28 Mei 2015

Cerita penghujung Mei

Hari Kamis, adalah jadwal saya ikut kelas bahasa Jepang bareng para voluntir. Namun usai kelas hari ini, rasanya beda sekali. Saat keluar gedung, untuk pertama kalinya (setelah sekian lama ga ngerasain) saya ngerasain perasaan kesepian. Yes, kesepian yang hanya berteman dengan langit mendung dan angin hangat. Karena perasaan itu muncul begitu saja, hampir saja saya pulang jalan kaki dengan mendorong sepeda. Tapi ga jadi juga sih, karena ternyata perut terlalu lapar untuk menunggu berjalan lama sampai ke rumah.

Jadi kenapa saya merasa begitu sepi?
Mari kita loncat ke beberapa bulan lalu tepatnya bulan Februari.
Di bulan Februari taun ini, di kampus suami saya kedatangan mahasiswa exchange dari Malaysia yang berkewarganegaraan Indonesia. Mahasiswa itu datang bersama isterinya, dan kabar itu jadi kabar angin segar buat saya yang selama ini cuman punya dua tetangga yang punya kesibukannya masing-masing.

Yang membuat kedatangan orang baru ini menjadi lebih spesial, terutama isterinya yang bernama Vivi,  adalah karena umur kita ga berjauhan, cuman beda 5 bulan aja, sama-sama tinggal di Bandung, ya walaupun dia mah ada di Bandung luaran dikit (Padalarang masuknya kabupaten Bandung ya?), maka saya merasa menemukan teman sepermainan. Apalagi ketika pertama kalinya dia main ke tempat saya, dia langsung liat mesin jahit yang saya punya, dan dia langsung cerita kalau dia pun punya hobi yang sama. Klop banget! maka sejak hari itu, ketika siang hari, disaat para suami kita berjibaku di suatu tempat yang bernama lab, kami berdua dengan riangnya menggowes sepeda ke mall terdekat untuk sekedar jalan-jalan, atau jalan-jalan ke tempat kain di Nippori, atau nyoba makan di restoran halal di Tokyo sana.

 Kadang saya mampir ke rumahnya, tapi lebih sering dia yang maen ke tempat saya. Kenapa? karena di tempat saya ada mesin jahit, Jadi kita suka ngerjain projek jaitan bareng-bareng.
Awalnya dia cerita kalau selama ini dia hanya menjahit pakaian saja, ga pernah terlintas di pikirannya untuk menjahit selain pakaian, sehingga sisa bahan pakaian yang masih cukup banyak kadang dibuang begitu saja. Beda dengan saya, saya bisa dibilang ga begitu suka jait baju. Saya lebih suka bikin barang. Alasannya sederhana aja : biar cepet jadi. Hehehehe. Jadi pas dia tau kalau saya jait barang semacam tas, dompet, dan lain-lain, dia mulai mencoba bikin sesuatu dari sisa kain yang saya punya. Yeah, emang pada dasarnya dia juga udah jago jait, jadi ngejait yang kaya suka buat mah ga jadi masalah, Malah dia pun jatuh cinta,

Pendek cerita, dia hanya akan ada di Jepang tiga bulan saja, yang berarti bulan April dia sudah harus kembali ke Indonesia. Disitu saya belum merasa gimana-gimana

Nah beririsan dengan itu, pada awal April, Alhamdulillah mamah saya dan adik ipar bisa dateng ke Jepang. Aduuhhh,,bahagia rasanya. Sampe sekarang masih inget ekspresi muka mamah pas ketemu saya di bandara, ceureumbay. Hehehe. Katanya ga nyangka bisa juga sampe Jepang. Pun buat adik ipar saya, yang untuk pertama kalinya pergi ke luar negeri. Sengaja saya set untuk mereka bisa datang bulan April, karena waktu-waktu itu adalah waktu yang tepat untuk liat bunga bermekaran.

Di bulan April, saya merasa banyak teman. Ada mamah, ada Nda (adik ipar), ada Vivi, ada hal-hal yang  biasanya saya lakukan sendiri, kali ini bisa dilakukan bersama-sama. Kami pergi hanami an (melihat bunga sakura), maen ke Tokyo Tower, bahkan hanya sekedar minum kopi  dan makan seblak pun kalau dilakukan bareng orang lain, rasanya jadi beda ya.

Namun di akhir April, Vivi harus pulang. Saya masih belum ngerasa kesepian, karena ada mamah dan Nda. Sisa waktu bersama mamah dan Nda banyak saya habiskan di rumah. Kalau di akhir pekan, biasanya kami pergi ke tempat-tempat wisata. Pengalaman paling heboh itu mungkin ketika golden week yang biasa orang Jepang pakai untuk liburan. Menjadi seru karena saya keukeuh untuk memaksakan agenda melihat bunga Shibazakura di daerah gunung Fuji di waktu Golden week itu. Padahah udah banyak yang bilang jangan pergi ke sana pas musim liburan, dijamin padet. Benar saja saudara-saudara,, ternyata kami harus menempuh perjalanan yang luar biasa. Untuk pertama kalinya saya merasakan macet di Jepang, perjalanan pake bis yang biasanya cuman 30 menit, kali itu menjadi tiga jam. Sungguh melelahkan. Tapi karena dijalankannya bareng sama orang-orang yang disayang, jadinya perjalanan melelahkan pun tetap menyenangkan.

Sekitar 7 minggu mamah dan Nda ada di tempat saya. Karena 7 minggu itu pula, membuat saya mengunduh aplikasi Mivo TV dan menonton acara-acara kesukaan mamah, seperti acaranya Mamah Dedeh, sinetron Preman Pensiun yang ternyata bodor abis, film korea yang sudah jutaan kali diputar di tv Indonesia. Hampir setiap harinya berlalu terlalu cepat, sampai akhirnya tiba mamah sama nda harus pulang lagi ke Indonesia. 

Yes, tanggal 25 Mei kemarin, saya anter mamah ke bandara. Rasanya pengen banget ngeberentin waktu. Ga banyak keluar ucapan dari saya untuk mamah ketika di perjalanan kereta menuju bandara, kami terlalu ngantuk untuk ga tidur di kereta, hehehe. Walau pada akhirnya saya cuma nanya "gimana mah, seneng?" , "maaf ya ga bisa ngasih lebih", dan beliau  tersenyum, seolah olah bilang "this is more than enough". Ketika pisahan di bandara pun, rasanya ingin banget meluk, tapi pada dasarnya badan saya tinggi, jadi momen buat adegan pelukan itu berubah jadi adegan merangkul, hadah. 

Akhir cerita, di hari setelah anter mamah ke bandara, disitu pula saya merasa mulai sedih (kekinian banget sih). Apalagi pas sampe rumah yang masih banyak barang bekas mamah sama Nda. Hiks hiks, untuk pertama kalinya lagi, diriku ceureumbay karena ngerasa sepi. Seperti jaman waktu kecil, yang ditinggal pulang sama sepupu sepupu yang habis seharian maen di rumah, kembali sepi.

Ya begitulah kira-kira ceritanya, kenapa beberapa hari ini saya begitu mendung meski cuaca diluar udah mulai panas menyengat. 

Semoga bisa selalu dipertemukan kembali dengan orang-orang yang disayangi.
Semoga selalu dikumpulkan dan didekatkan dengan orang-orang yang shalih.
Dan pastinya semoga selalu bisa dekat dengan Allah SWT Sang Pemilik dan Pengatur Rasa, agar perhatian ini tak pernah tersandung untuk hal-hal yang merugikan. 





19 Maret 2015

5 taunan

Suatu hari kamu nanya, "hari ini mau bikin apa Neng?". 
Lalu saya jawab, "mau bikin tas sekolah buat anaknya Mba E yang mau masuk TK"
"Loh Mba E kan baru nikah kemarin kemarin deketan sama kita, kok anaknya udah masuk TK lagi?!", dia merespon.
Saya ketawa sambil bilang, "hahahaha, ya iya atuh, da kita teh udah 5 taun lalu nikah. Yang udah pada punya anak ya udah usia TK anaknya".

Lalu kami ketawa-ketawa berdua.

Untuk semua tawa dan tangis
Untuk semua canda dan amarah
Untuk semua kritikan dan dorongan
Untuk semua kesabaran dan doa
Untuk semua syukur dan harapan
Untuk semua teguran dan semangat
Untuk semua diskusi dan obrolan panjang
Untuk semua kekonyolan dan keseriusan
Untuk seluruh raga dan jiwa
Untuk semuanya.....

Alhamdulillah 'ala kulli hal
Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan

Seperti yang pernah kamu bilang diawal kita bersama, "kalau ada masalah, inget tujuan kita adalah surga", maka itu adalah pengingat yang indah. 

Semoga Allah SWT terus membingkai keluarga kita dalam sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin










09 Februari 2015

Disayang Allah SWT

Siapa sih yang gak kenal artis Laudia Cynthya Bella, artis yang baru baru ini menyatakan hijrahnya untuk memakai hijab. Alhamdulillah, semakin banyak figur publik yang mau menjalankan ajaran agamanya. Si teman SD saya itu (iya pernah satu SD 6 tahun, tanggal lahir sama, ngan beda jalan hidup we *ga penting* ), dalam suatu wawancara menjelaskan alasan dia mengambil keputusan seperti itu, 

"Allah SWT itu udah baik sama aku, aku punya list kepengen ini itu, Allah kasih, jadi aku ngerasa aku tuh disayaaaaaanh banget"

Begitu katanya. 

Lalu di tahun 2015 ini, saya, saya masih disini aja. Ketika ditanya keinginan yang saya pengen, just a simple words came out : "saya mau jadi orang yang lurus". Seperti biasa, kalimat yang saya ucapkan ini terlalu normatif, dan sulit dijabarkan dengan turunan yang sifatnya deskriptif. 

Lalu, saya coba mencari celah bahkan jalan untuk bisa menjadi orang yang lurus, walau pada akhirnya semua diserahkan lagi pada Yang Maha Berkehendak. Banyak poin yang sudah tercatat di pikiran, karena Allah lah, sebagian ada yang sudah dijalankan, tinggal menjadikannya tetap konsisten. Ada poin yang masih ingin dilakukan nanti ketika sekembalinya ke Indonesia. Walau entah bakal keumuran atau engga itu juga. Tapi Allah SWT mungkin pengennya kasih sekarang, kasih kesempatan sekarang, ga nunggu nanti. Walau rasanya diri ini belum pede tingkat dewa. Tapi ya Bismillah, mari kita coba. 

Lalu, benar apa yang Bela sampaikan. Allah SWT itu udah sayaaaaaang banget sama kita. Satu satu apa yang kita inginkan, kita usahakan, kita panjatkan doa, kita gantungkan diri ini hanya pada Nya, dan let Allah SWT decides the rest. 

Lalu kenapa harus bersedih hati dan kecewa atas satu doa yang belum diberi, sedangkan kenikmatan lain begitu banyak diterima? 


Alhamdulillah  Alhamdulillah 






24 November 2014

Refleksi musim gugur

Setiap akhir adalah adalah setiap awal
Setiap awal adalah masa sulit untuk bisa beradaptasi dan bertahan
Hingga akan ada akhir lagi yang indah

Saya mah selalu suka musim gugur, musim daun daun berubah jadi kuning, oranye, atau merah.
Menentramkan hati, menghangatkan mata.
Ada pengorbanan dan semangat mempertahankan diri dari sebatang pohon untuk ditiru.
Melepas daun daun dengan sukarela untuk sedikit tampil botak yang mungkin tidak cantik lagi dilihat, tapi dalam siklusnya dia kembali bersiap untuk kembali menjadi cantik dan segar saat tiba waktunya.

Sama saja seperti menjalankan hidup tho? 











19 November 2014

Bahagia yang menular

Bahagia yang menular itu ya, datengnya bisa dari mana aja. Dari senyuman orang lewat, dari ucapan terimakasih dari orang yang ga disangka-sangka, atau bahagia karna ada temen yang baagi bagi undangan nikah. 

Barakallah untuk, 
Ririd dan calonnya
Temen tidur dua malam di kasur sempit dan dingin pula
Temen kukulintingan ke taman atau tempat gahul d Jepang
Temen yang aneh, asik, asoy, solehah, tegas, cerdas, berani
Temen yang klop walau pertemuan kita cuman sebentar-sebentar

Barakallah untuk, 
Ditmen dan calonnya
Teteh Kharisma (unit di Masjid Salman) yang benar-benar kharismatik
Temen galak sama siapapun yang heurey sama dia
Yang suka tidur di kelas
Yang kalem tapi bohong
Yang terlihat pintar tapi emang iyah
Temen berbagi dorama rileks
Yang tegar, selalu positif, dan banyak mikir daripada ngomong

Sungguh andaikan benar pintu doraemon itu ada, saya bakal buka pintu ke Bandung atau ke Jogja. Sayang, adanya pintu oshire yang penuh sama tumpukan baju didalemnya. 

Doa saya, semoga kalian, dengan pasangan masing-masing akan menjadi keluarga yang selalu dapat berkah dari ALLAH SWT, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Apapun yang ada dihadapi setelah menikah, yakinlah selain ada pasangan akan ada Allah SWT yang selalu bersama. 


12 November 2014

Ikutan grup sesuatu itu...

Demi untuk meningkatkan semangat produtivitas, maka sejak tiga mingguan lalu saya gabung sama grup craft yang ada di medsos bukumuka. Ternyata oh ternyata, setelah memata-matai halaman para member, saya menemukan orang Indonesia yang begitu hebat. Kreatif. Saya bilang orang Indonesia lebih hebat hebat dan kreatif, kenapa? 

Pertama, karena bahan baku craft yang bagus banyaknya barang import dan harganya mahal. Orang Indonesia memanfaatkan relasi yg ada di luar negeri jadi pemasok barang lalu  membuat toko online dan menjadi sumber penghasilan tambahan. 

Kedua, karena kebanyakan kain import itu agak mahal, maka saat membuat barang, para crafter menggunakan bahan dengan jumlah minimalis lalu dikombinasikan dengan bahan lokal yang murah. Jadinya, variasi bahan dalam satu model barang sangat banyak dan membuat si barang lebih catchy.

Ketiga, memanfaatkan barang barang yang mudah ditemukan di Indonesia untuk jadi barang yang punya nilai manfaat sama dengan barang-barang impor. Contohnya, kalau di Jepang, cetakan cetakan untuk bikin bros bunga, atau cetakan untuk bikin patchwork, lengkap ada. Sedang di Indonesia, alas gelas atau kardus bekas bisa jadi cetakan yang kaya dibuat pabrik, hehehe. Mangtaff lah. 

Keempat, banyak buku panduan craft yang asalnya dari negara maju macem Korea, Jepang, Amerika. Lalu orang Indonesia, dengan keterbatasan finansial dan keingan kuat memanfaatkan media sosialnya untuk belajar otodidak. Hasilnya ga tanggung-tanggunh, pada jadi jago. 

Lalu ya, setelah mengakui bahwa crafter Indonesia juga hebat, saya jadi minder terus pengen gali tanah buat cari jati diri (lagi). Yosh, ganbaru wa!