Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
28 Juli 2013
20 April 2013
Assembly Ellipse
Setelah beberapa pekan, rasanya baru kali inilagi menikmati hari sabtu tanpa mau mikir macem-macem. Walaupun sekarang saat saya menulis ini saya ada di kantor nya si Bos yang lagi lemburan. Baik di rumah maupun di kantor bos bisa sama-sama nge-net, tapi aye milih di kantor, biar ada temennya. wakakakakakk..
Seminggu lalu saya sempat disibukkan dan dipusingkan sama salah satu kegiatan sekolah yang punya nama "Assembly". Assemblai ini kegiatan untuk setiap kelas, dimana setiap kelas mesti menunjukkan kemampuan dalam bermain peran. Nah pertunjukkan nya bukan semata-mata menampilkan kisah romantika kehidupan siswa anak SMP, sebenernya sekolah membuat kegiatan ini tidaklah lain untuk membantu anak-anak memahami materi-materi pembelajaran yang sedang mereka pelajari. Karena setiap anak diyakini punya kemampuan cara belajar yang berbeda, maka sekolah pun yakin pasti diantara sekian anak di sekolah itu ada yang baru bisa mengerti jika dia sudah bermain peran :). Dan ternyata memang ada!! Ditambah lagi, setiap pertunjukkan assembly ini mesti mengaitkan apa yang disampaikan melalui drama dengan sumber hukumnya orang islam: Quran dan Hadits. Eh salah deng,,,mestinya berangkat dari sumber hukum dulu, lalu ke materi belajar, lalu ke drama.
Oke, ini adalah assemblai kedua yang saya pegang (saya ini asisten wali kelas 7). Waktu di semester pertama, saya mengangkat teman Bullying, karena pada saat itu ada topik bullying diantara murid di kelas saya. Saya dan partner meminta izin ke sekolah buat melenceng dari konten materi belajar, karena kami pikir saat itu adalah waktu yang tepat untuk "menegur" anak-anak dengan cara halus, dan saat itu juga sehabis UTS jadi gapapa lah kalo topiknya bukan materi belajar. Saat itu bisa dibilang assembly nya kurang memuaskan buat saya pribadi, karena perdana buat saya, naskah tidak mangstab, audio yang minim, dan saya lupa apalagi. Yang saya paling inget adalah, pertunjukkan saat itu berlangsung sangat-sangat-sangatlah cepat saking kurang mantap persiapan. Tapi untuk assemblayberikutnya, saya memutuskan untuk membuat yang lebih baik.
Saya awalnya ga mau kalo cuma tim wali kelas yang bingung sendiri mikirin assembly ini, jadi tema dan naskah kami serahkan pada anak-anak. Tapi apaboleh dikata, ya,,,namanya juga anak ABG, kalau baca cerita, kalau nonton cerita, pengennya yang berbau bau pertemanan atau tokoh idola. Saya lupa memberitahu kalau asal muasal Assembly ini dibikin untuk mempermudah mereka dalam menyerap materi belajar. Ditambah lagi, assembly dua kelas sebelumnya mengangkat topik yang berhubungan dengan dua tema itu, jadi anak kelas saya mikir sepertinya tidak akan apa-apa kalau mereka mengangkat topik yang sama. Pas tau cerita yang dibikin anak-anak seperti itu, saya langsung potong, menjelaskan kembali latar belakang assembly, kemudia mengungkapkan ide yang sudah saya punya. Dan mereka mengerti dan kemudian mengembangkan ide cerita saya itu.
Alhasil benar saja, salah seorang anak langsung membuat poster yang berkaitan dengan judul pertunjukkan, mengedit disana sini. sebagian sudah ada yang brainstorming ke saya tentang apa yang akan dia lakukan, sebagian membuat naskahnya sendiri, sebagian memikirkan gaya apa yang harus dia lakukan saat sedang on action. Ide nya sederhana, tentang suatu negeri yang sudah kacau balau lalu sang raja menginginkan perubahan negeri ny itu melalui pendidikan. Akhirnya sang raja membuat kompetisi untuk mencari para ahli ilmu. Dan drama yang disajikan berisi tentang kompetisi itu. Hehehhehehe...
Kita semua kerja keras, membuat lagu, memilih lagu, mengedit lagu, membuat naskah, membuat properti, melatih kekompakkan, dan untuk pemilihan pemain saya pikir sudah cocok dengan anak-anak. Mengingat dulu di assembly pertama, saya masih belum liat karakter anak anak di kelas, jadi masih ada ketidaktepatan peran. Kalau ditanya bagaimana saat persiapan, fiuuhhh,,,saya sempet esmosi beberapa kali, heseeeeeee pisan membuat mood anak-anak tetep ok. Pas disuruh ini itu juara lembamnya. Namun, emosi buruk saya berubah di hari pertunjukkan. Ketika hari pertunjukkan, Alhamdulillah, respon positif dari semua yang nonton. Mungkin karena agak beda dengan assembly sebelumnya makanya ada nilai lebih di assembly kami (iya kita niat bikin poster dan software pendukung soalnya). Dari awal penonton yang terdiiri dari orang tua siswa,siswa lain, dan guru-guru dibikin ketawa-ketawa sama arktor dari kelas kami. dan sampe akhir pun semua masih ketawa-ketawa. Saya yang ada di belakang panggung sampe nangis, nangis karena anak-anak itu ternyata memang mampu untuk memberikan yang terbaik. Mereka lebih keluar ketika mereka dihadapkan pada banyak orang, kepercyaan diri mereka muncul ketika mereka diapresiasi. Ya, that is another point.
Seminggu lalu saya sempat disibukkan dan dipusingkan sama salah satu kegiatan sekolah yang punya nama "Assembly". Assemblai ini kegiatan untuk setiap kelas, dimana setiap kelas mesti menunjukkan kemampuan dalam bermain peran. Nah pertunjukkan nya bukan semata-mata menampilkan kisah romantika kehidupan siswa anak SMP, sebenernya sekolah membuat kegiatan ini tidaklah lain untuk membantu anak-anak memahami materi-materi pembelajaran yang sedang mereka pelajari. Karena setiap anak diyakini punya kemampuan cara belajar yang berbeda, maka sekolah pun yakin pasti diantara sekian anak di sekolah itu ada yang baru bisa mengerti jika dia sudah bermain peran :). Dan ternyata memang ada!! Ditambah lagi, setiap pertunjukkan assembly ini mesti mengaitkan apa yang disampaikan melalui drama dengan sumber hukumnya orang islam: Quran dan Hadits. Eh salah deng,,,mestinya berangkat dari sumber hukum dulu, lalu ke materi belajar, lalu ke drama.
Oke, ini adalah assemblai kedua yang saya pegang (saya ini asisten wali kelas 7). Waktu di semester pertama, saya mengangkat teman Bullying, karena pada saat itu ada topik bullying diantara murid di kelas saya. Saya dan partner meminta izin ke sekolah buat melenceng dari konten materi belajar, karena kami pikir saat itu adalah waktu yang tepat untuk "menegur" anak-anak dengan cara halus, dan saat itu juga sehabis UTS jadi gapapa lah kalo topiknya bukan materi belajar. Saat itu bisa dibilang assembly nya kurang memuaskan buat saya pribadi, karena perdana buat saya, naskah tidak mangstab, audio yang minim, dan saya lupa apalagi. Yang saya paling inget adalah, pertunjukkan saat itu berlangsung sangat-sangat-sangatlah cepat saking kurang mantap persiapan. Tapi untuk assemblayberikutnya, saya memutuskan untuk membuat yang lebih baik.
Saya awalnya ga mau kalo cuma tim wali kelas yang bingung sendiri mikirin assembly ini, jadi tema dan naskah kami serahkan pada anak-anak. Tapi apaboleh dikata, ya,,,namanya juga anak ABG, kalau baca cerita, kalau nonton cerita, pengennya yang berbau bau pertemanan atau tokoh idola. Saya lupa memberitahu kalau asal muasal Assembly ini dibikin untuk mempermudah mereka dalam menyerap materi belajar. Ditambah lagi, assembly dua kelas sebelumnya mengangkat topik yang berhubungan dengan dua tema itu, jadi anak kelas saya mikir sepertinya tidak akan apa-apa kalau mereka mengangkat topik yang sama. Pas tau cerita yang dibikin anak-anak seperti itu, saya langsung potong, menjelaskan kembali latar belakang assembly, kemudia mengungkapkan ide yang sudah saya punya. Dan mereka mengerti dan kemudian mengembangkan ide cerita saya itu.
Alhasil benar saja, salah seorang anak langsung membuat poster yang berkaitan dengan judul pertunjukkan, mengedit disana sini. sebagian sudah ada yang brainstorming ke saya tentang apa yang akan dia lakukan, sebagian membuat naskahnya sendiri, sebagian memikirkan gaya apa yang harus dia lakukan saat sedang on action. Ide nya sederhana, tentang suatu negeri yang sudah kacau balau lalu sang raja menginginkan perubahan negeri ny itu melalui pendidikan. Akhirnya sang raja membuat kompetisi untuk mencari para ahli ilmu. Dan drama yang disajikan berisi tentang kompetisi itu. Hehehhehehe...
Kita semua kerja keras, membuat lagu, memilih lagu, mengedit lagu, membuat naskah, membuat properti, melatih kekompakkan, dan untuk pemilihan pemain saya pikir sudah cocok dengan anak-anak. Mengingat dulu di assembly pertama, saya masih belum liat karakter anak anak di kelas, jadi masih ada ketidaktepatan peran. Kalau ditanya bagaimana saat persiapan, fiuuhhh,,,saya sempet esmosi beberapa kali, heseeeeeee pisan membuat mood anak-anak tetep ok. Pas disuruh ini itu juara lembamnya. Namun, emosi buruk saya berubah di hari pertunjukkan. Ketika hari pertunjukkan, Alhamdulillah, respon positif dari semua yang nonton. Mungkin karena agak beda dengan assembly sebelumnya makanya ada nilai lebih di assembly kami (iya kita niat bikin poster dan software pendukung soalnya). Dari awal penonton yang terdiiri dari orang tua siswa,siswa lain, dan guru-guru dibikin ketawa-ketawa sama arktor dari kelas kami. dan sampe akhir pun semua masih ketawa-ketawa. Saya yang ada di belakang panggung sampe nangis, nangis karena anak-anak itu ternyata memang mampu untuk memberikan yang terbaik. Mereka lebih keluar ketika mereka dihadapkan pada banyak orang, kepercyaan diri mereka muncul ketika mereka diapresiasi. Ya, that is another point.
21 Oktober 2012
Sabtu Sore #2
Sabtu, 13 Oktober
Belum juga selesai shalat, suara anak2 dari luar sudah terdengar. Saya bahkan nyaris lupa kalau saya pernah bikin janji buat belajar bareng mereka tiap sabtu sore. Karena sudah beberapakali Sabtu agenda belajar ini terhenti akibat lebaran dan kesibukan saya. Selesai salam, saya bergegas buka pintu dengan mukena masih menempel. Sudah ada lima anak yang cengengesan di depan pager. "Sekarang berlima teteh indah!", salah satu dari mereka teriak. Alhamdulillah... Bertambah dua orang yang baru. Walaupun bingung dengan materi apa yang akan dilakukan hari itu, melihat wajah mereka otak ini dipaksa untuk tidak boleh berhenti berpikir. Hari itu mereka saya kasih kertas untuk menggambar dan mereka akan bercerita tentang apa yang sudah mereka gambar.
Sabtu, 20 Oktober
Sebenernya saya berencana untuk bilang ke anak-anak yang akan datang ke rumah bahwa kelas hari Sabtu akan diubah jadi hari Minggu karena saya pikir akan agenda bersama keluarga yang waktunya sampai sore. Di samping itu, saya merasa belum menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan ini. Tapi di pagi harinya saya lupa menyampaikan perihal ubah jadwal itu, alhasil mereka datang ke rumah. Saya yang kali itu baru sampai depan rumah, menemukan mereka sedang memanggil nama saya berulang2. Wajah mereka kembali senang ketika tahu saya datang. Kali ini bertujuh. Bertambah satu orang yang baru. Total ada 8 anak yang ikut, namun seorang tidak hadir. Mengingat awalnya saya akan membatalkan jadwal, saya pun sedikit panik harus ngapain dulu karena bahan2 belum ada. Sebenarnya saya udah punya rencana, namun rencana ini melibatkan adik ipar, dan sang adik masih ada di rumahnya. Mendadak si adik di telpon dan dijemput sama si aa di depan komplek dan agenda hari itupun tertolong. Hehehehe.. Kami membuat finger puppet dari bahan flanel yang bisa juga untuk ditaro di pensil mereka. Mereka memilih sendiri warna dan bentuk yang mereka inginkan, kami membantu menggambar pola dan mereka yang menyelesaikan sisanya. Semua yang sudah dimulai harus diselesaikan, itu yang menjadi salah satu aturan di kelompok ini. Alhamdulillah, biarpun overtime sampe magrib, mereka pulang dengan ceria dan membawa apa yang sudah mereka bikin. :)
Thanks to : Bi Nda dan A Rangga.
nb: butuh masukkan dan saran tentang kegiatan kreatif buat anak2 ;)
Belum juga selesai shalat, suara anak2 dari luar sudah terdengar. Saya bahkan nyaris lupa kalau saya pernah bikin janji buat belajar bareng mereka tiap sabtu sore. Karena sudah beberapakali Sabtu agenda belajar ini terhenti akibat lebaran dan kesibukan saya. Selesai salam, saya bergegas buka pintu dengan mukena masih menempel. Sudah ada lima anak yang cengengesan di depan pager. "Sekarang berlima teteh indah!", salah satu dari mereka teriak. Alhamdulillah... Bertambah dua orang yang baru. Walaupun bingung dengan materi apa yang akan dilakukan hari itu, melihat wajah mereka otak ini dipaksa untuk tidak boleh berhenti berpikir. Hari itu mereka saya kasih kertas untuk menggambar dan mereka akan bercerita tentang apa yang sudah mereka gambar.
Sabtu, 20 Oktober
Sebenernya saya berencana untuk bilang ke anak-anak yang akan datang ke rumah bahwa kelas hari Sabtu akan diubah jadi hari Minggu karena saya pikir akan agenda bersama keluarga yang waktunya sampai sore. Di samping itu, saya merasa belum menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan ini. Tapi di pagi harinya saya lupa menyampaikan perihal ubah jadwal itu, alhasil mereka datang ke rumah. Saya yang kali itu baru sampai depan rumah, menemukan mereka sedang memanggil nama saya berulang2. Wajah mereka kembali senang ketika tahu saya datang. Kali ini bertujuh. Bertambah satu orang yang baru. Total ada 8 anak yang ikut, namun seorang tidak hadir. Mengingat awalnya saya akan membatalkan jadwal, saya pun sedikit panik harus ngapain dulu karena bahan2 belum ada. Sebenarnya saya udah punya rencana, namun rencana ini melibatkan adik ipar, dan sang adik masih ada di rumahnya. Mendadak si adik di telpon dan dijemput sama si aa di depan komplek dan agenda hari itupun tertolong. Hehehehe.. Kami membuat finger puppet dari bahan flanel yang bisa juga untuk ditaro di pensil mereka. Mereka memilih sendiri warna dan bentuk yang mereka inginkan, kami membantu menggambar pola dan mereka yang menyelesaikan sisanya. Semua yang sudah dimulai harus diselesaikan, itu yang menjadi salah satu aturan di kelompok ini. Alhamdulillah, biarpun overtime sampe magrib, mereka pulang dengan ceria dan membawa apa yang sudah mereka bikin. :)
Thanks to : Bi Nda dan A Rangga.
nb: butuh masukkan dan saran tentang kegiatan kreatif buat anak2 ;)
30 Mei 2012
random #6
Ritme yang baru ini belum bisa beradaptasi dengan baik dengan kondisi fisik ini..eh atau fisik yang belum beradaptasi ya? ya pokonya mah karena ini adalah hal yang baru, jadinya semuanya mesti disesuaikan dengan frekuensi hidup sebelumnya. Berangkat pagi-pagi pulang sore, dan di rumah pun pengennya beres-beres terus karena liat rumah yang debunya terus menebal dari hari kehari karena ditinggal yang empunya pergi terus. Alhasil hari pertama aja langsung tepar. Tapi akhirnya saya menyerah juga, nyerah dengan ga beberes rumah setiap hari, dengan ga nyuci dan nyterika setiap hari, dan tentunya ga masak tiap hari :p.
Sejauh ini sih, masih merasa penasaran dengan tempat baru ini, sungguh penasaran. Penasaran dengen teman kerja, dengam sistem kerja, dengan ilmu-ilmu yang tersedia disana, dengan kejadian-kejadian yang akan terjadi disana. Yang pasti perasaan ingin terus meningkatkan kapasitas diri itu selalu ada tiap hari.
Ketemu sama anak ABG tiap hari tuh rasanya lucu ya...hehehehe...asa mengingat-ngingat jaman waktu ABG dulu. Kalo dulu tuh jaman akeu tergila-gila dengan boyband westlife, backstreets boys, moffats. Ngeceng kaka kelas yang digilai juga oleh jutaan wanita, dan berharap kisah pada komik terjadi pada diriku, wkwkwkwk. (ini sekolah untuk belajar atau untuk seneng-seneng sih?). Ya emang daku mengakui kalau jaman SMP dulu, daku mah ga mikir banyak tentang belajar dari buku, banyakan maennya. Apalagi pas jaman-jaman punya geng bertajuk "Barzoot", hanya karena kami ber8 memakai sepatu dari merk Kazoot, pleus geng itu adalah temen satu tim di lapangan softball. hihihihihi...waduh jadi nostalgia gini..tapi emang kalo berada di antara adik-adik smp itu, memang jadi kangen masa-masa seumuran itu.
mungkin nanti-nanti akan lebih seriusan lagi kalo nulis, ini mah edisi ngacapruk sajah. :)
Sejauh ini sih, masih merasa penasaran dengan tempat baru ini, sungguh penasaran. Penasaran dengen teman kerja, dengam sistem kerja, dengan ilmu-ilmu yang tersedia disana, dengan kejadian-kejadian yang akan terjadi disana. Yang pasti perasaan ingin terus meningkatkan kapasitas diri itu selalu ada tiap hari.
Ketemu sama anak ABG tiap hari tuh rasanya lucu ya...hehehehe...asa mengingat-ngingat jaman waktu ABG dulu. Kalo dulu tuh jaman akeu tergila-gila dengan boyband westlife, backstreets boys, moffats. Ngeceng kaka kelas yang digilai juga oleh jutaan wanita, dan berharap kisah pada komik terjadi pada diriku, wkwkwkwk. (ini sekolah untuk belajar atau untuk seneng-seneng sih?). Ya emang daku mengakui kalau jaman SMP dulu, daku mah ga mikir banyak tentang belajar dari buku, banyakan maennya. Apalagi pas jaman-jaman punya geng bertajuk "Barzoot", hanya karena kami ber8 memakai sepatu dari merk Kazoot, pleus geng itu adalah temen satu tim di lapangan softball. hihihihihi...waduh jadi nostalgia gini..tapi emang kalo berada di antara adik-adik smp itu, memang jadi kangen masa-masa seumuran itu.
mungkin nanti-nanti akan lebih seriusan lagi kalo nulis, ini mah edisi ngacapruk sajah. :)
Langganan:
Postingan (Atom)
+%5B1600x1200%5D.jpg)







