Pernahkah saya menulis sesuatu tentang wanita yang pernah melahirkan saya? Yang sampai saat ini saya memanggilnya, mamah. Memang pasaran kata-kata itu untuk digunakan, tapi kepemilikan dari kata itu tentu tidaklah pasaran. Mamah adalah panggilan unik untuk seorang wanita yang sudah melahirkan. Pernah suatu hari di waktu kecil saya bertanya, “Kenapa tetangga depan dipanggilnya mamih sih? Ko orang bule manggilnya mom?”. Tetangga saya kebanyakan orang keturunan. Saat itu saya bertanya entah pada siapa, tapi saya ingat kala itu yang menjawab adalah paman saya yang memang hobi bercanda, “Mamah itu dari Belanda, Mamih itu dari Belandi”. Saya hanya tertawa tapi tidak puas juga. Dan saya selalu berkesimpulan kalau Mamah itu digunakan oleh orang muslim, dan Mamih itu digunakan oleh orang keturunan. Pemikiran yang sempit! Namun, apalah arti sebuah nama, baik mamah, mamih, ibu, umi, bunda, mom, ambu, adalah panggilan kehormatan dari manusia yang berstatus anak dan juga penghargaan bagi seorang wanita yang pernah melahirkan.
Mamah saya yang berbadan pendek adalah wanita yang sekarang sudah tidak muda lagi, usianya terpaut 39 tahun dengan saya. Walau begitu hobinya yang jalan pagi dan beredar ke pengajian sekitar rumah masih terus dilakoninya. Belum lagi kegiatan santunan di rumah sakit demi memberikan semangat kepada orang yang sakit serta sebagai pengingat untuk dirinya sendiri bahwa nikmat sehat adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Mamah yang berbadan kecil itu beruntung bisa menikahi seorang pemuda berperawakan tinggi sehingga bisa menghasilkan keturunan satu-satunya berbadan tinggi seperti saya. Banyak cerita yang pernah ia ceritakan ketika masa mudanya. Salah satunya ketika bagaimana ia disekolahkan ke Bandung hanya karena bapaknya, mbah saya, mengira bahwa dua kata di depan sebuah nama sekolah menengag bernama “St Angela”, adalah diperuntukan untuk kata SITI. Yang berarti jika saya bisa menyelami pikiran mbah saya, maka mbah memilih untuk menyekolahkan putrinya itu ke sekolah bernama “Siti Angela”. Saat itu, sekolah tersebut hanya diperuntukkan untuk wanita saja, jadinya mbah pun merasa aman mengirim anaknya ke Bandung tanpa mengetahui bahwa sekolah tersebut adalah sekolah yang mengajarkan ajaran agama lain. Tapi dengan bermigrasinya Mamah ke kota Bandung, maka gadis yang berasal dari Kota Banjar, Ciamis itu sedikit mulai menemui pencerahan. Memang seperti itulah yang diharapkan kedua orang tua Mamah. Selepas SMA, mamah diterima di Fakultas Ekonomi UNPAD. Kampus yang cukup bergengsi pada jamannya, juga pada saat ini tentunya. Kalau kebanyakan laki-laki saat itu bersarang di kampus Ganesa, nah yang gadis ini bersarang di UNPAD. Jadi tidak aneh jika banyak dara UNPAD atau dara dari kampus lain pun mondar-mandir ga jelas di kampus Ganesa demi mendapatkan lelaki yang di jidatnya bertuliskan “ANAK ITB”. Si Mamah pun, hemmmm...saya lupa melakukannya atau tidak, namun saya tau mamah punya usaha kearah sana. Pertemuan mamah dan papah sih seinget saya di kereta. Saat itu mamah dengan seseorang temannya hendak pergi ke Jakarta, sedangkan si papah adalah saudara dari temennya mamah itu yang saat itu hendak bertolak ke Jakarta juga untuk pulang. Pendek cerita, romantisme mereka berdua pun dimulai, dan mereka memutuskan menikah di tahun 1977. Pada saat itu papah dan mamah masih sama-sama berstatus mahasiswa tahun ke....jangan sebut tahun keberapa, yang pasti mereka masuk kuliah itu tahun 1969. Baru pada tahun 1978 papah lulus kuliah dan sudah memboyong seorang isteri dan dua orang anak pada hari wisudanya. Kuliah mamah sayang sekali harus terputus karena tuntutannya sebagai isteri. Kalau mendengar tuntutan tuh kesannya sesuatu yang dipaksa ya, ya sudah saya ganti. Kuliah mamah sayang sekali harus terputus karena sangat menikmati perannya sebagai seorang isteri. Padahal saat itu, hanya tinggal beberapa langkah saja menuju kelulusan. “Allah memang sudah berencana”, begitu yang selalu mamah bilang. Dan mamah sangat tidak ingin anaknya sampai ada yang putus sekolah.
Mamah yang sekarang saya kenal adalah mamah yang kuat. Tentunya semua itu tak lepas dari pengalaman hidup yang pernah dia alami. Kemandirian yang ditanamkan Emak, ibunya Mamah, sejak kecil membuatnya tumbuh menjadi wanita yang serba bisa. Mbah yang cukup tegas kepada dirinya, yang selalu melarang ketika mamah ingin pergi ke musola untuk belajar ngaji, membuat dirinya semakin penasaran tentang ilmu agama islam. Hidup terpisah dari orang tua dan tinggal dengan sanak saudara yang ada di Bandung juga pernah mamah ceritakan, ada pahitnya dan ada senangnya. Dan karena pengalaman pahit yang pernah ia terima juga, makanya mamah selalu ingin bersikap baik terhadap semua saudara yang tinggal di rumah. Beberapa sepupu saya pernah tinggal di rumah, dan mamah selalu menganggap mereka sama seperti anak sendiri. Kekuatan mamah memang mengalami peningkatan pesat ketika di tahun 1987 anak ketiganya diambil Sang Pencipta. Di tahun yang sama pula Emak harus kembali ke Sang Khalik. Ternyata setelah itu juga, tepatnya setahun setelah kejadian itu, pria yang selama 11 tahun menjadi suaminya dan menjadi bapak bagi keempat anaknya harus juga berpulang pada Yang Maha Pencipta. Allah SWT memang menyayangi orang-orang terdekat mamah sehingga Ia memanggil mereka duluan, namun Allah SWT pun lebih sayang berjta-juta kali lipat pada mamah saya. Saya teringat ketika kesedihan melanda Rasulullah di tahun dimana isterinya Khadijah dan pamannya wafat. Itu adalah menjadi tahun tersedih bagi beliau. Begitu pun yang saya bayangi ketika mengingat wajah mamah di tahun-tahun itu. Betapa banyak air mata yang sudah ia tumpahkan, saya tidak pernah tahu. Betapa banyak doa yang sudah ia lantunkan, saya tidak pernah tahu. Yang saya tahu bahwa Allah masih mendengar doa-doanya dan mengganti air matanya dengan nikmat keimanan yang ia rasakan sekarang ini. Wajah kami, saya dan ketiga kakak perempuan saya yang pada saat hari-hari duka itu masih sangat imut nan lucu, mungkin menjadi kekuatan buat mamah untuk tetap bangkit, berdiri, dan berjalan.
Single fighter, begitu orang menyebutnya. Pagi-pagi sehabis shalat shubuh, mamah langsung pergi menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuk kami yang akan pergi ke sekolah. Setelah semuanya berangkat, mamah akan menyetir Daihatsu Hijet biru tuanya dengan gagah menuju ke kantornya. Kantor, tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Namun atasan tempat papah bekerja sebelumnya, memberikan tempat untuk mamah bekerja disana. Bukan pegawai negeri sipil memang, hanya tenaga honorer yang gajinya cukup untuk menyambung hidup. Untuk menambah pendapatan keluarga juga, pernah ada drum minyak di garasi rumah saya dan beberapa karung beras. Bukan tujuan penimbunan, walau saat itu harga sembako sedang ada di puncak jaya. Namun drum dan karung-karung itu dibelinya dari seorang penjual, yang kemudian mamah menjualnya kembali ke kenalan sekitar rumah dalam bentuk kiloan. Bisnis katering pun pernah menjadi tambalan dalam kehidupan finansial keluarga kami. Bisnis pakaian anak-anak, kerudung eceran, baju muslim, apa saja agar bisa tutup gali lubang keuangan kami. Saya memang tidak pernah diminta juga untuk membawa makanan, baju, minyak, atau beras untuk didagangkan di sekolah. Selain mamah yang tidak menyuruh, saya juga tidak inisiatif untuk melakukannya. Dibilang sudah kaya, tidak. Dibilang miskin tidak juga. Dibilang tidak susah, tidak juga. Ya kehidupan saat itu saya kira mengalir-ngalir saja, kerumitan yang ada di benak mamah, tidak pernah diperlihatkannya kepada kami. Mungkin teteh, kakak pertama, yang cukup mengetahuinya. Kerumitannya itu baru saya ketahui ketika saya sudah kuliah.
Jam 2 siang adalah waktu yang membahagiakan buat saya. Kenapa? Karena akan ada suara klakson mobil khas Hijet yang bunyi di depan rumah, dan saya akan berlari dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu rumah, serta masuk ke dalam mobil. Jarak yang pendek saja untuk menikmati mobil. Tapi setiap hari saya lakukan karena kepulangan mamah ke rumah adalah hal yang membahagiakan. “Bawa oleh-oleh apa hari ini?”, tanya saya pada mamah ketika kami turun dari mobil. “Dari kantor kok, ya ga bawa apa-apa”, jawab mamah. Ada kekecewaan datang, tapi tak setiap hari juga. Karena sering juga mamah pulang membawa macam-macam, buah-buahan, ayam goreng bekas makan siang, coklat yang dikasih dari atasan sebagai oleh-oleh perjalanan dinas, dan banyal jenis lainnya yang saya lupa. Tidur siang adalah kebiasaan mamah setelah pulang kantor, dan sampai sekarang pun masih dilakukannya. Aktifitas dari sebelum shubuh hingga jam 2 siang cukup membuat badan ia kelelahan. Maka satu jam hingga 2 jam berbaring di kasur depan televisi atau sofa menjadi pilihannya melepas kelelahan. Demi keseimbangan kehidupan, pemenuhan kebutuhan rohani tidak lupa mamah cari. Semenjak sepeninggalan papah, Allah membimbing mamah untuk lebih dekat dengan Nya. Mulai menutup aurat sempurna (kala itu menutup aurat sempurna masih dilarang oleh pemerintah, bahkan dianggap kampungan bagi sebagian orang), mendatangi majelis-majelis ilmu, berkegiatan sosial di hari sabtu dan minggu. Waktu sore di hari-hari kerja adalah waktu untuk mamah mencari ilmu. Pergi ke masjid terdekat atau ke masjid jauh pun dijabanin. Kami pun menjadi lebih sering diceramahi oleh ustadzah pribadi kami, mamah. Pendidikan formal di pagi hari dan pendidikan non-formal a.k.a taman pendidikan Al-Quran di sore hari diberikan oleh mamah. Mamah tidak pernah mengajarkan asal muasal kenapa saya harus shalat, kenapa harus puasa, dan kenapa-kenapa lainnya. Semuanya saya telen bulat-bulat layaknya tahu bulat yang enak itu, tidak tahu apakah si bulat itu baik untuk saya atau tidak,. Seiring waktu berjalan, usia yang bertambah, badan yang semakin tumbuh, otak yang semakin jalan, saya pun belajar memahami apa arti semua suruhan mamah. Mamah memang tidak pandai mengajari, kalaupun memberi nasihat hanya sepotong-sepotong. Namun bagaimana dia menjalankan kesehariannya, membuat saya memahami ajaran yang diajarkan.
“Mamah percaya sama kalian”, adalah kalimat yang terucap waktu saya masih SMP. Saat itu saya yang seperti ABG lainnya pernah nonton ke bazar sekolah tetangga, bilangnya sih akan bermalam di tempat teman, namun sang kakak dari teman saya itu membawa saya dan tiga teman lainnya bermalam di mobil. Saya sih tidur, tapi mobilnya dipake balapan di jalan Supratman. Wah nyesel banget deh sejak saat itu. Awalnya saya tidak cerita ke mamah, tapi lama-kelamaan cerita juga. Dan kalimat yang tadi saya tulis itulah yang keluar dari mulut mamah. Rasanya bener-bener ditampar. Kata maaf yang terlontar dari mulut ini pun tidak ingin berhenti diucapkan. Menyesal. Mamah juga bukan tipe orang tua yang berkata, “Sana belajar dulu!”. Tidak, tidak seperti itu. Mungkin akibat terlalu lelahnya berkegiatan dikantor, mamah tidak punya kekuatan untuk menyuruh dengan cara seperti itu. Saya juga jarang melihat ketiga kaka saya diperlakukan seperti itu. Paling-paling mamah hanya bilang,”Gapapa ga belajar, yang penting hasilnya bagus”. Seperti yang tidak mau tahu tentang bagaimana kondisi akademik anak-anaknya, tapi diam-diam beliau juga mengawasi kami. Refleknya kami pun malah menjadi belajar lebih tepatnya duduk di meja belajar selama beberapa jam dengan perbandingan waktu antara belajar sungguhan dan melamun serta ngoprek-ngoprek ga jelas adalah 20% : 80%. Dari pengalaman mengambil rapot keempat anaknya, ada kalanya mamah dipanggil duluan dan ada kalanya mamah dipanggil belakangan, yang arti pemanggilan urutan orang tua itu merepresentasikan peringkat di kelas. Tapi mamah juga tidak sampai memarahi jika urutan kami ada di bawah, juga tidak memberi hadiah khusus ketika peringkat kami diatas. Hanya pujian dan nasihat-nasihat saja yang ia berikan.
Sampai usia kuliah, saya jarang sekali mencurahkan isi hati, pengalaman di luar rumah kepada mamah. Saya pikir saya tidak bisa terbuka dengan mamah, dan mamah juga jarang mendekatkan diri kepada anak-anaknya hanya untuk sekedar bertanya “Bagaimana hari ini di sekolah? Menyenangkan tidak di sekolah?”. Saya juga tidak menuntut seperti itu. Sepertinya diri ini sudah paham tentang situasi yang dihadapi mamah, dan saya tidak akan membuat urusan saya menjadi beban buatnya. Makan malam dan meja makan merupakan tempat paling nyaman untuk saya. Dari sana betapa kehangatan keluarga saya rasakan. Kami bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan di luar rumah hingga kadang sampai larut malam. Tidak ada cerita sedih dari mulut ini keluar. Baru kuliah tingkat akhir, ketika kedua kakak saya sudah menikah dan tidak lagi tinggal di rumah, saya dan mamah bisa berbicara banyak hal. Saya mulai memberanikan diri untuk menceritakan kesulitan-kesulitan, ketidaknyamanan, menanyakan perasaan mamah, bahkan pernah saya berani untuk membantah pendapat mamah. Pernah suatu hari ketika saya berada di kampus, saya mendapatkan telepon masuk dari mamah. Awalnya mamah menanyakan jam berapa saya akan pulang, namun tak lama kemudian ia menangis karena ada pertikaian dengan kakak saya. Tanpa sepengetahuannya, saya pun ikut nangis. Siapa yang tega membuah mamah saya nangis?pikir saya tanpa mau tahu bahwa seseorang itu mengacu pada orang terdekat. Dia sakit, saya juga sakit. Itu yang saya alami. Saya merasa, usia mamah yang tidak muda, yang sudah tidak bekerja, kehadiran orang lain untuk sekedar mendengar ceritanya menjadi sangat penting. Penting untuk psikologisnya juga kesehatan fisiknya, setidaknya begitu yang saya dengar dari orang juga dari artikel yang saya baca. Mamah akan sangat khawatir jika anaknya yang tinggal berjauhan tidak meneleponnya. Orang tua mana sih yang tidak khawatir jika dibegitukan. Jika sudah terlalu amat lama, maka mamah akan menghubungi kami duluan. Dan pelajaran yang saya dapet, jangan pernah tanya “Kok tumben mamah nelpon?”. Apa sayang itu butuh waktu khusus? Engga kan. Melihat anak-anak yang dilahirkannya sudah besar dan punya kehidupan sendiri tentu membuat mamah merindukan masa-masa mengasuh kami. Dengan senyumnya selalu ia mengukirkan rasa syukur bahwa dia telah berhasil melewati masa-masa sulit dulu. Bahwa pertolongan Allah akan selalu datang jika kita beriman, bukanlah suatu omongan belaka. Saya percaya itu karena mamah sudah membuktikannya.
speechless..
BalasHapuslike this a lot:)
BalasHapus*tumben indah nulis kaya gini. menunjukkan betapa hebattnya mamah untuk indah:)
@kang muy: cukup kang,,,kang mahmuy sudah terlalu banyak bicara,,,hehehehe*naon seh!!
BalasHapus@teh acit:wow, di like sama penulis hebat euy,,
tumben ya?ah engga juga, suka kali nulis nulis yang aga puitis mah, cuma langsung di ctrl+A trus delete lagi..
semua mamah juga hebat buat anaknya masing2 ^_^v