20 September 2016

Skenario


“Tante indah mah palsu nikahnya, buktinya belum punya anak”

Sekitar 5 tahun lalu, keponakan saya bilang begitu. Sampai hari ini pun, keponakan saya yang lain menyatakan hal yang sama namun dengan kalimat yang berbeda.

Saya cuma bisa senyum, tertawa dalam arti sesungguhnya tertawa. Lucu sekali anak-anak itu, polos tanpa perlu berpikir efek apa yang akan timbul kalau mereka memang menyatakan hal itu pada orang yang lebih sensitive daripada saya.

Tepatnya 6 tahun 6 bulan sejak hari itu, Alhamdulillah sampai hari ini Allah masih sayang sama saya dengan belum memberikan salah satu rezekinya: memberikan keturunan. Dari satu ujian yang Allah kasih ke kami, ternyata terlalu banyak hikmah dan nikmat yang baru kami sadari akibat ujian itu. Dari satu jari yang diperuntukan untuk ujian itu, ternyata masih perlu berpuluh-puluh jari untuk menghitung apa yang sudah Allah kasih ke kami.

Saya jadi teringat tentang seorang kawan muslimah sekitar 2,5 tahun silam. Kami sedang hadir di dalam suatu majelis di sebuah masjid, teteh yang punya logat khas sunda itu tampak selalu sigap mengejar anak balitanya yang berbadan cukup kuat, dan memiliki syndrome down. Saya hanya bisa memperhatikan teteh itu dari kejauhan, namun ketika teteh itu mendekat saya bilang “Masya Allah Teh, hebat ya!”. Dia dengan cerianya merespon, “Alhamdulillah kalau bukan saya mungkin gakan bisa”. Maksudnya ialah hanya dia yang bisa setegar itu menghadapi anaknya, maksudnya yang lain adalah “Allah tidak akan membebani seseorang diluar kemampuannya”.

Rezeki dan ujian tidak akan pernah salah sasaran. Kita hanya ga pernah tau level mana yang ditargetkan pada kita agar kita bisa mencapai level itu.

Ada lagi salah seorang yang begitu berpengaruh dalam hidup saya. Seorang guru, yang kisah penantian keturunannya begitu menyemangati, yang kisah perjuangan dengan ujian sakitnya nya membuat hati terenyuh, yang semangat dakwah nya membuat diri ini terhanyut, yang selalu mengajarkan ilmu lewat perbuatannya. Apa yang dia yakini sudah sangat jelas terpancar dari akhlaknya sehari-hari. Sungguh rezeki dari Allah yang luar biasa bagi saya bisa didekatkan dengannya. Seolah Allah mempersiapkan saya untuk menghadapi ketidakjelasan apa yang akan saya hadapi di kemudian hari dengan penuh rasa percaya dan rasa harap yang utuh terhadapNya.
--

Pasca belum berhasilnya IVF yang pertama, kami seperti tertampar. Bukan karena sedihnya belum berhasil , namun karena betapa lemahnya manusia dan betapa Maha Besarnya Sang Khalik. Secanggih apapun teknologi manusia, teknologi dari Pencipta Manusia beribu-ribu kali lipat lebih canggih.


Kami bersyukur, kami sudah diberi kesempatan untuk mencoba hal ini. Suatu hal yang tidak pernah ada dalam bayangan kami sebelumnya. Kami bersyukur atas seluruh keluarga yang selalu mendukung dan mendoakan. Kami bersyukur atas lingkungan yang dikasih ke kami, lingkungan dengan manusia-manusia shalih yang selalu mengingatkan kami. kami bersyukur atas skenario yang indah dan sempurna ini. Alhamdulillah :).

sugi no koto mo otanoshimi shiteimasu. 

Kota Saitama, September 2016




29 Juni 2016

Awal cerita

Satu Ramadhan hampir berlalu.
Benarlah ketika Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Berkah yang terus-menerus bersambung hingga Ramadhan berikutnya. Sebuah harapan.

Saya ingat, akhir Ramadhan tahun lalu saya ditelpon sama kepala sekolah dari Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Dari awal komunikasi itulah, selama 11 bulan sejak itu saya menjadi bagian dari SRIT. Saya kasih bocoran, menjadi bagian dari SRIT itu ada dalam salah satu daftar yang ingin saya lakukan di Jepang. Alhamdulillah Allah kasih izin, tidak hanya menjadi bagiannya, tapi Allah juga mempertemukan saya dengan keluarga baru, dengan teman baru, dengan guru baru. 

Saya belum sempat cerita panjang lebar tentang pengalaman saya di SRIT yang hanya seumur jagung muda. Tentang senangnya, tentang sedihnya, tentang tawanya, tentang nangisnya, tentang bangganya. Tentang semua pelajaran yang saya dapat disana. Tentang apa yang saya baru tau dari diri saya. 

Alhamdulillah



11 September 2015

Menjadi seorang pembelajar lagi

Bismillahirrahmaanirrahiim

Tidak pernah terlintas di benak saya waktu saya masih pakai seragam putih abu tentang masa depan untuk berdiri di dekat papan tulis, mendengar celoteh keluhan, tawa, sindiran, atau menikmati pemandangan resah murid murid yang sedang mengerjakan soal, wajah tegang yang takut namanya disebut, sikap selow siswa yang lebih memilih memandangi pohon pohon diluar, keseriusan karena takut dengan orang tua, bahkan wajah yang terus menerus tersenyum karena tidak tahu harus berbuat apa terhadap berderet angka atau kalimat yang dia dengar.

Dikelas, seorang siswa bilang "saya tuh bingung, manggil kaka atau Ibu". Kesimpulan saya berarti efek terlihat muda itu hanya satu kuncinya : gapake make up. Atau seorang wali siswa yang bilang,"Dek, adek di kelas berapa?" Hanya karena saya pakai baju yang mirip seragam siswa. Ya bodi mah gausah dibilangin lah ya. Kan saya termasuk anak masa kini yang kebutuhan gizinya Alhamdulillah mencukupi sehingga bisa bersaing sama anak-anak era One Direction ini.

Sebulan diamanahi mengajar di Sekolah Republik Indonesia Tokyo, 35 jam seminggu. Alhamdulillah, nikmat lain yang Allah SWT kasih ke saya hingga saya bisa menikmati ganasnya wanita karir Jepang ketika rush hour, nano nano nya bau pengguna Yamanote line di pagi hari dan nikmat yang membuat saya tersadar bahwa untuk naik Yamanote line itu kita harus punya ilmu dasar pencak silat. Posisi kuda kuda saat masuk ke dalam kereta itu menentukan seberapa energi yang akan kita berikan untuk mendorong penumpang ke dalam kereta lebih dalam. Tentunya harus dilakukan dengan wajah tanpa dosa. 

Turun dari kereta pun masih harus berjalan menyusuri lembah Meguro yang diiringi pemandangan macam macam: si teteh anu dan si aa anu yang selalu ketemu di jam yang sama, si bapa anu yang setelan jas tapi bonceng dua anaknya ke tempat penitipan, si nini anu yang teriak teriak buat ngurus antrian masuk bis, dan semua rutinitas yang hampir konsisten setiap harinya. Hingga kekonsistenan saya selama sebulan ini menghasilkan bertambah kencangnya otot betis dan otot perut sebelum makan gorengan. 

Pengalaman belajar bersama anak yang lebih muda selama sebulan ini, Alhamdulillah saya nikmati. Saya masih meraba-raba juga pola yang enak seperti apa. Di hari pertama, grogi tingkat menara Tokyo Sky Tree. Hari kedua, entahlah sudah lupa, cuma yang jelas level grogi semakin menurun, level muka serius makin terlihat, level gempor kaki tingkat maksimal, level bercanda sudah bisa kelihatan namun hanya sampai level 5 saja, karena kalau sampai level 15 takut bersaing dengan kerupuk Mak Icih. 

"Ih, si Bu Indah, matanya itu looh!", celetuk seorang manusia dewasa muda yang setia dengan celana ketat dan jaket jins nya. Atau, "Bu, besok mau ada badai jadi katanya gada ulangan Ibu", teriak lagi anak yang ngakunya suka melakukan sikap lilin selama 30 menit tapi sungguh diragukan karena lingkar perutnya tidak menggambarkan keadaan seharusnya. "Silahkan Ibu lewat duluan, saya bawaannya deg deg an kalau sebelah ibu", kata seorang anak yang ga mungkin ga deg deg an kalaupun saya gada. "Adinda adinda, ini harus bagaimana?", tanya seorang siswa yang sedang ngerjain soal dan minta di teke teu eureun eureun tapi saya urungkan karena selain dia bukan muhrim, juga takut saya jadi pembahasan di rapat komite sekolah, dan akhirnya saya semprot dengan ceramah ala mamah dedeh.

Hehehe, jadi pengen ketawa sendiri. Apalagi membayangkan betapa engga nya diriku selama masa SMA dulu. 

Sekarang, visi dan misi itu di kuatkan dalam hati dan berusaha ditunjukkan lewat perbuatan. Menjadi siapapun, haruslah bisa menjadi contoh. Sungguh saya sadari, buat saya menjadi guru itu sungguh berat sekali. Pelajaran mental dan sikap yang harus disampaikan sungguh pelajaran yang lebih berat dari pelajaran apapun. Reward nya pun bukan semata-mata dereta angka di kertas, tapi reward dari Allah SWT, amal jariyah, yang jika seseorang bisa berubah menjadi baik karena perilaku kita maka kebaikan orang tersebut akan mengalir pada kita. Sungguh berat, ketika orang tua bilang "Soalnya omongan guru lebih didengar dari omongan kita", sungguh berat karena kita pun manusia yang punya kelalaian dan kesalahan. 

Jadi guru harus mau belajar. Belajar memperbaiki diri, belajar tentang perkembangan zaman, belajar mendengarkan, belajar saling menyayangi, dan tetiba daftar mata pelajaran seorang guru lebih banyak dibandingkan siswanya.

Ya Allah SWT semoga ridho Mu senantiasa bersama kami. 

28 Mei 2015

Cerita penghujung Mei

Hari Kamis, adalah jadwal saya ikut kelas bahasa Jepang bareng para voluntir. Namun usai kelas hari ini, rasanya beda sekali. Saat keluar gedung, untuk pertama kalinya (setelah sekian lama ga ngerasain) saya ngerasain perasaan kesepian. Yes, kesepian yang hanya berteman dengan langit mendung dan angin hangat. Karena perasaan itu muncul begitu saja, hampir saja saya pulang jalan kaki dengan mendorong sepeda. Tapi ga jadi juga sih, karena ternyata perut terlalu lapar untuk menunggu berjalan lama sampai ke rumah.

Jadi kenapa saya merasa begitu sepi?
Mari kita loncat ke beberapa bulan lalu tepatnya bulan Februari.
Di bulan Februari taun ini, di kampus suami saya kedatangan mahasiswa exchange dari Malaysia yang berkewarganegaraan Indonesia. Mahasiswa itu datang bersama isterinya, dan kabar itu jadi kabar angin segar buat saya yang selama ini cuman punya dua tetangga yang punya kesibukannya masing-masing.

Yang membuat kedatangan orang baru ini menjadi lebih spesial, terutama isterinya yang bernama Vivi,  adalah karena umur kita ga berjauhan, cuman beda 5 bulan aja, sama-sama tinggal di Bandung, ya walaupun dia mah ada di Bandung luaran dikit (Padalarang masuknya kabupaten Bandung ya?), maka saya merasa menemukan teman sepermainan. Apalagi ketika pertama kalinya dia main ke tempat saya, dia langsung liat mesin jahit yang saya punya, dan dia langsung cerita kalau dia pun punya hobi yang sama. Klop banget! maka sejak hari itu, ketika siang hari, disaat para suami kita berjibaku di suatu tempat yang bernama lab, kami berdua dengan riangnya menggowes sepeda ke mall terdekat untuk sekedar jalan-jalan, atau jalan-jalan ke tempat kain di Nippori, atau nyoba makan di restoran halal di Tokyo sana.

