saya pernah punya pengalaman tentang saya yang meminta maaf pada ibu saya.
waktu kecil, hal yang paling susah ketika saya membangkang dari orang tua, atau saya marah atas keinginan-keinginan saya yang tidak beliau kabulkan, adalah mengucapkan maaf. ya susah sekali. rasanya ada perasaan gengsi. suatu hari ketika berangkat ke sekolah dengan perasaan marah ke ibu, bahkan sampai tidak mencium tangan bersalaman, hati saya sakiiiiiittt sekali, rasanya merasa tidak diridhoi. walaupun perasaan malu, marah, sakit itu hilang seiring waktu, dan ibu pun kembali bersikap normal, kehidupan pun kembali seperti semula. tapi tetap tidak ada kata-kata meminta maaf dari saya.
setelah beranjak gede, saya lebih manut manut, ngalah atau diam saja ketika ada perbedaan pendapat. saya gak mau ada konflik dengan orang tua saya.
sampai suatu hari, ketika saya dan ibu berkunjung ke rumah saudara di jakarta, di dalam mobil yang isinya saya, ibu, dan dua orang ua saya mengobrol tentang sesuatu. saya lupa persis kejadiannya seperti apa, kami mengobrol dan saya pun mengeluarkan kata2 yang seolah2 menyerang ibu saya. terlihat dari perubahan wajahnya dan suaranya bahwa hatinya tersakiti oleh perkataan anaknya. saat itu ibu saya merespon hanya dengan berusaha mengatakan bahwa ia tidak bermaksud melakukan hal yang saya telah katakan itu. tapi kenyataannya, saya sebagai anak selalu merasakan hal yang sebenarnya tidak ia maksudkan..(haduh bingung menuliskannya). ya pada akhirnya, setengah perjalanan saya dan ibu saya tidak berbicara. sampai di rumah ua saya, ada keanehan dalam diri saya. saya merasa sakit sekali menyadari bahwa saya telah membuat ibu saya sakit hati. berpikir serta mengumpulkan keberanian adalah hal yang saya lakukan sebelum akhirnya menghampiri ibu saya. hosh,,daripada hidup dalam ketidakridhoan orang tua yang berujung pada siksa akhirat nanti, lebih baik saya merendahkan hati saya untuk meminta maaf sedalam2nya atas ucapan yang saya berikan. susah sekali, tapi setelah saya melakukannya hatipun rasanya plong.
sekarang saya selalu berpikir, apa yang membuat saya menjadi seperti itu, tidak berani mengungkapakan rasa maaf atau terimakasih, tidak lepas berpendapat dengan orang tua, bahkan bisa dibilang tidak terbuka terhadap lingkungan luar. tak terpungkiri bahwa faktor pengasuhan orang tua bisa jadi salah satu penyebab. seharusnya orang tua itu seperti ini, harusnya orang tua itu seperti itu... tidak. tidak ada yang salah dari setiap orang tua. menjadi orang tua itu tidak mudah. setiap orang tua memiliki cara dan kemampuannya sendiri dalam membesarkan anak, tidak semua hal2 teori yang dianggap benar bisa dipraktekan oleh orang tua. setiap orang tua punya pertimbangannya sendiri. keterbatasan ilmu agama, ilmu mendidik anak, bahkan keterbatasan ekonomi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada pola pengasuhan anak. jangan menyalahkan orang tua, karna tidak ada orang tua manapun yang menginginkan anaknya menjadi seorang penjahat, menjadi pembangkang.
saat kita tahu ada yang kurang dari apa yang telah orang tua berikan, maka ambilah nilai positif nya saja.luruskan apa yang kita anggap belum tepat. dan jangan sekali-kali membandingkan jerih payahnya membesarkan kita dengan hal lain. kita mesti bersyukur bisa diberi kesempatan untuk bisa menggapai pintu surga melalui pengabdian kita pada orangtua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar