24 September 2014
Nyanyian September
Sesekali rasanya ingin nulis. Nulis apapun, ngacapruk, yang pasti apa yang saya tulis tidak pernah berbobot seperti para blogger lainnya. Hanya badan saya yang berbobot agak serius. *apasih*
September pun akan segera berakhir. Bulan ke sembilan di tahun 2014 sebentar lagi akan terlewati. Dipikir-pikir dan dirasa-rasa, sungguh waktu itu sangat sangat lewat dengan cepat. Alhamdulillah sudah sampai di titik ini dan berharap hari-hari ke depan selalu dikasih waktu yang penuh berkah. Ga ada status yang bertambah di diri ini, namun tetap ada yang terasa beda. Dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, menjalankan hari hari saat ini terasa lebih ringan (thanks to Allah SWT). Berbagai ujian dijalani, beribu hikmah dipetik, berjuta harapan terus digantungkan. Atau mungkin harapan tidak perlu terlalu tinggi digantung, namun kian didalami agar lebih syahdu dan terasa nikmatnya.
Sesekali saya melakukan perjalanan, baik sendiri atau dengan orang lain, dekat ataupun jauh. Demi meningkatkan tingkat sensivitas terhadap diri, terhadap pencipta, terutama mengembalikan gairah hidup agar senantiasa lebih optimal dan bersyukur.
Belajar untuk lebih banyak diam, mendengarkan, bahkan mengabaikan. Zaman dimana manusia mudah tersulut emosinya, lisannya, tulisannya, laku nya. Bahagia atau sedih atau gelisah atau takut dan perasaan lainnya sudah bukan lagi barang pribadi lagi yang bisa secara proporsional dibagi atau disimpan. Barang pribadi yang dimunculkan terkadang nikmatnya berkurang karena tidak terlalu peka terhadap orang luar yang berada di kondisi sebaliknya dan memunculkan duri duri kecil di diri manusia. Kadang terasa kadang tidak terasa. Cukuplah segalanya dikembalikan ke Pemilik Perasaan, Allah Subhanawata'ala.
Berkali-kali saya berusaha bangun, akibat dijatuhkan oleh sisi lain diri ini. Yang merasa tak berguna lah, yang merasa sia-sia lah, yang berpikir "kok saya cuman....", dan segala bentuk kekufuran nikmat lainnya. Sungguh, pekerjaan membangkitkan diri bukanlah pekerjaan mudah ya. Kalau bahasa populer jaman sekarang mah harus bisa "move on". Walau langkah kecil, tapi saya ingin coba tapaki, entah didepan berliku, menanjak, menurun, atau ternyata jalan buntu? saya hanya ingin menjalani dengan tekun dan sabar. Belum ada kata terlambat kan?
Dan....ah sudahlah..
Jadi beneran ngacapruk euy!
Saya harus nyelesain sesuatu terus mau ke supermarket, terus mau cuci piring, terus mau masak. Gak lupa ngeliat jemuran yang takut terbang karena anginnya lagi kenceng, kan takut kalau terbang trus nyangsang di pohon rumah tetangga. Bukan malunya, tapi susah ngambilnya. Hehehe.
Sip, oke!
Langganan:
Postingan (Atom)

