hisahiburi,
pasca gempa 3/11, saya belum nulis apa2 lagi, baik terkait gempa, masa2 pindahan, isu radiasi nuklir, antri beras, antri re entry visa, ketokan tetangga yang bikin jantung mau copot terus, pendampingan belajar jarak jauh, yeah, banyak hal terjadi seminggu ini.
saya ucapkan Alhamdulillah dulu untuk pertama-tama, karna saya dan aa masih dikasih kesempatan hidup dan memperbaiki diri lagi. saat gempa terjadi, ya itu yang terbesar sepanjang sejarah saya menghirup udara ini, saya hanya mikir "ya Allah, kalo saya harus mati, saya pengen mati pas nginget Allah", ga inget2 apa2 lagi selain itu dan pengen cepet ketemu aa. hehehe.. panik? jelas panik banget, tapi masih bisa kekontrol, setidaknya saya masih pake sepatu dan ambil tas, bahkan sempet matiin saluran gas dan nyumput dibawah meja selama beberapa detik sebelum akhirnya ngacir keluar kamar. deg deg deg deg hosh hosh hosh, kayanya gitu bunyi jantung dan nafas saya, denyut nadi seperti habis lari sprint 10 keliling sabuga. sampe diluar gedung, saya masih dikasih liat keindahan gempa, maksudnya saya melihat bangunan anti gempa yang bergoyang layaknya jelly. besi peredam yang panjang dan tebal yang biasa dipasang diagonal di gedung gedung beresonansi layaknya senar gitar yang sedang dipetik, alamaaakk. sempat terpukau dengan kesigapan negerinya doraemon ini. setelah gempa besar itu gempa2 susulan dengan magnitude lebih kecil terjadi sampai hari ini.
sesaat setelah gempa, tsunami terjadi di dekat pusat gempa terjadi, salah satunya di daerah Sendai. ya sendai. tempat sekolahnya teh uti dan kekasihnya. teh uti yang seminggu sebelumnya sempat bersua dengan kami di restoran cabe. saya berusaha meneleponnya tapi tak kunjung burung mengabari. tak hanya teh uti, warga indonesia di daerah pusat gempa dan tsunami cukup banyak, pikiran saya dan aa tak karuan. namun, berita baik tak lama muncul, mereka berada di pengungsian dan beberapa hari kemudian pihak KBRI menjemput warga Indonesia di tempat bencana untuk dibawa ke Tokyo hingga dipulangkan ke Indonesia. (bagian ini saya jg pengen, dipulangkan ke indonesia haratis, hehehe)
gempa dan tsunami tentu memberikan efek langsung terhadap warga di daerah bencana. tapi ternyata kami yang tinggal berjarak 250 km pun kebagian efek dari tsunami dan gempa tersebut. ya, salah satu pasokan listrik yakni pembangkit listrik tenaga nuklir yang menyuplai hampir semua kebutuhan listrik warga jepang mengalami kerusakan. reaktor nuklir yang ada di fukushima. isu2 kebocoran radiasi semarak berkembang di masyarakat. (ho ho ho, mengingatkan saya akan kelas fisika kuantum dimana pak zaki yang ahli nuklir itu menjelaskan peristiwa kecelakaan chernobyl dan three miles island terjadi). gak cuma isu radiasi, ehem bukan sekedar isu memang, tapi radiasi dari bahan radioaktif sudah masuk ke lingkungan hanya saja intensitasnya rendah untuk daerah yang jaraknya 250km. saya sedikit parno juga sama isu radiasi itu, karena saat isu itu berkembang, saya sedang gak punya akses informasi terkini akibat sambungan inernet yang tidak ada pasca pindahan. tapi alhamdulillah lagi lagi saya ucapkan ketika bertemu dengan bapak internet dan mendengar pernyataan dari pemerintah baik pemerintah jepang maupun indonesia tentang radiasi yang belum dan semoga tidak akan berpengaruh terhadap kesehatan, saya sedikit tenang.
bersamaan dengan itu, 3 hari pasca gempa, akibat reaktor yang mengalami kerusakan itu, daerah tokyo dan sekitarnya mengalami pemadaman listrik bergilir. alhamdulillah lagi, ya bersyukur saja. dibanding korban di pusat gempa dan tsunami, kami patut bersyukur. pemadaman hanya 3 jam dalam sehari. minimal kami sudah biasa dengan listrik mati, di indonesia pun pemadaman secara tiba2 sering kejadian. pemadaman untuk waktu dan jangka waktu yang tidak diketahui.
karna hal ini adalah hal pertam bagi warga jepang, sepertinya mereka khawatir kehidupan sehari2 mereka akan terganggu. takut2 kalau distribusi bahan pangan akan terganggu, atau sulit mendapatkan air bersih akibat filter air yang tak bekerja karena pemadaman listrik. yah hal2 seperti itu. saya dan aa berusaha ga panik, ga ikut2an buru2 cari air, tisu toilet. yang saya ikut antri adalah antri beli beras. saya berusaha tenang tak terburu2. teringat dalam salah satu ayat di Quran bahwa terburu2 adalah tabiatnya manusia dan itu datangnya dari syetan. alhamdulillah, dari salah satu toko kecil dekat rumah kami, kami dapet beras 10 kg. :D
di hari2 itu, telpon dari keluarga di indonesia lebih sering kami terima. bertanya keadaan dan rencana selanjutnya. menyuruh pulang ke indonesia juga salah satu nasihat yang diberikan. hehehe. tapi selama pemerintah belum mengumumkan keadaan darurat, insya Allah kami tetap di jepang. tidak bermaksud pulang memang, tapi untuk jaga2 jika sesuatu terjadi dan harus pulang, saya dan aa merencanakan ke kantor imigrasi untuk apply visa re-entry permit. dan kami pun berangkat ke kantor imigrasi saitama pada hari jumat jam setengah dua siang. sampai di tempat, jreng jreng jreng... ular naga panjangnya bukan kepalang. betapa panjang antrian manusia yang sedang berdiri untuk memproses urusannya di kantor imigrasi. mau pulang tanggung, tapi mau antri juga hoream. sampai seorang petugas mengumkan bahwa pembuatan izin re-entry bisa dilakukan di kantor pusat regional di daerah shinagawa, sampai pukul 6 saja. saat itu pukul setengah 3. aa dan saya langsung menuju stasiun untuk mencapai shinagawa secepat mungkin. yeah, kami berusaha saja, kalau tiba2 sampai sana sama penuhnya dan tidak dapat, tak akan kami sesali, memang bukan rezekinya berarti. tapi dan tapi,,sampai disana, bukan ular naga lagi yang merepresentasikan panjangnya antrean orang2 asing itu. lebih panjang. panjang tapi petugas imigrasi sudah sigap siaga menerima kondisi seperti itu. mereka membuat jalur kheuseus dan membuat semuanya berjalan lancar dan cepat. aaah, jepang jepang, bahkan satpam pun terlihat sangat keren. *ups, gomen aa, hatiku tetap padamu*
saya bingung mengakhiri tulisan ini, heu!
yang pasti sampai hari ini, saya dan aa terus bersyukur dan selalu waspada untuk semua yang terjadi. garis takdir kita sudah tertulis. jika sudah waktunya untuk kembali pada Sang Pemilik, kapanpun bagaiamanapun kita akan kembali, wallahu alam. yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi hidup ini agar kita bisa mengakhiri hidup kita dengan indah. khusnul khatimah.