20 April 2013

Assembly Ellipse

Setelah beberapa pekan, rasanya baru kali inilagi menikmati hari sabtu tanpa mau mikir macem-macem. Walaupun sekarang saat saya menulis ini saya ada di kantor nya si Bos yang lagi lemburan. Baik di rumah maupun di kantor bos bisa sama-sama nge-net, tapi aye milih di kantor, biar ada temennya. wakakakakakk..

Seminggu lalu saya sempat disibukkan dan dipusingkan sama salah satu kegiatan sekolah yang punya nama "Assembly". Assemblai ini kegiatan untuk setiap kelas, dimana setiap kelas mesti menunjukkan kemampuan dalam bermain peran. Nah pertunjukkan nya bukan semata-mata menampilkan kisah romantika kehidupan siswa anak SMP, sebenernya sekolah membuat kegiatan ini tidaklah lain untuk membantu anak-anak memahami materi-materi pembelajaran yang sedang mereka pelajari. Karena setiap anak diyakini punya kemampuan cara belajar yang berbeda, maka sekolah pun yakin pasti diantara sekian anak di sekolah itu ada yang baru bisa mengerti jika dia sudah bermain peran :). Dan ternyata memang ada!! Ditambah lagi, setiap pertunjukkan assembly ini mesti mengaitkan apa yang disampaikan melalui drama dengan sumber hukumnya orang islam: Quran dan Hadits. Eh salah deng,,,mestinya berangkat dari sumber hukum dulu, lalu ke materi belajar, lalu ke drama.

Oke, ini adalah assemblai kedua yang saya pegang (saya ini asisten wali kelas 7). Waktu di semester pertama, saya mengangkat teman Bullying, karena pada saat itu ada topik bullying diantara murid di kelas saya. Saya dan partner meminta izin ke sekolah buat melenceng dari konten materi belajar, karena kami pikir saat itu adalah waktu yang tepat untuk "menegur" anak-anak dengan cara halus, dan saat itu juga sehabis UTS jadi gapapa lah kalo topiknya bukan materi belajar. Saat itu bisa dibilang assembly nya kurang memuaskan buat saya pribadi, karena perdana buat saya, naskah tidak mangstab, audio yang minim, dan saya lupa apalagi. Yang saya paling inget adalah, pertunjukkan saat itu berlangsung sangat-sangat-sangatlah cepat saking kurang mantap persiapan. Tapi untuk assemblayberikutnya, saya memutuskan untuk membuat yang lebih baik.

 Saya awalnya ga mau kalo cuma tim wali kelas yang bingung sendiri mikirin assembly ini, jadi tema dan naskah kami serahkan pada anak-anak. Tapi apaboleh dikata, ya,,,namanya juga anak ABG, kalau baca cerita, kalau nonton cerita, pengennya yang berbau bau pertemanan atau tokoh idola. Saya lupa memberitahu kalau asal muasal Assembly ini dibikin untuk mempermudah mereka dalam menyerap materi belajar. Ditambah lagi, assembly dua kelas sebelumnya mengangkat topik yang berhubungan dengan dua tema itu, jadi anak kelas saya mikir sepertinya tidak akan apa-apa kalau mereka mengangkat topik yang sama. Pas tau cerita yang dibikin anak-anak seperti itu, saya langsung potong, menjelaskan kembali latar belakang assembly, kemudia mengungkapkan ide yang sudah saya punya. Dan mereka mengerti dan kemudian mengembangkan ide cerita saya itu.

Alhasil benar saja, salah seorang anak langsung membuat poster yang berkaitan dengan judul pertunjukkan, mengedit disana sini. sebagian sudah ada yang brainstorming ke saya tentang apa yang akan dia lakukan, sebagian membuat naskahnya sendiri, sebagian memikirkan gaya apa yang harus dia lakukan saat sedang on action. Ide nya sederhana, tentang suatu negeri yang sudah kacau balau lalu sang raja menginginkan perubahan negeri ny itu melalui pendidikan. Akhirnya sang raja membuat kompetisi untuk mencari para ahli ilmu. Dan drama yang disajikan berisi tentang kompetisi itu. Hehehhehehe...

Kita semua kerja keras, membuat lagu, memilih lagu, mengedit lagu, membuat naskah, membuat properti, melatih kekompakkan, dan untuk pemilihan pemain saya pikir sudah cocok dengan anak-anak. Mengingat dulu di assembly pertama, saya masih belum liat karakter anak anak di kelas, jadi masih ada ketidaktepatan peran. Kalau ditanya bagaimana saat persiapan, fiuuhhh,,,saya sempet esmosi beberapa kali, heseeeeeee pisan membuat mood anak-anak tetep ok. Pas disuruh ini itu juara lembamnya. Namun, emosi buruk saya berubah di hari pertunjukkan. Ketika hari pertunjukkan, Alhamdulillah, respon positif dari semua yang nonton. Mungkin karena agak beda dengan assembly sebelumnya makanya ada nilai lebih di assembly kami (iya kita niat bikin poster dan software pendukung soalnya). Dari awal penonton yang terdiiri dari orang tua siswa,siswa lain, dan guru-guru dibikin ketawa-ketawa sama arktor dari kelas kami. dan sampe akhir pun semua masih ketawa-ketawa. Saya yang ada di belakang panggung sampe nangis, nangis karena anak-anak itu ternyata memang mampu untuk memberikan yang terbaik. Mereka lebih keluar ketika mereka dihadapkan pada banyak orang, kepercyaan diri mereka muncul ketika mereka diapresiasi. Ya, that is another point.