saya langsung merinding. Apalagi ditambah suara derap kaki, dan aura semangat berkompetisi dari anak-anak yang sangat terasa,, makinlah merinding. Tak lupa saya keluarkan kamera dan merekamnya. Anak-anak dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada warna merah, kuning, hijau, dan biru. Masing-masing kelompok terdiri dari murid-murid kelas satu hingga kelas enam, digabung. Mereka akan melakukan lomba-lomba seperti balap lari, tarik tambang, lari estafet, memasukkan bola, mengambil tongkat. Untuk setiap lomba/permainan ada kategorinya, misalkan balap lari untuk kelas 4, kelas 2, kelas 1. Di masing-masing kategori itu sudah pasti ada peserta dari 4 kelompok warna yang berbeda. Nah warna yang menang dalam kategorinya akan menambah poin untuk kelompok besarnya (yakni kelompok warna). Ada juga kategori yang dicampur semisal lomba estafet untuk kelas 4 dan 5, atas lomba mentransfer bola yang dimainkan dari seluruh siswa (kelas1 s/d kelas 6). Tapi pada intinya mereka yang bermain pasti mewakili kelompok besarnya. Dan diakhir acara, poin yang di dapat dari masing-masing permainan dan kategori akan dikumpulkan, sehingga kelompok warna yang mengumpulkan poin terbanyak, itulah juaranya. Oiya, sekolah juga tidak lupa mengikutsertakan orang tua. Ada satu permainan yang hanya dimainkan oleh orang tua (juga dibagi kelompok warna), dan si anak dari kelompok yang sama akan memberikan dukungannya.(berasa ribet gini ya nulisnya, maafkan).
Kenapa menjadi sangat menarik? Acaranya memang menarik. Undokai ini, bagi anak-anak adalah ajang "memamerkan" kemampuannya di hadapan orang tua. Di undokai ini, selain permainannya itu sendiri, tentu harus ada panitia yang menyiapkan semua kebutuhan dalam setiap permainan. Panitia yang menyiapkan ini pun datang dari anak-anak. Biasanya anak2 kelas 4,5, dan 6 yang menyiapkan ini. Tidak melulu itu-itu saja orangnya, namun bergantian. Ketika anak kelas 3 yang bermain maka anak kelas 6 yang menyiapkan segalanya, dan ketika anak kelas 6 yang bermain, anak kelas 4/5 yang menyiapkan. Pokonya masing-masing orang punya tugasnya sendiri. Oiya di upacara pembukaan pun, musik dilakukan oleh anak-anak kelas 4/5/6, konduktornya pun dari anak2. MC juga dari para siswa, ada pula sambutan dari perwakilan murid yang membuka acara undokai. Di masing-masing kelompok besar yang saya sebutkan sebelumnya, juga ada pemimpin nya. Si pemimpin ini sebagai pemandu sorak bagi teman-temannya, dia membawa bendera, dia meneriakkan kata-kata semangat, dan katanya sih suatu kebanggaan bisa ada di posisi itu. Ahhhhh,,terharu. Selain segala sesuatunya dikerjakan oleh para siswa, yang bikin paling saya ternganga adalah ketika mereka bisa sangat cekatan, disiplin dalam masalah waktu. Sepertinya tidak ada waktu yang terbuang. Tidak ada jeda dari satu permainan ke permainan lain. Sebelum satu permainan selesai, peserta permainan berikutnya sudah ada di pintu masuk lapangan, dan mereka akan masuk seiring peserta permainan lama keluar lapangan. Oh no! saya aja mikir, kalo mahasiswa aja belum tentu bisa mau diatur kaya gitu!
Lalu, kalau semua yang melakukan siswanya, gurunya ngapain dong? guru juga turut serta membantu. Setiap kelompok besar ada guru pendampingnya, dan mereka memakai warna baju yang sama dengan warna kelompoknya, memakai celana olahraga, sepatu dan ikat kepala. Guru ikut membantu mengarahkan, tapi seolah-olah arahan dari guru itu bagaikan menyuruh kepada robot. Setiap anak sudah tahu tugas dan tanggung jawab masing-masing. Guru ikut memberi apresiasi, memberi semangat, ikut riweuh lari-lari juga. Ya semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kekacauan, kesemrawutan, kechaosan. Baik yang mengatur maupun yang diatur sama-sama tau akan tugasnya.
Sudah disediakan tempat khusus bagi orang tua/siapapun yang ingin menonton. Bagian dalam lapangan terdapat kursi-kursi untuk para siswa duduk (kursi mereka yang mereka bawa sendiri dari kelas, dan disusun berdasarkan kelompok), dan lapangan kosong untuk tempat dilakukannya lomba. Sedangkan di pinggir lapangan suda ada tali panjang di sekelilingnya agar orang tua tidak memasuki bagian dalam lapang. Orang tua tidak boleh ikut duduk manis disamping anaknya, orang tua hanya menonton. Sudah itu saja. Selebihnya anak akan sangat mengikuti apa perintah dari gurunya, bukan dari ortunya. Makan siang pun, para siswa akan makan bersama dengan temannya, tidak dengan orang tua. Aduh kok saya jadi ga berurutan gini ya nulisnya! ini saking senengnya pengen cerita.
Yang saya dapat ambil dari undokai ini, tentunya acara ini memang dikhususkan untuk kebutuhan jasmani, fisik, meningkatkan vitalitas tubuh dimana permainan yang dilakukan sangat sederhana tetapi menguras keringat. Setiap anak mesti berpartisipasi dalam undokai, dan karena permainannya pun permainan umum jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Namun selain itu, hal paling penting juga banyak sekali nilai-nilai yang dapat dijadikan bahan pelajaran. Tidak ada pemenang individu, tidak ada arogansi individu, tidak ada seorang bernama yang menjadi pemenang. Masing-masing anak berjuang untuk kelompoknya. Kekalahan pribadi ya kekalahan kelompok, kemenangan pribadi ya kemenangan kelompok, begitu sebaliknya. Kalaupun ingin menunjukkan kemampuannya, si anak tidak mempersembahkan untuk teman, tapi untuk orang tua yang melihatnya. Pembagian tugas secara umum membuat si anak harus benar-benar melakukan perannya dengan baik, jika tidak orang lain akan dirugikan olehnya. Itu lah yang orang Jepang tanamkan sejak kecil. Aaaaahhhhh..... keren keren lah. Harus nonton sendiri pokonya. Juga salut buat para guru/pendidik yang telah kerja keras untuk membuat sistem berjalan dengan baik, yakni dengan memberikan contoh kepada anak didiknya serta ikut terjun langsung dalam setiap kegiatan. Itu baru namanya contoh. (tidak seperti pembagian jadwal piket kelas dulu, belum pernah liat guru juga ikut serta bersihin kelas, mereka piketnya di ruang guru, si anak mana bisa lihat ya)
Yosh itulah undokai. Kembali ke masa sekolah dulu, di sekolah saya juga ada yang namanya pekan olahraga dan seni (poseni) yang biasanya dilaksanakan sehabis masa ulangan umum. Namun olahraga yang diadakan adalah olah raga kelompok kecil seperti basket, bola, voli, dan hanya orang yang tertarik saya yang akan ikut berpartisipasi dalam porseni, betul kan? Jika tidak ada anak yang tidak ikutan ya tidak apa-apa, toh masih ada orang lain yang mewakilkan. :D
nb: karena azis dan eka berada di kelompok kuning, jadi kebanyakan foto adalah kelompok kuning :)
19 September 2011
nano block covered agenda
baso
12 September 2011
telepon pertama
tlilililit tlilililit (bunyi telepon ceritanya - bukan kriiiing kriiiiing)Dik Ind*h pun terbengong karena telah mendapat telepon dari seorang senior di sekolah yang baru 3 mingguan dia masuki. heran heran heran. basa basi paling basi. hahahaha
I : "halo"
R : "Halo,,Bisa bicara dengan Ind*h?"
I : " dari siapa ini?"
R : " Dari R**gga"
I : "iya ini Ind*h, R**gga? ada apa ya?"
R : "Iya mau tanya, kalau jadwal latihan kapan ya?"
(ceritanya nanya jadwal latihan softball)
I : "Gatau ya kapan, belum ada pengumumannya lagi"
(dalam hati -- idih kan dia ketuanya, aneh banget nanya2 segala!)
R : "Oh, belum ada ya,,yaudah atuh. Assalamualaikum"
I : " Walaikumsalam"
klik,,tut tut tut tut
09 September 2011
ambisi
Ambisi menurut KBBI :
am·bi·si n keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;
tapi kok bau-bau nya pengertian negatif ya? Mungkin karna arti dalam kurungnya itu nafsu ya.
Sebenernya hanya perasaan dik indah saja yang mengatakan bahwa ambisi itu lebih condong ke arah negatif. Padahal kan pengertian secara utuhnya itu jelas bertujuan positif.
Kata Ambisi ini tiba-tiba ngetok pikiran saya, tiba-tiba melesat di pikiran saya ketika saya sedang diam diantara orang2 yang sedang berbicara mengenai masa depan, kerjaan, keluarga, pendidikan anak, biaya hidup, dll. Ibarat lagi nunggu mau nyebrang di pinggir zabra cross ketika lampu di jalan sedang hijau, saya ngelamun dan tiba2 ada mobil yang melesat dengan kencang dan membuat kerudung saya tersibak angin, begitulah kata ambisi itu muncul. Membangunkan saya dari sebuah ketidaksadaran(?).
Mendengar rekan2 berkisah tentang kalau kerja mesti begini, uang yang didapat minimal segini, karena anak2 kan butuh fasilitas yang begini yang begitu, biar kualitas tetap terjaga maka harus disokong dari sana sini. Belum lagi untuk biaya hidup sehari-hari, inflasi kian meninggi, deelel..huwaaaaa..
sedangkan dalam otak saya hanya berpikir agar hidup tenang, damai, nyaman, sentosa, bahagia lahir batin, tentunya dengan melakukan kegiatan2 (atau kerjaan?) yang sudah saya impikan.Tanpa (atau belum) memikirkan hal-hal sampingan yang pada akhirnya untuk itulah kenapa saya harus bekerja (baca: berkegiatan). Saya kemudian jadi bertanya, apa saya kurang berambisi? Apa saya kurang berambisi? Apa salah ga punya ambisi? Tanya saya sekali lagi pada diri ini. Hal yang sama juga saya tanyakan pada si pacar. Jawabannya, “Engga harus kok. Jangan terlalu berambisi juga. Rencana memang harus ada, sudah mesti dipikirkan apa saja yang akan dijalani kedepan. Tapi jangan terlalu keras juga. Semuanya mesti dikondisikan dengan lingkungan sekitar. Dengan kemampuan finansial yang dipunya, dengan kemampuan fisik yang dimiliki, dengan standar hidup orang kebanyakan, dengan segala fasilitas yang ada di tempat kita menginjakkan kaki ini”. Wuhuuuyyyyy cukup menenangkan, tentunya tidak hanya dengan kalimat2 pendek itu aja, perbincangan terus dilanjutkan selama berjam-jam (yang bikin saya heuay wae).
Biarlah hati tetap meminta dan berdoa. Otak serta bekerja, raga yang bertindak. Tangan ini akan tetap memegang mimpi, tidak terlalu kuat juga tidak terlalu lemah.
07 September 2011
decorated soap
06 September 2011
Yosh! Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan dan perubahan!
apa yang saya tulis disini adalah apa yang menurut saya benar, jadi silahkan kalo berbeda pikiran. dan saya juga bukan orang yang sempurna dan udah bener-bener melakukan hal diatas itu.
Semoga Allah senantiasa bersama-sama dengan kita semua. Aamiin.
05 September 2011
kartu balasan
oiya sebetulnya sehabis saya kirim kartu dan sebelum lebaran, saya kan sempet mampir ke tempat Firda di Kobe. Alhamdulillah masih bisa menyambung ukhuwah islamiyah (kata teh risma kan silaturahim hanya untuk kerabat). kami juga sempet foto bareng! hihihihihi
23 Agustus 2011
22 Agustus 2011
kartu lebaran
hari gini dapet atau ngirim kartu lebaran? ga musim kaleeee..
