Ibu guru: Eh waktu itu ga ikutan studi tur ya
Murid: Enggak bu,,
Ibu guru : kenapa? Sayang ya...
Murid : engga aja bu,,,
(yang kemudian diketahui kalau studi turnya itu ke Singapura)
Ibu Guru 1: Ari ibu mau ikut lagi studi banding yang berikutnya? Ke Thailand kan ya?
Ibu Guru 2: ya mudah-mudahan ya Bu, mudah-mudahan aja jadi kesana..
(saya keburu mengabaikan percakapan mereka)
Percakapan diatas adalah percakapan beberapa bulan lalu yang saya dengar di dalam angkot berwarna ijo-oranye jurusan Kelapa-Dago, saat itu saya hendak pulang kerumah.
“Masya Allah!”, gumam saya dalam hati ketika “nguping” percakapan Ibu-Ibu Guru dan seorang muridnya yang berasal dari SMP favorit di Bandung di dalam angkot yang sesak itu. Mungkin memang trend nya saat ini untuk studi wisata keluar negeri. Jaman saya dulu paling banter ke Jogja. Jauhan dikit ya ke Bali. Tapi jaman sekarang nampaknya daya tarik tempat wisata domestik kurang diminati untuk dijadikan studi wisata sekolah-sekolah. Saya sebagai murid pada kenyataannya menjadikan kesempatan studi wisata ini untuk bermain-main, untuk refreshing, mencari momen bersama dengan teman-teman, bahkan untuk kegiatan belajar melalui tempat bersejarah atau alamnya pun terlupakan. Tak semua teman saya pada saat itu dapat ikut, kebanyakan karena alasan ekonomi. Bahkan kita teman-temannya berusaha patungan untuk membiayai si teman yang ga bisa ikut itu.
Namun saat ini, tingkat ekonomi penduduk Indonesia sepertinya mulai membaik. Salah satu tujuan studi wisata saja Singapur, luar negeri. Bahkan saya pernah dengar beberapa sekolah swasta yang melancong ke Negeri Kangguru. Alamak! Saya tak ingin menyoroti sekolah swasta, tapi saya ingin menyoroti sekolah negeri untuk kasus semacam ini. Apakah tak ada tempat menarik untuk dikunjungi lagi di negeri seluas ini?Saya rasa banyak, banyak sekali. Di era teknologi sekarang ini, informasi mengenai tempat wisata sekaligus yang bisa dijadikan tempat pembelajaran nampaknya mudah ditemukan. Jika dibandingkan dengan Singapur, kekayaan alam kita lebih banyak. Oh ya mungkin juga kalau murid-murid itu diminta mengamati bagaimana Singapur yang notabene negara dengan luas daerah kecil dan tak ada SDA nya bisa berkembang jadi negara maju. Ya tujuannya mungkin seperti itu, saya ga ngerti. Singapur memang punya tempat wisata, tempat belanja apalagi. Tapi bukankah mengenalkan apa yang dimiliki negara sendiri dan membuat generasi dibawah itu bangga akan apa yang dimiliki negerinya lebih baik. Bukan hanya masalah nasionalisme saja, tapi pendidikan kesederhanaan tampaknya memang tidak diterapkan di sekolah sekolah formal milik pemerintah. Sampai saat ini negara kita adalah target empuk para kapitalis, karena kita adalah negara konsumtif. Ayo dong, kalau bukan dari sekolah (selain orang tua) siapa lagi yang mengajarkan hidup sederhana?
Belum lagi obrolan para ibu guru yang bikin kuping dan hati saya panas, otak pun jadi ikutan rieut. Studi banding apa sih, kenapa harus ke Thailand? Ya saya juga ga tau pada akhirnya kunjungan kerja itu jadi atau tidak. Pada kenyataannya hal seperti itu ada. Saya juga belum bisa ngerti apakah dengan studi banding yang hanya beberapa hari saja bisa efektif dijadikan input untuk sistem pendidikan dan pengajaran di suatu sekolah padahal sudah jelas-jelas kondisi dan input nya berbeda. Wallahualam.
Jangan protes kalau murid studi wisata ke Singapura, guru studi banding ke Thailand, wajar dong pejabat pendidikan studi banding ke Amerika?
wah wah... ayu baru tau kalo anak2 SMA jaman sekarang study tournya udah ke luar negeri... hebat euy... kayaknya jaman ayu, ke Bali aja udah hebat banget.
BalasHapusNgomong2 soal ke luar negeri, ga cuma studi tour aja. Mahasiswa ko-as skrg udah pada gaya, magang ke luar negeri. keren euy, padahal orang2 malaysia pada pengen kuliah di Indonesia, orang Indonesia malah pengen magang di Malaysia...