Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

14 Desember 2011

Mamah

Pernahkah saya menulis sesuatu tentang wanita yang pernah melahirkan saya? Yang sampai saat ini saya memanggilnya, mamah. Memang pasaran kata-kata itu untuk digunakan, tapi kepemilikan dari kata itu tentu tidaklah pasaran. Mamah adalah panggilan unik untuk seorang wanita yang sudah melahirkan. Pernah suatu hari di waktu kecil saya bertanya, “Kenapa tetangga depan dipanggilnya mamih sih? Ko orang bule manggilnya mom?”. Tetangga saya kebanyakan orang keturunan. Saat itu saya bertanya entah pada siapa, tapi saya ingat kala itu yang menjawab adalah paman saya yang memang hobi bercanda, “Mamah itu dari Belanda, Mamih itu dari Belandi”. Saya hanya tertawa tapi tidak puas juga. Dan saya selalu berkesimpulan kalau Mamah itu digunakan oleh orang muslim, dan Mamih itu digunakan oleh orang keturunan. Pemikiran yang sempit! Namun, apalah arti sebuah nama, baik mamah, mamih, ibu, umi, bunda, mom, ambu, adalah panggilan kehormatan dari manusia yang berstatus anak dan juga penghargaan bagi seorang wanita yang pernah melahirkan.

Mamah saya yang berbadan pendek adalah wanita yang sekarang sudah tidak muda lagi, usianya terpaut 39 tahun dengan saya. Walau begitu hobinya yang jalan pagi dan beredar ke pengajian sekitar rumah masih terus dilakoninya. Belum lagi kegiatan santunan di rumah sakit demi memberikan semangat kepada orang yang sakit serta sebagai pengingat untuk dirinya sendiri bahwa nikmat sehat adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Mamah yang berbadan kecil itu beruntung bisa menikahi seorang pemuda berperawakan tinggi sehingga bisa menghasilkan keturunan satu-satunya berbadan tinggi seperti saya. Banyak cerita yang pernah ia ceritakan ketika masa mudanya. Salah satunya ketika bagaimana ia disekolahkan ke Bandung hanya karena bapaknya, mbah saya, mengira bahwa dua kata di depan sebuah nama sekolah menengag bernama “St Angela”, adalah diperuntukan untuk kata SITI. Yang berarti jika saya bisa menyelami pikiran mbah saya, maka mbah memilih untuk menyekolahkan putrinya itu ke sekolah bernama “Siti Angela”. Saat itu, sekolah tersebut hanya diperuntukkan untuk wanita saja, jadinya mbah pun merasa aman mengirim anaknya ke Bandung tanpa mengetahui bahwa sekolah tersebut adalah sekolah yang mengajarkan ajaran agama lain. Tapi dengan bermigrasinya Mamah ke kota Bandung, maka gadis yang berasal dari Kota Banjar, Ciamis itu sedikit mulai menemui pencerahan. Memang seperti itulah yang diharapkan kedua orang tua Mamah. Selepas SMA, mamah diterima di Fakultas Ekonomi UNPAD. Kampus yang cukup bergengsi pada jamannya, juga pada saat ini tentunya. Kalau kebanyakan laki-laki saat itu bersarang di kampus Ganesa, nah yang gadis ini bersarang di UNPAD. Jadi tidak aneh jika banyak dara UNPAD atau dara dari kampus lain pun mondar-mandir ga jelas di kampus Ganesa demi mendapatkan lelaki yang di jidatnya bertuliskan “ANAK ITB”. Si Mamah pun, hemmmm...saya lupa melakukannya atau tidak, namun saya tau mamah punya usaha kearah sana. Pertemuan mamah dan papah sih seinget saya di kereta. Saat itu mamah dengan seseorang temannya hendak pergi ke Jakarta, sedangkan si papah adalah saudara dari temennya mamah itu yang saat itu hendak bertolak ke Jakarta juga untuk pulang. Pendek cerita, romantisme mereka berdua pun dimulai, dan mereka memutuskan menikah di tahun 1977. Pada saat itu papah dan mamah masih sama-sama berstatus mahasiswa tahun ke....jangan sebut tahun keberapa, yang pasti mereka masuk kuliah itu tahun 1969. Baru pada tahun 1978 papah lulus kuliah dan sudah memboyong seorang isteri dan dua orang anak pada hari wisudanya. Kuliah mamah sayang sekali harus terputus karena tuntutannya sebagai isteri. Kalau mendengar tuntutan tuh kesannya sesuatu yang dipaksa ya, ya sudah saya ganti. Kuliah mamah sayang sekali harus terputus karena sangat menikmati perannya sebagai seorang isteri. Padahal saat itu, hanya tinggal beberapa langkah saja menuju kelulusan. “Allah memang sudah berencana”, begitu yang selalu mamah bilang. Dan mamah sangat tidak ingin anaknya sampai ada yang putus sekolah.

Mamah yang sekarang saya kenal adalah mamah yang kuat. Tentunya semua itu tak lepas dari pengalaman hidup yang pernah dia alami. Kemandirian yang ditanamkan Emak, ibunya Mamah, sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi wanita yang serba bisa. Mbah yang cukup tegas kepada dirinya, yang selalu melarang ketika mamah ingin pergi ke musola untuk belajar ngaji, membuat dirinya semakin penasaran tentang ilmu agama islam. Hidup terpisah dari orang tua dan tinggal dengan sanak saudara yang ada di Bandung juga pernah mamah ceritakan, ada pahitnya dan ada senangnya. Dan karena pengalaman pahit yang pernah ia terima juga, makanya mamah selalu ingin bersikap baik terhadap semua saudara yang tinggal di rumah. Beberapa sepupu saya pernah tinggal di rumah, dan mamah selalu menganggap mereka sama seperti anak sendiri. Kekuatan mamah memang mengalami peningkatan pesat ketika di tahun 1987 anak ketiganya diambil Sang Pencipta. Di tahun yang sama pula Emak harus kembali ke Sang Khalik. Ternyata setelah itu juga, tepatnya setahun setelah kejadian itu, pria yang selama 11 tahun menjadi suaminya dan menjadi bapak bagi keempat anaknya harus juga berpulang pada Yang Maha Pencipta. Allah SWT memang menyayangi orang-orang terdekat mamah sehingga Ia memanggil mereka duluan, namun Allah SWT pun lebih sayang berjta-juta kali lipat pada mamah saya. Saya teringat ketika kesedihan melanda Rasulullah di tahun dimana isterinya Khadijah dan pamannya wafat. Itu adalah menjadi tahun tersedih bagi beliau. Begitu pun yang saya bayangi ketika mengingat wajah mamah di tahun-tahun itu. Betapa banyak air mata yang sudah ia tumpahkan, saya tidak pernah tahu. Betapa banyak doa yang sudah ia lantunkan, saya tidak pernah tahu. Yang saya tahu bahwa Allah masih mendengar doa-doanya dan mengganti air matanya dengan nikmat keimanan yang ia rasakan sekarang ini. Wajah kami, saya dan ketiga kakak perempuan saya yang pada saat hari-hari duka itu masih sangat imut nan lucu, mungkin menjadi kekuatan buat mamah untuk tetap bangkit, berdiri, dan berjalan.

Single fighter, begitu orang menyebutnya. Pagi-pagi sehabis shalat shubuh, mamah langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk kami yang akan pergi ke sekolah. Setelah semuanya berangkat, mamah akan menyetir Daihatsu Hijet biru tuanya dengan gagah menuju ke kantornya. Kantor, tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Namun atasan tempat papah bekerja sebelumnya, memberikan tempat untuk mamah bekerja disana. Bukan pegawai negeri sipil memang, hanya tenaga honorer yang gajinya cukup untuk menyambung hidup. Untuk menambah pendapatan keluarga juga, pernah ada drum minyak di garasi rumah saya dan beberapa karung beras. Bukan tujuan penimbunan, walau saat itu harga sembako sedang ada di puncak jaya. Namun drum dan karung-karung itu dibelinya dari seorang penjual, yang kemudian mamah menjualnya kembali ke kenalan sekitar rumah dalam bentuk kiloan. Bisnis katering pun pernah menjadi tambalan dalam kehidupan finansial keluarga kami. Bisnis pakaian anak-anak, kerudung eceran, baju muslim, apa saja agar bisa tutup gali lubang keuangan kami. Saya memang tidak pernah diminta juga untuk membawa makanan, baju, minyak, atau beras untuk didagangkan di sekolah. Selain mamah yang tidak menyuruh, saya juga tidak inisiatif untuk melakukannya. Dibilang sudah kaya, tidak. Dibilang miskin tidak juga. Dibilang tidak susah, tidak juga. Ya kehidupan saat itu saya kira mengalir-ngalir saja, kerumitan yang ada di benak mamah, tidak pernah diperlihatkannya kepada kami. Mungkin teteh, kakak pertama, yang cukup mengetahuinya. Kerumitannya itu baru saya ketahui ketika saya sudah kuliah.

Jam 2 siang adalah waktu yang membahagiakan buat saya. Kenapa? Karena akan ada suara klakson mobil khas Hijet yang bunyi di depan rumah, dan saya akan berlari dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu rumah, serta masuk ke dalam mobil. Jarak yang pendek saja untuk menikmati mobil. Tapi setiap hari saya lakukan karena kepulangan mamah ke rumah adalah hal yang membahagiakan. “Bawa oleh-oleh apa hari ini?”, tanya saya pada mamah ketika kami turun dari mobil. “Dari kantor kok, ya ga bawa apa-apa”, jawab mamah. Ada kekecewaan datang, tapi tak setiap hari juga. Karena sering juga mamah pulang membawa macam-macam, buah-buahan, ayam goreng bekas makan siang, coklat yang dikasih dari atasan sebagai oleh-oleh perjalanan dinas, dan banyal jenis lainnya yang saya lupa. Tidur siang adalah kebiasaan mamah setelah pulang kantor, dan sampai sekarang pun masih dilakukannya. Aktifitas dari sebelum shubuh hingga jam 2 siang cukup membuat badan ia kelelahan. Maka satu jam hingga 2 jam berbaring di kasur depan televisi atau sofa menjadi pilihannya melepas kelelahan. Demi keseimbangan kehidupan, pemenuhan kebutuhan rohani tidak lupa mamah cari. Semenjak sepeninggalan papah, Allah membimbing mamah untuk lebih dekat dengan Nya. Mulai menutup aurat sempurna (kala itu menutup aurat sempurna masih dilarang oleh pemerintah, bahkan dianggap kampungan bagi sebagian orang), mendatangi majelis-majelis ilmu, berkegiatan sosial di hari sabtu dan minggu. Waktu sore di hari-hari kerja adalah waktu untuk mamah mencari ilmu. Pergi ke masjid terdekat atau ke masjid jauh pun dijabanin. Kami pun menjadi lebih sering diceramahi oleh ustadzah pribadi kami, mamah. Pendidikan formal di pagi hari dan pendidikan non-formal a.k.a taman pendidikan Al-Quran di sore hari diberikan oleh mamah. Mamah tidak pernah mengajarkan asal muasal kenapa saya harus shalat, kenapa harus puasa, dan kenapa-kenapa lainnya. Semuanya saya telen bulat-bulat layaknya tahu bulat yang enak itu, tidak tahu apakah si bulat itu baik untuk saya atau tidak,. Seiring waktu berjalan, usia yang bertambah, badan yang semakin tumbuh, otak yang semakin jalan, saya pun belajar memahami apa arti semua suruhan mamah. Mamah memang tidak pandai mengajari, kalaupun memberi nasihat hanya sepotong-sepotong. Namun bagaimana dia menjalankan kesehariannya, membuat saya memahami ajaran yang diajarkan.