udah ada facebook, udah ada sms (apalagi banyak yang gratisan ke sesama operator), udah ada twitter, hayo apa lagi coba sekarang.. ga perlu lah itu beli kartu di toko terus beli perangko dan ngirim lewat kotak surat. ribet. kalo ada yang praktis kenapa cari yang susah?* jadi penasaran apakah anak muda (baca: anak SMP kebawah), tahu atau punya pengalaman mengirim surat ke kantor pos?*
saya sebenernya pengen nostalgila aja jaman-jamannya saya suka berkreasi *atau bikin sampah baru?* untuk bikin yang namanya kartu lebaran. Kira-kira dimulainya dari SD ya. Awalnya karena para kakak2 suka dapet kartu lebaran, sedangkan si gue kagak *siapa juga yang berkirim kartu di usia 1-3 SD?*. Kalo maen ke toko pas bulan puasa pun, banyak deh kartu yang dijual. Ya walaupun harus dikatakan sangat jujur, model dan desainnya sangatlah ehem,, biasa. Antara pengen ngirim kartu ke temen, tapi ga mau juga beli di toko, da goreng tea modelnya, tidak sesuai selera lah. Lalu suatu hari, saya lihat kaka pertama yang lagi ngelukis gambar di sebuah kartu. Pas saya tanya itu buat apaan, katanya buat dijadiin karti lebaran. Mupeng!. beda lagi sama kaka kedua, dia mah bikin dari bahan2 daur ulang (tetep beli juga sih bahan2nya). dan hasil yang dibikin kedua kakak2 saya itu, bagus menurut saya. Rapi. Pendek kata, saya pengen dong coba-coba bikin. saya lupa bagaimana dan bahan-bahan apa saja yang jadi korban tangan tidak bertanggung jawab ini. intinya tiap kali bikin, yang harusnya jadi banyak ,paling cuma jadi satu biji. wakakakakakk. jadi runtahlah itu semua.
Namun seiring berkembangnya teknologi, dimana proses pengiriman pesan bisa dilakukan hanya dalam beberapa detik saja, lambat laun kartu lebaran pun kurang diminati. Baik membeli di toko, maupun bikin sendiri. Saya sendiri, sejak punya hape (kelas 3 SMA - padahal terakhir bikin juga mungkin kelas 1 SMP dan vakum beberapa tahun), ga pernah lagi bikin kartu, kecuali bikinnya atas nama organisasi. Ya padahal kalo saya sih, perasaan antara menerima kartu dengan mendapatkan sepenggal sms lewat hape, rasanya lebih seneng nerima kartu langsung. Jelas dengan memberi kartu, berarti memberi perhatian untuk penerima. Kedua, lebih meningkatkan kreativitas kali ya, apalagi yang bikin sendiri. Da kalau masalah konten mah, itu itu aja da. hehehehe.. Semoga memang ikhlas dari hati.
Kartu lebaran. Ga ada esensi khusus sih memang karena toh isinya sama dengan apa yang ditulis melalui hape atau fesbuk, apalagi bagi yang tinggal di negara mayoritas muslim. Namun bagi yang tinggal di negara minoritas muslim, bisa saja kartu lebaran menjadi hal yang berarti. Terutama bagi anak2. Anak2 muslim yang tinggal di Jepang ini lebih seringkali mengenal perayaan setsubun, hina matsuri, dan entahlah apalagi saya lupa.. Mereka juga ikut menggembor2kannya di rumah, karena terbawa dari lingkungan di sekolahnya. Namun untuk Idul Fitri? ya hanya keluarga dan komunitasnya muslim saja yang merayakan. dan itu pun banyak keterbatasan untuk merayakannya. Oleh karena itu saya jadi mikir untuk ikut memeriahkan kesan idul fitri ini dimata anak-anak itu. Mungkin dengan mengirim selembar kartu lebaran mereka bisa menjadi senang dengan Idul Fitri. Mungkin dengan mengirim selembar katu lebaran mereka juga punya keinginan yang sama untuk mengirim kartu untuk teman2nya, sehingga mereka juga bisa bermain dengan kreativitasnya. Mungkin dengan mengirimkan kartu, saya bisa memberitahu mereka bahwa dulu waktu jaman saya kecil ada budaya mengirim kartu :p. Ya hal-hal seperti itu yang saya niatkan ketika membuat kartu lebaran buat teman kecil saya yang ada di Kobe, Jepang dan Bussan, Korea.
Dengan segala keterbatasan ide dan skill yang saya punya, kemarin saya coba bikin kartu, hihihihi,, ya alhamdulillah, jadi walaupun kaya bikinan anak sd. bagus atau enggaknya mah relatif.
16 Agustus 2011
Tentang Makanan lagi
percaya-gak percaya waktu datang ke Jepang, saya masih tidak yakin apakah benar kalau daging ayam/sapi yang ada di Jepang itu tidak boleh dimakan? walaupun saya sudah diberi tahu sama senior kalau daging sembelihan tidak atas nama Allah dan daging yang disembelih oleh Ahli kitab itu tidak boleh. Jepang sendiri, memang negara yang bisa dibilang tidak memiliki agama, jadi tidak bisa dibilang negara Ahli Kitab. Saat itu, saya ingin memastikan kembali keyakinan saya, akhirnya saya cari2 dalil di Quran, bahkan saya telpon mamah untuk menanyakan perihal halal-haram itu ke seorang ustadz.
