18 Februari 2014

Mencukupkan Diri

“kok, saya heran ya,, apa saya aja yang salah program, atau ga memaksakan diri buat cari uang banyak biar bisa liburan kemana gitu,,Ngeliat foto temen-temen kok rasanya gampang banget ya pergi. Ya padahal kita tau, gajinya ga seberapa, ya gatau juga sih dibalik itu”

Kalimat-kalimat diatas keluar dari  mulut suami saya, dan saya cuma bisa ketawa geli aja. Iya ketawa karena lucu. Pasalnya dia sampai saat kemarin itu, ga pernah mempertanyakan dirinya sendiri kenapa dia menjadi tidak berambisi terhadap materi, maksudnya materi yang buat digunakan bersenang-senang. Yaentah itu keluar negeri, atau keluar kota untuk nyicip nyicip hal baru, atau bahkan di dalam kota yang sifatnya “baru”. Lagipula saya juga bukan tipe yang suka jalan-jalan yang datang kesuatu tempat , ambil foto sama tempat yang didatengin, kemudian merasa senang seolah olah ga ada beban yang dipikir saat liburan, dan kembali plong setelah itu. Bukan jalan-jalan dalam arti begitu yang saya suka. Jalan-jalan/bepergian, selalu saya artikan sebagai sarana refleksi diri dan refleksi keagungan Tuhan.  Tujuan satu dari jalan-jalan adalah: bisa kembali dengan selamat. 

Yah terlepas apa itu jalan-jalan, kembali ke kalimat awal yang suami saya bilang. Iya bisa dibilang kami jarang menyengajakan diri buat mengosongkan waktu untuk pergi ke tempat wisata –sebut saja begitu. Pun dengan uang untuk kegiatan semacam itu. Dia sempet bilang, “kemana aja ya uang kita selama ini?kok kayanya ga ngehasilin apa-apa?ga pernah kemana-mana juga”. Tapi sesaat itu juga saya bantah kalimat dia dengan bilang bahwa kita berada dalam keadaan sehat jasmani dan rohani saat ini, itu merupakan hasil.  

Oke, sebut saja ketika pulang dari Jepang dua tahun lalu. Dengan sejumlah uang hasil menabung, maka kami punya daftar rencana akan digunakan untuk apa saja uang itu. Saat itu, rangga belum dapat gaji berkala dari kerjaan, saya juga dapat penghasilan yang cukup untuk operasional saya sendiri selama sebulan. Namun, siapa diduga,di akhir tahun kepulangan ke Indonesia itu, saya harus menjalankan operasi juga pengobatan pasca operasi yang makan sejumlah uang dari tabungan itu, yang cukup lah buat bayar DP mobil kalo kami mau.  Habis tabungan kami. Kami saat itu, sama sekali tidak merasa kekurangan sedikit apapun, kami bersyukur karena Allah SWT selalu punya rencana lebih baik.Karena ga lama setelah itu, Allah SWT kasih rezeki lewat jalan lain dan dalam bentuk lain.

Juga untuk laptop saya yang waktu itu kena musibah, laptop yang selalu digunakan buat kerja sehari-hari terkena air akibat ulah kecerobohan saya. Ya salahkan manusia, tapi mesti pandai juga ambil  hikmah.  HIkmahnya adalah saya jadi kembali ngobrol sama si mamah tanpa harus pegang laptop, karena sebelum laptop saya itu mati, hampir setiap diajak ngobrol sama mamah, pasti saya juga sedang melakukan aktivitas lain dengan laptop. Bahkan saya sempet berpikir bahwa di hati kecil si mamah ada rasa syukur ketika laptop saya bermasalah dan pada akhirnya dia bisa ngobrol focus sama saya. Awalnya saya dongkol dengan ulah saya dan mikir lagi untuk ngumpulin uang beli laptop baru. Lalu saya ditegur, “baru juga kehilangan benda, bukan nyawa!”. Yes, tertohok. Akhirnya saya lupakan kejadian laptop itu tanpa ada rasa sesal.  Dan beberapa bulan kemudian, Alhamdulillah doi dapet bonus dari kantornya yang ga pernah diduga, dan akhirnya laptop baru dibeli juga (laptop baru buat dia, yang doi diwarisi ke aye). Karena  Allah ingin melihat bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian yang menimpa kita.

Juga kejadian kemarin, dimana handphone yang baru dipakai empat bulan saja, harus bernasib mandi di mesin cuci. Tidak biasanya rangga nyimpen hape dia di saku celana,biasanya sudah dia keluarkan seluruh isi di saku sebelum ganti pakaian. Tapi memang sudah harus terjadi, jadi ya terjadilah. Tinggal pinter-pinternya kita ngambil hikmah. (salah satu hikmah adalah si doi ga perlu sering sering cek hape lagi buat maen game Battle Camp,,hohoho *evilsmirk* eh, tobat ah. Sama perlu mempersiapkan diri , hati, dan kocek kalo ternyata si hape rusak dan mesti batalin kontrak dan bayar sejumlah uang untuk pemutusan kontrak dan sisa cicilan). Ya mungkin Allah lagi menguji kita dengan kejadian ini.

Juga termasuk masalah keturunan. Pernah suatu malam saya tanya sama doi tentang “gimana jika memang Allah tidak menitipkan anak lewat saya?”. Jawabannya sih ga usah di bahas lah ya, privasi itu mah. Buat saya, untuk bisa berani bertanya tentang itu butuh kekuatan besar (lebay kan!). Eh beneran loh! Bukannya setiap perempuan ingin merasakan melahirkan? bukannya setiap perempuan ingin merasakan jadi seorang ibu kandung? Saya juga begitu, tidak dipungkiri. Bukannya setiap pasangan menginginkan keturunan? Tapi kenyataannya, kami belum dititipkan Allah. Lalu apa yang saya lakukan? Stres pasti ada masanya, terutama pada perempuan. Namun kami berusaha untuk menguatkan diri kami, bahwa Allah ga pernah salah kasih keputusan. That’s all.  Akan ada hikmah dibalik semuanya.

Kemudian dari beberapa kejadian saya merenungi. Saya yakin, bahwa harta melimpah itu bukan parameter kebahagiaan. Dalam islam jelas sudah disebutkan bahwa yang namanya harta: materi, anak, isteri, kerjaan, adalah kesenangan dunia yang jangan sampai kita terlena dengan itu. Dimana kesenangannya dunia itu cuma sepanjang jari doang *ngutip dari Ust. Salim Filah*. Kami sekarang memang tak punya  tabungan banyak, belum ada yang namanya investasi (rumah, mobil, dan harta lainnya), belum ada keturunan. Tapi apa yang kami punya sampai saat ini, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan harta sebanyak apapun. Allah selalu kasih rizki yang cukup. Karena itu doa kami, dicukupkan dan diberkahkan. Bukannya kata Ust. Aam itu rezeki adalah yang kita pakai saat ini, yang kita gunakan saat ini, yang kita makan saat ini. Itu rezeki. Yang belum kita sentuh, bisa jadi itu bukan rezeki kita. Jika kami sedang butuh dan Allah menyetuji maka dengan jalan cara apapun dan dalam bentuk apapun Allah akan ngasih. Jika kami kelebihan,  Allah menjaga kami dari kegelisahan memiliki harta dengan mengambilnya dengan cara yang ga bisa kita kira. Jadi ya, cukup. Itu sih kuncinya. Merasa cukup, merasa bahagia, bersyukur dengan yang ada dan yakin akan Allah Sang Pemberi Rezeki tidak akan pernah tertukar dalam menghidupi ciptaanNya.

Oiya, disini, bukan berarti kami menjadi orang yang pasrah dalam artian menerima keputusan Tuhan gitu aja. Jelas engga. Allah juga menuntut usaha dari kita, kita harus sadar itu. Perencanaan dari manusia tetap perlu ada, agar segala sesuatu nya tetap selalu ada dalam trek yang benar . Kita berencana, kita juga yang mempersiapkan diri untuk akhirnya,  karena Allah yang akan memutuskan apakah perkara yang kita rencanakan itu baik atau tidak baik untuk kita. Kita cuma butuh syukur dan sabar.

Oiya satu lagi, hindarkan diri dari membandingkan dengan orang lain, heu. Penyakit bahaya itu. Karena jelas kebutuhan setiap individu pasti beda, jadi jelas tak ada yang pantas dibandingkan. Kecuali jika memang orang yang dibandingkan akan meningkatkan kualitas keimanan kita terhadap Allah. *saya juga masih harus berjuang keras melawan sikap kaya gini*

13 Februari 2014

Salju (lagi) dan Dompet Kucing

14 Februari 2014
Pagi ini badan dibikin males sama dinginnya udara musin dingin, lebih males dibanding hari hari lain. Pas nengok keluar jendela, ternyata ada lapisan salju lagi diluar. Sepertinya dari sejak semalam sudah turun, pantas aja pagi-pagi tadi udah dibikin susah bergerak. Kedua kalinya salju turun dalam seminggu terakhir ini.

Rupanya bukan salju yang turun aja yang bikin saya kaget tadi pagi, juga ada sms dari Nda, adik ipar, bilang kalau Gunung Kelud meletus semalam. Awalnya saya ga begitu tertarik, lalu kemudian saya teringat dengan postingan si adik ipar di media fb tentang potensi ledakan Gunung Kelud (Jawa Timur) yang lebih besar dibanding Gunung Merapi (Jawa Tengah), yang dia taaut dari sebuah media online. Akhirnya saya baca-baca tentang berita kejadian erupsi tersebut, dan melihat banyak orang juga yang posting tentang keadaan di daerah sekitar Gunung Kelud, juga kutipan Al-Quran,  serta doa-doa yang mereka sampaikan bagi para penduduk yang menjadi "korban".

Bagi saya, apa yang datang dari langit dan dari dalam bumi, adalah nikmat sekaligus ujian bagi manusia. Jadi bagi yang menikmati salju, semoga tidak terlena dengan euforianya saja, tapi harus juga bersikap waspada karena salju juga salah satu bentuk ujian buat kita yang mencari alesan buat males-malesan, heu. Pun dengan para penduduk yang sedang merasakan gonjang ganjing si Gunung Kelud,mudah mudahan selalu ada harapan dan hikmah kenikmatan yang bisa diambil dari kejadian tersebut, Insya Allah, Allah akan bersama dengan orang yang sabar.

Terus, tadi pagi tuh jadi pengen nge tweet trus mention Ridwan Kamil, "Pak, Bandung juga deket sama Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif, juga deket sama patahan lembang yang sewaktu-waktu bisa ngegoyang Bandung dan sekitarnya , mohon untuk mulai disosialisasikan dan dibudayakan pendidikan mitigasi bencana buat warga Bandung", tapi entah kenapa ga jadi..heu heu,,geje.

Dan untuk mengalihkan perhatian dengan keresahan di dada saya ini, sekaligus memindahkan fokus biar badan ga terlalu ngerasain hembusan udara dingin yang ngedeketin saya terus, maka tadi saya menyelesaikan target saya buat bikin dompet.

Aduh ini sungguh random gini tema postingannya..gapapa lah...

Iya, saya udah rencana untuk bikin dompet dari bahan yang sama dengan tas sling bag yang beberapa waktu lalu dibikin. Setelah beberapa hari dikerjakan, akhirnya kelar juga tadi.Ya walaupun pas udah jadi malah disangka tempat pensil karena ketebalannya yang tebal akibat pemakaian kain yang berlapis lapis. Saya teh ga pernah ngasih link cara bikinnya ya? padahal saya juga dapet ilmu dari blog orang lain, terus ditambah dan di modif sendiri sama bentuk yang dipengen. Untuk kali ini saya nyoba untuk bikin tambahan wadah koin di dalam dompet. (heu,,jadi nanti cari aja caranya pake kata kunci DIY coin purse sama DIY wallet, dijamin bingung). Masih dikerjakan dengan jahitan tangan (yang membuat jari ini semakin kapalan), dan bahan-bahan yang dibeli juga sebagian besar dari toko 100 yen di deket rumah. Nanti kalo udah pede, kalo udah punya mesin jahit, mau deh buka lapak sendiri...aamiin.




08 Februari 2014

Tote bag diantara salju



Sabtu tanggal 8 februari, area Kanto diguyur hujan salju yang cukup lebat buat bikin tumpukan salju setebal kurleb 15 cm. Exciting? ho pastinya, tapi tidak sekatrok tahun 2010. Dimana hujan salju turun di waktu malam, dan saya sama temen Filipin kegirangan  terus keluar dormitori buat ngerasain diterpa hujan es yang di negara kami hal itu ga pernah ada. Kita maen salju seadanya, dan terus nyari tu pukan salju yang paling tebel. Saat itu tumpukan salju yang tebel ada di depan sebuah apartemen, terus dengan tanpa merasa berdosa, kami bikin boneka salju mini dan tentunya dengan suara teriakan girang. Sesaat kemudian, salah satu jendela d apartemen itu kebukan terus orang yang ada di dalam marahin kami karena berbuat keributan di malam hari.. Kaboooooorrrrr...

Kalau kemarin ya kami diam saja di rumah, mengingat cukup derasnya salju yang turun, kami memilih keesokan harinya untuk keluar seklian belanja mingguan. Dan foto diatas diambil di lapangan Saitama University ketika kami pulang dari belanja mingguan. Lapangan yang pastinya dijadiin orang asing d Saidai sebagai spot keren buat popotoan. Heu.

Sebenernya saya mau pamer ini nih....

                             

Tote bag yang bahannya dibeli pas pameran quilt. Bahannya katun jepang, motif flowery gitu deh. Tote bag yang reversible sebenernya, cuma seppertinya bagian satu lagi ga akan dipake deh. Oiya ini juga bikin pake tangan semuanya, sampe ujung jari kapalan. Ditambah cuaca yang dingin gini, ujung jari jadi sensitif kalo kena benda tajam. Ukuran tasnya lumayan gede, salah perhitungan sebenernya ( ga pernah diukur juga deng), kemaren sempet dipake buat ke gymnasium dimana kalo pergi kesana pasti banyak bawaannya : sepatu olahraga, baju ganti (soalnya musim dingin), botol air, anduk, ah apa saya aja gitu yang rempong? Tapi barang barang itu masuk semua kke tote bag yang baru dibuat. Selain itu, tote bag ini akan saya pake buat belanja, heu. Maklum kantong plastik d rumah udah numpuk banget, jadi mau usaha buat mereduksi si plastik. :)

                              




05 Februari 2014

Little sling bag





Ini jaitan pertama di tahun ini. Karena belum punya mesin jahit, jadi semua dikerjakan dengan jahitan tangan. Taihen desu ga tanoshikatta.

Kain katun motif kucing dan piano itu saya beli sewaktu datang ke pameran quilt minggu lalu, pengennya sih beli banyak kain lucu lucu disana, tapi hati saya belum rela kalo duit di dompet dipake buat beli kain banyak banyak. Jadi lah saya ambil selembar kain berukurn 50x50 cm ini. Saya bermaksud memberikan sesuatu sama seseorang yang sepertinya dia suka main piano,, kalo kucing suka ga ya??

Bahan lainnya, yaitu bahan denim, saya cari di toko barang bekas deket rumah. Nyatanya kain yang saya beli bukan barang bekas juga, hanya barang sisa dari toko aselinya dan harganya lebih murah 5 yen. Hihihihi..

Ring besi yang dipakai juga hasil ngubek ngubek di toko barang bekas. Lumayan loh, menghemat biaya produksi. Emang sih barang yang kita pengen belum tentu ada, tapi kalo ada kan lumayan banget bisa dibeli dengan harga yang jauh lebih lebih murah.

31 Januari 2014

Pameran Quilt Tokyo 2014

Berawal dari seorang teman yang posting foto dia bersama sama mertuanya dengan latar belakang quilt raksasa dengan tulisan tempat dimana dia berada "Tokyo Quilt Festival 2014" di Tokyo Dome, saya langsung tertarik untuk pergi kesana. Secara spontan saya ajak teman yang kebetulan juga komen di foto itu, ternyata di juga punya kepengen yang sama, padahal kami baru ketemu darat sekali loh.  Saya berani ajak beliau karena pada saat pertama ketemu beliau, beliau juga menunjukkan ketertarikan dengan dunia jahit menjahit, dan pada saat itu dia juga menawarkan produk karyanya. Maka dengan begitu, saya berasumsi kalau saya mengajak orang yang tepat untuk ke pameran quilt.

Pameran quilt sendiri hanya dilaksanakan 7 hari dan kami datang tepat di hari terakhir, tanggal 29 Januari 2014. Tidak kami berdua (+ dua bocah yang lucu), ditambah juga seorang teman, ibu dari 5 orang anak, yang juga bergabung bersama kami. Yesss, makin banyakan makin rame deh.

Kami janjian pukul 10 di depan Tokyo Dome. Dari mulai keluar stasiun, saya sungguh yakin bahwa ibu ibu dan nenek nenek yang keluar dari stasiun barengan sama saya itu punya satu tujuan : pameran quilt. Keyakinan saya terbukti dengan antrian panjang yang rapi saat memasuki gerbang pameran. Tiba tiba rasa senang saya makin membludak, padahal baru liat orang orang nya ajah. Kami beli tiket masuk, 2000 yen, yang menurut saya mahal (tapi mungkin standar untuk tiket masuk pameran besar).  Tapi saya udah niat, walau tiket mahal, pengen dateng. Alesan saya pengen dateng cukup simpel sebenernya : pengen meningkatkan motivasi. Hahahaha,, motivasi apapun lah, kayanya kalau liat hasil karya yang spekta tuh bisi bikin motivasi meningkat.


Pertama kali masuk ke Tokyo Dome. Sebelumnya di tahun 2010 saya cuma numpang jalan jalan di luar arena Tokyo Dome, tapi kemaren saya masuk kesana. Stadium baseball milik kebanggaan club Giants Tokyo itu dirubah jadi ruangan super besar dan beratap. Dari atas balkon, saya bisa lihat lapangan yang besar dan terisi penuh sama stand pameran. Hwwwoooooo.. Bakalan seru ini.

Menginjakkan kaki di tempat pameran, kami langsung disuguhin karya quilt yang besar, yang pada saat itu juga kami takjub dan penasaran untuk lihat lebih dekat. Bahkan teman teman saya lngsung sigap ngeluarin ponsel kemudian ambil foto setiap keindahan yang terlihat. Sayang saya ga bawa kamera poket, saya hanya bawa ipad. Walaupun resolusinyan lebih bagus kamera ipad, tapi pas awal saya masih merasa ribet buat ngeluarinnya. Berpindah dari satu karya ke karya quilt yang lain,, yang ada makin membuat kami takjub, hanya bisa bilang "keren, cantik, sugoii, subarashii, kirei" dan kata kata positif lainnya. Bayangkan saja, quilt yang kira-kira punya ukuran 3x3 meter itu, dijahit pake tangan semua. Dengan segala kerapihan, keteraturan, keharmonisan paduan warna dan pola, maka memang pujian yang kami keluarkan untuk karya quilt yang kami lihat. Ga kebayang bikinnya makk! Saya pernah bikin quilt, judulnya pengen nyoba ala amatir yang sok sok an, dan ternyata saya ga sanggup untuk ngerjain pake tangan, saya kerjain pake mesin dimana pada akhirnya hasilnya sungguh.....tidak seperti karya quilt. Hehehehehe.

Disana terdapat juga stand stand yang memanerkan karya quilt dari artisan quilt ternama. Saya juga ga hapal, karena pada dasarnya saya belum termasuk orang yang tergila gila dengan quilt ini. Tapi melihat para artis quilt tersebut saya jadi sedikit memuji orang Jepang. Bayangkan saja, quilt ini bukanlah kebudayaan asli orang Jepang, ini kebudayaan dari Amerika / Eropa.  Pada tahun 70 an, salah satu quilter ternama Jepang saat ini, menginjakkan kaki di Amerika dan dia mulai tertarik dengan Quilt sampai akhirnya dia belajar disana. Memang segala sesuatu butuh kerja keras, hampir 40 tahun ia menekuni quilt hingga akhirnya dia bisa membuat warga Jepang yang lain untuk jatuh cinta pada quilt. Tidak tanggung tanggung, budaya yang asalnya dari luar, mereka padukan dengan budaya lokal sehingga terciptalah Japanese Quilt yang pastinya punya gaya berbeda dari quilt Amerika, serta diterima dan diakui oleh pecinta quilt di dunia. Oke, big applause buat Jepang!!!!


Arena pamerannya guedeeee banget, capenya itu seperti lari pemanasan di lapangan baseball 10 kali. Hahaha, lebay, pernah juga cuma sampe 5 doang, itu juga jaman muda lucu dan imut. Stop! Iya arena display karyanya banyak, dan untuk liat satu karya ga bisa cuma 5 detik. Buat saya bisa menikmati karya karya itu adalah harga yang pantas dengan tiket masuk yang saya anggap mahal tadi. Hehehehe. Setiap ngeliat karya orang, pertanyaan yang ada di kepala saya adalah "ni orang kepikiran apa sih bisa sanggup bikin beginian?". Memang pekerjaan seni itu kadang susah untuk memahami kepala si senimannya.

Selain display karya quilt, banyak juga stand dari toko-toko kerajinan yang  bikin saya cape buat liat liatnya, cape hate, karena ingin hati membeli, tapi apa daya dompet belum mencukupi. Ada juga acara talkshow oleh artis-artis quilt maupun artis lain yang tertarik dengn dunia quilt. Tapi berhubung kami mah ga ngerti apa yang disampaikam, jadi skiiipp aja tanteeee.

Dan setelah puas kelalang keliling, maka kami pun pulang dan berpisan dengn rasa suka cita.
The end.

(Tanya om wiki tentang quilt)




30 Januari 2014

Jangan melarikan diri ya Ndah...