“Mamah percaya sama kalian”, adalah kalimat yang terucap waktu saya masih SMP. Saat itu saya yang seperti ABG lainnya pernah nonton ke bazar sekolah tetangga, bilangnya sih akan bermalam di tempat teman, namun sang kakak dari teman saya itu membawa saya dan tiga teman lainnya bermalam di mobil. Saya sih tidur, tapi mobilnya dipake balapan di jalan Supratman. Wah nyesel banget deh sejak saat itu. Awalnya saya tidak cerita ke mamah, tapi lama-kelamaan cerita juga. Dan kalimat yang tadi saya tulis itulah yang keluar dari mulut mamah. Rasanya bener-bener ditampar. Kata maaf yang terlontar dari mulut ini pun tidak ingin berhenti diucapkan. Menyesal. Mamah juga bukan tipe orang tua yang berkata, “Sana belajar dulu!”. Tidak, tidak seperti itu. Mungkin akibat terlalu lelahnya berkegiatan dikantor, mamah tidak punya kekuatan untuk menyuruh dengan cara seperti itu. Saya juga jarang melihat ketiga kaka saya diperlakukan seperti itu. Paling-paling mamah hanya bilang,”Gapapa ga belajar, yang penting hasilnya bagus”. Seperti yang tidak mau tahu tentang bagaimana kondisi akademik anak-anaknya, tapi diam-diam beliau juga mengawasi kami. Refleknya kami pun malah menjadi belajar lebih tepatnya duduk di meja belajar selama beberapa jam dengan perbandingan waktu antara belajar sungguhan dan melamun serta ngoprek-ngoprek ga jelas adalah 20% : 80%. Dari pengalaman mengambil rapot keempat anaknya, ada kalanya mamah dipanggil duluan dan ada kalanya mamah dipanggil belakangan, yang arti pemanggilan urutan orang tua itu merepresentasikan peringkat di kelas. Tapi mamah juga tidak sampai memarahi jika urutan kami ada di bawah, juga tidak memberi hadiah khusus ketika peringkat kami diatas. Hanya pujian dan nasihat-nasihat saja yang ia berikan.

Sampai usia kuliah, saya jarang sekali mencurahkan isi hati, pengalaman di luar rumah kepada mamah. Saya pikir saya tidak bisa terbuka dengan mamah, dan mamah juga jarang mendekatkan diri kepada anak-anaknya hanya untuk sekedar bertanya “Bagaimana hari ini di sekolah? Menyenangkan tidak di sekolah?”. Saya juga tidak menuntut seperti itu. Sepertinya diri ini sudah paham tentang situasi yang dihadapi mamah, dan saya tidak akan membuat urusan saya menjadi beban buatnya. Makan malam dan meja makan merupakan tempat paling nyaman untuk saya. Dari sana betapa kehangatan keluarga saya rasakan. Kami bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan di luar rumah hingga kadang sampai larut malam. Tidak ada cerita sedih dari mulut ini keluar. Baru kuliah tingkat akhir, ketika kedua kakak saya sudah menikah dan tidak lagi tinggal di rumah, saya dan mamah bisa berbicara banyak hal. Saya mulai memberanikan diri untuk menceritakan kesulitan-kesulitan, ketidaknyamanan, menanyakan perasaan mamah, bahkan pernah saya berani untuk membantah pendapat mamah. Pernah suatu hari ketika saya berada di kampus, saya mendapatkan telepon masuk dari mamah. Awalnya mamah menanyakan jam berapa saya akan pulang, namun tak lama kemudian ia menangis karena ada pertikaian dengan kakak saya. Tanpa sepengetahuannya, saya pun ikut nangis. Siapa yang tega membuah mamah saya nangis?pikir saya tanpa mau tahu bahwa seseorang itu mengacu pada orang terdekat. Dia sakit, saya juga sakit. Itu yang saya alami. Saya merasa, usia mamah yang tidak muda, yang sudah tidak bekerja, kehadiran orang lain untuk sekedar mendengar ceritanya menjadi sangat penting. Penting untuk psikologisnya juga kesehatan fisiknya, setidaknya begitu yang saya dengar dari orang juga dari artikel yang saya baca. Mamah akan sangat khawatir jika anaknya yang tinggal berjauhan tidak meneleponnya. Orang tua mana sih yang tidak khawatir jika dibegitukan. Jika sudah terlalu amat lama, maka mamah akan menghubungi kami duluan. Dan pelajaran yang saya dapet, jangan pernah tanya “Kok tumben mamah nelpon?”. Apa sayang itu butuh waktu khusus? Engga kan. Melihat anak-anak yang dilahirkannya sudah besar dan punya kehidupan sendiri tentu membuat mamah merindukan masa-masa mengasuh kami. Dengan senyumnya selalu ia mengukirkan rasa syukur bahwa dia telah berhasil melewati masa-masa sulit dulu. Bahwa pertolongan Allah akan selalu datang jika kita beriman, bukanlah suatu omongan belaka. Saya percaya itu karena mamah sudah membuktikannya.