Q.S Al-Maidah: 3
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah [394], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya [395], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah [396], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini [397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa [398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Q.S An-Nahl : 115sudah jelas di Quran disebutkan bahwa makanan yang diharamkan adalah bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, juga hewan2 yang matinya karena terpukul, teraniaya, tercekik, terjatuh.
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
dan berikut surat untuk makanan yang disembelih oleh ahli kitab,
Q.S Al Maidah: 5
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan [402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.
diayat diatas tertulis bahwa makanan yang disembelih oleh Ahli Kitab itu halal bagi kita muslim.
Bagi saya pribadi, saya masih belum begitu jelas dengan Ahli Kitab itu sendiri. Benar memang yang disebut Ahli Kitab itu orang-orang yang mengikuti ajaran sebelum Al-Quran diturunkan, yakni ajaran yang diturunkan pada Nabi Musa Alaihisalam (Yahudi), dan diturunkan pada Nabi Isa Alaihisalam (Nasrani). Kedua ajaran tersebut yang keduanya datang dari Allah SWT, begitupun dengan Al-Quran yang menyempurnakan keduanya. Namun yang menjadi pertanyaan saya kemudian apakah para ahli kitab itu masih ada dan masih sama sampai sekarang. Para ahli kitab (negara ahli kitab) yang sekarang memang benar mengikuti apa yang Nabi Musa dan Nabi Isa ajarkan?
di jepang, saya bisa dengan mudah kalau nemu makanan yang mengandung bahan hewani sudah bisa dibilang 99% haram, karena ini bukan negara ahli kitab. sedangkan untuk negara-negara yang mayoritas penduduknya memiliki agama bahkan agama ahli kitab seperti nasrani, apakah boleh kita memakan daging yang diproduksi oleh mereka? saya ga bisa jawab juga, karena yang saya bilang tadi, apakah para ahli kitab yang sekarang ada masih mengikuti ajaran yang sama dengan yang dahulu diturunkan? itu yang menjadi keraguan saya.
Terlepas dari siapakah ahli kitab itu, maka saya lebih memilih untuk tidak dipusingkan dengan makanan yang disembelih oleh ahli kitab itu.
kemudian. hal lain lagi yang perlu diperhatikan, adalah proses mematikan hewan yang hendak kita makan. Islam mensyariatkan untuk menyembelih hewan dengan menyebut nama Allah. Juga untuk yang dilakukan oleh para ahli kitab, proses yang dibolehkan adalah dengan menyembelih. Tidak boleh memakan makanan dari hewan yang hewannya mati dengan cara dipukul, ditembak, disuntik, dll.
Ya, seperti itu pemahaman saya.
Lantas bagaimana dengan kata "keterpaksaan" yang disebutkan dalam ayat-ayat diatas? saya juga tidak begitu tahu sejauh mana batas kita hingga kita melakukan sesuatu dengan terpaksa. kalau menurut saya pribadi, selagi masih ada makanan yang sudah jelas kehalalannya, maka belum ada kata terpaksa untuk memakan makanan yang diharamkan. sebenarnya kalau dari yang saya amati sih, bukan terpaksa makan, tapi ketidakmampuan untuk melawan nafsu yang ada di dalam diri kita sendiri.
seperti itu.
Yuk ah mulai hati-hati lagi.
Wallahualambisawab.
14 Agustus 2011
11 Agustus 2011
materi
Sangat jelas Allah menguji beliau dengan nikmatnya harta yang sekonyong-konyong dia dapatkan, padahal sebelumnya maut sudah didepan mata. Saya beneran ga bermaksud membuka aib seseorang, namun hal itu bisa menjadi pelajaran buat kita semua yang melihatnya. Materi adalah sebuah ujian duniawi. Saya jadi takut banget. Makanya kita mah cuma bisa berdoa semoga kita selalu berada di jalan yang diridhoi Allah. Harta yang didapat, saya mah selalu ingin harta yang penuh berkah. Dikasih banyak Alhamdulillah. Selalu ingat kalau masih ada yang lebih berharga dari sekedar harta dunia. Selalu ingat kalau maut bisa saja tiba-tiba datang. Memang sebaik-baiknya harta itu dipegang oleh orang yang shaleh. Wallahualam
