bersama Hanada sensei, guru bahasa Jepang yang sangat fasih bahasa Indonesia, saya jadi lebih tau tentang Indonesia darinya. setiap minggu ketemu, pastiii ada aja hal2 tentang indonesia yang beliau kemukakan. menarik. mengetahui sudut pandang negara kita dari orang asing.
Hanada sensei memang sudah 30 tahunan berpengalaman dengan ke-Indonesia-an. bahasanya, kulturnya, orangnya, jelas beliau lebih mengerti dari saya.
hari ini dia bercerita tentang pengalamannya menjadi pendamping anak SMA yang berkesempatan mengikuti program dari pemerintah Jepang. dari ceritanya, terdengar banyak rasa kecewa. dari 100 peserta anak SMA yang ikut program, kira2 hanya 10 orang yang benar benar termasuk siswa berprestasi dari golongan ekonomi menengah. satu dari 100 orang itu ada anak menteri yang sikapnya mentereng, lebih arogan dari yang lain (katanya loooh). sisanya adalah anak pejabat dari instansi sana sini. anak-anak sma itu datang dengan dibekali uang "cukup" dari orang tuanya untuk beli berbagai macam barang elektronik. di dalam paspornya tercatat bahwa Jepang bukanlah negara pertama yang mereka kunjungi. mungkin Jepang adalah negara kedua atau ketiga.
saya yang denger cerita itu cuma senyum mesem-mesem sambil berkata dalam hati "yaaahhh gitu deeh negara kami". komentar dari sensei pun ternyata,"tahun ini saya diajak lagi untuk ikut di program itu, tapi saya gak mau". "apa ya,,harusnya kan anak2 seperti itu tidak terpilih mengikuti program, harusnya anak2 kampung yang datang, yang belum pernah ke luar negeri. namanya buang-buang saja, kalau pemerintah Jepang harus membiayai anak-anak yang memang sudah kaya. pahadal kan mereka bisa dibiayai sama orang tua nya. sayang sekali, proses seleksi datangnya bukan dari pemerintah Jepang, tapi dari Indonesia", tuturnya dengan raut kecewa. ya seleksi dari "pihak Indonesia". tidak semua tim penyeleksi seperti itu, tapi tetap saja merusak. ibarat peribahasa "karena nila setitik rusak susu sebelangga" (hah, ga nyambung banget!).heu heu,,lagi lagi si gue cuma mesem-mesem senyum, tak mampu berbuat apa2.
yah, terlalu jauh gap sosial yang terjadi di negara kita. terlalu banyak kepentingan kepentingan pribadi yang dimasukkan dalam kepentingan umum. ketika mendengar sensei cerita, saya teringat tulisan teh tifa di blog nya yang menulis tentang bagaimana seorang aparat pemerintah mendapatkan beasiswa hanya karena dia joget india dan mendadak terkenal, yang oleh entah siapa hal semacam itu disebut sebuah prestasi. oh nooooo!!!! *pengen ngejedukin jidat ke tembok*
Yah begitulah semuanya serba absurd di sini. FYI "aparat pemerintah" yang joget india itu sekarang lagi rajin tampil di TV2 malahan ada yang ngajakin rekaman & maen sinetron juga donk.
BalasHapusNice post :D
hey cical,,ketemu dimana mana gini,,
BalasHapusiya ya,,baca berita juga, katanya dia disekolahin akting,,haduuh *ngelus dada*. polri kayanya salah tangkep sikap dari masyarakat deh..
miris deh baca postingan tante indah yang ini... ngomong2 soal "aktor joget india" itu,, jadi inget temen sekelas bilang "masih banyak mahasiswa berprestasi yang butuh beasiswa, daripada dikasih ke orang yg bisa joged india mending dikasih ke mahasiswa yang bisa bikin paper ilmiah bagus"
BalasHapus