sabtu, 16 mei 2009
untuk setelah sekian lama, saya absen dari acara-acara keluarga, akhirnya sabtu tanggal 16 mei 2009 kemaren, saya pun memutuskan untuk muncul di pertemuan keluarga besar tersebut. tepatnya di daerah manggarai jakarta. di rumah keluarga yang cukup luas, yang dulu menjadi tempat papah beserta adik kakak dan orang tuanya tinggal. bangunannya masih terlihat sama, yang berubah paling warna cat dan beberapa lantai yang berubah dari tehel menjadi keramik. dulu yang rumahnya ramai karena papah adalah anak ke 8 dari 11 bersaudara, sekarang hanya diisi oleh beberapa kepala saja. terlihat tua. baik bangunan maupun penghuni nya. tapi satu hal yang ga pernah berubah dari keluarga kami, walaupun umur semakin bertambah tua dan generasi terus bertambah , tapi acara meledek dan tertawa itu selalu saja ada dan menjadi pelepas kebekuan selama ini. yang tua selalu ngeledek yang muda, yang muda juga ga segen untuk ngeledek yang tua. tidak bermaksud melanggar etika kesopanan, tapi memang begitu cari kami mengakrabkan diri.
untuk setelah sekian lama, saya absen dari acara-acara keluarga, akhirnya sabtu tanggal 16 mei 2009 kemaren, saya pun memutuskan untuk muncul di pertemuan keluarga besar tersebut. tepatnya di daerah manggarai jakarta. di rumah keluarga yang cukup luas, yang dulu menjadi tempat papah beserta adik kakak dan orang tuanya tinggal. bangunannya masih terlihat sama, yang berubah paling warna cat dan beberapa lantai yang berubah dari tehel menjadi keramik. dulu yang rumahnya ramai karena papah adalah anak ke 8 dari 11 bersaudara, sekarang hanya diisi oleh beberapa kepala saja. terlihat tua. baik bangunan maupun penghuni nya. tapi satu hal yang ga pernah berubah dari keluarga kami, walaupun umur semakin bertambah tua dan generasi terus bertambah , tapi acara meledek dan tertawa itu selalu saja ada dan menjadi pelepas kebekuan selama ini. yang tua selalu ngeledek yang muda, yang muda juga ga segen untuk ngeledek yang tua. tidak bermaksud melanggar etika kesopanan, tapi memang begitu cari kami mengakrabkan diri.
pertama dateng, saya kaget banget, soalnya banyak banget anak-anak kecil disana. ternyata semua nya adalah anak-anak dari kaka sepupu. maklumlah saya ini termasuk bontot di keluarga Konendar, kaka sepupu saya yang tertua bahkan sudah "berkepala 4". semua orang pada pangling pas saya dateng, menyadari karena waktu itu sangat cepet banget berlalu, ga kerasa. mereka semua hanya mengingat saya karna saya adalah "anaknya koko yang bayi", hahahahahaha.....koko adalah panggilan dari papah saya, Ratmoko Konendar. ya, mereka inget saya hanya pas ketika saya bayi, mereka sadar kalau sudah seumur sayalah mereka ditinggalkan oleh anggota keluarga mereka.
selain kaget karena melihat banyaknya anak kecil yang ada, saya juga berusaha nginget-nginget nama anak-anak itu dan menelusuri dari anak siapakan mereka berasal, heuheu.
sanak saudara pun berdatangan. adalah mas udin, kakak sepupu saya yang saya pun yakin dia gakan inget saya karena, di adalah anak ke dua dari kakak ketiga papah saya. sedangkan saya adalah anak kelima dari papah saya. terlalu besar gap usia diantara kami, terlalu banyak juga saudara-saudara yang lahir diantara kami. tapi dengan berkenalan lagi, ya kita jadi kenal lagih. dia bersama isterinya bernama mba tina, yang baru saya ketahui namanya setelah acara selesai (parah banget!!). perbincangan kami, saya dan mba tina, berawal dari basi-basi menanyakan kabar dan seputar kegiatan yang sedang kami lakoni masing-masing. saya sih bercerita standar tentang kuliah, rencana yang sedang ditunggu, dan bla bla bla. dan giliran mba tina bercerita,,,
dia dan suaminya merintis sebuah sekolah di malaysia, mereka mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak TKI yang bekerja di Malaysia. awalnya saya kaget, ko bisa-bisa nya bikin sekolah di negara orang. ternyata beliau bekerja sama dengen kedutaan besar indonesia di Malaysia untul membangun sekolah khusus anak-anak TKI (golongan menengah ke bawah). mereka berpikir dan setelah melakukan survey, ternyata anak-anak TKI tidak memiliki status pendidikan di negeri jiran sana. karena anak-anak tersebut lahir ketika mereka tidak memiliki izin kependudukan serta passport. dan kalaupun mereka harus kembali ke indonesia, mereka mau mulai darimana coba?akhirnya menurut saudaraku itu, dia dan teman-temannya berinisiatif mendirikan sekolah indonesia di malaysia, dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh departemen pendidikan indonesia (tentunya dengan menempuh jalan birokrasi dan urusan administrasi yang tidak bisa dibilang gampang).
apa yang menarik dari cerita tersebut?saya kagum sama saudara saya itu, apa yang jarang kepikiran sama orang kebanyakan tapi dia malah peduli sama hal itu. saya baru tau ternyata saya punya seorang saudara yang bisa saya jadiin tempat pembelajaran. saya ga akan tau itu kalo saya ga dateng ke acara keluarga itu.
we're just one big family
selain kaget karena melihat banyaknya anak kecil yang ada, saya juga berusaha nginget-nginget nama anak-anak itu dan menelusuri dari anak siapakan mereka berasal, heuheu.
sanak saudara pun berdatangan. adalah mas udin, kakak sepupu saya yang saya pun yakin dia gakan inget saya karena, di adalah anak ke dua dari kakak ketiga papah saya. sedangkan saya adalah anak kelima dari papah saya. terlalu besar gap usia diantara kami, terlalu banyak juga saudara-saudara yang lahir diantara kami. tapi dengan berkenalan lagi, ya kita jadi kenal lagih. dia bersama isterinya bernama mba tina, yang baru saya ketahui namanya setelah acara selesai (parah banget!!). perbincangan kami, saya dan mba tina, berawal dari basi-basi menanyakan kabar dan seputar kegiatan yang sedang kami lakoni masing-masing. saya sih bercerita standar tentang kuliah, rencana yang sedang ditunggu, dan bla bla bla. dan giliran mba tina bercerita,,,
dia dan suaminya merintis sebuah sekolah di malaysia, mereka mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak TKI yang bekerja di Malaysia. awalnya saya kaget, ko bisa-bisa nya bikin sekolah di negara orang. ternyata beliau bekerja sama dengen kedutaan besar indonesia di Malaysia untul membangun sekolah khusus anak-anak TKI (golongan menengah ke bawah). mereka berpikir dan setelah melakukan survey, ternyata anak-anak TKI tidak memiliki status pendidikan di negeri jiran sana. karena anak-anak tersebut lahir ketika mereka tidak memiliki izin kependudukan serta passport. dan kalaupun mereka harus kembali ke indonesia, mereka mau mulai darimana coba?akhirnya menurut saudaraku itu, dia dan teman-temannya berinisiatif mendirikan sekolah indonesia di malaysia, dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh departemen pendidikan indonesia (tentunya dengan menempuh jalan birokrasi dan urusan administrasi yang tidak bisa dibilang gampang).
apa yang menarik dari cerita tersebut?saya kagum sama saudara saya itu, apa yang jarang kepikiran sama orang kebanyakan tapi dia malah peduli sama hal itu. saya baru tau ternyata saya punya seorang saudara yang bisa saya jadiin tempat pembelajaran. saya ga akan tau itu kalo saya ga dateng ke acara keluarga itu.
we're just one big family
Tidak ada komentar:
Posting Komentar