27 Oktober 2009

pindahan? dapet banyak warisan...

Rabu,,,

pagi ini rasanya susah sekali untuk bangun, semalam baru sampe kamar jam 12 malam, dan baru bisa merem banget sekitar satu jam kemudian,,tidur 6 jam rasanya masih selalu kurang,,,kalo kata temen2 sih masih time lag, padahal cuma beda 2 jam doang dari indonesia..
ya pagi tadi saya terbangun karena inget harus mengambil sepeda di tempat teh lala. Teh lala ialah warga indonesia, sudah menikah dan punya seorang anak. Hari ini mereka sekeluarga pulang ke indonesia, dan tentu saja ketika seorang perantau pulang ke kampung halaman, banyak barang yang tidak bisa ikut terbawa ke kampungnya. Jauh hari sebelum hari kepulangan, teh lala dan keluarga udah nawarin barang-barang yang akan mereka buang, atau apa2 saja yang kami (warga indonesia) yang perlukan dan mungkin tersedia diantara barang barang mereka. Dan dua buah sepeda milik teh lala dan suami lah yang diminta oleh kami (para pendatang). Dua sepeda itu untuk dua teman saya yang berangkat bareng dari indonesia, Mba Sukma dan Ayu. Saya sendiri sudah beli sepeda sejak 2 hari kedatangan saya kesini, sepeda second hand dengan harga 1500 yen (hehehe,,,murah dan berkarat).
siang siang sekitar jam 12 saya dapet telepon dari bu lurah Fuchu -Koganei, Mba Novi. dia bilang kalau ternyata di rumah teh lala masih tersisa barang-barang, lumayan banyak, dan mungkin saja ada yang saya butuhkan di sana bisa saya ambil sebelum akhirnya nasib barang tersbut berakhir di tempat sampah. saya, ayu, dan mba sukma langsung meluncur kesana. Dan waaaaaaaaaaaahhhhh...ternyata masih ada barang barang yang layak pakai, bahkan masih disegel,,,hohoho,,,
bongkar sana bongkar sini,,,akhirnya aku mendapatkan:
1. payung
2. satu piring, satu, gelas, dan sendok
3. sabun dan sampo (isinya masih ada dikit, tapi yang diincer itu wadahnya)
4. pembersih toilet
5. sabun cuci piring
6. celengan
7. tempat folder
8. timbangan (mudah2an bisa mengontrol beban tubuhku)
9. tisu dapur, tisu biasa (lumayan ga perlu beli sampe bulan depan)
10. wadah air

alhamdulillah,,,nyaris lengkap deh perabotan ku...hmmmmm..,.tapi yang jadi kepikiran, ntar kalo aku pulang bakal dihibahkan ke siapa yah??tahan,,,jangan banyak barang dikamar,,,
terimakasih teh lala, pa aep, dan rafa-chan

halo apa kabar???

postingan pertama dari negeri matahari terbit,,banyak momen yang dilalui dan ga sempet ditulis disini.
saya sudah memasuki minggu ke empat berada di jepang, gak kerasa. Rasanya seneng ketika pertama kali naik pesawat terbang, pertama kali pergi ke luar negeri, pertama kali ada di negeri asing yang bahasa dan tulisan tak kumengerti, pertama kali naik kereta, pertama kali jadi anak kos, pertama kali beli sepeda sendiri, ya semuanya serba pertama kali.hmmmmm....saya pengen cerita banyak disini, banyak banget,,,tentang kuliah, tentang mengenal jepang, tentang beribadah, tentang perjalanan, tentang riset, tentang temen-temen, tentang sensei,,,hoooooo,,,,

10 Juli 2009

unexpected

ini kaya mimpi...

setaun lalu, awal 2008, seperti orang-orang pada umumnya yang biasa menuliskan resolusi tahunan mengenai apa-apa aja yang ingin dicapai dalam setahun ke depan, saya juga begitu, menuliskan beberapa target yang ingin saya kejar. selain keinginan-keinginan untuk meningkatkan prestasi akademik, non akademik, keimanan,ternyata saya menuliskan poin "road to Japan". padahal waktu itu hanya sekedar keinginan simpel: pengen ke luar negeri!!, dari poin itu, ada poin-poin turunan yang saya pikir bisa membantu mewujudkan impian ke jepun jadi nyata, yaitu : cari program s2, deketin dosen yang punya link ke jepang, belajar otodidak bahasa jepang (ga mampu mau ikutan les). beberapa bulan (1-2 bulan) dari itu,,,,hehehehe... saya cuma membiarkan kehidupan saya ngalir gitu ajah,,ga pernah saya buka buku tempat saya nulis resolusi itu...