 Kadang saya mampir ke rumahnya, tapi lebih sering dia yang maen ke tempat saya. Kenapa? karena di tempat saya ada mesin jahit, Jadi kita suka ngerjain projek jaitan bareng-bareng.
Awalnya dia cerita kalau selama ini dia hanya menjahit pakaian saja, ga pernah terlintas di pikirannya untuk menjahit selain pakaian, sehingga sisa bahan pakaian yang masih cukup banyak kadang dibuang begitu saja. Beda dengan saya, saya bisa dibilang ga begitu suka jait baju. Saya lebih suka bikin barang. Alasannya sederhana aja : biar cepet jadi. Hehehehe. Jadi pas dia tau kalau saya jait barang semacam tas, dompet, dan lain-lain, dia mulai mencoba bikin sesuatu dari sisa kain yang saya punya. Yeah, emang pada dasarnya dia juga udah jago jait, jadi ngejait yang kaya suka buat mah ga jadi masalah, Malah dia pun jatuh cinta,

Pendek cerita, dia hanya akan ada di Jepang tiga bulan saja, yang berarti bulan April dia sudah harus kembali ke Indonesia. Disitu saya belum merasa gimana-gimana

Nah beririsan dengan itu, pada awal April, Alhamdulillah mamah saya dan adik ipar bisa dateng ke Jepang. Aduuhhh,,bahagia rasanya. Sampe sekarang masih inget ekspresi muka mamah pas ketemu saya di bandara, ceureumbay. Hehehe. Katanya ga nyangka bisa juga sampe Jepang. Pun buat adik ipar saya, yang untuk pertama kalinya pergi ke luar negeri. Sengaja saya set untuk mereka bisa datang bulan April, karena waktu-waktu itu adalah waktu yang tepat untuk liat bunga bermekaran.

Di bulan April, saya merasa banyak teman. Ada mamah, ada Nda (adik ipar), ada Vivi, ada hal-hal yang  biasanya saya lakukan sendiri, kali ini bisa dilakukan bersama-sama. Kami pergi hanami an (melihat bunga sakura), maen ke Tokyo Tower, bahkan hanya sekedar minum kopi  dan makan seblak pun kalau dilakukan bareng orang lain, rasanya jadi beda ya.

Namun di akhir April, Vivi harus pulang. Saya masih belum ngerasa kesepian, karena ada mamah dan Nda. Sisa waktu bersama mamah dan Nda banyak saya habiskan di rumah. Kalau di akhir pekan, biasanya kami pergi ke tempat-tempat wisata. Pengalaman paling heboh itu mungkin ketika golden week yang biasa orang Jepang pakai untuk liburan. Menjadi seru karena saya keukeuh untuk memaksakan agenda melihat bunga Shibazakura di daerah gunung Fuji di waktu Golden week itu. Padahah udah banyak yang bilang jangan pergi ke sana pas musim liburan, dijamin padet. Benar saja saudara-saudara,, ternyata kami harus menempuh perjalanan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya saya merasakan macet di Jepang, perjalanan pake bis yang biasanya cuman 30 menit, kali itu menjadi tiga jam. Sungguh melelahkan. Tapi karena dijalankannya bareng sama orang-orang yang disayang, jadinya perjalanan melelahkan pun tetap menyenangkan.

Sekitar 7 minggu mamah dan Nda ada di tempat saya. Karena 7 minggu itu pula, membuat saya mengunduh aplikasi Mivo TV dan menonton acara-acara kesukaan mamah, seperti acaranya Mamah Dedeh, sinetron Preman Pensiun yang ternyata bodor abis, film korea yang sudah jutaan kali diputar di tv Indonesia. Hampir setiap harinya berlalu terlalu cepat, sampai akhirnya tiba mamah sama nda harus pulang lagi ke Indonesia. 

Yes, tanggal 25 Mei kemarin, saya anter mamah ke bandara. Rasanya pengen banget ngeberentin waktu. Ga banyak keluar ucapan dari saya untuk mamah ketika di perjalanan kereta menuju bandara, kami terlalu ngantuk untuk ga tidur di kereta, hehehe. Walau pada akhirnya saya cuma nanya "gimana mah, seneng?" , "maaf ya ga bisa ngasih lebih", dan beliau  tersenyum, seolah olah bilang "this is more than enough". Ketika pisahan di bandara pun, rasanya ingin banget meluk, tapi pada dasarnya badan saya tinggi, jadi momen buat adegan pelukan itu berubah jadi adegan merangkul, hadah. 

Akhir cerita, di hari setelah anter mamah ke bandara, disitu pula saya merasa mulai sedih (kekinian banget sih). Apalagi pas sampe rumah yang masih banyak barang bekas mamah sama Nda. Hiks hiks, untuk pertama kalinya lagi, diriku ceureumbay karena ngerasa sepi. Seperti jaman waktu kecil, yang ditinggal pulang sama sepupu sepupu yang habis seharian maen di rumah, kembali sepi.

Ya begitulah kira-kira ceritanya, kenapa beberapa hari ini saya begitu mendung meski cuaca diluar udah mulai panas menyengat. 

Semoga bisa selalu dipertemukan kembali dengan orang-orang yang disayangi.
Semoga selalu dikumpulkan dan didekatkan dengan orang-orang yang shalih.
Dan pastinya semoga selalu bisa dekat dengan Allah SWT Sang Pemilik dan Pengatur Rasa, agar perhatian ini tak pernah tersandung untuk hal-hal yang merugikan. 





19 Maret 2015

5 taunan

Suatu hari kamu nanya, "hari ini mau bikin apa Neng?"
Lalu saya jawab, "mau bikin tas sekolah buat anaknya Mba E yang mau masuk TK"
"Loh Mba E kan baru nikah kemarin kemarin deketan sama kita, kok anaknya udah masuk TK lagi?!", dia merespon.
Saya ketawa sambil bilang, "hahahaha, ya iya atuh, da kita teh udah 5 taun lalu nikah. Yang udah pada punya anak ya udah usia TK anaknya".

Lalu kami ketawa-ketawa berdua.

Untuk semua tawa dan tangis
Untuk semua canda dan amarah
Untuk semua kritikan dan dorongan
Untuk semua kesabaran dan doa
Untuk semua syukur dan harapan
Untuk semua teguran dan semangat
Untuk semua diskusi dan obrolan panjang
Untuk semua kekonyolan dan keseriusan
Untuk seluruh raga dan jiwa
Untuk semuanya.....

Alhamdulillah 'ala kulli hal
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan

Seperti yang pernah kamu bilang diawal kita bersama, "kalau ada masalah, inget tujuan kita adalah surga", maka itu adalah pengingat yang indah. 

Semoga Allah SWT terus membingkai keluarga kita dalam sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin










09 Februari 2015

Disayang Allah SWT

Siapa sih yang gak kenal artis Laudia Cynthya Bella, artis yang baru baru ini menyatakan hijrahnya untuk memakai hijab. Alhamdulillah, semakin banyak figur publik yang mau menjalankan ajaran agamanya. Si teman SD saya itu (iya pernah satu SD 6 tahun, tanggal lahir sama, ngan beda jalan hidup we *ga penting* ), dalam suatu wawancara menjelaskan alasan dia mengambil keputusan seperti itu, 

"Allah SWT itu udah baik sama aku, aku punya list kepengen ini itu, Allah kasih, jadi aku ngerasa aku tuh disayaaaaaanh banget"

Begitu katanya. 

Lalu di tahun 2015 ini, saya, saya masih disini aja. Ketika ditanya keinginan yang saya pengen, just a simple words came out : "saya mau jadi orang yang lurus". Seperti biasa, kalimat yang saya ucapkan ini terlalu normatif, dan sulit dijabarkan dengan turunan yang sifatnya deskriptif. 

Lalu, saya coba mencari celah bahkan jalan untuk bisa menjadi orang yang lurus, walau pada akhirnya semua diserahkan lagi pada Yang Maha Berkehendak. Banyak poin yang sudah tercatat di pikiran, karena Allah lah, sebagian ada yang sudah dijalankan, tinggal menjadikannya tetap konsisten. Ada poin yang masih ingin dilakukan nanti ketika sekembalinya ke Indonesia. Walau entah bakal keumuran atau engga itu juga. Tapi Allah SWT mungkin pengennya kasih sekarang, kasih kesempatan sekarang, ga nunggu nanti. Walau rasanya diri ini belum pede tingkat dewa. Tapi ya Bismillah, mari kita coba. 

Lalu, benar apa yang Bela sampaikan. Allah SWT itu udah sayaaaaaang banget sama kita. Satu satu apa yang kita inginkan, kita usahakan, kita panjatkan doa, kita gantungkan diri ini hanya pada Nya, dan let Allah SWT decides the rest. 

Lalu kenapa harus bersedih hati dan kecewa atas satu doa yang belum diberi, sedangkan kenikmatan lain begitu banyak diterima? 


Alhamdulillah  Alhamdulillah