Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

06 Maret 2011

semoga ada edisi La Tahzan for Housewife *hahahaha*


beres juga buku yang dikasih mbak dina 2 minggu lalu. judul bukunya La Tahzan for Students. ditulis keroyokan oleh pelajar2 di Jepang yang tergabung dalam forum kepenulisan. bukunya sederhana dan mudah dicerna, cuman saya aja yang agak lemot jadi butuh 2 minggu untuk bisa selesai dari prakata sampe penutup. heu!

didalamnya terdapat kisah2 perjuangan bagaimana menanti beasiswa yang sudah dimimpikan, setelah dapat beasiswa pun masalah belum selesai. perbedaan kultur budaya, agama, bahasa maupun sistem pendidikan tak jarang banyak dikeluhkan oleh para penulisnya. belum lagi bagi yang mengalami krisis keuangan akibat beasiswa yang terputus atau uang saku yang tidak mencukupi, pekerjaan paruh waktu dan nge lab di kampus sudah menjadi makanan sehari2.

diawal2 saya membaca, jujur saya akui saya sedikit bosan dengan gaya cerita dari satu kisah ke kisah lainnya karena alur yang sama: memimpikan beasiswa --> dapat beasiswa --> susah senangnya kuliah dan tinggal di jepang --> lulus --> selesai . tapi setelah saya teruskan, ternyata dugaan saya salah. walaupun secara umum alurnya seperti itu tetapi pengalaman yang dikemukakannya bermacam2, dan inilah yang membuat bundel kumpulan pengalaman ini menjadi tidak bosan untuk dibaca. ada yang hanya menceritakan proses selama di Indonesia yang dipusingkan dengan SK PNS yang tak kunjung keluar, bahkan perjuangan para ibu ditengah2 pergulatan emosi saat hamil, mengurus anak2 dan harus kuliah, Subhanallah.

buku yang pas buat orang-orang yang ingin belajar keluar negeri atau yang sedang belajar diluar negeri. sebagai penambah motivasi kalau banyak juga pelajar yang selama masa studinya ga selalu mulus seperti mulusnya kulit saya. kalau saya termasuk yang mana ya?? walaupun saya (untuk sekarang ini) bisa dibilang ada diluar dua golongan yang saya sebut, dalam diri saya timbul rasa kagum, kepengen, bahkan pertanyaan datang ke dalam diri saya: "kalau saya ada di posisi seperti mereka, sanggup gak yah?". karena hidup adalah perjuangan. mau saat ini profesinya pelajar, petani, pebisnis, pegawai, ibu rumah tangga, polisi, presiden, menteri, tukang pijit, semuanya harus kudu mesti punya semangat berjuang.

btw, sebelum dikasih buku ini, sebenernya saya sempet baca sekilas buku punya temen saya. nah dari situ saya liat salah satu penulis, dimana dia adalah mantan tetangga saya di fuchu. mbak dina namanya. setelah itu beberapa minggu kemudian saya dikirimin buku oleh beliau. karna penasaran sama tulisan mbak dina, cerita pertama yang saya tuju sesaat membuka buku adalah tulisan mba dina. ternyata dan ternyata, bagian mbak dina ini bikin saya hahaha hihihihi ketawa ketiwi. apa karna saya ngebayangin sosok penulisnya yang juga suka bercanda dan penuh tawa ya?sedikit sih. enggak enggak, tapi memang gaya penulisan mba dina itu lebih santai juga lepas. perjalanan hidup yang keras tapi dikemas dengan guyonan norak dan lebay. heu, pis ah mbak!

15 Oktober 2010

Drunken marmut

Baca satu buku karya Haji Pidi Baiq bikin saya ketwa2 sendirian. aneh memang, baik cerita2nya maupun ide2nya. Haduhhh ada2 sajah seniman yang satu itu. Buku yang berisi beberapa cerita merupakan pengalaman sang penulis sendiri. Begitu sederhana hal yang ia lakukan bahkan tak pernah terpikirkan oleh kebanyakan orang. Ia kemas dengan jahilan, nilai2 kebaikan, kebebasan berpikir bertindak berkarya dan tidak lupa mengingatkan bahwa kita adalah makhluk Allah. Di salah satu cerita, di bagian akhirnya ia menuliskan

Pak Agun cs, mawar merah di dinding, jangan marah just kidding. Mari saya jelaskan satu hal: Mungkin menurut saya kejadian macam itu malah justru baik, setidaknya buat saya. Saya jadi bisa bercanda dengan Pak Agun dan Pak Bani dan siapa itu nama hansip yang satunya lagi. Hansip baru itu. Rasanya benar-benar baik buat saya. Tiap hari selalu pasti pergi, untuk menjumpai orang jauh. Sampai-sampai tidak bisa menyisihkan waktu untuk bertemu dengan orang-orang yang ada di sekitar rumah. (Haji Pidi Baiq dalam Linglung Hansiip, buku Drunken Marmut halaman 82)

Penutup dalam cerita Linglung Hansiip, setelah ia bercerita bagaimana ia mengerjai hansip kompleknya. Parah, bikin ketawa, bikin saya senyum2.