27 Maret 2011

earth hour


jam bumi begitulah tranlasinya. mungkin maksudnya bumi harus istirahat selama sejam, makanya yang pada tinggal di bumi, matiin ya lampunya, bumi mau bobo dulu. *gak jelas*
denger aja sih woro-woro nya dari temen2 di Indonesia tentang earth hour, yakni gerakan mematikan lampu selama 60 menit saja. gerakan ini jatuh (aduh sakit! *kan jatuh), jatuh di tanggal 26 Maret 2011 lalu mulai pukul 8.30 pm waktu lokal.

saya ngapain ya hari itu? rasanya ga ikutan matiin lampu. lampu di ruang utama tetep nyala, dan pasokan listrik ke laptop juga tetep dialirkan. heu! maafkan bumi, pasti tidurny ga nyenyak ya??

ngomongin matiin lampu, sejak pemadaman bergilir yang terjadi di daerah kanto pasca gempa, saya bener makin terharu ru ru ru sama toko2, supermarket yang ada disini. sepertinya kejadian kecelakaan nuklir di Fukushima itu bener2 menyadarkan masyarakat Jepang bahwa listrik sangat sangat sangat penting. sejak itulah, mereka mulai bijaksana menggunakan listrik bahkan yang sifatnya untuk kepentingan publik sekalipun. di beberapa bagian di dalam supermarket, mereka tidak menyalakan lampu. ya tanpa adanya lampu menyala di area tersebut pun, jenis barang dan harganya masih terlihat jelas. salut saya. pemberitahuan dari perusahaan listrik tentang pemadaman di hari2 sebelumnya pun tentu saja sangat membantu mengantisipasi kepanikan dan kekesalan warga.

dan hubungannya dengan earth hour adalah??

Earth hour adalah gerakan yang dibuat masyarakat, tujuannya menyadarkan masyrakat untuk menghemat pemakaian listrik. siapa saja boleh melakukan, jumlahnya bisa jadi tak terhitung. disini mestinya pemerintah (ya pemerintah indonesia dong) bisa melihat peluang, bahwa banyak masyarakat yang peduli akan sisa energi yang akan habis itu. sehingga pemerintah kemudian bisa membuat program pemadaman listrik bergilir (seperti di Jepang tapi tanpa adanya kecelakaan terlebih dahulu), yang terencana dan ada sosialisasi tentunya. sejam dalam seminggu tanpa listrik di rumah, apalah ruginya? saya yakin masyarakat juga akan paham dengan gerakan dari pemerintah yang seperti itu. pis ah!

mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar!

Brothers

putra Teh Dewi, Eka (8tahun) dan Azis (7 tahun)

19 Maret 2011

perpustakan kota

salah satu hal yang menyenangkan tinggal di Jepang adalah tersedianya fasilitas perpustakaan kota. di Fuchu ada Fuchu Lumiere, perpustakaan kota yang besar dengan bangunan yang menarik. saya sering kesana hanya untuk sekedar membaca buku yang dibawa dari rumah, atau menuju ke pojok buku bahasa asing lalu mengambil satu dua buku dan membacanya disana. sekedar untuk numpang tidur siang juga pernah, saat suhu di dalam kamar terlampau rendah dan saya terlalu pelit untuk menyalakan pemanas di siang hari. hehehehe.

sekarang, di kota Saitama ini pun saya mencari2 letak perpustakaannya dimana. baru minggu kemarin lah untuk pertama kalinya saya kesana. hal yang pertama lakuin adalah menjadi anggota perpusatakaan, biar bisa pinjem buku, majalah, CD, DVD, dll. ya memang terbatas sih buku yang bisa saya pahami, paling2 cuma buku dari English corner lagi atau majalah majalah kerajinan tangan yang cuma bisa saya tatapi gambar2 di tiap halamannya. walau cuma segitu, tak apa. toh buku dalam bahasa inggris pun banyak koleksinya.

perpustakaan ditujukan untuk semua kalangan, anak2, remaja, orang dewasa, bahkan aki aki nini. perpus bukan hanya menjadi tempat minjam meminjam buku saja. terdapat juga klub klub voluntir didalamnya. dalam perpustakaan sendiri terdapat ruangan-ruangan yang biasa dijadikan untuk berbagai macam keperluan. ada tempat untuk membacakan cerita untuk anak2 oleh para voluntir, ada ruangan untuk diskusi grup, ruangan khusus dewasa dan remaja. menjadikan perpustakaan sebagai salah satu tempat rekreasi memang ide yang menarik. pantas saja jumlah literatur dan tingkat membaca orang Jepang sangat tinggi.

teman saya Jiang (Cina) di depan perpustakaan Fuchu Lumiere


tampak depan Fuchu Lumiere


tampak dalam perpustakaan Fuchu Lumiere


tampak luar Perpustakaan kota Saitama (di dalam gedung ini terdapat berbagai macam fasilitas lain selain perpusatakaan)

pindahan tahap terakhir



kenapa saya sebut tahap terkahir, padahal sebelumnya ada pindahan tahap 1? karena dan kerena saya lupa berapa puteran saya dan aa ngangkut mindahin barang dari i-house kampus ke apato kami. ini adalah poto sesi terakhir ngangkut barang. hosh!
(saat saat melupakan ketegangan sejenak setelah bencana gempa dan tsunami)

kabar seminggu #1

hisahiburi,
pasca gempa 3/11, saya belum nulis apa2 lagi, baik terkait gempa, masa2 pindahan, isu radiasi nuklir, antri beras, antri re entry visa, ketokan tetangga yang bikin jantung mau copot terus, pendampingan belajar jarak jauh, yeah, banyak hal terjadi seminggu ini.

saya ucapkan Alhamdulillah dulu untuk pertama-tama, karna saya dan aa masih dikasih kesempatan hidup dan memperbaiki diri lagi. saat gempa terjadi, ya itu yang terbesar sepanjang sejarah saya menghirup udara ini, saya hanya mikir "ya Allah, kalo saya harus mati, saya pengen mati pas nginget Allah", ga inget2 apa2 lagi selain itu dan pengen cepet ketemu aa. hehehe.. panik? jelas panik banget, tapi masih bisa kekontrol, setidaknya saya masih pake sepatu dan ambil tas, bahkan sempet matiin saluran gas dan nyumput dibawah meja selama beberapa detik sebelum akhirnya ngacir keluar kamar. deg deg deg deg hosh hosh hosh, kayanya gitu bunyi jantung dan nafas saya, denyut nadi seperti habis lari sprint 10 keliling sabuga. sampe diluar gedung, saya masih dikasih liat keindahan gempa, maksudnya saya melihat bangunan anti gempa yang bergoyang layaknya jelly. besi peredam yang panjang dan tebal yang biasa dipasang diagonal di gedung gedung beresonansi layaknya senar gitar yang sedang dipetik, alamaaakk. sempat terpukau dengan kesigapan negerinya doraemon ini. setelah gempa besar itu gempa2 susulan dengan magnitude lebih kecil terjadi sampai hari ini.

sesaat setelah gempa, tsunami terjadi di dekat pusat gempa terjadi, salah satunya di daerah Sendai. ya sendai. tempat sekolahnya teh uti dan kekasihnya. teh uti yang seminggu sebelumnya sempat bersua dengan kami di restoran cabe. saya berusaha meneleponnya tapi tak kunjung burung mengabari. tak hanya teh uti, warga indonesia di daerah pusat gempa dan tsunami cukup banyak, pikiran saya dan aa tak karuan. namun, berita baik tak lama muncul, mereka berada di pengungsian dan beberapa hari kemudian pihak KBRI menjemput warga Indonesia di tempat bencana untuk dibawa ke Tokyo hingga dipulangkan ke Indonesia. (bagian ini saya jg pengen, dipulangkan ke indonesia haratis, hehehe)

gempa dan tsunami tentu memberikan efek langsung terhadap warga di daerah bencana. tapi ternyata kami yang tinggal berjarak 250 km pun kebagian efek dari tsunami dan gempa tersebut. ya, salah satu pasokan listrik yakni pembangkit listrik tenaga nuklir yang menyuplai hampir semua kebutuhan listrik warga jepang mengalami kerusakan. reaktor nuklir yang ada di fukushima. isu2 kebocoran radiasi semarak berkembang di masyarakat. (ho ho ho, mengingatkan saya akan kelas fisika kuantum dimana pak zaki yang ahli nuklir itu menjelaskan peristiwa kecelakaan chernobyl dan three miles island terjadi). gak cuma isu radiasi, ehem bukan sekedar isu memang, tapi radiasi dari bahan radioaktif sudah masuk ke lingkungan hanya saja intensitasnya rendah untuk daerah yang jaraknya 250km. saya sedikit parno juga sama isu radiasi itu, karena saat isu itu berkembang, saya sedang gak punya akses informasi terkini akibat sambungan inernet yang tidak ada pasca pindahan. tapi alhamdulillah lagi lagi saya ucapkan ketika bertemu dengan bapak internet dan mendengar pernyataan dari pemerintah baik pemerintah jepang maupun indonesia tentang radiasi yang belum dan semoga tidak akan berpengaruh terhadap kesehatan, saya sedikit tenang.

bersamaan dengan itu, 3 hari pasca gempa, akibat reaktor yang mengalami kerusakan itu, daerah tokyo dan sekitarnya mengalami pemadaman listrik bergilir. alhamdulillah lagi, ya bersyukur saja. dibanding korban di pusat gempa dan tsunami, kami patut bersyukur. pemadaman hanya 3 jam dalam sehari. minimal kami sudah biasa dengan listrik mati, di indonesia pun pemadaman secara tiba2 sering kejadian. pemadaman untuk waktu dan jangka waktu yang tidak diketahui.

karna hal ini adalah hal pertam bagi warga jepang, sepertinya mereka khawatir kehidupan sehari2 mereka akan terganggu. takut2 kalau distribusi bahan pangan akan terganggu, atau sulit mendapatkan air bersih akibat filter air yang tak bekerja karena pemadaman listrik. yah hal2 seperti itu. saya dan aa berusaha ga panik, ga ikut2an buru2 cari air, tisu toilet. yang saya ikut antri adalah antri beli beras. saya berusaha tenang tak terburu2. teringat dalam salah satu ayat di Quran bahwa terburu2 adalah tabiatnya manusia dan itu datangnya dari syetan. alhamdulillah, dari salah satu toko kecil dekat rumah kami, kami dapet beras 10 kg. :D

di hari2 itu, telpon dari keluarga di indonesia lebih sering kami terima. bertanya keadaan dan rencana selanjutnya. menyuruh pulang ke indonesia juga salah satu nasihat yang diberikan. hehehe. tapi selama pemerintah belum mengumumkan keadaan darurat, insya Allah kami tetap di jepang. tidak bermaksud pulang memang, tapi untuk jaga2 jika sesuatu terjadi dan harus pulang, saya dan aa merencanakan ke kantor imigrasi untuk apply visa re-entry permit. dan kami pun berangkat ke kantor imigrasi saitama pada hari jumat jam setengah dua siang. sampai di tempat, jreng jreng jreng... ular naga panjangnya bukan kepalang. betapa panjang antrian manusia yang sedang berdiri untuk memproses urusannya di kantor imigrasi. mau pulang tanggung, tapi mau antri juga hoream. sampai seorang petugas mengumkan bahwa pembuatan izin re-entry bisa dilakukan di kantor pusat regional di daerah shinagawa, sampai pukul 6 saja. saat itu pukul setengah 3. aa dan saya langsung menuju stasiun untuk mencapai shinagawa secepat mungkin. yeah, kami berusaha saja, kalau tiba2 sampai sana sama penuhnya dan tidak dapat, tak akan kami sesali, memang bukan rezekinya berarti. tapi dan tapi,,sampai disana, bukan ular naga lagi yang merepresentasikan panjangnya antrean orang2 asing itu. lebih panjang. panjang tapi petugas imigrasi sudah sigap siaga menerima kondisi seperti itu. mereka membuat jalur kheuseus dan membuat semuanya berjalan lancar dan cepat. aaah, jepang jepang, bahkan satpam pun terlihat sangat keren. *ups, gomen aa, hatiku tetap padamu*

saya bingung mengakhiri tulisan ini, heu!
yang pasti sampai hari ini, saya dan aa terus bersyukur dan selalu waspada untuk semua yang terjadi. garis takdir kita sudah tertulis. jika sudah waktunya untuk kembali pada Sang Pemilik, kapanpun bagaiamanapun kita akan kembali, wallahu alam. yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi hidup ini agar kita bisa mengakhiri hidup kita dengan indah. khusnul khatimah.

