
waktu hari jumat yang lalu, dalam perjalanan menuju ke kampus tiba tiba saya dan si cece ingin melewati rute yang berbeda. Akhirnya saya memutuskan untuk melewati jalan asia afrika-braga-aceh-purnawarman-tamansari-ganesa. Sampai di jalan Braga saya ingat, waduh kayanya bakalan macet nih, kan masih ada perbaikan jalan. Jadi sampai terakhir saya melintasi jalan braga memang sedang ada pergantian jalan, yang semula dari aspal diganti menjadi batu.Ta[i ternyata kemacetan yang terjadi bukan karena perbaikan jalan, ternyta jalan nya sudah selesai diperbaiki, ternyta kemacetan terjadi karena adanya JumSih, alias Jumat Bersih. Lirik kiri kanan tampak yang sedang bertugas adalah dari dinas pemerintahan, entah itu dinas pertamanan, kehutanan, pemerintah kota, atau bahkan warga jalan braga. Sambil mikir, dalam hati saya bertanya "loh kenapa di bersihin yah, toh masih dilewati banyak kendaraan bermotor?"..tapi pertanyaan itu hanya selintas, dan tak pernah kembali kucari jawabannya.
Jalan Braga, termasuk jalan yang paling saya sukai di Bandung karena jalan itu memberikan kenyamanan ketika saya melewatinya, trotoar berfungsi sebagaimana mestinya, jalan y
ang tidak terlalu lebar, tata letak bangunan yang menurut saya teratur dan gaya lamanya yang membuat saya kadang merasa tidak ada di bandung (atau berharap semua tempat di kota bandung seperti ini). Dulu saya sempat kecewa ketika sebuah mal berdiri disana, penempatan mal tersebut terkesan "memaksa", menjadikan jalan braga sedikit kehilangan kesan klasiknya. Ya bagaimanapun itu keputusan pemerintah daerah mengizinkan pendirian mal, tentunya sudah dengan berbagai pertimbangan. Sering kali saya menyengajakan jalan di braga, dari kampus turun lewat dago, lurus jalan merdeka, belok ke kanan di jalan tamblong, lalu belok kiri sampailah di jalan braga. Perjalanan itu sangat saya nikmati. Pergantian jalan aspal menjadi batu, membuat saya menduga bahwa jalan braga tidak akan dijadikan jalan bagi kendaraan bermotor. Baguslah, sapa tau bisa dijadiin trigger buat pemkot untuk bikin daerah daerah lain yang kheuseus pejalan kaki dan sepeda. Sehingga pemakaian kendaraan bermotor berkurang. Ternyta memang benar. Niatan pemerintah kota bandung menjadikan braga sebagai salah satu daerah wisata memang dilaksanakan. dengan menjadikan jalan braga area khusus jalan kaki, membuat wisatawan lebih menikmati jalan2nya. Tapi yang saya kaget adalah ketika mengetahui salah satu alsan pemerintah mengoptimalkan jalan braga sebagai daerah wisata (baca di koran beberapa waktu lalu), yakni ingin mengembalikan memori2 turis Belanda tentang keindahan kota Bandung jaman dulu. He??!!!ko lebih mementingkan turis asing yah?untuk salah satu alasan itulah pemerintah rela mengeluarkan kocek milyaran rupiah demi mengganti aspal menjadi batu, dan mengganti pohon karet menjadi pohon yang lebih gampang diurus (padahal pohon karet yang ditanam waktu peringatan Konferensi Asia Afrika itu berharga ratusan juta untuk satu pohonnya). Ditambah lagi pemkot menghimbau bahwa bangunan sepanjang braga di cat warna putih. untuk apa coba?biarkan bangunan-bangunan di jalan braga memiliki ciri khasnya sendiri, warna-warna yang memiliki nilai filosofis bagi sang pemilik bangunan (walaupun saya ga ngerti tentang ilmu arsitek atau planologi), biarin ajah bangunan-bangunan tersebut memberikan warna tersendiri.
Apapun niatan pemerintah tentang jalan braga, saya tetep suka bagian kota bandung itu, heuheu...