Ternyata tiap hari selasa sekitar jam 7.30 WIB atau jeam 9.30 JST ada kajian tentang anak di radio MQ fm. Saya sudah beberapa kali dengar, cuman kadang inget harinya kadang engga. Menarik sekali topik-topik yang diangkat. Kebanyakan memang seputar pendidikan anak usia dini ya.
Topik tadi pagi itu tentang "Dilema Pendidikan". Khususnya pendidikan formal seperti kebanyakan sekolah di Indonesia. Berbicara tentang pendidikan, saya memang bukan ahlinya, selama ini saya hanya penikmat saja (benarkah menikmati?), karena belum mampu menjadi pelaku teknis pendidikan. Ya berbicara pendidikan Indonesia, banyak sekali masalah yang sering muncul ke media. Baik masalah sistem, materi, maupun fasilitas. Belum ada titik temunya. Dan terlalu pelik masalahnya, mengingat bangsa kita adalah bangsa yang heterogen.
Berdasarkan apa yang saya dengar tadi di radio, paham pendidikan bisa dibagi menjadi tiga: yakni pendidikan realis, pendidikan superorganis, dan pendidikan konseptual. Saya bukan pakarnya, kalo salah harap maklum ya. Pendidikan realis lebih ke pemenuhan kebutuhan (industri), contohnya anak-anak disiapkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan realis cenderung diarahkan untuk menjawab kebutuhan lingkungan. Contoh sekolah yang seperti ini adalah: sekolah kejuruan. Yang kedua adalah pendidikan superorganis yaitu pendidikan yang menanamkan nilai-nilai leluhur. Misalkan sekolah yang menanamkan nilai-nilai agama, atau pada masa kini bisa disebut juga pendidikan karakter. Mungkin untuk sekolah-sekolah formal berbasis kurikulum pemerintah pun termasuk dalam golongan kedua, karena pada akhirnya penerapan kurikulum pada sekolah-sekolah adalah untuk menurunkan nilai kebangsaan. (nah karena kurikulum pun berubah-ubah terus, berarti nilai kebangsaan juga berubah terus :p). Yang terakhir itu pendidikan konseptualis, yakni pendidikan yang berdasarkan minat dan keinginan anak didik. Program-program dibuat sedemikian rupa sehingga potensi anak didik tergali dan dapat dikembangkan.
Lalu manakah yang paling baik? itu juga pertanyaan yang susah saya jawab. Kalau dari sekilas saja, saya melihat bahwa masing-masing dari ketiga jenis tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Ketiganya harus berintegrasi menjadi satu tubuh. Saya percaya bahwa salah satu karakter anak itu hadir dari contoh yang ia ketahui, yang ia lihat. Pada awalnya seperti itu, dan lama kelamaan hal tersebut akan melebur dengan dirinya dan menjadi perilaku pada dirinya yang dalam bahasa lain disebut akhlak/karakter. Maka memilih role model yang seperti apa pun menjadi poin penting dalam hal ini. Memahami dan menggali minat potensi anak juga hal penting lainnya, karena setiap anak adalah berbeda dan dilahirkan dengan sebuah kelebihan. Menghadapi orang dewasa saja tidak bisa sama, apalagi anak kecil yang masih awam terhadap dunia ini. Kemudian mempersiapkan mereka untuk kebutuhan masyarakat juga penting. Dengan modal akhlak yang dia miliki dan dengan ilmu dari hasil minatnya maka secara bersamaan itu memampukan mereka bisa beradaptasi dengan kebutuhan lingkungan luar. Ya jadi untuk sementara jawaban saya saat ini, dengan meleburkan ketiga jenis pendidikan tersebut. Ini hanya kondisi ideal dalam benak saya.
Ya kalau boleh bilang, sekolah formal negeri jaman sekarang sangat sedikit menanamkan nilai moral, apalagi peduli terhadap minat si anak. Apa ya,,dan lebih ke arah pencapaian materi (ini masuk mana? apa ke arah realis?). Banyak para ibu dan pelaku pendidikan pun tidak sreg dengan sistem yang ada sekarang (pada sekolah formal negeri), mengambil jalan sendiri demi perbaikan keluarga dan masyarakat di sekelilingnya. Ada yang berhasil dan ada juga yang pada akhirnya bertubrukan dengan kenyataan. Sungguh kenyataan yang membuat dilema.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar