16 Juni 2014
Kok Bisa?
07 Mei 2014
Keep Calm and Enjoy
28 Februari 2013
Dont be sad
Suatu hari saya lelah dan merasa sedih, namun saya kembali disemangati ketika saya berpegang padanya. Ya Allah SWT, terimakasih :)
QS.3:139
26 Oktober 2011
klasifikasi rumah sakit
Jadi sempet nyeletuk, "kalo di Jepang mungkin rumah sakit dibagi berdasarkan tingkat keparahan si penyakit, tapi kalo di negeri impian sana, rumah sakit diklasifikasi berdasarkan kemampuan ekonomi pasien", hehehehe.. Stop membandingkan! Tapi ini hanya mengungkapkan fakta kok :)
19 Oktober 2011
sakit dengan senyum
kapok. iya kapok. karena ternyata pas saya tidak berdaya, banyak hak hak sang su yang tidak bisa dipenuhi. tidak bisa membuatkan makanan enak, ga bisa mempersiapkan bento, cucian baju numpuk, ga bisa pasang tampang manis, mau senyum aja susah, banyak minta dibeliin ini dan itu. ga enak ga enak! beneran deh!
tapi, kekuatan keyakinan itu pasti ada, keyakinan terhadap Allah SWT yang akan menyembuhkan. keyakinan bahwa dibalik sakit yang dirasakan, ada dosa-dosa yang tergugurkan. Insya Allah.
:)
09 September 2011
ambisi
Ambisi menurut KBBI :
am·bi·si n keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;
tapi kok bau-bau nya pengertian negatif ya? Mungkin karna arti dalam kurungnya itu nafsu ya.
Sebenernya hanya perasaan dik indah saja yang mengatakan bahwa ambisi itu lebih condong ke arah negatif. Padahal kan pengertian secara utuhnya itu jelas bertujuan positif.
Kata Ambisi ini tiba-tiba ngetok pikiran saya, tiba-tiba melesat di pikiran saya ketika saya sedang diam diantara orang2 yang sedang berbicara mengenai masa depan, kerjaan, keluarga, pendidikan anak, biaya hidup, dll. Ibarat lagi nunggu mau nyebrang di pinggir zabra cross ketika lampu di jalan sedang hijau, saya ngelamun dan tiba2 ada mobil yang melesat dengan kencang dan membuat kerudung saya tersibak angin, begitulah kata ambisi itu muncul. Membangunkan saya dari sebuah ketidaksadaran(?).
Mendengar rekan2 berkisah tentang kalau kerja mesti begini, uang yang didapat minimal segini, karena anak2 kan butuh fasilitas yang begini yang begitu, biar kualitas tetap terjaga maka harus disokong dari sana sini. Belum lagi untuk biaya hidup sehari-hari, inflasi kian meninggi, deelel..huwaaaaa..
sedangkan dalam otak saya hanya berpikir agar hidup tenang, damai, nyaman, sentosa, bahagia lahir batin, tentunya dengan melakukan kegiatan2 (atau kerjaan?) yang sudah saya impikan.Tanpa (atau belum) memikirkan hal-hal sampingan yang pada akhirnya untuk itulah kenapa saya harus bekerja (baca: berkegiatan). Saya kemudian jadi bertanya, apa saya kurang berambisi? Apa saya kurang berambisi? Apa salah ga punya ambisi? Tanya saya sekali lagi pada diri ini. Hal yang sama juga saya tanyakan pada si pacar. Jawabannya, “Engga harus kok. Jangan terlalu berambisi juga. Rencana memang harus ada, sudah mesti dipikirkan apa saja yang akan dijalani kedepan. Tapi jangan terlalu keras juga. Semuanya mesti dikondisikan dengan lingkungan sekitar. Dengan kemampuan finansial yang dipunya, dengan kemampuan fisik yang dimiliki, dengan standar hidup orang kebanyakan, dengan segala fasilitas yang ada di tempat kita menginjakkan kaki ini”. Wuhuuuyyyyy cukup menenangkan, tentunya tidak hanya dengan kalimat2 pendek itu aja, perbincangan terus dilanjutkan selama berjam-jam (yang bikin saya heuay wae).
Biarlah hati tetap meminta dan berdoa. Otak serta bekerja, raga yang bertindak. Tangan ini akan tetap memegang mimpi, tidak terlalu kuat juga tidak terlalu lemah.
06 September 2011
Yosh! Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan dan perubahan!
apa yang saya tulis disini adalah apa yang menurut saya benar, jadi silahkan kalo berbeda pikiran. dan saya juga bukan orang yang sempurna dan udah bener-bener melakukan hal diatas itu.
Semoga Allah senantiasa bersama-sama dengan kita semua. Aamiin.
11 Agustus 2011
materi
Sangat jelas Allah menguji beliau dengan nikmatnya harta yang sekonyong-konyong dia dapatkan, padahal sebelumnya maut sudah didepan mata. Saya beneran ga bermaksud membuka aib seseorang, namun hal itu bisa menjadi pelajaran buat kita semua yang melihatnya. Materi adalah sebuah ujian duniawi. Saya jadi takut banget. Makanya kita mah cuma bisa berdoa semoga kita selalu berada di jalan yang diridhoi Allah. Harta yang didapat, saya mah selalu ingin harta yang penuh berkah. Dikasih banyak Alhamdulillah. Selalu ingat kalau masih ada yang lebih berharga dari sekedar harta dunia. Selalu ingat kalau maut bisa saja tiba-tiba datang. Memang sebaik-baiknya harta itu dipegang oleh orang yang shaleh. Wallahualam
10 Juli 2011
pesan yang dikirim
sewaktu udah lulus ditanya "kapan kerja?"
kalau masih single ditanya "kapan nikah?"
sudah nikah ditanya "kapan mau punya anak?"
sudah hamil dan punya anak satu ditanya "kapan mau kasih adek lagi?"
sudah seperti itu, akan ada pertanyaan pertanyaan berikutnya yang jadi buntut untuk setiap kejadian.
saya sih selalu percaya, bahwa disetiap rencana Allah SWT itu pasti ada hikmahnya.
setahun tiga bulan nikah sama aa, belum juga ada tanda kehamilan. no problemo sih bagi saya, mungkin memang belum saatnya. kita masih berpikir positif sama Allah SWT, mungkin harus ada yang kami lakukan/pelajari/selesaikan dulu sebelum mendapat amanah anak itu. memang benar juga. walaupun kami belum punya keturunan, tapi kami banyak mengamati keluarga-keluarga yang sudah memiliki anak dan bagaiamana cara mereka dalam mendidik anak mereka masing2. tentu berbeda-beda, dan hasilnya pun berbeda juga. memang menarik sekali dan kami pun sedikit-sedikit mulai belajar.
apalagi jika melihat seorang kenalan yang menanti buah hati mereka selama 2 tahun, 4 tahun, 5 tahun, bahkan 10 tahun. apalah guna saya mengeluh. mereka pun telah diuji oleh Allah dengan penantian buah hati, betapa kuat dan sabarnya mereka. proses penantian itu diisi dengan ikhtiar sebanyak-banyaknya, mendekatkan diri pada Allah, mendekatkan diri pada sesama, memposisikan diri menjadi orang yang sedang dibutuhkan dalam suatu lingkungan. Subhanallah memang.
saya nonton dorama yang judulnya Umareru. sebenernya dorama ini berkisah tentang seorang wanita berumur 51 tahun yang baru saja ditinggal suaminya meninggal tetapi sang suami meninggalkan janin di dalam rahim si isteri. Seorang teman ibu berusis 51 tahun ini, sedang menanti kehadiran buah hati. Bertahun-tahun menikah dan segala macam daya upaya dilakukan namun tak kunjung datang juga yang dinanti. Mengetahui temannya hamil, iya shock dan sangat marah karena ketidakadilan yang dia hadapi. Sampai akhirnya si Ibu 51 tahun ini mengajak sang teman untuk ke dokter yang biasa merawatnya. Memang benar, bahwa kondisi sel telur si teman memang tidak bagus, dan kecil kemungkinan untuk mendapatkan bayi. Namun kemudian sang dokter bilang bahwa masih ada cara lain untuk mendapatkan anak, yakni dengan adopsi. Kontan si teman itu marah. Dia bilang dirinya datang ke dokter untuk terapi agar bisa punya anak, bukan untuk mengadopsi. Namun si dokter bertanya, "ANDA INGIN MELAHIRKAN ATAU MERAWAT ANAK?". Jleb!. Nancep ke dada si teman itu.
Saya sih masih berharap saya bisa melahirkan tentunya. Namun ketika menanti datangnya saat itu, memang ada sebuah pesan yang sedang dikirim oleh Allah SWT kepada saya. Apakah pesan itu akan tersampaikan dengan baik, akankah kami dapat membaca pesan itu? ya insya Allah, jika saatnya tiba, semua akan indah pada waktunya. :)
*berlaku untuk semua kondisi: nyari kerja, kuliah, jodoh, nikah, de el el*
pis lop en gahol
03 Juli 2011
sekedar sepatah kata
08 Juni 2011
hidup sehat dari sekarang
dulu banyak orang bilang jangan minum jus alpukat nanti jadi gemuk, padahal kalo ke restoran hobi saya itu ya pesen jus alpukat. usut punya usut, alpukat adalah salah satu sumber kolesterol baik, ASALKAN tidak dimakan/diminum dengan GULA yang berlebih dimana kelebihan gula akan menyebabkan diabetes. ada kesalahan sebenernya dalam sudut pandang kita terhadap makanan. baiknya kita berpikir semua makanan itu baik, asalkan dikonsumsi secara bijak dan proporsional. ada yang mau kurus, cuma makan nasi 3 sendok sehari, makan sayur doang, alhasil badan kurang protein,kurang tenaga. kurus sih, tapi pucat dan kering. jangan mau seperti itu. makanan yang baik biasanya bisa dilihat dari proses memasaknya, nah sekarang apakah kita sudah memasak dengan benar? ataukah kita sudah membeli makanan yang dimasak dengan benar? sekarang banyak artikel artikel di media online bagaimana cara menjalankan hidup sehat. itu tidak berlaku hanya perempuan saja loh, laki-laki juga. tapi perhatian laki-laki masih kurang terhadap asupan gizi yang dikonsumsi. cari2 aja, banyak kok. dan satu hal lagi, kebiasaan orang indonesia itu masih jarang olahraga. olahraga ga mesti golf, squash, atau surfing. selain olahraga semacam itu tergolong mahal, nyatanya masih banyak pilihan olahraga yang mudah dilakukan. aktivitas fisik seperti beberes rumah, nyapu, ngepel, belanja ke supermarket (curcol), juga termasuk olahraga. ya pokoknya usahakan setiap hari bada melakukan kegiatan, jangan hanya duduk didepan komputer, nonton tv, nyetir mobil. semuanya itu tidak membantu badan kita membakar lemak/kalori yang ngendap di badan.
saya malu juga nih denger cerita Hanada sensei yang baru minggu lalu kembali dari Indonesia. katanya, temen2 orang indonesia yang dia kenal, sekarang hampir semuanya berubah jadi gemuk. dan nampaknya kecenderungannya akan seperti itu (most of people). ya itu tadi karena orang indonesia masih jarang memikirkan mana makanan yang sehat dan tidak serta aktivitas fisik yang rendah. hohohohohoho,,,dan si sensei pun bilang, "indah san, ima daijoubu, demo ki wo tsukete ne" (indah sekarang sih gapapa, tapi hati2 ya!). *maksudnya jangan sampe nanti jadi gemuk dan tidak sehat*
yaudah, salam sehat selalu ya!
25 Mei 2011
tes kesehatan
hari ini, saya berangkat ke rumah sakit (olangan euy!) untuk melakukan tes kesehatan saja, pasalnya di rumah sakit yang saya tuju, tidak kada fasilitas untuk pemeriksaan kanker rahim. ini adalah kedua kalinya saya ke rumah sakit, dan kedua kalinya pula saya tampak bloon. okelah selama ini belajar dikit-dikit bahasa jepang, namun kenyataanya istilah yang digunakan untuk kesehatan jelaslah berbeda. dan saya cuma cengok doang. Saat datang, pastilah harus mengisi formulir. Nama dan alamat udah jago lah ngisinya, namun pertanyaan2 seputar kesehatan bikin saya mengernyitkan kepala. si suster yang berusaha membaca dan menjelaskan apa yang tertulis dalam formulir pun akhirnya menyerah dengan bilang "emmm,,nanti tanya saja ke dokter ya, dia bisa bahasa inggris kok". Sip lah!
sehabis isi formulir saya dibawa ke ruang periksa. sambil menunggu antrian tiba, dengan sok gaya buka buku bahasa jepang. semua yang dibaca boro-boro ada yang nempel, kayanya sinyal dari mata untuk diteruskan ke otak dikalahkan oleh suara gemuruhnya detak jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kenceng. hehehehe, iya deg-deg an. udah biasa sih buat saya, tiap kali mau periksa ke dokter pasti deg-deg an. akhirnya giliran saya pun tiba. pertama-tama di cek tekanan darah pake mesin otomatis. gada suster yang mompa balon biar kain di tangan kita ngegelembung, ga ada ga ada. dan si saya terkaget-kaget lihat tekanan darah yang tidak seperti biasanya. sudah ada kenaikan gizi sepertinya, tapi tetep buat saya penasaran (sampai akhirnya pas di rumah liat internet dan cari tau tekanan darah normal itu berapa, ternyata masih normal kalau kata internet). kedua ukur berat badan dan tinggi badan. gak kaget liat berat badan, besarnya ibarat mendaki gunung yang tak ketemu jalan turunnanya, hayoh we datar terus. sudah naik, tak turun2 pula. tapi syukurnya tinggi badan saya masih bisa menyeimbangkan si berat yang susah dikontrol itu, kecewa juga sih, ternyata kurang 0.4 cm dari tinggi yang saya ekspektasikan selama ini. maklum ngukurnya selama ini pake meteran yang panjangnya 150 cm, jadi pasti ada eror manusia dalam pengukuran.
setelah itu, ambil darah. nadi di tangan kanan katanya ga keliatan, terlalu tipis. terpaksalah di tangan kiri. padahal si tangan kiri sudah di sembunyikan sedemikian rupa gara2 ada bekas alergi yang enggak banget. darah yang diambil cuma beberapa tetes doang dan dimasukkan ke dalam tiga tabung kecil berbeda.
beres ambil darah, saya dikasih sebuah gelas kertas. udah pede aja bakal disuruh ambil air minum, apalagi kalo bisa milih minumnya apaan kan wenak mantabs. tapi ternyata si gelas adalah wadah untuk urin. si saya disuruh ke lantai bawah, ke toilet tepatnya, untuk ambil urin. dan kemudian si urin di kasihkan ke sebuah jendela dekat toilet yang kemudian diketahui jendela tersebut adalah bagian dari lab pemeriksaan urin. hihihi,,praktis ya.
ga lama kemudian, saya kembali ke ruang sebelumnya.