10 Juli 2011

ponakan-ponakanku #2

lanjutan dari postingan yang dulu
dalam sebulan terakhir ini keluarga kami dapet dua jagoan laki-laki baru.
12 Juni 2011, Raiis Muhammad Syahdan, anak ke 3 dari kakak kedua.

11 Juli 2011, Mahathir Rama Abassy, anak ke 2 dari kakak ketiga.

Barakallah ya para bayi, semoga kalian jadi anak-anak yang sholeh, pemimpin yang amanah, ahli surga juga, berguna buat keluarga dan ummat. aamiin.

09 Februari 2011

tukeran adik

ninis (5 tahun) ponakan cewek pertama dari kaka kedua saya akan memiliki seorang adik di pertengahan tahun ini.
sabine (10 bulan) ponakan cewek kedua dari kaka ketiga juga akan memiliki seorang adik di pertengahan tahun ini.
berikut cerita antara kakak ketiga saya dengan ninis...

ninis : adiknya ninis laki laki tante...(setelah tau hasil USG ibunya)
kaka : hooooo,,,,kalo adiknya sabine perempuan, mau tukeran?
ninis : beneran tante? bener boleh dituker ????? ninis mah udah gak sayang lagi sama adiknya soalnya laki laki sih...

padahal waktu itu ninis baru aja mahir ngajarin sabine untuk sayang sama calon adeknya yang masih ada di dalam perut ibunya, sama halnya kaya ninis yang suka bilang "sayang" sama calon adiknya yang ada di dalem perut..(hadah ninis nince)

29 Januari 2011

doa ibu

tugas orang tua dalam mendidik anak masalah agama mah bakal terus jadi tanggung jawab sampai kapanpun
begitulah mamah pernah bilang. mamah yang ga pernah lupa mengingatkan kami untuk selalu ingat sama Allah. Ah rasanya selalu ingin ada di dekat beliau,

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

tadi saya sms an sama mamah, tanya kabar beliau, Alhamdulillah dalam keadaan sehat sehat sajah. kemudian dalam sms kami .....

mamah : DAH KLO PGN PUNYA ANAK BC SRT AL ANBIYA AYAT89
saya : iya mah, nuhun pisan. doa nabi zakaria ya.
mamah : YA DIDOAKEUN KU MMH SING SEHAT WAL AFIAT N BERHSL APA YG DI CITA2KN N DIRIDOI ALLAH

amin ya rabbal alamin,,,you are the best mom ever for me
thank you Allah

03 Januari 2011

karna kita perempuan

setiap merasa gelisah terhadap sesuatu, saya suka membaca quran, dan Subhanallah, ketika saya membaca terjemahan dari apa yang saya baca, arti dari ayat tersebut benar2 menenangkan dan terasa begitu pas dengan kondisi saya pada saat itu. dan kembali saya ber istigfar atas apa yang saya rasakan. begitu pula dengan pagi ini.

beberapa hari terakhir ini saya teringat ibu saya, tausiyah2 yang saya dengar pun banyak berkaitan dengan peran seorang perempuan; sebagai ibu, isteri, juga bagian dari masyarakat. trust me, peran ibu itu gada tandingannya, apalagi dalam mengurus anak. walaupun sekarang saya belum merasakan peran sebagai ibu itu, tapi saya kerap berpikir, akan menjadi orang tua macam apakah saya? sanggup gak saya memberikan bekal pada turunan saya kelak, sebagaimana yang dilakukan orang tua saya terhadap saya? saya pun sadar, ibu ayah adalah panutan, pondasi keimanan dalam keluarga agar si anak menjadi manusia Rahmatan lil alamin, menjadi rahmat bagi alam semesta. karna kita gak pernah tau apa di akhirat sana kita akan masuk pintu surga ataukah neraka, dan apakah kita akan bertemu orang tua kita, anak kita, dan orang yang kita sayangi saat ini di dunia, kita tak tahu..

maka untuk para wanita, calon isteri, calon ibu, mari isi hati kita, otak kita dengan perbanyak belajar dan belajar. belum terlambat. bismillahirrahmanirrahiim...

Al Ahqaaf : 15
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

14 Desember 2010

bermain dengan barang bekas

bulan maret 2010 lalu, ketika saya pulang ke indonesia saya bawain buku prakarya untuk ponakan saya ninis (5tahun) dan rasyad (6 tahun). buku tersebut berisi tentang membuat mainan dari bahan2 bekas seperti botol, spons, sikat, gelas kertas/plastik, piring plastik. sedotan, dll. setelah beberapa bulan saya kembali ke indonesia dan mengunjungi ponakan saya lagi, ternyata mereka telah mengumpulkan berbagai macam barang bekas, tapi mereka belum sempat untuk membuat satu karya pun (ini karna ibu mereka lagi mabok hamil lagi). karna kurang kerjaan juga, saya jadinya bantuin ninis buat salah satu prakarya tersebut. inilah salah satu hasilnya.


simpel tapi menarik juga..

