ini 3 masinis yang ada di gerbong penumpang, mereka pun turun menuju stasiun lain. *foto diambil dalam jarak hampir 100 m*
tadi siang di stasiun Nishi Kokubunji saya ngeliat 5 orang masinis kereta berdiri. tampaknya mereka ini mau ganti shift nyetir kereta. 2 orang masuk ke ruangan masinis, sedangkan 3 orang ikut berdiri di gerbong penumpang. ketika mereka masih berlima dan menunggu kereta datang, sekilas dalam benak saya berkata "wew, keren ya para masinis ini". entah alasan apa yang membuat saya berpikir seperti itu, apakah itu karena seragamnya atau memang pekerjaan masinis itu begitu mulia, yang pasti bukan karena wajahnya (sori sori sori jak!).
lalu kemudian, pikiran saya pun melayang. apakah mereka itu bener-bener pengen jadi seorang masinis? apakah sejak kecil mereka bercita-cita dari masinis? kalo mau jadi masinis kereta lewat jalur apa yah belajarnya? ah di jepang sih masinis sangat mulia, gawat kalo gada generasi yang mau jadi masinis. karena masinis lah yang mengontrol jalannya kereta dan dengan kereta lah masyarakat dapat pergi beraktifitas, dengan aktifitas merekalah roda perekonomian terus berputar. dan pertanyaan serta pernyataan pun tak sempet ditanyakan apalagi terjawab.
bukan saya bermaksud merendahkan pekerjaan seseorang, tapi sekali lagi saya tiba2 teringat sama indonesia. tiba2 saya kembali membandingkan kondisi disini dan di indonesia. sebutlah supir angkot. mungkin kalo saya tanya pada supir angkot apakah cita-cita mereka itu menjadi supir angkot atau bukan. pasti jawabannya bukan (kemungkinan besar). menjadi supir hanyalah terjadi dalam keadaan terpaksa. ya dengan terpaksa, daripada tidak melakukan apa2, daripada anak isteri tidak dapat makanan, lebih baik narik angkot biar dapet hasil. sehingga pekerjaan yang dijalaninya pun semata-mata untuk kebutuhan dirinya sendiri dan keluarganya, tidak untuk orang lain.
padahal menurut saya, supir angkot itu sama kaya masinis. berdedikasi besar. yah, tapi apa daya supir angkot kalo sistem transportasi nya pun masih carut marut. sampai kapanpun si supir tidak merasa bangga dengan profesinya karena ia merasa tidak berdedikasi untuk masyarakat.
ah sebenernya bukan ini yang pengen saya ungkapin. tapi tentang keinginan seseorang untuk menjadi sesuatu. bukankah semua orang ingin jadi bermanfaat buat orang lain? sejauh apakah si orang tersebut dipengaruhi oleh lingkungan luar yang menstimulus dia untuk menjadi seseorang yang dia inginkan? dan lingkungan yang seperti apakah??
waktu lalu, sewaktu liburan musim panas, saya baca dari sebuah pamflet ada suatu kegiatan dimana anak2 itu bisa menjadi masinis sehari, koki sehari, pemadam kebakaran, polisi dan profesi apa lagi yah.... saya lupa. yang pasti, dalam pendapat saya, ketika si anak diberi pengalaman seperti itu tentunya si anak akan merasa tertarik dan merasakan bagaimana mulianya, susahnya, senangnya menjalani profesi tersebut (ya ga dalem2 amat sih, minimal dia tau). ditambah dengan lingkungan nyatanya mereka, dimana profesi profesi tersebut bukan lah hal yang dipandang sebelah mata oleh orang serta memiliki kesan yang positif dimasarakat. akan ada kesinkronan antara apa yang dia alami.
sedangkan di indonesia, sebutlah di suatu tempat di kota besar, ada suatu wahana yang memberikan pilihan pada anak untuk memilih profesi apakah yang dia inginkan. ya mungkin dalam permainan tersebut semuanya terlihat baik2 sajah. tak ada kecurangan, tak ada kebohongan, tak ada kepentingan pribadi diatas kepentingan umum. tapi ketika melihat realita yang ada, tak ada gunanya lah semua permainan tadi. hanya sekedar membuka mata pada sang anak bahwa profesi A itu ada loh, profesi B itu keren loh. dsb. tapi buktinya terlalu sedikit untuk ditemukan. ah aku nih ngelindur,,,stress kayanya saya nih. apakah si anak tidak menjadi bertanya-tanya,,"mah bukannya seharusnya profesi A itu ngelindungin masyarakat ya? kok malah minta minta uang terus sih" (itu mungkin khayalan saya sajah).
yah jadi pertanyaannya adalah ...
bukankah semua orang ingin jadi bermanfaat buat orang lain? sejauh apakah si orang tersebut dipengaruhi oleh lingkungan luar yang menstimulus dia untuk menjadi seseorang yang dia inginkan? dan lingkungan yang seperti apakah??
bagus lensanya.. :D
BalasHapus