Setelah sering mengalami kejadian akibat kecerobohan sendiri, munculah percakapan tentang keselamatan kerja. Katanya, dari teorinya, bahwa pada awalnya berbagai macam kecelakaan terjadi karena si subjek/objek yang terlibat mengabaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya. Contoh nih: seseorang mau pulang naek mobil pada saat dini hari, dia sebenernya ngantuk tapi MAKSAIN pulang karena berbagai alasan, yang mungkin terjadi adalah resiko kecelakaan yang lebih besar dibandingkan jika mengurungkan niatnya untuk nyetir dalam keadaan ngantuk. Awalnya saya pikir cuman special case ajah, eh dipikir lebih dalam lagi, ternyata peristiwa merugikan yang saya alami hampir semua berawal dari ketidak yakinnya hati untuk melakukan itu, tapi tetap dipaksakan.
Nah setelah memaksakan kehendak yang ga dipengen, akhirnya niatan pun terlaksana. Orang lain, sebenernya pegang peranan penting disini. Jika dia TAHU resiko seseorang yang mengabaikan suara hati nya, alangkah lebih baik memberi dukungan untuk tidak melakukannya. Tapi kebanyak orang, walaupun tahu, malah mengabaikan. Karena dianggap itu adalah keputusan sesorang dan ga ada urusan dengan orang tersebut. Ataupun kalau skalanya lebih besar, peringatan dari orang lain ga pernah diberikan karena khawatir akan ada kerugian yang mereka hadapin, namun sebenernya kerugian yang mereka khawatirkan lebih kecil dari kerugian yang menunggu di depan sana.
Contohnya begini deh, misalnya ada tukang bangunan lagi bangun rumah, ternyata pas bikin tembok, ada bagian yang retak, si tukang (dan mungkin teman2nya pun) itu tahu bahwa hal itu harusnya dibenerin. Tapi kalau dia cerita bahwa ada bagian yang retak maka dia mungkin akan mengulang kerjaannya which means waktu dan biaya akan keluar lebih. Akhirnya si tukang mikir lebih baik, coba nutupin kesalahannya dengan coba mlester si tembok biar ga keliatan. Pas udah jadi, ternyata si tembok dapet tekanan dan blassssttt runtuhlah si tembok itu (ini cuma contoh, dr segi ilmu nya mgkn saja saya salah).
Pengabaian-pengabaian kecil mungkin keliatan ga penting, tapi sebenarnya itu seperti bola salju. Awalnya hanya individu, lalu diikuti dengan kelompok, lalu diikuti dengan masyarkat yang lebih luas. Dan ketika tingkat pengabaian itu semakin besar, Akibatnya apa? Bencana. Yeah, ini terlepas dari takdir seseorang. Jika kita muslim tentu percaya adanya takdir. Namun sebagai manusia pun kita diperintah untuk memaksimalkan ikhtiar, nah mempedulikan suara hati dan tidak melakukan pengabaian kecil baik untuk diri sendiri maupun orang lain adalah salah satu cara untuk mencapai ikhtiar yang maksimal.
Oiya dan ciri khas nya orang Indonesia itu adalah mengabaikan standar prosedur pekerjaan. Ini bisa dilihat dari sebagian (atau banyak ya) tukang tukang listrik/telepon yang benerin kabel tanpa ada alat pelindung baik di kepala,badan,kaki,tangan. Dengan gagahnya biasanya mereka naik ke atas dengan tangga yang bersandar hanya pada tiang, ga pake helm pula. Dan banyak lah kasus lain yang menunjukkan kurangnya awareness terhadap keselamatan diri.
Nb: thanks to Rga who taught me about this.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar