27 Mei 2010
bisa kah polisi jadi power ranger?
berbicara tentang polisi. hampir 4-5 kali seinget saya saya dicegat sama polisi bersepeda ketika saya sedang mengendarai sepeda disini. pertama diberhentikan, tentu saja saya tegang, bukan karena ketidaklengkapan dokumen sepeda, tapi lebih karena ketakutan saya tidak bisa mengerti apa yang dia tanya dan ketakutan dia tidak mengerti apa yang saya omongin. karna waktu itu saya belum bisa nangkep kalo ada orang yang ngomong bahasa jepang. sepeda di jepang emang spesial, punya STNK sendiri, dan usahakan si STNK itu dibawa kemana-mana, atau minimal kita tau si sepeda itu dimilki atas nama siapa. Sehingga ketika polisi datang untuk menanyakan tentang kepemilikan sepeda kita, kita bisa menghadapi situasi tersebut. alhamdulillah, pertama kali di cegat walaupun agak lama prosesnya, saya bisa tanganin. dan ketika kali kedua, ketiga, dst..saya tenang-tenang ajah ngeladenin bapa polisl. karena tujuan mereka memang untuk mengecek aturan yang telah dibuat, apakah kita ngikutin atau kita langgar. pada saat proses ditanya pun, mereka memberhentikan dengan cara baik, bertanya dengan baik pula. bahkan mereka berusaha pake bahasa inggris. setelah saya menunjukkan STNK sepeda dan mereka selesai melakukan tugasnya, mereka pun bilang makasih dan maaf telah mengganggu sebentar.
setiap pagi saat pergi ke kampus, saya melewati pos polisi, selalu ada satu atau dua orang yang berjaga disana. awalnya saya cuek ajah ngelewat dan berlalu. tapi suatu hari, mata saya ngeliat si pak polisi yang lagi berdiri disana dan ternyata dia menyapa selamat pagi. setelah kejadian itu, ketika saya lewat pos polisi, saya sempatkan tersenyum dan menundukkan kepala sambil bilang "ohayo gozaimasu", dan mereka pun membalas.
beberapa minggu lalu, saya nonton sebuah dorama. dalam dorama itu ada adegan pak polisi menilang seorang pengendara bermotor karena dia telah melewati jalan yang seharusnya tidak boleh dilewati. sang pemilik motor bilang kalo dia ga melihat rambu dilarang melewati jalan tersebut. di polisi keukeuh bahwa tanda itu sudah jelas-jelas ada dipasang di ujung jalan. sampe akhirnya ada seorang pemuda mendengar percakapan antara polisi dan pengendara motor yang sedang berdiskusi tersebut. si pemuda bilang ke pak polisi bahwa dia sendiri pun tidak melihat tanda larangan tersebut karena terhalang oleh pohon. dalam adegan tersebut si pemuda kira kira bilang gini "pa, anda kan seorang pelindung masyarakat bukan, tidak seharusnya bapak menyalahkan masyarakat dengan menilang, tapi lihat, apakah semua aturan sudah jelas diketahui masyarakat?". sampe akhirnya si polisi pun tersadar dan melihat rambu yang terpasang ternyata memang terhalang pohon. dan si polisi pun memotong ranting yang menghalangi jalan tersebut.
saya pikir dorama jepang itu dibuat sesuai dengan di kehidupan nyata.
yang saya pengen bilang disini adalah, berdasarkan pengalaman saya baik nyata maupun lewat dorama, saya percaya sama para polisi jepang. kenapa?karena emang mereka sadar peran mereka sebagai siapa dan tugas mereka apa. jasi istilah bertindak untuk kepentingan pribadi kayanya jarang terjadi.
kenapa saya cerita ini?soalnya saya tiba2 teringet kasus penilangan yang menimpa ibu saya waktu di bandung, tiba tiba sang polisi ngeberentiin dan sambil cengengesan bilang salah, yang maksud sebenernya dari cengengesan tersebut adalah "give me money".
atau ketika satgas kepolisian (saya lupa istilahnya apa- yang suka ngamanin kalo mau ada demo) sedang akan bertugas, eh mereka malah godain cewe-cewe. kowai desu yo (menakutkan!). tidak hanya untuk urusan kecil, bahkan untuk yang sifatnya menyangkut kehidupan orang lain, kadang para polisi telah dikuasain makhluk bernama nafsu dalam bertindak.
haduuuhhhh,,,mudah2an saya bisa tetep menjadi manusia yang inget sama dosa.
26 Mei 2010
dioksin dan perempuan
Hati-hati, Pembalut Berbahan Dioksin Berbahaya
Selasa, 02/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan
Menstruasi atau haid adalah salah satu gejala alami yang dialami setiap perempuan, yang ditandai dengan munculnya flek berupa darah kotor yang keluar dari mulut vagina. Umumnya setiap perempuan akan mengalami ketidaknyamanan fisik selama proses menstruasi.
Pada saat menstruasi terdapat banyak pilihan pembalut yang bisa digunakan dan dijual bebas. Sehingga benda yang satu ini sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok kaum hawa. Tanpa pembalut, bisa dibayangkan betapa repotnya ketika datang masa menstruasi.
Namun demikian, para perempuan harus ekstra hati-hati dalam memilih pembalut yang tepat dan sehat. Karena penggunaan pembalut secara sembarangan bisa memicu terjadinya infeksi bahkan kanker mulut rahim. Perlu diketahui, tidak semua pembalut aman digunakan, apalagi bagi yang mempunyai daerah “V” yang sensitif terhadap bahan pakaian dalam atau pembalut tertentu. Bisa-bisa jika salah memilih bahan malah terkena berbagai penyakit seperti berbau, gatal-gatal, keputihan, dan lainnya.
“Masalah umum yang sering dijumpai karena infeksi bakteria selama menstruasi adalah demam, radang pada permukaan vagina, gatal-gatal pada kulit, radang vagina, radang serviks (leher mulut rahim), radang selaput rahim, keputihan, hingga rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut,” ujar dr Mohammad Narsun MARS, konsultan salah satu produsen pembalut di Malaysia dalam seminarnya Wanita Indonesia Bebas dari Kanker Serviks beberapa waktu lalu.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan menyebutkan, terdapat 107 bakteri per milimeter persegi di atas pembalut wanita biasa. Kondisi inilah yang membuat pembalut yang tidak sehat menjadi sumber sarang pertumbuhan bakteri merugikan, meski pembalut biasa hanya dipakai selama dua jam saja. Bayangkan, jumlah bakteri pada permukaan seluas pembalut tersebut, apalagi jika dipakai lebih dari dua jam.
“Kebanyakan pembalut wanita menggunakan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi penggunanya dan mengakibatkan berbagai penyakit dalam sistem reproduksi wanita,” ujar Nasrun.
Bahan Kimia
Biasanya bahan kimia yang terkandung di dalam pembalut menurut Nasrun, adalah dioksin (bahan beracun kimia) yaitu bahan yang biasa digunakan sebagai pemutih kertas atau sejenisnya. Pembalut yang mengandung dioksin sering menyebabkan bagian intim organ kewanitaan selalu mengalami masalah, seperti keputihan, gatal-gatal, iritasi, juga pemicu terjadinya kanker mulut rahim.
Apabila pembalut yang mengandung zat dioksin terkena darah menstruasi (darah yang kotor dan mengandung bakteri atau kuman) dan mengenai permukaan vagina, maka zat-zat tersebut diisap masuk ke dalam rahim melalui saluran serviks, selanjutnya masuk ke dalam uterus, tuba fallopi dan berakhir di ovarium. Selanjutnya bersama aliran darah menuju ke organ-organ tubuh lainnya.
Bagian pertama yang akan terkena kontak langsung dengan pembalut tadi yakni permukaan vagina (vulva). Itulah sebabnya, pada area yang paling banyak terpapar dioksin ini, sering menjadi masalah bagi perempuan. “Karena memang faktanya, pembalut biasa yang menjadi sahabat perempuan (terutama saat haid), justru berpotensi menjadi pemicu munculnya berbagai persoalan pada organ kewanitaan,” tegas Nasrun.
Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk mengetahui kandungan dioksin dalam pembalut adalah dengan mencelupkannya ke dalam air. Caranya, sobek pembalut yang biasa digunakan, ambil bagian inti di dalamnya. Kemudian, ambil segelas air putih menggunakan gelas transparan sehingga lebih jelas. Kemudian ambil sebagian dari lembaran inti pembalut dan celupkan ke dalam gelas dan diaduk. Amati perubahan warna air yang terjadi, jika hancur disertai dengan warna yang keruh bisa jadi pembalut tersebut mengandung bahan pemutih.