tiap kali nama saya dipanggil, si suster kesulitan baca nama saya. belum tau aja dia, kalau di negara saya masih banyak nama yang susah banget dan panjang banget untuk dibaca dan dipanggil. (ih banyak kata "dan" yaaa). kali ini masuklah saya ke sebuah ruangan kecil, hanya ada tirai, komputer, suster, dan seorang berjubah putih, berambut putih, bergigi putih, tapi untung mukanya tidak putih. dialah sang dokter. pertama-tama dokternya tanya ke saya apakah saya bisa bahasa inggris, dan "ya" adalah jawaban saya. eh terus dia tanya lagi, "mau pake bahasa inggris atau jepang?". saya jawab "inggris dok". eh si dokter bilang lagi, "kalo saya lebih suka pake bahasa jepang". heuu, nya enya ateuh dok, mun bisa ge saya mah pengen pake bahasa indonesia, sunda juga boleh. trus dia tanya-tanya tentang pertanyaan yang ada di formulir pas diawal saya datang, alhamdulillah jawaban saya "tidak" untuk semua pertanyaan. setidaknya begitu yang saya alami dan rasakan. terus si dokter tiba-tiba bilang, "kamu kan muslim ya? jadi saya ga bisa sentuh kamu". eeehh? naha si dokter teh apal-eun. bukan tau kalau saya muslim, kalau itu jelas dari penampakan orang2 bisa tau. tapi itu loh..kenapa dia tau kalau wanita muslim tidak bersentuhan dengan laki2 yang bukan muhrim?,,hemmm gak tau saya juga. tapi kala itu saya jawab "but, it's okay!" (since you are a doctor..*bersuara dalam hati*). but he didnt do anything. saya hanya diminta menunggu saja hasil dari pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, baru kemudian bisa berkonsulltasi.
Yeay,,selesai juga. seminggu kemudian akan ada hasilnya. dan kemudian berkonsultasi, dan kemudian menunaikan hak berikutnya yakni fasilitas tes deteksi kanker rahim. mudah2an ga ada apa, insya Allah.
seru ya, dapet gratisan kaya gini. biasanya kan yang tes kesehatan gratis kalo tes masuk kerja atau bayar murah kalau punya kartu askes.di jepang, tiap tahun memang ada biaya asuransi kesehatan yang harus dibayarkan jika terjadi sesuatu dan harus ke dokter kita hanya terkena bayar 30% saja. sisanya ditanggung pemerintah.
suatu hari di indonesia pun akan ada pelayanan kesehatan yang memang menguntungkan buat rakyatnya. ya suatu hari, untuk waktu yang belum bisa ditentukan..
22 Mei 2011
memilihlah selagi bisa
disini, saya ga bermaksud memberi cap buruk sama institusi negeri yang pada kenyataannya memang memiliki kinerja kurang baik termasuk beberapa pegawainya. namun, satu hal yang saya sadari. gak tau ini bisa dibilang nyambung atau enggak.
ketika saya ada di jepang ini, tentunya makanan adalah hal yang menjadi pusat segala perhatian saya. pada awalnya saya banyak bertoleransi terhadap makanan, asal terucap bismillah (wong yang saya makan bukan daging ayam atau babi) saya langsung lep. kadang saya suka nakal, saya suka makan ketika disuguhi makanan oleh sensei dalam kelas bahasa jepang berupa kue khas jepang. karna saat diberikan sudah dalam keadaan terbuka, maka saya tidak tahu lagi kandungannya apa saja. dulu saya masih makan itu barang. namun makin kesini makin tersadari bahwa produk produk sampingan dari daging-dagingan pun banyak digunakan dalam pembuatan makanan/minuman ringan. ingin memakan mochi, jelas gak ada daging babi, tapi kan kita gak tau tepung yang dipake nya apa, emulsifier nya dari apa (sebagian produk memang menuliskan asal muasal bahan2 yang berasal dari tumbuhan). kalau ada bungkusnya, saya masih bisa baca *sedikit*, tapi kalau enggak?.... pengen makan di restoran anu, memang sih ada menu yang bisa dimakan, tapi kan piring yang digunakan juga digunakan untuk makanan non halal. ya hal-hal semacam itu. ada yang berpikir bahwa kami menyulitkan diri. namun tidak demikian yang kami pikirkan. selama masih ada bahan makanan yang bisa dimasak sendiri, itu lebih baik. selama masih ada nasi dan telur tak ada alasan untuk menyusahkan diri. tinggalkanlah yang ragu2, itu lebih baik bukan.
intinya, semuanya kembali ke sebuah pilihan. disitulah letak ujian diri. se urgent apakah sih sampai kita harus menikmati yang kehalalan nya diragukan?? begitupun pekerjaan, andaikan saya nanti menjadi bagian dari institusi pemerintah, insya Allah kekuatan untuk bisa mendapatkan yang halal akan saya jaga. semoga saya selalu diingatkan. atau lebih baik ya memang punya usaha sendiri. bersyukurlah karna saya masih diberi ilmu dan kesempatan untuk memilih.

O mankind, eat from whatever is on earth [that is] lawful and good and do not follow the footsteps of Satan. Indeed, he is to you a clear enemy. (QS. 2:168)
20 Mei 2011
pemimpin
membaca sebuah artikel tentang 8 Keteladanan dalam Diri Rasulullah
..............................
Padahal kalau kita berkaca kepada krisis yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW pada masanya, justru dengan mudah beliau menyelesaikannya, nyaris penyelesaiannya tanpa kekerasan dan pemaksaan, justru hanya dengan penerapan akhlakul karimah sebagai andalannya. Strategi yang dilakukan oleh Rasulullah, sesuai dengan sabdanya 'Ibda' Binafsik yang artinya "Mulailah dari diri anda".
Jika dilihat makna Ibda' binafsik secara terminologi sosial, maka kata 'diri' (anfus, nafs), mengingatkan kita pada 'individu'. (bahwa), "perubahan struktural tak akan pernah terjadi tanpa didahului perubahan kultural, dan perubahan kultural tak akan pernah terjadi tanpa perubahan inidividual," sehingga dapat dikatakan perubahan individual itu adalah induk dari segalanya.
Melihat akan keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam mengatasi krisis Multi dimensial, sudah saatnya kita menteladaninya karena beliau adalah contoh teladan terbaik dan tipologi ideal paling prima. Hal ini digambarkan oleh al-Quran surat Al-Ahzab, 33: 21 yang berbunyi:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesunggunya pada diri Rasulullah saw. terdapat contoh tauladan bagi mereka yang menggantungkan harapannya kepada Allah dan Hari Akhirat serta banyak berzikir kepada Allah."
Strategi Ibda' Binafsik ( memulai dari sendiri ) yang dilakukan oleh Rasulullah, didukung oleh beberapa faktor penting:
Pertama, kualitas moral-personal yang prima, yang dapat disederhanakan menjadi empat sebagai sifat wajib bagi Rasul, yakni:
siddiq, amanah, tabligh, dan fahtanah: jujur, dapat dipercaya, menyampaikan apa adanya, dan cerdas. Keempat sifat ini membentuk dasar keyakinan umat Islam tentang kepribadian Rasul saw.
Kehidupan Muhammad sejak awal hingga akhir memang senantiasa dihiasi oleh sifat-sifat mulia ini. Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, ia telah memperoleh gelar al-Amin (yang sangat dipercaya) dari masyarakat pagan Makkah.
Kedua, Integritas. Integritas juga menjadi bagian penting dari kepribadian Rasul Saw. yang telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya. Integritas personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa mengalihkannya dari apapun yang menjadi tujuannya.
Ketiga, kesamaan di depan hukum. Prinsip kesetaraan di depan hukum merupakan salah satu dasar terpenting
Keempat, Penerapan pola hubungan egaliter dan akrab. Salah satu fakta menarik tentang nilai-nilai manajerial kepemimpinan Rasul saw. adalah penggunaan konsep sahabat (bukan murid, staff, pembantu, anak buah, anggota, rakyat, atau hamba) untuk menggambarkan pola hubungan antara beliau sebagai pemimpin dengan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Sahabat dengan jelas mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan.
Kelima, kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi. Keberhasilan Muhammad saw. sebagai seorang pemimpin tak lepas dari kecakapannya membaca situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta merancang strategi yang sesuai untuk diterapkan. Model dakwah rahasia yang diterapkan selama periode Makkah kemudian dirubah menjadi model terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan. Keberhasilan Rasul saw. dan para sahabatnya dalam perang Badr jelas-jelas berkaitan dengan penerapan sebuah strategi yang jitu.
Keenam, tidak mengambil kesempatan dari kedudukan. Rasul Saw. wafat tanpa meninggalkan warisan material. Sebuah riwayat malah menyatakan bahwa beliau berdoa untuk mati dan berbangkit di akhirat bersama dengan orang-orang miskin. Jabatan sebagai pemimpin bukanlah sebuah mesin untuk memperkaya diri. Sikap inilah yang membuat para sahabat rela memberikan semuanya untuk perjuangan tanpa perduli dengan kekayaannya, sebab mereka tidak pernah melihat Rasul saw. mencoba memperkaya diri.
Kesederhanaan menjadi trade mark kepemimpinan Rasul saw. yang mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang Umar ibn al-Khattab. Seseorang dari Mesir datang ke Madinah ingin bertemu dan mengadukan persoalan kepada khalifah Umar ra. Orang tersebut benar-benar terkejut ketika menjumpai sang khalifah duduk dengan santai di bawah sebatang kurma.
Ketujuh, visioner futuristic. Sejumlah hadits menunjukkan bahwa Rasul SAW. adalah seorang pemimpin yang visioner, berfikir demi masa depan (sustainable). Meski tidak mungkin merumuskan alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak hadits Rasul saw. yang dimulai dengan kata "akan datang suatu masa", lalu diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Kini, setelah sekian abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah mulai terlihat dalam realitas nyata.
Kedelapan, menjadi prototipe bagi seluruh prinsip dan ajarannya. Pribadi Rasul Saw. benar-benar mengandung cita-cita dan sekaligus proses panjang upaya pencapaian cita-cita tersebut. Beliau adalah personifikasi dari misinya. Terkadang kita lupa bahwa kegagalan sangat mudah terjadi manakala kehidupan seorang pemimpin tidak mencerminkan cita-cita yang diikrarkannya. Sebagaimana sudah disebut di atas, Rasul saw. selalu menjadi contoh bagi apa pun yang ia anjurkan kepada orang-orang di sekitarnya.
Selaku umat Islam, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti, mencontoh dan menteladani semua perilaku terpuji rasulullah yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Akhlakul karimah tersebut dapat kita temui dalam berbagai literatur baik berupa sirah nabawiyah, riwayat-riwayat sahabat beliau, maupun firman Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an yang Rasullau selalu memulainya dari diri belia sendiri.
Sebagai Orang tua ketika menyuruh anaknya untuk tidak merokok atau mengkonsumsi narkoba maka seharusnya kita memulai diri berkomitmen untuk tidak melakukan hal yang sama (merokok dan mengkonsumsi narkoba). Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Asshaf : 2.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" (QS 61 :2)
11 Mei 2011
studi tur kok harus keluar negeri?
Ibu guru: Eh waktu itu ga ikutan studi tur ya
Murid: Enggak bu,,
Ibu guru : kenapa? Sayang ya...
Murid : engga aja bu,,,
(yang kemudian diketahui kalau studi turnya itu ke Singapura)
Ibu Guru 1: Ari ibu mau ikut lagi studi banding yang berikutnya? Ke Thailand kan ya?
Ibu Guru 2: ya mudah-mudahan ya Bu, mudah-mudahan aja jadi kesana..
(saya keburu mengabaikan percakapan mereka)
Percakapan diatas adalah percakapan beberapa bulan lalu yang saya dengar di dalam angkot berwarna ijo-oranye jurusan Kelapa-Dago, saat itu saya hendak pulang kerumah.
“Masya Allah!”, gumam saya dalam hati ketika “nguping” percakapan Ibu-Ibu Guru dan seorang muridnya yang berasal dari SMP favorit di Bandung di dalam angkot yang sesak itu. Mungkin memang trend nya saat ini untuk studi wisata keluar negeri. Jaman saya dulu paling banter ke Jogja. Jauhan dikit ya ke Bali. Tapi jaman sekarang nampaknya daya tarik tempat wisata domestik kurang diminati untuk dijadikan studi wisata sekolah-sekolah. Saya sebagai murid pada kenyataannya menjadikan kesempatan studi wisata ini untuk bermain-main, untuk refreshing, mencari momen bersama dengan teman-teman, bahkan untuk kegiatan belajar melalui tempat bersejarah atau alamnya pun terlupakan. Tak semua teman saya pada saat itu dapat ikut, kebanyakan karena alasan ekonomi. Bahkan kita teman-temannya berusaha patungan untuk membiayai si teman yang ga bisa ikut itu.
Namun saat ini, tingkat ekonomi penduduk Indonesia sepertinya mulai membaik. Salah satu tujuan studi wisata saja Singapur, luar negeri. Bahkan saya pernah dengar beberapa sekolah swasta yang melancong ke Negeri Kangguru. Alamak! Saya tak ingin menyoroti sekolah swasta, tapi saya ingin menyoroti sekolah negeri untuk kasus semacam ini. Apakah tak ada tempat menarik untuk dikunjungi lagi di negeri seluas ini?Saya rasa banyak, banyak sekali. Di era teknologi sekarang ini, informasi mengenai tempat wisata sekaligus yang bisa dijadikan tempat pembelajaran nampaknya mudah ditemukan. Jika dibandingkan dengan Singapur, kekayaan alam kita lebih banyak. Oh ya mungkin juga kalau murid-murid itu diminta mengamati bagaimana Singapur yang notabene negara dengan luas daerah kecil dan tak ada SDA nya bisa berkembang jadi negara maju. Ya tujuannya mungkin seperti itu, saya ga ngerti. Singapur memang punya tempat wisata, tempat belanja apalagi. Tapi bukankah mengenalkan apa yang dimiliki negara sendiri dan membuat generasi dibawah itu bangga akan apa yang dimiliki negerinya lebih baik. Bukan hanya masalah nasionalisme saja, tapi pendidikan kesederhanaan tampaknya memang tidak diterapkan di sekolah sekolah formal milik pemerintah. Sampai saat ini negara kita adalah target empuk para kapitalis, karena kita adalah negara konsumtif. Ayo dong, kalau bukan dari sekolah (selain orang tua) siapa lagi yang mengajarkan hidup sederhana?
Belum lagi obrolan para ibu guru yang bikin kuping dan hati saya panas, otak pun jadi ikutan rieut. Studi banding apa sih, kenapa harus ke Thailand? Ya saya juga ga tau pada akhirnya kunjungan kerja itu jadi atau tidak. Pada kenyataannya hal seperti itu ada. Saya juga belum bisa ngerti apakah dengan studi banding yang hanya beberapa hari saja bisa efektif dijadikan input untuk sistem pendidikan dan pengajaran di suatu sekolah padahal sudah jelas-jelas kondisi dan input nya berbeda. Wallahualam.
Jangan protes kalau murid studi wisata ke Singapura, guru studi banding ke Thailand, wajar dong pejabat pendidikan studi banding ke Amerika?
27 April 2011
brain stuck
baru saja, malem ini saya melakukan pendampingan online. rencana mata pelajaran berubah, ketika sang anak bilang sudah menyiapkan IPA untuk malam ini. padahal saya sudah menyiapkan untuk bahasa indonesia. okay, masih gapapa. setengah jam pertama masih berlangsung hangat-hangat saja. saya memberikan pertanyaan pertanyaan menggantung atau sekedar bercerita dengan harapan dia akan menyelesaikan apa yang saya tanyakan. ya sejauh itu juga masih baik2 saja. saya berusaha tidak terlalu dominan, dan terus melakukan cara2 untuk membuat sang anak tetap aktif baik dalam menjawab maupun memberikan penjelasan. datanglah waktunya, ketika saya bermaksud untuk rehat untuk melanjutkan bab berikutnya, saya menanyakan apakah ada yang ingin disampaikan, diceritakan, atau ditanyakan. sang anak hanya menjawab "aduh apa yaaa....". "Ya.. apa aja, nanya disini ujan atau enggak atau ya apapun", ganggu saya. tapi sepertinya, bukan bukan, tapi kenyataannya dia sudah mulai menemukan memorinya yang sempet bersembunyi. dia dengan semangatnya bilang "iya ada yang mau ditanyain, ya berhubungan sama ini juga". saya sambil senyum-senyum dengernya. tapi setelah sekian lama pertanyaannya bikin saya teler, waduuuhhhh. pengen rasanya ngejitak kepala sendiri. dong dong banget deh!!!
pertanyaan-pertanyaan awal masih bisa diatasi tapi kebelakangnya,,wekdor!