23 November 2010

bunda mah enak banget!

suatu hari, saya, uki (kakak kedua), ninis (ponakan 5 tahun), dan mamah, sedang pergi menuju toko tas. di toko tas tersebut saya memilih dua tas untuk ibu mertua dan kaka ipar, sedang kakak saya memilih dua tas untuk dirinya dan kakak kami yang pertama. saat akan membayar keempat tas tersebut...

ninis: bun, itu untuk sapa aja tasnya?
uki : untuk bunda..
ninis : kok banyak amat
uki : iya ini untuk hari senin, ini untuk hari selasa, ini untuk hari rabu, ini untuk hari kamis,,(sambil menunjuk keempat tas tersebut satu2)
ninis : ihhhh,,,enak banget banyak,,,ih bunda mah enakk!!!!tas nya banyak....

(saya hanya bisa ketawa walaupun kalo baca tulisan diatas gakan keliatan dimana letak lucunya,,hahahahahaha)

suatu hari ketika sedang duduk di samping ninis yang sedang mengerjakan pr di dampingi ibunya. pr nya ninis lumayan banyak, karena sekolah libur 5 hari, kira2 ada 4 halaman banyaknya, sampai pada halaman kedua...

bunda uki : ayo nis terusin lagi, kan sedikit lagi...
ninis : aaaahhhhhhhh,,,,tapi susah.....
bunda : yaudah besok lagi ajah...
ninis : iiihhhhh,,,bunda mah enak ga pernah belajar

(dan saya hanya bisa ketawa cekakakkan,,,)

suatu sore ketika ninis sedang nangis mencari ibunya yang sedang di suruh ibu saya ambil daun salam ke tetangga. biasalah, ninis ini hobinya memang nangis, jadi sudah ga aneh dengernya.

ninis : bundaaaaaaaaaaaa..........
saya : gak ada bundanya de...
ninis : kemana?
saya : keluar lagi ambil daun, tadi disuruh enin minta ke tetangga, enin lagi masak...
ninis : pokonya mau sama bundaaaaaa..(teriak)!!!!!!!! bunda mah enak, kerjaannya ngambil daun terus.......

(saya hanya bisa tertawa kembali, mau kesel gara2 dia teriak pun jadi gak jadi deh)

06 Oktober 2010

sekolah alam

Bi wiwi adalah seorang kerabat mamah yang asalnya dari Banjar (Jawa Barat). Usianya sudah 50 lebih, dulu waktu saya SD beliau pernah tinggal bareng kami sekitar 2/3 tahunan, tapi kemudian beliau kembali lagi ke kampung halaman. Dan sekarang beliau ikut tinggal dan bantu2 mamah tinggal di bandung. Suatu siang ketika saya sedang makan siang.

Bi wiwi: neng indah, ari sekolah alam teh naon? Kapungkur teh mampir ke sekolah alam di daerah ciganjur, da teu aya bangku na sakola teh. Ngampar we kitu,,asa nanaonan. Bayarna ge da mahal, nu datang na ge teu aya nu ngangge motor, sadayana nganggo mobil. Eta teh serius kitu?

(neng indah, kalau sekolah alam itu apaan? Waktu itu pernah mampir ke sekolah alam di daerah ciganjut, ga ada bangku sekolahnya. Ngampar aja gitu, rasanaya apa-apaan. Bayarnya juga mahal, yang dateng gada yang naik motor, semuanya pake mobil, itu sekolah serius?)

Belum sempet jawab, dan bingung juga menjelaskan nya seperti apa, emang saya (adiknya mamah) yang sedang berada di situ pun langsung merespon.

Mang : ari bibi basa SD sok ulin di sawah teu? Sok ulin ka Gunung sangkur teu? Tah jiga kitu sakola alam. da urang mah baheula ge ulinna jiga kitu. Ari budak kota ayeuna mah teu nyaho ulin di sawah teh jiga naon, saung teh jiga naon, matakna sakola na di alam, meh deukeut jeung lingkungan.

(kalau bibi waktu SD suka main di sawah ga? Suka main ke Gunung Sangkur ga? Nah kaya gitu sekolah alam. Kalau kita kan dulu kan mainnya kaya gituan. Kalau anak kota jaman sekarang, gak tau main di sawah kaya gimana, saung kaya gimana, makanya sekolah nya di alam biar deket dengan lingkungan)

Entah mengerti atau tidak, dan bi wiwi pun bergumam kembali…

Bi wiwi: araraneh nya,,kamahal-mahal, eta teh ngejamin jadi sukses kitu…..?

(aneh-aneh aja ya, mahal..itu (sekola) ngejamin sukses gitu..??)

Dan saya hanya bisa tertawa kecil mendengar percakapan seperti itu.

12 September 2010

halal bihalal keluarga Fuchu-Koganei

di pagi hari ini saya sama aa janji untuk nonton recital piano nya azis dan eka (anak tetangga tea, anaknya teh dewi-pa ewin) pada jam 10 pagi, sebelum berangkat ke Fuchu. tapi karena keteledoran kami, kami pun terlambat dari waktu yang sudah disepakati dan akhirnya kami tidak masuk ke tempat nonton tersebut. akhirnya kami langsung deh meluncur ke kabupaten fuchu.

4 kali bukber, dan ditutup dengan halal bihalal,,intinya tetep pada makan2. teu ketang. tetap bersilaturahmi. hari ini bertempat d rumah mba Yahkuti. yang makanannya super mantep. sudah disiapkan sejak seminggu lalu (menurut pernyataan aseli suami mba yahkuti). banyak yang dateng, rame, dan pertemuan hari ini sekaligus acara perpisahan untuk uni Ipit dan uni Nyoman yang telah selesai studi s3 dan s2 nya. oiya saya juga kebagian kertas ucapan, kertas ini ditujukan buat warga FK yang akan pulang, tapi saya kok di kasih? saya kan pulang untuk kembali. tapi arigatou semuanya!! ^_^

suasana sehabis makan2 *hari ini ga banyak jepret jepret*

ini nih pesan dari warga FK, hihihihi,,tenkyuh

dedengkot keluarga FK : mba dina *yang curi start pas waktu makan*

15 Agustus 2010

buka puasa bareng keluarga Fuchu-Koganei

weekend pertama di bulan ramadhan, tepatnya tanggal 4 Ramadhan (140810). minggu ini di tempatnya mba dina. ricuh, karena orang yang dateng banyak, ruangan yang terbatas, dan semburan AC yang terbatas juga. mba dina nih emang jagonya masak, sop buntut nya sugoku oishikatta...Alhamdulillah masih bisa bersilaturahim dengan keluarga Fuchu-Koganei, semoga tidak terputus. Insya Allah.





08 April 2010

my great moment

udah 1 bulan lewat gak nulis, banyak hal yang bisa diceritain..
hehehehehehe

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar
sekarang saya udah resmi jadi isteri buat seorang Rangga Adiprima Sudisman
dengan proses begitu singkat, hanya kurun waktu 4 minggu, Allah ngasih saya petunjuk dan jalan sehingga saya diizinkan untuk mulai membina rumah tangga.

tanggal 21 Feb 2010, Aa (bgitu panggilan saya ke suami), ngadep ibu dan kakak2 saya di bogor. Lamaran diterima, dan semua persiapan pada hari itu juga dibicarakan, jatuhlah tanggal 20 Maret 2010 sebagai hari Ijab Qabul untuk kami berdua

tanggal 27 Feb 2010, pertemuan keluarga Aa dan keluarga saya di kediaman saya, tanpa dihadiri oleh saya. karena saya masih ada di jepang, dan di waktu itu saya malah sedang maen badminton sama temen temen di Fuchu

tanggal 7 Maret 2010, saya pulang ke Indonesia sampe jakarta tanggal 8 maret, dan seneng banget bisa ketemu mamah, langsung kupeluk lah beliau.

besok besok nya setelah tanggal 8 itu, langsung lah dikebut bikin baju pengantin, bikin cincin, suvenir, dsb

tanggal 14 Maret 2010, undangan baru sampai ke bandung. H-6 undangan baru sampe rumah dan tetep belum bisa disebarin karena ada kesalahan penulisan. maklum yang bikin undangan nya kebiasaan bikin undangan untuk warga sekampung eun, hehehehhe. jadi undangan sebanyak 500 lembar baru bisa di sebar keesokan harinya.

papanasan naek motor, huhujanan naek motor, tapi Alhamdulillah banget semuanya bisa terlaksana lancar

tanggal 20 Maret pun jadilah hari berbahagia kami :D


Barakallahulaka wa baraka `alaika wa jama`a bayinakuma fiikhair

dan di tanggal 1 April 2010 saya kembali ke Tokyo dengan membawa aa yang akan mulai S2 di Saitama University



24 Februari 2010

mengulang tahun

pagi ini saya bangun, ada telpon dari mamah dan beliau mengucapkan selamat ulang tahun
sejam kemuadian bel kamar saya bunyi, ada ria dan zak yang datang mengucapkan happy birthday dengan membawa sebuah bingkisan
dan siang ini saya bertemu ayu, dia bilang "tante indah selamat ulang taun" dan ngasih saya sekotak kado
malem ini saya ingin berbagi dengan teman2, saya bawa pizza dan saya ajak temen2 untuk makan bersama
saya kembali ke kamar dan terdapat 100 notifications lebih di fesbuk saya

terimakasih Allah,
terimakasih mamah
terimakasih temen2
semoga Allah selalu menyanyangi kalian semua

05 Januari 2010

kangen mamah

malem ini mungkin saya merasa terhibur, ada tv jepang yang acaranya aneh-aneh, walaupun ga ngerti mereka ngomongin apa tapi ngeliatnya aja saya udah cekakak cekikik. lagipula ada internet yang siap menemani 24 jam. kadang bosen juga sih ngadep depan komputer terus kalo dah malem teh. kangen ririd yang biasanya malem malem dateng ke kamar, curhat tentang temen2nya di kantor, dan saya yang cerita macem macem tentang temen lingkungan dan kejadian yang saya alamin.
malem ini di tempat lain yang waktunya lebih lambat 2 jam saja, mungkin ada seseorang yang sedang merasa kesepian. ya mamah. pas tadi chatting sama kaka, dia bilang habis nelpon mamah d bandung. katanya mamah sendirian, dan kakaku ngerasa sedih jadinya. kebayang mamah, katanya dia lagi dengerin ceramahnya Ust Dedi Rahman d radio. saya bisa bayangin kok. sambil tiduran d kursi oranye d tengah rumah, ada radio biru ukuran kecil yang letaknya di atas kepala mamah (kan posisinya tiduran). mungkin mamah ngederin radio sampe nanti dia ga sadar ketiduran d kursi dan pada akhirnya radio deh yang dengerin mamah tidur. ada sih yang kerja d rumah, cuma ya,,mungkin dia lebih seneng istirahat di kamarnya sendiri daripada nonton tv. mamah bilang : "biasanya ada yang ditungguin pulang"...hiks hiks hiks....ya mamah suka nunggu kita kita yang belum pulang d ruang tengah walaupun pas kita pulang dia udah tidur, tapi mamah gakan masuk kamar kalo kita belum pada pulang. bahkan kalo kita pulang lewat tengah malem sekalipun. padahal tidur di ruang tengah itu kan keras, dingin, bikin sakit badan, makanya juga mamah sering banget ngalamin hal yang sama kaya saya: masuk angin. tapi sekarang disaat ketiga kakakku sudah berkeluarga, dan saya lagi ada disini, untuk sementara malem ini gada yang beliau tunggu.
bahkan jaman jaman saya ngerjain tugas akhir, dimana pulang ke rumah langsung ngadep komputer, saya suka ngebiarin pintu kamar terbuka. soalnya kalo saya tutup saya ngerasa saya ngebiarin mamah sendirian. sekali saya intip keluar kamar, mamah masih nonton, saya intip lagi eehhh udah tidur ajah gituh. dan dia baru pindah ke kamar kalo saya bilang "mah udah malem, pindah ke kamar". sebelum saya ngerjain tugas akhir, saya juga sering diem d kamar, dan kaka saya diem di kamarnya juga. dan mamah suka tiba2 masuk dan bilang "heyyy,,ini teh meni pada sendiri sendiri ajah"....heeuuuuu....dan pernah sesaat sebelum saya berangkat ke jepang suatu malem mamah bilang gini "dulu mah, paling sieun kalo sampe sendiri teh, eh kealamin juga"....krik krik krik....
dan kalo kembali ke waktu kecil dulu,,kira kira jaman sd lah. ada satu yang saya inget. suatu siang saya tidur d sebuah sofa d rumah, setengah sadar saya denger mamah pulang dari kantornya. sebelum tidur saya ga pake selimut. eh pas bangun udah ada selimut, padahal kan itu cuma tidur siang. eh ada lagi deng,,,saya lupa sampe umur berapa saya tidur bareng mamah, sd tingkat tingkat awal lah (tingkaaatt...klas kali mba). tapi masih kerasa sampe sekarang. saya tidur dengan menghadap ke kanan. pake selimut cokelat loreng kesayangan. dan kalo malem malem, mamah suka tidur sambil meluk saya,,hihihihihi,,malu ceritanya, tapi itu sampe sekarang masih kerasa. atau ngebacain al quran kalo saya nangis, dan sampe akhirnya saya tertidur. serasa baru kemaren ngalamin hal itu.
hehehehe...ko tiba tiba keingetan yah, ini kaka sih nih gara2nya gara2 cerita d ym. yah maka mungkin rencana untuk lanjut s2 saya gakan langsung. paling cepet juga setahun setelah kepulangan saya. bukan karena saya takut, bukan saya ga mau menyia2kan kesempatan, walapun saya pernah di kasih sedikit candaan sama pembimbing saya -yang saya anggap itu ancaman- karena beliau bilang "kamu itu kalo pulang lagi ke indo setelah dari sana, artinya kamu gagal",,,gak peduli!!
saya belum pengen jauh dari mamah,,,hehehehe,,,,anak mamah banget yaahh....

18 Juni 2009

galau

kenapa terlihat rumit yah? mestinya bisa jadi mudah?
apa karena perbedaan generasi?
apa semuanya lagi pada sensitif?beda frekuensi...
tapi ini bukan yang pertama kalinya

lalu harus bagaimana?
kenapa sih mesti bicara dengan nada keras?
keras bukan berarti marah
tapi keras bisa aja menimbulkan marah

kita hanya tidak tahu bagaimana mesti bersikap
kapan kita harus tegas, dan kapan kita harus marah

yang aku rasa
keduanya (mereka) ga ada maksud buat saling menyinggung
tapi bahasa apa yang membuat kalian saling mengerti

aku belum tau

tempatku sekarang
hanya bisa mencari tempat aman dengan melarikan diri

18 Mei 2009

Keluarga Besar Konendar

sabtu, 16 mei 2009

untuk setelah sekian lama, saya absen dari acara-acara keluarga, akhirnya sabtu tanggal 16 mei 2009 kemaren, saya pun memutuskan untuk muncul di pertemuan keluarga besar tersebut. tepatnya di daerah manggarai jakarta. di rumah keluarga yang cukup luas, yang dulu menjadi tempat papah beserta adik kakak dan orang tuanya tinggal. bangunannya masih terlihat sama, yang berubah paling warna cat dan beberapa lantai yang berubah dari tehel menjadi keramik. dulu yang rumahnya ramai karena papah adalah anak ke 8 dari 11 bersaudara, sekarang hanya diisi oleh beberapa kepala saja. terlihat tua. baik bangunan maupun penghuni nya. tapi satu hal yang ga pernah berubah dari keluarga kami, walaupun umur semakin bertambah tua dan generasi terus bertambah , tapi acara meledek dan tertawa itu selalu saja ada dan menjadi pelepas kebekuan selama ini. yang tua selalu ngeledek yang muda, yang muda juga ga segen untuk ngeledek yang tua. tidak bermaksud melanggar etika kesopanan, tapi memang begitu cari kami mengakrabkan diri.