Pembalut yang baik dan aman adalah yang menggunakan bahan 100 persen dari kapas. Mengingat pembalut yang banyak beredar di pasaran diduga berbahan dasar dari kertas-kertas bekas yang kemudian diolah dan dicampur berbagai zat kimia sehingga warnanya menjadi putih bersih. “Pilih kualitas pembalut yang baik dan disesuaikan dengan kondisi tubuh. Disarankan tidak memilih pembalut yang mengandung bahan penghilang bau atau pewangi yang kadang justru menyebabkan alergi dan iritasi,” imbaunya.
sumber: http://harianjoglosemar.com/berita/hati-hati-pembalut-berbahan-dioksin-berbahaya-10511.html
merenung sesaat
24 Mei 2010
kata ganbatte
beberapa teman saya juga sering paka kata-kata ganbatte untuk nyemangatin temen nya yang sedang/akan menghadapi suatu masalah/kerjaan/ujian. ganbatte sendiri asal kata dari "Ganbaru" yang punya arti work hard, try hard, try one`s best..
selama saya disini, saya juga sering dapet kata2 ganbatte dari sensei atau dari temen2 orang jepang. ketika kami mau menghadapi tes kanji kah, atau ketika kami dapet pr dari grammer yang baru dipelajari kah, atau ketika akan ngomong pake bahasa jepang kah,,,kata "ganbatte" akan diberikan oleh sensei. temen2 di lab juga ngasih kata "ganbatte" ketika saya harus melakukan riset, bahkan sampai "ganbatte party" untuk orang-orang yang akan melakukan seminar pertama kali (seperti saya pekan lalu). yah ganbatte,,,do your best!
sekilas emang kata-kata tersebut punya arti yang positif, mendorong seseorang untuk selalu melakukan yang terbaik, mendorong seseorang untuk berusaha keras semaksimal mungkin...tapi ternyata, semangat yang diberikan sama orang jepang punya efek tersendiri buat penerimanya.
hari ini kelas Interculture Communication yang saya ambil membahas tentang ekspresi ganbatte-nya orang Jepang. awalnya kami hanya dikasih selembar kertas berisi ekspresi-ekspresi kalimat orang jepang yang biasa dipakai, dan kami disuruh mengintrepresentasikan maksud dari kalimat tersebut, yakni mengenai maksud dan mengapa orang jepang melakukan hal itu.
ketika sampai pada ekspresi ganbatte,,semua orang di kelas angkat bicara, menceritakan dan mengingat kembali momen ketika kata Ganbatte didapat. akhirnya sensei pun berbicara. Orang jepang seneng banget kerja keras, bahkan apa pun yang dihadapi harus penuh kerja keras ngelakuinnya. Maka kerja keras yang mereka lakukan pun mesti ditularkan ke teman yang lain. Hal sekecil apapun, jika mendapat ekspresi Ganbatte, akan terkesan menjadi sesuatu yang besar. Contohnya: saya dapet PR kanji nih, semua jawabannya udah ada di buku dan kita cuman tinggal nyalin ajah. tapi ketika ada yang bilang "Ganbatte ne!" terkesan kalo si PR teh sesuatu hal yang sulit dikerjakan. Atau, ketika akan pulang dari kampus ke rumah dengan sepeda, dan hari itu hujan turun. seorang teman atau teman pasti bilang "Ganbatte!" . padahal itu hal biasa, tapi terkesan mengendarai sepeda saat hujan itu hal yang sulit.
mendorong seseorang ke arah positif memang harus dilakukan, tapi apa jadinya ketika kita sedang menghadapi hal yang memang butuh kerja keras untuk dikerjakan, dan orang lain berkata "Ganbatte!". dua kemungkinannya, pertama kita akan merasa termotivasi dengan dorongan tersebut, atau kedua kita akan merasa tertekan karena terus-menerus sang teman mengatakan "ayo, kerja keras!!!".
sensei saya pun bilang, ketika seorang jepang mengalami sakit mental, sang dokter pun akan menyarankan ke lingkungan sekitarnya untuk berhenti bilang "ganbatte" ke orang tersebut, karena hal tersebut akan membuat si penderita semakin merasa dibawah tekanan. cerita lain dari sensei adalah, beberapa tahun terakhir ini, pemerintah jepang banyak mendatangkan perawat dari indonesia karena jumlah perawat orang jepang kian berkurang. awalnya pasien yang kebanyakan orang tua enggan untuk diurus oleh orang asing. tapi ternyata seiring waktu berjalan, para pasien2 tersebut lebih memilih dirawat oleh perawat orang indonesia. alesannya adalah, perawat Indonesia ga pernah ngasih kata2 "Ganbatte", dan itu ngebuat si pasien lebih rileks. perawat Indonesia membiarkan sang pasien bersabar dengan cara mereka sendiri. hadoooohhhhhh!!!!!
kita di Indonesia, kita jarang nyuruh orang lain untuk kerja keras, yang biasa digunakan adalah "Semangat!". menurut saya kata semangat itu lebih punya makna fundamental. soalnya semangat adalah suatu bentuk sifat yang keluar dari diri sendiri, dari hati, bukan dari kemampuan. seseorang yang berkata "semangat" pada orang lain, bermaksud untuk membangkitkan gairah si orang tersebut agar punya kekuatan untuk menyelesaikan tugasnya, dimana jika semangat sudah ada maka kerja keras akan muncul kemudian. hehehehehe...
yeah, gada yang bener gada yang salah, namanya juga budaya. ini cuman sekedar cerita indah. hehehehe..
yang penting mah luruskan niat, maksimalkan ikhtiar, serta bertawakkal dan berdoa pada Allah SWT. betul kan?!
20 Mei 2010
ke pabrik TOSHIBA
16 Mei 2010
seminar experience
13 Mei 2010
just wonder
kita lahir ke dunia pun hasil persaingan berjuta-juta sperma.
tapi kenapa mesti bersaing?
mau cari pemenang kah?
pemenang apaan?
kalo kita bicara dalam konteks agama, persaingan adalah dalam melakukan kebaikan. semakin banyak kita berbuat baik (menjalankan perintah Tuhan) maka derajat ketaqwaan kita pun dipertimbangkan melalui hal it. ok saya sangat setuju sama hal itu.
tapi kadang saya ngerasa, hidup di dunia ini ga bisa tenang, hidup bersama orang-orang yang punya rasa daya saing tinggi dalam hal keduniawian, dan membuat kita tertular perasaan tersaingi..
apa harus seperti itukah?kenapa otak saya terpengaruh sama yang orang lain lakukan?
ah mungkin keimanan saya yang belum baik, sehingga ketika saya merasa tersaingi dalam hal yang terkait dunia, perasaan saya tidak disertai dengan "melakukan hal tersebut demi kebaikan agama saya". jika saja saya memiliki prinsip yang cukup matang dan kuat, saya tidak akan pernah merasa gelisah.
saya ingin belajaï½’. belajar gak perlu bersaing kan? tapi bernafas dalam atmosfer seperti ini membuat nafas saya tersengal-sengal. saya ingin bernafas tenang,
hidup saya ga panjang,
kalo nanti di akhirat di tanya sama malaikat apa yang saya lakuin buat agama saya, apa yang akan saya bilang?
saya ingin belajar, dan saya ingin berbagi,,tapi tidak dengan persaingan
09 Mei 2010
Masak masak maksa masak…
Masak. Jangan Tanya sama saya kalo tentang masak, saya gak bisa apa2. Bisa dibilang saya terpaksa memasak semenjak di jepang ini, tau sendiri kalo ga semua makanan ga bisa dimakan, dan kalo untuk tiap makan beli,,,wah bisa bangkrut si gue. Tapi Alhamdulillah, memasak jadi sebuah hal yang menjadi bisa dilakukan karna terpaksa (bisa karna terpaksa). Walaupun cuma masak ecek ecek (haduh bahasa apa ini the), tapi ternyata memasak punya sensasi sendiri..
Sebelum nikah, saya masak cuma buat diri saya sendiri, enak gak enak, penampilan tak menarik, atau cara membuat yang bisa dibilang gak rapi,,,yooo gada masalah buat saya, toh saya masak dan makan sendirian ini. Rasanya aneh, ya lep ajah, masa mau buang makanan. Tapi sekarang, setelah punya temen yang bisa diajak makan bareng, rasanya masak tuh pengen bener2 ngehasilin karya yang enak (walaupun masaknya masih tetep ece-ece). Sebagai pembenaran, pertama kali saya masakin buat aa saya ngomong gini “makanan itu sama kaya menilai orang, jangan liat tampilan luarnya, tapi harus dicobain dulu rasanya” (tapi kalo nilai orang bahasanya bukan dicobain yah!!maksudnya kenali dulu lebih dekat)..hehehhehe…ini kata kata yang saya ucapin ke aa biar gak kaget kalo isterinya ini belum jago masak.
Waktu pas masih sendirian, masak di kamar mah kadang-kadang males. Pertama karna dapurnya kecil, mau ngarajang (baca: motong-motong) jadi hararese. Kedua karna kompornya kompor listrik, jadinya kalo mau masak yang goreng2an setahun kemudian baru selesai,,perut udah ga selera buat makan karna kelamaan masaknya. Ketiga, ga punya peralatan masak yang cukup seperti ulekan, yang menjadi alat jitu untuk bikin sambel kalo lagi ketagihan pengen sambel.
Tapi sekarang, karna weekend saya nginep di tempat aa di Saitama, saya jadi semangat buat menguasai dapur. Pertama, karna ada orang yang bisa dijadiin tester (baca: aa). Kedua, dapurnya besar dimana kompor ada dua dan ada area yang luas buat motong2 bahan masakan. Ketiga jelas kompornya kompor gas, yang bikin waktu masak jadi lebih singkat. Keempat, bahan masakan dibiayain sama aa, jadi aku bisa eksperimen sepuasnya..huahahahaha..eh..ups!
Hosh…mari kita berkarya!!!! ^_^ v