30 Januari 2014

Jangan melarikan diri ya Ndah...

Setelah tiga minggu belum punya keberanian diri untuk dateng ke kelas bahasa voluntir itu, saya memaksakan diri untuk melawan diri saya yang pengecut ini. Dan tau ga sih, untuk berani menghadapi situasi beginian aja, saya perlu dinasihati dulu gara-gara nama saya disebut salah satu dosen saya di jejaring sosial, lalu beliau mempertanyakan keberadaan saya yang dia pikir saya menghilang. Lalu dari situ saya langsung berpikiran yang super negatif terhadap diri saya yang mungkin sudah mengecewakan beberapa pihak, sehingga saya sulit untuk menampakkan diri dihadapan mereka, bahkan malu untuk berkorespondensi lewat media seterbuka dan seterasyik fesbuk sekalipun. Ada apa sih emang sebenernya? jadi sebenernya saya aja yang punya perasaan berlebihan. Berawal dari diri saya yang sebelumnya di masa masa lalu, ga pernah melakukan segala sesuatunya dengan kemampuan terbaik, dengan usaha terbaik. I knew that is my bad point. Bisa dibilang banyak hal dari saya kecil dulu yang saya tidak lakukan dengan tekad bulat dan usaha maksimal. Bahkan sampai besar pun, masa kuliah, kebiasaan jelek itu masih kebawa. Apa yang saya lalui, saya sudah merasa cukup, tidak ingin lebih. Dan jika itu adalah hasil yang baik, maka saya akan bilang pada diri saya bahwa itu adalah rezeki yang Allah kasih, saya tidak banyak berbuat apa-apa. Jika hasil nya jelek, ya saya menyesal. Tapi parahnya lagi, penyesalan itu terjadi berulang ulang. Fiuhhhh.. karena yang saya pikir adalah saya melakukan untuk diri saya sendiri, mau hasil bagus mau hasil jelek, itu udah jadi konsekuensi saya. Alhasil kelakuan "tidak melakukan yang terbaik" pun kerap berulang terjadi. 

Sampai akhirnya saya melihat orang terdekat saya berjuang sepenuh jiwa raga (hadeeeuh ini mungkin berlebihan ya), untuk tampil sesempurna mungkin, dia tipe yang perfeksionis. Waktu itu saya lupa apa yang dia kerjakan, tapi dia kerjain sebatas maksimal kemampuan dia, lalu (kalo ga salah) hasil dari apa yang dia upayakan itu memang tidak seperti yang dia inginkan. Terus saya tanya, "kecewa gak?", dia jawab "engga! lagian kan usaha maksimal itu bukan melulu untuk hasil yang kita inginkan, tapi sebagai bentuk kepuasan untuk diri kita sendiri". Belum lagi ditambah cerita pengalaman nya yang kerap berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, yang bisa dibilang tempat berpindahnya itu adalah tempat yang dimata kebanyakan orang lebih "parah". Tapi jawabannya dia, "saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk perform di tempat dimana saya ada, jadi ketika saya meninggalkan tempat tersebut tidak ada rasa penyesalan apalagi meninggalkan kesan buruk dimata orang lain. Walaupun pindah ke tempat yang lebih 'parah', keputusan yang udah saya buat adalah sesuatu yang gak boleh saya sesali, dan berbuat maksimal tetap harus dilakukan".

Kayanya saya hampir lupa sama namanya kerja keras, susah payah, dan rasa syukur. Karena kerap saya diliputi penyesalan karena merasa ada kesan negatif yang saya tinggalkan di tempat dimana saya pernah berada. Dan yang lebih parahnya lagi, saya mengetahui hal itu dan melarikan diri dari hal hal yang berhubungan dengan tempat tersebut. Itu yang seharusnya ga boleh terjadi kan. Saya menutup mata untuk melihat contoh orang orang yang berjuang sampe habis energi, saya tutup telinga untuk orang orang yang hidup dengan penyesalan untuk saya ambil hikmahnya. Semua sudah terjadi. 

Sampai dua tahun lalu. Sepertinya saya ingin keluar dari perasaan "merasa cukup", "cukup puas", "menyesal". Saya ingin mengenal "ganbaru" dan memahami kalimat "saigo made ganbaranakereba ikenai". Begitu yang orang Jepang selalu katakan pada dirinya sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Bukannya islam udah ngatur semuanya, bahwa muslim itu harus kerja keras, kerja keras di dunia untuk dapat akhirat, dengan segala bentuk aturan hidup,sikap,akhlak yang sudah ada ketentuan dan contohnya. Kemana saya selama ini?

ah ini kan awalnya mau cerita tentang pertama kali ikut kelasa bahasa jepang, kenapa jadi nyambung kesini ya. ya sudahlah disambung di judul berikutnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar