Beberapa waktu lalu saya pernah sekilas mendengar tentang seorang petugas sampah di Indonesia yang diliput stasiun tv BBC dan liputannya disaksikan oleh masyarakat di UK sana. Begitu pula dengan kenaikan gaji yang saya dengar yang didapatkan oleh si petugas sampah akibat "naik daun" ia. Naiknya seratus ribu saja.
Semalam saya baru menonton filmnya di youtube, dan setelah selesai menonton saya sempet diam sejenak, merasakan ada bagian yang sakit dalam diri saya. Tidak tahu apa.
Sewaktu tingkat satu dulu, saya dengan beberapa teman pernah mendapatkan tugas untuk mengunjungi tempat pembuangan akhir sampah di daerah Leuwi Gajah, Cimahi, Bandung. Terus terang saja, dari jarak sekian ratus meter, hidung ini udah ga kuat sama bau sampah. Pun ketika menginjakkan kaki di dekat gunung sampah raksasa, nyaris mau muntah. Tidak sampai muntah pada akhirnya, hidung langsung bisa berkompromi dan beradaptasi sama bau. Miris rasanya. Beratus-ratus pemulung hidup disana, dengan sistem sanitasi yang tak pernah sama sekali mereka kenal, tak peduli bakteri, kuman, atau penyakit apa saja yang sudah mereka dapatkan dan belum lagi ledakan sampah yang mungkin akan dihadapi nantinya. Hiks hiks. Pulang dari sana, bau dari TPA masih melekat pada badan saya, berapakalipun mandi, bau itu sepertinya tetep nempel di hidung. Suatu kenyataan yang membuat saya sedih namun ga bisa berbuat apa-apa.
Tinggal di Jepang dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah matang, membuat saya sebagai penduduk dari negara berkembang mau tidak mau dipaksa beradaptasi dengan sistem tersebut. Sekalinya pulang ke Indonesia saya pun tetap berusaha untuk memilah sampah-sampah yang saya hasilkan, mengajak penghuni rumah untuk sama-sama memilah sampah. Tanggapannya sama: "nagapain di pilah, di TPS nya aja dicampur". Iya memang masih begitu, setidaknya kita membantu meringkan kerja mereka untuk tidak ngacak-ngacak sampah campur demi mencari botol atau plastik. Tapi tetap saja tidak ada perubahan terjadi, bahkan tulisan yang pernah saya buat mengenai penjelasan klasifikasi sampah dan ditaruh di dekat tempat sampah, sudah ada di ranjang sampah beberapa hari kemudian.
Seperti berdakwah, tidak ada yang berubah secara instan, semua perlu waktu dan konsistensi, juga hidayah mungkin. Begitupun dengan menanamkan kesadaran tentang sampah pada rumah-rumah, minimal untuk lingkungan terdekat. Bagi sebagian orang mungkin sudah melakukan, dan saya akan menjadi salah satu seperti mereka, insya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar