Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

23 April 2014

Jadi Tour Guide

Beberapa minggu lalu saya dapat tawaran dari teman saya pemilik Trip Jepang untuk menjadi seorang guide dari klien nya. Dari pengalaman sebentar dan singkat, saya banyak mengambil hikmahnya :
  • peluang bisnis yang ternyata masih banyak banget lapaknya
  • pengetahuan jalan-jalan di dalam Jepang dengan menggunakan fasilitas untuk turis,  dimana fasilitas tersebut sangat membantu dalam hal keuangan (kanro pass, hakone pass, JR pass, subway pass, dan pass yang lainnya)
  • ketemu macem-macem orang dan belajar untuk sabar menghadapinya
  • menjadi agen transfer budaya, maksudnya apa-apa yang menjadi kebiasaan orang Jepang perlu disampaikan ke para turis sehingga setiap turis bisa mengikuti pribahasa "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung"
  • Pentingnya olahraga untuk ngejaga stamina tubuh pada saat jalan-jalan, terutama betis. hohohoho
Saya baru dua kali saja membantu sang teman dan menikmati kerjaan itu. Saya ga pernah ngebayangin sebelumnya, ternyata setiap apa yang ingin kita lakukan untuk menjadi sebuah bisnis, mungkin sepersian persen penduduk dunia ini akan ada yang menjadi pasar kita. Mungkin mental itu yang harus terus dijaga biar optimisme terhadap kerjaan sendiri yang ingin dibangun selalu ada. Semoga jaya selalu ya Mba Mia dan partner di Trip Jepang nya!

18 Februari 2014

Mencukupkan Diri

“kok, saya heran ya,, apa saya aja yang salah program, atau ga memaksakan diri buat cari uang banyak biar bisa liburan kemana gitu,,Ngeliat foto temen-temen kok rasanya gampang banget ya pergi. Ya padahal kita tau, gajinya ga seberapa, ya gatau juga sih dibalik itu”

Kalimat-kalimat diatas keluar dari  mulut suami saya, dan saya cuma bisa ketawa geli aja. Iya ketawa karena lucu. Pasalnya dia sampai saat kemarin itu, ga pernah mempertanyakan dirinya sendiri kenapa dia menjadi tidak berambisi terhadap materi, maksudnya materi yang buat digunakan bersenang-senang. Yaentah itu keluar negeri, atau keluar kota untuk nyicip nyicip hal baru, atau bahkan di dalam kota yang sifatnya “baru”. Lagipula saya juga bukan tipe yang suka jalan-jalan yang datang kesuatu tempat , ambil foto sama tempat yang didatengin, kemudian merasa senang seolah olah ga ada beban yang dipikir saat liburan, dan kembali plong setelah itu. Bukan jalan-jalan dalam arti begitu yang saya suka. Jalan-jalan/bepergian, selalu saya artikan sebagai sarana refleksi diri dan refleksi keagungan Tuhan.  Tujuan satu dari jalan-jalan adalah: bisa kembali dengan selamat. 

Yah terlepas apa itu jalan-jalan, kembali ke kalimat awal yang suami saya bilang. Iya bisa dibilang kami jarang menyengajakan diri buat mengosongkan waktu untuk pergi ke tempat wisata –sebut saja begitu. Pun dengan uang untuk kegiatan semacam itu. Dia sempet bilang, “kemana aja ya uang kita selama ini?kok kayanya ga ngehasilin apa-apa?ga pernah kemana-mana juga”. Tapi sesaat itu juga saya bantah kalimat dia dengan bilang bahwa kita berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat ini, itu merupakan hasil.  

Oke, sebut saja ketika pulang dari Jepang dua tahun lalu. Dengan sejumlah uang hasil menabung, maka kami punya daftar rencana akan digunakan untuk apa saja uang itu. Saat itu, rangga belum dapat gaji berkala dari kerjaan, saya juga dapat penghasilan yang cukup untuk operasional saya sendiri selama sebulan. Namun, siapa diduga,di akhir tahun kepulangan ke Indonesia itu, saya harus menjalankan operasi juga pengobatan pasca operasi yang makan sejumlah uang dari tabungan itu, yang cukup lah buat bayar DP mobil kalo kami mau.  Habis tabungan kami. Kami saat itu, sama sekali tidak merasa kekurangan sedikit apapun, kami bersyukur karena Allah SWT selalu punya rencana lebih baik.Karena ga lama setelah itu, Allah SWT kasih rezeki lewat jalan lain dan dalam bentuk lain.

Juga untuk laptop saya yang waktu itu kena musibah, laptop yang selalu digunakan buat kerja sehari-hari terkena air akibat ulah kecerobohan saya. Ya salahkan manusia, tapi mesti pandai juga ambil  hikmah.  HIkmahnya adalah saya jadi kembali ngobrol sama si mamah tanpa harus pegang laptop, karena sebelum laptop saya itu mati, hampir setiap diajak ngobrol sama mamah, pasti saya juga sedang melakukan aktivitas lain dengan laptop. Bahkan saya sempet berpikir bahwa di hati kecil si mamah ada rasa syukur ketika laptop saya bermasalah dan pada akhirnya dia bisa ngobrol focus sama saya. Awalnya saya dongkol dengan ulah saya dan mikir lagi untuk ngumpulin uang beli laptop baru. Lalu saya ditegur, “baru juga kehilangan benda, bukan nyawa!”. Yes, tertohok. Akhirnya saya lupakan kejadian laptop itu tanpa ada rasa sesal.  Dan beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah doi dapet bonus dari kantornya yang ga pernah diduga, dan akhirnya laptop baru dibeli juga (laptop baru buat dia, yang doi diwarisi ke aye). Karena  Allah ingin melihat bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian yang menimpa kita.

Juga kejadian kemarin, dimana handphone yang baru dipakai empat bulan saja, harus bernasib mandi di mesin cuci. Tidak biasanya rangga nyimpen hape dia di saku celana,biasanya sudah dia keluarkan seluruh isi di saku sebelum ganti pakaian. Tapi memang sudah harus terjadi, jadi ya terjadilah. Tinggal pinter-pinternya kita ngambil hikmah. (salah satu hikmah adalah si doi ga perlu sering sering cek hape lagi buat maen game Battle Camp,,hohoho *evilsmirk* eh, tobat ah. Sama perlu mempersiapkan diri , hati, dan kocek kalo ternyata si hape rusak dan mesti batalin kontrak dan bayar sejumlah uang untuk pemutusan kontrak dan sisa cicilan). Ya mungkin Allah lagi menguji kita dengan kejadian ini.

Juga termasuk masalah keturunan. Pernah suatu malam saya tanya sama doi tentang “gimana jika memang Allah tidak menitipkan anak lewat saya?”. Jawabannya sih ga usah di bahas lah ya, privasi itu mah. Buat saya, untuk bisa berani bertanya tentang itu butuh kekuatan besar (lebay kan!). Eh beneran loh! Bukannya setiap perempuan ingin merasakan melahirkan? bukannya setiap perempuan ingin merasakan jadi seorang ibu kandung? Saya juga begitu, tidak dipungkiri. Bukannya setiap pasangan menginginkan keturunan? Tapi kenyataannya, kami belum dititipkan Allah. Lalu apa yang saya lakukan? Stres pasti ada masanya, terutama pada perempuan. Namun kami berusaha untuk menguatkan diri kami, bahwa Allah ga pernah salah kasih keputusan. That’s all.  Akan ada hikmah dibalik semuanya.

Kemudian dari beberapa kejadian saya merenungi. Saya yakin, bahwa harta melimpah itu bukan parameter kebahagiaan. Dalam islam jelas sudah disebutkan bahwa yang namanya harta: materi, anak, isteri, kerjaan, adalah kesenangan dunia yang jangan sampai kita terlena dengan itu. Dimana kesenangannya dunia itu cuma sepanjang jari doang *ngutip dari Ust. Salim Filah*. Kami sekarang memang tak punya  tabungan banyak, belum ada yang namanya investasi (rumah, mobil, dan harta lainnya), belum ada keturunan. Tapi apa yang kami punya sampai saat ini, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan harta sebanyak apapun. Allah selalu kasih rizki yang cukup. Karena itu doa kami, dicukupkan dan diberkahkan. Bukannya kata Ust. Aam itu rezeki adalah yang kita pakai saat ini, yang kita gunakan saat ini, yang kita makan saat ini. Itu rezeki. Yang belum kita sentuh, bisa jadi itu bukan rezeki kita. Jika kami sedang butuh dan Allah menyetuji maka dengan jalan cara apapun dan dalam bentuk apapun Allah akan ngasih. Jika kami kelebihan,  Allah menjaga kami dari kegelisahan memiliki harta dengan mengambilnya dengan cara yang ga bisa kita kira. Jadi ya, cukup. Itu sih kuncinya. Merasa cukup, merasa bahagia, bersyukur dengan yang ada dan yakin akan Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah tertukar dalam menghidupi ciptaanNya.

Oiya, disini, bukan berarti kami menjadi orang yang pasrah dalam artian menerima keputusan Tuhan gitu aja. Jelas engga. Allah juga menuntut usaha dari kita, kita harus sadar itu. Perencanaan dari manusia tetap perlu ada, agar segala sesuatu nya tetap selalu ada dalam trek yang benar . Kita berencana, kita juga yang mempersiapkan diri untuk akhirnya,  karena Allah yang akan memutuskan apakah perkara yang kita rencanakan itu baik atau tidak baik untuk kita. Kita cuma butuh syukur dan sabar.

Oiya satu lagi, hindarkan diri dari membandingkan dengan orang lain, heu. Penyakit bahaya itu. Karena jelas kebutuhan setiap individu pasti beda, jadi jelas tak ada yang pantas dibandingkan. Kecuali jika memang orang yang dibandingkan akan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah. *saya juga masih harus berjuang keras melawan sikap kaya gini*

14 Agustus 2012

Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawan

Mungkin ini bentuk fisik episode yang pernah saya tuliskan sebelumnya, sebagai bentuk awal, sebagai sebuah energi awal,,
Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawan

Adalah Ulpi, Putri, dan Saulla yang kemarin sore memanggil nama saya dengan sebutan “Teh Indah” begitu kerasnya dari luar pagar. Saat itu memang jadwal Kelas Bahasa Inggris, dan sebelumnya saya berniat akan membatalkannya karena harus melancong ke rumah mertua, tapi teriakan mereka yang keras dan cempreng malah membuat saya tidak tega kalau harus membatalkannya. Dan yang terjadi adalah saya malah jadi semangat sore itu.

Ini adalah ketiga kalinya mereka datang. Di pertemuan pertama, hanya ada dua orang saja, di pertemuan kedua, juga dua orang tapi dengan personel yang berbeda, dan yang ketiga ada tiga orang yang datang dengan satu personel new comer, jadi kalo di total sudah ada empat anak. Bahkan minggu lalu saat saya tidak mengadakan kelas, Ulpi membawa delapan orang temannya. Mereka sempat teriak-teriak di depan rumah, tapi sayang saya sedang ga ada di rumah. Gimana ga semakin berapi-api si saya ini buat main sambil belajar sama mereka.

Usianya mereka antara 5-8 tahun, rumahnya rata-rata di wilayah bekas rel kereta ga jauh dari rumah saya tinggal, latar belakang keluarga mereka macem-macem, ada yang ortunya penjahit, buka warung, jual-beli domba/sapi, yang ortunya lebih sibuk ngurusin kerjaan mereka dibanding ngajarin anaknya, karena kalau ga gitu keluarga mereka ga makan. Latar pendidikan anak juga macem-macem,bahkan ada yang harus pindah dari sekolah negeri yang agak elit ke sekolah negeri yang kurang elit (katanya) gara-gara ketidakmampuan “sosial” si anak. Tantangan buat si saya. Satu sisi saya berada di lingkuangn pendidikan anak-anak yang sudah mapan dari berbagai aspek (sistem, finansial, penerapan akhlak), dan satu sisi saya berada di antara anak-anak yang situasinya kebalikan dari itu semua.
baru tiga kali memang, namun tiap kali bertemu mereka berasa sudah kenal sejak bertahun-tahun. Semoga ini bukan hanya kondisi sesaat.

19 Oktober 2011

sistem cacat tak mengapa asalkan...

Saat pulang dari tempat di daerah Meguro, saya membeli tiket kereta seharga 450 yen. Saya pikir harga tiket dari stasiun Meguro hingga stasiun Minamiyono itu ya tarifnya segitu, 450 yen. Namun saat di pintu keluar stasiun Minamiyono walaupun pagar tetep terbuka, ada tulisan bahwa tiket eror. Karena orang di belakang saya banyak, jadinya saya terus maju aja keluar. Beberapa langkah saya berjalan, ada perasaan ga enak, akhirnya saya cek lagi tarif kereta dari Meguro ke Minamiyono. Ternyata benar, harga tiket bukan 450 yen melainkan 540 yen. Akhirnya saya kembali lagi ke loket tiket yang ada penjaganya, dan bilang kalau tadi saya salah beli tiket. Si penjaga tiket pun mengerti, karena memang tiket yang saya masukan di pintu keluar tadi tidak mau ditelan oleh mesin tiket. Saya meminta maaf dan membayar sisa kekurangan tiket sebesar 90 yen.

Saya bersyukur, masih disadarkan kalau saya beli tiket, bersyukur masih ada keinginan untuk balik lagi ke tempat tiket dan membayar kekurangannya. Kalau pun mau nakal, saya bisa aja cuek bebek ninggalin stasiun dengan beban hutang 90 yen. Ga dikejar dan ga ditangkep juga.

Buat orang2 dari negara berkembang seperti saya, kesan pertama terhadap Jepang adalah disiplin, bersih, rapi, aturan ditegakkan dimana-mana. Memang tak dipungkiri, bahwa semuanya sudah tersistem dengan baik. Yang membuat sistem maupun pelaku sistem. Mau tak mau, saya sebagai pendatang pun harus dong ikutin aturan yang ada, toh memang aturan yang berlaku juga baik. Hebatnya lagi, jangan anggap sistem ini sempurna. Buktinya ketika saya di stasiun tadi, walaupun tiket tak ditelan, pintu gerbang bisa terbuka. Artinya masih ada kecacatan dalam sistem yang dibuat, masih ada saja peluang untuk berbuat curang. Namun hal itu sudah diantisipasi dengan tingkat kesadaran orang Jepang yang sangat tinggi. Dengan itu, tingkat kegagalan dari sebuah sistem pun bisa diminimalisir, walaupun ada juga orang yang kadang-kadang tidak sadar akan aturan disekitarnya.

Korupsi jarang terdengar. Seorang menteri yang menerima uang pun bisa mengundurkan diri karena malu. Ketakutan terhadap "mata orang lain" yang membuat orang Jepang sangat sadar diri. Karena saking "baiknya" orang Jepang ini, kadang disalah artikan oleh orang asing. Hal-hal yang sepatutnya dijadikan amanah, malah diselewengkan menjadi kesempatan bagi mereka "yang tidak mengerti orang Jepang" untuk memenuhi kesenangan pribadi tanpa melihat kepercayaan yang diberikan oleh si orang Jepang. Seolah-olah mereka cerdik telah membodohi si Jepang. Kesal sekali melihatnya, namun tak ada yang bisa diperbuat juga selain menjadikan itu sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Bagaimanapun akhlak/moral/perilaku lah yang menentukan keberhasilan sebuah sistem.

sakit dengan senyum

beberapa hari ini terbaring, ngagoletak, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan, kalaupun ada sifatnya wajib seperti buang air besar/kecil/masak/makan. akibat mendzalimi diri sendiri di minggu lalu. sejak minggu lalu, memang badan sudah ga jelas hareeng, bawaanya males masak. sekalinya masak itu mie rebus, spageti, pasta yang buat orang dengan daya tahan lambung rentan, makanan itu bisa meningkatkan asam lambung. belum lagi di hari sabtu dimana udara membawa angin dingin, dan seperti biasa karena tidak masak, saya cuman beli onigiri. itu pun dimakannya telat. lengkap sudah. tau rasa deh!! belum selesai itu, di hari minggu, diacara pengajian, dengan pedenya makan balado teri yang bener bener menggoda selera makan dan juga senjata ampuh buat bikin kondisi makin buruk. alhasil masih di tempat pengajian suhu badan pun sudah diatas 38 derajat.

kapok. iya kapok. karena ternyata pas saya tidak berdaya, banyak hak hak sang su yang tidak bisa dipenuhi. tidak bisa membuatkan makanan enak, ga bisa mempersiapkan bento, cucian baju numpuk, ga bisa pasang tampang manis, mau senyum aja susah, banyak minta dibeliin ini dan itu. ga enak ga enak! beneran deh!

tapi, kekuatan keyakinan itu pasti ada, keyakinan terhadap Allah SWT yang akan menyembuhkan. keyakinan bahwa dibalik sakit yang dirasakan, ada dosa-dosa yang tergugurkan. Insya Allah.

