14 Agustus 2012

Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawan

Mungkin ini bentuk fisik episode yang pernah saya tuliskan sebelumnya, sebagai bentuk awal, sebagai sebuah energi awal,,
Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawan

Adalah Ulpi, Putri, dan Saulla yang kemarin sore memanggil nama saya dengan sebutan “Teh Indah” begitu kerasnya dari luar pagar. Saat itu memang jadwal Kelas Bahasa Inggris, dan sebelumnya saya berniat akan membatalkannya karena harus melancong ke rumah mertua, tapi teriakan mereka yang keras dan cempreng malah membuat saya tidak tega kalau harus membatalkannya. Dan yang terjadi adalah saya malah jadi semangat sore itu.

Ini adalah ketiga kalinya mereka datang. Di pertemuan pertama, hanya ada dua orang saja, di pertemuan kedua, juga dua orang tapi dengan personel yang berbeda, dan yang ketiga ada tiga orang yang datang dengan satu personel new comer, jadi kalo di total sudah ada empat anak. Bahkan minggu lalu saat saya tidak mengadakan kelas, Ulpi membawa delapan orang temannya. Mereka sempat teriak-teriak di depan rumah, tapi sayang saya sedang ga ada di rumah. Gimana ga semakin berapi-api si saya ini buat main sambil belajar sama mereka.

Usianya mereka antara 5-8 tahun, rumahnya rata-rata di wilayah bekas rel kereta ga jauh dari rumah saya tinggal, latar belakang keluarga mereka macem-macem, ada yang ortunya penjahit, buka warung, jual-beli domba/sapi, yang ortunya lebih sibuk ngurusin kerjaan mereka dibanding ngajarin anaknya, karena kalau ga gitu keluarga mereka ga makan. Latar pendidikan anak juga macem-macem,bahkan ada yang harus pindah dari sekolah negeri yang agak elit ke sekolah negeri yang kurang elit (katanya) gara-gara ketidakmampuan “sosial” si anak. Tantangan buat si saya. Satu sisi saya berada di lingkuangn pendidikan anak-anak yang sudah mapan dari berbagai aspek (sistem, finansial, penerapan akhlak), dan satu sisi saya berada di antara anak-anak yang situasinya kebalikan dari itu semua.
baru tiga kali memang, namun tiap kali bertemu mereka berasa sudah kenal sejak bertahun-tahun. Semoga ini bukan hanya kondisi sesaat.

21 Juli 2012

My husband is my leader, my partner, my father, my brother

My husband is my leader, my partner, my father, my brother

kamu yakin kan kalau setiap seorang manusia akan diberi pasangan yang sesuai dengan kualitas si orang tersebut?

Saya memang bukan orang se soleh Fatimah Az Zahra sehingga saya pun tidak mengharap dirimu bagai seorang Ali, tidak juga se soleh Khadijah atau Aisya. Dan kamu pun bukan Rasulullah Muhammad SAW. Saya tidak salah memilih pasangan hidup. Karena Allah sudah mengatur itu, mengatur dirimu untuk jadi bantal tempat saya menangis, menjadi tempat penampungan dan wikipedia saat saya bertanya banyak hal tentang agama kita dan dunia ini, mengatur dirimu untuk tetap ikhlas memakan makanan yang dibikin dari tangan amatir ini. Betapa lelah namun menyenangkan berdiskusi denganmu, ya walau kadang mata ini sambil merem melek menunggu kata-kata terurai dari mulutmu yang keluarnya lama banget. Tapi itulah dirimu, sangat berhati-hati dalam berkata-kata. Memilih kata yang sesuai, yang baik, dan yang mudah dipahami. Dirimu yang sangat hati-hati itu pada awalnya mengusik diri saya yang sangat sembrono. Tapi alhamdulillah, saya pun sedikit tertular tabiat mu itu.

Baik saya dan kamu tak pernah berkata langsung kalau Allah lah dasar mengapa kita bersama. Tapi saya tau itu, kamu pun tau itu. Saya mungkin sempat iri dengan beberapa teman yang dengan ringannya mengucapkan “mencintai pasangan karena Allah”. Saya memang tak bisa ngungkapin langsung, tapi Insya Allah saya juga punya perasaan ke kamu seperti itu. Kita ini bagai anak-anak yang sedang berpetualang. Bersama-sama belajar kembali apa yang hendak kita cari. Bersama belajar kembali mana yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Tak apa kamu tak se soleh itu sekarang, namun yang paling penting semangat untuk terus belajar mengalir terus di diri kamu dan saya.
Sebuah kalimat di malam kita bersama “Jika sesuatu hal terjadi pada kita, ingat kita kembalikan semuanya pada Allah, pada surga yang akan kita tuju”. Yah saya masih ingat itu. Dulu saya selalu ingin kamu yang seperti ini, kamu yang seperti itu. Saya berusaha untuk membuatmu seperti apa yang saya mau. Ternyata tak ada gunanya. Biarlah kamu jadi kamu yang seperti itu, dan saya yang seperti ini. Bukankah kita punya hati yang bisa terus dilapangkan. Si kaka pernah bilang sesaat sebelum dia menikah “gue kan nikahin kekurangannya dia, bukan kelebihannya”. Yup, now i agree with her. Maaf ya saya suka masak keasinan. Maaf ya saya suka ngajak bercanda di saat kamu udah siap mau shalat. 

Semalem kita ngomong “si ini ibunnya punya ini, bapanya punya itu, anaknya punya semuanya. Kita, anak kita nanti punya apa?” dan dengan ringannya saya menjawab “punya semangat buat hidup”, dan kita tertawa bersama. Punya semangat buat hidup yang sesuai dengan aturan Allah, itu terusannya. Allah mah Maha Mengetahui.

Yang Sempat Ditulis

foto danchi di depan apato (fotonya Mba Mia)

Ternyata dulu pernah nulis ini ketika sampai di Indonesia bulan Maret lalu....

Hari itu cuaca sedikit gerimis. Mata kami masih ingin sekali tertutup, kami baru tidur jam dua dini hari dan tiga jam seolah cepat sekali berlalu. Jam lima pagi kami sudah bersiap shalat shubuh, mandi, dan mengecek untuk terakhir kalinya memastikan tidak ada barang yang terlupa serta membereskan semua benda untuk kemudian mengamanahinya kepada penghuni berikutnya. Sungguh ingin aku menatap lebih lama lagi rumah yang berada di belakang balkon tempat kami. Ingin rasanya menyimpan seluruh memori yang sudah kuhabiskan di tempat ini. Suara anak tetangga yang selalu ramai ketika jam sekolah, suara para penghuni rumah membuka pintu jendela mereka, suara burung gagak di pagi hari. Hari itu hari sabtu, sehingga tak ada anak yang pergi ke sekolah. Jendela pun masih tertutup rapat, karena kami terlalu dini terbangun.

Kupanaskan air diatas kompor. Membuka tutup terakhir dari semangkok mie instan yang baru dibeli di hari kemarinnya. Kami pikir, ini adalah makanan terakhir dari kisah hidup kami di tempat ini, makanan yang memang hanya dijual disana. Semangkok untuk berdua saja. Cukup untuk santapan mengganjal perut dipagi hari. Seorang teman juga telah merelakan tidurnya terpotong demi untuk datang ke tempat kami. Teman yang akan mengisi rumah yang sebelumnya kami tempati selama setahun. Dia datang dan membantu menyelesaikan sesuatu yang sedang kami bereskan. Tak lama dari itu juga, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sebuah keluarga manis yang selalu senantiasa membantu kami selama setahun ini pun merelakan paginya dihabiskan untuk datang ke tempat kami. Dengan mata yang masih kantuk, anak-anak dari keluarga itu masih sempat berusaha tersenyum. Aku pun terharu, hampir seperti langit di luar sana yang menurunkan rintik hujan, tapi ku tahan. Sebungkus nasi goreng juga kami dapatkan dari keluarga nan baik hati itu. Tak terkira bahagiaku. Bukan karena makanannya, tapi sebegitu ingatnya mereka pada kami. Membayangkan akan lamanya menunggu, sehingga memberikan kami makanan untuk disantap selama menunggu itu. Malu aku rasakan pada mereka, karena aku tidak banyak memberi apa-apa kepada mereka. Aku tak luput memberikan senyumanku pada mereka semua. Kami akan baik-baik saja, begitupun dengan kalian. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Tempat ini, sekali lagi ku tuliskan. Ingin aku merekam semua memori ini. Sudah pukul enam lewat sepuluh. Kami turun ke bawah menuju tempat dimana kami di jemput. Ketika barang-barang sedang dimasukkan kedalam mobil, tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari rumahnya. “sudah akan pulang ya?”, begitu yang ia katakan. Dan tiba-tiba saja dia menangis serta mengatakan bahwa walaupun kami dan beliau jarang bertemu, tapi ia sangat sedih dengan kepergian kami. Dan aku pun berusaha untuk tetap tersenyum. Beliau adalah wanita yang tinggal di bawah kamar kami, memiliki usaha cukur rambut, dan juga penanggung jawab untuk sampah di lingkungan kami. Masih sempat kami memberikan sebuah hiasana bergambar wayang kepada beliau, dan beliau terlihat semakin hanyut dalam keharuan. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain berpamitan. Kupeluk beliau, kupeluk keluarga itu, kupegang kepala anak-anak mereka. Dengan sebuah doa: sehat-sehat kalian disana dan semoga kita dipertemukan kembali.

Tak ada yang bisa memberhentikan waktu, kami pun naik ke mobil. Tempat tinggal kami semakin jauh dan kecil, aku sudah tidak lagi melihat teman-teman kami berdiri disana lagi. Bukan mereka yang pergi, tapi kami yang meninggalkan tempat itu.

#edisi kangen Toumeisou#

26 Juni 2012

4D City Scape Time Puzzle: Tokyo #2

Dulu saya pernah posting tentang puzzle 4 dimensi kota Tokyo. Akhirnya setelah berbulan-bulan tergeletak begitu saja di kamar, dua hari ini (berhubung libur sekolah juga), si aa mulai buka serpihan puzzle dalam kotaknya buat disusun lagi. serunya kali ini, puzzle disusun bareng-bareng sama bapa dan ibu mertua plus adik ipar, jadi dalam 2 hari juga udah rampung hehehe..
ini layer kedua, kota Tokyo sekitar tahun 70 an. Dibandingkan layer pertama, layer kedua ini lebih mudah penyusunannya, karena kita udah kebiasa liat nama2 tempat yang ditulis di petanya. Di layer kedua juga keliatan, beberapa tempat sudah berubah dan jalur kereta jadi lebih panjang . Yang paling kerasa beda itu di teluk tokyo. Pas di layer pertama area Odaiba masih belum ada, nah di taun 70an itu pulau yang sekarang jadi Odaiba sudah ada.


Nah kalo ini udah masuk ke masang bangunan yang ada di Tokyo. Mestinya sih nyusunnya sesuai urutan jadi ketauan mana duluan yang paling pertama dibangun. Foto diatas ceritanya ada di daerah Tokyo Tower.

Nah kalo yang ini ada di sekitar Odaiba. Jembatan ini adalah Rainbowbridge yang terkenal itu.

kalo yang ini keliatan Tokyo Sky Tree yang baru rebes dibangun. deketan sama asakusa, tuh ada sensoji temple yang warnanya emas.

30 Mei 2012

random #6

Ritme yang baru ini belum bisa beradaptasi dengan baik dengan kondisi fisik ini..eh atau fisik yang belum beradaptasi ya? ya pokonya mah karena ini adalah hal yang baru, jadinya semuanya mesti disesuaikan dengan frekuensi hidup sebelumnya. Berangkat pagi-pagi pulang sore, dan di rumah pun pengennya beres-beres terus karena liat rumah yang debunya terus menebal dari hari kehari karena ditinggal yang empunya pergi terus. Alhasil hari pertama aja langsung tepar. Tapi akhirnya saya menyerah juga, nyerah dengan ga beberes rumah setiap hari, dengan ga nyuci dan nyterika setiap hari, dan tentunya ga masak tiap hari :p.

Sejauh ini sih, masih merasa penasaran dengan tempat baru ini, sungguh penasaran. Penasaran dengen teman kerja, dengam sistem kerja, dengan ilmu-ilmu yang tersedia disana, dengan kejadian-kejadian yang akan terjadi disana. Yang pasti perasaan ingin terus meningkatkan kapasitas diri itu selalu ada tiap hari.

Ketemu sama anak ABG tiap hari tuh rasanya lucu ya...hehehehe...asa mengingat-ngingat jaman waktu ABG dulu. Kalo dulu tuh jaman akeu tergila-gila dengan boyband westlife, backstreets boys, moffats. Ngeceng kaka kelas yang digilai juga oleh jutaan wanita, dan berharap kisah pada komik terjadi pada diriku, wkwkwkwk. (ini sekolah untuk belajar atau untuk seneng-seneng sih?). Ya emang daku mengakui kalau jaman SMP dulu, daku mah ga mikir banyak tentang belajar dari buku, banyakan maennya. Apalagi pas jaman-jaman punya geng bertajuk "Barzoot", hanya karena kami ber8 memakai sepatu dari merk Kazoot, pleus geng itu adalah temen satu tim di lapangan softball. hihihihihi...waduh jadi nostalgia gini..tapi emang kalo berada di antara adik-adik smp itu, memang jadi kangen masa-masa seumuran itu.

mungkin nanti-nanti akan lebih seriusan lagi kalo nulis, ini mah edisi ngacapruk sajah. :)

22 Mei 2012

Episode baru

tahun berapa ini?
asa udah bertahun-tahun ga ngecapruk disini,,,hehehehehehe..
udah ada di rumah sendiri mah, jadi aga lupa gini punya rumah maya, hadah,,,

Mungkin ini episode baru dari cerita hidup saya di dunia. Bukan episode tinggal di bandung ataw di indonesia, da kalo episode itu mah berarti kali ini season 2 nya (apa sih kamu ndahe..). yang dimaksud episode baru ialah, Insya Allah mulai besok tertanggal 23 Mei 2012 akan mencoba mengais rezeki dan mengamalkan ilmu di sebuah sekolah menengah pertama islam di daerah arcamanik. Ini juga merupakan jawaban atas doa saya sama Allah, karena memang saya berniat untuk mengajar selepas kembali ke Indonesia ini. Alhamdulillah dipertemukan dengan sebuah sekolah yang bisa dibilang cocok dihati. Iya harus cocok di hati ya, walaupun itu baru kesan awal saya saja. Tapi mudah-mudahan saya bisa belajar banyak dari episode kehidupan kali ini. Tanoshimi shitteimasu...