Tampilkan postingan dengan label jalan2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan2. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2014

Pameran Quilt Tokyo 2014

Berawal dari seorang teman yang posting foto dia bersama sama mertuanya dengan latar belakang quilt raksasa dengan tulisan tempat dimana dia berada "Tokyo Quilt Festival 2014" di Tokyo Dome, saya langsung tertarik untuk pergi kesana. Secara spontan saya ajak teman yang kebetulan juga komen di foto itu, ternyata di juga punya kepengen yang sama, padahal kami baru ketemu darat sekali loh.  Saya berani ajak beliau karena pada saat pertama ketemu beliau, beliau juga menunjukkan ketertarikan dengan dunia jahit menjahit, dan pada saat itu dia juga menawarkan produk karyanya. Maka dengan begitu, saya berasumsi kalau saya mengajak orang yang tepat untuk ke pameran quilt.

Pameran quilt sendiri hanya dilaksanakan 7 hari dan kami datang tepat di hari terakhir, tanggal 29 Januari 2014. Tidak kami berdua (+ dua bocah yang lucu), ditambah juga seorang teman, ibu dari 5 orang anak, yang juga bergabung bersama kami. Yesss, makin banyakan makin rame deh.

Kami janjian pukul 10 di depan Tokyo Dome. Dari mulai keluar stasiun, saya sungguh yakin bahwa ibu ibu dan nenek nenek yang keluar dari stasiun barengan sama saya itu punya satu tujuan : pameran quilt. Keyakinan saya terbukti dengan antrian panjang yang rapi saat memasuki gerbang pameran. Tiba tiba rasa senang saya makin membludak, padahal baru liat orang orang nya ajah. Kami beli tiket masuk, 2000 yen, yang menurut saya mahal (tapi mungkin standar untuk tiket masuk pameran besar).  Tapi saya udah niat, walau tiket mahal, pengen dateng. Alesan saya pengen dateng cukup simpel sebenernya : pengen meningkatkan motivasi. Hahahaha,, motivasi apapun lah, kayanya kalau liat hasil karya yang spekta tuh bisi bikin motivasi meningkat.


Pertama kali masuk ke Tokyo Dome. Sebelumnya di tahun 2010 saya cuma numpang jalan jalan di luar arena Tokyo Dome, tapi kemaren saya masuk kesana. Stadium baseball milik kebanggaan club Giants Tokyo itu dirubah jadi ruangan super besar dan beratap. Dari atas balkon, saya bisa lihat lapangan yang besar dan terisi penuh sama stand pameran. Hwwwoooooo.. Bakalan seru ini.

Menginjakkan kaki di tempat pameran, kami langsung disuguhin karya quilt yang besar, yang pada saat itu juga kami takjub dan penasaran untuk lihat lebih dekat. Bahkan teman teman saya lngsung sigap ngeluarin ponsel kemudian ambil foto setiap keindahan yang terlihat. Sayang saya ga bawa kamera poket, saya hanya bawa ipad. Walaupun resolusinyan lebih bagus kamera ipad, tapi pas awal saya masih merasa ribet buat ngeluarinnya. Berpindah dari satu karya ke karya quilt yang lain,, yang ada makin membuat kami takjub, hanya bisa bilang "keren, cantik, sugoii, subarashii, kirei" dan kata kata positif lainnya. Bayangkan saja, quilt yang kira-kira punya ukuran 3x3 meter itu, dijahit pake tangan semua. Dengan segala kerapihan, keteraturan, keharmonisan paduan warna dan pola, maka memang pujian yang kami keluarkan untuk karya quilt yang kami lihat. Ga kebayang bikinnya makk! Saya pernah bikin quilt, judulnya pengen nyoba ala amatir yang sok sok an, dan ternyata saya ga sanggup untuk ngerjain pake tangan, saya kerjain pake mesin dimana pada akhirnya hasilnya sungguh.....tidak seperti karya quilt. Hehehehehe.

