22 Mei 2011

memilihlah selagi bisa

di bulan desember 2010, sehabis sarapan pagi, saya ngobrol sama mamah di meja makan sebelum akhirnya kami segera bersiap2 untuk berangkat menuju suatu tempat. ketika itu entah apa yang kami obrolkan diawal, namun pada ujungnya kami membahas tentang kinerja pegawai negeri. sering terdengar, bahwa mahasiswa yang dulunya sangat sangat idealis sekali ketika masuk ke institusi pemerintah akhirnya memble terbawa arus sistem. atau yang kuat bertahan secara ideologi, akan terpuruk secara ekonomi. banyak yang bilang di dalam instansi negeri, kinerja menjadi tidak produktif, dan penyelipan uang tambahan pun dengan "terpaksa" mesti diterima, karna tak ada pilihan lagi akibat gaji yang bisa dibilang sedikit. bagi orang tua, rasanya tindakan untuk menolak pada atasan atau bersikap idealis dalam instansi pemerintah adalah sebuah tindakan yang....yang tidak bisa dilakukan, istilahnya, ya tarimakeun we, kalo ga gitu nanti ga maju-maju. termasuk ibu saya, walaupun di satu sisi beliau ga setuju sama sistem kerja di pemerintahan itu (alumni pegawai pemerintah juga soalnya), tapi bisa dibilang apa, yang diucapkannya pada saya seolah kita harus pasrah saja, mau teriak sekenceng apapun juga ga akan didenger. ya, sekuat apapun saya berargumen, nampaknya tidak membuahkan hasil juga. apalagi ketika ditampar dengan sebuah kalimat, "da bapa kamu juga pegawai negeri", glek! ok gue diem.

disini, saya ga bermaksud memberi cap buruk sama institusi negeri yang pada kenyataannya memang memiliki kinerja kurang baik termasuk beberapa pegawainya. namun, satu hal yang saya sadari. gak tau ini bisa dibilang nyambung atau enggak.

ketika saya ada di jepang ini, tentunya makanan adalah hal yang menjadi pusat segala perhatian saya. pada awalnya saya banyak bertoleransi terhadap makanan, asal terucap bismillah (wong yang saya makan bukan daging ayam atau babi) saya langsung lep. kadang saya suka nakal, saya suka makan ketika disuguhi makanan oleh sensei dalam kelas bahasa jepang berupa kue khas jepang. karna saat diberikan sudah dalam keadaan terbuka, maka saya tidak tahu lagi kandungannya apa saja. dulu saya masih makan itu barang. namun makin kesini makin tersadari bahwa produk produk sampingan dari daging-dagingan pun banyak digunakan dalam pembuatan makanan/minuman ringan. ingin memakan mochi, jelas gak ada daging babi, tapi kan kita gak tau tepung yang dipake nya apa, emulsifier nya dari apa (sebagian produk memang menuliskan asal muasal bahan2 yang berasal dari tumbuhan). kalau ada bungkusnya, saya masih bisa baca *sedikit*, tapi kalau enggak?.... pengen makan di restoran anu, memang sih ada menu yang bisa dimakan, tapi kan piring yang digunakan juga digunakan untuk makanan non halal. ya hal-hal semacam itu. ada yang berpikir bahwa kami menyulitkan diri. namun tidak demikian yang kami pikirkan. selama masih ada bahan makanan yang bisa dimasak sendiri, itu lebih baik. selama masih ada nasi dan telur tak ada alasan untuk menyusahkan diri. tinggalkanlah yang ragu2, itu lebih baik bukan.

intinya, semuanya kembali ke sebuah pilihan. disitulah letak ujian diri. se urgent apakah sih sampai kita harus menikmati yang kehalalan nya diragukan?? begitupun pekerjaan, andaikan saya nanti menjadi bagian dari institusi pemerintah, insya Allah kekuatan untuk bisa mendapatkan yang halal akan saya jaga. semoga saya selalu diingatkan. atau lebih baik ya memang punya usaha sendiri. bersyukurlah karna saya masih diberi ilmu dan kesempatan untuk memilih.
O mankind, eat from whatever is on earth [that is] lawful and good and do not follow the footsteps of Satan. Indeed, he is to you a clear enemy. (QS. 2:168)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar