31 Januari 2014

Pameran Quilt Tokyo 2014

Berawal dari seorang teman yang posting foto dia bersama sama mertuanya dengan latar belakang quilt raksasa dengan tulisan tempat dimana dia berada "Tokyo Quilt Festival 2014" di Tokyo Dome, saya langsung tertarik untuk pergi kesana. Secara spontan saya ajak teman yang kebetulan juga komen di foto itu, ternyata di juga punya kepengen yang sama, padahal kami baru ketemu darat sekali loh.  Saya berani ajak beliau karena pada saat pertama ketemu beliau, beliau juga menunjukkan ketertarikan dengan dunia jahit menjahit, dan pada saat itu dia juga menawarkan produk karyanya. Maka dengan begitu, saya berasumsi kalau saya mengajak orang yang tepat untuk ke pameran quilt.

Pameran quilt sendiri hanya dilaksanakan 7 hari dan kami datang tepat di hari terakhir, tanggal 29 Januari 2014. Tidak kami berdua (+ dua bocah yang lucu), ditambah juga seorang teman, ibu dari 5 orang anak, yang juga bergabung bersama kami. Yesss, makin banyakan makin rame deh.

Kami janjian pukul 10 di depan Tokyo Dome. Dari mulai keluar stasiun, saya sungguh yakin bahwa ibu ibu dan nenek nenek yang keluar dari stasiun barengan sama saya itu punya satu tujuan : pameran quilt. Keyakinan saya terbukti dengan antrian panjang yang rapi saat memasuki gerbang pameran. Tiba tiba rasa senang saya makin membludak, padahal baru liat orang orang nya ajah. Kami beli tiket masuk, 2000 yen, yang menurut saya mahal (tapi mungkin standar untuk tiket masuk pameran besar).  Tapi saya udah niat, walau tiket mahal, pengen dateng. Alesan saya pengen dateng cukup simpel sebenernya : pengen meningkatkan motivasi. Hahahaha,, motivasi apapun lah, kayanya kalau liat hasil karya yang spekta tuh bisi bikin motivasi meningkat.


Pertama kali masuk ke Tokyo Dome. Sebelumnya di tahun 2010 saya cuma numpang jalan jalan di luar arena Tokyo Dome, tapi kemaren saya masuk kesana. Stadium baseball milik kebanggaan club Giants Tokyo itu dirubah jadi ruangan super besar dan beratap. Dari atas balkon, saya bisa lihat lapangan yang besar dan terisi penuh sama stand pameran. Hwwwoooooo.. Bakalan seru ini.

Menginjakkan kaki di tempat pameran, kami langsung disuguhin karya quilt yang besar, yang pada saat itu juga kami takjub dan penasaran untuk lihat lebih dekat. Bahkan teman teman saya lngsung sigap ngeluarin ponsel kemudian ambil foto setiap keindahan yang terlihat. Sayang saya ga bawa kamera poket, saya hanya bawa ipad. Walaupun resolusinyan lebih bagus kamera ipad, tapi pas awal saya masih merasa ribet buat ngeluarinnya. Berpindah dari satu karya ke karya quilt yang lain,, yang ada makin membuat kami takjub, hanya bisa bilang "keren, cantik, sugoii, subarashii, kirei" dan kata kata positif lainnya. Bayangkan saja, quilt yang kira-kira punya ukuran 3x3 meter itu, dijahit pake tangan semua. Dengan segala kerapihan, keteraturan, keharmonisan paduan warna dan pola, maka memang pujian yang kami keluarkan untuk karya quilt yang kami lihat. Ga kebayang bikinnya makk! Saya pernah bikin quilt, judulnya pengen nyoba ala amatir yang sok sok an, dan ternyata saya ga sanggup untuk ngerjain pake tangan, saya kerjain pake mesin dimana pada akhirnya hasilnya sungguh.....tidak seperti karya quilt. Hehehehehe.

Disana terdapat juga stand stand yang memanerkan karya quilt dari artisan quilt ternama. Saya juga ga hapal, karena pada dasarnya saya belum termasuk orang yang tergila gila dengan quilt ini. Tapi melihat para artis quilt tersebut saya jadi sedikit memuji orang Jepang. Bayangkan saja, quilt ini bukanlah kebudayaan asli orang Jepang, ini kebudayaan dari Amerika / Eropa.  Pada tahun 70 an, salah satu quilter ternama Jepang saat ini, menginjakkan kaki di Amerika dan dia mulai tertarik dengan Quilt sampai akhirnya dia belajar disana. Memang segala sesuatu butuh kerja keras, hampir 40 tahun ia menekuni quilt hingga akhirnya dia bisa membuat warga Jepang yang lain untuk jatuh cinta pada quilt. Tidak tanggung tanggung, budaya yang asalnya dari luar, mereka padukan dengan budaya lokal sehingga terciptalah Japanese Quilt yang pastinya punya gaya berbeda dari quilt Amerika, serta diterima dan diakui oleh pecinta quilt di dunia. Oke, big applause buat Jepang!!!!


Arena pamerannya guedeeee banget, capenya itu seperti lari pemanasan di lapangan baseball 10 kali. Hahaha, lebay, pernah juga cuma sampe 5 doang, itu juga jaman muda lucu dan imut. Stop! Iya arena display karyanya banyak, dan untuk liat satu karya ga bisa cuma 5 detik. Buat saya bisa menikmati karya karya itu adalah harga yang pantas dengan tiket masuk yang saya anggap mahal tadi. Hehehehe. Setiap ngeliat karya orang, pertanyaan yang ada di kepala saya adalah "ni orang kepikiran apa sih bisa sanggup bikin beginian?". Memang pekerjaan seni itu kadang susah untuk memahami kepala si senimannya.

Selain display karya quilt, banyak juga stand dari toko-toko kerajinan yang  bikin saya cape buat liat liatnya, cape hate, karena ingin hati membeli, tapi apa daya dompet belum mencukupi. Ada juga acara talkshow oleh artis-artis quilt maupun artis lain yang tertarik dengn dunia quilt. Tapi berhubung kami mah ga ngerti apa yang disampaikam, jadi skiiipp aja tanteeee.

Dan setelah puas kelalang keliling, maka kami pun pulang dan berpisan dengn rasa suka cita.
The end.

(Tanya om wiki tentang quilt)




30 Januari 2014

Jangan melarikan diri ya Ndah...

Setelah tiga minggu belum punya keberanian diri untuk dateng ke kelas bahasa voluntir itu, saya memaksakan diri untuk melawan diri saya yang pengecut ini. Dan tau ga sih, untuk berani menghadapi situasi beginian aja, saya perlu dinasihati dulu gara-gara nama saya disebut salah satu dosen saya di jejaring sosial, lalu beliau mempertanyakan keberadaan saya yang dia pikir saya menghilang. Lalu dari situ saya langsung berpikiran yang super negatif terhadap diri saya yang mungkin sudah mengecewakan beberapa pihak, sehingga saya sulit untuk menampakkan diri dihadapan mereka, bahkan malu untuk berkorespondensi lewat media seterbuka dan seterasyik fesbuk sekalipun. Ada apa sih emang sebenernya? jadi sebenernya saya aja yang punya perasaan berlebihan. Berawal dari diri saya yang sebelumnya di masa masa lalu, ga pernah melakukan segala sesuatunya dengan kemampuan terbaik, dengan usaha terbaik. I knew that is my bad point. Bisa dibilang banyak hal dari saya kecil dulu yang saya tidak lakukan dengan tekad bulat dan usaha maksimal. Bahkan sampai besar pun, masa kuliah, kebiasaan jelek itu masih kebawa. Apa yang saya lalui, saya sudah merasa cukup, tidak ingin lebih. Dan jika itu adalah hasil yang baik, maka saya akan bilang pada diri saya bahwa itu adalah rezeki yang Allah kasih, saya tidak banyak berbuat apa-apa. Jika hasil nya jelek, ya saya menyesal. Tapi parahnya lagi, penyesalan itu terjadi berulang ulang. Fiuhhhh.. karena yang saya pikir adalah saya melakukan untuk diri saya sendiri, mau hasil bagus mau hasil jelek, itu udah jadi konsekuensi saya. Alhasil kelakuan "tidak melakukan yang terbaik" pun kerap berulang terjadi. 

Sampai akhirnya saya melihat orang terdekat saya berjuang sepenuh jiwa raga (hadeeeuh ini mungkin berlebihan ya), untuk tampil sesempurna mungkin, dia tipe yang perfeksionis. Waktu itu saya lupa apa yang dia kerjakan, tapi dia kerjain sebatas maksimal kemampuan dia, lalu (kalo ga salah) hasil dari apa yang dia upayakan itu memang tidak seperti yang dia inginkan. Terus saya tanya, "kecewa gak?", dia jawab "engga! lagian kan usaha maksimal itu bukan melulu untuk hasil yang kita inginkan, tapi sebagai bentuk kepuasan untuk diri kita sendiri". Belum lagi ditambah cerita pengalaman nya yang kerap berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, yang bisa dibilang tempat berpindahnya itu adalah tempat yang dimata kebanyakan orang lebih "parah". Tapi jawabannya dia, "saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk perform di tempat dimana saya ada, jadi ketika saya meninggalkan tempat tersebut tidak ada rasa penyesalan apalagi meninggalkan kesan buruk dimata orang lain. Walaupun pindah ke tempat yang lebih 'parah', keputusan yang udah saya buat adalah sesuatu yang gak boleh saya sesali, dan berbuat maksimal tetap harus dilakukan".

Kayanya saya hampir lupa sama namanya kerja keras, susah payah, dan rasa syukur. Karena kerap saya diliputi penyesalan karena merasa ada kesan negatif yang saya tinggalkan di tempat dimana saya pernah berada. Dan yang lebih parahnya lagi, saya mengetahui hal itu dan melarikan diri dari hal hal yang berhubungan dengan tempat tersebut. Itu yang seharusnya ga boleh terjadi kan. Saya menutup mata untuk melihat contoh orang orang yang berjuang sampe habis energi, saya tutup telinga untuk orang orang yang hidup dengan penyesalan untuk saya ambil hikmahnya. Semua sudah terjadi. 

Sampai dua tahun lalu. Sepertinya saya ingin keluar dari perasaan "merasa cukup", "cukup puas", "menyesal". Saya ingin mengenal "ganbaru" dan memahami kalimat "saigo made ganbaranakereba ikenai". Begitu yang orang Jepang selalu katakan pada dirinya sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Bukannya islam udah ngatur semuanya, bahwa muslim itu harus kerja keras, kerja keras di dunia untuk dapat akhirat, dengan segala bentuk aturan hidup,sikap,akhlak yang sudah ada ketentuan dan contohnya. Kemana saya selama ini?

ah ini kan awalnya mau cerita tentang pertama kali ikut kelasa bahasa jepang, kenapa jadi nyambung kesini ya. ya sudahlah disambung di judul berikutnya.


23 Januari 2014

Baito yang Inspiratif

Baito atau arubaito adalah semacam istilah buat kerja paruh waktu yang diambil dari kosakata asing, Jerman, arbeit. Jadi ceritanya saya mengambil tawaran baito yang ditawarkan lewat milis komunitas muslim di Saitama Daigaku, dikasih tau sama my partner my hero (hushh,, kade bisi syirik,, Hasbunallah wa ni'mal wakil). Karena gada kegiatan juga, ya saya coba aja ambil (daripada menunggu kabar dari sebuah institusi pemerintah yang ada di Tokyo yang tak kunjung ada kabar - gak ngarep juga deng). Baito yang katanya bisa dilakukan sama semua orang. Baito yang tempatnya di kampus. Hihihihi,,asik kan, ga perlu keluar tenaga banyak buat gowes sepedah. Ya namanya juga baito, memang bukan untuk jangka waktu panjang. Tapi setau Rangga,bahwa lab tersebut memang sering tawaran baito. Emangnya lab apa sih?criiiiingggg... lab nya adalah lab transportasi, cabangnya dari jurusan teknik sipil.

Saya tuh, selalu deh,,mau urusan besar, mau urusan kecil, kalau itu adalah yang pertama, pasti bisa kebawa mimpi..gonggg! di mimpinya pasti ada kaitannya dengan urusan itu, ya entah itu terlambat lah, entah itu tiba tiba udah kenalan sama rekan kerja lah,pokonya selalu kebawa tidur. parah pisan. Termasuk si makhluk baito ini. Mungkin lebih karena saya punya ekspektasi yang rendah terhadap diri juga kali ya, takut ga bisa ikutin aturan mainnya lah, takut ada kegagalan komunikasi lah,,ya yang semacam begitu,yang sepertinya untuk orang seusia saya itu udah bisa diatasi dengan bijak. Tapi Alhamdulillah,,emang saya aja yang terlalu mikir berlebihan.

Ternyata pas ketemu sama orang yang punya risetnya, dan riset dia lah yang akan saya bantu, ternyata Alhamdulillah saya bisa belajar cepet. Kerjanya emang ga pake mikir deng, cuman tenaga aja yang dibuthkan untuk duduk berjam-jam dan mata yang ga belekan kuat buat nongkrongin video yang isinya gambar jalan raya. Karena ini di lab transportasi, otomatis apa yang dijadikan riset adalah yang berhubungan dengan transportasi. Jadi untuk kerjaan yang saya dapet adalah,,,jreng jreng...biasa aja kali ya..kami (karena ga cuma saya sendiri, plus pria2 bangsa asia tengah juga ada) diminta untuk menghitung jumlah sepeda yang berlalu lalang disebuah perempatan jalan raya. Lebih tepatnya menghitung jumlah sepeda yang menggunakan infrastruktur di jalan raya. Apakah sepeda sepeda itu secara konsisten menggunakan jalur sepeda di trotoar hingga ketika dia sudah melewati perempatan tetap menggunakan jalur sepeda, atau dia berubah jalur dari jalur sepeda ke jalan raya atau sebaliknya.

Saya pikir orang orang Jepang ini sudah taat sepenuhnya sama aturan ya,,ternyata pas ngeliat berjam jam rekaman video itu, banyak juga orang orang Jepang yang tidak melulu patuh sama aturan. Memang kalau menurut saya yang hanya menghitung sampel dari beberapa jam video saja, statistik orang antara yang konsisten dan tidak konsisten pada jalur sepeda berbeda-beda, tergantung lokasinya. Kalau di lokasi trotoar yang besar, cenderung sepeda akan konsisten melewati jalur. Tapi kalo untuk trotoar yang kecil,mereka cenderung untuk ambil jalan pintas dan yang penting lancar perjalanannya, alias mereka lebih milih lewat jalan raya, walaupun terlihat dari video, ini lebih bahaya. Kenapa bahaya,,karena jadinya jika ada di jalan raya,mereka lebih meningkatkan kelajuan sepedanya. Saya sendiri belum sempet tanya-tanya kepada yang empunya riset tentang tujuan dari riset ini, tapi kalo saya meraba-raba (kade ah bisi ada yang kepegang yang bukan muhrim), eittss,,ini mah meraba pake otak,,(akhirnya dipake juga),, iya kalau saya meraba mah, jigana si riset teh diperuntukan untuk melihat keefektifan infrastuktur untuk pengguna sepeda (bycyle lane, sidewalk) demi meningkatkan keamanaan pengguna sepeda (safety riding). Dan sepertinya riset ini adalah kerjasama universitas sama pemerintah kota, jadi hasilnya nanti di ajukan untuk perbaikan kota.

ngomong ngomong tentang bicycle lane, jalur sepeda yang warnanya biru (atau bisa juga hanya berupa garis), itu ada juga ya di Bandung. Dulu rasanya pernah posting gambarnya juga di sini..hihihihhi... Jalur sepeda yang instant banget dibuat sama pemerintah kota saat itu (tahun 2010), gara gara adanya komunitas sepeda yang pengen juga dikasih ruang di jalan raya. Jadilah si pemerintah kota rela mengeluarkan uang untuk ngecat jalan dan trotoar. Yang setelah beberapa minggu pun catnya hilang. Dan sebagai orang yang pernah melewati jalur tersebut, saya rasa jalur sepeda saat itu belum terlalu banyak manfaatnya. Pertama karena pengguna jalan masih didominasi sama kendaraan bermotor yang nyaris melupakan keberadaan sepeda yang dianggap ngagokkin, sehingga tetep aja di klakson. Kedua karena penempatan jalurnya kurang tepat yang ditempatkan di trotar yang gerinjulan,,apa atuh bahasa gerinjulan teh? Ah iya! tidak rata. Mana sayang pula itu paving block trotoar jadi berwarna.. oke stop curhatnya.

Terlepas bagaimana kondisi di Bandung, tapi saya salut pisan sama kampus kampus Jepang yang selalu mengeluarkan research-based product. Tidak hanya produk semacam teknologi (itu mah jelas), tapi juga untuk produk fasilitas publik maupun kebijakan publik. Oiya biar paragraf terakhir tidak menyanjung Jepang saja, saya juga mengapreasisi program Walikota Bandung untuk bike to work tiap hari Jumat, sehingga keberadaan jalur sepeda bukan sekedar program ngiring bingah warga bandung, tapi memang untuk mendungkung Bandung untuk jadi kota yang ramah sepeda, mudah mudahan suatu saat akan ada riset yang menjadi dasar untuk setiap kebijakan publik di kota Bandung,,mmuuahh..

22 Januari 2014

Menjadi biasa

" saya tidak ingi jadi pahlawan, saya hanya ingin jadi orang yang bertepuk tangan di pinggir"

Pertama kali baca judul tulisan itu, saya langsung mikir yang iya iya.. "Cita-cita jadi pengamen?", pikir saya. Ternyata ps dibaca isi tautannya, eh ngaco deh pikiran aye.. Jadi inti dari isi tautan yang di bagi di fesbuk oleh seorang teman, yaitu menceritakan seorang anak yang ingin bercita cita sebagai seorang yang "biasa" aja. Biasa gimana maksudnya? Ya "biasa" dimata kebanyakan orang. "pahlawan juga butuh orang-orang yang bertepuk tangan di jalan untuk memyambutnya", begitu yang tetulis. Pasti udah bisa ketebak kan maksudnya apa? Yap.. Gakan ada pahlawan kalo ga ada orang yang merasa lemah kemudian ditolong, ga akan ada rumah megah kalo ga ada tukang tukang yang mau ngebangunnya, yang paling mainstream mah, ga akan ada suami hebat kalo gada isteri yang kuat atau sebaliknya.

Melalui tulisan sederhana itu saya jadi lebih terbuka dengan mimpi seperti itu. Lebih tepatnya merasa lebih terdukung, pasalnya selama ini saya merasa saya ga punya cita cita spesifik yang kata orang "wow" banget. Im useless, itu bahasa pesimisnya. Tapi jujur, di dalem lubuk hati cita cita saya mah satu: bisa masuk surga. Dan penurunan dari tema "bisa masuk surga" itu banyak.. Lewat suami, menjadi istri yang berbakti, lewat orang tua, menjadi anak yang soleh, lewat orang lain, menjadi pribadi yang berakhlak dan beradab. Menjadi apapun selama ikhlas melakukannya. Hahahaha,,, normatif pisannya si gueeh. Tapi bener deh, tidak menjadi "sesuatu" bukan berarti ga berhasil, tapi keberhasilan menjadi insan di dunia mah ditentukan sama kebermanfaatannya kan? Biar ada yang nemuin semikonduktor, tapi tetep harus ada juga orang yang ngumpulin garem di laut, atau ada juga yang jadi arsitek hebat pisan tetep kudu ada tukang ngaduk semen.  Sama sama manfaat kan? Yang penting mah usaha dan ikhlassssss....

11 Januari 2014

Menyambut diri

Sudah dua minggu ada di saitama
Sudah juga melewati masa adaptasi dengan berbatuk batuk ria

Katanya,,
"Santai aja, gausah buru buru untuk cari kegiatan"

Dan memang itu juga yang saya encamkan pada diri ketika meninggalkan Indonesia. Ga jadi soal kalau berstatus sebagai pendamping, tapi tetap harus pandai menyerap potensi potensi yang hanya tersedia di Jepang.

Jadi ceritanya,  saya mulai corat coret buku, seolah olah menumpahkan apa yang ada dipikiran, tentang hal hal yang ingin dicapai selama 3 taun ini. Ada poin bahasa, pendidikan, dan hobi.

Untuk bahasa sendiri, saya akui saya tidak pandai menyerap ilmu bahasa. Bahasa inggris yang seadanya, Bahasa jepang yang sebisanya, bahkan bahasa Sunda aja udah pada menguap. Intinya kemampuan linguistik saya tidak bagus, sehingga dalam menyerap dan menyampaikan ide/pendapat (dalam bahasa apapun) bisa dibilang tidak bagus, heu. Tapi untuk saat ini, saya bertekad untuk tekun belajar bahasa Jepang. Semakin bulat setelah saya berbincang bincang sama sepupu yang mendorong sambil mengajak membayangkan betapa ruginya kalo udah jauh jauh tinggal di negara orang tapi untuk bisa bahasanya saja ga bisa. Selama dua tahun setengah yang lalu tinggal disini, jujur saya ga serius. Hanya sekedar bisa untuk kebutuhan sehari hari, belajar untuk bisa lulus tes doang, lulus sih, tapi karena ga dipake dan ga dihayati proses belajarnya, jadi ga nempel lama. Makanya untuk sekarang saya mau lebih membuka pikiran dan meluangkan waktu untuk urusan bahasa ini. Mengetahui lembaga bahasa itu mahal, jadi kembali saya pilih belajar from environment. Akan kembali ikut kelas volunteer di beberapa tempat, membaca baca buku grammar dan kanji, membuka / membaca  situs, bacaan jepang biar terbiasa dengan kanji, berteman dengan orang jepang, dan menonton drama juga jadi media buat belajar.

Poin kedua, pendidikan. Ini berkaitan dengan profesi saya sebagai tim pengajar dulu, dari itu saya sadar saya tertarik dengan dunia tersebut. Juga dengan keinginan untuk punya sebuah komunitas di lingkungan tempat tinggal nanti yang bersinggungan sama anak-anak. Saya belum punya penjelasan khusus tentang pendidikan yang ingin didaptkan disini. Bisa jadi sekolah kembali, bisa jadi memahami tentang sistem pedagogik di jepang, bisa jadi menjadi bagian dari pendidikan yang ada dijepang. Semua kemungkinan akan dianalisis lagi berdasarkan kebutuhan dan kesempatan. Kembali saya membuka hati dan pikiran untuk hal ini, mulai sekarang akan bersikap positif untuk setiap tantangan yang akan dihadapi..#doengggggg

Poin ketiga adalah tentang hobi. Menilik bahwa jepang ada lah gudangnya keterampilan, jadi ingin sekali mengenal dan terjun ke dunia per hand made crafts an. Saya seneng barang pakai yang berbahn dasar kain dan kulit (selain pakaian maksudnya), entah itu tas, aksesoris, perlengkapam alat tulis, hiasan rumah, apapun itu yang bisa diproduksi sendiri dan lucu -lucu itu relatif-, dan mudah mudahan saya punya selera yng bisa jadi ciri khas "gue banget".  Tapi untuk hal ini, sepertinya butuh modal yang mesti dukumpulkan dulu sebelum mencoba untuk mengeksekusinya. Yosh, nantonak suru!!

Oiya,masih ada poin lain lain selama disini : naik haji. Yes, insha Allah ingin bisa menunaikan haji jika diizinkan. Kan katanya ketika ada jalan yang mudah (yakni ketika tinggal d jepang), maka udah ada kewajiban buat memenuhi perintah naik haji, tinggal dikembalikan kepada kencangnya niatan diri untuk memperjuangkan itu. Mari berdoa. Hal lain lagi yakni : program anak. Sebenernya saya juga ga terlalu terburu-buru untuk urusan ini. Cuman kan ya gada salahnya untuk kembali mengikhtiarkan, setelah denger denger biaya untuk program ini lebih miring dibanding di indonesia. Tapi mudah mudahn ga perlu sampe ke dokter infertilitas lagi ya,,, hehehe.

Ok sekian dulu caprukan hari ini
Salam,
Indah

04 Januari 2014

Liburan ke KaeFCe

Pada suatu Sabtu di sabtusore...
"Hmm.... Bentar lagi liburan ya?" Tanya saya pada mereka.
"Masih 2 minggu lagi kok...", sahut salah satu dari mereka.
"Pada mau liburan kemana nih?", tanya saya lagi.
"Saya mau ke rumah nenek!", jawab Nur dan Ulpi
"Saya mau ke KFC!", seru Tsani si mungil.
"Eh,, mau ke KFC terus ke rumah nenek!", timpal seorang Nisa, kakak Tsani.

Pernyataan terakhir tiba tiba membuat hati saya berasa diketok. KFC. Ya tempat yang jadi pilihan putus asa saya kalo lagi males masak, males mikir mau makan apa. Tapi buat mereka, bisa jajan disana kayanya sesuatu yang jarang dan harus nunggu momen khusus dulu. Menunggu saat saat itu sepertinya bukan sesuatu yang membosankan, soalnya pada saat menunggu anak menjadi tahu bahwa orang tua benar benar bekerja dan melakukan pengorbanan buat si anak. Dulu saya juga pernah sih ngalamin kaya gitu. Pengen sesuatu dimana orang lain bisa beli dengan mudah, tapi untuk saya perlu nunggu waktu dulu sampe liburan atau si mamah dapet bonus.