09 September 2011

ambisi

Ambisi menurut KBBI :

am·bi·si n keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (spt pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;

tapi kok bau-bau nya pengertian negatif ya? Mungkin karna arti dalam kurungnya itu nafsu ya.

Sebenernya hanya perasaan dik indah saja yang mengatakan bahwa ambisi itu lebih condong ke arah negatif. Padahal kan pengertian secara utuhnya itu jelas bertujuan positif.

Kata Ambisi ini tiba-tiba ngetok pikiran saya, tiba-tiba melesat di pikiran saya ketika saya sedang diam diantara orang2 yang sedang berbicara mengenai masa depan, kerjaan, keluarga, pendidikan anak, biaya hidup, dll. Ibarat lagi nunggu mau nyebrang di pinggir zabra cross ketika lampu di jalan sedang hijau, saya ngelamun dan tiba2 ada mobil yang melesat dengan kencang dan membuat kerudung saya tersibak angin, begitulah kata ambisi itu muncul. Membangunkan saya dari sebuah ketidaksadaran(?).

Mendengar rekan2 berkisah tentang kalau kerja mesti begini, uang yang didapat minimal segini, karena anak2 kan butuh fasilitas yang begini yang begitu, biar kualitas tetap terjaga maka harus disokong dari sana sini. Belum lagi untuk biaya hidup sehari-hari, inflasi kian meninggi, deelel..huwaaaaa..

sedangkan dalam otak saya hanya berpikir agar hidup tenang, damai, nyaman, sentosa, bahagia lahir batin, tentunya dengan melakukan kegiatan2 (atau kerjaan?) yang sudah saya impikan.Tanpa (atau belum) memikirkan hal-hal sampingan yang pada akhirnya untuk itulah kenapa saya harus bekerja (baca: berkegiatan). Saya kemudian jadi bertanya, apa saya kurang berambisi? Apa saya kurang berambisi? Apa salah ga punya ambisi? Tanya saya sekali lagi pada diri ini. Hal yang sama juga saya tanyakan pada si pacar. Jawabannya, “Engga harus kok. Jangan terlalu berambisi juga. Rencana memang harus ada, sudah mesti dipikirkan apa saja yang akan dijalani kedepan. Tapi jangan terlalu keras juga. Semuanya mesti dikondisikan dengan lingkungan sekitar. Dengan kemampuan finansial yang dipunya, dengan kemampuan fisik yang dimiliki, dengan standar hidup orang kebanyakan, dengan segala fasilitas yang ada di tempat kita menginjakkan kaki ini”. Wuhuuuyyyyy cukup menenangkan, tentunya tidak hanya dengan kalimat2 pendek itu aja, perbincangan terus dilanjutkan selama berjam-jam (yang bikin saya heuay wae).

Biarlah hati tetap meminta dan berdoa. Otak serta bekerja, raga yang bertindak. Tangan ini akan tetap memegang mimpi, tidak terlalu kuat juga tidak terlalu lemah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar