drrrrrtttt drrrrrrt drtttttttttt...(bunyi geter hape), tak lama saya angkat teleponnya.
"tante indah, hari senin ada waktu gak? bantuin presentasi di sekolah anak-anak yu! kita buat makanan juga, tapi apa ya...", kira kira begitu suara Teh Dewi di ujung telepon. Saya hanya "haik" sajah, tanda bersedia, dan mengusulkan beberapa menu makanan kecil untuk presentasi tentang Indonesia di depan murid kelas 5 SD.
Bukan saya yang bakal presentasi, kalau saya yang presentasi, dijamin si anak2 yang denger bakal cengok ga ngerti apa yang saya omongin. "ni orang ngomong apa sih,,,," atau "huaaahhhh,,mending baca sendiri dari internet", mungkin begitu yang ada di pikiran mereka.
Tapi yang akan berdiri dan ber cas-cis-cus tentang Indonesia itu Pak Ewin, suaminya Teh Dewi. Kami kami (saya dan aa), hanya sebagai tim sukses saja. Sukses bikin anak-anak kembali bergumam dalam hatinya, "ni orang dua, ngapain juga berdiri disitu tapi gak ngapa-ngapain,nyempit-nyempitin tempat ajah". Tapi Alhamdulillah, selama pengenalan itu, tidak terdengar seorang anak2 pun bergumam seperti itu, hahahaha,,ya karena saya emang ga bisa baca pikiran orang. Juga saya dan aa ga gaji gaji buta amat. minimal si aa potrat potret wajah lucu nan kocak nan unik anak-anak Jepang, si saya berpose manis memegang angklung atau megang peta dimana muka saya ketutupan oleh peta yang super badig.
Di waktu pagi sebelum acara presentasi yang hanya berlangsung 30menit itu, saya dan teh dewi menghabiskan waktu 3 jam untuk mempersiapkan makanan Indonesia yang simpel dibuat, untuk memperkenalkan bahwa di Indonesia ada looohhh makanan seperti itu. dan makanan itu adalah jreng jreng,,durugdugdurugdug,,,martabak telor, dadar gulung, dan pisang molen. simpel bukan? bukaaaaaaaannnn!!!! Bukan simpel adalah kata khusus kulit martabak telor yang gagal dibuat. dari malam sebelumnya saya bikin adonan kulit martabak, setengah jam dihabiskan untuk menguleni si terigu sampe kalis yakni sampe otot bisep dan trisep saya hampir kaya Ade Rai. woowwww, lebay sekali. ya ya ya, lupakan proses ngaduk terigu. saya pikir setelah nonton you tube gimana cara emang2 pinggir jalan buat kulit martabak dengan cara dilempar-lempar itu sehingga jadi tipis dan lebar, saya bisa melakukan hal yang sama. tapi ternyata nihil saudara-saudara. yang ada setelah saya lempar-lempar itu, si adonan malah robek berhampuran, keras, dan lain-lain. saya menyerah dan menyarankan untuk beli kulit lumpia udah jadi ajah. kasus selesai! tok tok!
hari kemarin hujan rintik-rintik, plus butiran es jatuh berhamburan dari langit. andai saya bawa mangkok, alpukat, cingcau hitam, sirup merah, akan saya bikin es campur saat itu juga. tapi yang saya dan tim presentasi bawa adalah dua koper besar yang isinya perabotan berkaitan dengan kebudayaan Indonesia. masuk ke gedung sekolah di daerah Saitama rasanya tak ada bedanya dengan gedung sekolah yang ada di Koganei dulu. sepertinya sejak sistem pendidikan dibentuk di Jepang, si menteri pendidikan udah ngasih wanti-wanti "nih, kalo lu pada mau bikin SD di tempat lu, bentuknya mesti begini, harus ada ini, ada itu, mesti sama semuanya. mau yang ada di kota ataupun di desa!". beda sama di Indonesia, yang ada dimana-mana itu ya Badminton. (terinspirasi dari lagu Badminton dimana-mana, di kota dan di desa..) serta gak ada hal yang sama di setiap titik di Indonesia.
hemmmmm...
kembali ke presentasi. di ruang berbeda kami semua mempersiapkan barang2 yang akan kami peragakan, termasuk meminta izin kepada guru yang berwenang untuk memberikan makanan khas Indonesia tersebut ke anak-anak. adalah Eka dan Aziz, putra dari Teh Dewi dan Mas Ewin yang duduk di kelas 2 dan 1 di SD tersebut. izin dari kelasnya masing2 kemudian datang ke tempat kami bersiap untuk ganti baju pake beskap anak2 untuk menyatakan pada seluruh sekolah "kami anak Indonesia". lucuuuuu pisan. lucu bukan pengen ketawa. lucu layaknya anak kecil yang baru bisa ngomong dan nyanyi "catu catu atu tayang ibu".kawaaiiiii...kakkooooiiii...
waktunya tiba, kami berenam masuk ke ruangan, kira2 ada 20 anak disana. ada dua pembawa acaranya juga. acara saat itu seperti sudah ada teklapnya, kita hanya bintang tamu. ada bagian yang ngasih prakata awal, yang ngasih komen, dan yang ngasih penutupan. semua teroganisir dengan baik. penjelasan berlangsung lancar, walaupun ada beberapa menit dimana si anak-anak terlihat sudah malas mendengarkan. sampai akhirnya mereka cenghar lagi ketika mereka diminta memainkan angklung. mereka tampak keheranan mendengar suara klentang kelentung dari alat musik bambu itu, juga tampak takjub ketika si bambu bisa mengeluarkan 7 nada suara.
di penghujung waktu, kita bagi-bagi makanan dong ke mereka. ekspresinya mereka macem2. ada yang alergi pisang dan ga makan apa-apa di awal, tapi akhirnya dia ngambil juga martabak telornya. ada yang alergi telor, dan ga makan satupun, kasihan sekali hidupmu nakkk. ada yang makan pisang sambil bilang, "kore umai, kore umaii" (ini enak, ini enak) tapi kondisi pisang yang dia pegang tidak menunjukan kalo si anak benar-benar menyukai itu pisang, secara kecepatan si anak makan hanya 1 mm/menit. ada juga yang lahap makan jatah punya temennya. ada juga yang merem melek gara-gara keasinan makan dadar gulung. iro iro arimashita.
kami berpamitan. mereka mempersembahkan dua lagu dengan memainkan recorder. saya gak tau lagunya apa, tapi cantik sekali mereka bermain. badan kami saling membungkuk tanda menghaturkan terimakasih dan disela-sela kegaduhan suara "arigatou", terdengar salah satu sensei berkata, "arigatou, mata rainen ne, yoroshiku!", tahun depan lagi? ho ho ho,,,tentu saja, saya akan senang sekali.
kunjungan kesekian kalinya ke sekolah yang ada di Jepang ini sukses membenamkan sesuatu dalam diri saya. ya saya juga belum yakin tentang "sesuatu" itu, tapi gapapa dong curhat dikit.
dan saya akhirnya pulang menuju rumah Teh Dewi hingga akhirnya semangkuk mie rebus buatan Teh Dewi menemani saya di kedinginan cuaca hari itu.
heu..rame:D
BalasHapusiyah, nanti kalo kesini ikutan teh acara2 kaya gitu..
BalasHapus