dua tahun lalu, pertengahan 2007, disaat salah satu anak 2002 bercerita tentang kekagumannya tentang budaya jepang. bagaimana dia mencoba belajar berbahasa dan ngajak dosen-dosen ngobrol pake bahasa jepang. katanya kira kira begini "kalo punya kepengen, deketin lingkungan yang bikin deket sama kepengen itu"....sampe akhirnya saya bilang "waaa...pengen ke jepang!!! mungkin ga yah???!!!" , dan seniorku bilang gini "mungkin kali, gada yang ga mungkin. Aku seneng kok kalo ada temenku yang bisa dapet mimpinya"

...siiiinnnggggg........terharuu...(lebay!!)

awal 2009, februari, di suatu sore di taman fisika di saung hijau, hari jumat

pa mikra (pembimbing):"ada yang mau ke jepang ga? tapi harus lulus taun depan (2010-red)"


degggg,,,tawaran menarik!!!

setelah bertanya-tanya tentang hal-hal mengenai pergi ke jepang, menimbang-nimbang konsekuensi yang diterima, menghitung-hitung biaya, umur (loh kok?), dan beberapa rencana yang ingin direalisasikan setelah lulus, serta meminta izin sana-sini, memohon restu ortu dan tetangga (apa seh ndah?), tak lupa memohon kemantapan hati dari Allah...(ih asa rek kamana kituuu..).....akhirnyaaa...

surat itu pun datang,,,
"you are accepted as student of STEP@TUAT 2009-2010"

(kira-kira seperti itulah bunyinya)

TUAT = Tokyo University of Agriculture and Technology, pertanian???hehehe...sebenernya saya lebih diharapkan mencari informasi beasiswa s2 disana (sama pa mikra), bidangnya Chemical Engineering, ada topik yang cukup menarik..tapi saya diminta untuk ikut risetnya dulu ,jika sekiranya saya tertarik, saya bisa berusaha lebih untuk nyari beasiswa s2 disana.

tapiii...untuk setahun kedepan, selain untuk menikmati liburan, saya ikhlaskan pikiran saya, hati saya, untuk mencari informasi-informasi tentang apapun. saya mau membuka cakrawala saya (huahahahahahahahahahaha....lebayyyyyyy)

dan saat ini, saya merasa mimpi..tak pernah terbayang kalo apa yang kita pengen, walaupun cuma hati ini aja yang tau, ternyata Allah Maha Mengetahui.. ga boleh terlalu seneng, ini ujian dari Allah juga.

18 Juni 2009

galau

kenapa terlihat rumit yah? mestinya bisa jadi mudah?
apa karena perbedaan generasi?
apa semuanya lagi pada sensitif?beda frekuensi...
tapi ini bukan yang pertama kalinya

lalu harus bagaimana?
kenapa sih mesti bicara dengan nada keras?
keras bukan berarti marah
tapi keras bisa aja menimbulkan marah

kita hanya tidak tahu bagaimana mesti bersikap
kapan kita harus tegas, dan kapan kita harus marah

yang aku rasa
keduanya (mereka) ga ada maksud buat saling menyinggung
tapi bahasa apa yang membuat kalian saling mengerti

aku belum tau

tempatku sekarang
hanya bisa mencari tempat aman dengan melarikan diri

11 Juni 2009

curhat malem jumat

Belajar ikhlas

Ikhlas,,,masih ada aja rasa ga ikhlas…heuheu…

Tapi hari ini dan kemaren sebenernya saya banyak ngedenger temen-temen menyemangati dirinya sendiri, dan kenapa ga saya lakuin juga sama diri sendiri. You have your own style

Topic tugas akhir ini emang berat atau saya aja yang mempersulit diri sih?hehehehe…aneh yah baru mempertanyakan itu sekarang. Dari dulu tiap dapet tugas , gatau kenapa suka ada tantangan buat ngambil materi yang susah. Tapi dalam prosesnya , yang sebenernya susah itu bukan pilihannya tapi saya yang ga bisa ngebuat semuanya jadi simple. Tapi untuk kali ini, emang butuh kerja keras, konsistensi, dan pantan menyerah…begini rasanya mengambil eksperimen, heuheu. Ya wajarlah, orang ga terbiasa dengan melakukan eksperimen yang melibatkan keapikkan, kesabaran, kecermatan dalam memperlakukan sesuatu. Apalagi dengan fasilitas yang seadanya, berusaha sekreatif mungkin untuk mencari setiap kemungkinaan alat dan bahan yang bisa digunakan dalam mendukung eksperimen. Ketidakmenahuan akan fasilitas diluar leb yang masih ada di rumah sendiri. Sayang sekali, mestinya ada kesempatan d waktu wktu sebelumnya untuk mengetahui apa –apa aja yang dimiliki oleh rumah sendiri, kalau gada baru cari ke luar. Sempet ngerasa lelah, dan ngerasa belum ngerjain apa-apa…but, teringat obrolan hasil curhat dengan seorang teman yang mendapat motivasi dari seorang seniornya “coba bayangkan misalkan tugas akhir yang kamu kerjakan saat ini adalah sebuah rumah yang berantaakaaaaaannn sekali, dan kamu bingung harus memulai dari mana. Dan kamu bayangkan Jika hal yang kamu kerjakan terlebih dahulu adalah sesuatu yang kamu anggap kecil seperti merapikan Koran-koran yang berserakan. Secara keseluruhan kamu gakan ngerasain kalau rumah itu rapi dengan hanya merapikan Koran-koran. Tapi bayangkan jika isi rumah yang berantakan udah rapi, tapi tersisa Koran-koran yang berantakan yang belum diberesin. Nah tetep aja rumah itu keliatan berantakan…” jadi maksud si temenku itu adalah, just think positively. Kamu udah ngelakuin sesuatu kok, hal yang besar gakan terwujud kalo gada hal yang kecil….

Apalagi dalam penelitian, it’s something new…for me and for the world (hahaha..pede banget…), kata dosen pembimbing ku juga “ jangan terburu-buru ngerjain sesuatu, dinikmati saja, dirasakan dulu keindahannya…”(sedikit dilebih-lebihkan sih)…lagian apa yang ngebuat saya terburu-buru coba? Nope! Gini nih didikan system pendidikan di Indonesia (nah lho? Kok nyambung),,,mau mengkambinghitamkan dulu sebentar yah….akibat system pendidikan dari tk,sd,smp,sma, bahkan kuliah (walaupun agak mereduksi) yang menganut asas persaingan. Sayangnya persaingan disini bukan akibat penggalian potensi diri yang maksimal, tapi akibat pengaruh luar yang memberikan intervensi bahwa seseorang mesti lebih baik dari yang lainnya. Contohnya : sewaktu sd, ketika si A mendapat nilai 9 dalam ulangan matematik sedangkan si B hanya mendapatkan nilai 5 beginilah kebanyakan respon dari orangtua atau guru “ko bisa segitu nilainya?makanya belajar yang rajin kaya si A”, sebuah pernyataan yang men judge si B kalo dia tidak lebih baik dari si A, karena pernyataan tersebut malah membandingkan si B dengan si A. padahal andaikata orang tuanya berbicara seperti “ kok segitu nilainya? berarti untuk ujian berikutnya kamu harus berusaha lebih giat lagi”,..terdengar sama. Tapi jelas ini berbeda pada implikasinya, untuk pernyataan pertama, si B akan berusaha lebih giat lagi karena dia ingin setara dengan A, berfokus pada orang lain. tapi untuk pernyataan kedua si B akan lebih berusaha lagi karena dia akan berfokus pada dirinya sendiri, dia akan berusaha semampu dia, tanpa harus berfokus pada factor luar. Kasus seperti ini banyak sekali terjadi, dan tanpa sadar sebenernya lingkungan telah membuat si anak selalu berfokus pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri.

Loh kok jadi kemana-mana yah…ya kembali ke apa yang saya ingin curhatkan… sampai beberapa saat lalu saya jadi terburu-buru ngerjain penelitian ini, karena alasan banyak temen-temen yang udah pada selesai. So what? Urusanku adalah urusanku, urusanmu adalah urusanmu. Ya pasti ada rasa di dalam diri tiap orang rasa yang seperti itu, hal ini tak terlepas dari bentukan diri kita di masa kecil yang secara ga disadarin udah tersayamulasi menjadi sebuah habbit, berfokus pada orang lain. Heuheu,,,,,nulis ini sebuah pembenaran atau pembelaan bukan yah? Ngga kok, soalnya saya juga ga munafik, saya juga ngerasa kaya begitu. Wajar dan agak susah untuk ngerubahnya. Tapi kan yang penting prosesnya.

Sekarang mah ikhlas aja ngerjain semuanya, biar jadi amal ibadah. He knows what best for us.

18 Mei 2009

Keluarga Besar Konendar

sabtu, 16 mei 2009

untuk setelah sekian lama, saya absen dari acara-acara keluarga, akhirnya sabtu tanggal 16 mei 2009 kemaren, saya pun memutuskan untuk muncul di pertemuan keluarga besar tersebut. tepatnya di daerah manggarai jakarta. di rumah keluarga yang cukup luas, yang dulu menjadi tempat papah beserta adik kakak dan orang tuanya tinggal. bangunannya masih terlihat sama, yang berubah paling warna cat dan beberapa lantai yang berubah dari tehel menjadi keramik. dulu yang rumahnya ramai karena papah adalah anak ke 8 dari 11 bersaudara, sekarang hanya diisi oleh beberapa kepala saja. terlihat tua. baik bangunan maupun penghuni nya. tapi satu hal yang ga pernah berubah dari keluarga kami, walaupun umur semakin bertambah tua dan generasi terus bertambah , tapi acara meledek dan tertawa itu selalu saja ada dan menjadi pelepas kebekuan selama ini. yang tua selalu ngeledek yang muda, yang muda juga ga segen untuk ngeledek yang tua. tidak bermaksud melanggar etika kesopanan, tapi memang begitu cari kami mengakrabkan diri.

pertama dateng, saya kaget banget, soalnya banyak banget anak-anak kecil disana. ternyata semua nya adalah anak-anak dari kaka sepupu. maklumlah saya ini termasuk bontot di keluarga Konendar, kaka sepupu saya yang tertua bahkan sudah "berkepala 4". semua orang pada pangling pas saya dateng, menyadari karena waktu itu sangat cepet banget berlalu, ga kerasa. mereka semua hanya mengingat saya karna saya adalah "anaknya koko yang bayi", hahahahahaha.....koko adalah panggilan dari papah saya, Ratmoko Konendar. ya, mereka inget saya hanya pas ketika saya bayi, mereka sadar kalau sudah seumur sayalah mereka ditinggalkan oleh anggota keluarga mereka.

selain kaget karena melihat banyaknya anak kecil yang ada, saya juga berusaha nginget-nginget nama anak-anak itu dan menelusuri dari anak siapakan mereka berasal, heuheu.

sanak saudara pun berdatangan. adalah mas udin, kakak sepupu saya yang saya pun yakin dia gakan inget saya karena, di adalah anak ke dua dari kakak ketiga papah saya. sedangkan saya adalah anak kelima dari papah saya. terlalu besar gap usia diantara kami, terlalu banyak juga saudara-saudara yang lahir diantara kami. tapi dengan berkenalan lagi, ya kita jadi kenal lagih. dia bersama isterinya bernama mba tina, yang baru saya ketahui namanya setelah acara selesai (parah banget!!). perbincangan kami, saya dan mba tina, berawal dari basi-basi menanyakan kabar dan seputar kegiatan yang sedang kami lakoni masing-masing. saya sih bercerita standar tentang kuliah, rencana yang sedang ditunggu, dan bla bla bla. dan giliran mba tina bercerita,,,

dia dan suaminya merintis sebuah sekolah di malaysia, mereka mendirikan sekolah khusus untuk anak-anak TKI yang bekerja di Malaysia. awalnya saya kaget, ko bisa-bisa nya bikin sekolah di negara orang. ternyata beliau bekerja sama dengen kedutaan besar indonesia di Malaysia untul membangun sekolah khusus anak-anak TKI (golongan menengah ke bawah). mereka berpikir dan setelah melakukan survey, ternyata anak-anak TKI tidak memiliki status pendidikan di negeri jiran sana. karena anak-anak tersebut lahir ketika mereka tidak memiliki izin kependudukan serta passport. dan kalaupun mereka harus kembali ke indonesia, mereka mau mulai darimana coba?akhirnya menurut saudaraku itu, dia dan teman-temannya berinisiatif mendirikan sekolah indonesia di malaysia, dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh departemen pendidikan indonesia (tentunya dengan menempuh jalan birokrasi dan urusan administrasi yang tidak bisa dibilang gampang).

apa yang menarik dari cerita tersebut?saya kagum sama saudara saya itu, apa yang jarang kepikiran sama orang kebanyakan tapi dia malah peduli sama hal itu. saya baru tau ternyata saya punya seorang saudara yang bisa saya jadiin tempat pembelajaran. saya ga akan tau itu kalo saya ga dateng ke acara keluarga itu.

we're just one big family