pertama dateng, saya kaget banget, soalnya banyak banget anak-anak kecil disana. ternyata semua nya adalah anak-anak dari kaka sepupu. maklumlah saya ini termasuk bontot di keluarga Konendar, kaka sepupu saya yang tertua bahkan sudah "berkepala 4". semua orang pada pangling pas saya dateng, menyadari karena waktu itu sangat cepet banget berlalu, ga kerasa. mereka semua hanya mengingat saya karna saya adalah "anaknya koko yang bayi", hahahahahaha.....koko adalah panggilan dari papah saya, Ratmoko Konendar. ya, mereka inget saya hanya pas ketika saya bayi, mereka sadar kalau sudah seumur sayalah mereka ditinggalkan oleh anggota keluarga mereka.

selain kaget karena melihat banyaknya anak kecil yang ada, saya juga berusaha nginget-nginget nama anak-anak itu dan menelusuri dari anak siapakan mereka berasal, heuheu.

sanak saudara pun berdatangan. adalah mas udin, kakak sepupu saya yang saya pun yakin dia gakan inget saya karena, di adalah anak ke dua dari kakak ketiga papah saya. sedangkan saya adalah anak kelima dari papah saya. terlalu besar gap usia diantara kami, terlalu banyak juga saudara-saudara yang lahir diantara kami. tapi dengan berkenalan lagi, ya kita jadi kenal lagih. dia bersama isterinya bernama mba tina, yang baru saya ketahui namanya setelah acara selesai (parah banget!!). perbincangan kami, saya dan mba tina, berawal dari basi-basi menanyakan kabar dan seputar kegiatan yang sedang kami lakoni masing-masing. saya sih bercerita standar tentang kuliah, rencana yang sedang ditunggu, dan bla bla bla. dan giliran mba tina bercerita,,,

dia dan suaminya merintis sebuah sekolah di malaysia, mereka mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak TKI yang bekerja di Malaysia. awalnya saya kaget, ko bisa-bisa nya bikin sekolah di negara orang. ternyata beliau bekerja sama dengen kedutaan besar indonesia di Malaysia untul membangun sekolah khusus anak-anak TKI (golongan menengah ke bawah). mereka berpikir dan setelah melakukan survey, ternyata anak-anak TKI tidak memiliki status pendidikan di negeri jiran sana. karena anak-anak tersebut lahir ketika mereka tidak memiliki izin kependudukan serta passport. dan kalaupun mereka harus kembali ke indonesia, mereka mau mulai darimana coba?akhirnya menurut saudaraku itu, dia dan teman-temannya berinisiatif mendirikan sekolah indonesia di malaysia, dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh departemen pendidikan indonesia (tentunya dengan menempuh jalan birokrasi dan urusan administrasi yang tidak bisa dibilang gampang).

apa yang menarik dari cerita tersebut?saya kagum sama saudara saya itu, apa yang jarang kepikiran sama orang kebanyakan tapi dia malah peduli sama hal itu. saya baru tau ternyata saya punya seorang saudara yang bisa saya jadiin tempat pembelajaran. saya ga akan tau itu kalo saya ga dateng ke acara keluarga itu.

we're just one big family


05 Maret 2009

mereka dataaaanggg...

fiuhh...bagi saya perjalanan pulang ke rumah di waktu mendekati magrib adalah perjalanan yang melelahkan, apalagi ditambah hujan. bayangkan sajah, naik anggkot dua kali, tiap angkot pasti ada acara ngetemnya minimal 10 menit. dan dikarenakan hujan,jalanan pun mendadak macet karena terganggu oleh air yang menggenang di jalan-jalan. begitu pun dengan daerah tempat saya tinggal. buah batu. padahal jarak dari jalan kliningan ke depan komplek rumah itu kira2 hanya 300 meter, tapi perjalanan tersebut memakan waktu 30 menit. OMG, lebih baik jalan saja!!! dari kampus energi tinggal energi sisa, ditambah lambung berontak kelaperan, belum lagi sakit perut akibat sindrom bulanan...arghhkkkhhh...terlintas di pikiran ingin hilang dari bumi ini.

dan sampai ke rumah....Jreng jreng....rasyad menjadi tiga!!!rasyad adalah keponakan saya dari kaka kedua, berumur tiga tahun, lagi 'bageur2' nya buat nendangin mukulin teriak teriak,,,satu orang rasyad dan satu orang adiknya sajah, kadang bikin saya ingin 'kabur' dari rumah kalau bener-bener lagi rungsing... ternyata, sekarang dua orang ponakanku dari kaka pertama yang dari lampung baru saja tiba, kedua bocah itu bernama abi berumur 6 tahun dan ais berumur 3 tahun. tapi keduanya terlihat seumuran semua, karena kakaknya berbadan mungil. jadilah 3 orang bocah-bocah itu berkumpul....fiuhhhh....
dateng ke rumah, langsung d sambut sama teriakan teriakan "waaahh...tante indah, ayo kita pukul dia..!!!!!" beuhhhhhhh....disaat yang tidak tepat, pikirku dalam hati....ku respon mereka dengan seadanya, karena kondisi energiku yang hampir habis. masuk ke dalam rumh, kondisi nya bener-bener kaya abis perang, mainan-mainan dikeluarin, para bocah malah bermain pukul-pukulan,,,,tiba-tiba si abi berkata 'tante indah, kamarnya aku berantakin'...waaaaaaaa.....tidaaakkkkk....sudah terbayang olehku apa yang dilakukan mereka di kamarku....loncat-loncat di tempat tidur, membuka selimut yang terrlipat rapi, mengacak-ngacak hiasan-hiasan d kamar...dan ternyata bayanganku itu bukan hanya bayangan, itu adalah sebuah kenyataan ditambah dengan jejak jejak karbon yang mengotori lantai.. hufffff.....habislah energi ku hari itu.

selamat datang anak-anak!!!