30 Desember 2013
28 Juli 2013
20 April 2013
Assembly Ellipse
Seminggu lalu saya sempat disibukkan dan dipusingkan sama salah satu kegiatan sekolah yang punya nama "Assembly". Assemblai ini kegiatan untuk setiap kelas, dimana setiap kelas mesti menunjukkan kemampuan dalam bermain peran. Nah pertunjukkan nya bukan semata-mata menampilkan kisah romantika kehidupan siswa anak SMP, sebenernya sekolah membuat kegiatan ini tidaklah lain untuk membantu anak-anak memahami materi-materi pembelajaran yang sedang mereka pelajari. Karena setiap anak diyakini punya kemampuan cara belajar yang berbeda, maka sekolah pun yakin pasti diantara sekian anak di sekolah itu ada yang baru bisa mengerti jika dia sudah bermain peran :). Dan ternyata memang ada!! Ditambah lagi, setiap pertunjukkan assembly ini mesti mengaitkan apa yang disampaikan melalui drama dengan sumber hukumnya orang islam: Quran dan Hadits. Eh salah deng,,,mestinya berangkat dari sumber hukum dulu, lalu ke materi belajar, lalu ke drama.
Oke, ini adalah assemblai kedua yang saya pegang (saya ini asisten wali kelas 7). Waktu di semester pertama, saya mengangkat teman Bullying, karena pada saat itu ada topik bullying diantara murid di kelas saya. Saya dan partner meminta izin ke sekolah buat melenceng dari konten materi belajar, karena kami pikir saat itu adalah waktu yang tepat untuk "menegur" anak-anak dengan cara halus, dan saat itu juga sehabis UTS jadi gapapa lah kalo topiknya bukan materi belajar. Saat itu bisa dibilang assembly nya kurang memuaskan buat saya pribadi, karena perdana buat saya, naskah tidak mangstab, audio yang minim, dan saya lupa apalagi. Yang saya paling inget adalah, pertunjukkan saat itu berlangsung sangat-sangat-sangatlah cepat saking kurang mantap persiapan. Tapi untuk assemblayberikutnya, saya memutuskan untuk membuat yang lebih baik.
Saya awalnya ga mau kalo cuma tim wali kelas yang bingung sendiri mikirin assembly ini, jadi tema dan naskah kami serahkan pada anak-anak. Tapi apaboleh dikata, ya,,,namanya juga anak ABG, kalau baca cerita, kalau nonton cerita, pengennya yang berbau bau pertemanan atau tokoh idola. Saya lupa memberitahu kalau asal muasal Assembly ini dibikin untuk mempermudah mereka dalam menyerap materi belajar. Ditambah lagi, assembly dua kelas sebelumnya mengangkat topik yang berhubungan dengan dua tema itu, jadi anak kelas saya mikir sepertinya tidak akan apa-apa kalau mereka mengangkat topik yang sama. Pas tau cerita yang dibikin anak-anak seperti itu, saya langsung potong, menjelaskan kembali latar belakang assembly, kemudia mengungkapkan ide yang sudah saya punya. Dan mereka mengerti dan kemudian mengembangkan ide cerita saya itu.
Alhasil benar saja, salah seorang anak langsung membuat poster yang berkaitan dengan judul pertunjukkan, mengedit disana sini. sebagian sudah ada yang brainstorming ke saya tentang apa yang akan dia lakukan, sebagian membuat naskahnya sendiri, sebagian memikirkan gaya apa yang harus dia lakukan saat sedang on action. Ide nya sederhana, tentang suatu negeri yang sudah kacau balau lalu sang raja menginginkan perubahan negeri ny itu melalui pendidikan. Akhirnya sang raja membuat kompetisi untuk mencari para ahli ilmu. Dan drama yang disajikan berisi tentang kompetisi itu. Hehehhehehe...
Kita semua kerja keras, membuat lagu, memilih lagu, mengedit lagu, membuat naskah, membuat properti, melatih kekompakkan, dan untuk pemilihan pemain saya pikir sudah cocok dengan anak-anak. Mengingat dulu di assembly pertama, saya masih belum liat karakter anak anak di kelas, jadi masih ada ketidaktepatan peran. Kalau ditanya bagaimana saat persiapan, fiuuhhh,,,saya sempet esmosi beberapa kali, heseeeeeee pisan membuat mood anak-anak tetep ok. Pas disuruh ini itu juara lembamnya. Namun, emosi buruk saya berubah di hari pertunjukkan. Ketika hari pertunjukkan, Alhamdulillah, respon positif dari semua yang nonton. Mungkin karena agak beda dengan assembly sebelumnya makanya ada nilai lebih di assembly kami (iya kita niat bikin poster dan software pendukung soalnya). Dari awal penonton yang terdiiri dari orang tua siswa,siswa lain, dan guru-guru dibikin ketawa-ketawa sama arktor dari kelas kami. dan sampe akhir pun semua masih ketawa-ketawa. Saya yang ada di belakang panggung sampe nangis, nangis karena anak-anak itu ternyata memang mampu untuk memberikan yang terbaik. Mereka lebih keluar ketika mereka dihadapkan pada banyak orang, kepercyaan diri mereka muncul ketika mereka diapresiasi. Ya, that is another point.
24 Maret 2013
Kado dr Cici
Senyam senyum di pagi hari di hari senin..
Namany Cici, yang sedari tadi udah curi curi pandang ke arah saya. Sampai akhirnya sambil cengar cengir dia nyamperin dan bilang :
"Bu, ini buat ibu,, maaf ya telat! Ini aku bikin bareng sama ibu aku"
Aahhh...terharu..
Makasih banyak Ciciho.. :)
28 Februari 2013
Dont be sad
Suatu hari saya lelah dan merasa sedih, namun saya kembali disemangati ketika saya berpegang padanya. Ya Allah SWT, terimakasih :)
QS.3:139
18 Februari 2013
Keselamatan diri
Setelah sering mengalami kejadian akibat kecerobohan sendiri, munculah percakapan tentang keselamatan kerja. Katanya, dari teorinya, bahwa pada awalnya berbagai macam kecelakaan terjadi karena si subjek/objek yang terlibat mengabaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya. Contoh nih: seseorang mau pulang naek mobil pada saat dini hari, dia sebenernya ngantuk tapi MAKSAIN pulang karena berbagai alasan, yang mungkin terjadi adalah resiko kecelakaan yang lebih besar dibandingkan jika mengurungkan niatnya untuk nyetir dalam keadaan ngantuk. Awalnya saya pikir cuman special case ajah, eh dipikir lebih dalam lagi, ternyata peristiwa merugikan yang saya alami hampir semua berawal dari ketidak yakinnya hati untuk melakukan itu, tapi tetap dipaksakan.
Nah setelah memaksakan kehendak yang ga dipengen, akhirnya niatan pun terlaksana. Orang lain, sebenernya pegang peranan penting disini. Jika dia TAHU resiko seseorang yang mengabaikan suara hati nya, alangkah lebih baik memberi dukungan untuk tidak melakukannya. Tapi kebanyak orang, walaupun tahu, malah mengabaikan. Karena dianggap itu adalah keputusan sesorang dan ga ada urusan dengan orang tersebut. Ataupun kalau skalanya lebih besar, peringatan dari orang lain ga pernah diberikan karena khawatir akan ada kerugian yang mereka hadapin, namun sebenernya kerugian yang mereka khawatirkan lebih kecil dari kerugian yang menunggu di depan sana.
Contohnya begini deh, misalnya ada tukang bangunan lagi bangun rumah, ternyata pas bikin tembok, ada bagian yang retak, si tukang (dan mungkin teman2nya pun) itu tahu bahwa hal itu harusnya dibenerin. Tapi kalau dia cerita bahwa ada bagian yang retak maka dia mungkin akan mengulang kerjaannya which means waktu dan biaya akan keluar lebih. Akhirnya si tukang mikir lebih baik, coba nutupin kesalahannya dengan coba mlester si tembok biar ga keliatan. Pas udah jadi, ternyata si tembok dapet tekanan dan blassssttt runtuhlah si tembok itu (ini cuma contoh, dr segi ilmu nya mgkn saja saya salah).
Pengabaian-pengabaian kecil mungkin keliatan ga penting, tapi sebenarnya itu seperti bola salju. Awalnya hanya individu, lalu diikuti dengan kelompok, lalu diikuti dengan masyarkat yang lebih luas. Dan ketika tingkat pengabaian itu semakin besar, Akibatnya apa? Bencana. Yeah, ini terlepas dari takdir seseorang. Jika kita muslim tentu percaya adanya takdir. Namun sebagai manusia pun kita diperintah untuk memaksimalkan ikhtiar, nah mempedulikan suara hati dan tidak melakukan pengabaian kecil baik untuk diri sendiri maupun orang lain adalah salah satu cara untuk mencapai ikhtiar yang maksimal.
Oiya dan ciri khas nya orang Indonesia itu adalah mengabaikan standar prosedur pekerjaan. Ini bisa dilihat dari sebagian (atau banyak ya) tukang tukang listrik/telepon yang benerin kabel tanpa ada alat pelindung baik di kepala,badan,kaki,tangan. Dengan gagahnya biasanya mereka naik ke atas dengan tangga yang bersandar hanya pada tiang, ga pake helm pula. Dan banyak lah kasus lain yang menunjukkan kurangnya awareness terhadap keselamatan diri.
Nb: thanks to Rga who taught me about this.
08 Januari 2013
diam
apa ini kondisi nyaman? tidak kataku
kita hanya terbantu dari orang orang sekitar kita. itu yang membuat kita nyaman.
tapi ini tidak nyaman untuk aku dan mimpiku. juga kamu dengan mimpimu.
karena aku masih terlalu dini untuk menyebutnya sebuah pencapaian disaat aku baru saja melangkah dari garis start.
namun, sepertinya aku terkurung sesuatu. kondisi ini yang tak sesuai dengan yang telah aku bayangkan. bukan karena takdir menjadikanku seperti ini. tapi lebih keengganan untuk melangkah lebih jauh, keraguan untuk melihat lebih dekat, dan ketakutan untuk memulai sesuati. aku pikir otakku kosong. tidak kosong sepenuhnya, hanya saja otakku ini sudah terprogram (oleh yang lain). belum bisa membuat program sendiri.
ah apa ini. sering kali aku menemukanmu. yang membuatku terhambat untuk bergerak bebas. ada sesuatu yang memang aku inginkan darimu, tapi sudahlah, aku tau aku tak bisa membuatmu kembali. aku tahu ketika aku sendiri aku tak boleh menjadikanmu sebagai pelarian, karena seharusnyaa sudah tahu kemana aku harus berlari. tapi aku pikir berlari (kemanapun arahnya) juga bujan kata yang tepat, karena berlari hanya membuat ku melupakan sesaat sesuatu yang aku khawatirkan. aku sendiri, tak pernah mau memusingkan tentang perasaan sendiri, namun kerap dia datang disaat semua kondisi sekitarku mendukung aku untuk merasakan itu. hahahahhaa..membingungkan sekali.
aku berpikir aku akan bisa melangkah jika aku bisa membuat diriku nyaman dan tenang terlebih dahulu. namun waktu berlalu dan aku masih dengan kegelisahanku. tak ada sesuatu yang maju, tidak progressif. baik diriku maupun apa yang seharusnya kulakukan.

+%5B1600x1200%5D.jpg)






