Saat pulang dari tempat di daerah Meguro, saya membeli tiket kereta seharga 450 yen. Saya pikir harga tiket dari stasiun Meguro hingga stasiun Minamiyono itu ya tarifnya segitu, 450 yen. Namun saat di pintu keluar stasiun Minamiyono walaupun pagar tetep terbuka, ada tulisan bahwa tiket eror. Karena orang di belakang saya banyak, jadinya saya terus maju aja keluar. Beberapa langkah saya berjalan, ada perasaan ga enak, akhirnya saya cek lagi tarif kereta dari Meguro ke Minamiyono. Ternyata benar, harga tiket bukan 450 yen melainkan 540 yen. Akhirnya saya kembali lagi ke loket tiket yang ada penjaganya, dan bilang kalau tadi saya salah beli tiket. Si penjaga tiket pun mengerti, karena memang tiket yang saya masukan di pintu keluar tadi tidak mau ditelan oleh mesin tiket. Saya meminta maaf dan membayar sisa kekurangan tiket sebesar 90 yen.
Saya bersyukur, masih disadarkan kalau saya beli tiket, bersyukur masih ada keinginan untuk balik lagi ke tempat tiket dan membayar kekurangannya. Kalau pun mau nakal, saya bisa aja cuek bebek ninggalin stasiun dengan beban hutang 90 yen. Ga dikejar dan ga ditangkep juga.
Buat orang2 dari negara berkembang seperti saya, kesan pertama terhadap Jepang adalah disiplin, bersih, rapi, aturan ditegakkan dimana-mana. Memang tak dipungkiri, bahwa semuanya sudah tersistem dengan baik. Yang membuat sistem maupun pelaku sistem. Mau tak mau, saya sebagai pendatang pun harus dong ikutin aturan yang ada, toh memang aturan yang berlaku juga baik. Hebatnya lagi, jangan anggap sistem ini sempurna. Buktinya ketika saya di stasiun tadi, walaupun tiket tak ditelan, pintu gerbang bisa terbuka. Artinya masih ada kecacatan dalam sistem yang dibuat, masih ada saja peluang untuk berbuat curang. Namun hal itu sudah diantisipasi dengan tingkat kesadaran orang Jepang yang sangat tinggi. Dengan itu, tingkat kegagalan dari sebuah sistem pun bisa diminimalisir, walaupun ada juga orang yang kadang-kadang tidak sadar akan aturan disekitarnya.
Korupsi jarang terdengar. Seorang menteri yang menerima uang pun bisa mengundurkan diri karena malu. Ketakutan terhadap "mata orang lain" yang membuat orang Jepang sangat sadar diri. Karena saking "baiknya" orang Jepang ini, kadang disalah artikan oleh orang asing. Hal-hal yang sepatutnya dijadikan amanah, malah diselewengkan menjadi kesempatan bagi mereka "yang tidak mengerti orang Jepang" untuk memenuhi kesenangan pribadi tanpa melihat kepercayaan yang diberikan oleh si orang Jepang. Seolah-olah mereka cerdik telah membodohi si Jepang. Kesal sekali melihatnya, namun tak ada yang bisa diperbuat juga selain menjadikan itu sebagai pengingat untuk diri sendiri.
Bagaimanapun akhlak/moral/perilaku lah yang menentukan keberhasilan sebuah sistem.
wow. luar biasa,, mau gak mau jadi kudu ngikutin cara hidup disananya,,
BalasHapus*itu postingan haji kenapa ga ada yah??
eh ada kang mahmuy,,,kalo dikasih hidayah mah, muoga2 aja tetep bisa kebawa kebiasaan2 nya setelah pulang nanti...
BalasHapus*iya dihapus,,engga ah, ga pantes untuk ditulis,,sudah sempet ngintip ye? awas bintitan...hihihihi