Setelah tiga minggu belum punya keberanian diri untuk dateng ke kelas bahasa voluntir itu, saya memaksakan diri untuk melawan diri saya yang pengecut ini. Dan tau ga sih, untuk berani menghadapi situasi beginian aja, saya perlu dinasihati dulu gara-gara nama saya disebut salah satu dosen saya di jejaring sosial, lalu beliau mempertanyakan keberadaan saya yang dia pikir saya menghilang. Lalu dari situ saya langsung berpikiran yang super negatif terhadap diri saya yang mungkin sudah mengecewakan beberapa pihak, sehingga saya sulit untuk menampakkan diri dihadapan mereka, bahkan malu untuk berkorespondensi lewat media seterbuka dan seterasyik fesbuk sekalipun. Ada apa sih emang sebenernya? jadi sebenernya saya aja yang punya perasaan berlebihan. Berawal dari diri saya yang sebelumnya di masa masa lalu, ga pernah melakukan segala sesuatunya dengan kemampuan terbaik, dengan usaha terbaik. I knew that is my bad point. Bisa dibilang banyak hal dari saya kecil dulu yang saya tidak lakukan dengan tekad bulat dan usaha maksimal. Bahkan sampai besar pun, masa kuliah, kebiasaan jelek itu masih kebawa. Apa yang saya lalui, saya sudah merasa cukup, tidak ingin lebih. Dan jika itu adalah hasil yang baik, maka saya akan bilang pada diri saya bahwa itu adalah rezeki yang Allah kasih, saya tidak banyak berbuat apa-apa. Jika hasil nya jelek, ya saya menyesal. Tapi parahnya lagi, penyesalan itu terjadi berulang ulang. Fiuhhhh.. karena yang saya pikir adalah saya melakukan untuk diri saya sendiri, mau hasil bagus mau hasil jelek, itu udah jadi konsekuensi saya. Alhasil kelakuan "tidak melakukan yang terbaik" pun kerap berulang terjadi. 

Sampai akhirnya saya melihat orang terdekat saya berjuang sepenuh jiwa raga (hadeeeuh ini mungkin berlebihan ya), untuk tampil sesempurna mungkin, dia tipe yang perfeksionis. Waktu itu saya lupa apa yang dia kerjakan, tapi dia kerjain sebatas maksimal kemampuan dia, lalu (kalo ga salah) hasil dari apa yang dia upayakan itu memang tidak seperti yang dia inginkan. Terus saya tanya, "kecewa gak?", dia jawab "engga! lagian kan usaha maksimal itu bukan melulu untuk hasil yang kita inginkan, tapi sebagai bentuk kepuasan untuk diri kita sendiri". Belum lagi ditambah cerita pengalaman nya yang kerap berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, yang bisa dibilang tempat berpindahnya itu adalah tempat yang dimata kebanyakan orang lebih "parah". Tapi jawabannya dia, "saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk perform di tempat dimana saya ada, jadi ketika saya meninggalkan tempat tersebut tidak ada rasa penyesalan apalagi meninggalkan kesan buruk dimata orang lain. Walaupun pindah ke tempat yang lebih 'parah', keputusan yang udah saya buat adalah sesuatu yang gak boleh saya sesali, dan berbuat maksimal tetap harus dilakukan".

Kayanya saya hampir lupa sama namanya kerja keras, susah payah, dan rasa syukur. Karena kerap saya diliputi penyesalan karena merasa ada kesan negatif yang saya tinggalkan di tempat dimana saya pernah berada. Dan yang lebih parahnya lagi, saya mengetahui hal itu dan melarikan diri dari hal hal yang berhubungan dengan tempat tersebut. Itu yang seharusnya ga boleh terjadi kan. Saya menutup mata untuk melihat contoh orang orang yang berjuang sampe habis energi, saya tutup telinga untuk orang orang yang hidup dengan penyesalan untuk saya ambil hikmahnya. Semua sudah terjadi. 

Sampai dua tahun lalu. Sepertinya saya ingin keluar dari perasaan "merasa cukup", "cukup puas", "menyesal". Saya ingin mengenal "ganbaru" dan memahami kalimat "saigo made ganbaranakereba ikenai". Begitu yang orang Jepang selalu katakan pada dirinya sendiri untuk mencapai suatu tujuan. Bukannya islam udah ngatur semuanya, bahwa muslim itu harus kerja keras, kerja keras di dunia untuk dapat akhirat, dengan segala bentuk aturan hidup,sikap,akhlak yang sudah ada ketentuan dan contohnya. Kemana saya selama ini?

ah ini kan awalnya mau cerita tentang pertama kali ikut kelasa bahasa jepang, kenapa jadi nyambung kesini ya. ya sudahlah disambung di judul berikutnya.