"kalo planet lain punya gravitasi kaya di bumi gak?"
"kalau saat gerhana bulan kan posisi matahari di tengah, jaraknya menjauhi matahari, gravitasinya berubah juga dong?"
"pusat dari galaksi bima sakti apa?"
"matahari bergerak ngga?punya orbit ga?"
"bener ga sih orbit pluto motong orbitnya neptunus?"
"kalo gerhana matahari cincin bisa terjadi berapa kali di suatu tempat?"
"pernah ga ada bintang yang tabrakan? kan bintang sirius katanya mau tabrakan tuh,,"
"itu tu tentang bintang, ko bisa sih orang tau bintang itu dateng nya dari mana?kok bisa tau jaraknya jutaan tahun cahaya? jadi sebelum manusia ada bintang udah ada?"
"kalo ngukur besarnya bintang gimana?"
"kalo lubang hitam itu gimana?ada atau engga sih?gimana kalo masuk lubang hitam?"
"kalo kita keluar galaksi apa yang diliat disana?"
"kalo hayabusa itu adanya dimana?ada asteroid asteroidnya gitu tuh apa sih?pake apa kesananya"
"bintang paling gede itu apa?"
"kalo matahari aja kecil, manusia kecil banget, apalagi kutu"
"ada planet lain yang kaya bumi?"
and so on...
and so on...
sampai jam sudah menunjukkan pukul 21.17 dimana waktu yang dialokasikan seharusnya telah berakhir.
dan masih banyak yang tak mampu ditampung oleh memori ini...
OMG,,,,,Alhamdulillah saya bingung,,ga bisa jawab lebih tepatnya. eh ada yang bisa ada yang engga deng. ada yang tau ada juga yang ga tau. ga dituntut harus bisa jawab juga, tapi jadinya saya yang menuntut diri saya untuk tau lebih banyak. ketauan ga taunya ketika sang anak bilang Hayabusa dan yang keingetan sama saya adalah jenis Shinkansen baru. atau ketika sang anak bilang sirius, dan pikiran si gue melayang ke Sirius Black, pamannya Harry Potter.Alhamdulillah ada anak yang kaya begitu. sang anak pun menyadari bahwa yang dia katakan adalah pertanyaan susah, terbukti dengan balasan kalimat "iya gapapa gak tau juga, emang susah juga pertanyaannya" ketika yang saya bilang adalah "maaf ya, saya belum tau tentang itu, nanti saya cari tau lebih dalem lagi"
dan si aa yang mendengar pun hanya bisa menertawakan saya yang bingung, padahal saya tau dalam dirinya pun dia geleng geleng kepala karna ga tau juga harus jawab apa.huh
makasih banyak ya, jadi kesentiil buat ga berenti baca2.
18 April 2011
17 April 2011
berkicau cit cuit
menurut saya, kenapa tidak, organisasi organisasi keagamaan tersebut lebih menekankan ke dakwah umat, menekankan mana yang baik dan tidak baik sesuai dalil yang dipunyai dan logika. membuat semua orang yang mengaku beragama sama bisa satu suara dalam memandang suatu hal tentunya dengan kerangka berpikir yang benar, yakni aturan agama itu. menyederhanakan cara berpikir para alim agama untuk kemudian dapat diterima masyarakat adalah hal yang lebih baik. dari pada meneriakkan ketidak setujuan pada pihak berwenang yang mungkin akan menghasilkan kesimpulan yang tidak memuaskan bahkan menimbulkan pandangan nagetif terhadap agama yang dibawa dan organisasi itu sendiri. buktinya, di bawah artikel tentang berita itu, tak sedikit komen komen negatif datang dari orang yang mungkin seagama dengan organisasi tersebut, pertanyaannya kenapa mereka bisa sangat mudahnya menghina organisasi itu?
mungkin organisasi agama yang isinya para alim, lupa bahwa masih ada umatnya yang seharusnya diberikan banyak pendidikan. tidak hanya mengeluarkan statement untuk hal-hal yang sifatnya halal dan haram saja, tidak dengan melakukan aksi protes terhadap sesuatu pada pihak berwenang, tapi cara pendekatan agar kata halal/haram bisa benar-benar diikuti oleh umat dari agama itu adalah poin utama dari sebuah dakwah.
di atas rumput
Ungkapan yang beberapa waktu terakhir ini sering saya baca dan saya dengar. Bagi seorang saya, saya pun pernah memiliki perasaan seperti itu. Bagaimana melihat orang lain yang memiliki banyak kesempatan dan keterampilan sehingga kehidupannya terlihat menyenangkan di mata saya. Rasanya diri ini gak bisa apa-apa. Saat ini tak sekali dua kali saya mendengar, "ndah, kamu sih udah sukses!", "ndah enak ya jadi kamu!", dan suara suara serupa yang senada. Entah parameternya apa, saya hanya bisa bilang "Alhamdulillah", karena ternyata saya dimata orang2 itu seperti itu. Orang dari luar sistem saya ga pernah liat diri saya yang sebenarnya seperti apa. Kegamangan yang pernah saya rasain, ketakutan yang pernah saya alamin, sikap pesimis yang sering saya rasakan. Walaupun sampai saat ini saya sendiri belum merasa diri saya sudah se"enak" dan se"sukses" yang mereka bilang.
Seminggu di rumah tanpa ada kegiatan rutin yang cukup memadatkan, membuat saya berpikir keras untuk menghabiskan waktu. Tentu saja dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Dan ternyata itu bukan pekerjaan gampang. Saya yang orangnya "teu daek cicing", merasa kegatelan kalo seharian tanpa berbuat sesuatu. Ya walau itu hanya ngoprek kain dan mesin jait, pura2 beli ikan ke supermarket, baca grammer grammer baru bahasa Jepang atau latihan dengerin percakapan orang Jepang melalui drama tv, liat dan nyoba resep baru, ya hal hal yang seperti itu yang saya kerjakan. Tak jarang saya merasa minder diantara teman2 sebaya yang sedang menempuh studi master bahkan ada yang hampir menginjakkan diri ke tingkat selanjutnya. Tapi ke"iri"an saya terhadap hal itu menjadi sia-sia, karena memang passion saya belum untuk kesana. Akhirnya saya kembali pada kehidupan saya. Kehidupan saat ini yang saya jalankan.
Saya menjadi belajar bersabar ketika menunggu masakan untuk matang. Saya belajar untuk tidak terburu-buru dalam menjahit sesuatu. Saya belajar menghargai bagaimana pekerjaan rumah diselesaikan. Ya saya tidak ada apa2 nya dengan teman2 lain yang posisinya lebih super, sebagai ibu sekaligus pelajar. Tapi sampai kapanpun, ketika diri saya dibandingkan dengan orang lain, ya tetep ga akan bisa ditandingi. Saya hanya belajar mensyukuri atas apa yang telah diamanatkan untuk saya, sambil otak terus berputar agar diri tetap menjadi lebih cerdas.
Rumput tetangga terlihat lebih hijau. Tapi bukankah saya berdiri di atas taman saya dan saya juga yang merawat rumput itu juga menanami berbagai macam bunga dan tumbuhan. Baru saya sadari ternyata halaman rumput saya tidak hanya sekedar hijau, disana juga tumbuh bunga dengan warna-warna yang cantik.
13 April 2011
bingung ngasih judul
Hanada sensei memang sudah 30 tahunan berpengalaman dengan ke-Indonesia-an. bahasanya, kulturnya, orangnya, jelas beliau lebih mengerti dari saya.
hari ini dia bercerita tentang pengalamannya menjadi pendamping anak SMA yang berkesempatan mengikuti program dari pemerintah Jepang. dari ceritanya, terdengar banyak rasa kecewa. dari 100 peserta anak SMA yang ikut program, kira2 hanya 10 orang yang benar benar termasuk siswa berprestasi dari golongan ekonomi menengah. satu dari 100 orang itu ada anak menteri yang sikapnya mentereng, lebih arogan dari yang lain (katanya loooh). sisanya adalah anak pejabat dari instansi sana sini. anak-anak sma itu datang dengan dibekali uang "cukup" dari orang tuanya untuk beli berbagai macam barang elektronik. di dalam paspornya tercatat bahwa Jepang bukanlah negara pertama yang mereka kunjungi. mungkin Jepang adalah negara kedua atau ketiga.
saya yang denger cerita itu cuma senyum mesem-mesem sambil berkata dalam hati "yaaahhh gitu deeh negara kami". komentar dari sensei pun ternyata,"tahun ini saya diajak lagi untuk ikut di program itu, tapi saya gak mau". "apa ya,,harusnya kan anak2 seperti itu tidak terpilih mengikuti program, harusnya anak2 kampung yang datang, yang belum pernah ke luar negeri. namanya buang-buang saja, kalau pemerintah Jepang harus membiayai anak-anak yang memang sudah kaya. pahadal kan mereka bisa dibiayai sama orang tua nya. sayang sekali, proses seleksi datangnya bukan dari pemerintah Jepang, tapi dari Indonesia", tuturnya dengan raut kecewa. ya seleksi dari "pihak Indonesia". tidak semua tim penyeleksi seperti itu, tapi tetap saja merusak. ibarat peribahasa "karena nila setitik rusak susu sebelangga" (hah, ga nyambung banget!).heu heu,,lagi lagi si gue cuma mesem-mesem senyum, tak mampu berbuat apa2.
yah, terlalu jauh gap sosial yang terjadi di negara kita. terlalu banyak kepentingan kepentingan pribadi yang dimasukkan dalam kepentingan umum. ketika mendengar sensei cerita, saya teringat tulisan teh tifa di blog nya yang menulis tentang bagaimana seorang aparat pemerintah mendapatkan beasiswa hanya karena dia joget india dan mendadak terkenal, yang oleh entah siapa hal semacam itu disebut sebuah prestasi. oh nooooo!!!! *pengen ngejedukin jidat ke tembok*