24 November 2014

Refleksi musim gugur

Setiap akhir adalah adalah setiap awal
Setiap awal adalah masa sulit untuk bisa beradaptasi dan bertahan
Hingga akan ada akhir lagi yang indah

Saya mah selalu suka musim gugur, musim daun daun berubah jadi kuning, oranye, atau merah.
Menentramkan hati, menghangatkan mata.
Ada pengorbanan dan semangat mempertahankan diri dari sebatang pohon untuk ditiru.
Melepas daun daun dengan sukarela untuk sedikit tampil botak yang mungkin tidak cantik lagi dilihat, tapi dalam siklusnya dia kembali bersiap untuk kembali menjadi cantik dan segar saat tiba waktunya.

Sama saja seperti menjalankan hidup tho? 











19 November 2014

Bahagia yang menular

Bahagia yang menular itu ya, datengnya bisa dari mana aja. Dari senyuman orang lewat, dari ucapan terimakasih dari orang yang ga disangka-sangka, atau bahagia karna ada temen yang baagi bagi undangan nikah. 

Barakallah untuk, 
Ririd dan calonnya
Temen tidur dua malam di kasur sempit dan dingin pula
Temen kukulintingan ke taman atau tempat gahul d Jepang
Temen yang aneh, asik, asoy, solehah, tegas, cerdas, berani
Temen yang klop walau pertemuan kita cuman sebentar-sebentar

Barakallah untuk, 
Ditmen dan calonnya
Teteh Kharisma (unit di Masjid Salman) yang benar-benar kharismatik
Temen galak sama siapapun yang heurey sama dia
Yang suka tidur di kelas
Yang kalem tapi bohong
Yang terlihat pintar tapi emang iyah
Temen berbagi dorama rileks
Yang tegar, selalu positif, dan banyak mikir daripada ngomong

Sungguh andaikan benar pintu doraemon itu ada, saya bakal buka pintu ke Bandung atau ke Jogja. Sayang, adanya pintu oshire yang penuh sama tumpukan baju didalemnya. 

Doa saya, semoga kalian, dengan pasangan masing-masing akan menjadi keluarga yang selalu dapat berkah dari ALLAH SWT, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Apapun yang ada dihadapi setelah menikah, yakinlah selain ada pasangan akan ada Allah SWT yang selalu bersama. 


12 November 2014

Ikutan grup sesuatu itu...

Demi untuk meningkatkan semangat produtivitas, maka sejak tiga mingguan lalu saya gabung sama grup craft yang ada di medsos bukumuka. Ternyata oh ternyata, setelah memata-matai halaman para member, saya menemukan orang Indonesia yang begitu hebat. Kreatif. Saya bilang orang Indonesia lebih hebat hebat dan kreatif, kenapa? 

Pertama, karena bahan baku craft yang bagus banyaknya barang import dan harganya mahal. Orang Indonesia memanfaatkan relasi yg ada di luar negeri jadi pemasok barang lalu  membuat toko online dan menjadi sumber penghasilan tambahan. 

Kedua, karena kebanyakan kain import itu agak mahal, maka saat membuat barang, para crafter menggunakan bahan dengan jumlah minimalis lalu dikombinasikan dengan bahan lokal yang murah. Jadinya, variasi bahan dalam satu model barang sangat banyak dan membuat si barang lebih catchy.

Ketiga, memanfaatkan barang barang yang mudah ditemukan di Indonesia untuk jadi barang yang punya nilai manfaat sama dengan barang-barang impor. Contohnya, kalau di Jepang, cetakan cetakan untuk bikin bros bunga, atau cetakan untuk bikin patchwork, lengkap ada. Sedang di Indonesia, alas gelas atau kardus bekas bisa jadi cetakan yang kaya dibuat pabrik, hehehe. Mangtaff lah. 

Keempat, banyak buku panduan craft yang asalnya dari negara maju macem Korea, Jepang, Amerika. Lalu orang Indonesia, dengan keterbatasan finansial dan keingan kuat memanfaatkan media sosialnya untuk belajar otodidak. Hasilnya ga tanggung-tanggunh, pada jadi jago. 

Lalu ya, setelah mengakui bahwa crafter Indonesia juga hebat, saya jadi minder terus pengen gali tanah buat cari jati diri (lagi). Yosh, ganbaru wa!

24 September 2014

Langit



Nyanyian September

Sesekali rasanya ingin nulis. Nulis apapun, ngacapruk, yang pasti apa yang saya tulis tidak pernah berbobot seperti para blogger lainnya. Hanya badan saya yang berbobot agak serius. *apasih* 

September  pun akan segera berakhir. Bulan ke sembilan di tahun 2014 sebentar lagi akan terlewati. Dipikir-pikir dan dirasa-rasa, sungguh waktu itu sangat sangat lewat dengan cepat. Alhamdulillah sudah sampai di titik ini dan berharap hari-hari ke depan selalu dikasih waktu yang penuh berkah. Ga ada status yang bertambah di diri ini, namun tetap ada yang terasa beda. Dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, menjalankan hari hari saat ini terasa lebih ringan (thanks to Allah SWT). Berbagai ujian dijalani, beribu hikmah dipetik, berjuta harapan terus digantungkan. Atau mungkin harapan tidak perlu terlalu tinggi digantung, namun kian didalami agar lebih syahdu dan terasa nikmatnya. 

Sesekali saya melakukan perjalanan, baik sendiri atau dengan orang lain, dekat ataupun jauh. Demi meningkatkan tingkat sensivitas terhadap diri, terhadap pencipta, terutama mengembalikan gairah hidup agar senantiasa lebih optimal dan bersyukur. 

Belajar untuk lebih banyak diam, mendengarkan, bahkan mengabaikan. Zaman dimana manusia mudah tersulut emosinya, lisannya, tulisannya, laku nya. Bahagia atau sedih atau gelisah atau takut dan perasaan lainnya sudah bukan lagi barang pribadi lagi yang bisa secara proporsional dibagi atau disimpan. Barang pribadi yang dimunculkan terkadang nikmatnya berkurang karena tidak terlalu peka terhadap orang luar yang berada di kondisi sebaliknya dan memunculkan duri duri kecil di diri manusia. Kadang terasa kadang tidak terasa. Cukuplah segalanya dikembalikan ke Pemilik Perasaan, Allah Subhanawata'ala. 

Berkali-kali saya berusaha bangun, akibat dijatuhkan oleh sisi lain diri ini. Yang merasa tak berguna lah, yang merasa sia-sia lah, yang berpikir "kok saya cuman....", dan segala bentuk kekufuran nikmat lainnya. Sungguh, pekerjaan membangkitkan diri bukanlah pekerjaan mudah ya. Kalau bahasa populer jaman sekarang mah harus bisa "move on". Walau langkah kecil, tapi saya ingin coba tapaki, entah didepan berliku, menanjak, menurun, atau ternyata jalan buntu? saya hanya ingin menjalani dengan tekun dan sabar. Belum ada kata terlambat kan?

Dan....ah sudahlah..
Jadi beneran ngacapruk euy! 
Saya harus nyelesain sesuatu terus mau ke supermarket, terus mau cuci piring, terus mau masak. Gak lupa ngeliat jemuran yang takut terbang karena anginnya lagi kenceng, kan takut kalau terbang trus nyangsang di pohon rumah tetangga. Bukan malunya, tapi susah ngambilnya. Hehehe.

Sip, oke!


25 Agustus 2014

Menyapa di liburan musim panas

Liburan musim panas segera berakhir. Tapi nampaknya bagi saya sih everyday is holiday, dan buatnya there is no holiday, walaupun seantero Jepang bilang ini adalah libur musim panas. Yah beginilah bulan Agustus kami lalui. Saya yang dengan (pura-pura) serius baca tiga buku berbarengan, tanpa ada yang beres satupun, kadang diselingi bikin baju musim panas buat diri sendiri sebagai bentuk pemuasan diri, kadang juga diselingi tuntutan untuk menuntaskan amanah : bikin pesenan tas dan tunik batik. Sedangkan doi, di minggu kedua bulan Agustus ini sudah punya agenda untuk presentasi tahun pertama risetnya dimana sampai sebelum hari presentasi tiba, ga ada waktu berdua buat jalan-jalan. Tapi yang paling penting Alhamdulillah presentasi risetnya berjalan baik, dan semoga terus dimudahkan. Saya udah pernah cerita belum ya, kalau sudah dua bulan ini, Alhamdulillah si doi dapet rejeki buat kerja part time sebagai komentator pertandingan bola, yang membuat doi enjoy banget ngejalaninnya diantara pahitnya riset yang doi pikirin. Yah kita sih sebagai barisan para isteri pasti mendukung 1000% kegiatan suami yang memang positif, terlebih bisa menghasilkan sesuatu untuk membeli segenggam sushi. hehehehe.

Jadi berhubung kesempatan waktu yang tidak banyak karena kesibukan doi, juga karena cuaca yang kadang tidak begitu oke buat jalan-jalan, mangkanya di liburan musim panas ini kami gak berlibur sebagaimana orang-orang berlibur. Satu-satunya perjalanan berdua yang kami lakukan adalah : menonton Doraemon di bioskop. Hahay. Jadi pendek cerita, di hari itu kami berniat untuk pergi hiking ke daerah Nagatoro. Namun ramalan cuaca bilang, kalau hari itu akan ada hujan turun, jadilah kami menyerah gegara ramalan cuaca. Batal buat hiking dan memutuskan nonton ke bioskop. Eh taunya setelah hari itu terlalui, ternyata gada hujan sodara-sodara! yeah, ga nyesel juga sih, toh nonton juga pada akhirnya. Nonton ke bioskop di Jepang cukup sesekali aja ya. Mahameru soalnya (mahal).  Iya sih kami nontonnya di hari Minggu, gak ada diskonan buat perempuan. Nonton hemat ala Jepang pun sepertinya masih bisa dipake buat ngebiayain 4 orang nonton bioskop Indonesia. :)

Selain masih berusaha menamatkan ketiga buku yang lagi dibaca, lalu ada pesenan baju dan tas yang harus dikerjain, sekarang-sekarang kami berdua (berdua? gue aja kali) lagi nyicil masukin barang-barang ke kardus karna harus keluar dari asrama minggu depan. Kemaren, hari Minggu, seharian kami beresin apato yang nanti bakal ditempatin. Harap dimaklumi, karena kalau pake jasa pembersih kena harga 30000 yen, jadi karena kami anak rantau mending duit segitu dipake buat beliin Mamak baju lebaran di kampung (macem punya kampung kau Ndah). Omong-omong tentang tempat tinggal baru nanti, Alhamdulillah kami dapet harga bulanan apato (2DK - 2 room and dining kitchen) yang cukup murah 40ribu yen. Hmmmm, murah ga ya? kayanya murah ya dibanding sama temen-temen yang tinggal di daerah Tokyo. Walau agak tua bangunannya, namun strategis tempatnya.


 Ya begitulah cerita musim panas nya. Tetap harus dinikmati dengan penuh rasa syukur.

17 Juni 2014

Re Usaha


Dua tahun lalu, di tahun 2012, di tahun ke dua pernikahan kami, baru kami memutuskan untuk periksa ke dokter kandungan, untuk memeriksa tentang kondisi tubuh dari masing-masing kami. Di tahun yang sama pula saya menjalani beberapa pemeriksaan seperti HSG, laparoskopi, dan perawatan setelah tindakan laparoskopi dilakukan selama kurang lebih 8 bulan. Sampai akhirnya kami harus pindah ke Jepang dan berhenti konsultasi dengan dokter Indonesia. Awalnya saya ragu buat datang ke dokter Jepang, tapi setelah membulatkan kembali niat ikhtiar kami, kami memutuskan untuk memulai kembali ikhtiar ini.

Awalnya saya pergi ke dokter kandungan biasa, namun setelah si dokter kandungan ini lihat surat rekam medis yang saya bawa dari Indonesia, dia pun menyuruh saya untuk pergi ke dokter spesialis lagi. Nama rumah sakitnya Keiai Hospital. Di sana terdapat dua pelayanan: yang pertama untuk layanan kandungan plus kesehatan anak, yang kedua layanan untuk masalah reproduksi. Saya masuk ke layanan kedua. Dokter pertama yang saya datangi sebelumnya bilang, bahwa di rumah sakit Keiai ini banyak dokter ahli untuk masalah bayi tabung di daerah Saitama tempat kami tinggal (karena sedari awal saya dirujuk untuk melakukan bayi tabung -saran yang sama juga dikasih oleh dokter Indonesia). Saya sih benar-benar mengosongkan perasaan dan berharap untuk dilakukan pemeriksaan ulang terhadap diri saya dari awal, belum tahu tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. 

Pertama kali datang ke rumah sakit, saya takjub dengan bangunan rumah sakitnya, hahahahahha. Beda banget soalnya sama rumah sakit di Jepang yang pernah saya datangi. Penampakannya lebih kaya hotel dengan lantai marmer, sofa sofa besar, jendela besar, tirai jendela yang mewah, kamar mandi yang mewah bahkan tutup toiletnya bisa ngebuka sendiri. Berasa ada di hotel da! Hihihi, katrok nya keluar. Oke, pertama kali datang ke rumah sakit, seperti biasa mengisi formulir ini itu dalam bahasa Jepang yang artinya dikira-kira sendiri berdasarkan kanji yang pernah dipelajari, bohong deng! Ngisi formulirnya dibantu sama teteh resepsionis yang gagap juga kalau harus nerangin pake bahasa Inggris, yah pada akhirnya saya berhasil lah ketemu pak dokter di hari itu. 

Dokternya bisa bahasa Inggris (satu poin buat si rumah sakit), jadi bisa dimengerti kalau dia bilang istilah medis yang kayanya kalau diucapin pake bahasa Jepang, saya bakal sibuk buka kamus ditambah nanya "dok, kanji nya yang ini bukan ya?". Karena saya tidak berekspektasi apa-apa ketika pertama kali dateng, dan pak dokter juga kayanya bingung mau jelasin darimana, akhirnya dia cuma nyodorin prosedur untuk pemeriksaan awal sampai tahap inseminasi. Karena emang saya pengen diperiksa jadilah saya minta prosedur yang paling awal banget dilakukan, dan sisanya terserah dokter. 

Rumah sakit ternyata sudah punya standar prosedur plus biaya yang harus kita keluarin kalau kita mau ambil prosedur itu. Ini salah satu tahapan awal pemeriksaan yang diambil dari website rumah sakit (dan di translate sama google translate). 

Untuk gambar diatas, itu hanya keterangan biaya sampai tahap inseminasi buatan. Jika belum berhasil  setelah inseminasi buatan, ada pilihan mau bayi tabung atau engga. Karena jelas sekali biayanya, jadi sedari awal kita bisa menimbang sampe mana treatment yang akan kita ambil. Di website aslinya tertulis lengkap tentang biaya untuk proses bayi tabung dari kesemua tahapannya. 

Keterbukaan masalah biaya dan tahapan menjadi  poin kedua buat rumah sakit (di setiap rumah sakit Jepang pasti lengkap juga sih). Gara-gara ke dokter itu, saya jadi cari-cari informasi tentang biaya bantuan dari pemerintah Jepang untuk orang yang berencana punya anak melalui proses bayi tabung. Ada dong ternyata. Mungkin ini salah satu usaha pemerintah juga untuk mendukung pasangan yang menikah ingin punya anak tapi mempunyai masalah reproduksi. 

Sampai saat ini, sudah tiga kali saya datang ke rumah sakit. Pelayanannya sejauh ini baik (sasuga Nihon). Oiya jadi ingat dulu waktu di Indonesia saat disuruh HSG sama dokter. Saya dikasih surat rujukan ke lab. Di lab juga langsung dibawa ke ruang periksa tanpa dijelasin macem-macem, udah mah pertama kali, diabur deui. Sedangkan disini, si dokter kasih kertas penjelasan tentang HSG, dikasih tau kalau nanti itu sakit dan nawarin painkiller, juga dikasih kalau ga pake obat berarti tim dokter harus berhati-hati biar pasien tetep ngerasa nyaman, nanti bakal ada obat ini itu buat ini itu, ada juga surat yang tentang persetujuan untuk dilakukannya HSG ini. Heu, beda banget ya! Padahal harganya mirip-mirip. 

Yosh! Saya pengen nulis aja sih tentang pengalaman ini. Mengingat mungkin ada teman-teman juga entah dimana, yang punya perasaan yang sama. Saya sendiri, Alhamdulillah dikelilingi sama orang orang soleh dan sabar, yang selalu kasih semangat, doa, motivasi. Apapun hasilnya, daijoubu, selama masih punya Allah SWT, kami akan tetap bersyukur. 










 

16 Juni 2014

Kok Bisa?

Saya punya kenalan orang Jepang, usia sekitar 65 tahun. Dia cerita kalau setiap hari Sabtu adalah jadwal dia untuk pergi ke tempat orang tuanya (usia 80 tahun keatas) untuk memandikan mereka karena usia yang tua membuat mereka (orang tuanya) sulit untuk melakukan aktifitas mandi. Saya takjub sekali mendengarnya, walau kadang dia sesekali keceplosan bahwa dia pun cape, namun selalu diakhiri dengan kalimat "shoganai yo ne" (arti kasarnya: mau gimana lagi ya). Bayangkan dia usia 65 tahun, seusia mamah saya, masih mengurus mamahnya yang usia 80 tahunan. Andaikan saja dia mengenal islam, dan mempercayainya, dia pasti seneng banget karena Allah SWT menjanjikan surga buat siapapun yang mengurus orang tuanya yang sudah lanjut usia. 

Tapi kadang saya mikir juga sih, orang Jepang ini, kalau sudah tidak serumah lagi sama orang tua kayaknya susah buat bersatu kembali. Atau mungkin si orang tuanya yang enggan untuk tinggal bersama anak. Kok bisa tinggal di rumah berbeda, padahal masih satu kota, padahal orang tuanya sudah sangat lanjut, padahal orang tuanya sudah sendirian. Kalau saya sebagai anak kayanya udah ga bisa, ga tahan, ga tega. Ngeliat ada aki-aki atau nini-nini jalannya sendirian, jalannya udah bungkuk banget, saya selalu bergumam "ini keluarganya kemana sih?" 

Saking mandirinya, biasanya di usia masuk kuliah, seorang anak memutuskan untuk memisahkan hidup sendiri (masih satu prefektur), berusaha juga untuk cari uang saku sendiri. Ada bagusnya memang. Tapi kalau lihat dari drama drama Jepang, biasanya hal ini berlanjut hingga kondisi si anak lupa untuk memperhatikan orang tuanya. (Kayanya asik juga nih dibikin riset biar ketemua data data nyata). Perilaku orang jepang terhadap orang tuanya yang saya lihat dari drama adalah : berbicara kasar baik nada suara atau kontennya, menolak telepon masuk dari orang tua karena dianggap mengganggu, memutuskan telepon jika dirasa orang tuanya sudah tidak nyambung obrolannya sama dia karena ada beda keinginan, bahkan sampe ga pulang kampung belasan tahun dll. Saya subjektif sih, jadi jangan sepenuhnya percaya. 

Ini mungkin emosi saya yang lagi bergejolak. Gara gara inget si mamah yang sendirian di Bandung, yang ngurus ini itu sendirian di saat birokrasi di Indonesia begitu ribet (bahkan tidak adil). Saya hanya bisa nitip doa ke Allah SWT semoga mamah selalu dilindungi dan dikasih kekuatan, semoga tangan-tangan Allah SWT selalu ada melalui orang orang dekat yang bisa membantu beliau. 



13 Juni 2014

"Maka jika datang waktu kematian mereka, tidak bisa mereka tunda dan dan mendahulukannya sedetikpun,”[QS. An-Nahl: 61].


Baru saja menerima kabar duka dari keluarga di Indonesia. Setelah dua hari lalu dikabarkan bahwa kakak sepupu meninggal, pagi ini,  Ua saya di Jakarta, kakak ketiga dari mamah, meninggal dunia. 


Memori ini lansung terbang ke terakhir kali saya bertemu beliau. Kakak-kakak laki-laki dari mamah, dan beliau salah satunya, selalu saya anggap sebagai panutan seorang ayah. Usapan tangannya di kepala, kecupan nya dikening, rasanya baru kemarin usapan hangat sarat doa itu saya rasakan. 


Ya Allah berilah ampunan dan rahmat kepada beliau, ringankanlah siksa kuburnya, dan pertemukanlah kami semua di surgaMu kelak. 


07 Mei 2014

Keep Calm and Enjoy

Ga dapat dipungkiri, ketika liat temen-temen yang baru ngelahirin atau lagi hamil, langsung hati sekejap berdoa, semoga kami diberikan waktunya untuk menikmati hal yang sama seperti mereka. Well, hidup itu macem- macem. Kata Quran juga, sesuatu yang kita anggap buruk, bisa jadi itu baik buat kita, atau sebaliknya. Hidup itu tentang bagaimana kita memendam harapan dan berikhtiar tanpa lepas koridor dari aturanNya. Ada yang jatuh, ada yang terperosok, ada yang diatas angin, ada yang biasa saja, ada yang susaah, ada yang gampang, dan perbedaan kondisi lainnya, namun dua sikap yang perlu mendampingi semua kondisi itu : syukur dan sabar. 

Normatif mungkin, tapi itu yang harus dilakukan. 
Biarkan semua orang tau bahwa kita ada dalam posisi yang baik-baik saja, biarkan rasa sedih dan harapan kita simpan dan gantungkan pada Allah SWT. Bukankah perkataan itu doa? Ketika saya bilang "saya baik-baik saja", bisa berarti memang baik atau saya berharap akan baik-baik saja. 
Sungguh, saya lebih berharap untuk bisa jadi naik kelas di hadapan Allah dan berharap akan janji Allah SWT untuk orang-orang yang bertakwa terhadapNya. 

Untuk semua teman yang sedang dalam kegalauan, masalah, kegundahan, kesenangan, kesuksesan, semoga kita bisa senantiasa merendahkan dan membuka hati ini untuk bisa mengambil pelajaran dari apa yang diujikan kepada kita ya. Keep enjoy your life!

23 April 2014

Jadi Tour Guide

Beberapa minggu lalu saya dapat tawaran dari teman saya pemilik Trip Jepang untuk menjadi seorang guide dari klien nya. Dari pengalaman sebentar dan singkat, saya banyak mengambil hikmahnya :
  • peluang bisnis yang ternyata masih banyak banget lapaknya
  • pengetahuan jalan-jalan di dalam Jepang dengan menggunakan fasilitas untuk turis,  dimana fasilitas tersebut sangat membantu dalam hal keuangan (kanro pass, hakone pass, JR pass, subway pass, dan pass yang lainnya)
  • ketemu macem-macem orang dan belajar untuk sabar menghadapinya
  • menjadi agen transfer budaya, maksudnya apa-apa yang menjadi kebiasaan orang Jepang perlu disampaikan ke para turis sehingga setiap turis bisa mengikuti pribahasa "dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung"
  • Pentingnya olahraga untuk ngejaga stamina tubuh pada saat jalan-jalan, terutama betis. hohohoho
Saya baru dua kali saja membantu sang teman dan menikmati kerjaan itu. Saya ga pernah ngebayangin sebelumnya, ternyata setiap apa yang ingin kita lakukan untuk menjadi sebuah bisnis, mungkin sepersian persen penduduk dunia ini akan ada yang menjadi pasar kita. Mungkin mental itu yang harus terus dijaga biar optimisme terhadap kerjaan sendiri yang ingin dibangun selalu ada. Semoga jaya selalu ya Mba Mia dan partner di Trip Jepang nya!

22 April 2014

Buka lapak baru

Sehubungan dengan hobi yang mulai diseriusi, maka saya buka lapak blog baru yang isinya tentang jahit menjahit yang saya lakoni hingga saat ini. Semoga lebih terarah lah itu hobi saya ya.. hehehehe, biar ada mangpaatnya buat saya, juga buat orang lain.

07 April 2014

bukan kampanye

Alhamdulillah, edisi pemilunya luar nagrek udah selesai dari 3 hari yang lalu. Eits, tapi katanya sih perhitungan suara tetep dilakukan di tanggal 9 April. Alhamdulillah yang kedua adalah Bapak Rangga akhirnya mencoblos juga. Mungkin akan beda kondisinya kalau kita masih di Bandung, dimana nama Rangga A.S itu ga ada dalam daftar pemilih tetap. Jadi bersyukur ada satu suara yang ga sia-sia. Saya sih, tipikal yang selalu ikut Pemilu sejak 2009. Dari mulai walkot, gubernur, legislatif, sampai presiden. Awalnya memang saya bingung ya untuk milih langsung calon pemimpin itu. Pertama karena ga kenal, kedua karena fokus waktu itu lebih ke aktifitas kampus, dan juga karena media media kadang malah membuat kita semakin sulit unutk memilih, dengan adanya kecondongan satu pihak sehingga berita pun dibuat jadi ga netral. Belum lagi, usia-usia awal memilih 17-20 an juga masih sepi untuk tertarik sama politik. Yang penting yang dikenal siapa, baik itu orang dekat lah, tetangga lah, tokoh masyarakat lah, atau sekedar menurut kata pemimpin kelompoknya siapa, itulah yang dipilih. Tinggal berdoa aja yang dijadikan sumber suaranya adalah orang yang memang mampu untuk mempublikasikan calon-calonnya (yang memang baik). Tapi kalau promotor nya aja promosi pake cara ga cerdas (baca: bagi-bagi duit atau ancaman dsb), yowess,wassalam.

Saya suka banget bukunya Pandji yang nasional.is.me. Di buku itu pikiran kita berasa diacak-acak. Berasa dibawa masuk sama kata-katanya dia, disadarkan bahwa kita ini hidup ga mungkin ga berkaitan sama politik. Karena pemilu menjadi corong untuk munculnya kebijakan-kebijakan yang akan menjadikan kita nyaman atau tidak nyaman dalam menjalani kehidupan. Cukup menurut saya alasan tersebut untuk orang yang baru ketemu sama politik dan ga mau terlibat penuh didalamnya. Intinya pengen nyaman kan? nah tinggal buat parameter nyaman seperti apa yang diinginkan, dan kaitkan lah dengan sepak terjang si calon-calon yang ada.

Saya sungguh kaget ketika tahun lalu di Bandung, ketika itu selepas pemilu gubernur Jawa Barat, saya bertemu dengan kawan-kawan SMA. Dan ketika saya tanya tentang masalah pemilu itu, jawaban mayoritas dari mereka sangat simpel "Hahahaha, aku sih taunya cuma si A, si B dan si C siapa ya? itu juga milih A baru kepikiran karena familiar mukanya". "aku sih coblos asal-asalan", "aku sih coblos ketiga mukanya"..Hmmmm.. iya sih, saya juga ga begitu kenal banget sama semua calonnya saat itu, ya minimal saya pernah tanya ke orang lain tentang calon-calon tersebut ke seseorang yang membuat referensi pengetahuan tentang si calon jadi nambah. Yang saya sayangkan itu sebenernya, kenapa orang seperti kita, yang sudah merasakan manisnya pendidikan, manisnya internet, manisnya media sosial, dan segala bentuk manisan lainnya, masih juga asal-asalan dalam pemilu. Ada yang bilang bahwa karena tidak ada calon yang baik jadi lebih baik golongan putih lah, padahal alasan sebenernya karena kita malas cari tau. Malas untuk sekedar nyoblos seseorang yang ga dikenal. Baru deh nanti pas udah makin semrawut negeri kita ini, ocehan, keluhan terhadap orang-orang yang ga mampu tapi duduk dipemerintahan. Janganlah say...

Bukan jamannya lagi kita kebawa iklannya kedai kopi mahil yang ngasih minum kopi gratis kalau kita nunjukkin jari kita ada tinta ungunya pertanda kita udah berperan dalam pemilu, atau segala macam bentuk hadiah lainnya. Engga lah. Pengunjung yang datang ke kedai itu pasti orang yang berada di kelas menengah ke atas, yang rata-rata berpendidikan, mestinya kesadaran untuk menjadi rakyat yang baik  lebih berharga dibandingkan segelas kopi gratis. Kesadaran bahwa pemimpin itu tergantung rakyatnya, adalah kesadaran yang harus dimiliki setiap rakyat.

31 Maret 2014

4 bulanan

Bismillahirrahmanirrahiim

walau saya ga tau harus nulis apaan, tapi rasanya pengen nongol di laman ini.
Bukan empat bulanan hamil. (belum empat bulan, belum juga sebulan, belum juga tau hamil atau engga, lagian acara 4 bulanan mah kaga ada contoh dari Rasullullah SAW)
Maksudnya sekarang udah mau memasuki bulan keempat di Jepang ini. Rasanya udah rindu lagi sama suasana di rumah Bandung. Tapi rindu yang ini cukup dititipkan ke Allah SWT supaya orang-orang tercinta disana selalu dalam lindungan Tangan Allah SWT.

Apa yang mau ditulis? tetot !! sudah dua kali (kalo sekali lagi nanti berenti nulisnya - macem kuis famili 100 nya Sony Tulung deh)

Oiya jadi inget beberapa hal,
Pertama, saya kirim kartu pos buat murid saya kurang lebih tiga pekan lalu. Kartu pos yang saya janjikan untuk dikirim ke dia kalau saya sudah di Jepang, dan sebagai gantinya dia juga harus kirim balik ke saya. Saya minta dia kirim balik, karena dia bilang belum pernah sama sekali kirim sesuatu lewat kantor pos. Oleh karena itulah, saya meminta dia kirim kartu pos dari Indonesia. Nasib kartu pos saya belum sampai hingga hari ini. Saya ga bisa cek juga, karena kemarin kirim pake layanan surat standar, bukan yang khusus pengiriman luar negeri dengan harga yang ajib. Bisa jadi dua, eh tiga alasan yang saya pikirkan. Pertama, memang si kartu pos masih dalam perjalanan, kedua karena tidak adanya kotak surat di rumah modern saat ini sehingga si pak pos bingung mau masukin kemana. Kalaupun diselipin di pintu pager bisa saja diterpa hujan yang sering datang di Bandung. Hemmm.. yang ketiga, rada subjektif sih, rada pesimis sama sistem layanan pos di Indonesia. heu, maaf maaf.

Ketika saya tahu mantan siswa saya belum pernah berinteraksi sama kantor pos, saya sebenernya cukup kaget. Memang di jaman sekarang, segala sesuatu lebih mudah karena ada internet. Mau kirim sekedar kabar/pesan bisa pakai sambungan telepon seluler atau internet. Lingkungan mereka terbiasa dengan perangkat elektronik untuk kehidupan mereka, sehingga mungkin dirasa tidak perlu untuk mengetahui apa itu pos. Saya jadi inget, bahkan di jaman saya SMP, di kala telegram sudah banyak ditinggalkan, guru Bahasa Indonesia saat itu memberikan materi tentang bahasa dalam telegram dan bagaimana cara kita berkirim pesan lewat telegram, saat itu kami satu kelas berbondong-bondong ke kantor pos cabang yang besarnya seuprit bahkan perlu dicapai pake angkot. Buat saya itu pengalaman yang berkesan, soalnya telegram itu ada batas karakter hurufnya dan penulisannya pun disingkat singkat, jadi kebayang orang jaman dulu bulak-balik berkirim telegram karena pesannya tetiba putus akibat kehabisan karakter.

