21 Juli 2012

Yang Sempat Ditulis

foto danchi di depan apato (fotonya Mba Mia)

Ternyata dulu pernah nulis ini ketika sampai di Indonesia bulan Maret lalu....

Hari itu cuaca sedikit gerimis. Mata kami masih ingin sekali tertutup, kami baru tidur jam dua dini hari dan tiga jam seolah cepat sekali berlalu. Jam lima pagi kami sudah bersiap shalat shubuh, mandi, dan mengecek untuk terakhir kalinya memastikan tidak ada barang yang terlupa serta membereskan semua benda untuk kemudian mengamanahinya kepada penghuni berikutnya. Sungguh ingin aku menatap lebih lama lagi rumah yang berada di belakang balkon tempat kami. Ingin rasanya menyimpan seluruh memori yang sudah kuhabiskan di tempat ini. Suara anak tetangga yang selalu ramai ketika jam sekolah, suara para penghuni rumah membuka pintu jendela mereka, suara burung gagak di pagi hari. Hari itu hari sabtu, sehingga tak ada anak yang pergi ke sekolah. Jendela pun masih tertutup rapat, karena kami terlalu dini terbangun.

Kupanaskan air diatas kompor. Membuka tutup terakhir dari semangkok mie instan yang baru dibeli di hari kemarinnya. Kami pikir, ini adalah makanan terakhir dari kisah hidup kami di tempat ini, makanan yang memang hanya dijual disana. Semangkok untuk berdua saja. Cukup untuk santapan mengganjal perut dipagi hari. Seorang teman juga telah merelakan tidurnya terpotong demi untuk datang ke tempat kami. Teman yang akan mengisi rumah yang sebelumnya kami tempati selama setahun. Dia datang dan membantu menyelesaikan sesuatu yang sedang kami bereskan. Tak lama dari itu juga, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sebuah keluarga manis yang selalu senantiasa membantu kami selama setahun ini pun merelakan paginya dihabiskan untuk datang ke tempat kami. Dengan mata yang masih kantuk, anak-anak dari keluarga itu masih sempat berusaha tersenyum. Aku pun terharu, hampir seperti langit di luar sana yang menurunkan rintik hujan, tapi ku tahan. Sebungkus nasi goreng juga kami dapatkan dari keluarga nan baik hati itu. Tak terkira bahagiaku. Bukan karena makanannya, tapi sebegitu ingatnya mereka pada kami. Membayangkan akan lamanya menunggu, sehingga memberikan kami makanan untuk disantap selama menunggu itu. Malu aku rasakan pada mereka, karena aku tidak banyak memberi apa-apa kepada mereka. Aku tak luput memberikan senyumanku pada mereka semua. Kami akan baik-baik saja, begitupun dengan kalian. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Tempat ini, sekali lagi ku tuliskan. Ingin aku merekam semua memori ini. Sudah pukul enam lewat sepuluh. Kami turun ke bawah menuju tempat dimana kami di jemput. Ketika barang-barang sedang dimasukkan kedalam mobil, tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari rumahnya. “sudah akan pulang ya?”, begitu yang ia katakan. Dan tiba-tiba saja dia menangis serta mengatakan bahwa walaupun kami dan beliau jarang bertemu, tapi ia sangat sedih dengan kepergian kami. Dan aku pun berusaha untuk tetap tersenyum. Beliau adalah wanita yang tinggal di bawah kamar kami, memiliki usaha cukur rambut, dan juga penanggung jawab untuk sampah di lingkungan kami. Masih sempat kami memberikan sebuah hiasana bergambar wayang kepada beliau, dan beliau terlihat semakin hanyut dalam keharuan. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain berpamitan. Kupeluk beliau, kupeluk keluarga itu, kupegang kepala anak-anak mereka. Dengan sebuah doa: sehat-sehat kalian disana dan semoga kita dipertemukan kembali.

Tak ada yang bisa memberhentikan waktu, kami pun naik ke mobil. Tempat tinggal kami semakin jauh dan kecil, aku sudah tidak lagi melihat teman-teman kami berdiri disana lagi. Bukan mereka yang pergi, tapi kami yang meninggalkan tempat itu.

#edisi kangen Toumeisou#

2 komentar:

  1. Duh, baru dibaca full nih tulisan tante indah yang satu ini... sebelumnya cuma berani "lirik2" doank... hiks hiks, ikutan sedih :(

    BalasHapus
  2. ayuuu,,,,maafkan daku juga baru baca komenmu..
    apa kabarnya ayu?? kangen ih,,kangen pertama kali menginjakkan kaki di jepang bareng kalian.. :)

    BalasHapus