Disana terdapat juga stand stand yang memanerkan karya quilt dari artisan quilt ternama. Saya juga ga hapal, karena pada dasarnya saya belum termasuk orang yang tergila gila dengan quilt ini. Tapi melihat para artis quilt tersebut saya jadi sedikit memuji orang Jepang. Bayangkan saja, quilt ini bukanlah kebudayaan asli orang Jepang, ini kebudayaan dari Amerika / Eropa.  Pada tahun 70 an, salah satu quilter ternama Jepang saat ini, menginjakkan kaki di Amerika dan dia mulai tertarik dengan Quilt sampai akhirnya dia belajar disana. Memang segala sesuatu butuh kerja keras, hampir 40 tahun ia menekuni quilt hingga akhirnya dia bisa membuat warga Jepang yang lain untuk jatuh cinta pada quilt. Tidak tanggung tanggung, budaya yang asalnya dari luar, mereka padukan dengan budaya lokal sehingga terciptalah Japanese Quilt yang pastinya punya gaya berbeda dari quilt Amerika, serta diterima dan diakui oleh pecinta quilt di dunia. Oke, big applause buat Jepang!!!!


Arena pamerannya guedeeee banget, capenya itu seperti lari pemanasan di lapangan baseball 10 kali. Hahaha, lebay, pernah juga cuma sampe 5 doang, itu juga jaman muda lucu dan imut. Stop! Iya arena display karyanya banyak, dan untuk liat satu karya ga bisa cuma 5 detik. Buat saya bisa menikmati karya karya itu adalah harga yang pantas dengan tiket masuk yang saya anggap mahal tadi. Hehehehe. Setiap ngeliat karya orang, pertanyaan yang ada di kepala saya adalah "ni orang kepikiran apa sih bisa sanggup bikin beginian?". Memang pekerjaan seni itu kadang susah untuk memahami kepala si senimannya.

Selain display karya quilt, banyak juga stand dari toko-toko kerajinan yang  bikin saya cape buat liat liatnya, cape hate, karena ingin hati membeli, tapi apa daya dompet belum mencukupi. Ada juga acara talkshow oleh artis-artis quilt maupun artis lain yang tertarik dengn dunia quilt. Tapi berhubung kami mah ga ngerti apa yang disampaikam, jadi skiiipp aja tanteeee.

Dan setelah puas kelalang keliling, maka kami pun pulang dan berpisan dengn rasa suka cita.
The end.

(Tanya om wiki tentang quilt)




01 Mei 2011

bukit bunga

Memasuki liburan Golden Week, kami cuma punya dua rencana: 1. bazar golden week di SRIT tanggal 1 Mei, 2. nonton bola di stadion tanggal 3 Mei. Tanggal merahnya sendiri ada di tanggal 29 April, dan 3,4,5 Mei. 30 April memang bukan termasuk libur Golden Week, hanya libur akhir pekan biasa, tapi suasana hari itu terbawa suasana liburan satu minggu, yang ngebuat objek wisata di kawasan Jepang menjadi padat. Hari Sabtu itu, 30 April, kami tidak punya rencana apa-apa. Namun sehari sebelumnya, saya ngotot pengen diajak keluar rumah. Kemana kek, pasalnya kalaupun diajak keluar, pasti diajak maen bola di lapangan kampus. Fuh! (-.-! )
Tapi dia luluh juga, mau juga dia diajak pergi. Pertanyaan berikutnya, kemanakah akan pergi? Saya disuruh cari-cari tempat menarik yang bisa dikunjungi. Browsing browsing lah akhirnya dengan keyword: Tourist place in Saitama. Gak lama munculah hasil pencarian. Beberapa tempat pernah kami kunjungi, sampai akhirnya gatau gimana nyambung lah ke sebuah blog milik entah siapa.


Dari blog itu saya membaca revieuw sebuah tempat yang berlokasi di Chichibu, Saitama bagian barat. Sebuah taman yang di salah satu bagiannya ditanami tanaman Shibazakura. Sehabis pohon sakura tunai beroperasi selama 2 minggu kurang, giliran shibazakura ini yang akan muncul dimana-mana. Sebenarnya di tengah kota, di jalan2 pun banyak yang menanam Shibazakura ini, cuma di taman Hitsujiyama ini sengaja ditanami dengan 400ribu pohon di area seluas 16500 meter persegi dengan 9 jenis varietas yang berbeda.

Pas, saya suka tempat itu. Tanpa pikir panjang, saya dan dia berangkatlah kesana.
Cuaca hari itu tidak begitu cerah, sedikit mendung-mendung kelabu. Berangkat dari rumah jam 9 pagi, dengan harapan sampai sana sebelum siang dan jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. 4 kali pindah kereta ditambah waktu menunggu kereta, alhasil sampai tempat tujuan jam 12.30. Di stasiun pemberhentian, penunjuk jalan, peta lokasi sudah terpasang lengkap. Tidak susah untuk mencapai tempatnya, karena hanya tinggal mengikuti arus manusia yang tujuannya sama.

Ketika menginjakkan kaki di taman dan ngeliat ke sekeliling, huwaaaaaaaaaaaaaa....bagus, kirei, keren, mantap, cantik, Subhanallah. Bagus banget, kebangetan bagusnya. Bunga shibazakura ditanam diatas bukit-bukit. Ada yang pink, ungu, putih, semuanya padat mengisi permukaan tanah yang bikin mata enak memandang bunga-bunga itu. Belum lagi latar pemandangan di balik bukit yang berupa gunung dan hutan. Setiap alan beberapa langkah pasti terdiam sejenak untuk cekrak cekrek ambil foto. Atau jongkok untuk ngeliat bunga dari jarak dekat. Pikiran jadi seger banget deh.

Jam makan siang tiba, kami mencari posisi wenak untuk menikmati makan siang. Kami membawa bekal 2 onigiri untuk masing-masing, minuman botol, keripik, dan coklat untuk dimakan sambil menikmati cantiknya hamparan bunga. Kenyang perut tapi mata belum kenyang. Kami pun berjalan-jalan lagi sampe kaki pegel-pegel. Semua foto sudah terambil dari berbagai sudut, atas, bawah, samping, completed.








Andaikan saya seorang model, pasti saya akan dengan sigapnya berpose bareng si bunga-bunga itu. Hahahaha..engga deng, cukup pemandangan nya aja yang difoto, lebih cantik itu kok. *tetep sambil nodong ke aa untuk motoin saya terus*.

13 Februari 2011

kajian dan pasar

Hari ini adalah hari yang telah direncanakan oleh saya dan aa untuk ikut kajian yang bertajuk KIMOCHI yakni kependekan dari Kajian Islam Okachimachi. Okachimachi adalah salah satu nama tempat di Tokyo, letaknya antara Ueno dan Akihabara. Di Okachimachi ini ada sebuah masjid yang baru didirikan dan memiliki nama Masjid As-Salam. Saya tak tahu kapan tepatnya masjid itu berdiri, yang pasti ketika tadi pagi saya kesana, tampak depan bangunan dan ruang shalat nya sudah jadi. Tapi ada sebagian lahan yang belum selesai yang rencananya akan dijadikan sebagai muslim center (ini menurut info yang saya terima). Singkat cerita, KIMOCHI yang saya ikuti ini baru berjalan 3 kali pertemuan, dan yang hari ini adalah kali pertama saya dateng. Yang dikaji dalam majelis ilmu ini adalah tafsir Al-Quran dengan ustadz tetap di setiap pertemuannya. Kegiatannya tiap 2 minggu sekali. Waktu yang sangat pas menurut saya. Alhamdulillah memang kajian inilah yang selalu saya tunggu,secara kalo mengkaji sendiri (baca: baca dari buku), yang ada malah semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak saya, dank arena gak tau harus dijawab pake apa, akhirnya pertanyaan2 tersebut menguap dengan sendirinya. Heu!
Segitu dulu kesan tentang kajiannya. Dari masjid saya menuju agenda selanjutnya.

Hari ini pun adalah hari yang telah direncanakan oleh saya dan aa untuk belanja ke pasar Ueno. Bukan Ueno park yang sudah beberapa kali saya kunjungi. Lebih tepat ke pasar bawah tanah yang ada di Ueno. 20 Feb nanti akan ada silaturahmi keluarga Saitama di tempat kami. Saya belum punya pengalaman untuk bikin makanan dalam porsi besar. untungnya saya punya tetangga yang super baik hati mau bantuin saya, mungkin lebih tepatnya dia yang masak dan saya yang tetep bantuin beliau masak, hehehe. Semua ide menu dari beliau, bahkan bahan2 apa saja dan dimana harus membelinya pun beliau yang menuliskan rapi untuk saya. Oleh karena itulah, hari minggu ini saya mampir ke pasar Ueno, pasar yang beliau rekomendasikan.
Bisa sampai ke pasar bawah Ueno adalah berkat kebaikan hati sang suami tetangga saya itu. Saya dan aa diantar beliau sampai ke tempat,dan kemudian dia meninggalkan kami berdua. Pasar. Ya memang terlihat seperti pasar, seperti pasar kosambi, seperti pasar balubur, seperti pasar kordon, ya pasar tradisional yang ada di bandung lah. Bedanya terletak pada kebersihan tempat, yang dagang nya juga bermata sipit dan berkulit putih, dan semua bahan ditulis dalam bahasa Inggris atau Jepang. Pedagang dan pembeli didominasi oleh orang2 dari negara yang terkenal dengan beras dan gajahnya.

Ketika dipasar, untuk beberapa barang yang kami cari bisa kami temukan dengan mudah. Tapi akibat kebutaan dan ketidak meneketehe an saya akan bau, bentuk fisik, dan nama lain si bahan yang akan kami beli dalam bahasa Inggris, kami sempet tawaf keliling pasar. Pelajaran yang sangat penting bagi saya: sebaiknya tahu nama suatu bahan makanan/barang dalam bahasa Inggrisnya. Tapi kekonyolan juga ga dateng dari saya ajah. Jadi dalam daftar bahan-yang-harus-saya-beli dari tetangga saya, tertulis jagung muda. Entah kenapa kok yang ada di dalam otak saya itu jagung semi. Maka dengan pede saya tanya ke pedagang disana “baby corn ga aru?” (ada baby corn?), dan si pedagang langsung bilang “ah,,,arimasu!” (ada!). Senyum2 lah muka saya, dia pun menyodorkan saya sebotol “Baby Oil” merek John*on And Joh*son. Astagfirullah,,si gue pasti salah spelling. Atau salah tanya. Tapi yang jelas salah adalah: Kenapa ada baby oil di pasar makanan?. Tapi gak lama si pedagang ngerti apa yang saya tanya, dia bilang “ohhhh itu sih beli ajah di supa kaya ito yokado” (ini udah saya terjemahin, supa  supermarket). Fiuh!

23 November 2010

lampung oh lampung

sekarang saya ada di lampung. rencananya akan ada di lampung dari tanggal 20 november sampai 2 desember nanti. dari palembang saya naik kereta malem menuju lampung, menempuh kira2 11 jam. perjalanan di kereta cukup melelahkan, selain banyak berenti nya yang membuat kereta sampai lebih lama, juga karena AC yang di set 8 derajat sepertinya, bikin saya gak bisa tidur di dalam kereta karena menggigil. sampai di lampung, saya cukup senang karena udara tidak se hot palembang, di lampung lebih adem ayem.
saya mengunjungi kaka saya yang pertama. ini adalah kali ke 4 saya kesini. sudah 10 tahun sejak dia menikah dia menetap disana. dia seorang pengusaha, punya percetakan. dan kebetulan saat ini orderan undangan sedang menumpuk. alhasil waktu jalan2 dan menikmati alam lampung sedikit tertunda. saya memilih membantu melipat beribu2 undangan itu agar kerjaannya cepat selesai. rencananya saya disini akan berkunjung ke ruma bu fitri, teman saat bertemu di jepang kemaren, juga mengunjungi keramba ikan milik teteh ku itu.

hot plembang

tanggal 18-20 November kemaren saya, mamah, dan kakak ketiga beserta keluarganya berangkat ke palembang. ini karena sepupunya kakak ipar saya yang orang palembang menikah disana. dan karena sepupunya itu sekolah di bandung dan saya cukup kenal dengannya, maka saya pun mau2 aja diajak ke sana. saya belum pernah berkunjung ke palembang.
pertama kali saya naik pesawat domestik (hehehe norak). saya sampe palembang di sambut dengan cuaca yang cukup cerah. bandara di palembang lebih bagus (menurut saya) dibanding bandara soekarno-hatta.
palembang sudah pasti sangat dikenal dengan pempek, tebak sajah, 3 hari 2 malem saya di palembang, tiap jam makan ada pempek nya. dari yang model, kapal selam, dsb. saya cukup sering makan pempek yang dikirim dari kakak ipar saya itu, tapi kali ini, ampun deh,,,perut rasanya udah mekar gara2 pempek.
selain pempek, ciri khas dari palembang adalah jembatan ampera. lumayan lah sempet mejeng dari kejauhan dengan berlatar belakang jembatan tersebut. aduh saya pengen cerita lebih detail tentang perjalanan saya kemaren, cuma kok rasanya malas yah,,hehehehhehe

tapi kesan yang tak bisa terlupakan dari plembang adalah udaranya yang super duper puanas (comaper to bandung, hehehehe)