31 Oktober 2011

mengumpulkan semangat

kore kara ganbarimashoo

sabar dan ikhlas
juga doa tetap diucapkan buat orang yang direpotkan
air mata jatuh bukan karena apa yang didapat,
tapi karena sedih dan haru telah membuat sekeliling khawatir.
kalo kata pingkan mambo mah "a'ku ba'ik ba'ik saja..",
dengan suara ngirung yang khas tentunya.
saya seneng kok, karena mungkin ini adalah jawaban atas apa yang saya gelisahkan.
Allah memang Maha Tahu kebutuhan makhlukNya.

yosh! kore kara ganbaru!

26 Oktober 2011

klasifikasi rumah sakit

Dompet makin penuh aja nih. Bukan penuh sama uang sayangnya. Tapi penuh sama kartu. Kartu apa yang nambah? kartu rumah sakit. Waktu mau periksa sakit ini harus ke rumah sakit A, karna di rumah sakit B ga ada fasilitasnya. Waktu mau cek kesehatan ternyata bisa di rumah sakit B yang lokasinya sangat strategis dari rumah. Eh sekarang mau periksa anu mesti ke rumah sakit C karena di rumah sakit A terlalu jauh, dan di rumah sakit B ga ada fasilitasnya, dan ke rumah sakit C atas rujukan dokter rumah sakit B juga sih. Dan jadinya punya tiga kartu rumah sakit. Gaya ga sih si gue. Tapi jangan sampe sakit aneh2 deng.

Jadi sempet nyeletuk, "kalo di Jepang mungkin rumah sakit dibagi berdasarkan tingkat keparahan si penyakit, tapi kalo di negeri impian sana, rumah sakit diklasifikasi berdasarkan kemampuan ekonomi pasien", hehehehe.. Stop membandingkan! Tapi ini hanya mengungkapkan fakta kok :)

cita-cita

reporter : cita-cita kamu jadi apa?
anak : (senyum mesem-mesem malu..)
reporter : jadi polisi, tentara, dokter?
anak : jadi pemerintah

begitulah sekilas wajah anak bangsa Indonesia. wawancara singkat antara murid sd di daerah Lombok Utara dan reporter Metro TV yang sedang menyoroti kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan, tembok kelas dibatasi oleh bilik bambu dan didalamnya terdapat beberapa meja belajar tapi tanpa bangku. Anak-anak belajar dengan berdiri. namun dengan begitu, semangat belajarnya masih ada, begitu kata pembawa berita.

setelah denger cita-cita si anak yang pengen jadi pemerintah, saya langsung ngakak. bukan buat ngetawain mimpinya dia. tapi saya jadi mikir, apa si anak tau ya kondisi sekarang, bahwa mau jadi insinyur jalan, insinyur bangunan, peneliti energi, insinyur listrik, pokoknya profesi dengan segala tingkat ilmu yang dimiliki, semuanya adalah bukan apa-apa kalau pemerintah "tidak sejalan". sebanyak-banyaknya alumni institut gajah duduk, dan sepinter-pinternya anak-anak UI, UGM, ITS, ndak akan ada ngaruhnya buat negara kalau pemerintahnya cuma tau penguasaan kekuasaan dan memperkaya diri sendiri. yosh semoga kalo kamu jadi pemerintah, jadi pemerintah yang amanah, adil, cerdas, dan kritis ya nak!

19 Oktober 2011

sistem cacat tak mengapa asalkan...

Saat pulang dari tempat di daerah Meguro, saya membeli tiket kereta seharga 450 yen. Saya pikir harga tiket dari stasiun Meguro hingga stasiun Minamiyono itu ya tarifnya segitu, 450 yen. Namun saat di pintu keluar stasiun Minamiyono walaupun pagar tetep terbuka, ada tulisan bahwa tiket eror. Karena orang di belakang saya banyak, jadinya saya terus maju aja keluar. Beberapa langkah saya berjalan, ada perasaan ga enak, akhirnya saya cek lagi tarif kereta dari Meguro ke Minamiyono. Ternyata benar, harga tiket bukan 450 yen melainkan 540 yen. Akhirnya saya kembali lagi ke loket tiket yang ada penjaganya, dan bilang kalau tadi saya salah beli tiket. Si penjaga tiket pun mengerti, karena memang tiket yang saya masukan di pintu keluar tadi tidak mau ditelan oleh mesin tiket. Saya meminta maaf dan membayar sisa kekurangan tiket sebesar 90 yen.

Saya bersyukur, masih disadarkan kalau saya beli tiket, bersyukur masih ada keinginan untuk balik lagi ke tempat tiket dan membayar kekurangannya. Kalau pun mau nakal, saya bisa aja cuek bebek ninggalin stasiun dengan beban hutang 90 yen. Ga dikejar dan ga ditangkep juga.

Buat orang2 dari negara berkembang seperti saya, kesan pertama terhadap Jepang adalah disiplin, bersih, rapi, aturan ditegakkan dimana-mana. Memang tak dipungkiri, bahwa semuanya sudah tersistem dengan baik. Yang membuat sistem maupun pelaku sistem. Mau tak mau, saya sebagai pendatang pun harus dong ikutin aturan yang ada, toh memang aturan yang berlaku juga baik. Hebatnya lagi, jangan anggap sistem ini sempurna. Buktinya ketika saya di stasiun tadi, walaupun tiket tak ditelan, pintu gerbang bisa terbuka. Artinya masih ada kecacatan dalam sistem yang dibuat, masih ada saja peluang untuk berbuat curang. Namun hal itu sudah diantisipasi dengan tingkat kesadaran orang Jepang yang sangat tinggi. Dengan itu, tingkat kegagalan dari sebuah sistem pun bisa diminimalisir, walaupun ada juga orang yang kadang-kadang tidak sadar akan aturan disekitarnya.

Korupsi jarang terdengar. Seorang menteri yang menerima uang pun bisa mengundurkan diri karena malu. Ketakutan terhadap "mata orang lain" yang membuat orang Jepang sangat sadar diri. Karena saking "baiknya" orang Jepang ini, kadang disalah artikan oleh orang asing. Hal-hal yang sepatutnya dijadikan amanah, malah diselewengkan menjadi kesempatan bagi mereka "yang tidak mengerti orang Jepang" untuk memenuhi kesenangan pribadi tanpa melihat kepercayaan yang diberikan oleh si orang Jepang. Seolah-olah mereka cerdik telah membodohi si Jepang. Kesal sekali melihatnya, namun tak ada yang bisa diperbuat juga selain menjadikan itu sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Bagaimanapun akhlak/moral/perilaku lah yang menentukan keberhasilan sebuah sistem.

sakit dengan senyum

beberapa hari ini terbaring, ngagoletak, banyak hal yang tidak bisa dikerjakan, kalaupun ada sifatnya wajib seperti buang air besar/kecil/masak/makan. akibat mendzalimi diri sendiri di minggu lalu. sejak minggu lalu, memang badan sudah ga jelas hareeng, bawaanya males masak. sekalinya masak itu mie rebus, spageti, pasta yang buat orang dengan daya tahan lambung rentan, makanan itu bisa meningkatkan asam lambung. belum lagi di hari sabtu dimana udara membawa angin dingin, dan seperti biasa karena tidak masak, saya cuman beli onigiri. itu pun dimakannya telat. lengkap sudah. tau rasa deh!! belum selesai itu, di hari minggu, diacara pengajian, dengan pedenya makan balado teri yang bener bener menggoda selera makan dan juga senjata ampuh buat bikin kondisi makin buruk. alhasil masih di tempat pengajian suhu badan pun sudah diatas 38 derajat.

kapok. iya kapok. karena ternyata pas saya tidak berdaya, banyak hak hak sang su yang tidak bisa dipenuhi. tidak bisa membuatkan makanan enak, ga bisa mempersiapkan bento, cucian baju numpuk, ga bisa pasang tampang manis, mau senyum aja susah, banyak minta dibeliin ini dan itu. ga enak ga enak! beneran deh!

tapi, kekuatan keyakinan itu pasti ada, keyakinan terhadap Allah SWT yang akan menyembuhkan. keyakinan bahwa dibalik sakit yang dirasakan, ada dosa-dosa yang tergugurkan. Insya Allah.

