18 Juni 2009

galau

kenapa terlihat rumit yah? mestinya bisa jadi mudah?
apa karena perbedaan generasi?
apa semuanya lagi pada sensitif?beda frekuensi...
tapi ini bukan yang pertama kalinya

lalu harus bagaimana?
kenapa sih mesti bicara dengan nada keras?
keras bukan berarti marah
tapi keras bisa aja menimbulkan marah

kita hanya tidak tahu bagaimana mesti bersikap
kapan kita harus tegas, dan kapan kita harus marah

yang aku rasa
keduanya (mereka) ga ada maksud buat saling menyinggung
tapi bahasa apa yang membuat kalian saling mengerti

aku belum tau

tempatku sekarang
hanya bisa mencari tempat aman dengan melarikan diri

11 Juni 2009

curhat malem jumat

Belajar ikhlas

Ikhlas,,,masih ada aja rasa ga ikhlas…heuheu…

Tapi hari ini dan kemaren sebenernya saya banyak ngedenger temen-temen menyemangati dirinya sendiri, dan kenapa ga saya lakuin juga sama diri sendiri. You have your own style

Topic tugas akhir ini emang berat atau saya aja yang mempersulit diri sih?hehehehe…aneh yah baru mempertanyakan itu sekarang. Dari dulu tiap dapet tugas , gatau kenapa suka ada tantangan buat ngambil materi yang susah. Tapi dalam prosesnya , yang sebenernya susah itu bukan pilihannya tapi saya yang ga bisa ngebuat semuanya jadi simple. Tapi untuk kali ini, emang butuh kerja keras, konsistensi, dan pantan menyerah…begini rasanya mengambil eksperimen, heuheu. Ya wajarlah, orang ga terbiasa dengan melakukan eksperimen yang melibatkan keapikkan, kesabaran, kecermatan dalam memperlakukan sesuatu. Apalagi dengan fasilitas yang seadanya, berusaha sekreatif mungkin untuk mencari setiap kemungkinaan alat dan bahan yang bisa digunakan dalam mendukung eksperimen. Ketidakmenahuan akan fasilitas diluar leb yang masih ada di rumah sendiri. Sayang sekali, mestinya ada kesempatan d waktu wktu sebelumnya untuk mengetahui apa –apa aja yang dimiliki oleh rumah sendiri, kalau gada baru cari ke luar. Sempet ngerasa lelah, dan ngerasa belum ngerjain apa-apa…but, teringat obrolan hasil curhat dengan seorang teman yang mendapat motivasi dari seorang seniornya “coba bayangkan misalkan tugas akhir yang kamu kerjakan saat ini adalah sebuah rumah yang berantaakaaaaaannn sekali, dan kamu bingung harus memulai dari mana. Dan kamu bayangkan Jika hal yang kamu kerjakan terlebih dahulu adalah sesuatu yang kamu anggap kecil seperti merapikan Koran-koran yang berserakan. Secara keseluruhan kamu gakan ngerasain kalau rumah itu rapi dengan hanya merapikan Koran-koran. Tapi bayangkan jika isi rumah yang berantakan udah rapi, tapi tersisa Koran-koran yang berantakan yang belum diberesin. Nah tetep aja rumah itu keliatan berantakan…” jadi maksud si temenku itu adalah, just think positively. Kamu udah ngelakuin sesuatu kok, hal yang besar gakan terwujud kalo gada hal yang kecil….

Apalagi dalam penelitian, it’s something new…for me and for the world (hahaha..pede banget…), kata dosen pembimbing ku juga “ jangan terburu-buru ngerjain sesuatu, dinikmati saja, dirasakan dulu keindahannya…”(sedikit dilebih-lebihkan sih)…lagian apa yang ngebuat saya terburu-buru coba? Nope! Gini nih didikan system pendidikan di Indonesia (nah lho? Kok nyambung),,,mau mengkambinghitamkan dulu sebentar yah….akibat system pendidikan dari tk,sd,smp,sma, bahkan kuliah (walaupun agak mereduksi) yang menganut asas persaingan. Sayangnya persaingan disini bukan akibat penggalian potensi diri yang maksimal, tapi akibat pengaruh luar yang memberikan intervensi bahwa seseorang mesti lebih baik dari yang lainnya. Contohnya : sewaktu sd, ketika si A mendapat nilai 9 dalam ulangan matematik sedangkan si B hanya mendapatkan nilai 5 beginilah kebanyakan respon dari orangtua atau guru “ko bisa segitu nilainya?makanya belajar yang rajin kaya si A”, sebuah pernyataan yang men judge si B kalo dia tidak lebih baik dari si A, karena pernyataan tersebut malah membandingkan si B dengan si A. padahal andaikata orang tuanya berbicara seperti “ kok segitu nilainya? berarti untuk ujian berikutnya kamu harus berusaha lebih giat lagi”,..terdengar sama. Tapi jelas ini berbeda pada implikasinya, untuk pernyataan pertama, si B akan berusaha lebih giat lagi karena dia ingin setara dengan A, berfokus pada orang lain. tapi untuk pernyataan kedua si B akan lebih berusaha lagi karena dia akan berfokus pada dirinya sendiri, dia akan berusaha semampu dia, tanpa harus berfokus pada factor luar. Kasus seperti ini banyak sekali terjadi, dan tanpa sadar sebenernya lingkungan telah membuat si anak selalu berfokus pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri.

Loh kok jadi kemana-mana yah…ya kembali ke apa yang saya ingin curhatkan… sampai beberapa saat lalu saya jadi terburu-buru ngerjain penelitian ini, karena alasan banyak temen-temen yang udah pada selesai. So what? Urusanku adalah urusanku, urusanmu adalah urusanmu. Ya pasti ada rasa di dalam diri tiap orang rasa yang seperti itu, hal ini tak terlepas dari bentukan diri kita di masa kecil yang secara ga disadarin udah tersayamulasi menjadi sebuah habbit, berfokus pada orang lain. Heuheu,,,,,nulis ini sebuah pembenaran atau pembelaan bukan yah? Ngga kok, soalnya saya juga ga munafik, saya juga ngerasa kaya begitu. Wajar dan agak susah untuk ngerubahnya. Tapi kan yang penting prosesnya.

Sekarang mah ikhlas aja ngerjain semuanya, biar jadi amal ibadah. He knows what best for us.

18 Mei 2009

Keluarga Besar Konendar

sabtu, 16 mei 2009

untuk setelah sekian lama, saya absen dari acara-acara keluarga, akhirnya sabtu tanggal 16 mei 2009 kemaren, saya pun memutuskan untuk muncul di pertemuan keluarga besar tersebut. tepatnya di daerah manggarai jakarta. di rumah keluarga yang cukup luas, yang dulu menjadi tempat papah beserta adik kakak dan orang tuanya tinggal. bangunannya masih terlihat sama, yang berubah paling warna cat dan beberapa lantai yang berubah dari tehel menjadi keramik. dulu yang rumahnya ramai karena papah adalah anak ke 8 dari 11 bersaudara, sekarang hanya diisi oleh beberapa kepala saja. terlihat tua. baik bangunan maupun penghuni nya. tapi satu hal yang ga pernah berubah dari keluarga kami, walaupun umur semakin bertambah tua dan generasi terus bertambah , tapi acara meledek dan tertawa itu selalu saja ada dan menjadi pelepas kebekuan selama ini. yang tua selalu ngeledek yang muda, yang muda juga ga segen untuk ngeledek yang tua. tidak bermaksud melanggar etika kesopanan, tapi memang begitu cari kami mengakrabkan diri.

pertama dateng, saya kaget banget, soalnya banyak banget anak-anak kecil disana. ternyata semua nya adalah anak-anak dari kaka sepupu. maklumlah saya ini termasuk bontot di keluarga Konendar, kaka sepupu saya yang tertua bahkan sudah "berkepala 4". semua orang pada pangling pas saya dateng, menyadari karena waktu itu sangat cepet banget berlalu, ga kerasa. mereka semua hanya mengingat saya karna saya adalah "anaknya koko yang bayi", hahahahahaha.....koko adalah panggilan dari papah saya, Ratmoko Konendar. ya, mereka inget saya hanya pas ketika saya bayi, mereka sadar kalau sudah seumur sayalah mereka ditinggalkan oleh anggota keluarga mereka.

selain kaget karena melihat banyaknya anak kecil yang ada, saya juga berusaha nginget-nginget nama anak-anak itu dan menelusuri dari anak siapakan mereka berasal, heuheu.

sanak saudara pun berdatangan. adalah mas udin, kakak sepupu saya yang saya pun yakin dia gakan inget saya karena, di adalah anak ke dua dari kakak ketiga papah saya. sedangkan saya adalah anak kelima dari papah saya. terlalu besar gap usia diantara kami, terlalu banyak juga saudara-saudara yang lahir diantara kami. tapi dengan berkenalan lagi, ya kita jadi kenal lagih. dia bersama isterinya bernama mba tina, yang baru saya ketahui namanya setelah acara selesai (parah banget!!). perbincangan kami, saya dan mba tina, berawal dari basi-basi menanyakan kabar dan seputar kegiatan yang sedang kami lakoni masing-masing. saya sih bercerita standar tentang kuliah, rencana yang sedang ditunggu, dan bla bla bla. dan giliran mba tina bercerita,,,

dia dan suaminya merintis sebuah sekolah di malaysia, mereka mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak TKI yang bekerja di Malaysia. awalnya saya kaget, ko bisa-bisa nya bikin sekolah di negara orang. ternyata beliau bekerja sama dengen kedutaan besar indonesia di Malaysia untul membangun sekolah khusus anak-anak TKI (golongan menengah ke bawah). mereka berpikir dan setelah melakukan survey, ternyata anak-anak TKI tidak memiliki status pendidikan di negeri jiran sana. karena anak-anak tersebut lahir ketika mereka tidak memiliki izin kependudukan serta passport. dan kalaupun mereka harus kembali ke indonesia, mereka mau mulai darimana coba?akhirnya menurut saudaraku itu, dia dan teman-temannya berinisiatif mendirikan sekolah indonesia di malaysia, dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh departemen pendidikan indonesia (tentunya dengan menempuh jalan birokrasi dan urusan administrasi yang tidak bisa dibilang gampang).

apa yang menarik dari cerita tersebut?saya kagum sama saudara saya itu, apa yang jarang kepikiran sama orang kebanyakan tapi dia malah peduli sama hal itu. saya baru tau ternyata saya punya seorang saudara yang bisa saya jadiin tempat pembelajaran. saya ga akan tau itu kalo saya ga dateng ke acara keluarga itu.

we're just one big family


19 April 2009

..........................

Dan ketika kamu bersungguh-sungguh menginginkan sesuatu, maka seluruh jagad raya akan bersatu padu membantumu mewujudkannya

Yakinlah pada hatimu

Disanalah letak kekuatanmu

Kamu akan temukan sesuatu

Berjuanglah,

Karena awal ini adalah keberuntunganmu

Bertahanlah,

Karena yang kamu lihat tidaklah mustahil

Bersabarlah,

Kerja kerasmu adalah ujian terbesarmu untuk mendapatkannya

Semuanya hanya akan membawa mu pada satu tujuan,

Meraih mimpi

17 April 2009

“Nanobombs” shock cancer cells

“Nanobombs” shock cancer cells

April 16, 2009

In the realm of science fiction, the idea of tiny nanorobots that can enter the human body and seek out and destroy unwanted elements has been prevalent. This idea has been made a reality by a research team led by Bin Kang and Yaodong Dai at Nanjing University and the Georgia Institute of Technology [Kang, et al., Small (2009), doi: 10.1002/smll.200801820]. They have used what is called the photoacoustic effect of carbon nanotubes (CNTs) to make what are essentially nanogrenades that can target and destroy cancer cells.



Cancer cells are selectively destructed by the strong shock wave explosion of nanotubes inside cells.

Says Professor Dai, “Under the irradiation of a Q-switched millisecond pulsed laser, the acoustic wave generated in a nanotube solution is so strong that it can trigger a micro-explosion at the nanoscale. So we had a good idea: if the nanotube in solution can explode at the nanoscale like a bomb, why don't we try to use this nanobomb to kill cancer?”

“To make these weapons of minute destruction, they start with carbon nanotubes that are functionalized with folate acid, which causes them to be selectively absorbed into cancer cells which have an overabundance of folate receptor. Once inside the cancer cell, the nanotube grenade is “detonated” using a short millisecond pulse of energy from a 1054 nm laser. The nanotubes absorb very strongly in the near infrared range, while most biological species are transparent in this region (control studies showed cells without nanotubes are undamaged by the laser). The nanotubes absorb the laser energy, causing severe local heating and non-linear transfer of heat into the surrounding cell, a process that generates a shock wave that reaches upwards of 100 MPa in magnitude, and destroys the cell in a matter of milliseconds. Using this technique, they showed that 85% of cells with nanotube uptake were destroyed within 20 seconds, while 90% of cells without the nanotubes survived. Professor Dai claims that this photoacoustic method of cell destruction using carbon nanotubes is superior to previous photothermal methods because it uses hundreds of times less energy, and does not cause excessive heating, which could lead to damage of the surrounding tissue. Professor Dai says that the next step in this research will be to attempt this cancer treatment on mice. If that works they “will try bigger animals such as rabbits or dogs.” They warn that eventual human clinical treatments using this technique have “a long-long way to go”.

David Hecht

sumber: http://materialstoday.com/archive/2009/12-04/news05.html

14 April 2009

^_^ !!

oke, mungkin emang harus balik lagi kaya awal dulu, ternyata ide baru belum tentu lebih baik

prediksi ----> rancang eksperimen ----> eksperimen -----> nihil

belum tau yang paling bener, tapi tau mana yang belum bener