Belajar ikhlas
Ikhlas,,,masih ada aja rasa ga ikhlas…heuheu…
Tapi hari ini dan kemaren sebenernya saya banyak ngedenger temen-temen menyemangati dirinya sendiri, dan kenapa ga saya lakuin juga sama diri sendiri. You have your own style
Topic tugas akhir ini emang berat atau saya aja yang mempersulit diri sih?hehehehe…aneh yah baru mempertanyakan itu sekarang. Dari dulu tiap dapet tugas , gatau kenapa suka ada tantangan buat ngambil materi yang susah. Tapi dalam prosesnya , yang sebenernya susah itu bukan pilihannya tapi saya yang ga bisa ngebuat semuanya jadi simple. Tapi untuk kali ini, emang butuh kerja keras, konsistensi, dan pantan menyerah…begini rasanya mengambil eksperimen, heuheu. Ya wajarlah, orang ga terbiasa dengan melakukan eksperimen yang melibatkan keapikkan, kesabaran, kecermatan dalam memperlakukan sesuatu. Apalagi dengan fasilitas yang seadanya, berusaha sekreatif mungkin untuk mencari setiap kemungkinaan alat dan bahan yang bisa digunakan dalam mendukung eksperimen. Ketidakmenahuan akan fasilitas diluar leb yang masih ada di rumah sendiri. Sayang sekali, mestinya ada kesempatan d waktu wktu sebelumnya untuk mengetahui apa –apa aja yang dimiliki oleh rumah sendiri, kalau gada baru cari ke luar. Sempet ngerasa lelah, dan ngerasa belum ngerjain apa-apa…but, teringat obrolan hasil curhat dengan seorang teman yang mendapat motivasi dari seorang seniornya “coba bayangkan misalkan tugas akhir yang kamu kerjakan saat ini adalah sebuah rumah yang berantaakaaaaaannn sekali, dan kamu bingung harus memulai dari mana. Dan kamu bayangkan Jika hal yang kamu kerjakan terlebih dahulu adalah sesuatu yang kamu anggap kecil seperti merapikan Koran-koran yang berserakan. Secara keseluruhan kamu gakan ngerasain kalau rumah itu rapi dengan hanya merapikan Koran-koran. Tapi bayangkan jika isi rumah yang berantakan udah rapi, tapi tersisa Koran-koran yang berantakan yang belum diberesin. Nah tetep aja rumah itu keliatan berantakan…” jadi maksud si temenku itu adalah, just think positively. Kamu udah ngelakuin sesuatu kok, hal yang besar gakan terwujud kalo gada hal yang kecil….
Apalagi dalam penelitian, it’s something new…for me and for the world (hahaha..pede banget…), kata dosen pembimbing ku juga “ jangan terburu-buru ngerjain sesuatu, dinikmati saja, dirasakan dulu keindahannya…”(sedikit dilebih-lebihkan sih)…lagian apa yang ngebuat saya terburu-buru coba? Nope! Gini nih didikan system pendidikan di Indonesia (nah lho? Kok nyambung),,,mau mengkambinghitamkan dulu sebentar yah….akibat system pendidikan dari tk,sd,smp,sma, bahkan kuliah (walaupun agak mereduksi) yang menganut asas persaingan. Sayangnya persaingan disini bukan akibat penggalian potensi diri yang maksimal, tapi akibat pengaruh luar yang memberikan intervensi bahwa seseorang mesti lebih baik dari yang lainnya. Contohnya : sewaktu sd, ketika si A mendapat nilai 9 dalam ulangan matematik sedangkan si B hanya mendapatkan nilai 5 beginilah kebanyakan respon dari orangtua atau guru “ko bisa segitu nilainya?makanya belajar yang rajin kaya si A”, sebuah pernyataan yang men judge si B kalo dia tidak lebih baik dari si A, karena pernyataan tersebut malah membandingkan si B dengan si A. padahal andaikata orang tuanya berbicara seperti “ kok segitu nilainya? berarti untuk ujian berikutnya kamu harus berusaha lebih giat lagi”,..terdengar sama. Tapi jelas ini berbeda pada implikasinya, untuk pernyataan pertama, si B akan berusaha lebih giat lagi karena dia ingin setara dengan A, berfokus pada orang lain. tapi untuk pernyataan kedua si B akan lebih berusaha lagi karena dia akan berfokus pada dirinya sendiri, dia akan berusaha semampu dia, tanpa harus berfokus pada factor luar. Kasus seperti ini banyak sekali terjadi, dan tanpa sadar sebenernya lingkungan telah membuat si anak selalu berfokus pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri.
Loh kok jadi kemana-mana yah…ya kembali ke apa yang saya ingin curhatkan… sampai beberapa saat lalu saya jadi terburu-buru ngerjain penelitian ini, karena alasan banyak temen-temen yang udah pada selesai. So what? Urusanku adalah urusanku, urusanmu adalah urusanmu. Ya pasti ada rasa di dalam diri tiap orang rasa yang seperti itu, hal ini tak terlepas dari bentukan diri kita di masa kecil yang secara ga disadarin udah tersayamulasi menjadi sebuah habbit, berfokus pada orang lain. Heuheu,,,,,nulis ini sebuah pembenaran atau pembelaan bukan yah? Ngga kok, soalnya saya juga ga munafik, saya juga ngerasa kaya begitu. Wajar dan agak susah untuk ngerubahnya. Tapi kan yang penting prosesnya.
Sekarang mah ikhlas aja ngerjain semuanya, biar jadi amal ibadah. He knows what best for us.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar