08 Januari 2013
diam
apa ini kondisi nyaman? tidak kataku
kita hanya terbantu dari orang orang sekitar kita. itu yang membuat kita nyaman.
tapi ini tidak nyaman untuk aku dan mimpiku. juga kamu dengan mimpimu.
karena aku masih terlalu dini untuk menyebutnya sebuah pencapaian disaat aku baru saja melangkah dari garis start.
namun, sepertinya aku terkurung sesuatu. kondisi ini yang tak sesuai dengan yang telah aku bayangkan. bukan karena takdir menjadikanku seperti ini. tapi lebih keengganan untuk melangkah lebih jauh, keraguan untuk melihat lebih dekat, dan ketakutan untuk memulai sesuati. aku pikir otakku kosong. tidak kosong sepenuhnya, hanya saja otakku ini sudah terprogram (oleh yang lain). belum bisa membuat program sendiri.
ah apa ini. sering kali aku menemukanmu. yang membuatku terhambat untuk bergerak bebas. ada sesuatu yang memang aku inginkan darimu, tapi sudahlah, aku tau aku tak bisa membuatmu kembali. aku tahu ketika aku sendiri aku tak boleh menjadikanmu sebagai pelarian, karena seharusnyaa sudah tahu kemana aku harus berlari. tapi aku pikir berlari (kemanapun arahnya) juga bujan kata yang tepat, karena berlari hanya membuat ku melupakan sesaat sesuatu yang aku khawatirkan. aku sendiri, tak pernah mau memusingkan tentang perasaan sendiri, namun kerap dia datang disaat semua kondisi sekitarku mendukung aku untuk merasakan itu. hahahahhaa..membingungkan sekali.
aku berpikir aku akan bisa melangkah jika aku bisa membuat diriku nyaman dan tenang terlebih dahulu. namun waktu berlalu dan aku masih dengan kegelisahanku. tak ada sesuatu yang maju, tidak progressif. baik diriku maupun apa yang seharusnya kulakukan.
28 November 2012
Ikhtiar lain
Selintas pernah saya berpikir "kok sampe segininya sih saya mau punya anak ajah?", trus ada yang menjawab "lah, kan ikhtiar mah harus maksimal". Toh dipikir-pikir, wajar dong pasangan udah hmpir 3 taun nikah meriksain diri ke dokter, yang ternyata ditemukan kejanggalan dan harus diperiksa lebih dalam lagi. Ya urusan mendapatkan anak atau engga itu mah perkaranya Allah SWT. Yakinkan itu, manusia hanya berusaha.
Tanggal 27 nov kemaren laparoskopi itu dilakukan. Pertama kali dalam hidup saya masuk ruang operasi, menegangkan, titik. Bahkan saking tegangnya, para dokter koas itu sulit menemukan pembuluh darah di tangan saya. Hehehehe.. Masuk ruang operasi, dan gak lama saya tidur. Ga inget apa2 tentang operasinya. Dibius itu melelahkan. Setidaknya itu yang saya rasakan, karena pada saat dibius tuh rasanya seperti mimpi yang bikin fisik ngos2an.
Saya mulai mendengar kalimat "operasinya sudah selsai dan ibu ada d ruang pemulihan". Oke saya sudah sadar, dan mulai menyadari rasa sakit di sekitar perut ini. Mencoba mencari orang yang dikenal, tapi tak ada seorang pun. Berusaha untuk ngomong, tp belum mampu bersuara keras. Tak lama seorang ibu yang sedang menunggu suaminya siuman di kasur sbelah melihat saya dan berusaha memanggil keluarga saya. Mamah pun datang bersama mamah mertua. Mereka langsung antusias cerita tentang proses operasi yang baru saja mereka tonton di ruang dokter.
Ya laparoskopi ini operasi yang menggunakan kamera yang dimasukkan ke dalam perut. Selain kamera ada juga beberapa alat operasi seperti tang (apa atuh ya bahasanya), alat penjepit, ada pemanasnya, dan saya jg ga tau lagi apa aja alatnya. Jadi apa saja yang dilakukan dokter melalui alat-alatnya di dalam perut saya, bisa disaksikan dalam sebuah video. Si mamah hanya cerita bahwa ujung tuba falopi sebelah kiri saya tertutup rapat, kuncup, ada perlengketan. Normalnya itu merekah, seperti bunga. Kalau yang kanan alhamdulillah masih baik. Lanjutnya, si mamah bercerita bagaimana si dokter melalui perkakasnya mencapit organ2 dalam, mengoreh-ngoreh, mengikis hal2 yang mengganggu, dan berusaha membuka kembali si kuncup yang lengket itu. Kemudian isi rahim ini disiram air, semacam dibersihkan. Subhanallah, teknologi dan ilmu pengetahuan sudah secanggih itu ya. Dan Allah lah Sang Maha Canggih yang menciptakan sistem pada manusia yang begitu rumit.
Perlengketan yang terjadi di ujung tuba falopi kiri, katanya terjadi akibat bekas infeksi oleh bakteri. Dan tidak ada gejala sama sekali yang bisa bikin kita tahu bahwa kita terinfeksi. Kalau saja lebih lama lagi baru dilakukan tindakan, mungkin ada cerita lain lagi, karena hal itu bisa berakibat pada infertilitas.
Ya.. Satu langkah sudah dilakukan. Apakah akan ada cerita berikutnya? Mari kita berserah diri saja pada Allah SWT.
21 Oktober 2012
Sabtu Sore #2
Belum juga selesai shalat, suara anak2 dari luar sudah terdengar. Saya bahkan nyaris lupa kalau saya pernah bikin janji buat belajar bareng mereka tiap sabtu sore. Karena sudah beberapakali Sabtu agenda belajar ini terhenti akibat lebaran dan kesibukan saya. Selesai salam, saya bergegas buka pintu dengan mukena masih menempel. Sudah ada lima anak yang cengengesan di depan pager. "Sekarang berlima teteh indah!", salah satu dari mereka teriak. Alhamdulillah... Bertambah dua orang yang baru. Walaupun bingung dengan materi apa yang akan dilakukan hari itu, melihat wajah mereka otak ini dipaksa untuk tidak boleh berhenti berpikir. Hari itu mereka saya kasih kertas untuk menggambar dan mereka akan bercerita tentang apa yang sudah mereka gambar.
Sabtu, 20 Oktober
Sebenernya saya berencana untuk bilang ke anak-anak yang akan datang ke rumah bahwa kelas hari Sabtu akan diubah jadi hari Minggu karena saya pikir akan agenda bersama keluarga yang waktunya sampai sore. Di samping itu, saya merasa belum menyiapkan bahan-bahan untuk pertemuan ini. Tapi di pagi harinya saya lupa menyampaikan perihal ubah jadwal itu, alhasil mereka datang ke rumah. Saya yang kali itu baru sampai depan rumah, menemukan mereka sedang memanggil nama saya berulang2. Wajah mereka kembali senang ketika tahu saya datang. Kali ini bertujuh. Bertambah satu orang yang baru. Total ada 8 anak yang ikut, namun seorang tidak hadir. Mengingat awalnya saya akan membatalkan jadwal, saya pun sedikit panik harus ngapain dulu karena bahan2 belum ada. Sebenarnya saya udah punya rencana, namun rencana ini melibatkan adik ipar, dan sang adik masih ada di rumahnya. Mendadak si adik di telpon dan dijemput sama si aa di depan komplek dan agenda hari itupun tertolong. Hehehehe.. Kami membuat finger puppet dari bahan flanel yang bisa juga untuk ditaro di pensil mereka. Mereka memilih sendiri warna dan bentuk yang mereka inginkan, kami membantu menggambar pola dan mereka yang menyelesaikan sisanya. Semua yang sudah dimulai harus diselesaikan, itu yang menjadi salah satu aturan di kelompok ini. Alhamdulillah, biarpun overtime sampe magrib, mereka pulang dengan ceria dan membawa apa yang sudah mereka bikin. :)
Thanks to : Bi Nda dan A Rangga.
nb: butuh masukkan dan saran tentang kegiatan kreatif buat anak2 ;)
14 Agustus 2012
Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawan
Sabtu Sore sama Ulpi dan Kawan-Kawanbaru tiga kali memang, namun tiap kali bertemu mereka berasa sudah kenal sejak bertahun-tahun. Semoga ini bukan hanya kondisi sesaat.
Adalah Ulpi, Putri, dan Saulla yang kemarin sore memanggil nama saya dengan sebutan “Teh Indah” begitu kerasnya dari luar pagar. Saat itu memang jadwal Kelas Bahasa Inggris, dan sebelumnya saya berniat akan membatalkannya karena harus melancong ke rumah mertua, tapi teriakan mereka yang keras dan cempreng malah membuat saya tidak tega kalau harus membatalkannya. Dan yang terjadi adalah saya malah jadi semangat sore itu.
Ini adalah ketiga kalinya mereka datang. Di pertemuan pertama, hanya ada dua orang saja, di pertemuan kedua, juga dua orang tapi dengan personel yang berbeda, dan yang ketiga ada tiga orang yang datang dengan satu personel new comer, jadi kalo di total sudah ada empat anak. Bahkan minggu lalu saat saya tidak mengadakan kelas, Ulpi membawa delapan orang temannya. Mereka sempat teriak-teriak di depan rumah, tapi sayang saya sedang ga ada di rumah. Gimana ga semakin berapi-api si saya ini buat main sambil belajar sama mereka.
Usianya mereka antara 5-8 tahun, rumahnya rata-rata di wilayah bekas rel kereta ga jauh dari rumah saya tinggal, latar belakang keluarga mereka macem-macem, ada yang ortunya penjahit, buka warung, jual-beli domba/sapi, yang ortunya lebih sibuk ngurusin kerjaan mereka dibanding ngajarin anaknya, karena kalau ga gitu keluarga mereka ga makan. Latar pendidikan anak juga macem-macem,bahkan ada yang harus pindah dari sekolah negeri yang agak elit ke sekolah negeri yang kurang elit (katanya) gara-gara ketidakmampuan “sosial” si anak. Tantangan buat si saya. Satu sisi saya berada di lingkuangn pendidikan anak-anak yang sudah mapan dari berbagai aspek (sistem, finansial, penerapan akhlak), dan satu sisi saya berada di antara anak-anak yang situasinya kebalikan dari itu semua.
21 Juli 2012
My husband is my leader, my partner, my father, my brother
Yang Sempat Ditulis
#edisi kangen Toumeisou#Hari itu cuaca sedikit gerimis. Mata kami masih ingin sekali tertutup, kami baru tidur jam dua dini hari dan tiga jam seolah cepat sekali berlalu. Jam lima pagi kami sudah bersiap shalat shubuh, mandi, dan mengecek untuk terakhir kalinya memastikan tidak ada barang yang terlupa serta membereskan semua benda untuk kemudian mengamanahinya kepada penghuni berikutnya. Sungguh ingin aku menatap lebih lama lagi rumah yang berada di belakang balkon tempat kami. Ingin rasanya menyimpan seluruh memori yang sudah kuhabiskan di tempat ini. Suara anak tetangga yang selalu ramai ketika jam sekolah, suara para penghuni rumah membuka pintu jendela mereka, suara burung gagak di pagi hari. Hari itu hari sabtu, sehingga tak ada anak yang pergi ke sekolah. Jendela pun masih tertutup rapat, karena kami terlalu dini terbangun.
Kupanaskan air diatas kompor. Membuka tutup terakhir dari semangkok mie instan yang baru dibeli di hari kemarinnya. Kami pikir, ini adalah makanan terakhir dari kisah hidup kami di tempat ini, makanan yang memang hanya dijual disana. Semangkok untuk berdua saja. Cukup untuk santapan mengganjal perut dipagi hari. Seorang teman juga telah merelakan tidurnya terpotong demi untuk datang ke tempat kami. Teman yang akan mengisi rumah yang sebelumnya kami tempati selama setahun. Dia datang dan membantu menyelesaikan sesuatu yang sedang kami bereskan. Tak lama dari itu juga, pintu kamar diketuk oleh seseorang. Sebuah keluarga manis yang selalu senantiasa membantu kami selama setahun ini pun merelakan paginya dihabiskan untuk datang ke tempat kami. Dengan mata yang masih kantuk, anak-anak dari keluarga itu masih sempat berusaha tersenyum. Aku pun terharu, hampir seperti langit di luar sana yang menurunkan rintik hujan, tapi ku tahan. Sebungkus nasi goreng juga kami dapatkan dari keluarga nan baik hati itu. Tak terkira bahagiaku. Bukan karena makanannya, tapi sebegitu ingatnya mereka pada kami. Membayangkan akan lamanya menunggu, sehingga memberikan kami makanan untuk disantap selama menunggu itu. Malu aku rasakan pada mereka, karena aku tidak banyak memberi apa-apa kepada mereka. Aku tak luput memberikan senyumanku pada mereka semua. Kami akan baik-baik saja, begitupun dengan kalian. Kita akan bertemu lagi suatu hari nanti. Tempat ini, sekali lagi ku tuliskan. Ingin aku merekam semua memori ini. Sudah pukul enam lewat sepuluh. Kami turun ke bawah menuju tempat dimana kami di jemput. Ketika barang-barang sedang dimasukkan kedalam mobil, tiba-tiba seorang wanita tua keluar dari rumahnya. “sudah akan pulang ya?”, begitu yang ia katakan. Dan tiba-tiba saja dia menangis serta mengatakan bahwa walaupun kami dan beliau jarang bertemu, tapi ia sangat sedih dengan kepergian kami. Dan aku pun berusaha untuk tetap tersenyum. Beliau adalah wanita yang tinggal di bawah kamar kami, memiliki usaha cukur rambut, dan juga penanggung jawab untuk sampah di lingkungan kami. Masih sempat kami memberikan sebuah hiasana bergambar wayang kepada beliau, dan beliau terlihat semakin hanyut dalam keharuan. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain berpamitan. Kupeluk beliau, kupeluk keluarga itu, kupegang kepala anak-anak mereka. Dengan sebuah doa: sehat-sehat kalian disana dan semoga kita dipertemukan kembali.
Tak ada yang bisa memberhentikan waktu, kami pun naik ke mobil. Tempat tinggal kami semakin jauh dan kecil, aku sudah tidak lagi melihat teman-teman kami berdiri disana lagi. Bukan mereka yang pergi, tapi kami yang meninggalkan tempat itu.