Saya menyadari, bahwa yang namanya pendidikan  juga berkembang, sesuai jaman yang sedang dijalani. Apa yang diberikan dari sekolah, perlunya disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang terjadi di luar. Dan yang lebih penting sih, bagaimana si sekolah bisa membentuk siswanya agar terbuka, selektif, dan adaptif terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi. Kaitannya dengan si pos gimana nih? Hahaha, ga bisa jawab si sayah. Saya cuma mau bilang sih, setidaknya pengenalan terhadap masa lalu yang menghasillkan teknologi saat ini perlu disampaikan. Supaya, penghargaan dan rasa syukur terhadap sesuatu itu hadir. Memang ga semua hal perlu begitu, tapi masalahnya badan pos di Indonesia itu masih ada sehingga jangan sampai anak-anak muda sekarang lebih tau dan ngerti nulis email pake gmail atau yahoo dibanding nempel perangko diatas amplop terus masukin ke bis surat. Atau jangan jangan memang udah pada ga tau ya apa itu bis surat? Pos Indonesia itu masih hidup, masih bisa jadi perusahaan dalem negeri yang berkembang, dan kalau bukan sama anak negerinya, sama siapa lagi dia berkembang? heup ah.

Katanya ada beberapa hal ya yang diinget, tapi inget satu hal aja jadi kemana-mana ekornya. Mari disambung lain kali deh.

11 Maret 2014

Eksperimen Dompet Sekat

Ngeliat postingan gambar accordion wallet di pinterest, sungguh hati ini tertarik. Tapi saya cari cari pola gratisannya gak ada. Heu, iya masih pengen yang gratisan dulu, walau katanya there is no delicious lunch for free. Jadi berakhir dengan proses : memandangi, mengamati, membuat pola, dan eksekusi. Karena judulnya mencoba pertama kali, pasti hasilnya ga se delicious yang kalau bikin dari pola udah jadi. Karena kalau dari banyak orang, biasany urutan pengerjaan udah sekaligus dijelaskan, jadi pengerjaan akan lebih efektif. Nah yang ini, grong banget lah. Pas udah tinggal dikit lagi mau selesai, tiba-tiba keluar pernyataan kaget "lah, ini mestinya kan dijait dulu bagian bawahnya", "ini kan mestinya dilipet dulu baru digabung", dan pernyataan macem lainnya. Tapi saya makin seneng dengan proses begini, ini artinya saya belajar sambil melakukan, bisa nemu titik kesalahanny ada dimana, sehingga harusnya pas di episode berikut, kesalaham tersebut tidak akan terjadi lagi. Dengan gini saya bisa mencari cara sendiri biar apa yang harusnya dikerjakan terlebih dahulu biar efektif. 

Begini penampakannya

Setelah ini jadi, saya jalan jalan ke toko 100 yen dan menemukan ini 

Trus karena si dompet itu gada begian kuncinya, jadi saya pasang kancing deh

Ternyata, pasang kancing untuk dompet itu bukan pilihan yang bagus, sungguh tidak praktis, hahahaha. 








07 Maret 2014

(Another) Tote Bag for Farewell Gift

Assalamu'alaikum

Kembali dengan cerita yang ga jauh dari ngisengin si mesin jait baru, hehehe. Jadi ceritanya hari Kamis lalu, saya mampir ke toko kerajinan segala ada yang bernama Yuzawaya. Pecinta kerajinan, pasti pada tau semua toko ini. Tokonya hampir menyebar di seluruh Jepang. Kebetulan toko ini ga begitu jauh dari tempat saya tinggal, berlokasi di dekat Stasiun Urawa, dari rumah cukup 30 menit naik bis, jalan 5 menit dari halte, langsung sampe deh. Tempat ini, salah satu tempat yang bikin saya kalap. Sungguh, pengen beli semua barang yang lucu, walaupun gatau mau diapain pada akhirnya. Hehehehe.. Sekitar dua jam saya keliling-keliling di tempat kain, sampe akhirnya memutuskan memilih kain-kain yang ada di foto dan beberapa barang pendukung lainnya (Sebenernya masih pengen keliling cuci mata, tapi tiba-tiba mimisan karna suhu ruangan yang panas banget). 

Mahal gak? Ya standar Indonesia ya mahal, tapi standar di Jepang biasa aja, yang lebih mahal banyak. Selain kain hijau motif rumah yang panjangnya 1 m, panjang kain lain hanya 50  cm saja, dan saya pilih motif motif itu karena diskon. Hehehe, ketauan ya, pengen beli tap belum mampu beli yang harga normal. Tapi yang diskonan juga ga kalah bagus- bagusnya kok. Kalo ada yang murah dan bagus kenapa engga? 
Dua diantara itu berbahan katun, dan dua lagi nya berbahan canvas. Mau bahan lain? Tinggal milih sambil merem di Yuzawaya mah...hihihihi.

Belum tau bakal bikin apa ajah, tunggu wejangan dulu dateng. 

Eh tapi udah ada deng, yang hari ini dibuat, jeng jeeeeeeengggg.....

Tote bag (lagi) buat isteri kawan suami yang mau pulang ke negaranya. Saya sih suka kombinasi warna biru dan coklatnya, walaupun saya akui ukuran tasnya ada yang kurang proporsional. Semoga orang yang dikasih nya juga suka ya.. :) 

Di update lagi..

Dan di akhir pekan ini, bikin tas lagi. Kali ini rencananya akan dikasihkan ke saudara saya yang lagi maen ke Jepang. Dia udah direpotin untuk bawa kopi susu instan sama teh tarik dari Indonesia sana, jadi sebagai okawari - sebagai gantinya, saya bikin tas buat dia. Mudah mudahn berkenan :) . 



Mungkin terlihat membosankan ya, tiap yang dibikin tas lagi tas lagi.. Tapi, karena ada aja yang bedanya dari setiap yang dibikin, jadi sampe sekarang belum bosen kok. Hehehe. (Judulnya mau nyoba semua contoh tas yang ada di majalah)

04 Maret 2014

Trial

Yang ini judulnya hasil coba coba,, (oke stop penggunaan tanda koma yang kebanyakan karena menyalahi EYD)



Polanya didapet dari hasil menilik-nilik tas yang udah jadi, sempet bikin sebelum ini, tapi hasilnya kurang pas karena terlalu kecil. Lalu dibuat lagi pola dengan ukuran agak besar sedikit.


Bahannya wool (kayaknya), dibeli di toko barang bekas deket rumah (angger). Pola juga pake kertas seadanya yang disambung-sambung. Prinsipnya : dont rich people difficult- jangan kaya orang susah. *mohon jangan diikutin penggunaan kalimat bahasa Inggris dari tulisan di belakang truk seperti itu*


02 Maret 2014

Teman Baru :)

Alhamdulillah...

Setelah teman (mungkin korban lebih tepatnya) keisengan saya ditinggal di Bogor, akhirnya kemarin saya dibelikan lagi teman buat saya isengin.  

                       

Yup,, mesin jahit maksudnya. Walaupun skill masih ga nambah, Alhamdulillah mesin nya sih tetep upgrade. Sebelumnya saya pake mesin dari merek Ishida Bell Bena yang dibeli ditahun 2011. Karena waktu itu memang baru pertama kali banget pegang mesin jahit, jadi beli yang menurut filter list harga di rakuten murah, hehehehe. Belum berani juga soalnya, tau sendiri tangan saya ini tangan yang Subhanallah lincah banget, tiap yang dipegang kalo ga lecet, berkurang nilai guna, bahkan malah jadi ga berguna lagi, hehehehe. Tapi si first mate Belbena itu cukup menyenangkan selama 3 tahun saya pake. Jujur aja, saya waktu itu ga terlalu cari tau ilmu pake mesin jahit, jadi sering banget si belbena jadi korban keganasan saya. Ya jarumnya dipatahin lah, ya dipaksa suruh ngejait kain tebel lah,, heu. 
Sekarang, si Belbena itu sudah saya kasihkan (atau dititip ya?), ke kaka saya d Bogor, sejak saya pergi ke Jepang. Keponakan saya seneng banget sama kerajinan, tapi kadang emaknya suka moody buat ngasih fasilitas, jadi saya kasih aja ke mereka biar jadi berguna juga. 

Pilihan mesin jahit ini, saya sendiri yang pilih. Dan jatuhlah ke merek Janome JP310. Beradasarkan review, katanya cukup bagus buat pemula. Janome sendiri merek Jepang yang cukup bersaing dengan merek lain dari dalam Jepang (Juki, Brother, Toyota) maupun merek luar (Singer, Bernina, dll). Kalo ditanya merek apa yang paling bagus, saya juga masih belum tau, karena setelah saya cari di mesin pencari otomatis, ga ada satu kalimat pun yang menunjukkan satu merek tertentu yang paling bagus. Semuanya relatif. Sampe galau saya milihnya juga.

Di Janome JP310 ini, mesin menggunakan komputer dalam memilih tipe jahitan. Awalnya ragu untuk beli yang model program begini, khawatir terjadi sesuatu ketika dibawa ke indonesia karena di indonesia service untuk Janome yang berkomputer belum tentu ada, tapi ya dengan Bismillah saya ambil yang berkomputer. Selain itu, di mesin ini ada auto thread tension, tegangan benang otomatis, dimana tegangan benang merupakan faktor penting dalam menjahit. Pilih yang otomatis supaya praktis. Penjahitan bisa dengan dua cara, yaitu dengan kontrol kaki, atau dengan sakelar start/stop dengan kecepatan yang sudah disediakan. Sebelumnya saya pake mesin yang bersakelar, tapi sekarang saya pilih yang bisa juga pake kontrol kaki supaya kedua tangan lebih leluasa mengontrol jahitan. Pilihan tipe jahitan ada 19, lebih banyak dari yang saya punya sebelumnya. Saya juga memilih ini, karena saya mungkin akan banyak pake buat dekorasi, juga biar sekaligus bisa merapikan pinggiran kain. Dulu sih, kalo mau rapi ya tinggal ke tukang obras depan rumah. Nah di Jepang pilihannya cuma : punya mesin obras atau punya tipe jahitan zigzag di mesin atau gausah dirapihkan pinggiran kainnya (itu yang sering saya lakukan). Harganya...cukup lah dengan spek mesin dan aksesoris bawaan dari tokonya. Diluar dugaan malah, karena saya malah dapet gratisan meja tambahan biar area jahit lebih besar. So far,, saya suka dengan mesinnya. 

Oh ya, satu lagi hal mengejutkan, karena ternyata saya dapet kesempatan buat bantu teman orang Jepang buat bikin tas dari kain batik yang rencananya akan dia jual secara online di Jepang. Mungkin banyak orang yang lebih baik dari saya, toh saya juga amatiran, tapi saya seneng banget, karena kesempatan ini bisa jadi media belajar buat saya. Semoga Allah SWT memudahkan. Insya Allah. 


18 Februari 2014

Mencukupkan Diri

“kok, saya heran ya,, apa saya aja yang salah program, atau ga memaksakan diri buat cari uang banyak biar bisa liburan kemana gitu,,Ngeliat foto temen-temen kok rasanya gampang banget ya pergi. Ya padahal kita tau, gajinya ga seberapa, ya gatau juga sih dibalik itu”

Kalimat-kalimat diatas keluar dari  mulut suami saya, dan saya cuma bisa ketawa geli aja. Iya ketawa karena lucu. Pasalnya dia sampai saat kemarin itu, ga pernah mempertanyakan dirinya sendiri kenapa dia menjadi tidak berambisi terhadap materi, maksudnya materi yang buat digunakan bersenang-senang. Yaentah itu keluar negeri, atau keluar kota untuk nyicip nyicip hal baru, atau bahkan di dalam kota yang sifatnya “baru”. Lagipula saya juga bukan tipe yang suka jalan-jalan yang datang kesuatu tempat , ambil foto sama tempat yang didatengin, kemudian merasa senang seolah olah ga ada beban yang dipikir saat liburan, dan kembali plong setelah itu. Bukan jalan-jalan dalam arti begitu yang saya suka. Jalan-jalan/bepergian, selalu saya artikan sebagai sarana refleksi diri dan refleksi keagungan Tuhan.  Tujuan satu dari jalan-jalan adalah: bisa kembali dengan selamat. 

Yah terlepas apa itu jalan-jalan, kembali ke kalimat awal yang suami saya bilang. Iya bisa dibilang kami jarang menyengajakan diri buat mengosongkan waktu untuk pergi ke tempat wisata –sebut saja begitu. Pun dengan uang untuk kegiatan semacam itu. Dia sempet bilang, “kemana aja ya uang kita selama ini?kok kayanya ga ngehasilin apa-apa?ga pernah kemana-mana juga”. Tapi sesaat itu juga saya bantah kalimat dia dengan bilang bahwa kita berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat ini, itu merupakan hasil.  

Oke, sebut saja ketika pulang dari Jepang dua tahun lalu. Dengan sejumlah uang hasil menabung, maka kami punya daftar rencana akan digunakan untuk apa saja uang itu. Saat itu, rangga belum dapat gaji berkala dari kerjaan, saya juga dapat penghasilan yang cukup untuk operasional saya sendiri selama sebulan. Namun, siapa diduga,di akhir tahun kepulangan ke Indonesia itu, saya harus menjalankan operasi juga pengobatan pasca operasi yang makan sejumlah uang dari tabungan itu, yang cukup lah buat bayar DP mobil kalo kami mau.  Habis tabungan kami. Kami saat itu, sama sekali tidak merasa kekurangan sedikit apapun, kami bersyukur karena Allah SWT selalu punya rencana lebih baik.Karena ga lama setelah itu, Allah SWT kasih rezeki lewat jalan lain dan dalam bentuk lain.

Juga untuk laptop saya yang waktu itu kena musibah, laptop yang selalu digunakan buat kerja sehari-hari terkena air akibat ulah kecerobohan saya. Ya salahkan manusia, tapi mesti pandai juga ambil  hikmah.  HIkmahnya adalah saya jadi kembali ngobrol sama si mamah tanpa harus pegang laptop, karena sebelum laptop saya itu mati, hampir setiap diajak ngobrol sama mamah, pasti saya juga sedang melakukan aktivitas lain dengan laptop. Bahkan saya sempet berpikir bahwa di hati kecil si mamah ada rasa syukur ketika laptop saya bermasalah dan pada akhirnya dia bisa ngobrol focus sama saya. Awalnya saya dongkol dengan ulah saya dan mikir lagi untuk ngumpulin uang beli laptop baru. Lalu saya ditegur, “baru juga kehilangan benda, bukan nyawa!”. Yes, tertohok. Akhirnya saya lupakan kejadian laptop itu tanpa ada rasa sesal.  Dan beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah doi dapet bonus dari kantornya yang ga pernah diduga, dan akhirnya laptop baru dibeli juga (laptop baru buat dia, yang doi diwarisi ke aye). Karena  Allah ingin melihat bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian yang menimpa kita.

Juga kejadian kemarin, dimana handphone yang baru dipakai empat bulan saja, harus bernasib mandi di mesin cuci. Tidak biasanya rangga nyimpen hape dia di saku celana,biasanya sudah dia keluarkan seluruh isi di saku sebelum ganti pakaian. Tapi memang sudah harus terjadi, jadi ya terjadilah. Tinggal pinter-pinternya kita ngambil hikmah. (salah satu hikmah adalah si doi ga perlu sering sering cek hape lagi buat maen game Battle Camp,,hohoho *evilsmirk* eh, tobat ah. Sama perlu mempersiapkan diri , hati, dan kocek kalo ternyata si hape rusak dan mesti batalin kontrak dan bayar sejumlah uang untuk pemutusan kontrak dan sisa cicilan). Ya mungkin Allah lagi menguji kita dengan kejadian ini.

Juga termasuk masalah keturunan. Pernah suatu malam saya tanya sama doi tentang “gimana jika memang Allah tidak menitipkan anak lewat saya?”. Jawabannya sih ga usah di bahas lah ya, privasi itu mah. Buat saya, untuk bisa berani bertanya tentang itu butuh kekuatan besar (lebay kan!). Eh beneran loh! Bukannya setiap perempuan ingin merasakan melahirkan? bukannya setiap perempuan ingin merasakan jadi seorang ibu kandung? Saya juga begitu, tidak dipungkiri. Bukannya setiap pasangan menginginkan keturunan? Tapi kenyataannya, kami belum dititipkan Allah. Lalu apa yang saya lakukan? Stres pasti ada masanya, terutama pada perempuan. Namun kami berusaha untuk menguatkan diri kami, bahwa Allah ga pernah salah kasih keputusan. That’s all.  Akan ada hikmah dibalik semuanya.

Kemudian dari beberapa kejadian saya merenungi. Saya yakin, bahwa harta melimpah itu bukan parameter kebahagiaan. Dalam islam jelas sudah disebutkan bahwa yang namanya harta: materi, anak, isteri, kerjaan, adalah kesenangan dunia yang jangan sampai kita terlena dengan itu. Dimana kesenangannya dunia itu cuma sepanjang jari doang *ngutip dari Ust. Salim Filah*. Kami sekarang memang tak punya  tabungan banyak, belum ada yang namanya investasi (rumah, mobil, dan harta lainnya), belum ada keturunan. Tapi apa yang kami punya sampai saat ini, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan harta sebanyak apapun. Allah selalu kasih rizki yang cukup. Karena itu doa kami, dicukupkan dan diberkahkan. Bukannya kata Ust. Aam itu rezeki adalah yang kita pakai saat ini, yang kita gunakan saat ini, yang kita makan saat ini. Itu rezeki. Yang belum kita sentuh, bisa jadi itu bukan rezeki kita. Jika kami sedang butuh dan Allah menyetuji maka dengan jalan cara apapun dan dalam bentuk apapun Allah akan ngasih. Jika kami kelebihan,  Allah menjaga kami dari kegelisahan memiliki harta dengan mengambilnya dengan cara yang ga bisa kita kira. Jadi ya, cukup. Itu sih kuncinya. Merasa cukup, merasa bahagia, bersyukur dengan yang ada dan yakin akan Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah tertukar dalam menghidupi ciptaanNya.

Oiya, disini, bukan berarti kami menjadi orang yang pasrah dalam artian menerima keputusan Tuhan gitu aja. Jelas engga. Allah juga menuntut usaha dari kita, kita harus sadar itu. Perencanaan dari manusia tetap perlu ada, agar segala sesuatu nya tetap selalu ada dalam trek yang benar . Kita berencana, kita juga yang mempersiapkan diri untuk akhirnya,  karena Allah yang akan memutuskan apakah perkara yang kita rencanakan itu baik atau tidak baik untuk kita. Kita cuma butuh syukur dan sabar.

Oiya satu lagi, hindarkan diri dari membandingkan dengan orang lain, heu. Penyakit bahaya itu. Karena jelas kebutuhan setiap individu pasti beda, jadi jelas tak ada yang pantas dibandingkan. Kecuali jika memang orang yang dibandingkan akan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah. *saya juga masih harus berjuang keras melawan sikap kaya gini*

13 Februari 2014

Salju (lagi) dan Dompet Kucing

14 Februari 2014
Pagi ini badan dibikin males sama dinginnya udara musin dingin, lebih males dibanding hari hari lain. Pas nengok keluar jendela, ternyata ada lapisan salju lagi diluar. Sepertinya dari sejak semalam sudah turun, pantas aja pagi-pagi tadi udah dibikin susah bergerak. Kedua kalinya salju turun dalam seminggu terakhir ini.

Rupanya bukan salju yang turun aja yang bikin saya kaget tadi pagi, juga ada sms dari Nda, adik ipar, bilang kalau Gunung Kelud meletus semalam. Awalnya saya ga begitu tertarik, lalu kemudian saya teringat dengan postingan si adik ipar di media fb tentang potensi ledakan Gunung Kelud (Jawa Timur) yang lebih besar dibanding Gunung Merapi (Jawa Tengah), yang dia taaut dari sebuah media online. Akhirnya saya baca-baca tentang berita kejadian erupsi tersebut, dan melihat banyak orang juga yang posting tentang keadaan di daerah sekitar Gunung Kelud, juga kutipan Al-Quran,  serta doa-doa yang mereka sampaikan bagi para penduduk yang menjadi "korban".

Bagi saya, apa yang datang dari langit dan dari dalam bumi, adalah nikmat sekaligus ujian bagi manusia. Jadi bagi yang menikmati salju, semoga tidak terlena dengan euforianya saja, tapi harus juga bersikap waspada karena salju juga salah satu bentuk ujian buat kita yang mencari alesan buat males-malesan, heu. Pun dengan para penduduk yang sedang merasakan gonjang ganjing si Gunung Kelud,mudah mudahan selalu ada harapan dan hikmah kenikmatan yang bisa diambil dari kejadian tersebut, Insya Allah, Allah akan bersama dengan orang yang sabar.

Terus, tadi pagi tuh jadi pengen nge tweet trus mention Ridwan Kamil, "Pak, Bandung juga deket sama Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif, juga deket sama patahan lembang yang sewaktu-waktu bisa ngegoyang Bandung dan sekitarnya , mohon untuk mulai disosialisasikan dan dibudayakan pendidikan mitigasi bencana buat warga Bandung", tapi entah kenapa ga jadi..heu heu,,geje.

Dan untuk mengalihkan perhatian dengan keresahan di dada saya ini, sekaligus memindahkan fokus biar badan ga terlalu ngerasain hembusan udara dingin yang ngedeketin saya terus, maka tadi saya menyelesaikan target saya buat bikin dompet.

Aduh ini sungguh random gini tema postingannya..gapapa lah...

Iya, saya udah rencana untuk bikin dompet dari bahan yang sama dengan tas sling bag yang beberapa waktu lalu dibikin. Setelah beberapa hari dikerjakan, akhirnya kelar juga tadi.Ya walaupun pas udah jadi malah disangka tempat pensil karena ketebalannya yang tebal akibat pemakaian kain yang berlapis lapis. Saya teh ga pernah ngasih link cara bikinnya ya? padahal saya juga dapet ilmu dari blog orang lain, terus ditambah dan di modif sendiri sama bentuk yang dipengen. Untuk kali ini saya nyoba untuk bikin tambahan wadah koin di dalam dompet. (heu,,jadi nanti cari aja caranya pake kata kunci DIY coin purse sama DIY wallet, dijamin bingung). Masih dikerjakan dengan jahitan tangan (yang membuat jari ini semakin kapalan), dan bahan-bahan yang dibeli juga sebagian besar dari toko 100 yen di deket rumah. Nanti kalo udah pede, kalo udah punya mesin jahit, mau deh buka lapak sendiri...aamiin.




08 Februari 2014

Tote bag diantara salju



Sabtu tanggal 8 februari, area Kanto diguyur hujan salju yang cukup lebat buat bikin tumpukan salju setebal kurleb 15 cm. Exciting? ho pastinya, tapi tidak sekatrok tahun 2010. Dimana hujan salju turun di waktu malam, dan saya sama temen Filipin kegirangan  terus keluar dormitori buat ngerasain diterpa hujan es yang di negara kami hal itu ga pernah ada. Kita maen salju seadanya, dan terus nyari tu pukan salju yang paling tebel. Saat itu tumpukan salju yang tebel ada di depan sebuah apartemen, terus dengan tanpa merasa berdosa, kami bikin boneka salju mini dan tentunya dengan suara teriakan girang. Sesaat kemudian, salah satu jendela d apartemen itu kebukan terus orang yang ada di dalam marahin kami karena berbuat keributan di malam hari.. Kaboooooorrrrr...

Kalau kemarin ya kami diam saja di rumah, mengingat cukup derasnya salju yang turun, kami memilih keesokan harinya untuk keluar seklian belanja mingguan. Dan foto diatas diambil di lapangan Saitama University ketika kami pulang dari belanja mingguan. Lapangan yang pastinya dijadiin orang asing d Saidai sebagai spot keren buat popotoan. Heu.

Sebenernya saya mau pamer ini nih....

                             

Tote bag yang bahannya dibeli pas pameran quilt. Bahannya katun jepang, motif flowery gitu deh. Tote bag yang reversible sebenernya, cuma seppertinya bagian satu lagi ga akan dipake deh. Oiya ini juga bikin pake tangan semuanya, sampe ujung jari kapalan. Ditambah cuaca yang dingin gini, ujung jari jadi sensitif kalo kena benda tajam. Ukuran tasnya lumayan gede, salah perhitungan sebenernya ( ga pernah diukur juga deng), kemaren sempet dipake buat ke gymnasium dimana kalo pergi kesana pasti banyak bawaannya : sepatu olahraga, baju ganti (soalnya musim dingin), botol air, anduk, ah apa saya aja gitu yang rempong? Tapi barang barang itu masuk semua kke tote bag yang baru dibuat. Selain itu, tote bag ini akan saya pake buat belanja, heu. Maklum kantong plastik d rumah udah numpuk banget, jadi mau usaha buat mereduksi si plastik. :)

                              




05 Februari 2014

Little sling bag





Ini jaitan pertama di tahun ini. Karena belum punya mesin jahit, jadi semua dikerjakan dengan jahitan tangan. Taihen desu ga tanoshikatta.

Kain katun motif kucing dan piano itu saya beli sewaktu datang ke pameran quilt minggu lalu, pengennya sih beli banyak kain lucu lucu disana, tapi hati saya belum rela kalo duit di dompet dipake buat beli kain banyak banyak. Jadi lah saya ambil selembar kain berukurn 50x50 cm ini. Saya bermaksud memberikan sesuatu sama seseorang yang sepertinya dia suka main piano,, kalo kucing suka ga ya??

Bahan lainnya, yaitu bahan denim, saya cari di toko barang bekas deket rumah. Nyatanya kain yang saya beli bukan barang bekas juga, hanya barang sisa dari toko aselinya dan harganya lebih murah 5 yen. Hihihihi..

Ring besi yang dipakai juga hasil ngubek ngubek di toko barang bekas. Lumayan loh, menghemat biaya produksi. Emang sih barang yang kita pengen belum tentu ada, tapi kalo ada kan lumayan banget bisa dibeli dengan harga yang jauh lebih lebih murah.

31 Januari 2014

Pameran Quilt Tokyo 2014

Berawal dari seorang teman yang posting foto dia bersama sama mertuanya dengan latar belakang quilt raksasa dengan tulisan tempat dimana dia berada "Tokyo Quilt Festival 2014" di Tokyo Dome, saya langsung tertarik untuk pergi kesana. Secara spontan saya ajak teman yang kebetulan juga komen di foto itu, ternyata di juga punya kepengen yang sama, padahal kami baru ketemu darat sekali loh.  Saya berani ajak beliau karena pada saat pertama ketemu beliau, beliau juga menunjukkan ketertarikan dengan dunia jahit menjahit, dan pada saat itu dia juga menawarkan produk karyanya. Maka dengan begitu, saya berasumsi kalau saya mengajak orang yang tepat untuk ke pameran quilt.

Pameran quilt sendiri hanya dilaksanakan 7 hari dan kami datang tepat di hari terakhir, tanggal 29 Januari 2014. Tidak kami berdua (+ dua bocah yang lucu), ditambah juga seorang teman, ibu dari 5 orang anak, yang juga bergabung bersama kami. Yesss, makin banyakan makin rame deh.

Kami janjian pukul 10 di depan Tokyo Dome. Dari mulai keluar stasiun, saya sungguh yakin bahwa ibu ibu dan nenek nenek yang keluar dari stasiun barengan sama saya itu punya satu tujuan : pameran quilt. Keyakinan saya terbukti dengan antrian panjang yang rapi saat memasuki gerbang pameran. Tiba tiba rasa senang saya makin membludak, padahal baru liat orang orang nya ajah. Kami beli tiket masuk, 2000 yen, yang menurut saya mahal (tapi mungkin standar untuk tiket masuk pameran besar).  Tapi saya udah niat, walau tiket mahal, pengen dateng. Alesan saya pengen dateng cukup simpel sebenernya : pengen meningkatkan motivasi. Hahahaha,, motivasi apapun lah, kayanya kalau liat hasil karya yang spekta tuh bisi bikin motivasi meningkat.


Pertama kali masuk ke Tokyo Dome. Sebelumnya di tahun 2010 saya cuma numpang jalan jalan di luar arena Tokyo Dome, tapi kemaren saya masuk kesana. Stadium baseball milik kebanggaan club Giants Tokyo itu dirubah jadi ruangan super besar dan beratap. Dari atas balkon, saya bisa lihat lapangan yang besar dan terisi penuh sama stand pameran. Hwwwoooooo.. Bakalan seru ini.

Menginjakkan kaki di tempat pameran, kami langsung disuguhin karya quilt yang besar, yang pada saat itu juga kami takjub dan penasaran untuk lihat lebih dekat. Bahkan teman teman saya lngsung sigap ngeluarin ponsel kemudian ambil foto setiap keindahan yang terlihat. Sayang saya ga bawa kamera poket, saya hanya bawa ipad. Walaupun resolusinyan lebih bagus kamera ipad, tapi pas awal saya masih merasa ribet buat ngeluarinnya. Berpindah dari satu karya ke karya quilt yang lain,, yang ada makin membuat kami takjub, hanya bisa bilang "keren, cantik, sugoii, subarashii, kirei" dan kata kata positif lainnya. Bayangkan saja, quilt yang kira-kira punya ukuran 3x3 meter itu, dijahit pake tangan semua. Dengan segala kerapihan, keteraturan, keharmonisan paduan warna dan pola, maka memang pujian yang kami keluarkan untuk karya quilt yang kami lihat. Ga kebayang bikinnya makk! Saya pernah bikin quilt, judulnya pengen nyoba ala amatir yang sok sok an, dan ternyata saya ga sanggup untuk ngerjain pake tangan, saya kerjain pake mesin dimana pada akhirnya hasilnya sungguh.....tidak seperti karya quilt. Hehehehehe.

Disana terdapat juga stand stand yang memanerkan karya quilt dari artisan quilt ternama. Saya juga ga hapal, karena pada dasarnya saya belum termasuk orang yang tergila gila dengan quilt ini. Tapi melihat para artis quilt tersebut saya jadi sedikit memuji orang Jepang. Bayangkan saja, quilt ini bukanlah kebudayaan asli orang Jepang, ini kebudayaan dari Amerika / Eropa.  Pada tahun 70 an, salah satu quilter ternama Jepang saat ini, menginjakkan kaki di Amerika dan dia mulai tertarik dengan Quilt sampai akhirnya dia belajar disana. Memang segala sesuatu butuh kerja keras, hampir 40 tahun ia menekuni quilt hingga akhirnya dia bisa membuat warga Jepang yang lain untuk jatuh cinta pada quilt. Tidak tanggung tanggung, budaya yang asalnya dari luar, mereka padukan dengan budaya lokal sehingga terciptalah Japanese Quilt yang pastinya punya gaya berbeda dari quilt Amerika, serta diterima dan diakui oleh pecinta quilt di dunia. Oke, big applause buat Jepang!!!!


Arena pamerannya guedeeee banget, capenya itu seperti lari pemanasan di lapangan baseball 10 kali. Hahaha, lebay, pernah juga cuma sampe 5 doang, itu juga jaman muda lucu dan imut. Stop! Iya arena display karyanya banyak, dan untuk liat satu karya ga bisa cuma 5 detik. Buat saya bisa menikmati karya karya itu adalah harga yang pantas dengan tiket masuk yang saya anggap mahal tadi. Hehehehe. Setiap ngeliat karya orang, pertanyaan yang ada di kepala saya adalah "ni orang kepikiran apa sih bisa sanggup bikin beginian?". Memang pekerjaan seni itu kadang susah untuk memahami kepala si senimannya.

Selain display karya quilt, banyak juga stand dari toko-toko kerajinan yang  bikin saya cape buat liat liatnya, cape hate, karena ingin hati membeli, tapi apa daya dompet belum mencukupi. Ada juga acara talkshow oleh artis-artis quilt maupun artis lain yang tertarik dengn dunia quilt. Tapi berhubung kami mah ga ngerti apa yang disampaikam, jadi skiiipp aja tanteeee.

Dan setelah puas kelalang keliling, maka kami pun pulang dan berpisan dengn rasa suka cita.
The end.

(Tanya om wiki tentang quilt)




30 Januari 2014

Jangan melarikan diri ya Ndah...

Setelah tiga minggu belum punya keberanian diri untuk dateng ke kelas bahasa voluntir itu, saya memaksakan diri untuk melawan diri saya yang pengecut ini. Dan tau ga sih, untuk berani menghadapi situasi beginian aja, saya perlu dinasihati dulu gara-gara nama saya disebut salah satu dosen saya di jejaring sosial, lalu beliau mempertanyakan keberadaan saya yang dia pikir saya menghilang. Lalu dari situ saya langsung berpikiran yang super negatif terhadap diri saya yang mungkin sudah mengecewakan beberapa pihak, sehingga saya sulit untuk menampakkan diri dihadapan mereka, bahkan malu untuk berkorespondensi lewat media seterbuka dan seterasyik fesbuk sekalipun. Ada apa sih emang sebenernya? jadi sebenernya saya aja yang punya perasaan berlebihan. Berawal dari diri saya yang sebelumnya di masa masa lalu, ga pernah melakukan segala sesuatunya dengan kemampuan terbaik, dengan usaha terbaik. I knew that is my bad point. Bisa dibilang banyak hal dari saya kecil dulu yang saya tidak lakukan dengan tekad bulat dan usaha maksimal. Bahkan sampai besar pun, masa kuliah, kebiasaan jelek itu masih kebawa. Apa yang saya lalui, saya sudah merasa cukup, tidak ingin lebih. Dan jika itu adalah hasil yang baik, maka saya akan bilang pada diri saya bahwa itu adalah rezeki yang Allah kasih, saya tidak banyak berbuat apa-apa. Jika hasil nya jelek, ya saya menyesal. Tapi parahnya lagi, penyesalan itu terjadi berulang ulang. Fiuhhhh.. karena yang saya pikir adalah saya melakukan untuk diri saya sendiri, mau hasil bagus mau hasil jelek, itu udah jadi konsekuensi saya. Alhasil kelakuan "tidak melakukan yang terbaik" pun kerap berulang terjadi. 

Sampai akhirnya saya melihat orang terdekat saya berjuang sepenuh jiwa raga (hadeeeuh ini mungkin berlebihan ya), untuk tampil sesempurna mungkin, dia tipe yang perfeksionis. Waktu itu saya lupa apa yang dia kerjakan, tapi dia kerjain sebatas maksimal kemampuan dia, lalu (kalo ga salah) hasil dari apa yang dia upayakan itu memang tidak seperti yang dia inginkan. Terus saya tanya, "kecewa gak?", dia jawab "engga! lagian kan usaha maksimal itu bukan melulu untuk hasil yang kita inginkan, tapi sebagai bentuk kepuasan untuk diri kita sendiri". Belum lagi ditambah cerita pengalaman nya yang kerap berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, yang bisa dibilang tempat berpindahnya itu adalah tempat yang dimata kebanyakan orang lebih "parah". Tapi jawabannya dia, "saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk perform di tempat dimana saya ada, jadi ketika saya meninggalkan tempat tersebut tidak ada rasa penyesalan apalagi meninggalkan kesan buruk dimata orang lain. Walaupun pindah ke tempat yang lebih 'parah', keputusan yang udah saya buat adalah sesuatu yang gak boleh saya sesali, dan berbuat maksimal tetap harus dilakukan".

Kayanya saya hampir lupa sama namanya kerja keras, susah payah, dan rasa syukur. Karena kerap saya diliputi penyesalan karena merasa ada kesan negatif yang saya tinggalkan di tempat dimana saya pernah berada. Dan yang lebih parahnya lagi, saya mengetahui hal itu dan melarikan diri dari hal hal yang berhubungan dengan tempat tersebut. Itu yang seharusnya ga boleh terjadi kan. Saya menutup mata untuk melihat contoh orang orang yang berjuang sampe habis energi, saya tutup telinga untuk orang orang yang hidup dengan penyesalan untuk saya ambil hikmahnya. Semua sudah terjadi. 

Sampai dua tahun lalu. Sepertinya saya ingin keluar dari perasaan "merasa cukup", "cukup puas", "menyesal". Saya ingin mengenal "ganbaru" dan memahami kalimat "saigo made ganbaranakereba ikenai". Begitu yang orang Jepang selalu katakan pada dirinya sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Bukannya islam udah ngatur semuanya, bahwa muslim itu harus kerja keras, kerja keras di dunia untuk dapat akhirat, dengan segala bentuk aturan hidup,sikap,akhlak yang sudah ada ketentuan dan contohnya. Kemana saya selama ini?

ah ini kan awalnya mau cerita tentang pertama kali ikut kelasa bahasa jepang, kenapa jadi nyambung kesini ya. ya sudahlah disambung di judul berikutnya.


23 Januari 2014

Baito yang Inspiratif

Baito atau arubaito adalah semacam istilah buat kerja paruh waktu yang diambil dari kosakata asing, Jerman, arbeit. Jadi ceritanya saya mengambil tawaran baito yang ditawarkan lewat milis komunitas muslim di Saitama Daigaku, dikasih tau sama my partner my hero (hushh,, kade bisi syirik,, Hasbunallah wa ni'mal wakil). Karena gada kegiatan juga, ya saya coba aja ambil (daripada menunggu kabar dari sebuah institusi pemerintah yang ada di Tokyo yang tak kunjung ada kabar - gak ngarep juga deng). Baito yang katanya bisa dilakukan sama semua orang. Baito yang tempatnya di kampus. Hihihihi,,asik kan, ga perlu keluar tenaga banyak buat gowes sepedah. Ya namanya juga baito, memang bukan untuk jangka waktu panjang. Tapi setau Rangga,bahwa lab tersebut memang sering tawaran baito. Emangnya lab apa sih?criiiiingggg... lab nya adalah lab transportasi, cabangnya dari jurusan teknik sipil.

Saya tuh, selalu deh,,mau urusan besar, mau urusan kecil, kalau itu adalah yang pertama, pasti bisa kebawa mimpi..gonggg! di mimpinya pasti ada kaitannya dengan urusan itu, ya entah itu terlambat lah, entah itu tiba tiba udah kenalan sama rekan kerja lah,pokonya selalu kebawa tidur. parah pisan. Termasuk si makhluk baito ini. Mungkin lebih karena saya punya ekspektasi yang rendah terhadap diri juga kali ya, takut ga bisa ikutin aturan mainnya lah, takut ada kegagalan komunikasi lah,,ya yang semacam begitu,yang sepertinya untuk orang seusia saya itu udah bisa diatasi dengan bijak. Tapi Alhamdulillah,,emang saya aja yang terlalu mikir berlebihan.

Ternyata pas ketemu sama orang yang punya risetnya, dan riset dia lah yang akan saya bantu, ternyata Alhamdulillah saya bisa belajar cepet. Kerjanya emang ga pake mikir deng, cuman tenaga aja yang dibuthkan untuk duduk berjam-jam dan mata yang ga belekan kuat buat nongkrongin video yang isinya gambar jalan raya. Karena ini di lab transportasi, otomatis apa yang dijadikan riset adalah yang berhubungan dengan transportasi. Jadi untuk kerjaan yang saya dapet adalah,,,jreng jreng...biasa aja kali ya..kami (karena ga cuma saya sendiri, plus pria2 bangsa asia tengah juga ada) diminta untuk menghitung jumlah sepeda yang berlalu lalang disebuah perempatan jalan raya. Lebih tepatnya menghitung jumlah sepeda yang menggunakan infrastruktur di jalan raya. Apakah sepeda sepeda itu secara konsisten menggunakan jalur sepeda di trotoar hingga ketika dia sudah melewati perempatan tetap menggunakan jalur sepeda, atau dia berubah jalur dari jalur sepeda ke jalan raya atau sebaliknya.

Saya pikir orang orang Jepang ini sudah taat sepenuhnya sama aturan ya,,ternyata pas ngeliat berjam jam rekaman video itu, banyak juga orang orang Jepang yang tidak melulu patuh sama aturan. Memang kalau menurut saya yang hanya menghitung sampel dari beberapa jam video saja, statistik orang antara yang konsisten dan tidak konsisten pada jalur sepeda berbeda-beda, tergantung lokasinya. Kalau di lokasi trotoar yang besar, cenderung sepeda akan konsisten melewati jalur. Tapi kalo untuk trotoar yang kecil,mereka cenderung untuk ambil jalan pintas dan yang penting lancar perjalanannya, alias mereka lebih milih lewat jalan raya, walaupun terlihat dari video, ini lebih bahaya. Kenapa bahaya,,karena jadinya jika ada di jalan raya,mereka lebih meningkatkan kelajuan sepedanya. Saya sendiri belum sempet tanya-tanya kepada yang empunya riset tentang tujuan dari riset ini, tapi kalo saya meraba-raba (kade ah bisi ada yang kepegang yang bukan muhrim), eittss,,ini mah meraba pake otak,,(akhirnya dipake juga),, iya kalau saya meraba mah, jigana si riset teh diperuntukan untuk melihat keefektifan infrastuktur untuk pengguna sepeda (bycyle lane, sidewalk) demi meningkatkan keamanaan pengguna sepeda (safety riding). Dan sepertinya riset ini adalah kerjasama universitas sama pemerintah kota, jadi hasilnya nanti di ajukan untuk perbaikan kota.

ngomong ngomong tentang bicycle lane, jalur sepeda yang warnanya biru (atau bisa juga hanya berupa garis), itu ada juga ya di Bandung. Dulu rasanya pernah posting gambarnya juga di sini..hihihihhi... Jalur sepeda yang instant banget dibuat sama pemerintah kota saat itu (tahun 2010), gara gara adanya komunitas sepeda yang pengen juga dikasih ruang di jalan raya. Jadilah si pemerintah kota rela mengeluarkan uang untuk ngecat jalan dan trotoar. Yang setelah beberapa minggu pun catnya hilang. Dan sebagai orang yang pernah melewati jalur tersebut, saya rasa jalur sepeda saat itu belum terlalu banyak manfaatnya. Pertama karena pengguna jalan masih didominasi sama kendaraan bermotor yang nyaris melupakan keberadaan sepeda yang dianggap ngagokkin, sehingga tetep aja di klakson. Kedua karena penempatan jalurnya kurang tepat yang ditempatkan di trotar yang gerinjulan,,apa atuh bahasa gerinjulan teh? Ah iya! tidak rata. Mana sayang pula itu paving block trotoar jadi berwarna.. oke stop curhatnya.

Terlepas bagaimana kondisi di Bandung, tapi saya salut pisan sama kampus kampus Jepang yang selalu mengeluarkan research-based product. Tidak hanya produk semacam teknologi (itu mah jelas), tapi juga untuk produk fasilitas publik maupun kebijakan publik. Oiya biar paragraf terakhir tidak menyanjung Jepang saja, saya juga mengapreasisi program Walikota Bandung untuk bike to work tiap hari Jumat, sehingga keberadaan jalur sepeda bukan sekedar program ngiring bingah warga bandung, tapi memang untuk mendungkung Bandung untuk jadi kota yang ramah sepeda, mudah mudahan suatu saat akan ada riset yang menjadi dasar untuk setiap kebijakan publik di kota Bandung,,mmuuahh..

22 Januari 2014

Menjadi biasa

" saya tidak ingi jadi pahlawan, saya hanya ingin jadi orang yang bertepuk tangan di pinggir"

Pertama kali baca judul tulisan itu, saya langsung mikir yang iya iya.. "Cita-cita jadi pengamen?", pikir saya. Ternyata ps dibaca isi tautannya, eh ngaco deh pikiran aye.. Jadi inti dari isi tautan yang di bagi di fesbuk oleh seorang teman, yaitu menceritakan seorang anak yang ingin bercita cita sebagai seorang yang "biasa" aja. Biasa gimana maksudnya? Ya "biasa" dimata kebanyakan orang. "pahlawan juga butuh orang-orang yang bertepuk tangan di jalan untuk memyambutnya", begitu yang tetulis. Pasti udah bisa ketebak kan maksudnya apa? Yap.. Gakan ada pahlawan kalo ga ada orang yang merasa lemah kemudian ditolong, ga akan ada rumah megah kalo ga ada tukang tukang yang mau ngebangunnya, yang paling mainstream mah, ga akan ada suami hebat kalo gada isteri yang kuat atau sebaliknya.

Melalui tulisan sederhana itu saya jadi lebih terbuka dengan mimpi seperti itu. Lebih tepatnya merasa lebih terdukung, pasalnya selama ini saya merasa saya ga punya cita cita spesifik yang kata orang "wow" banget. Im useless, itu bahasa pesimisnya. Tapi jujur, di dalem lubuk hati cita cita saya mah satu: bisa masuk surga. Dan penurunan dari tema "bisa masuk surga" itu banyak.. Lewat suami, menjadi istri yang berbakti, lewat orang tua, menjadi anak yang soleh, lewat orang lain, menjadi pribadi yang berakhlak dan beradab. Menjadi apapun selama ikhlas melakukannya. Hahahaha,,, normatif pisannya si gueeh. Tapi bener deh, tidak menjadi "sesuatu" bukan berarti ga berhasil, tapi keberhasilan menjadi insan di dunia mah ditentukan sama kebermanfaatannya kan? Biar ada yang nemuin semikonduktor, tapi tetep harus ada juga orang yang ngumpulin garem di laut, atau ada juga yang jadi arsitek hebat pisan tetep kudu ada tukang ngaduk semen.  Sama sama manfaat kan? Yang penting mah usaha dan ikhlassssss....

11 Januari 2014

Menyambut diri

Sudah dua minggu ada di saitama
Sudah juga melewati masa adaptasi dengan berbatuk batuk ria

Katanya,,
"Santai aja, gausah buru buru untuk cari kegiatan"

Dan memang itu juga yang saya encamkan pada diri ketika meninggalkan Indonesia. Ga jadi soal kalau berstatus sebagai pendamping, tapi tetap harus pandai menyerap potensi potensi yang hanya tersedia di Jepang.

Jadi ceritanya,  saya mulai corat coret buku, seolah olah menumpahkan apa yang ada dipikiran, tentang hal hal yang ingin dicapai selama 3 taun ini. Ada poin bahasa, pendidikan, dan hobi.

Untuk bahasa sendiri, saya akui saya tidak pandai menyerap ilmu bahasa. Bahasa inggris yang seadanya, Bahasa jepang yang sebisanya, bahkan bahasa Sunda aja udah pada menguap. Intinya kemampuan linguistik saya tidak bagus, sehingga dalam menyerap dan menyampaikan ide/pendapat (dalam bahasa apapun) bisa dibilang tidak bagus, heu. Tapi untuk saat ini, saya bertekad untuk tekun belajar bahasa Jepang. Semakin bulat setelah saya berbincang bincang sama sepupu yang mendorong sambil mengajak membayangkan betapa ruginya kalo udah jauh jauh tinggal di negara orang tapi untuk bisa bahasanya saja ga bisa. Selama dua tahun setengah yang lalu tinggal disini, jujur saya ga serius. Hanya sekedar bisa untuk kebutuhan sehari hari, belajar untuk bisa lulus tes doang, lulus sih, tapi karena ga dipake dan ga dihayati proses belajarnya, jadi ga nempel lama. Makanya untuk sekarang saya mau lebih membuka pikiran dan meluangkan waktu untuk urusan bahasa ini. Mengetahui lembaga bahasa itu mahal, jadi kembali saya pilih belajar from environment. Akan kembali ikut kelas volunteer di beberapa tempat, membaca baca buku grammar dan kanji, membuka / membaca  situs, bacaan jepang biar terbiasa dengan kanji, berteman dengan orang jepang, dan menonton drama juga jadi media buat belajar.

Poin kedua, pendidikan. Ini berkaitan dengan profesi saya sebagai tim pengajar dulu, dari itu saya sadar saya tertarik dengan dunia tersebut. Juga dengan keinginan untuk punya sebuah komunitas di lingkungan tempat tinggal nanti yang bersinggungan sama anak-anak. Saya belum punya penjelasan khusus tentang pendidikan yang ingin didaptkan disini. Bisa jadi sekolah kembali, bisa jadi memahami tentang sistem pedagogik di jepang, bisa jadi menjadi bagian dari pendidikan yang ada dijepang. Semua kemungkinan akan dianalisis lagi berdasarkan kebutuhan dan kesempatan. Kembali saya membuka hati dan pikiran untuk hal ini, mulai sekarang akan bersikap positif untuk setiap tantangan yang akan dihadapi..#doengggggg

Poin ketiga adalah tentang hobi. Menilik bahwa jepang ada lah gudangnya keterampilan, jadi ingin sekali mengenal dan terjun ke dunia per hand made crafts an. Saya seneng barang pakai yang berbahn dasar kain dan kulit (selain pakaian maksudnya), entah itu tas, aksesoris, perlengkapam alat tulis, hiasan rumah, apapun itu yang bisa diproduksi sendiri dan lucu -lucu itu relatif-, dan mudah mudahan saya punya selera yng bisa jadi ciri khas "gue banget".  Tapi untuk hal ini, sepertinya butuh modal yang mesti dukumpulkan dulu sebelum mencoba untuk mengeksekusinya. Yosh, nantonak suru!!

Oiya,masih ada poin lain lain selama disini : naik haji. Yes, insha Allah ingin bisa menunaikan haji jika diizinkan. Kan katanya ketika ada jalan yang mudah (yakni ketika tinggal d jepang), maka udah ada kewajiban buat memenuhi perintah naik haji, tinggal dikembalikan kepada kencangnya niatan diri untuk memperjuangkan itu. Mari berdoa. Hal lain lagi yakni : program anak. Sebenernya saya juga ga terlalu terburu-buru untuk urusan ini. Cuman kan ya gada salahnya untuk kembali mengikhtiarkan, setelah denger denger biaya untuk program ini lebih miring dibanding di indonesia. Tapi mudah mudahn ga perlu sampe ke dokter infertilitas lagi ya,,, hehehe.

Ok sekian dulu caprukan hari ini
Salam,
Indah

04 Januari 2014

Liburan ke KaeFCe

Pada suatu Sabtu di sabtusore...
"Hmm.... Bentar lagi liburan ya?" Tanya saya pada mereka.
"Masih 2 minggu lagi kok...", sahut salah satu dari mereka.
"Pada mau liburan kemana nih?", tanya saya lagi.
"Saya mau ke rumah nenek!", jawab Nur dan Ulpi
"Saya mau ke KFC!", seru Tsani si mungil.
"Eh,, mau ke KFC terus ke rumah nenek!", timpal seorang Nisa, kakak Tsani.

Pernyataan terakhir tiba tiba membuat hati saya berasa diketok. KFC. Ya tempat yang jadi pilihan putus asa saya kalo lagi males masak, males mikir mau makan apa. Tapi buat mereka, bisa jajan disana kayanya sesuatu yang jarang dan harus nunggu momen khusus dulu. Menunggu saat saat itu sepertinya bukan sesuatu yang membosankan, soalnya pada saat menunggu anak menjadi tahu bahwa orang tua benar benar bekerja dan melakukan pengorbanan buat si anak. Dulu saya juga pernah sih ngalamin kaya gitu. Pengen sesuatu dimana orang lain bisa beli dengan mudah, tapi untuk saya perlu nunggu waktu dulu sampe liburan atau si mamah dapet bonus.