:)

12 September 2011

telepon pertama

suatu siang di bulan Juli, atau Agustus 2002, lupa harinya hari apa..
tlilililit tlilililit (bunyi telepon ceritanya - bukan kriiiing kriiiiing)
I : "halo"
R : "Halo,,Bisa bicara dengan Ind*h?"
I : " dari siapa ini?"
R : " Dari R**gga"
I : "iya ini Ind*h, R**gga? ada apa ya?"
R : "Iya mau tanya, kalau jadwal latihan kapan ya?"
(ceritanya nanya jadwal latihan softball)
I : "Gatau ya kapan, belum ada pengumumannya lagi"
(dalam hati -- idih kan dia ketuanya, aneh banget nanya2 segala!)
R : "Oh, belum ada ya,,yaudah atuh. Assalamualaikum"
I : " Walaikumsalam"
klik,,tut tut tut tut
Dik Ind*h pun terbengong karena telah mendapat telepon dari seorang senior di sekolah yang baru 3 mingguan dia masuki. heran heran heran. basa basi paling basi. hahahaha

05 September 2011

kartu balasan

sudah seminggu lalu menerimanya. datangnya dari Kobe, dari Firda. ternyata kartu yang saya kirim berbalas (tidak mengharap balasan juga sih). Arigatou! ^_^


oiya sebetulnya sehabis saya kirim kartu dan sebelum lebaran, saya kan sempet mampir ke tempat Firda di Kobe. Alhamdulillah masih bisa menyambung ukhuwah islamiyah (kata teh risma kan silaturahim hanya untuk kerabat). kami juga sempet foto bareng! hihihihihi

Nia, Firda, dan saya

22 Agustus 2011

kartu lebaran



hari gini dapet atau ngirim kartu lebaran? ga musim kaleeee..
udah ada facebook, udah ada sms (apalagi banyak yang gratisan ke sesama operator), udah ada twitter, hayo apa lagi coba sekarang.. ga perlu lah itu beli kartu di toko terus beli perangko dan ngirim lewat kotak surat. ribet. kalo ada yang praktis kenapa cari yang susah?* jadi penasaran apakah anak muda (baca: anak SMP kebawah), tahu atau punya pengalaman mengirim surat ke kantor pos?*

saya sebenernya pengen nostalgila aja jaman-jamannya saya suka berkreasi *atau bikin sampah baru?* untuk bikin yang namanya kartu lebaran. Kira-kira dimulainya dari SD ya. Awalnya karena para kakak2 suka dapet kartu lebaran, sedangkan si gue kagak *siapa juga yang berkirim kartu di usia 1-3 SD?*. Kalo maen ke toko pas bulan puasa pun, banyak deh kartu yang dijual. Ya walaupun harus dikatakan sangat jujur, model dan desainnya sangatlah ehem,, biasa. Antara pengen ngirim kartu ke temen, tapi ga mau juga beli di toko, da goreng tea modelnya, tidak sesuai selera lah. Lalu suatu hari, saya lihat kaka pertama yang lagi ngelukis gambar di sebuah kartu. Pas saya tanya itu buat apaan, katanya buat dijadiin karti lebaran. Mupeng!. beda lagi sama kaka kedua, dia mah bikin dari bahan2 daur ulang (tetep beli juga sih bahan2nya). dan hasil yang dibikin kedua kakak2 saya itu, bagus menurut saya. Rapi. Pendek kata, saya pengen dong coba-coba bikin. saya lupa bagaimana dan bahan-bahan apa saja yang jadi korban tangan tidak bertanggung jawab ini. intinya tiap kali bikin, yang harusnya jadi banyak ,paling cuma jadi satu biji. wakakakakakk. jadi runtahlah itu semua.

Namun seiring berkembangnya teknologi, dimana proses pengiriman pesan bisa dilakukan hanya dalam beberapa detik saja, lambat laun kartu lebaran pun kurang diminati. Baik membeli di toko, maupun bikin sendiri. Saya sendiri, sejak punya hape (kelas 3 SMA - padahal terakhir bikin juga mungkin kelas 1 SMP dan vakum beberapa tahun), ga pernah lagi bikin kartu, kecuali bikinnya atas nama organisasi. Ya padahal kalo saya sih, perasaan antara menerima kartu dengan mendapatkan sepenggal sms lewat hape, rasanya lebih seneng nerima kartu langsung. Jelas dengan memberi kartu, berarti memberi perhatian untuk penerima. Kedua, lebih meningkatkan kreativitas kali ya, apalagi yang bikin sendiri. Da kalau masalah konten mah, itu itu aja da. hehehehe.. Semoga memang ikhlas dari hati.

Kartu lebaran. Ga ada esensi khusus sih memang karena toh isinya sama dengan apa yang ditulis melalui hape atau fesbuk, apalagi bagi yang tinggal di negara mayoritas muslim. Namun bagi yang tinggal di negara minoritas muslim, bisa saja kartu lebaran menjadi hal yang berarti. Terutama bagi anak2. Anak2 muslim yang tinggal di Jepang ini lebih seringkali mengenal perayaan setsubun, hina matsuri, dan entahlah apalagi saya lupa.. Mereka juga ikut menggembor2kannya di rumah, karena terbawa dari lingkungan di sekolahnya. Namun untuk Idul Fitri? ya hanya keluarga dan komunitasnya muslim saja yang merayakan. dan itu pun banyak keterbatasan untuk merayakannya. Oleh karena itu saya jadi mikir untuk ikut memeriahkan kesan idul fitri ini dimata anak-anak itu. Mungkin dengan mengirim selembar kartu lebaran mereka bisa menjadi senang dengan Idul Fitri. Mungkin dengan mengirim selembar katu lebaran mereka juga punya keinginan yang sama untuk mengirim kartu untuk teman2nya, sehingga mereka juga bisa bermain dengan kreativitasnya. Mungkin dengan mengirimkan kartu, saya bisa memberitahu mereka bahwa dulu waktu jaman saya kecil ada budaya mengirim kartu :p. Ya hal-hal seperti itu yang saya niatkan ketika membuat kartu lebaran buat teman kecil saya yang ada di Kobe, Jepang dan Bussan, Korea.

Dengan segala keterbatasan ide dan skill yang saya punya, kemarin saya coba bikin kartu, hihihihi,, ya alhamdulillah, jadi walaupun kaya bikinan anak sd. bagus atau enggaknya mah relatif.



14 Agustus 2011

03 Agustus 2011

the nanny

percanten lah ngasuh anak mah ga gampang
selama 3 minggu saya diamanahi untuk menjaga anak-anak dari para sensei di acara Otsuka Summer School, memang tugas yang menyenangkan. Mungkin mereka itu agak asing dengan muka saya, kok tiba tiba saya harus bareng dia,,pikir mereka. Ada 9 anak kalo dalam listnya, tapi paling tiap kali jaga hanya ada 6-7 orang. Ga saya sendiri sih, ada para ibu yang sedang nunggu anaknya selesai sekolah juga ikut membantu, juga ada pengurus masjid yang ga lupa membantu (lebih tepatnya saya membantu mereka). Di hari pertama itu, semua anak yang ada disitu nangis..huwaaaaaa,,udah jadi orang stress, cuma suara tangisan aja sih, tapi dari 5 anak secara bersamaan. Heu heu... saya megang satu anak, yang pada hari itu sebagai bujukan agar dia tidak menangis, saya ajak ke taman terdekat, tapi jadinya ga mau pulang-pulang :).

Jam makan siang adalah saatnya mengeluarkan bekal masing-masing anak yang sudah disiapkan oleh para ibu. tidak seperti anak TK/SD yang jika diminta duduk dan makan dengan baik, mereka akan tunduk. Untuk anak-anak berumur 1-3 tahun, masih belum ngerti dong, eh kecuali kalo udah biasa sama ibunya ya. Ya alhasil yang mau makan ya makan, yang engga ya engga makan. Nyuapin beberapa anak dalam sekali waktu memang bukan hal mudah :).
Saya sih cuek bebek aja walaupun ga bisa bahasa jepang dengan mereka, pake Bahasa Indonesia we tuluy. Hehehehe,,kadang ga nyambung sih. tapi disambung-sambungin aja deh.
Sekali pintu terbuka, buyar semua itu anak anak berlarian keluar. Mana depan masjid itu banyak mobil lalu lalang,,ngelus dada ngelus dada.

Saya belum berpengalaman juga ya ngasuh anak, jadi pendidikan untuk anak umur segitu pun saya kurang paham. Ya, saya sih biasa ajak main dengan mainan yang ada disitu, atau sedikit-sedikit melafalkan kalimat kalimat dzikir. Katanya sih, anak umur segituan memang tidak akan mau untuk duduk manis menghafalkan sebuah surat, tapi telinga mereka tetap awas dan otak mereka merekam ketika ada yang mengaji/bernyanyi di sekitarnya walaupun mereka sedang asik bermain. Jadi ya peran orang besar untuk mengumandangkan Quran surat-surat pendek jika ingin sang anak menghafalnya. Ya mau lagu juga boleh, tapi....hehehehehe.

2,5 minggu sudah berlalu, hanya ada satu suara tangisan saja yang terdengar kalau anak-anak itu sudah datang, itupun bersumber dari bayi berumur 1,5 tahun. Ngeliat mereka ketawa,,iiihhhh iri deh, kayanya tanpa beban aja gitu. Mana seneng pula lihat mereka tumbuh dengan nilai-nilai islami yang sudah tertanam sejak kecil. :)

01 Mei 2011

bukit bunga

Memasuki liburan Golden Week, kami cuma punya dua rencana: 1. bazar golden week di SRIT tanggal 1 Mei, 2. nonton bola di stadion tanggal 3 Mei. Tanggal merahnya sendiri ada di tanggal 29 April, dan 3,4,5 Mei. 30 April memang bukan termasuk libur Golden Week, hanya libur akhir pekan biasa, tapi suasana hari itu terbawa suasana liburan satu minggu, yang ngebuat objek wisata di kawasan Jepang menjadi padat. Hari Sabtu itu, 30 April, kami tidak punya rencana apa-apa. Namun sehari sebelumnya, saya ngotot pengen diajak keluar rumah. Kemana kek, pasalnya kalaupun diajak keluar, pasti diajak maen bola di lapangan kampus. Fuh! (-.-! )
Tapi dia luluh juga, mau juga dia diajak pergi. Pertanyaan berikutnya, kemanakah akan pergi? Saya disuruh cari-cari tempat menarik yang bisa dikunjungi. Browsing browsing lah akhirnya dengan keyword: Tourist place in Saitama. Gak lama munculah hasil pencarian. Beberapa tempat pernah kami kunjungi, sampai akhirnya gatau gimana nyambung lah ke sebuah blog milik entah siapa.


Dari blog itu saya membaca revieuw sebuah tempat yang berlokasi di Chichibu, Saitama bagian barat. Sebuah taman yang di salah satu bagiannya ditanami tanaman Shibazakura. Sehabis pohon sakura tunai beroperasi selama 2 minggu kurang, giliran shibazakura ini yang akan muncul dimana-mana. Sebenarnya di tengah kota, di jalan2 pun banyak yang menanam Shibazakura ini, cuma di taman Hitsujiyama ini sengaja ditanami dengan 400ribu pohon di area seluas 16500 meter persegi dengan 9 jenis varietas yang berbeda.

Pas, saya suka tempat itu. Tanpa pikir panjang, saya dan dia berangkatlah kesana.
Cuaca hari itu tidak begitu cerah, sedikit mendung-mendung kelabu. Berangkat dari rumah jam 9 pagi, dengan harapan sampai sana sebelum siang dan jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. 4 kali pindah kereta ditambah waktu menunggu kereta, alhasil sampai tempat tujuan jam 12.30. Di stasiun pemberhentian, penunjuk jalan, peta lokasi sudah terpasang lengkap. Tidak susah untuk mencapai tempatnya, karena hanya tinggal mengikuti arus manusia yang tujuannya sama.

Ketika menginjakkan kaki di taman dan ngeliat ke sekeliling, huwaaaaaaaaaaaaaa....bagus, kirei, keren, mantap, cantik, Subhanallah. Bagus banget, kebangetan bagusnya. Bunga shibazakura ditanam diatas bukit-bukit. Ada yang pink, ungu, putih, semuanya padat mengisi permukaan tanah yang bikin mata enak memandang bunga-bunga itu. Belum lagi latar pemandangan di balik bukit yang berupa gunung dan hutan. Setiap alan beberapa langkah pasti terdiam sejenak untuk cekrak cekrek ambil foto. Atau jongkok untuk ngeliat bunga dari jarak dekat. Pikiran jadi seger banget deh.

Jam makan siang tiba, kami mencari posisi wenak untuk menikmati makan siang. Kami membawa bekal 2 onigiri untuk masing-masing, minuman botol, keripik, dan coklat untuk dimakan sambil menikmati cantiknya hamparan bunga. Kenyang perut tapi mata belum kenyang. Kami pun berjalan-jalan lagi sampe kaki pegel-pegel. Semua foto sudah terambil dari berbagai sudut, atas, bawah, samping, completed.








Andaikan saya seorang model, pasti saya akan dengan sigapnya berpose bareng si bunga-bunga itu. Hahahaha..engga deng, cukup pemandangan nya aja yang difoto, lebih cantik itu kok. *tetep sambil nodong ke aa untuk motoin saya terus*.

27 April 2011

brain stuck

otak saya beku, mencari cari jawaban yang saya gak tau dan ga nyangka akan ditanya hal-hal semacam itu.
baru saja, malem ini saya melakukan pendampingan online. rencana mata pelajaran berubah, ketika sang anak bilang sudah menyiapkan IPA untuk malam ini. padahal saya sudah menyiapkan untuk bahasa indonesia. okay, masih gapapa. setengah jam pertama masih berlangsung hangat-hangat saja. saya memberikan pertanyaan pertanyaan menggantung atau sekedar bercerita dengan harapan dia akan menyelesaikan apa yang saya tanyakan. ya sejauh itu juga masih baik2 saja. saya berusaha tidak terlalu dominan, dan terus melakukan cara2 untuk membuat sang anak tetap aktif baik dalam menjawab maupun memberikan penjelasan. datanglah waktunya, ketika saya bermaksud untuk rehat untuk melanjutkan bab berikutnya, saya menanyakan apakah ada yang ingin disampaikan, diceritakan, atau ditanyakan. sang anak hanya menjawab "aduh apa yaaa....". "Ya.. apa aja, nanya disini ujan atau enggak atau ya apapun", ganggu saya. tapi sepertinya, bukan bukan, tapi kenyataannya dia sudah mulai menemukan memorinya yang sempet bersembunyi. dia dengan semangatnya bilang "iya ada yang mau ditanyain, ya berhubungan sama ini juga". saya sambil senyum-senyum dengernya. tapi setelah sekian lama pertanyaannya bikin saya teler, waduuuhhhh. pengen rasanya ngejitak kepala sendiri. dong dong banget deh!!!
pertanyaan-pertanyaan awal masih bisa diatasi tapi kebelakangnya,,wekdor!

"kalo planet lain punya gravitasi kaya di bumi gak?"
"kalau saat gerhana bulan kan posisi matahari di tengah, jaraknya menjauhi matahari, gravitasinya berubah juga dong?"
"pusat dari galaksi bima sakti apa?"
"matahari bergerak ngga?punya orbit ga?"
"bener ga sih orbit pluto motong orbitnya neptunus?"
"kalo gerhana matahari cincin bisa terjadi berapa kali di suatu tempat?"
"pernah ga ada bintang yang tabrakan? kan bintang sirius katanya mau tabrakan tuh,,"
"itu tu tentang bintang, ko bisa sih orang tau bintang itu dateng nya dari mana?kok bisa tau jaraknya jutaan tahun cahaya? jadi sebelum manusia ada bintang udah ada?"
"kalo ngukur besarnya bintang gimana?"
"kalo lubang hitam itu gimana?ada atau engga sih?gimana kalo masuk lubang hitam?"
"kalo kita keluar galaksi apa yang diliat disana?"
"kalo hayabusa itu adanya dimana?ada asteroid asteroidnya gitu tuh apa sih?pake apa kesananya"
"bintang paling gede itu apa?"
"kalo matahari aja kecil, manusia kecil banget, apalagi kutu"
"ada planet lain yang kaya bumi?"
and so on...
and so on...
sampai jam sudah menunjukkan pukul 21.17 dimana waktu yang dialokasikan seharusnya telah berakhir.
dan masih banyak yang tak mampu ditampung oleh memori ini...

OMG,,,,,Alhamdulillah saya bingung,,ga bisa jawab lebih tepatnya. eh ada yang bisa ada yang engga deng. ada yang tau ada juga yang ga tau. ga dituntut harus bisa jawab juga, tapi jadinya saya yang menuntut diri saya untuk tau lebih banyak. ketauan ga taunya ketika sang anak bilang Hayabusa dan yang keingetan sama saya adalah jenis Shinkansen baru. atau ketika sang anak bilang sirius, dan pikiran si gue melayang ke Sirius Black, pamannya Harry Potter.Alhamdulillah ada anak yang kaya begitu. sang anak pun menyadari bahwa yang dia katakan adalah pertanyaan susah, terbukti dengan balasan kalimat "iya gapapa gak tau juga, emang susah juga pertanyaannya" ketika yang saya bilang adalah "maaf ya, saya belum tau tentang itu, nanti saya cari tau lebih dalem lagi"

dan si aa yang mendengar pun hanya bisa menertawakan saya yang bingung, padahal saya tau dalam dirinya pun dia geleng geleng kepala karna ga tau juga harus jawab apa.huh

makasih banyak ya, jadi kesentiil buat ga berenti baca2.

19 Maret 2011

kabar seminggu #1

hisahiburi,
pasca gempa 3/11, saya belum nulis apa2 lagi, baik terkait gempa, masa2 pindahan, isu radiasi nuklir, antri beras, antri re entry visa, ketokan tetangga yang bikin jantung mau copot terus, pendampingan belajar jarak jauh, yeah, banyak hal terjadi seminggu ini.

saya ucapkan Alhamdulillah dulu untuk pertama-tama, karna saya dan aa masih dikasih kesempatan hidup dan memperbaiki diri lagi. saat gempa terjadi, ya itu yang terbesar sepanjang sejarah saya menghirup udara ini, saya hanya mikir "ya Allah, kalo saya harus mati, saya pengen mati pas nginget Allah", ga inget2 apa2 lagi selain itu dan pengen cepet ketemu aa. hehehe.. panik? jelas panik banget, tapi masih bisa kekontrol, setidaknya saya masih pake sepatu dan ambil tas, bahkan sempet matiin saluran gas dan nyumput dibawah meja selama beberapa detik sebelum akhirnya ngacir keluar kamar. deg deg deg deg hosh hosh hosh, kayanya gitu bunyi jantung dan nafas saya, denyut nadi seperti habis lari sprint 10 keliling sabuga. sampe diluar gedung, saya masih dikasih liat keindahan gempa, maksudnya saya melihat bangunan anti gempa yang bergoyang layaknya jelly. besi peredam yang panjang dan tebal yang biasa dipasang diagonal di gedung gedung beresonansi layaknya senar gitar yang sedang dipetik, alamaaakk. sempat terpukau dengan kesigapan negerinya doraemon ini. setelah gempa besar itu gempa2 susulan dengan magnitude lebih kecil terjadi sampai hari ini.

sesaat setelah gempa, tsunami terjadi di dekat pusat gempa terjadi, salah satunya di daerah Sendai. ya sendai. tempat sekolahnya teh uti dan kekasihnya. teh uti yang seminggu sebelumnya sempat bersua dengan kami di restoran cabe. saya berusaha meneleponnya tapi tak kunjung burung mengabari. tak hanya teh uti, warga indonesia di daerah pusat gempa dan tsunami cukup banyak, pikiran saya dan aa tak karuan. namun, berita baik tak lama muncul, mereka berada di pengungsian dan beberapa hari kemudian pihak KBRI menjemput warga Indonesia di tempat bencana untuk dibawa ke Tokyo hingga dipulangkan ke Indonesia. (bagian ini saya jg pengen, dipulangkan ke indonesia haratis, hehehe)

gempa dan tsunami tentu memberikan efek langsung terhadap warga di daerah bencana. tapi ternyata kami yang tinggal berjarak 250 km pun kebagian efek dari tsunami dan gempa tersebut. ya, salah satu pasokan listrik yakni pembangkit listrik tenaga nuklir yang menyuplai hampir semua kebutuhan listrik warga jepang mengalami kerusakan. reaktor nuklir yang ada di fukushima. isu2 kebocoran radiasi semarak berkembang di masyarakat. (ho ho ho, mengingatkan saya akan kelas fisika kuantum dimana pak zaki yang ahli nuklir itu menjelaskan peristiwa kecelakaan chernobyl dan three miles island terjadi). gak cuma isu radiasi, ehem bukan sekedar isu memang, tapi radiasi dari bahan radioaktif sudah masuk ke lingkungan hanya saja intensitasnya rendah untuk daerah yang jaraknya 250km. saya sedikit parno juga sama isu radiasi itu, karena saat isu itu berkembang, saya sedang gak punya akses informasi terkini akibat sambungan inernet yang tidak ada pasca pindahan. tapi alhamdulillah lagi lagi saya ucapkan ketika bertemu dengan bapak internet dan mendengar pernyataan dari pemerintah baik pemerintah jepang maupun indonesia tentang radiasi yang belum dan semoga tidak akan berpengaruh terhadap kesehatan, saya sedikit tenang.

bersamaan dengan itu, 3 hari pasca gempa, akibat reaktor yang mengalami kerusakan itu, daerah tokyo dan sekitarnya mengalami pemadaman listrik bergilir. alhamdulillah lagi, ya bersyukur saja. dibanding korban di pusat gempa dan tsunami, kami patut bersyukur. pemadaman hanya 3 jam dalam sehari. minimal kami sudah biasa dengan listrik mati, di indonesia pun pemadaman secara tiba2 sering kejadian. pemadaman untuk waktu dan jangka waktu yang tidak diketahui.

karna hal ini adalah hal pertam bagi warga jepang, sepertinya mereka khawatir kehidupan sehari2 mereka akan terganggu. takut2 kalau distribusi bahan pangan akan terganggu, atau sulit mendapatkan air bersih akibat filter air yang tak bekerja karena pemadaman listrik. yah hal2 seperti itu. saya dan aa berusaha ga panik, ga ikut2an buru2 cari air, tisu toilet. yang saya ikut antri adalah antri beli beras. saya berusaha tenang tak terburu2. teringat dalam salah satu ayat di Quran bahwa terburu2 adalah tabiatnya manusia dan itu datangnya dari syetan. alhamdulillah, dari salah satu toko kecil dekat rumah kami, kami dapet beras 10 kg. :D

di hari2 itu, telpon dari keluarga di indonesia lebih sering kami terima. bertanya keadaan dan rencana selanjutnya. menyuruh pulang ke indonesia juga salah satu nasihat yang diberikan. hehehe. tapi selama pemerintah belum mengumumkan keadaan darurat, insya Allah kami tetap di jepang. tidak bermaksud pulang memang, tapi untuk jaga2 jika sesuatu terjadi dan harus pulang, saya dan aa merencanakan ke kantor imigrasi untuk apply visa re-entry permit. dan kami pun berangkat ke kantor imigrasi saitama pada hari jumat jam setengah dua siang. sampai di tempat, jreng jreng jreng... ular naga panjangnya bukan kepalang. betapa panjang antrian manusia yang sedang berdiri untuk memproses urusannya di kantor imigrasi. mau pulang tanggung, tapi mau antri juga hoream. sampai seorang petugas mengumkan bahwa pembuatan izin re-entry bisa dilakukan di kantor pusat regional di daerah shinagawa, sampai pukul 6 saja. saat itu pukul setengah 3. aa dan saya langsung menuju stasiun untuk mencapai shinagawa secepat mungkin. yeah, kami berusaha saja, kalau tiba2 sampai sana sama penuhnya dan tidak dapat, tak akan kami sesali, memang bukan rezekinya berarti. tapi dan tapi,,sampai disana, bukan ular naga lagi yang merepresentasikan panjangnya antrean orang2 asing itu. lebih panjang. panjang tapi petugas imigrasi sudah sigap siaga menerima kondisi seperti itu. mereka membuat jalur kheuseus dan membuat semuanya berjalan lancar dan cepat. aaah, jepang jepang, bahkan satpam pun terlihat sangat keren. *ups, gomen aa, hatiku tetap padamu*

saya bingung mengakhiri tulisan ini, heu!
yang pasti sampai hari ini, saya dan aa terus bersyukur dan selalu waspada untuk semua yang terjadi. garis takdir kita sudah tertulis. jika sudah waktunya untuk kembali pada Sang Pemilik, kapanpun bagaiamanapun kita akan kembali, wallahu alam. yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi hidup ini agar kita bisa mengakhiri hidup kita dengan indah. khusnul khatimah.

06 Maret 2011

pindahan tahap 1

pindahan tahap 1

meja lipat, jumlah: 2
laci plastik, jumlah: 2
futon, jumlah: 1
sepatu, jumlah: sekeresek
dus isi buku-buku, jumlah: 3
dus isi bumbu2, jumlah: 2
karpet, jumlah: 2
heater, jumlah 1

metode perpindahan: diangkut dengan 2 buah troli, dilakukan 2 kali putaran.
waktu tempuh: 50 menit/putaran.

karna pindahannya deket dan jumlah barang yang dipindahin juga gak terlalu banyak, jadi kami memutuskan pinjam troli kampus dan berjalan sambil mendorong barang2 ke apato baru. rencananya masih akan dilakukan 2-3 kali lagi dalam seminggu ini. hosh!

28 Februari 2011

kunjungan ke SD

drrrrrtttt drrrrrrt drtttttttttt...(bunyi geter hape), tak lama saya angkat teleponnya.

"tante indah, hari senin ada waktu gak? bantuin presentasi di sekolah anak-anak yu! kita buat makanan juga, tapi apa ya...", kira kira begitu suara Teh Dewi di ujung telepon. Saya hanya "haik" sajah, tanda bersedia, dan mengusulkan beberapa menu makanan kecil untuk presentasi tentang Indonesia di depan murid kelas 5 SD.

Bukan saya yang bakal presentasi, kalau saya yang presentasi, dijamin si anak2 yang denger bakal cengok ga ngerti apa yang saya omongin. "ni orang ngomong apa sih,,,," atau "huaaahhhh,,mending baca sendiri dari internet", mungkin begitu yang ada di pikiran mereka.
Tapi yang akan berdiri dan ber cas-cis-cus tentang Indonesia itu Pak Ewin, suaminya Teh Dewi. Kami kami (saya dan aa), hanya sebagai tim sukses saja. Sukses bikin anak-anak kembali bergumam dalam hatinya, "ni orang dua, ngapain juga berdiri disitu tapi gak ngapa-ngapain,nyempit-nyempitin tempat ajah". Tapi Alhamdulillah, selama pengenalan itu, tidak terdengar seorang anak2 pun bergumam seperti itu, hahahaha,,ya karena saya emang ga bisa baca pikiran orang. Juga saya dan aa ga gaji gaji buta amat. minimal si aa potrat potret wajah lucu nan kocak nan unik anak-anak Jepang, si saya berpose manis memegang angklung atau megang peta dimana muka saya ketutupan oleh peta yang super badig.

Di waktu pagi sebelum acara presentasi yang hanya berlangsung 30menit itu, saya dan teh dewi menghabiskan waktu 3 jam untuk mempersiapkan makanan Indonesia yang simpel dibuat, untuk memperkenalkan bahwa di Indonesia ada looohhh makanan seperti itu. dan makanan itu adalah jreng jreng,,durugdugdurugdug,,,martabak telor, dadar gulung, dan pisang molen. simpel bukan? bukaaaaaaaannnn!!!! Bukan simpel adalah kata khusus kulit martabak telor yang gagal dibuat. dari malam sebelumnya saya bikin adonan kulit martabak, setengah jam dihabiskan untuk menguleni si terigu sampe kalis yakni sampe otot bisep dan trisep saya hampir kaya Ade Rai. woowwww, lebay sekali. ya ya ya, lupakan proses ngaduk terigu. saya pikir setelah nonton you tube gimana cara emang2 pinggir jalan buat kulit martabak dengan cara dilempar-lempar itu sehingga jadi tipis dan lebar, saya bisa melakukan hal yang sama. tapi ternyata nihil saudara-saudara. yang ada setelah saya lempar-lempar itu, si adonan malah robek berhampuran, keras, dan lain-lain. saya menyerah dan menyarankan untuk beli kulit lumpia udah jadi ajah. kasus selesai! tok tok!

hari kemarin hujan rintik-rintik, plus butiran es jatuh berhamburan dari langit. andai saya bawa mangkok, alpukat, cingcau hitam, sirup merah, akan saya bikin es campur saat itu juga. tapi yang saya dan tim presentasi bawa adalah dua koper besar yang isinya perabotan berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. masuk ke gedung sekolah di daerah Saitama rasanya tak ada bedanya dengan gedung sekolah yang ada di Koganei dulu. sepertinya sejak sistem pendidikan dibentuk di Jepang, si menteri pendidikan udah ngasih wanti-wanti "nih, kalo lu pada mau bikin SD di tempat lu, bentuknya mesti begini, harus ada ini, ada itu, mesti sama semuanya. mau yang ada di kota ataupun di desa!". beda sama di Indonesia, yang ada dimana-mana itu ya Badminton. (terinspirasi dari lagu Badminton dimana-mana, di kota dan di desa..) serta gak ada hal yang sama di setiap titik di Indonesia.

hemmmmm...
kembali ke presentasi. di ruang berbeda kami semua mempersiapkan barang2 yang akan kami peragakan, termasuk meminta izin kepada guru yang berwenang untuk memberikan makanan khas Indonesia tersebut ke anak-anak. adalah Eka dan Aziz, putra dari Teh Dewi dan Mas Ewin yang duduk di kelas 2 dan 1 di SD tersebut. izin dari kelasnya masing2 kemudian datang ke tempat kami bersiap untuk ganti baju pake beskap anak2 untuk menyatakan pada seluruh sekolah "kami anak Indonesia". lucuuuuu pisan. lucu bukan pengen ketawa. lucu layaknya anak kecil yang baru bisa ngomong dan nyanyi "catu catu atu tayang ibu".kawaaiiiii...kakkooooiiii...

waktunya tiba, kami berenam masuk ke ruangan, kira2 ada 20 anak disana. ada dua pembawa acaranya juga. acara saat itu seperti sudah ada teklapnya, kita hanya bintang tamu. ada bagian yang ngasih prakata awal, yang ngasih komen, dan yang ngasih penutupan. semua teroganisir dengan baik. penjelasan berlangsung lancar, walaupun ada beberapa menit dimana si anak-anak terlihat sudah malas mendengarkan. sampai akhirnya mereka cenghar lagi ketika mereka diminta memainkan angklung. mereka tampak keheranan mendengar suara klentang kelentung dari alat musik bambu itu, juga tampak takjub ketika si bambu bisa mengeluarkan 7 nada suara.

di penghujung waktu, kita bagi-bagi makanan dong ke mereka. ekspresinya mereka macem2. ada yang alergi pisang dan ga makan apa-apa di awal, tapi akhirnya dia ngambil juga martabak telornya. ada yang alergi telor, dan ga makan satupun, kasihan sekali hidupmu nakkk. ada yang makan pisang sambil bilang, "kore umai, kore umaii" (ini enak, ini enak) tapi kondisi pisang yang dia pegang tidak menunjukan kalo si anak benar-benar menyukai itu pisang, secara kecepatan si anak makan hanya 1 mm/menit. ada juga yang lahap makan jatah punya temennya. ada juga yang merem melek gara-gara keasinan makan dadar gulung. iro iro arimashita.

kami berpamitan. mereka mempersembahkan dua lagu dengan memainkan recorder. saya gak tau lagunya apa, tapi cantik sekali mereka bermain. badan kami saling membungkuk tanda menghaturkan terimakasih dan disela-sela kegaduhan suara "arigatou", terdengar salah satu sensei berkata, "arigatou, mata rainen ne, yoroshiku!", tahun depan lagi? ho ho ho,,,tentu saja, saya akan senang sekali.

kunjungan kesekian kalinya ke sekolah yang ada di Jepang ini sukses membenamkan sesuatu dalam diri saya. ya saya juga belum yakin tentang "sesuatu" itu, tapi gapapa dong curhat dikit.
dan saya akhirnya pulang menuju rumah Teh Dewi hingga akhirnya semangkuk mie rebus buatan Teh Dewi menemani saya di kedinginan cuaca hari itu.

22 Februari 2011

pengajian pertama dan terakhir

maksudnya adalah pengajian pertama yang diadakan di tempat saya di international house juga sekaligus yang terakhir kalinya. karna per 15 maret kami pindah ke tempat baru.
ternyata yang paling seru itu nyiapin menu untuk pengajian ini. seperti yang saya pernah bilang, untuk menu dan masaknya, saya minta Teh Dewi yang bikin, saya cuma modal bahan-bahan dan tenaga untuk bantu2. beneran deh kepake, tenaga saya dipake buat ngulek bumbu-bumbu. otot tangan udah kaya popeye setelah makan bayem. walau pegal linu tapi menyenangkan.
yang aseli buatan saya cuma lontong mie, cake coklat (yang gagal), sus (seperti biasa, dan ternyata paling laku).
pengajian sendiri dibagi jadi dua sesi. sesi pertama itu sesi yang dipisah antara akhwat dan ikhwan. didalam grup kecil kita tilawah, mendengarkan terjemahan, dan mulai kali ini kami belajar "mengaji yang benar" dipandu sama Teh Lia.
nah sesi keduanya baru deh digabung sama yang ikhwan. tapi belum juga sampe setengahnya berjalan perngajian harus dihentikan. maksudnya tidak sampai tuntas. hal ini dikarenakan, anaknya Teh Ade yang bernama Kazu tiba2 demam, dan langsung lah bapa-bapa berbondong-bondong nganter teh Ade dan anaknya ke rumah sakit.


ini dia menunya: mendoan tempa, tahu kuning, ayam goreng, pepes ikan, sayur asem, sambel, lalap
yang ga kefoto: soto babat

16 Februari 2011

guru

kemarin saya berdiskusi panjang sama aa mengenai profesi guru. saya jadi ingin mengingat siapa saja guru yang saya sukai sewaktu sekolah dulu. mari saya merunut..

1. TK
jaman TK? heuu..inget satu guru, namanya Ibu Yuni. saya ga ingat banyak tentang beliau kecuali namanya. kayanya hampir semua anak TK belum ngeuh sama gurunya. guru TK adalah guru pertama di sekolah formal yang berpengaruh pada perkembangan otak anak2 umur 3-5 tahun, jadi berterimakasihlah pada guru TK yang dengan sabarnya mengurus jaman kita masih "nakal2nya" . yang paling mengesankan adalah, Ibu Yuni menyempatkan mampir ke walimahan pernikahan saya. (ini karna si mamah masih aktif di organisasi yang tempatnya bareng sama TK saya)

2. SD
paling inget itu Pak Cepi. wali kelas tahun ke 6. guru matematika. punya bimbel khusus ngajar matematika. ada juga sih pelajaran ipa, ips, dan bahasa inggrisnya, cuma gak sebanyak jam belajar matematika. guru yang ramah, senang bercanda, ke sekolah naik motor dengan membonceng anak kembarnya yang seangkatan sama saya. haduh haduh kok saya ga inget lagi ya apa yang pernah Pa Cepi kasih ke saya. yasudah sampe sini sajah.

3. SMP
nah ini dia nih,,,masa masa kejayaan anak puber. senang sekali. kelas satu sih masih cupu banget. belum berani naek angkot lebih dari 5 km. dan saya juga belum ketemu guru2 yang menginspirasi. baru ketemu guru yang saya kagumi itu waktu di kelas 3.

ada beberapa guru. pertama yang paling saya kagum adalah guru matematika, Pa Silitonga, atau disingkat Pa Itong. waktu ngajar kami beliau memasuki tahun terakhir mengajar. di kelas memang kami jarang berkomunikasi langsung..tapi ya tapi...saya minta les tambahan bareng beliau, dengan teman2 lain tentunya. nah dari situ lah, saya lebih mengenal sosok ke-bapak-an beliau. dengan gayanya yang jadul, celana cutbray, poni golf, motor tiger tua tahun 70 an, Pak Itong terlihat sangat gagah sekali. karena beliau orang batak, tak aneh jika melihat mukanya saja, kadang kita ngibrit kabur kalo papasan dengannya. tapi ternyata, beliau sangat sangat ramah sekali. kata2 bijak tak jarang keluar dari mulutnya, pengalaman2 puluhan tahun mengajar membuat nya mudah sekali mengenali karakter anak didiknya. "indah ini, dia tidak suka orang yang manja, dia akan berusaha untuk tidak manja", kata2 yang beliau katakan pada temen2 saya dan membuat saya termenohok diam (hayang ceurik sebenernya mah).

duduk di kursi rumah saya yang joknya udah merosot sambil merokok dan meminum kopi, adalah kebiasaannya. sewaktu dikelas, di tempat les, tak lupa penggaris segitiga yang membantunya merapikan tulisan di papan tulis itu dibawanya. khas sekali. sangat disiplin, selalu mengingatkan pentingnya kejujuran. saat ulangan, beliau tak perlu cape2 mewanti2 agar tidak mencontek, toh dengan raut mukanya saja cukup membuat kami menatap selurus2nya ke arah kertas ulangan. seakan leher kami ditotok di berbagai sisi. ahhhhh,,,,bener deh, saya sangat merindukannya. setelah lulus dari SMP saya belum pernah lagi bertemu dengannya, apakah beliau masih sehat2 saja? ingin rasanya mengunjunginya sekali waktu. teringat sekali dalam memori saya nomor telepon beliau,, seven five six triple five six...(jangan iseng ya!!). pak, suatu hari nanti, saya akan berkunjung ke tempat bapak, mungkin bapak udah ga inget sama saya, tapi sayang sekali pak, bapak terlalu membekas di hati saya,,halaaahhh,,,

guru kedua itu,,,heemmmm,,,Pa Opang, guru geografi. heyhooo,,saya itu paling males kalo udah pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, saya tidak mudah mengingat. tapi si Pa Opang ini, punya metoda mengajar yang lain dibandingkan metode mengajar guru2 saat itu yang komunikasi nya hanya searah. beliau mulai menanamkan sistem keaktifan anak dalam kelas, dan saya sangat menikmatinya. guru yang asal ceplas ceplos disertai senda gurau ini sukses bikin anak2 sekelas tahu apa itu simbol segitiga terbalik dalam peta.

4. SMA
SMA ya...guru SMA yahh,,siapa ya siapa...ahhhh Bu Pras. guru fisika. sempet jadi walikelas juga. guru yang terkenal dengan kedisiplinannya. guru yang saklek. berhasil mengenalkan saya dengan vektor, atau dalam medan magnet yang jika searah sekrup ke kanan berarti positif dan kekiri bererti negatif. guru yang soleh, selalu menyelipkan tausiyah tausiyah sederhana. suara cempreng, medok, tapi tegas membuat tidak ada anak tertidur dalam kelas.

yeng kedua itu Pa Iyus. anak 8 siapa yang ga kenal Pa Iyus. guru olahraga yang menerapkan sistem S M L dalam berbaris. dari kiri ke kanan berurutan dari yang terpendek (S) sampe yang tertinggi (L). beliau mengajarkan bentuk kedisiplinan serta keseriusan melalui olahraga, tidak hanya sekedar olahraga fisik saja. beliau terkenal dekat dengan siswa, karna gaya bicara pun layaknya anak satu geng, ngacapruk yang bercampur dengan sunda populer. tapi ingat, bagaimanapun beliau adalah guru. beliau bisa memberikan batasan2 dimana kita harus menghormati posisi beliau tanpa kata2.

5. Kuliah
kedekatan mahasiswa dan dosen tidak sama dengan siswa dan guru. terasa sekali berbeda. kalo guru yang (seharusnya) lebih menekankan komunikasi dua arah, tetapi tidak dengan dosen. simpelnya, kenapa ada sekolah khusus guru (SPG) yang lulusannya untuk mengajar baik di SD, SMP, SMA. tapi tidak ada sekolah khusus dosen (SPD --> ngarang) yang keluarannya khusus ngajar di universitas. ya karena di SPG sebagian kurikulum mengajarkan pendidikan berinteraksi dengan siswa, satu lawan banyak. sedangkan untuk jadi dosen, sekolah saja yang tinggi dan melamarlah jadi dosen. tak usah ada pendidikan bagaimana menangani mahasiswa, cukup satu lawan satu. ya jalur menjadi pendidik juga telah membedakan antara guru dan dosen. ok sedikit ga nyambung.

di bangku kuliah, dosen yang menginspirasi saya itu,,jelaslah pembimbing saya. Pa Mikrajuddin Abdullah. dengan segala optimisme nya saya hanyut. dengan sukarela saya menginjakkan diri di labnya. berdiskusi dengannya mengenai hal2 akademis dan non akademis, mengenai cita2 beliau tentang Indonesia. dosen yang kreatif, inspiratif, cerdas. yang kala itu selalu membuat saya menampar diri sendiri untuk kembali bangkit dari kegagalan (pek dut cuih,,apa itu bahasanya sangat lebay). ingat pak hari itu, saya berucap janji tentang keinginan saya. suatu hari nanti, saya akan datang pada bapak dan bercerita mengenai pengalaman pengalaman saya tentang meraih keinginan saya. dan bapak akan tersenyum bangga. hihihihihihi.

15 Februari 2011

ambil nilai baik

saya pernah punya pengalaman tentang saya yang meminta maaf pada ibu saya.
waktu kecil, hal yang paling susah ketika saya membangkang dari orang tua, atau saya marah atas keinginan-keinginan saya yang tidak beliau kabulkan, adalah mengucapkan maaf. ya susah sekali. rasanya ada perasaan gengsi. suatu hari ketika berangkat ke sekolah dengan perasaan marah ke ibu, bahkan sampai tidak mencium tangan bersalaman, hati saya sakiiiiiittt sekali, rasanya merasa tidak diridhoi. walaupun perasaan malu, marah, sakit itu hilang seiring waktu, dan ibu pun kembali bersikap normal, kehidupan pun kembali seperti semula. tapi tetap tidak ada kata-kata meminta maaf dari saya.

setelah beranjak gede, saya lebih manut manut, ngalah atau diam saja ketika ada perbedaan pendapat. saya gak mau ada konflik dengan orang tua saya.
sampai suatu hari, ketika saya dan ibu berkunjung ke rumah saudara di jakarta, di dalam mobil yang isinya saya, ibu, dan dua orang ua saya mengobrol tentang sesuatu. saya lupa persis kejadiannya seperti apa, kami mengobrol dan saya pun mengeluarkan kata2 yang seolah2 menyerang ibu saya. terlihat dari perubahan wajahnya dan suaranya bahwa hatinya tersakiti oleh perkataan anaknya. saat itu ibu saya merespon hanya dengan berusaha mengatakan bahwa ia tidak bermaksud melakukan hal yang saya telah katakan itu. tapi kenyataannya, saya sebagai anak selalu merasakan hal yang sebenarnya tidak ia maksudkan..(haduh bingung menuliskannya). ya pada akhirnya, setengah perjalanan saya dan ibu saya tidak berbicara. sampai di rumah ua saya, ada keanehan dalam diri saya. saya merasa sakit sekali menyadari bahwa saya telah membuat ibu saya sakit hati. berpikir serta mengumpulkan keberanian adalah hal yang saya lakukan sebelum akhirnya menghampiri ibu saya. hosh,,daripada hidup dalam ketidakridhoan orang tua yang berujung pada siksa akhirat nanti, lebih baik saya merendahkan hati saya untuk meminta maaf sedalam2nya atas ucapan yang saya berikan. susah sekali, tapi setelah saya melakukannya hatipun rasanya plong.

sekarang saya selalu berpikir, apa yang membuat saya menjadi seperti itu, tidak berani mengungkapakan rasa maaf atau terimakasih, tidak lepas berpendapat dengan orang tua, bahkan bisa dibilang tidak terbuka terhadap lingkungan luar. tak terpungkiri bahwa faktor pengasuhan orang tua bisa jadi salah satu penyebab. seharusnya orang tua itu seperti ini, harusnya orang tua itu seperti itu... tidak. tidak ada yang salah dari setiap orang tua. menjadi orang tua itu tidak mudah. setiap orang tua memiliki cara dan kemampuannya sendiri dalam membesarkan anak, tidak semua hal2 teori yang dianggap benar bisa dipraktekan oleh orang tua. setiap orang tua punya pertimbangannya sendiri. keterbatasan ilmu agama, ilmu mendidik anak, bahkan keterbatasan ekonomi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pola pengasuhan anak. jangan menyalahkan orang tua, karna tidak ada orang tua manapun yang menginginkan anaknya menjadi seorang penjahat, menjadi pembangkang.

saat kita tahu ada yang kurang dari apa yang telah orang tua berikan, maka ambilah nilai positif nya saja.luruskan apa yang kita anggap belum tepat. dan jangan sekali-kali membandingkan jerih payahnya membesarkan kita dengan hal lain. kita mesti bersyukur bisa diberi kesempatan untuk bisa menggapai pintu surga melalui pengabdian kita pada orangtua.

23 Januari 2011

10th months anniversary present

20 januari 2010, 20.00 waktu jepang bagian saitama shi

saat habis seharian menghabiskan waktu di rumah untuk bikin kue sus, saya bersantai di kursi sambil nonton tayangan tipi jepang. lupa acaranya tentang apa. tapi beberapa saat kemudian kami pun beranjak solat isya,,
habis solat isya, aa bilang "neng lupa ya sekarang 10bulanan",,,heu?! "iyah, lupa,,oiya sekarang tanggal 20 yah,,", jawab saya. "hemmmm,,,aa teh pernah beli sesuatu da, udah lama, waktu neng masih di indonesia. tapi belum dikasihin,,,da kayanya gakan bisa dipake juga", aa menambahkan. respon saya, "masa?!! ah boong, masa gak keliatan sama aku ditaro dimananya,,,". "iya beneran kok,,tutup mata bentar, jangan ngintip, awas kalo ngintip!!" aa pun menyuruh saya. dan beberapa detik kemudian dia suruh saya buka mata dan kasih hadiah itu...


kalung perak. dia ga berani kasih (atau lupa juga ya) sebelumnya karna saat ini saya masih pake kalung pemberian ibu saya. makanya dia udah wanti2 bilang, "kayanya ama neng juga ga kan dipake deh,,,". tapi barang sudah dibeli, momennya juga pas, mau ga mau dikasihin juga ke saya. terharu,,,saya nangis. di sela2 kesibukannya ngerjain proposal thesis, dia masih inget juga sama saya. bukan karna harga barangnya, bukan karena momennya, tapi karna saya merasa bersyukur punya orang2 yang sayang sama saya. yang selalu mengingatkan ketika saya lupa, meluruskan ketika saya salah, menyemangati ketika saya buntu, dan selalu berusaha sekuat tenaganya untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab terhadap saya demi menggapai menuju surga. Alhamdulillahirabbilalamiin.

10 Januari 2011

cari apato

weekend kemaren, sabtu dan minggu, saya habiskan mencari dan memilih tempat tinggal baru untuk kami tempati mulai maret nanti. karna waktu pakai kamar di dormitori kampus hanya setahun saja dan setahun akan segera tercapai. maka kami putuskan untuk mencari apato (asal kata dari apartemen) mulai dari sekarang. kami pergi ke apaman (agen apat0), disana ternyata banyak orang asing yang dapet tempat dari agen tsb. sampai disana kami langsung ditanya mau tipe tempat tinggal gimana dan budget harganya berapa. untuk masalah tipe, karna kita cuma berdua , jadi tipe single room atau double room ok, harga sih ya berkisar 40-50ribu yen. kira2 begitu yang kami sampaikan. disodorkanlah kami beberapa pamflet, yang bgini dan begitu, yang lengkap dan tidak lengkap, yang deket kampus dan pinggiran, yang tempat rame dan tempat sepi...weleh weleh.

dikasih banyak pilihan, tentu memusingkan. kata aa, tergantung saya mau yang gimana, karna saya yang akan lebih sering ada di rumah dibanding dia. yasudahlah, saya pun cukup tau diri, saya pengen nyaman tapi yang gak mahal2 amat. akhirnya ketemulah yang cocok antara harga dan lokasi. sampai akhirnya diputuskan kami ambil tempat itu setelah lihat kondisi tempatnya.

oke, apato yang akan kami tempati itu bukan apato baru, tergolong apato lama. single room. gaya ruangnya bergaya jepang dengan pintu kertas geser, juga tempat nyimpen baju di dalam lemari kaya punyanya doraemon. letaknya dekat dengan supermarket dan jalan besar, juga deket tetangga orang indonesia. harganya cuma 35ribu yen sebulan. yah cukup lah buat kami. yap, mulai sekarang atau mulai bulan depan akan siap2 beberes dan dorong barang dari tempat lama ke tempat baru. nih apatonya kaya yang ada disini .