Baito atau
arubaito adalah semacam istilah buat kerja paruh waktu yang diambil dari kosakata asing, Jerman,
arbeit. Jadi ceritanya saya mengambil tawaran baito yang ditawarkan lewat milis komunitas muslim di Saitama Daigaku, dikasih tau sama my partner my hero (hushh,, kade bisi syirik,, Hasbunallah wa ni'mal wakil). Karena gada kegiatan juga, ya saya coba aja ambil (daripada menunggu kabar dari sebuah institusi pemerintah yang ada di Tokyo yang tak kunjung ada kabar - gak ngarep juga deng). Baito yang katanya bisa dilakukan sama semua orang. Baito yang tempatnya di kampus. Hihihihi,,asik kan, ga perlu keluar tenaga banyak buat gowes sepedah. Ya namanya juga baito, memang bukan untuk jangka waktu panjang. Tapi setau Rangga,bahwa lab tersebut memang sering tawaran baito. Emangnya lab apa sih?criiiiingggg... lab nya adalah lab transportasi, cabangnya dari jurusan teknik sipil.
Saya tuh, selalu deh,,mau urusan besar, mau urusan kecil, kalau itu adalah yang pertama, pasti bisa kebawa mimpi..gonggg! di mimpinya pasti ada kaitannya dengan urusan itu, ya entah itu terlambat lah, entah itu tiba tiba udah kenalan sama rekan kerja lah,pokonya selalu kebawa tidur. parah pisan. Termasuk si makhluk baito ini. Mungkin lebih karena saya punya ekspektasi yang rendah terhadap diri juga kali ya, takut ga bisa ikutin aturan mainnya lah, takut ada kegagalan komunikasi lah,,ya yang semacam begitu,yang sepertinya untuk orang seusia saya itu udah bisa diatasi dengan bijak. Tapi Alhamdulillah,,emang saya aja yang terlalu mikir berlebihan.
Ternyata pas ketemu sama orang yang punya risetnya, dan riset dia lah yang akan saya bantu, ternyata Alhamdulillah saya bisa belajar cepet. Kerjanya emang ga pake mikir deng, cuman tenaga aja yang dibuthkan untuk duduk berjam-jam dan mata yang
ga belekan kuat buat nongkrongin video yang isinya gambar jalan raya. Karena ini di lab transportasi, otomatis apa yang dijadikan riset adalah yang berhubungan dengan transportasi. Jadi untuk kerjaan yang saya dapet adalah,,,jreng jreng...biasa aja kali ya..kami (karena ga cuma saya sendiri, plus pria2 bangsa asia tengah juga ada) diminta untuk menghitung jumlah sepeda yang berlalu lalang disebuah perempatan jalan raya. Lebih tepatnya menghitung jumlah sepeda yang menggunakan infrastruktur di jalan raya. Apakah sepeda sepeda itu secara konsisten menggunakan jalur sepeda di trotoar hingga ketika dia sudah melewati perempatan tetap menggunakan jalur sepeda, atau dia berubah jalur dari jalur sepeda ke jalan raya atau sebaliknya.
Saya pikir orang orang Jepang ini sudah taat sepenuhnya sama aturan ya,,ternyata pas ngeliat berjam jam rekaman video itu, banyak juga orang orang Jepang yang tidak melulu patuh sama aturan. Memang kalau menurut saya yang hanya menghitung sampel dari beberapa jam video saja, statistik orang antara yang konsisten dan tidak konsisten pada jalur sepeda berbeda-beda, tergantung lokasinya. Kalau di lokasi trotoar yang besar, cenderung sepeda akan konsisten melewati jalur. Tapi kalo untuk trotoar yang kecil,mereka cenderung untuk ambil jalan pintas dan yang penting lancar perjalanannya, alias mereka lebih milih lewat jalan raya, walaupun terlihat dari video, ini lebih bahaya. Kenapa bahaya,,karena jadinya jika ada di jalan raya,mereka lebih meningkatkan kelajuan sepedanya. Saya sendiri belum sempet tanya-tanya kepada yang empunya riset tentang tujuan dari riset ini, tapi kalo saya meraba-raba (kade ah bisi ada yang kepegang yang bukan muhrim), eittss,,ini mah meraba pake otak,,(akhirnya dipake juga),, iya kalau saya meraba mah, jigana si riset teh diperuntukan untuk melihat keefektifan infrastuktur untuk pengguna sepeda (
bycyle lane, sidewalk) demi meningkatkan keamanaan pengguna sepeda (safety riding). Dan sepertinya riset ini adalah kerjasama universitas sama pemerintah kota, jadi hasilnya nanti di ajukan untuk perbaikan kota.
ngomong ngomong tentang
bicycle lane, jalur sepeda yang warnanya biru (atau bisa juga hanya berupa garis), itu ada juga ya di Bandung. Dulu rasanya pernah posting gambarnya juga di sini..hihihihhi... Jalur sepeda yang instant banget dibuat sama pemerintah kota saat itu (tahun 2010), gara gara adanya komunitas sepeda yang pengen juga dikasih ruang di jalan raya. Jadilah si pemerintah kota rela mengeluarkan uang untuk ngecat jalan dan trotoar. Yang setelah beberapa minggu pun catnya hilang. Dan sebagai orang yang pernah melewati jalur tersebut, saya rasa jalur sepeda saat itu belum terlalu banyak manfaatnya. Pertama karena pengguna jalan masih didominasi sama kendaraan bermotor yang nyaris melupakan keberadaan sepeda yang dianggap
ngagokkin, sehingga tetep aja di klakson. Kedua karena penempatan jalurnya kurang tepat yang ditempatkan di trotar yang
gerinjulan,,apa atuh bahasa gerinjulan teh? Ah iya! tidak rata. Mana sayang pula itu
paving block trotoar jadi berwarna.. oke stop curhatnya.
Terlepas bagaimana kondisi di Bandung, tapi saya salut pisan sama kampus kampus Jepang yang selalu mengeluarkan
research-based product. Tidak hanya produk semacam teknologi (itu mah jelas), tapi juga untuk produk fasilitas publik maupun kebijakan publik. Oiya biar paragraf terakhir tidak menyanjung Jepang saja, saya juga mengapreasisi program Walikota Bandung untuk
bike to work tiap hari Jumat, sehingga keberadaan jalur sepeda bukan sekedar program
ngiring bingah warga bandung, tapi memang untuk mendungkung Bandung untuk jadi kota yang ramah sepeda, mudah mudahan suatu saat akan ada riset yang menjadi dasar untuk setiap kebijakan publik di kota Bandung,,mmuuahh..