sudah sebulan yang lalu saya dapat sebuah kartu pos dari pemerintah kota, setelah dicari tahu, ternyata itu adalah kartu pos untuk cek kesehatan. khusus untuk wanita (yang sudah menikah). ada berbagai macam tes yang disediakan (kebanyakan berhubungan dengan organ2 yang hanya dimiliki wanita), ada yang gratis dan ada pula yang bayar. namun bayar pun tak seberapa, sangat jauh lebih murah kalau harus tes yang sesungguhnya tanpa ada fasilitas ini. setiap tahun ,pasti ada jatah sekali untuk pemeriksaan seperti itu. saya sendiri, hanya dapat dua macam jenis tes. yang pertama, cek kesehatan secara umum dan pemeriksaan/deteksi kanker rahim (kalo gak salah - semacam di pap smear ya). ya kita sih yang nerima seneng-seneng aja bisa dapet pelayanan kesehatan murah dan gratis pula.
hari ini, saya berangkat ke rumah sakit (olangan euy!) untuk melakukan tes kesehatan saja, pasalnya di rumah sakit yang saya tuju, tidak kada fasilitas untuk pemeriksaan kanker rahim. ini adalah kedua kalinya saya ke rumah sakit, dan kedua kalinya pula saya tampak bloon. okelah selama ini belajar dikit-dikit bahasa jepang, namun kenyataanya istilah yang digunakan untuk kesehatan jelaslah berbeda. dan saya cuma cengok doang. Saat datang, pastilah harus mengisi formulir. Nama dan alamat udah jago lah ngisinya, namun pertanyaan2 seputar kesehatan bikin saya mengernyitkan kepala. si suster yang berusaha membaca dan menjelaskan apa yang tertulis dalam formulir pun akhirnya menyerah dengan bilang "emmm,,nanti tanya saja ke dokter ya, dia bisa bahasa inggris kok". Sip lah!
sehabis isi formulir saya dibawa ke ruang periksa. sambil menunggu antrian tiba, dengan sok gaya buka buku bahasa jepang. semua yang dibaca boro-boro ada yang nempel, kayanya sinyal dari mata untuk diteruskan ke otak dikalahkan oleh suara gemuruhnya detak jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kenceng. hehehehe, iya deg-deg an. udah biasa sih buat saya, tiap kali mau periksa ke dokter pasti deg-deg an. akhirnya giliran saya pun tiba. pertama-tama di cek tekanan darah pake mesin otomatis. gada suster yang mompa balon biar kain di tangan kita ngegelembung, ga ada ga ada. dan si saya terkaget-kaget lihat tekanan darah yang tidak seperti biasanya. sudah ada kenaikan gizi sepertinya, tapi tetep buat saya penasaran (sampai akhirnya pas di rumah liat internet dan cari tau tekanan darah normal itu berapa, ternyata masih normal kalau kata internet). kedua ukur berat badan dan tinggi badan. gak kaget liat berat badan, besarnya ibarat mendaki gunung yang tak ketemu jalan turunnanya, hayoh we datar terus. sudah naik, tak turun2 pula. tapi syukurnya tinggi badan saya masih bisa menyeimbangkan si berat yang susah dikontrol itu, kecewa juga sih, ternyata kurang 0.4 cm dari tinggi yang saya ekspektasikan selama ini. maklum ngukurnya selama ini pake meteran yang panjangnya 150 cm, jadi pasti ada eror manusia dalam pengukuran.
setelah itu, ambil darah. nadi di tangan kanan katanya ga keliatan, terlalu tipis. terpaksalah di tangan kiri. padahal si tangan kiri sudah di sembunyikan sedemikian rupa gara2 ada bekas alergi yang enggak banget. darah yang diambil cuma beberapa tetes doang dan dimasukkan ke dalam tiga tabung kecil berbeda.
beres ambil darah, saya dikasih sebuah gelas kertas. udah pede aja bakal disuruh ambil air minum, apalagi kalo bisa milih minumnya apaan kan wenak mantabs. tapi ternyata si gelas adalah wadah untuk urin. si saya disuruh ke lantai bawah, ke toilet tepatnya, untuk ambil urin. dan kemudian si urin di kasihkan ke sebuah jendela dekat toilet yang kemudian diketahui jendela tersebut adalah bagian dari lab pemeriksaan urin. hihihi,,praktis ya.
ga lama kemudian, saya kembali ke ruang sebelumnya.
tiap kali nama saya dipanggil, si suster kesulitan baca nama saya. belum tau aja dia, kalau di negara saya masih banyak nama yang susah banget dan panjang banget untuk dibaca dan dipanggil. (ih banyak kata "dan" yaaa). kali ini masuklah saya ke sebuah ruangan kecil, hanya ada tirai, komputer, suster, dan seorang berjubah putih, berambut putih, bergigi putih, tapi untung mukanya tidak putih. dialah sang dokter. pertama-tama dokternya tanya ke saya apakah saya bisa bahasa inggris, dan "ya" adalah jawaban saya. eh terus dia tanya lagi, "mau pake bahasa inggris atau jepang?". saya jawab "inggris dok". eh si dokter bilang lagi, "kalo saya lebih suka pake bahasa jepang". heuu, nya enya ateuh dok, mun bisa ge saya mah pengen pake bahasa indonesia, sunda juga boleh. trus dia tanya-tanya tentang pertanyaan yang ada di formulir pas diawal saya datang, alhamdulillah jawaban saya "tidak" untuk semua pertanyaan. setidaknya begitu yang saya alami dan rasakan. terus si dokter tiba-tiba bilang, "kamu kan muslim ya? jadi saya ga bisa sentuh kamu". eeehh? naha si dokter teh apal-eun. bukan tau kalau saya muslim, kalau itu jelas dari penampakan orang2 bisa tau. tapi itu loh..kenapa dia tau kalau wanita muslim tidak bersentuhan dengan laki2 yang bukan muhrim?,,hemmm gak tau saya juga. tapi kala itu saya jawab "but, it's okay!" (since you are a doctor..*bersuara dalam hati*). but he didnt do anything. saya hanya diminta menunggu saja hasil dari pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, baru kemudian bisa berkonsulltasi.
Yeay,,selesai juga. seminggu kemudian akan ada hasilnya. dan kemudian berkonsultasi, dan kemudian menunaikan hak berikutnya yakni fasilitas tes deteksi kanker rahim. mudah2an ga ada apa, insya Allah.
seru ya, dapet gratisan kaya gini. biasanya kan yang tes kesehatan gratis kalo tes masuk kerja atau bayar murah kalau punya kartu askes.di jepang, tiap tahun memang ada biaya asuransi kesehatan yang harus dibayarkan jika terjadi sesuatu dan harus ke dokter kita hanya terkena bayar 30% saja. sisanya ditanggung pemerintah.
suatu hari di indonesia pun akan ada pelayanan kesehatan yang memang menguntungkan buat rakyatnya. ya suatu hari, untuk waktu yang belum bisa ditentukan..
WOW..takjub membaca komentar dokternya,, ko bisa dia komentar seperti itu yah,, siganya klo di indonesia mah asa lempeng2 wae..
BalasHapuswah, ayu jadi tau kalo tes kesehatan di Jepang kayak gitu ya... tapi emang ga enaknya staf2nya sama istilah2nya pake bahasa Jepang yang susah2 ya ><
BalasHapus@kang muy: iya si dokter nya sambil cengar cengri gitu ngomongnya...saya juga heran, tapi syukur islam sudah dikenal..
BalasHapus@ayu chan: tapi kan kamu juga pernah ke klinik gigi, ya mirip mirip lah,,dokternya jg pake bahasa jepang kan? mou hitotsu health check aru kara, motto ganbatte nihon go wo yomu no.
indah... maa~haisha ni itta koto arundakedo... clinic to byouin wa chigaundesuyo... kayaknya atmosfernya beda gitu :) dokter gigi ayu sih bisa bahasa Inggris fasih (Alhamdulillah), cuma staf-nya emang bahasa Jepang semua. Taihen...
BalasHapusTante indah, nihonggo, ganbatte kudasai >o<