06 Maret 2011

pindahan tahap 1

pindahan tahap 1

meja lipat, jumlah: 2
laci plastik, jumlah: 2
futon, jumlah: 1
sepatu, jumlah: sekeresek
dus isi buku-buku, jumlah: 3
dus isi bumbu2, jumlah: 2
karpet, jumlah: 2
heater, jumlah 1

metode perpindahan: diangkut dengan 2 buah troli, dilakukan 2 kali putaran.
waktu tempuh: 50 menit/putaran.

karna pindahannya deket dan jumlah barang yang dipindahin juga gak terlalu banyak, jadi kami memutuskan pinjam troli kampus dan berjalan sambil mendorong barang2 ke apato baru. rencananya masih akan dilakukan 2-3 kali lagi dalam seminggu ini. hosh!

met teh uti



kalo kata teh uti didalam blognya kita lagi daberu deeto.
paling seneng deh kalo ada temen yang berkunjung ke tokyo terus ketemuan, hihihihi.
kali ini ada teh uti (senior di LSS) dan sang kekasihnya yang datang berkunjung dari sendai dan menyempatkan diri untuk diajak ketemuan. kami ajak mereka ke restoran Cabe, restoran makanan Indonesia, yang letaknya di Meguro, tempat kedutaan besar Indonesia dan sekolah Republik Indonesia berada.
foto bareng pegawai resto juga yang ngundang kami ke acara dangdutan di Roppongi *duh!!*


dapat oleh2 pula dari sendai, terharu hiks hiks. teh uti aku berhutang padamu ya,,semoga ada kesempatan buat bayar hutang itu. hatur nuhun teh.. :)

semoga ada edisi La Tahzan for Housewife *hahahaha*


beres juga buku yang dikasih mbak dina 2 minggu lalu. judul bukunya La Tahzan for Students. ditulis keroyokan oleh pelajar2 di Jepang yang tergabung dalam forum kepenulisan. bukunya sederhana dan mudah dicerna, cuman saya aja yang agak lemot jadi butuh 2 minggu untuk bisa selesai dari prakata sampe penutup. heu!

didalamnya terdapat kisah2 perjuangan bagaimana menanti beasiswa yang sudah dimimpikan, setelah dapat beasiswa pun masalah belum selesai. perbedaan kultur budaya, agama, bahasa maupun sistem pendidikan tak jarang banyak dikeluhkan oleh para penulisnya. belum lagi bagi yang mengalami krisis keuangan akibat beasiswa yang terputus atau uang saku yang tidak mencukupi, pekerjaan paruh waktu dan nge lab di kampus sudah menjadi makanan sehari2.

diawal2 saya membaca, jujur saya akui saya sedikit bosan dengan gaya cerita dari satu kisah ke kisah lainnya karena alur yang sama: memimpikan beasiswa --> dapat beasiswa --> susah senangnya kuliah dan tinggal di jepang --> lulus --> selesai . tapi setelah saya teruskan, ternyata dugaan saya salah. walaupun secara umum alurnya seperti itu tetapi pengalaman yang dikemukakannya bermacam2, dan inilah yang membuat bundel kumpulan pengalaman ini menjadi tidak bosan untuk dibaca. ada yang hanya menceritakan proses selama di Indonesia yang dipusingkan dengan SK PNS yang tak kunjung keluar, bahkan perjuangan para ibu ditengah2 pergulatan emosi saat hamil, mengurus anak2 dan harus kuliah, Subhanallah.

buku yang pas buat orang-orang yang ingin belajar keluar negeri atau yang sedang belajar diluar negeri. sebagai penambah motivasi kalau banyak juga pelajar yang selama masa studinya ga selalu mulus seperti mulusnya kulit saya. kalau saya termasuk yang mana ya?? walaupun saya (untuk sekarang ini) bisa dibilang ada diluar dua golongan yang saya sebut, dalam diri saya timbul rasa kagum, kepengen, bahkan pertanyaan datang ke dalam diri saya: "kalau saya ada di posisi seperti mereka, sanggup gak yah?". karena hidup adalah perjuangan. mau saat ini profesinya pelajar, petani, pebisnis, pegawai, ibu rumah tangga, polisi, presiden, menteri, tukang pijit, semuanya harus kudu mesti punya semangat berjuang.

btw, sebelum dikasih buku ini, sebenernya saya sempet baca sekilas buku punya temen saya. nah dari situ saya liat salah satu penulis, dimana dia adalah mantan tetangga saya di fuchu. mbak dina namanya. setelah itu beberapa minggu kemudian saya dikirimin buku oleh beliau. karna penasaran sama tulisan mbak dina, cerita pertama yang saya tuju sesaat membuka buku adalah tulisan mba dina. ternyata dan ternyata, bagian mbak dina ini bikin saya hahaha hihihihi ketawa ketiwi. apa karna saya ngebayangin sosok penulisnya yang juga suka bercanda dan penuh tawa ya?sedikit sih. enggak enggak, tapi memang gaya penulisan mba dina itu lebih santai juga lepas. perjalanan hidup yang keras tapi dikemas dengan guyonan norak dan lebay. heu, pis ah mbak!

02 Maret 2011

Hina Matsuri

Hari ini tanggal 3 Maret dirayakan sebagai Girl's day atau festival boneka atau Hina Matsuri. Foto ini saya ambil ketika kelas bahasa Jepang berlangsung. Para sensei melebarkan kain bergambar dan juga memajang boneka buatan tangan yang biasanya ada dalam perayaan Hina Matsuri. Tahun lalu saya sempet ikutan acara Hina Matsuri lengkap dengan memakai kimono, tapi ternyata pas saya cari gambar tahun lalu ternyata gak ada. berarti saya ga sempet foto2. Tahun ini pun sebenernya ada acara pakai kimono lagi, tepatnya hari Minggu kemaren, cuman saya ajah yang males dateng. hehehehehe,, maklum udah agak sesak kalo harus mengencangkan sesuatu di bagian perut.





no judul

kalau diingat-ingat jaman SD dulu saya pernah mengalami jaman kesesatan. selama beberapa bulan saya belajar perkalian matematika dengan cara membariskan angka-angka kebawah, tapi di garis kedua saya tidak menjorokkan si angka sehingga kolom pertama di baris kedua tidak sejajar dengan kolom kedua baris pertama. alhasil beberapa kali ulangan matematika saya jeblok, oh nooo,,saya bingung kenapa nilai saya selalu jelek. dan lagi saya tidak bertanya pada siapa2. sampe suatu hari ketika saya sedang mengerjakan PR tentang perkalian tersebut, di sebelah saya ada guru ngaji saya (setelah les ngaji saya ngerjain PR), nah disitulah pencerahan terjadi. guru ngaji saya ngasih tau saya kalau cara yang saya lakuin itu salah, makanya hasilnya selalu salah. tapi sejak itu, saya berhasil menghitung perkalian dengan cara manual tersebut.

kesesatan kedua adalah ketika saya tidak tau cara menggunakan tangga satuan dalam matematika. itu loh yang ada hm, km, dm, dam, m, cm, mm dan satuan lainnya. saya gak bisa pake gituan. lagi lagi dalam pelajaran matematika, nilai saya sangat jeblok gara2 saya salah mengkonversi satuan. dooohhh. alih alih takut dimarahin, saya umpetin itu ulangan dengan nilai yang super rendah di belakang meja belajar berharap ga akan ada orang yang beresin meja belajar saya. tapi rencana saya gagal total. suatu hari si mamah yang biasanya jarang beberes meja, tiba2 gak ada angin gak ada ujan ngeberesin meja saya dan menemukan sebuah kertas putih dengan sebuah angka yang tidak lebih dari jumlah jari tangan kiri saya. o owww.. jantung saya deg2an ketika saya dipanggil kehadapannya. gak diomelin sih, cuma saya dikurung di dalam kamar selama beberapa jam untuk kembali mengulang soal ulangan tersebut. kali ini, sambil bersimbah air mata sepupu saya yang umurnya 2 tahun diatas dengan baik hati mengajarkan saya bagaimana menggunakan tangga satuan yang benar. sambil mewek saya kerjain tu soal, pokonya harus bisa supaya bisa maen bebas lagi. hahahahahaha...

saya teringat kisah kisah jaman SD ini karena dalam beberapa waktu kedepan saya diamanahi untuk mendampingi seorang siswa SD dalam belajar menghadapi ujian. entah metode apa yang saya akan gunakan, saya belum tau. karena menurut saya, materi pelajaran bukanlah problem utama dalam suatu proses belajar. saya juga sangat ingin menghindari metode meng-guru-i, saya selalu berprinsip "kita sama-sama belajar" hanya saja saya kebetulan lebih tahu duluan. jadi gimana yaaaa?????