:)

13 Oktober 2011

kalau misalkan di waktu dulu pernah menyebutkan sebuah janji seperti "iya nanti saya main ke rumah kamu, insya Allah ya!", atau "iya nanti di traktir deh,,insya Allah kalo ada rejeki". Nah terus kita lupa, dan si orang yang dijanjikan pun ga ingat dan ga nagih. itu hukumnya bagaimana ya?
dan kalau ucapan itu diucapkan di tahun-tahun yang lalu, dan pada saat ini kita pun lupa apa-apa saja yang diucapkan dan dijanjikan, bahkan dengan siapa nya pun kita lupa, itu bagaimana ya? rasanya banyak banget yang saya janjikan atau yang diucap, tapi sampe saat ini belum dipenuhi. dengan siapanya saja lupa, apalagi yang diucapkannya,,huaaaaa,,mau minta maaf, tapi ke siapa??????

12 Oktober 2011

Pengalaman (bukan pertama) di SD jepang


Sudah kesekian kalinya saya mampir ke SD Jepang. Kali ini bersama grup COSMOS, yakni grup voluntir bahasa jepang. Ada yang berbeda dari kunjungan kali ini. Kalau dulu biasanya pas masuk kelas si anak-anak jepang itu, bareng sama temen-temen dari negara lain dan ada senseinya. Namun kali ini, jreng jreng jreng,,,tampil sendirian. Groginya bukan maen. Ga ada sensei bahasa jepang yang nemenin, karena katanya "Indah san mah udah lancar". Dicatat ya: sensei ga pernah ngomong dengan tambahan "mah", dan yang kedua adalah saya bener-bener masih patah-patah bahkan sesendutan kalo ngomong. Banyak vocab yang ga tau, banyak grammer yang ngaco, dan ya sudahlah,,sudah terlewati. Ya, saya sendirian dengan 11 orang anak kelas 6.

Sebagian wajah dari mereka sudah familiar di ingatan saya karna kadang ketemu di supermarket. Apa yang saya siapkan juga tidak begitu heboh. Kalo sebelumnya tiap disuruh mengenalkan tentang Indonesia, saya mikir tentang budaya lah, kesenian lah, baju adat lah, alat musik tradisional lah, dan semacamnya yang saya sendiri pun tidak begitu memahami :p (fake indonesian). Kali ini saya menyiapkan tentang sekolah di Indonesia, terutama sekolah dasar. Oiya sebelum memutuskan memilih topik ini saya sempet konsultasi sama neng Firda, adiknya Ihsan, yang sekarang jadi anak yang saya dampingi di sekolah jarak jauh (panjang betul keterangannya). Kata Firda yang saat ini bersekolah di SD Jepang, "Kalau mau ngenalin Indonesia, kenalin aja permainan anak-anaknya, terus sekolah di Indonesia itu bagaimana". Ya berdasarkan sudut pandangn murid kelas 5 SD itulah saya mengambil keputusan. Sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari memang lebih mudah diingat.

Pertama-tama dateng ke kelas, saya masih nunggu siapa tau ada sensei yang akan dateng, tapi semua itu hanya ada dalam cita cita saya yang tidak terwujud (deziiig). Dimulailah kelas kami. Dimulai dengan pertanyaan pertama dari mereka "Di Indonesia makanan apakah yang terkenal?", "Nasi goreng atau sate ayam", jawab saya. Karena nasi goreng dengan spelling orang jepang yang menjadi nashi gor(l)eng, adalah makanan yang cukup terkenal datang dari Indonesia, dan sate ayam karena biar mudah menganalogikan dengan barbeque atau yakitori. Selanjutnya pertanyaan-pertanyaan mereka datang bergantian. Nah terus kapan saya presentasinya? ternyata ga perlu presentasi. Pertanyaan yang mereka kasih saya jawab dengan materi presentasi yang sudah saya siapkan, seputar sekolah Indonesia. "Sekolah disana segede apaan?", "Aturan disana kaya gimana?", "Pelajarannya apa aja?", "Anak anak disana suka maen apa aja?", ya seperti itu. Jangan bayangkan saya bisa jawab tanpa hambatan dengan bahasanya Matsumoto Jun. Ba bi bu be bo,,,endut-endutan, seperti itu. tapi yang penting mah saya hepi. (egois pisan!).

Pas waktu makan siang, kebetulan hari ini adalah hari makan siang di luar kelas. Saya lebih milih makan bareng mereka diluar dibanding makan bareng senseitachi di dalam ruang kepala sekolah. hehehehe.. Tanpa undangan, saya pun bergabung dengan murid2 tadi makan di lapangan sekolah. Saat makan, ga banyak yang diobrolin, hanya sepatah duapatah kata doang. Saya asyik ngeliatin mereka makan, juga ada anak kelas 1 yang makan bareng kita. Sepertinya anak kelas 6 ini harus punya saudara yang duduk di kelas 1, maksudnya semacam kakak-adik angkat di sekolah. lucu banget deh.


Pengalaman datang ke SD jepang merupakan pengalaman yang selalu menarik (mau nyontek apa yang mereka lakukan di sekolah soalnya, hehehehehhe).

nb : sayang hari ini ga banyak ambil foto :(

06 Oktober 2011

lupa password

si doi kehilangan password blog nya. dia pake email kantornya terdahulu sebagai akunnya. sekarang doi udah caw dari kantor, jadi blognya yang gawol itu ga bisa diakses lagi. sekarang doi punya alamat baru, dan memulai tulisan dari awal lagi deh. bantu sundul ya gan! :)

05 Oktober 2011

Undokai

Tanggal 10 Oktober ternyata adalah hari libur. Pas dilihat hari itu adalah hari olah raga (ditulisnya sih 体育の日). Sampai-sampai olahraga pun termasuk hari libur nasional, saking pengen liburnya ya?! Olahraga memang sangat melekat sama orang-orang Jepang. Selain asupan makan mereka yang bergizi, mereka juga menyeimbangkan dengan olahraga. Hal tersebut sudah dibiasakan dari kecil, hingga ketika dewasa, olahraga bukan sesuatu yang berat dilakukan. Salah satu budaya di Jepang adalah adanya undokai (運動会), atau bisa disebut juga festival olahraga. Undokai ini memang tidak dilaksanakan di bulan Oktober saja, namun mayoritas pelaksanaan memang di bulan sepuluh. Sepertinya memang disengaja karena hari olahraga jatuh di bulan Oktober, ditambah cuaca di bulan Oktober yang menyejukan. Langit bersih, angin bertiup tidak terlalu dingin, sinar matahari yang terang adalah kombinasi yang pas buat olahraga.

Kembali ke undokai. Undokai sendiri biasanya dilaksanakan oleh sekolah-sekolah, dari tingkat TK maupun Universitas, bahkan sepertinya di perusahaan-perusahaan pun ada hanya saja saya tidak tahu. hehehehe.

Apa sih yang dilakukan di undokai? tahun ini adalah pengalaman pertama saya melihat undokai sebuah SD secara langsung, dari awal sampai akhir. Sebelumnya saya hanya tahu dari cerita orang2 dan foto saja. Aa yang sudah pernah melihat undokai di SD yang sama tahun lalu, mewanti-wanti saya untuk tidak luput menyaksikan undokai, tentunya dengan peringatan "jangan lupa bawa kamera!". Saya kan makin penasaran tentang apa yang dilakukan anak2 SD itu di undokai.
ini loh SD nya..

Pada hari Sabtu lalu, tanggal 1 Oktober, putra2nya Teh Dewi, Azis dan Eka yang masing-masing duduk di kelas 2 dan 3, melaksanakan undokai disekolahnya. Saya pun dengan senang hati menonton mereka. Pagi2 sekitar jam 8.20 saya sudah sampai di sekolah mereka. Saat itu sedang dilakukan prosesi upacara pembukaan. Anak-anak yang dibagi menjadi 4 grup besar masuk kedalam lapangan dan berbaris berdiri di tempat yang sudah diatur sambil diiringi musik dari kelompok marching band yang ada di depan lapangan. Setiap kali mendengar suara terompet kaya gitu, pasti saya langsung merinding. Apalagi ditambah suara derap kaki, dan aura semangat berkompetisi dari anak-anak yang sangat terasa,, makinlah merinding. Tak lupa saya keluarkan kamera dan merekamnya. Anak-anak dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada warna merah, kuning, hijau, dan biru. Masing-masing kelompok terdiri dari murid-murid kelas satu hingga kelas enam, digabung. Mereka akan melakukan lomba-lomba seperti balap lari, tarik tambang, lari estafet, memasukkan bola, mengambil tongkat. Untuk setiap lomba/permainan ada kategorinya, misalkan balap lari untuk kelas 4, kelas 2, kelas 1. Di masing-masing kategori itu sudah pasti ada peserta dari 4 kelompok warna yang berbeda. Nah warna yang menang dalam kategorinya akan menambah poin untuk kelompok besarnya (yakni kelompok warna). Ada juga kategori yang dicampur semisal lomba estafet untuk kelas 4 dan 5, atas lomba mentransfer bola yang dimainkan dari seluruh siswa (kelas1 s/d kelas 6). Tapi pada intinya mereka yang bermain pasti mewakili kelompok besarnya. Dan diakhir acara, poin yang di dapat dari masing-masing permainan dan kategori akan dikumpulkan, sehingga kelompok warna yang mengumpulkan poin terbanyak, itulah juaranya. Oiya, sekolah juga tidak lupa mengikutsertakan orang tua. Ada satu permainan yang hanya dimainkan oleh orang tua (juga dibagi kelompok warna), dan si anak dari kelompok yang sama akan memberikan dukungannya.(berasa ribet gini ya nulisnya, maafkan).
slogan undokai tahun ini (ga ngerti artinya :p)

Kenapa menjadi sangat menarik? Acaranya memang menarik. Undokai ini, bagi anak-anak adalah ajang "memamerkan" kemampuannya di hadapan orang tua. Di undokai ini, selain permainannya itu sendiri, tentu harus ada panitia yang menyiapkan semua kebutuhan dalam setiap permainan. Panitia yang menyiapkan ini pun datang dari anak-anak. Biasanya anak2 kelas 4,5, dan 6 yang menyiapkan ini. Tidak melulu itu-itu saja orangnya, namun bergantian. Ketika anak kelas 3 yang bermain maka anak kelas 6 yang menyiapkan segalanya, dan ketika anak kelas 6 yang bermain, anak kelas 4/5 yang menyiapkan. Pokonya masing-masing orang punya tugasnya sendiri. Oiya di upacara pembukaan pun, musik dilakukan oleh anak-anak kelas 4/5/6, konduktornya pun dari anak2. MC juga dari para siswa, ada pula sambutan dari perwakilan murid yang membuka acara undokai. Di masing-masing kelompok besar yang saya sebutkan sebelumnya, juga ada pemimpin nya. Si pemimpin ini sebagai pemandu sorak bagi teman-temannya, dia membawa bendera, dia meneriakkan kata-kata semangat, dan katanya sih suatu kebanggaan bisa ada di posisi itu. Ahhhhh,,terharu. Selain segala sesuatunya dikerjakan oleh para siswa, yang bikin paling saya ternganga adalah ketika mereka bisa sangat cekatan, disiplin dalam masalah waktu. Sepertinya tidak ada waktu yang terbuang. Tidak ada jeda dari satu permainan ke permainan lain. Sebelum satu permainan selesai, peserta permainan berikutnya sudah ada di pintu masuk lapangan, dan mereka akan masuk seiring peserta permainan lama keluar lapangan. Oh no! saya aja mikir, kalo mahasiswa aja belum tentu bisa mau diatur kaya gitu!
Lomba lari kelas 3 (kalo ga salah). Menunggu pemenang.

Atraksi dari anak kelas 6

Lomba dorong bola kelas 2

Tarian dari anak kelas 1 (Lagunya Maru maru mori mori :D)

Lalu, kalau semua yang melakukan siswanya, gurunya ngapain dong? guru juga turut serta membantu. Setiap kelompok besar ada guru pendampingnya, dan mereka memakai warna baju yang sama dengan warna kelompoknya, memakai celana olahraga, sepatu dan ikat kepala. Guru ikut membantu mengarahkan, tapi seolah-olah arahan dari guru itu bagaikan menyuruh kepada robot. Setiap anak sudah tahu tugas dan tanggung jawab masing-masing. Guru ikut memberi apresiasi, memberi semangat, ikut riweuh lari-lari juga. Ya semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kekacauan, kesemrawutan, kechaosan. Baik yang mengatur maupun yang diatur sama-sama tau akan tugasnya.

Sudah disediakan tempat khusus bagi orang tua/siapapun yang ingin menonton. Bagian dalam lapangan terdapat kursi-kursi untuk para siswa duduk (kursi mereka yang mereka bawa sendiri dari kelas, dan disusun berdasarkan kelompok), dan lapangan kosong untuk tempat dilakukannya lomba. Sedangkan di pinggir lapangan suda ada tali panjang di sekelilingnya agar orang tua tidak memasuki bagian dalam lapang. Orang tua tidak boleh ikut duduk manis disamping anaknya, orang tua hanya menonton. Sudah itu saja. Selebihnya anak akan sangat mengikuti apa perintah dari gurunya, bukan dari ortunya. Makan siang pun, para siswa akan makan bersama dengan temannya, tidak dengan orang tua. Aduh kok saya jadi ga berurutan gini ya nulisnya! ini saking senengnya pengen cerita.

Yang saya dapat ambil dari undokai ini, tentunya acara ini memang dikhususkan untuk kebutuhan jasmani, fisik, meningkatkan vitalitas tubuh dimana permainan yang dilakukan sangat sederhana tetapi menguras keringat. Setiap anak mesti berpartisipasi dalam undokai, dan karena permainannya pun permainan umum jadi tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Namun selain itu, hal paling penting juga banyak sekali nilai-nilai yang dapat dijadikan bahan pelajaran. Tidak ada pemenang individu, tidak ada arogansi individu, tidak ada seorang bernama yang menjadi pemenang. Masing-masing anak berjuang untuk kelompoknya. Kekalahan pribadi ya kekalahan kelompok, kemenangan pribadi ya kemenangan kelompok, begitu sebaliknya. Kalaupun ingin menunjukkan kemampuannya, si anak tidak mempersembahkan untuk teman, tapi untuk orang tua yang melihatnya. Pembagian tugas secara umum membuat si anak harus benar-benar melakukan perannya dengan baik, jika tidak orang lain akan dirugikan olehnya. Itu lah yang orang Jepang tanamkan sejak kecil. Aaaaahhhhh..... keren keren lah. Harus nonton sendiri pokonya. Juga salut buat para guru/pendidik yang telah kerja keras untuk membuat sistem berjalan dengan baik, yakni dengan memberikan contoh kepada anak didiknya serta ikut terjun langsung dalam setiap kegiatan. Itu baru namanya contoh. (tidak seperti pembagian jadwal piket kelas dulu, belum pernah liat guru juga ikut serta bersihin kelas, mereka piketnya di ruang guru, si anak mana bisa lihat ya)

Yosh itulah undokai. Kembali ke masa sekolah dulu, di sekolah saya juga ada yang namanya pekan olahraga dan seni (poseni) yang biasanya dilaksanakan sehabis masa ulangan umum. Namun olahraga yang diadakan adalah olah raga kelompok kecil seperti basket, bola, voli, dan hanya orang yang tertarik saya yang akan ikut berpartisipasi dalam porseni, betul kan? Jika tidak ada anak yang tidak ikutan ya tidak apa-apa, toh masih ada orang lain yang mewakilkan. :D

Mengembalikan kursi ke kelas

nb: karena azis dan eka berada di kelompok kuning, jadi kebanyakan foto adalah kelompok kuning :)