11 September 2010

insiden lebaran

sepulang solat ied dan sedikit jalan2 saya membuka internet dan melihat berita apa saja yang terjadi di Indonesia selama lebaran ini. dan benar saja, ada satu berita yang bener bener bikin saya ngenes, heneug, kesel. seorang warga negara Indonesia meninggal pada saat mengantri untuk bisa masuk ke rumah presiden. ceritanya si sang presiden ini bikin acara open house buat warga. dan warga siapa sih yang ga antusias untuk bersilaturahmi dengan presiden. bisa salaman sama pejabat tinggi negeri plus diselipin amplop yang isinya uang. tapi warga yang dateng terlalu banyak, 3500 orang kira2 jumlahnya, berdesak desakan. panjang jalan tampaknya ga cukup untuk menampung panjangnya antrian, jadinya kepadatan terakumulasi ke segala arah terutama bagian pintu masuk. ga aneh kalo banyak orang yang kehabisan energi untuk ngambil seliter udara. sampailah terjadi warga yang meninggal akibat kelelahan.
tanggung jawab siapakah?

kematian memang takdir dari Allah, apapun caranya kapanpun waktunya, hanya Allah yang menentukan. tapi...

kenapa warga2 tersebut rela desak desakan? mungkin memang ada niat tulus dari mereka untuk bersilaturahmi dengan presiden, tapi entah kenapa saya meyakini bahwa mereka itu datang dengan hrapan menerima seamplop kertas berisi uang. tidak seberapa isinya memang (bagi pejabat), tapi bagi mereka uang tersebut cukup untuk makan mereka 1-2 minggu.

ini adalah masalah kesejahteraan pak. mereka belum sejahtera.
dan kenapa bapak bikin acara macam itu?
apa bapak menghargai hari lebaran dengan materi?
apa bapak memang benar2 ingin bersilaturahmi dengan mereka? jika ia, berapa orang yang datang kesana yang bapak ajak ngobrol? yang bapak tanya masalah mereka apa, yang bapak tanya kebutuhan mereka apa.
apa bapak bener2 pengen mereka senang? berilah mereka (kami) pendidikan, pembangunan.
apa bapak pikir ini adalah momen untuk beramal dan dekat dengan warga?
beramal itu tidak terbatas waktu, kemampuan, bahkan kondisi.
bapak ingin dekat dengan warga itu gampang, berhentikanlah itu semua pengawal bapak. biarkan diri bapak bebas kesana kemari melihat realita, berpikir, dan bertindak.
apa maksudnya semua ini pak?

saya sangat tidak mengerti apa yang bapak pikirkan.
saya bener2 sedih dan takut sekali. saya membayangkan betapa besar tanggung jawab seorang pemimpin itu. Astagfirullah.

nb: untuk bapak bapak yang sedang memimpin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar